Kusala Sastra Khatulistiwa 2018: Antara Musang Atau Kura-Kura

Kusala Sastra Khatulistiwa 2018: Antara Musang Atau Kura-Kura

Final match: Kura-Kura Berjanggut vs Muslihat Musang Emas. Siapapun pemenangnya, BaNana juaranya. Gentayangan bisa menjadi daya kejut, Tiba Sebelum Berangkat sedari mula sudah kubilang hanya seekor kuda hitam, dan yang pasti bukanlah Laut Bercerita.

Katakanlah ini semacam prediksi ala LBP. Sempat diwarnai salah tulis nama Intan Paramadhita pada pengumuman 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 pada tanggal 6 September 2018. Langsung dari akun-nya Richard Oh, daftar kategori prosa dan puisi yang tertera mencantum, dua buku saja yang sudah kubaca: Kura Berjanggut dan Laut Bercerita. Karena saya penikmat prosa, belum bisa nyaman dengan puisi maka jelas yang kukejar adalah novel dan kumpulan cerpen. Malam itu juga langsung pesan daring, datangnya bertahap karena memang tak semua ready stock. Dapat di tiga tempat: toko buku daring Dema di Jakarta (Gentayangan, Muslihat Musang Emas, Manifesto Flora, Sang Raja), toko buku daring Stan Buku dari Yogyakarta (Gerimis Di Kuta, Ibu Susu) dan saat ke IIBF (Sai Rai, Tiba Sebelum Berangkat). Plus bonus satu kategori tambahan di karya pertama atau kedua di Gramedia World Karawang (Buku Panduan Terapan Matematika).

Lengkaplah sudah, mari kita tengok ulas singkatnya. Urutan berdasar selesai baca.

#1. Laut Bercerita – Leila S. Chudori
Tentang drama penculikan mahasiswa tahun 1998. Laut adalah aktivis di era Pak Harto, kita diajak mengenal keluarganya, sahabat, kerabat, sampai kekasih. Dan bagaimana mengatasi rasa kehilangan. “Mengapa aku merasa Laut dan kawan-kawan ada di bawah sana, di dasar laut dan tetap hidup.”

#2. Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup
Tentang buku panduan membunuh si anak haram, sang sultan Bandar Lamuri kerajaan Durud Dunya: Nurrudin. Kisahnya merentang jauh dari abad 16 sampai era sekarang, bagaimana sebuah buku bisa mempengaruhi banyak orang. “Keputusan penting selalu diambil saat-saat terakhir.”

#3. Manifesto Flora – Cyntha Hariadi
Tentang harapan Flora nantinya saat menikah, harapan unik di mana dalam rumah nantinya hanya punya satu telpon. Kita diajak menelusur masa lalu dan komunikasi yang terjalin. “Selamat siang Mbak, cari rumah buat bosnya ya.

#4. Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom
Tentang rencana mendirikan agama baru. Pakai nama ‘… dan Elena’ sebagai tambahan judul, bagaimana para jomblo mengatasi masalahnya. Ngopi dan obrolan para warga sub urban. “Hari ini giliran suami mengalah, besok giliran istri yang menang.”

#5. Gentayangan – Intan Paramaditha
Tentang gadis yang mengelana dalam kontrak iblis bersama sepatu merah. Bagaimana gentayangan dari Amerika, Belanda hingga Singapura. Ada opsi saat hidupmu terjepit karena iblis punya kuasa waktu. “Ia tak hilang, aku menghilangkannya.”

#6. Tiba Sebelum Berangkat – Faisal Oddang
Tentang seni bertahan hidup dalam penyekapan, ilmu kanuragan yang bisa memprediksi masa depan dan seluk beluk konspirasi di Sulawesi Selatan dari era Kahar Muzakar sampai zaman Reformasi. “Kita dihukum atas kesalahan orang lain dan kebenaran tidak pernah berpihak pada kaum yang lemah seperti bissu.

#7. Sai Rai – Dicky Senda
Tentang lelaki yang meninggalkan bumi. Persembahan warga untuk para leluhur. Kental budaya Timor Tengah Selatan. “Kau percaya Tuhan? Kalau begitu berdoalah supaya gemetar di tubuhmu hilang. Berdoalah agar kepedihan ini usai.

#8. Gerimis Di Kuta – Wendoko
Tentang drama romantis di Kuta, Bali. Bagaimana kisah-kisah tak usai disajikan dalam remang ketakpastian. “Aku tak percaya pada hubungan intens. Jika kau percaya kau sedang bersiap-siap kecewa.”

#9. Ibu Susu – Rio Johan
Tentang pencarian ibu susu untuk putra Firaun, pangeran Sem. Bagaimana kerajaan mencari ibu susu terbaik dari warga, semua lapisan. “Semuanya akan baik-baik saja.”

#10. Sang Raja – Iksaka Banu
Tentang sejarah sang raja kretek dari Kudus, NV Nitiseminto. Kisahnya mengelana jauh sebelum Indonesia merdeka dengan sudut pandang dua karyawan kombinasi lokal dan Londo. Bagaimana pabrik rokok bisa menjadi penyelamat di era kolonial. “Jangan bilang begitu, kata orang Jawa tidak baik mendahului takdir.”

Bonus dari karya pertama atau kedua saya beli di hari minggu setelah semua selesai baca.

#Buku Panduan Terapan Matematika – Triskaidekaman
Tentang dua anak istimewa yang menjelajah dunia imaji dalam kebesaran ilmu matematika. Mantisa dan Prima yang mencoba memecahkan misteri N dan NP yang sudah berumur empat puluh tahun. Bagaimana sebuah ilham muncul dari sumber yang tak disangka. “Ada orang yang berulang tahun denganku Bu, aku tidak suka dia.”

Di era serba digital dan serba instan gini, kita dihadapkan banyak sekali pilihan menikmati hidup sementara hidup kita rataan masih sama dengan umur rataan dua ribu tahun yang lalu. Sebagai umat terakhir, sebagai patokan umur Nabi yang 60an tahun maka kita punya waktu tak jauh beda. Yang beda ya eranya, sekarang ini tiap tahun ada jutaan karya tercipta dari film, musik sampai buku. Kita belum berkisah dengan dunia bola yang miliki fanatisme membuncah, dunia religi yang perlu diperdalam, sampai adat dan budaya. Angka 60 terasa hanya jentikan semesta.

Maka berterima kasihlah pada orang-orang yang menyarikan karya, menyusutkannya dalam pilihan untuk kita nikmati. Sebagai contoh, daftar kandidat Oscar untuk film, kita tinggal nonton yang dipilihi juri sebagai (mayoritas) jaminan kualitas maka untuk buku-buku lokal kita sudah tinggal menikmati daftarnya dalam Kusala Sastra Khatulistiwa. Sudah 18 tahun dan akan terus berjalan…

Baru setahun ini punya HP yang bisa buka instagram serta nyambung internet pakai 4G, tahun ini pertama kalinya saya berkesempatan menyelesaikan baca ulas kesepuluh kandidat prosa sebelum pengumuman pemenang.

Pada tanggal 24 September lalu, 10 Karya Pertama atau Kedua rilis. Lalu mengerucut lima tak lama berselang. Untuk kategori ini, tebakan pertama jelas saya pilih Manifesto Flora, unik, aneh, dan meliukan pikiran. Atau Buku Panduan yang jua hebat dalam berkisah berbagai topik hitung dengan ketaklaziman. Yang jelas bukan Ibu Susu yang sangat monoton. Namun, entahlah untuk kandidat lain dalam bentuk puisi saya tak baca satupun. Kalau yang menang adalah kumpulan puisi ya monggo, saya belum bisa menikmati bait-bait sajak.

Prediksiku di kategori prosa? Tanggal 28 September dari 10 disaring lima lagi. Gentayangan, Laut Bercerita, Kura Berjanggut, Bila Sebelum dan Muslihat Musang. Gentayangan memang bagus begitu selesai baca langsung nebak melaju, sayangnya cerita melompat-lompat tak tentu arah, tak nyaman dinikmati sambil santai sama kopi. Sang kuda hitam, Tiba Sebelum memiliki keistimewaan di tengah cerita, laiknya cerita mistis Abdullah Harahap yang meletupkan serangan gaib, tapi tetap sang pemenang harus bisa konsistensi saar start hingga akhir kisah. Juara? Jelas menyesuaikan skor. Skor terendah Laut Bercerita dan Ibu Susu, mengejutkan salah satunya masuk lima besar. Skor tertinggi Muslihat Musang dan Kura Berjanggut, dan kurasa yang terakhir kusebut inilah yang juara. Or is it just me?

Karawang, 081018 – Sherina Munaf – Kisah Sang Lebah

Iklan

2 thoughts on “Kusala Sastra Khatulistiwa 2018: Antara Musang Atau Kura-Kura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s