Buku Panduan Matematika Terapan – Triskaidekaman

”Begitulah orang-orang dulu, yang ada dalam otak mereka cuma mengumpulkan, menyarikan, lalu memikirkan masa depan pengetahuan mereka. Sekarang? Orang zaman sekarang terlalu tergila-gila pada pengakuan personal. Bayangkan Carr saja dengan gagah berani mencantumkan namanya dalam kumpulan rumus dan teorema matematika yang bukan temuannya. Generasi terdahulu adalah guru terbaik selain pengalaman.”

Great debut. Karya pertama, bisa seunik ini! Triskaidekaman mengaku belum pernah membuat cerita pendek sebelumnya, tidak pernah ikut-ikutan antologi apapun dan boom keluarlah novel perdana. Langsung masuk Kusala Sastra Khatulistiwa 2018, seharusnya sih bisa ke top ten kategori prosa tapi entah kenapa tersisih. Kontributor tetap platform menulis storialco dan menang lomba di sana. Hobi lihat balap F1 dan pemimpi matematika, pantas sekali novel ini berkaitan sangat erat dengan hitung menghitung. Terapaan bebas yang aneh menggelitik. Manusia sudah kehabisan stok penciptaan sejak lama. Semua yang tampak baru adalah hasil modifikasi.

Tentang dua anak istimewa yang bersisian kisahnya.

Pertama, Mantisa yang terlahir tanpa bapak, di hari ulang tahunnya juga sebagai hari kematian ibunya. Tumbuh kembang di panti asuhan, dengan pengawasan ketat ibu penjaga Bu Tari. Anak dititipkan agar ia dikembangkan bukan sekedar disalin dan ditempel secara acak. Mantisa yang banyak polah. Kurang ajar, demikian kata orang-orang. Padahal Mantisa memang belum diajar. Bukankah wajar saja jika dia kurang ajar? Pikirnya anak itu harus disingkirkan; sebelum pengecambahannya kukuh. Kalau ia terlanjur berakar tunjang, ia bakal jadi gulma. Susah diatur susah pula dibinasakan. Benar sampai kecil, sederhana sampai kompleks. Sedikit-sedikit, tanah berakumulasi menjadi bukit. Bukit-bukit berakumulasi jadi pulau. Pulau berjuntai, menjalin membangun gugus di berbagai arah.

Mantisa yang kutahu ya mantis – belalang. Di sini tentu saja bukan, ini bukan buku biologi. Konsep mantisa sendiri masih ambigu antara konsep logaritma dan konsep bilangan biasa, karena sama-sama menyatakan bilangan di belakang desimal, meskipun peruntukan atau fungsi berbeda. Mantisa yang mengandalkan otak ketimbang otot. Kalau menjadi cantik itu tidak enak, mengapa perempuan-perempuan itu masih mau bersakit-sakit? Tidakkah perempuan itu berfikir mereka sedang disiksa oleh apa yang orang lain mauatas diri mereka, bukan memperjuangkan apa yang mereka mau? Punya keistimewaan. Bisa menghitung jumlah tetesan hujan dengan presisi. Dan banyak tanya pada semesta. Mengapa bintang dan bulan bersembunyi kala mau hujan, hingga mengapa Desember itu disebut Desember dan tanggal sepuluh itu disebut tanggal sepuluh. Mantisa mengambil keputusan sepihak bahwa kalau ia berfikir terlalu keras, ia bisa menurunkan hujan. Ia bisa membuat langit menangis tersedu-sedu. Berarti langit tidak mau, ia berfikir. “Ada orang yang berulang tahun denganku Bu, aku tidak suka dia.”

Kedua, Prima yang terlahir tanpa ayah jua, ibunya Sekar membesarkannya dengan kasih sayang melimpah karena suatu kejadian menciptanya menjadi tuna rungu. Mendengar tidak selalu harus dengan telingamu. Sekolah biasa mengeluarkannya maka belajar di perpustakaan umum di tempat ibunya bekerja menempanya otodidak. Mantisa yang suka banyak tanya dan suka mencari tahunya ke perpustakaan akhirnya mempertemukan mereka. Bersama anak panti asuhan lain yang istimewa, Tarsa mereka menjelajah dunia literasi matematika yang misterius.

Prima, ya jelas dari bilangan prima. Rungu karena sebuah kejadian mendasar. Namun, satu kejadian merusak segalanya. Kamu bertekad baja akan terus berjuang hingga ujung sana, di mana kamu tidak akan pernah menyentuh sunyi yang sesempurna itu, namun kamu tak kan pernah kembali.

Berdua menjelajah ilmu, termasuk ke dalam buku-buku terlarang. Apabila pintunya saja terletak di balik rak sejarah, ini pastilah ruang rahasia. “Ini tempat buku-buku terlarang.” Kitabnya matematikawan: The Nine Chapters of Mathematical Art karya beberapa matematikawan Cina Kuno antara abad sebelum Masehi sampai abad pertama, dibedah dengan berbagai sudut. Dibaca sembunyi dan rahasia. Bukunya disembunyikan saja di bawah rak tempat tidur jangan pernah diloak atau dikilo, juga jangan pernah dibakar atau dibuang. Kalau disumbangkan boleh, ditaruh di bawah bantal juga boleh. Kalau dibaca sampai bolak-balik hafal tentu lebih boleh lagi. “Ini buku yang paling dicari. Kalau kata orang-orang bijak, tidak akan pernah ada satu buku yang berisi semua jawaban atas semua pertanyaan di jagat raya ini. Yang bisa merangkum semesta dinamika.”

Prima punya ‘pemandu’. “Aku menunggu dan menunggu dan menunggu. Aku masuk ke alter ego satu orang, ke mimpi orang lain, menyelinap ke sela-sela semedi orang lain lagi…” Ia sering bertemu seseorang yang istimewa dalam mimpi. Kamu pernah tahu bahwa mimpi hanya mungkin diisi oleh orang-orang yang pernah kamu lihat, pernah kamu temui, dan punya arti dalam hidupmu. Ya, tapi kini ia mengajarmu dengan gemilang. Satu adalah bilangan utama untuk menghitung. Ia diyakini, diciptakan oleh alam, untuk dipakai manusia sebagai alat yang paling penting dalam menerka segala-galanya.

Tarsa Sargasandria. Nama tarsa berasal dari bahasa Persia yang berarti ‘penyembah api’. Sebenarnya potensial jadi besar, dan karakter favorit. Sayang dihilangkan cepat, mengingatkanku pada karakter maya A Beautiful Mind yang jua mempesona penikmat di awal tapi lenyap. Mengapa rumus sederhana itulah yang diberi tanda pita? Tarsa, Mantisa, Prima. Pemilihan nama karakter yang bagus.

Banyak hal yang rancu dan ambigu. Saat pertanyaan terjawab, ternyata tidak langsung berhenti, melainkan merambat ke lima pertanyaan baru kadang sepuluh. Benar adanya sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Bukan jawaban yang ia mau, tapi apa? Termasuk hal-hal mendasar yang kelihatannya sederhana tapi dipertanyakan. Banyak sekali orang yang percaya kalau mengernyitkan dahi bisa memperlancar alur pikit di otak, lantaran gerakan ini mirip orang yang tengah memeras otak di depannya, serupa orang memeras kain pel sampai air di dalamnya memercik kembali ke dalam ember.

Teori semesta banyak yang dinukil. Jika benar tanggal kematian sudah dirajahkan pada jejalin sulur-sulur jantung dan lekuk-lekuk otak besar, berarti ulang tahun cuma semacam kamuflase untuk mendekatnya seseorang ke kematian. Waktu yang linier dipertanyakan. Tanpa waktu, tak akan ada musik, tidak akan ada film, tidak akan ada gerakan, tidak akan ada sebab, tidak akan ada akibat. Kamu beralih menatap jam dinding. Ia berputar dengan irama yang sama. Kamulah yang merasa ia kadang tak sama. Sekarang kalender sering dipaksa berganti lebih cepat, jarum jam dipaksa berputar lebih kencang, demikian juga soal batas usia yang disebut layak; padahal apa itu layak saja banyak yang tidak paham. Sistem kenegaraan juga rancu, kenapa bisa konservatif? Semua sistem yang diciptakan manusia selalu mengikuti modus, apa yang paling banyak maka itulah yang paling benar. Aristoteles sekali. Yang beda sendiri itu pastilah salah, pastilah aneh. Yang beda-beda itu termasuk kamu, tidak perlulah diakomodasi, menghabiskan sumber daya saja.

Budaya, adat, kebiasaan nan rutinitas manusia yang katanya normal. Bersopan-sopan sudah, lalu kurang apalagi? Sayangnya kalau akar prasangka bukanlah serabut melainkan menjadi tunggang, maka kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Lingkaran setan mulai terbakar dari ujungnya, berpusat ke tengah. Lalu meledaklah. Termasuk pendidikan dasar yang malam. Ada dua cara untuk memperoleh kelulusan, di mana cara pertama selalu lebih panjang daripada cara kedua. Padahal umur manusia terbatas. Perlahan kamu menyadari bahwa waktu yang dimiliki manusia itu terbatas. Bahkan kamu sendiri tak tahu mana batas itu berada.

Secara acak pun jadi, karena memilih itu penting, lebih mulia daripada diam saja. Golput bukan pilihan bijak. Demi sebuah harapan bahwa pengetahuan adalah senjata terampuh di atas segala-galanya. Pengetahuan adalah kekuatan, menimbun pengetahuan adalah membangun kekuatan yang sangat besar. Termasuk stigma umum bagaimana angka-angka dihilangkan. Tidak ada angka empat, tidak ada angka tiga belas, tidak ada angka dua puluh dua. Tiga puluh satu-pun tidak, tiga puluh sembilan langsung melompat lima puluh. Kamu mengingat-ingat, kalau manik di lajur sempit ada di garis tengah, artinya ditambah lima.

Berdua mencoba menelusur misteri lama. Belum ada yang bisa memecahkan sejak tahun 1971. Semakin mereka ingin cepat-cepat memecahkan misteri P dan NP, semakin jauh juga mereka dengan jawaban. Kelihatannya sederhana, tetapi begitulah. Belum ada yang bisa menjelaskan NP dengan metode sederhana P. Padahal sudah empat puluh tahun lebih. “Begini Prima, kalau kamu mau tahu segalanya, kamu harus kenal dulu dari awal segalanya.” Sejak pertama kali kamu mengenal matematika, jelas ia berbeda dengan subjek lain. ia butuh ketepatan. Cuma ada dua cara untuk menjelaskan matematika, satu dengan perhitungan sampai dapat. Dua, dengan mencoba-coba, tidak ada pilihan ketiga. Heksagram yang dibentuk itu, ada enam puluh empat varian. Pertama katanya, tenaga yang luar biasa akan menciptakan sesuatu, kemudian kedua, bahwa hamparan dunia yang kosong akan siap untuk kita isi.

Sedari mula memang arahnya ke sana, memecahkan msiteri yang bertahan lama. P dan NP itu tidak sama. Dunia mimpi dan dunia nyata itu berhubungan, namun mereka berdua butuh jembatan. Salah satu jembatan adalah buku itu. sayangnya saat yang ditunggu, presentasi makalah yang kuharap mengguncang oleh Triska kena skip, seolah memang ia sendiri-pun tak yakin makalah Prima bisa meyakinkan dewan juri. “Semua bilangan genap yang lebih besar daripada dua selalu bisa dinyatakan sebagai penjumlahan antara dua bilangan prima.” Goldbach’s conjecture (Christian Goldbach, 1690-1764). Penjelasan apa P dan NP tak semewah yang diharapkan. Manusia hanyalah bagian dari himpunan yang merupakan bagian dari himpunan yang merupakan bagian dari himpunan yang merupakan himpunan yang sangat besar, terlalu besar.

Keunggulan buku ini jelas adalah narasi yang tak biasa. Tak mudah dicerna laiknya novel umum. Semua bentuk komunikasi bermula dari satu unsur penting bernama kepercayaan. Komunikasi Prima yang terbatas, menggunakan isyarat serta Mantisa yang memang sudah tak wajar membuat kita sekalipun membaca dua tiga kali beberapa kalimat, tak nyaman. Siapa yang tahu seberapa jujur mereka semua tentang pengalaman dunia mimpi masing-masing? Tidak perlu kekhawatiran karena ketidaktahuan, karena manusia menjadi makhluk matematika yang serba bisa, tahu segalanya. Tidak perlu ada keraguan karena ketidakpastian. Tidak perlu adanya akurasi, tidak perlu ada probabilitas. Tidak perlu ada harapan berlebih, tidak perlu juga adanya pengorbanan yang tidak perlu. Kamu tahu bahwa kenyataan pahit selalu tidak enak disimak karena ia terlalu dekat dengan hatimu. Kalau kenyataan nikmat belum tentu tidak enak, karena hatimu di mana, otakmu di mana. Untuk bersatu padu pun perlu waktu.

Dengan tulisan di kover #1 UNNES International Writing Contest 2017, dengan pede dan meyakinkan rasanya sangat komersil. Lemparkan seribu kerikil, pasti ada satu yang kena. Babnya pendek-pendek, diambil sudut pandang berdua. Saat Mantisa kita disodorkan judul I, Ching berjumlah 64. Heksagram yang sejatinya unik tapi yah, ga mejurus lurus dengan isi bab. Saat sudut berganti ke Prima, kita disodorkan judul teorema-teorema Matematika yang sudah kita kenal, variatif dan diserati penjelasan dasar. Juga beberapa teori lain.

Sebulan ini mengejar baca Kusala, karena kandidat Gramedia Grup paling banyak, saya menyelesaikan baca dengan editing mumpuni di mana tim yang sama ada di belakang layar. Sebelumnya, beberapa kali saya juga kasih jempol buat Bentang yang terbitan barunya konsen di bagian ini, sekarang saya harus akui jua editing Gramedia jauh lebih nyaman. KGP masih ditemukan beberapa typo tapi untuk GPU sudah benar-benar rapi terstruktur. Triple check sangat dianjurkan, proof reader sangat dibutuhkan. Salut buat editor Sasa yang menjamin kualitas teknis, jaminan mutu.

Endingnya dibuat sedih tapi bukankah sedari mula juga sedih? Sekilas kalian tahu akan abadi. Tak terceraikan. Dengan ataupun tanpa nada. Harapan-harapan dicipta. Keturunan diciptakan oleh langit, dititipkan oleh semesta, ke dalam rahim-rahim pilihan. Lalu dihempaskan, “Masalahnya, matematika tidak butuh perasaan, matematika butuh pembuktian.” Semuanya ia dengarkan. Cuma sedikit yang bisa ia cerna, yang lebih ia pahami lebih sedikit lagi. Bawa aku ke taman. Kita lihat-lihat pemandangan, menghirup udara segar, selagi masih ada waktu.

Terakhir, akankah bisa menang sebagai karya pertama atau kedua? Bisa jadi, tapi saya lebih sreg ke Manifesto Flora. See

Karena semakin banyak yang dibaca semakin banyak yang diketahui maka semakin beratlah ilmu seseorang, semakin beratlah pula kepalanya. Dua puluh tiga? Begitukah?

Buku Panduan Matematika Terapan | Oleh Triskaidekaman | GM 618202019 | Editor Sasa | Desain sampul Fauzi Fahmi | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8202-6 | Skor: 3.5/5
2 + 9 + ( 2 x 9 ) = 29

Karawang, 06-081018 – Sherina Munaf – Ada

Iklan

One thought on “Buku Panduan Matematika Terapan – Triskaidekaman

  1. Ping balik: Kusala Sastra Khatulistiwa 2018: Antara Musang Atau Kura-Kura | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s