Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup

Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup

Kalau kalian tidak bisa membunuhku hari ini, kalian tidak akan pernah bisa membunuhku selamanya.”

Buku tebal menuntut konsistensi, fokus dan kesabaran tinggi guna menyelesaikan baca. Beberapa bagian tampak familiar polanya. Seorang pendendam yang menyusup dalam kekuasaan guna menuntaskan kesumat kepada sang raja? Langsung teringat Sungu Lembu yang bersekutu Raden Mandasia demi membuka kesempatan menikam raja. Perjalanan ke Barat untuk mendapat jawab, langsung teringat Balthasar’s Odyssey, kalau Kura Berjanggut punya Liga Suci maka Balthasar punya pertanyaan nama Tuhan Keseratus, kontroversi tapi tak sampai mengguncang. Isu dan hembusan seram Kiamat 9-9-99 bukanlah yang pertama kawan. Dari perompakan satu ke perompakan yang lain. Peterpan, Pulau Harta Karun tentu saja harus disebut. Perebutan takhta, pembunuhan saudara demi kursi panas raja, A Game of Thrones tentu saja jagonya. Yang hebat, ini adalah buku lokal yang terbentang runut sekaligus merumit, sungguh beruntung kita hidup di era digital kita diberi kemudahan akses karya, di mana kita dihadiahi karya-karya berkualitas gini yang bisa dinikmati dalam tempo singkat, walaupun banyak juga karya biasa yang terbit – itulah gunanya penghargaan sekelas Kusala Sastra Khatulistiwa – kita sudah disarikan. Kura Berjanggut adalah The chornicles of Lamuri. Riwayat Bandar Lamuri abad ke 16 dan gejolak setelahnya. Tuhan menciptakan Usmani untuk raki. Lamuri untuk lada, Kashmir untuk apiun. Dan Malta untuk buah dada wanita.

Kisahnya dibagi dalam tiga bagian utama. Pertama tentang si Ujud yang meletup dendam di abad ke 17, bagaimana ia memiliki hasrat tinggi menyusup dalam lingkaran raja demi harga diri. “Sultan membunuh seorang sangkilat namanya si Ujud. Orang itu dibunuh dalam istana, saat pesta sedang berlangsung.” Dia menuliskan cerita, menuturkannya untuk kita sebuah riwayat Lamuri dan segala pergolakannya. Panjang, detail dan sungguh mendebarkan. Dari politik perdagangan rempah sampai perebutan kekuasaan. Tak ada yang lebih menyedihkan daripada mencari sepenggal riwayat yang sia-sia. Bagian kedua kita diajak bertemu seorang pewarta awal tahun 1900an era penjajah terkait Buku Harian Tobias Fuller, Lamuri dalam cengkeraman kolonial. Aku punya kekurangan, aku tidak bisa mencatat dalam rapat yang hiruk pikuk dan penuh dalam perdebatan seperti ini. Aku merekam dalam telingaku lalu di rumah di dalam malam yang sunyi aku menulisnya. Kadang-kadang tidak terangkum dengan baik, kadang aku melirik seorang notulis. Ada garis lurus sebab pembunuhan demi pembunuhan orang kulit putih. Fenomena pembunuhan yang dipengaruhi sebuah karya tulis. Bukan pedang yang menebasmu, tapi takdir. Itu terjadi dan aku menghadapinya tanpa ada firasat apapun. Bagian terakhir adalah Lubang Cacing, bagaimana penghubung dua zaman itu ada, kecil namun sangat berpengaruh. Ada shocking, ada hal-hal yang dicerita kadang tak seperti yang didengar. Efeknya bahkan bisa di era millenium! “Aku tidak percaya pada apa yang aku tidak lihat, Neeb.” Saya tidak berkulit putih tuan, jadi saya tidak perlu takut dibunuh, kata Bapa Stroomer yang dibunuh adalah orang-orang yang tudak pernah berdoa, mereka yang pergi ke gelanggang adu ayam Lamuri, mereka yang pergi ke kedai Sukamoto.

Sayangnya, walau berkali-kali dibantah ini bukan buku sejarah nyatanya Bung Azhari memaparkan fakta-fakta sejarah, menjelaskan efek dan era pasca perang Aceh, memaparkan bagaimana sebuah keputusan raja-raja mempengaruhi era presidensial sekalipun. Riset sampai Belanda menemu link sejarah. Bahkan beberapa disisipi gambar, dan memberi bantahan sebuah tulisan nyata. Lukisan H. M. Neeb, Koeto Reh 14-Jun-04 itu asli-kan? Jadi ini fiksi yang dibalut sejarah? Seharusnya ga perlu menekankan ini fakta lho, biarkan pembaca berspekulasi. Kata Yasunari Kawabata, ‘Seni untuk Seni’. Beliau berpendapat spekulasi dan rangkaian sketsa kehidupan jauh lebih penting ketimbang kesimpulan. Itulah kenapa ending menggantung, jagoan keok dan jentikan Thanos disukai penonton. “Keputusan penting selalu diambil pada saat-saat terakhir”

Sosok setia itu sebenarnya tak ada karena Sultan percaya kesetiaan itu tidak ada. Si Ujud adalah khayalan Sultan yang paling sempurna dan tadi malam dia menumpasnya sendiri. Bagian terbaik sejatinya pas si anak haram Sultan Nuruddin saat dan sebelum memimpin Kerajaan Durud Dunya. Anak haram tidak hanya menumpas orang-orang terdekat sultan, tapi juga membasmi burung-burung dan bunga-bunga perliharaan mereka. Pembersihan yang mengerikan, mengingatkanku peristiwa 65. Harus aku katakan, Sang waktu adalah penghianat paling ulung sekaligus paling sulit ditebak. Kalau para pelawak itu bisa membuat perempuan tertawa, meskinya ia bisa membuat sultan juga tertawa. Ternyata memberi harapan kosong pada diri sendiri juga tidak kalah menyakitkan.

Bagian mengagumkan bagaimana komplotan ini berusaha menumbangkan kekuasaan. Kura-kura Bejanggut seperti dongeng, ceritanya terdengar, tapi tukang ceritanya berada di suatu tempat yang tidak terjangkau. Meraka bersekutu untuk kembali bertakhta dengan menerbitkan buku panduan pembunuhan. Buku resep kura-kura berjanggur merupakan sebuah panduan singkat untuk membunuh Anak Haram, dengan tebal seratus dua puluh halaman, disusun oleh Putri Tajul Dunya.

Dia memang tidak pernah percaya bahwa timah dapat diubah menjadi emas tetapi dia berpegang teguh pada dalil yang menyatakan bahwa jiwa dan keyakinan bukan mustahil disucihamakan. Sejarah mencatatkan banyak pertumpahan darah, penghianat ada di mana-mana. Mereka tidak boleh menghianatiku, tidak ada tempat bagi penghianat di hatiku. Melalui bintang-bintang di langit itulah penguasa negeri berusaha mengenali musuh-musuhnya, mengukur kesetiaan bawahannya serta berunding dengan nasib dan takdirnya. Aku sekarang berada di tempat ini dan apa yang aku dengar lebih menakutkan ketimbang cerita-cerita hantu dan tukang sihir.

Berbagai cara dilakukan untuk kepentingan pribadi. Untuk menyamarkan tujuan, lelucon memang merupakan jubah paling sempurna. Muncul banyak hal mengecewakan, benar kata orang arif, berlaku keras pada diri sendiri adalah senjata terakhir orang-orang yang kalah. Dan agen rahasia ditebar, agen ganda, agen yang menyusup dalam agen lain. Bertukar kulit tidak mudah. Agar kau sebagai bagian dari mereka, hidup seperti mereka, makan seperti mereka makan, buang air seperti mereka buang air, berjimak seperti mereka berjimak.

Biaya perdamaian memang sangat mahal, apalagi uangnya tidak bersumber dari kongsi dagang. Dari zaman batu sampai zaman beton, perang selalu dijadikan alat untuk perdamaian. Dalih kenyamaan berwarganegara. Pembajakan hanyalah dalih, mengujicoba senjata baru tampaknya lebih masuk akal. Semua raja di dunia mencintai penghianatan, tapi tidak penghianatnya. Jadi saya tidak heran mengapa kaki Baginda telanjang. Begitu juga Lamuri, perang dan penghiatanan bersisian. Karena untuk bisa mencekik siapapun butuh tangan yang lebih besar dan kuat.

Awal mulanya terkesan akal-akalan, wanita yang turun dari kapal dalam posisi bunting dinikahi sang kandidat penerus takhta. Dan saat gejolak kursi panas, takdir menunjukmu. Mulai saat itu mereka saling menjaga. Ramla menjaga Kamaria. Kamaria menjaga Ramla. Dan karena bintang mereka berdua sama maka mereka berdua harus menjaga sultan Maliksyah, dan anaknya Nurruddinsyah. Nah, rasanya Ramla ini hebat sekali, punya sihir dan panduan bintang-bintang. Jelas kehebatan Sultan Nurruddin adalah turunan sifatnya. Bukan dari sang ayah? Memang siapa ayahnya? “Maut sangat gelap bagi manusia tapi melalui peta langit kau bisa melihatnya, kalau tidak semua sedikit saja sudah sangat membantu.” Melawan musuh dengan segala akibat jauh lebih terhormat ketimbang dibunuh perlahan-lahan oleh kesedihan yang jahanam.

Biji-bijian kami adalah santapan tuhan. Kami belum pernah melihat manusia memakan merica.” Indonesia dengan limpahan cahaya tropis menghasil rempah berkualitas, pergolakan itu bahkan menyeret banyak pihak. Merica lebih mahal dari emas. Luar biasa.

Bahkan setelah kematian Ramla telah lama berlalu, sangat tipis perbedaan antara tangan yang mengolesi racun di jarum rajutan dan kekuatan yang lebih besar yang mengatur pembunuhan tersebut. Maka demi kepentingan golongan, demi memperlancar urusan perut, nyawa taruhannya. Benar-benar era menghalalkan segara cara yang sesungguhnya. Benar bahwa sekecil apapun upaya membahas kematian orang yang kita sayangi akan menyebabkan kita lemah.

Sjarif mungkin sekarang sudah empat puluh tahun, seangkatan aku beberapa tahun lagi memasuki yang sama, yang mana semua impian dan tujuan dalam hidup akan mencapai babak akhir. Akan keluar sebagai pemenang atau pecundang. Kisah mula si Ujud ke barat untuk menuntut ilmu malah terbaca sangat menyenangkan. Apalagi ada kejutan identitas orang tuanya. Trenyuh. “Kami miskin seperti sufi.”

Di mata para bandit pedagang sama, yaitu mereka yang mengenakan sepatu melengkung, surban dan tunik, menghiasai kelopak mata mereka dengan celak yang melambangkan riba atau ketamakan. Banyak hal bisa dibahas, terlalu banyak malah karena memang menyeret isu budaya, agama, sosial. Niat baik tidak selalu mendapatkan tanggapan. Mungkin kalau sultannya lebih dahulu masuk agama Serani, burung itu dengan sendirinya juga akan ikut. Juga yang lain.

Apa yang tidak masuk akal di penjara, bajingan? Kau harus masuk untuk mengalami keajaibannya.” Hal-hal yang ajaib dalam kurung penjara diceritakan detail, belajar dari raja bandit-pun tak masalah selama ilmu itu akan berguna di masa depan. Termasuk main catur dengan alat seadanya dan butuh waktu berharian hanya untuk menyelesaikan sebuah game? Abrolho menyerah sembilan langkah kemudian, pada langkah ke delapan puluh satu. Ilusi dewa.

Dengan meniru bayangan seorang raja selamanya aku hanya akan menjadi seorang raja. Tapi, dengan meniru bayangan guruku, Marabunta, aku bisa meniru bayangan seratus orang raja sekaligus seratus wajah berbeda para perempuan Yazidi. Riwayat anak haram bisa menjadi perkasa dituturkan dengan logika pas. Tak ada ilmu yang turun dari langit tanpa proses tempaan waktu. Sejak kecil ia sudah mengunyah ribuan buku sehingga kalau ia meludah iar liurnya mengandung dawat.

Tidak perlu berkecil hati Yang Mulia, semua penguasa kuat pada kenyataannya lemah dalam ilmu hitung, termasuk Tuhan sendiri. Umat manusia belum menciptakan nama untuk hubungan kami berdua. Dia memanggilku ‘tuhan’. Tapi Tuhan ini tidak bisa menyembuhkannya. Hikayat, legenda, sejarah, ilham yang mengelana dalam proses pencarian. “Orang sakit menumpang hidup dalam tubuh kita, hingga saatnya mereka membawa mati mimpi-mimpi kita.”

Ada hal-hal tabu bagi fanatisme religi karena seolah muncul nabi baru. Apalah arti seorang ulama atau munsyi yang mempunyai ribuan pengikut dibandingkan satu tuhan berkudis yang mempunyai hamba seorang perempuan cantik jelita. Terjadi banyak persamaan di dunia ini dalam sebuah rangkaian sebab-akibat yang kita pikir saling berhubungan tetapi sebenarnya hanya kebetulan, percayalah. “Semua kita pada akhirnya sendiri.”

Setan tidak membahas rahasia setan yang lain. Tidak juga setan perempuan.” Beberapa hal-hal jorok juga dituturkan. Bisa kena label 18+ ini buku, saling silang hubungan sebadan terjadi, ada yang dijelaskan bak raja di raja malah, dihadapkan puluhan perawan. Makanya butuh pikiran terbuka, hati lapang untuk menikmati karya-karya tak biasa. Masa depan menyusut seperti pelir seorang jenderal, karena darah tidak mampu membangkitkan kejantanannya, masa lalu akan bergema ibarat lonceng dan akan menyiksa kemaluan jenderal keparat.

Termasuk makian berlapis dari kelas jelata sampai tingkatan sosial atas. Dia terkekeh. Bertahun-tahun mengenalnya, jenis tawa seperti itu berarti dua hal: sedang senang atau mengejek sesuatu.

Mesin mengeluarkan cahaya, seperti saluran pernapasan mengeluarkan bakteri. Ketakutan akan kematian membawa beberapa konsekuen. “Aku mau pekerjaan yang tidak banyak berhubungan dengan manusia. Mungkin penjaga menara kabut.” Aku paham bahwa dia mempunyai sangkilat lain, mungkin lebih dari satu, dan aku hanyalah salah satunya.

Banyak hal masih sangat relevan dengan era sekarang. “… dunia tidak berubah anakku, tidak akan berubah sejak awal mula, tidak juga sejak aku dan Kamari terdampar di bandar terkutuk ini...” Keputusasaan ini membuat seorang berusaha mencari penyebab dan yang paling mudah adalah pemerintah, sesuatu yang baru dan asing bagi mereka. Menyalahkan Pemerintah padahal bukan salah mereka? Lihatlah sosmed, perang komentar gilax. Saat itu aku pikir dia sedang mengidap sejenis waha, takut oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Kami di Asahan menyebutnya mirat.

Perempuan bercadar biasanya muncul di saat-saat genting, misalkan setelah banjir besar, wabah penyakit sedang membunuh penduduk sebuah negeri, atau menjelang pergantian abad ketika ramalan tentang tibanya hari kiamat marak dibicarakan. Api mungkin penyelesaian yang baik, tapi membayangkan sifat-sifat Tuhan yang terbakar membuat kepalanya jadi dingin.

Saya sudah feeling buku ini akan masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa sejak tahu teaser potongan-potongan cerita disebar di sosmed, maka saat muncul pre-order bukunya saya langsung mengantisipasi. Termasuk prediksi dini bakalan menang. Kubeli daring di toko buku langganan bulan Mei, Terima kasih Paperbook Plane. Sempat mengendap sebulan karena masuk antrian baca. Butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikan 980 halaman, dari tanggal 7-Jul-18 jam 23:00 saat World Cup Russia menemukan Inggris menang 2-0 versus Swedia sampai hari Minggu, 22-Jul-18 jam 10:55 saat ngopi dan santai di kamar. Mengendap lagi ga segera ketik ulas. Yang rada saya sesalkan adalah, kenapa ga bergegas membuat sisihkan waktu buat Kura Berjanggut? Kebiasaan tunda, dan susunan prioritas baca-ulas membuatnya tenggelam. Saya bacanya juga hati-hati, ga pernah bawa keluar rumah takut lecek. Ga seperti buku-buku lain yang biasa saya masukkan ke tas, bisa dibaca di kantor atau di kursi malas depan minimarket atau sembarangan tempat yang nyaman, Kura Berjanggut sesampainya di Karawang ga pernah sekalipun gentayangan. Melindungi ketebalan seperti melindungi al kitab. Dan saat 10 besar diumumkan, barulah teringat lagi bahwa saya bahkan belum buat draft review-nya. Segala uneg-uneg awal yang pengen dilontarkan sesaat setelah baca sebagian ga terselamatkan langsung, jadi yah, agak terlambat – sangat terlambat ding. Saat saya ketik kalimat-kalimat ini, saya sudah baca semua pesaing lain.

Untuk menikmati seluk beluk itu, kita diajak berkelana dari satu pulau ke pulau lain, satu perang antar kapal ke perang antar pasukan. Mereka percaya memang ada sedikit orang di dunia ini yang lahir-untuk-tidak-dapat-dibunuh dan Sjarif adalah salah satunya. Bagaimana dengan sang Sultan?

Pagi ini kau kuangkat sebagai sangkilatku, aku harap kau bersedia.”

Terasa agak aneh ketika kau mendengar orang lain bercerita tentang dirimu. Finally, done! 10 dari 10 review kelar juga. Buku kedua yang kubaca malah menjadi ulasan terakhir. Save the best for the last, ah kebetulan saja. Rasanya Kura-kura Berjanggut sangat besar untuk menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 kategori prosa, hanya Muslihat Musang Emas lawan beratnya. Salah satu keistimewaan diproses tulis sedekade. Wow. See ya, 10 Oktober nanti. Aku mungkin dulu pernah punya mimpi atau cita-cita tapi sekarang sudah tidak. Namun, aku bukan orang yang mau terikat oleh impian orang lain. “Tidak akan ada waktu yang tepat.”

Kura-Kura Berjanggut | Oleh Azhari Aiyup | copyright 2018 | Cetakan pertama, April 2018 | Penerbit Banana | Penyunting Yusi Avianto Pareanom | Perancang sampul Teguh Sabit | Penggambar ilustrasi Belinda Sugianto | Penata Letak Risdianto | 14 cm x 20,5 cm, 960 halaman | ISBN 978-979-1079-64-8 | Skor: 5/5

Untuk Aulina

Karawang, 2509-061018 – Sheila On 7 – Tunjuk Satu Bintang

Ketemu beberapa typo (kata – halaman): rumah ng – 59, yaputih – 59, bahwa bahwa – 95, muncikari – 105, AbrolhoyangtidakmendugabagindaBagindamenerimatantangannya (kalimat pertama tanpa spasi) – 227, kebiasaan it – 312, boyak – 322, perjudian nya – 353, tajam,seperti – 377, gajah buta (tab paragraf baru) Ramla – 378, Kamaria terpana.” – 389, sibuk dalam dalam serangkaian – 722, akan melalukannya – 791.

Good luck Kura!

Iklan