Pekan Ke 10: Lazio Vs Inter

LBP 3-0
Lazio dianggap akademi Inter karena banyak pemainnya yang ganti baju ke Meazza. Inter dianggap bersaudara dengan Lazio karena dianggap tak berseteru dan saling dukung saat salah satunya ada derby. Tapi saat bersua tak ada main main, all out demi harga diri. Kemenangan pertama Inzaghi musim ini atas para unggulan?

DC
Lazio 1-1 Inter
Immobile
Lawan yang berat buat tuan rumah. Keduanya habis bertarung di Eropa dengan hasil yang berbeda tetapi dengan level lawan yang ga sama pula. Imbang hasil yang pas.

Emas Nainggolan
Lazio 0-2 Inter
Icardi
Lazio kembali bertemu tim yang mengubur mimpi mereka bertemu Barsa. Permainan Inter semakin menggila sejak king Eric menjadi ketua tim pemenangan Jokowi. Tujuh orang Laziale Karawang akan kembali meratapi nasib pahit.

AW
Lazio vs Inter 1-2, Icardi
Inter lagi on fire. Lazio gak cukup ngandalin Immobile. Inter bakal menang dan berjaye.

AP
Lazio v Inter 0-1
Icardi
Perebutan posisi 3. Lazio tentu ingin balas dendam hasil musim lalu yang membuat gagal lolos UCL. Icardi akan kembali jadi pembeda.

Damar IRR
Lazio 1-0 inter
Immobile
Lazio kembali ke trend positifnya. Tiga point wajib di kandang. Selamat tinggal bola teman masa kecilku

Firman Agustian
Lazio 2-2 Inter
Berisha
Bingung mau ngasih prediksi skor ini, pengen Inter menang tapi takutnya Lazio ntar susah buat mempertahankan posisi 4 besar, Kemarin kemarin Inter udah kalahnya ama Tim yang tidak tepat kaya Parma dan Sassuolo, mending bagi bagi poin aja deh ama Lazio jadinya.

Siska
Lazio 2-0 Inter
Immobile
Lazio harus bisa main maksimal dikandang dan melanjutkan trend positifnya, sekaligus mengembalikan inter ke trend negatif.

YR
Lazio 0-1 Inter
Perisic
Hasil akhir seperti partai penentuan musim lalu. Dimana Inter berhasil mempencundangi tuan rumah dengan gol tunggal Icardi. Yang menyebabkan Lazio harus menjalani Liga Malam Jumat.
Pertandingan kali ini juga bakal dimenangi oleh Inter

bib1
Lazio 1-2 Inter; Perisic
Lazio telah memenangkan enam dari tujuh pertandingan liga terakhir mereka dan 8 dari 10 pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi, bangkit kembali dengan cepat dari kekalahan derby dengan mengalahkan Fiorentina, Parma dan Marseille. Sementara itu Inter kalah 2-0 dari Barcelona pada Rabu malam tetapi menunjukkan semangat pantang menyerah sepanjang pertandingan di Camp Nou. Hanya ada satu poin yang memisahkan kedua tim di tabel liga dan ini mendorong kilas balik ke akhir musim lalu ketika Inter mengalahkan Lazio ke kualifikasi Liga Champions dengan cara dramatis.

Takdir
Lazio 1-0, Acerbi
Analisis laga pertama kesempatan buat balas dendam atas kegagalan ketemu Barcelona. Lazio selalu menang lawan tim lemah musim ini, Lazio selalu terperosok saat ketemu tim kuat. Rasanya Inter bisa dikategorikan lemah, poin penuh untuk tuan rumah!

Karawang, 291018

Iklan

Pekan Ke 9: Parma Vs Lazio

Pekan Ke 9: Parma Vs Lazio

LBP 0-3
Selamat jalan Bola, teman kala dunia digital belum menyerang. Tadi cari di lapak sold out. Pekan depan harus dapat. Coba kalau gila Bola bisa bergairah mencari Bola seperti ini, mungkin masih bertahan. Good luck and good bye, Tabloid Bola

AP
Parma v Lazio 0-1
Immobile
Sudah jadi pembaca BOLA sejak 1996. Terima kasih BOLA yang sudah menemani saya selama 22 tahun. Sampai jumpa, teman masa kecilku.

Emas
Parma 2-1 lazio
Gervinho
Kowe lungo pas aku sayang-sayange.
Tanpo pamit kowe ngadoh ngono wae.
Aku ra ngerti salahku dan kau campakkan diriku
bersanding dengan kekasih barumu. Sai gut bai bola

DC
Parma 0-2 Lazio
Immo
BOLA telah menjadi teman setia sejak SD. Dari BOLA saya mengenal tim ke 2 di ibukota Roma, SS Lazio yg termasuk top di th 90an. Terimakasih tabloid BOLA. Engkau akan selalu dalam ingatan.

Takdir
Parma 0-5 Lazio, Immobile
Bola itu bulat, bola itu Tabloid legendaris. Bola itu kitabnya anak gaul 90an. Bola itu bal.

Damar IRR
Parma 0-2 Lazio, Parolo
Tabloid Bola tutup usia. Tabloid Bola tutup. Met tutup tabloid Bola. Goodbye

Ceo
Parma 1-2 Lazio; Immobile
Sudah jadi pembaca BOLA sejak 1999. Terima kasih BOLA yang sudah menemani saya selama kurang lebih 12 tahun. Sampai jumpa, teman masa remajaku.

AW
Parma 1-3 Lazio, Immobile
Sudah jadi pembaca BOLA sejak 1998. Terima kasih BOLA yang sudah menemani saya selama inii. Sampai jumpa, teman masa kecil!

YR
Parma 2-2 Lazio
Immobile
Baca dan beli Bola hanya edisi tertentu dengan berita tertentu.
Gak terlalu kehilangan walau Bola tutup, karena berita tentang Bundesliga cuma sedikit.
Paling sebel waktu final UCL 2013, beritanya kalah banyak sama berita tentang El Clasico, padahal kalau bicara nilai koefisien liga gak pernah jelek, walau masih di bawah La Liga.
So Bola ditutup Show Must Go On.

Depok, 211018

Kusala Sastra Khatulistiwa 2018: Antara Musang Atau Kura-Kura

Kusala Sastra Khatulistiwa 2018: Antara Musang Atau Kura-Kura

Final match: Kura-Kura Berjanggut vs Muslihat Musang Emas. Siapapun pemenangnya, BaNana juaranya. Gentayangan bisa menjadi daya kejut, Tiba Sebelum Berangkat sedari mula sudah kubilang hanya seekor kuda hitam, dan yang pasti bukanlah Laut Bercerita.

Katakanlah ini semacam prediksi ala LBP. Sempat diwarnai salah tulis nama Intan Paramadhita pada pengumuman 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 pada tanggal 6 September 2018. Langsung dari akun-nya Richard Oh, daftar kategori prosa dan puisi yang tertera mencantum, dua buku saja yang sudah kubaca: Kura Berjanggut dan Laut Bercerita. Karena saya penikmat prosa, belum bisa nyaman dengan puisi maka jelas yang kukejar adalah novel dan kumpulan cerpen. Malam itu juga langsung pesan daring, datangnya bertahap karena memang tak semua ready stock. Dapat di tiga tempat: toko buku daring Dema di Jakarta (Gentayangan, Muslihat Musang Emas, Manifesto Flora, Sang Raja), toko buku daring Stan Buku dari Yogyakarta (Gerimis Di Kuta, Ibu Susu) dan saat ke IIBF (Sai Rai, Tiba Sebelum Berangkat). Plus bonus satu kategori tambahan di karya pertama atau kedua di Gramedia World Karawang (Buku Panduan Terapan Matematika).

Lengkaplah sudah, mari kita tengok ulas singkatnya. Urutan berdasar selesai baca.

#1. Laut Bercerita – Leila S. Chudori
Tentang drama penculikan mahasiswa tahun 1998. Laut adalah aktivis di era Pak Harto, kita diajak mengenal keluarganya, sahabat, kerabat, sampai kekasih. Dan bagaimana mengatasi rasa kehilangan. “Mengapa aku merasa Laut dan kawan-kawan ada di bawah sana, di dasar laut dan tetap hidup.”

#2. Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup
Tentang buku panduan membunuh si anak haram, sang sultan Bandar Lamuri kerajaan Durud Dunya: Nurrudin. Kisahnya merentang jauh dari abad 16 sampai era sekarang, bagaimana sebuah buku bisa mempengaruhi banyak orang. “Keputusan penting selalu diambil saat-saat terakhir.”

#3. Manifesto Flora – Cyntha Hariadi
Tentang harapan Flora nantinya saat menikah, harapan unik di mana dalam rumah nantinya hanya punya satu telpon. Kita diajak menelusur masa lalu dan komunikasi yang terjalin. “Selamat siang Mbak, cari rumah buat bosnya ya.

#4. Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom
Tentang rencana mendirikan agama baru. Pakai nama ‘… dan Elena’ sebagai tambahan judul, bagaimana para jomblo mengatasi masalahnya. Ngopi dan obrolan para warga sub urban. “Hari ini giliran suami mengalah, besok giliran istri yang menang.”

#5. Gentayangan – Intan Paramaditha
Tentang gadis yang mengelana dalam kontrak iblis bersama sepatu merah. Bagaimana gentayangan dari Amerika, Belanda hingga Singapura. Ada opsi saat hidupmu terjepit karena iblis punya kuasa waktu. “Ia tak hilang, aku menghilangkannya.”

#6. Tiba Sebelum Berangkat – Faisal Oddang
Tentang seni bertahan hidup dalam penyekapan, ilmu kanuragan yang bisa memprediksi masa depan dan seluk beluk konspirasi di Sulawesi Selatan dari era Kahar Muzakar sampai zaman Reformasi. “Kita dihukum atas kesalahan orang lain dan kebenaran tidak pernah berpihak pada kaum yang lemah seperti bissu.

#7. Sai Rai – Dicky Senda
Tentang lelaki yang meninggalkan bumi. Persembahan warga untuk para leluhur. Kental budaya Timor Tengah Selatan. “Kau percaya Tuhan? Kalau begitu berdoalah supaya gemetar di tubuhmu hilang. Berdoalah agar kepedihan ini usai.

#8. Gerimis Di Kuta – Wendoko
Tentang drama romantis di Kuta, Bali. Bagaimana kisah-kisah tak usai disajikan dalam remang ketakpastian. “Aku tak percaya pada hubungan intens. Jika kau percaya kau sedang bersiap-siap kecewa.”

#9. Ibu Susu – Rio Johan
Tentang pencarian ibu susu untuk putra Firaun, pangeran Sem. Bagaimana kerajaan mencari ibu susu terbaik dari warga, semua lapisan. “Semuanya akan baik-baik saja.”

#10. Sang Raja – Iksaka Banu
Tentang sejarah sang raja kretek dari Kudus, NV Nitiseminto. Kisahnya mengelana jauh sebelum Indonesia merdeka dengan sudut pandang dua karyawan kombinasi lokal dan Londo. Bagaimana pabrik rokok bisa menjadi penyelamat di era kolonial. “Jangan bilang begitu, kata orang Jawa tidak baik mendahului takdir.”

Bonus dari karya pertama atau kedua saya beli di hari minggu setelah semua selesai baca.

#Buku Panduan Terapan Matematika – Triskaidekaman
Tentang dua anak istimewa yang menjelajah dunia imaji dalam kebesaran ilmu matematika. Mantisa dan Prima yang mencoba memecahkan misteri N dan NP yang sudah berumur empat puluh tahun. Bagaimana sebuah ilham muncul dari sumber yang tak disangka. “Ada orang yang berulang tahun denganku Bu, aku tidak suka dia.”

Di era serba digital dan serba instan gini, kita dihadapkan banyak sekali pilihan menikmati hidup sementara hidup kita rataan masih sama dengan umur rataan dua ribu tahun yang lalu. Sebagai umat terakhir, sebagai patokan umur Nabi yang 60an tahun maka kita punya waktu tak jauh beda. Yang beda ya eranya, sekarang ini tiap tahun ada jutaan karya tercipta dari film, musik sampai buku. Kita belum berkisah dengan dunia bola yang miliki fanatisme membuncah, dunia religi yang perlu diperdalam, sampai adat dan budaya. Angka 60 terasa hanya jentikan semesta.

Maka berterima kasihlah pada orang-orang yang menyarikan karya, menyusutkannya dalam pilihan untuk kita nikmati. Sebagai contoh, daftar kandidat Oscar untuk film, kita tinggal nonton yang dipilihi juri sebagai (mayoritas) jaminan kualitas maka untuk buku-buku lokal kita sudah tinggal menikmati daftarnya dalam Kusala Sastra Khatulistiwa. Sudah 18 tahun dan akan terus berjalan…

Baru setahun ini punya HP yang bisa buka instagram serta nyambung internet pakai 4G, tahun ini pertama kalinya saya berkesempatan menyelesaikan baca ulas kesepuluh kandidat prosa sebelum pengumuman pemenang.

Pada tanggal 24 September lalu, 10 Karya Pertama atau Kedua rilis. Lalu mengerucut lima tak lama berselang. Untuk kategori ini, tebakan pertama jelas saya pilih Manifesto Flora, unik, aneh, dan meliukan pikiran. Atau Buku Panduan yang jua hebat dalam berkisah berbagai topik hitung dengan ketaklaziman. Yang jelas bukan Ibu Susu yang sangat monoton. Namun, entahlah untuk kandidat lain dalam bentuk puisi saya tak baca satupun. Kalau yang menang adalah kumpulan puisi ya monggo, saya belum bisa menikmati bait-bait sajak.

Prediksiku di kategori prosa? Tanggal 28 September dari 10 disaring lima lagi. Gentayangan, Laut Bercerita, Kura Berjanggut, Bila Sebelum dan Muslihat Musang. Gentayangan memang bagus begitu selesai baca langsung nebak melaju, sayangnya cerita melompat-lompat tak tentu arah, tak nyaman dinikmati sambil santai sama kopi. Sang kuda hitam, Tiba Sebelum memiliki keistimewaan di tengah cerita, laiknya cerita mistis Abdullah Harahap yang meletupkan serangan gaib, tapi tetap sang pemenang harus bisa konsistensi saar start hingga akhir kisah. Juara? Jelas menyesuaikan skor. Skor terendah Laut Bercerita dan Ibu Susu, mengejutkan salah satunya masuk lima besar. Skor tertinggi Muslihat Musang dan Kura Berjanggut, dan kurasa yang terakhir kusebut inilah yang juara. Or is it just me?

Karawang, 081018 – Sherina Munaf – Kisah Sang Lebah

Buku Panduan Matematika Terapan – Triskaidekaman

”Begitulah orang-orang dulu, yang ada dalam otak mereka cuma mengumpulkan, menyarikan, lalu memikirkan masa depan pengetahuan mereka. Sekarang? Orang zaman sekarang terlalu tergila-gila pada pengakuan personal. Bayangkan Carr saja dengan gagah berani mencantumkan namanya dalam kumpulan rumus dan teorema matematika yang bukan temuannya. Generasi terdahulu adalah guru terbaik selain pengalaman.”

Great debut. Karya pertama, bisa seunik ini! Triskaidekaman mengaku belum pernah membuat cerita pendek sebelumnya, tidak pernah ikut-ikutan antologi apapun dan boom keluarlah novel perdana. Langsung masuk Kusala Sastra Khatulistiwa 2018, seharusnya sih bisa ke top ten kategori prosa tapi entah kenapa tersisih. Kontributor tetap platform menulis storialco dan menang lomba di sana. Hobi lihat balap F1 dan pemimpi matematika, pantas sekali novel ini berkaitan sangat erat dengan hitung menghitung. Terapaan bebas yang aneh menggelitik. Manusia sudah kehabisan stok penciptaan sejak lama. Semua yang tampak baru adalah hasil modifikasi.

Tentang dua anak istimewa yang bersisian kisahnya.

Pertama, Mantisa yang terlahir tanpa bapak, di hari ulang tahunnya juga sebagai hari kematian ibunya. Tumbuh kembang di panti asuhan, dengan pengawasan ketat ibu penjaga Bu Tari. Anak dititipkan agar ia dikembangkan bukan sekedar disalin dan ditempel secara acak. Mantisa yang banyak polah. Kurang ajar, demikian kata orang-orang. Padahal Mantisa memang belum diajar. Bukankah wajar saja jika dia kurang ajar? Pikirnya anak itu harus disingkirkan; sebelum pengecambahannya kukuh. Kalau ia terlanjur berakar tunjang, ia bakal jadi gulma. Susah diatur susah pula dibinasakan. Benar sampai kecil, sederhana sampai kompleks. Sedikit-sedikit, tanah berakumulasi menjadi bukit. Bukit-bukit berakumulasi jadi pulau. Pulau berjuntai, menjalin membangun gugus di berbagai arah.

Mantisa yang kutahu ya mantis – belalang. Di sini tentu saja bukan, ini bukan buku biologi. Konsep mantisa sendiri masih ambigu antara konsep logaritma dan konsep bilangan biasa, karena sama-sama menyatakan bilangan di belakang desimal, meskipun peruntukan atau fungsi berbeda. Mantisa yang mengandalkan otak ketimbang otot. Kalau menjadi cantik itu tidak enak, mengapa perempuan-perempuan itu masih mau bersakit-sakit? Tidakkah perempuan itu berfikir mereka sedang disiksa oleh apa yang orang lain mauatas diri mereka, bukan memperjuangkan apa yang mereka mau? Punya keistimewaan. Bisa menghitung jumlah tetesan hujan dengan presisi. Dan banyak tanya pada semesta. Mengapa bintang dan bulan bersembunyi kala mau hujan, hingga mengapa Desember itu disebut Desember dan tanggal sepuluh itu disebut tanggal sepuluh. Mantisa mengambil keputusan sepihak bahwa kalau ia berfikir terlalu keras, ia bisa menurunkan hujan. Ia bisa membuat langit menangis tersedu-sedu. Berarti langit tidak mau, ia berfikir. “Ada orang yang berulang tahun denganku Bu, aku tidak suka dia.”

Kedua, Prima yang terlahir tanpa ayah jua, ibunya Sekar membesarkannya dengan kasih sayang melimpah karena suatu kejadian menciptanya menjadi tuna rungu. Mendengar tidak selalu harus dengan telingamu. Sekolah biasa mengeluarkannya maka belajar di perpustakaan umum di tempat ibunya bekerja menempanya otodidak. Mantisa yang suka banyak tanya dan suka mencari tahunya ke perpustakaan akhirnya mempertemukan mereka. Bersama anak panti asuhan lain yang istimewa, Tarsa mereka menjelajah dunia literasi matematika yang misterius.

Prima, ya jelas dari bilangan prima. Rungu karena sebuah kejadian mendasar. Namun, satu kejadian merusak segalanya. Kamu bertekad baja akan terus berjuang hingga ujung sana, di mana kamu tidak akan pernah menyentuh sunyi yang sesempurna itu, namun kamu tak kan pernah kembali.

Berdua menjelajah ilmu, termasuk ke dalam buku-buku terlarang. Apabila pintunya saja terletak di balik rak sejarah, ini pastilah ruang rahasia. “Ini tempat buku-buku terlarang.” Kitabnya matematikawan: The Nine Chapters of Mathematical Art karya beberapa matematikawan Cina Kuno antara abad sebelum Masehi sampai abad pertama, dibedah dengan berbagai sudut. Dibaca sembunyi dan rahasia. Bukunya disembunyikan saja di bawah rak tempat tidur jangan pernah diloak atau dikilo, juga jangan pernah dibakar atau dibuang. Kalau disumbangkan boleh, ditaruh di bawah bantal juga boleh. Kalau dibaca sampai bolak-balik hafal tentu lebih boleh lagi. “Ini buku yang paling dicari. Kalau kata orang-orang bijak, tidak akan pernah ada satu buku yang berisi semua jawaban atas semua pertanyaan di jagat raya ini. Yang bisa merangkum semesta dinamika.”

Prima punya ‘pemandu’. “Aku menunggu dan menunggu dan menunggu. Aku masuk ke alter ego satu orang, ke mimpi orang lain, menyelinap ke sela-sela semedi orang lain lagi…” Ia sering bertemu seseorang yang istimewa dalam mimpi. Kamu pernah tahu bahwa mimpi hanya mungkin diisi oleh orang-orang yang pernah kamu lihat, pernah kamu temui, dan punya arti dalam hidupmu. Ya, tapi kini ia mengajarmu dengan gemilang. Satu adalah bilangan utama untuk menghitung. Ia diyakini, diciptakan oleh alam, untuk dipakai manusia sebagai alat yang paling penting dalam menerka segala-galanya.

Tarsa Sargasandria. Nama tarsa berasal dari bahasa Persia yang berarti ‘penyembah api’. Sebenarnya potensial jadi besar, dan karakter favorit. Sayang dihilangkan cepat, mengingatkanku pada karakter maya A Beautiful Mind yang jua mempesona penikmat di awal tapi lenyap. Mengapa rumus sederhana itulah yang diberi tanda pita? Tarsa, Mantisa, Prima. Pemilihan nama karakter yang bagus.

Banyak hal yang rancu dan ambigu. Saat pertanyaan terjawab, ternyata tidak langsung berhenti, melainkan merambat ke lima pertanyaan baru kadang sepuluh. Benar adanya sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Bukan jawaban yang ia mau, tapi apa? Termasuk hal-hal mendasar yang kelihatannya sederhana tapi dipertanyakan. Banyak sekali orang yang percaya kalau mengernyitkan dahi bisa memperlancar alur pikit di otak, lantaran gerakan ini mirip orang yang tengah memeras otak di depannya, serupa orang memeras kain pel sampai air di dalamnya memercik kembali ke dalam ember.

Teori semesta banyak yang dinukil. Jika benar tanggal kematian sudah dirajahkan pada jejalin sulur-sulur jantung dan lekuk-lekuk otak besar, berarti ulang tahun cuma semacam kamuflase untuk mendekatnya seseorang ke kematian. Waktu yang linier dipertanyakan. Tanpa waktu, tak akan ada musik, tidak akan ada film, tidak akan ada gerakan, tidak akan ada sebab, tidak akan ada akibat. Kamu beralih menatap jam dinding. Ia berputar dengan irama yang sama. Kamulah yang merasa ia kadang tak sama. Sekarang kalender sering dipaksa berganti lebih cepat, jarum jam dipaksa berputar lebih kencang, demikian juga soal batas usia yang disebut layak; padahal apa itu layak saja banyak yang tidak paham. Sistem kenegaraan juga rancu, kenapa bisa konservatif? Semua sistem yang diciptakan manusia selalu mengikuti modus, apa yang paling banyak maka itulah yang paling benar. Aristoteles sekali. Yang beda sendiri itu pastilah salah, pastilah aneh. Yang beda-beda itu termasuk kamu, tidak perlulah diakomodasi, menghabiskan sumber daya saja.

Budaya, adat, kebiasaan nan rutinitas manusia yang katanya normal. Bersopan-sopan sudah, lalu kurang apalagi? Sayangnya kalau akar prasangka bukanlah serabut melainkan menjadi tunggang, maka kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Lingkaran setan mulai terbakar dari ujungnya, berpusat ke tengah. Lalu meledaklah. Termasuk pendidikan dasar yang malam. Ada dua cara untuk memperoleh kelulusan, di mana cara pertama selalu lebih panjang daripada cara kedua. Padahal umur manusia terbatas. Perlahan kamu menyadari bahwa waktu yang dimiliki manusia itu terbatas. Bahkan kamu sendiri tak tahu mana batas itu berada.

Secara acak pun jadi, karena memilih itu penting, lebih mulia daripada diam saja. Golput bukan pilihan bijak. Demi sebuah harapan bahwa pengetahuan adalah senjata terampuh di atas segala-galanya. Pengetahuan adalah kekuatan, menimbun pengetahuan adalah membangun kekuatan yang sangat besar. Termasuk stigma umum bagaimana angka-angka dihilangkan. Tidak ada angka empat, tidak ada angka tiga belas, tidak ada angka dua puluh dua. Tiga puluh satu-pun tidak, tiga puluh sembilan langsung melompat lima puluh. Kamu mengingat-ingat, kalau manik di lajur sempit ada di garis tengah, artinya ditambah lima.

Berdua mencoba menelusur misteri lama. Belum ada yang bisa memecahkan sejak tahun 1971. Semakin mereka ingin cepat-cepat memecahkan misteri P dan NP, semakin jauh juga mereka dengan jawaban. Kelihatannya sederhana, tetapi begitulah. Belum ada yang bisa menjelaskan NP dengan metode sederhana P. Padahal sudah empat puluh tahun lebih. “Begini Prima, kalau kamu mau tahu segalanya, kamu harus kenal dulu dari awal segalanya.” Sejak pertama kali kamu mengenal matematika, jelas ia berbeda dengan subjek lain. ia butuh ketepatan. Cuma ada dua cara untuk menjelaskan matematika, satu dengan perhitungan sampai dapat. Dua, dengan mencoba-coba, tidak ada pilihan ketiga. Heksagram yang dibentuk itu, ada enam puluh empat varian. Pertama katanya, tenaga yang luar biasa akan menciptakan sesuatu, kemudian kedua, bahwa hamparan dunia yang kosong akan siap untuk kita isi.

Sedari mula memang arahnya ke sana, memecahkan msiteri yang bertahan lama. P dan NP itu tidak sama. Dunia mimpi dan dunia nyata itu berhubungan, namun mereka berdua butuh jembatan. Salah satu jembatan adalah buku itu. sayangnya saat yang ditunggu, presentasi makalah yang kuharap mengguncang oleh Triska kena skip, seolah memang ia sendiri-pun tak yakin makalah Prima bisa meyakinkan dewan juri. “Semua bilangan genap yang lebih besar daripada dua selalu bisa dinyatakan sebagai penjumlahan antara dua bilangan prima.” Goldbach’s conjecture (Christian Goldbach, 1690-1764). Penjelasan apa P dan NP tak semewah yang diharapkan. Manusia hanyalah bagian dari himpunan yang merupakan bagian dari himpunan yang merupakan bagian dari himpunan yang merupakan himpunan yang sangat besar, terlalu besar.

Keunggulan buku ini jelas adalah narasi yang tak biasa. Tak mudah dicerna laiknya novel umum. Semua bentuk komunikasi bermula dari satu unsur penting bernama kepercayaan. Komunikasi Prima yang terbatas, menggunakan isyarat serta Mantisa yang memang sudah tak wajar membuat kita sekalipun membaca dua tiga kali beberapa kalimat, tak nyaman. Siapa yang tahu seberapa jujur mereka semua tentang pengalaman dunia mimpi masing-masing? Tidak perlu kekhawatiran karena ketidaktahuan, karena manusia menjadi makhluk matematika yang serba bisa, tahu segalanya. Tidak perlu ada keraguan karena ketidakpastian. Tidak perlu adanya akurasi, tidak perlu ada probabilitas. Tidak perlu ada harapan berlebih, tidak perlu juga adanya pengorbanan yang tidak perlu. Kamu tahu bahwa kenyataan pahit selalu tidak enak disimak karena ia terlalu dekat dengan hatimu. Kalau kenyataan nikmat belum tentu tidak enak, karena hatimu di mana, otakmu di mana. Untuk bersatu padu pun perlu waktu.

Dengan tulisan di kover #1 UNNES International Writing Contest 2017, dengan pede dan meyakinkan rasanya sangat komersil. Lemparkan seribu kerikil, pasti ada satu yang kena. Babnya pendek-pendek, diambil sudut pandang berdua. Saat Mantisa kita disodorkan judul I, Ching berjumlah 64. Heksagram yang sejatinya unik tapi yah, ga mejurus lurus dengan isi bab. Saat sudut berganti ke Prima, kita disodorkan judul teorema-teorema Matematika yang sudah kita kenal, variatif dan diserati penjelasan dasar. Juga beberapa teori lain.

Sebulan ini mengejar baca Kusala, karena kandidat Gramedia Grup paling banyak, saya menyelesaikan baca dengan editing mumpuni di mana tim yang sama ada di belakang layar. Sebelumnya, beberapa kali saya juga kasih jempol buat Bentang yang terbitan barunya konsen di bagian ini, sekarang saya harus akui jua editing Gramedia jauh lebih nyaman. KGP masih ditemukan beberapa typo tapi untuk GPU sudah benar-benar rapi terstruktur. Triple check sangat dianjurkan, proof reader sangat dibutuhkan. Salut buat editor Sasa yang menjamin kualitas teknis, jaminan mutu.

Endingnya dibuat sedih tapi bukankah sedari mula juga sedih? Sekilas kalian tahu akan abadi. Tak terceraikan. Dengan ataupun tanpa nada. Harapan-harapan dicipta. Keturunan diciptakan oleh langit, dititipkan oleh semesta, ke dalam rahim-rahim pilihan. Lalu dihempaskan, “Masalahnya, matematika tidak butuh perasaan, matematika butuh pembuktian.” Semuanya ia dengarkan. Cuma sedikit yang bisa ia cerna, yang lebih ia pahami lebih sedikit lagi. Bawa aku ke taman. Kita lihat-lihat pemandangan, menghirup udara segar, selagi masih ada waktu.

Terakhir, akankah bisa menang sebagai karya pertama atau kedua? Bisa jadi, tapi saya lebih sreg ke Manifesto Flora. See

Karena semakin banyak yang dibaca semakin banyak yang diketahui maka semakin beratlah ilmu seseorang, semakin beratlah pula kepalanya. Dua puluh tiga? Begitukah?

Buku Panduan Matematika Terapan | Oleh Triskaidekaman | GM 618202019 | Editor Sasa | Desain sampul Fauzi Fahmi | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8202-6 | Skor: 3.5/5
2 + 9 + ( 2 x 9 ) = 29

Karawang, 06-081018 – Sherina Munaf – Ada

Pekan Kedelapan: Lazio Vs Fiorentina

LBP 3-0
Saatnya kembali ke track lurus. Kembali ke jalur kemenangan. Correa duet Immobile please.

Emas
Lazio 2-2 Fio
Ciro
Ing ngarso sung tulodo.Ing madyo mangun karso.Tut wuri handayani.

Siska
Lazio 2-1 Fiorentina
Immobile
Kalah di derby ibukota. Kalah di liga sparring. Masa nanti mau kalah lagi?

YR
Lazio 1-2 Fiorentina
Lazio belum bisa melupakan kekalahan pahit dari Roma dan SGE. Meskipun pemain berusaha keras. Hasil akhir menentukan lain

DC
Lazio 2-0 Fiorentina
Immobile
Bermain di Roma. Dua tim dari kota yang sangat mashyur dalam cerita cerita masa lalu. Dan dalam cerita kali ini akan menghasilkan kegembiraan dari klub ibukota.

AP
Lazio v Fiorentina 1-0
Immobile
Lazio baru saja memperpanjang kontrak Immobile & SMS. Fiorentina menempati posisi teratas daftar klub termuda di antara 5 liga top eropa (23,79 tahun). Fiorentina tentu ingin bertahan di 3 besar.

Takdir
Lazio 4-1 Fiorentina, Immobile
Sejauh ini Lazio menang lawan tim tim yang kelasnya di bawah dan kalah dengan tim papan atas. Fiorentina jelas kalah saing jadi rasanya The Great akan kembali meraup tiga angka. Saatnya menduetkan Correa dan Immobile di awal pertandingan.

Messya Iskandar Prayitno
Lazio 1-3 Fiorentina; Veretout
Ini adalah skor revisi. Skor revisi biasanya bener. Inzaghi lebih pantas out, bukan Mourinho. #SaveMou

Ratiho Firminyo
Lazio 1-2 Fiorentina, Simeone
Fiorentima banjir bintang muda. Simeone junior bakal bikin kejutan. Chiesa junior bakal bungkam SMS dan Immobile yang baru perpanjang kontrak.

Lapak Ngopi Karawang, 071018

Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup

Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup

Kalau kalian tidak bisa membunuhku hari ini, kalian tidak akan pernah bisa membunuhku selamanya.”

Buku tebal menuntut konsistensi, fokus dan kesabaran tinggi guna menyelesaikan baca. Beberapa bagian tampak familiar polanya. Seorang pendendam yang menyusup dalam kekuasaan guna menuntaskan kesumat kepada sang raja? Langsung teringat Sungu Lembu yang bersekutu Raden Mandasia demi membuka kesempatan menikam raja. Perjalanan ke Barat untuk mendapat jawab, langsung teringat Balthasar’s Odyssey, kalau Kura Berjanggut punya Liga Suci maka Balthasar punya pertanyaan nama Tuhan Keseratus, kontroversi tapi tak sampai mengguncang. Isu dan hembusan seram Kiamat 9-9-99 bukanlah yang pertama kawan. Dari perompakan satu ke perompakan yang lain. Peterpan, Pulau Harta Karun tentu saja harus disebut. Perebutan takhta, pembunuhan saudara demi kursi panas raja, A Game of Throne tentu saja jagonya. Yang hebat, ini adalah buku lokal yang terbentang runut sekaligus merumit, sungguh beruntung kita hidup di era digital kita diberi kemudahan akses karya, di mana kita dihadiahi karya-karya berkualitas gini yang bisa dinikmati dalam tempo singkat, walaupun banyak juga karya biasa yang terbit – itulah gunanya penghargaan sekelas Kusala Sastra Khatulistiwa – kita sudah disarikan. Kura Berjanggut adalah The chornicles of Lamuri. Riwayat Bandar Lamuri abad ke 16 dan gejolak setelahnya. Tuhan menciptakan Usmani untuk raki. Lamuri untuk lada, Kashmir untuk apiun. Dan Malta untuk buah dada wanita.

Kisahnya dibagi dalam tiga bagian utama. Pertama tentang si Ujud yang meletup dendam di abad ke 17, bagaimana ia memiliki hasrat tinggi menyusup dalam lingkaran raja demi harga diri. “Sultan membunuh seorang sangkilat namanya si Ujud. Orang itu dibunuh dalam istana, saat pesta sedang berlangsung.” Dia menuliskan cerita, menuturkannya untuk kita sebuah riwayat Lamuri dan segala pergolakannya. Panjang, detail dan sungguh mendebarkan. Dari politik perdagangan rempah sampai perebutan kekuasaan. Tak ada yang lebih menyedihkan daripada mencari sepenggal riwayat yang sia-sia. Bagian kedua kita diajak bertemu seorang pewarta awal tahun 1900an era penjajah terkait Buku Harian Tobias Fuller, Lamuri dalam cengkeraman kolonial. Aku punya kekurangan, aku tidak bisa mencatat dalam rapat yang hiruk pikuk dan penuh dalam perdebatan seperti ini. Aku merekam dalam telingaku lalu di rumah di dalam malam yang sunyi aku menulisnya. Kadang-kadang tidak terangkum dengan baik, kadang aku melirik seorang notulis. Ada garis lurus sebab pembunuhan demi pembunuhan orang kulit putih. Fenomena pembunuhan yang dipengaruhi sebuah karya tulis. Bukan pedang yang menebasmu, tapi takdir. Itu terjadi dan aku menghadapinya tanpa ada firasat apapun. Bagian terakhir adalah Lubang Cacing, bagaimana penghubung dua zaman itu ada, kecil namun sangat berpengaruh. Ada shocking, ada hal-hal yang dicerita kadang tak seperti yang didengar. Efeknya bahkan bisa di era millenium! “Aku tidak percaya pada apa yang aku tidak lihat, Neeb.” Saya tidak berkulit putih tuan, jadi saya tidak perlu takut dibunuh, kata Bapa Stroomer yang dibunuh adalah orang-orang yang tudak pernah berdoa, mereka yang pergi ke gelanggang adu ayam Lamuri, mereka yang pergi ke kedai Sukamoto.

Sayangnya, walau berkali-kali dibantah ini bukan buku sejarah nyatanya Bung Azhari memaparkan fakta-fakta sejarah, menjelaskan efek dan era pasca perang Aceh, memaparkan bagaimana sebuah keputusan raja-raja mempengaruhi era presidensial sekalipun. Riset sampai Belanda menemu link sejarah. Bahkan beberapa disisipi gambar, dan memberi bantahan sebuah tulisan nyata. Lukisan H. M. Neeb, Koeto Reh 14-Jun-04 itu asli-kan? Jadi ini fiksi yang dibalut sejarah? Seharusnya ga perlu menekankan ini fakta lho, biarkan pembaca berspekulasi. Kata Yasunari Kawabata, ‘Seni untuk Seni’. Beliau berpendapat spekulasi dan rangkaian sketsa kehidupan jauh lebih penting ketimbang kesimpulan. Itulah kenapa ending menggantung, jagoan keok dan jentikan Thanos disukai penonton. “Keputusan penting selalu diambil pada saat-saat terakhir”

Sosok setia itu sebenarnya tak ada karena Sultan percaya kesetiaan itu tidak ada. Si Ujud adalah khayalan Sultan yang paling sempurna dan tadi malam dia menumpasnya sendiri. Bagian terbaik sejatinya pas si anak haram Sultan Nuruddin saat dan sebelum memimpin Kerajaan Durud Dunya. Anak haram tidak hanya menumpas orang-orang terdekat sultan, tapi juga membasmi burung-burung dan bunga-bunga perliharaan mereka. Pembersihan yang mengerikan, mengingatkanku peristiwa 65. Harus aku katakan, Sang waktu adalah penghianat paling ulung sekaligus paling sulit ditebak. Kalau para pelawak itu bisa membuat perempuan tertawa, meskinya ia bisa membuat sultan juga tertawa. Ternyata memberi harapan kosong pada diri sendiri juga tidak kalah menyakitkan.

Bagian mengagumkan bagaimana komplotan ini berusaha menumbangkan kekuasaan. Kura-kura Bejanggut seperti dongeng, ceritanya terdengar, tapi tukang ceritanya berada di suatu tempat yang tidak terjangkau. Meraka bersekutu untuk kembali bertakhta dengan menerbitkan buku panduan pembunuhan. Buku resep kura-kura berjanggur merupakan sebuah panduan singkat untuk membunuh Anak Haram, dengan tebal seratus dua puluh halaman, disusun oleh Putri Tajul Dunya.

Dia memang tidak pernah percaya bahwa timah dapat diubah menjadi emas tetapi dia berpegang teguh pada dalil yang menyatakan bahwa jiwa dan keyakinan bukan mustahil disucihamakan. Sejarah mencatatkan banyak pertumpahan darah, penghianat ada di mana-mana. Mereka tidak boleh menghianatiku, tidak ada tempat bagi penghianat di hatiku. Melalui bintang-bintang di langit itulah penguasa negeri berusaha mengenali musuh-musuhnya, mengukur kesetiaan bawahannya serta berunding dengan nasib dan takdirnya. Aku sekarang berada di tempat ini dan apa yang aku dengar lebih menakutkan ketimbang cerita-cerita hantu dan tukang sihir.

Berbagai cara dilakukan untuk kepentingan pribadi. Untuk menyamarkan tujuan, lelucon memang merupakan jubah paling sempurna. Muncul banyak hal mengecewakan, benar kata orang arif, berlaku keras pada diri sendiri adalah senjata terakhir orang-orang yang kalah. Dan agen rahasia ditebar, agen ganda, agen yang menyusup dalam agen lain. Bertukar kulit tidak mudah. Agar kau sebagai bagian dari mereka, hidup seperti mereka, makan seperti mereka makan, buang air seperti mereka buang air, berjimak seperti mereka berjimak.

Biaya perdamaian memang sangat mahal, apalagi uangnya tidak bersumber dari kongsi dagang. Dari zaman batu sampai zaman beton, perang selalu dijadikan alat untuk perdamaian. Dalih kenyamaan berwarganegara. Pembajakan hanyalah dalih, mengujicoba senjata baru tampaknya lebih masuk akal. Semua raja di dunia mencintai penghianatan, tapi tidak penghianatnya. Jadi saya tidak heran mengapa kaki Baginda telanjang. Begitu juga Lamuri, perang dan penghiatanan bersisian. Karena untuk bisa mencekik siapapun butuh tangan yang lebih besar dan kuat.

Awal mulanya terkesan akal-akalan, wanita yang turun dari kapal dalam posisi bunting dinikahi sang kandidat penerus takhta. Dan saat gejolak kursi panas, takdir menunjukmu. Mulai saat itu mereka saling menjaga. Ramla menjaga Kamaria. Kamaria menjaga Ramla. Dan karena bintang mereka berdua sama maka mereka berdua harus menjaga sultan Maliksyah, dan anaknya Nurruddinsyah. Nah, rasanya Ramla ini hebat sekali, punya sihir dan panduan bintang-bintang. Jelas kehebatan Sultan Nurruddin adalah turunan sifatnya. Bukan dari sang ayah? Memang siapa ayahnya? “Maut sangat gelap bagi manusia tapi melalui peta langit kau bisa melihatnya, kalau tidak semua sedikit saja sudah sangat membantu.” Melawan musuh dengan segala akibat jauh lebih terhormat ketimbang dibunuh perlahan-lahan oleh kesedihan yang jahanam.

Biji-bijian kami adalah santapan tuhan. Kami belum pernah melihat manusia memakan merica.” Indonesia dengan limpahan cahaya tropis menghasil rempah berkualitas, pergolakan itu bahkan menyeret banyak pihak. Merica lebih mahal dari emas. Luar biasa.

Bahkan setelah kematian Ramla telah lama berlalu, sangat tipis perbedaan antara tangan yang mengolesi racun di jarum rajutan dan kekuatan yang lebih besar yang mengatur pembunuhan tersebut. Maka demi kepentingan golongan, demi memperlancar urusan perut, nyawa taruhannya. Benar-benar era menghalalkan segara cara yang sesungguhnya. Benar bahwa sekecil apapun upaya membahas kematian orang yang kita sayangi akan menyebabkan kita lemah.

Sjarif mungkin sekarang sudah empat puluh tahun, seangkatan aku beberapa tahun lagi memasuki yang sama, yang mana semua impian dan tujuan dalam hidup akan mencapai babak akhir. Akan keluar sebagai pemenang atau pecundang. Kisah mula si Ujud ke barat untuk menuntut ilmu malah terbaca sangat menyenangkan. Apalagi ada kejutan identitas orang tuanya. Trenyuh. “Kami miskin seperti sufi.”

Di mata para bandit pedagang sama, yaitu mereka yang mengenakan sepatu melengkung, surban dan tunik, menghiasai kelopak mata mereka dengan celak yang melambangkan riba atau ketamakan. Banyak hal bisa dibahas, terlalu banyak malah karena memang menyeret isu budaya, agama, sosial. Niat baik tidak selalu mendapatkan tanggapan. Mungkin kalau sultannya lebih dahulu masuk agama Serani, burung itu dengan sendirinya juga akan ikut. Juga yang lain.

Apa yang tidak masuk akal di penjara, bajingan? Kau harus masuk untuk mengalami keajaibannya.” Hal-hal yang ajaib dalam kurung penjara diceritakan detail, belajar dari raja bandit-pun tak masalah selama ilmu itu akan berguna di masa depan. Termasuk main catur dengan alat seadanya dan butuh waktu berharian hanya untuk menyelesaikan sebuah game? Abrolho menyerah sembilan langkah kemudian, pada langkah ke delapan puluh satu. Ilusi dewa.

Dengan meniru bayangan seorang raja selamanya aku hanya akan menjadi seorang raja. Tapi, dengan meniru bayangan guruku, Marabunta, aku bisa meniru bayangan seratus orang raja sekaligus seratus wajah berbeda para perempuan Yazidi. Riwayat anak haram bisa menjadi perkasa dituturkan dengan logika pas. Tak ada ilmu yang turun dari langit tanpa proses tempaan waktu. Sejak kecil ia sudah mengunyah ribuan buku sehingga kalau ia meludah iar liurnya mengandung dawat.

Tidak perlu berkecil hati Yang Mulia, semua penguasa kuat pada kenyataannya lemah dalam ilmu hitung, termasuk Tuhan sendiri. Umat manusia belum menciptakan nama untuk hubungan kami berdua. Dia memanggilku ‘tuhan’. Tapi Tuhan ini tidak bisa menyembuhkannya. Hikayat, legenda, sejarah, ilham yang mengelana dalam proses pencarian. “Orang sakit menumpang hidup dalam tubuh kita, hingga saatnya mereka membawa mati mimpi-mimpi kita.”

Ada hal-hal tabu bagi fanatisme religi karena seolah muncul nabi baru. Apalah arti seorang ulama atau munsyi yang mempunyai ribuan pengikut dibandingkan satu tuhan berkudis yang mempunyai hamba seorang perempuan cantik jelita. Terjadi banyak persamaan di dunia ini dalam sebuah rangkaian sebab-akibat yang kita pikir saling berhubungan tetapi sebenarnya hanya kebetulan, percayalah. “Semua kita pada akhirnya sendiri.”

Setan tidak membahas rahasia setan yang lain. Tidak juga setan perempuan.” Beberapa hal-hal jorok juga dituturkan. Bisa kena label 18+ ini buku, saling silang hubungan sebadan terjadi, ada yang dijelaskan bak raja di raja malah, dihadapkan puluhan perawan. Makanya butuh pikiran terbuka, hati lapang untuk menikmati karya-karya tak biasa. Masa depan menyusut seperti pelir seorang jenderal, karena darah tidak mampu membangkitkan kejantanannya, masa lalu akan bergema ibarat lonceng dan akan menyiksa kemaluan jenderal keparat.

Termasuk makian berlapis dari kelas jelata sampai tingkatan sosial atas. Dia terkekeh. Bertahun-tahun mengenalnya, jenis tawa seperti itu berarti dua hal: sedang senang atau mengejek sesuatu.

Mesin mengeluarkan cahaya, seperti saluran pernapasan mengeluarkan bakteri. Ketakutan akan kematian membawa beberapa konsekuen. “Aku mau pekerjaan yang tidak banyak berhubungan dengan manusia. Mungkin penjaga menara kabut.” Aku paham bahwa dia mempunyai sangkilat lain, mungkin lebih dari satu, dan aku hanyalah salah satunya.

Banyak hal masih sangat relevan dengan era sekarang. “… dunia tidak berubah anakku, tidak akan berubah sejak awal mula, tidak juga sejak aku dan Kamari terdampar di bandar terkutuk ini...” Keputusasaan ini membuat seorang berusaha mencari penyebab dan yang paling mudah adalah pemerintah, sesuatu yang baru dan asing bagi mereka. Menyalahkan Pemerintah padahal bukan salah mereka? Lihatlah sosmed, perang komentar gilax. Saat itu aku pikir dia sedang mengidap sejenis waha, takut oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Kami di Asahan menyebutnya mirat.

Perempuan bercadar biasanya muncul di saat-saat genting, misalkan setelah banjir besar, wabah penyakit sedang membunuh penduduk sebuah negeri, atau menjelang pergantian abad ketika ramalan tentang tibanya hari kiamat marak dibicarakan. Api mungkin penyelesaian yang baik, tapi membayangkan sifat-sifat Tuhan yang terbakar membuat kepalanya jadi dingin.

Saya sudah feeling buku ini akan masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa sejak tahu teaser potongan-potongan cerita disebar di sosmed, maka saat muncul pre-order bukunya saya langsung mengantisipasi. Termasuk prediksi dini bakalan menang. Kubeli daring di toko buku langganan bulan Mei, Terima kasih Paperbook Plane. Sempat mengendap sebulan karena masuk antrian baca. Butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikan 980 halaman, dari tanggal 7-Jul-18 jam 23:00 saat World Cup Russia menemukan Inggris menang 2-0 versus Swedia sampai hari Minggu, 22-Jul-18 jam 10:55 saat ngopi dan santai di kamar. Mengendap lagi ga segera ketik ulas. Yang rada saya sesalkan adalah, kenapa ga bergegas membuat sisihkan waktu buat Kura Berjanggut? Kebiasaan tunda, dan susunan prioritas baca-ulas membuatnya tenggelam. Saya bacanya juga hati-hati, ga pernah bawa keluar rumah takut lecek. Ga seperti buku buku lain yang biasa saya masukkan ke tas, bisa dibaca di kantor atau di kursi malas depan minimarket atau sembarangan tempat yang nyaman, Kura Berjanggut sesampainya di Karawang ga pernah sekalipun gentayangan. Melindungi ketebalan seperti melindungi al kitab. Dan saat 10 besar diumumkan, barulah teringat lagi bahwa saya bahkan belum buat draft review-nya. Segala uneg-uneg awal yang pengen dilontarkan sesaat setelah baca sebagian ga terselamatkan langsung, jadi yah, agak terlambat – sangat terlambat ding. Saat saya ketik kalimat-kalimat ini, saya sudah baca semua pesaing lain.

Untuk menikmati seluk beluk itu, kita diajak berkelana dari satu pulau ke pulau lain, satu perang antar kapal ke perang antar pasukan. Mereka percaya memang ada sedikit orang di dunia ini yang lahir-untuk-tidak-dapat-dibunuh dan Sjarif adalah salah satunya. Bagaimana dengan sang Sultan?

Pagi ini kau kuangkat sebagai sangkilatku, aku harap kau bersedia.”

Terasa agak aneh ketika kau mendengar orang lain bercerita tentang dirimu. Finally, done! 10 dari 10 review kelar juga. Buku kedua yang kubaca malah menjadi ulasan terakhir. Save the best for the last, ah kebetulan saja. Rasanya Kura-kura Berjanggut sangat besar untuk menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 kategori prosa, hanya Muslihat Musang Emas lawan beratnya. Salah satu keistimewaan diproses tulis sedekade. Wow. See ya, 10 Oktober nanti. Aku mungkin dulu pernah punya mimpi atau cita-cita tapi sekarang sudah tidak. Namun, aku bukan orang yang mau terikat oleh impian orang lain. “Tidak akan ada waktu yang tepat.”

Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup | copyright 2018 | Cetakan pertama, April 2018 | Penerbit Banana | Penyunting Yusi Avianto Pareanom | Perancang sampul Teguh Sabit | Penggambar ilustrasi Belinda Sugianto | Penata Letak Risdianto | 14 cm x 20,5 cm, 960 halaman | ISBN 978-979-1079-64-8 | Skor: 5/5

Untuk Aulina

Karawang, 2509-061018 – Sheila On 7 – Tunjuk Satu Bintang

Ketemu beberapa typo (kata – halaman): rumah ng – 59, yaputih – 59, bahwa bahwa – 95, muncikari – 105, AbrolhoyangtidakmendugabagindaBagindamenerimatantangannya (kalimat pertama tanpa spasi) – 227, kebiasaan it – 312, boyak – 322, perjudian nya – 353, tajam,seperti – 377, gajah buta (tab paragraf baru) Ramla – 378, Kamaria terpana.” – 389, sibuk dalam dalam serangkaian – 722, akan melalukannya – 791.

Good luck Kura!

Sang Raja – Iksaka Banu

Sang Raja – Iksaka Banu

De Kretekkoning, Sang Raja Kretek.

Aku punya firasat buruk, sangat buruk. Dan biasanya kalau pikiranku sudah dirasuki firasat semacam ini, maka semua yang kupikirkan akan sungguh terjadi.”

10/10. Done. Sepuluh dari sepuluh kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 kategori prosa rampung juga kubaca. Ini adalah review kesembilan, Kura-Kura Berjanggut yang istimewa menjadi ulasan penutup, nantinya. Sang Raja saya baca dalam tiga hari sejak datang hari Kamis, 27 September 2018 langsung kubaca malamnya. Kelar Sabtu kemarin. Kubaca dalam empat tempat yang bervariasi. Sebelum dan sesudah kerja di kantor, di rumah Greenvil bangun dan akan tidur, saat cuci stream kendaraan serta kutuntaskan di kursi kopi santai depan Alfamart selepasnya. Setelah merampungkan 900 halaman Kura dalam dua minggu, rasanya melahap buku-buku lain terasa lebih gampang, entah karena sayanya yang memang kejar sebelum pengumuman – 5 besar sudah muncul saat Sang Raja memasuki 200 halaman – atau memang ada rasa percaya diri berlebih atau karena antri baca yang melimpah. Atau malah karena ketiganya?

Sejatinya Sang Raja berpotensi memiliki daya ledak tinggi, siapa yang mengetahui sejarah pendirian pabrik rokok? Ga banyak. Siapa yang mau menelusur hikayat dibaliknya sampai detail? Sedikit sekali. Historical ga diajarkan di sekolah, tokoh di baliknya sangat jarang didengar, dibahas dan didiskusikan. Bung Iksaka bisa saja menjelaskan panjang lebar sejarah rokok ke publik dengan letupan-letupan kecil yang mengejutkan Pembaca, potensinya gede karena kita minim kisah rokok. Prinsipnya, semakin banyak hal seru disodorkan semakin tinggi rate dan kepuasan. Sayangnya tensi datar malah dijaga agar runut garis waktu. Sayangnya lagi buku ini mengambil sudut karakter yang agak jauh dari Sang Raja. Bukan dari keluarga, bukan orang-orang terdekat, bukan pula orang manajemen lingkaran dalam. Novel ini mengambil sudut pandang dua karyawannya. Wiro pribumi dan Filip seorang Belanda. Dengan kisah merentang jauh dari tahun 1900an sampai tahun 1950an seharusnya kita bisa mendapatkan drama kualitas karena Indonesia berguncang di masa genting. “Bukan inlander, tapi Indonesier Tuan. Kita harus belajar menyebut mereka Indonesier.” Indonesia tercinta mengalami banyak goncangan.

Sebelum dimulai kita disuguhi kutipan Bung Karno dalam pidatonya di Sidang BUPKI, 1 Juni 1945. “Kita mendirikan negara Indonesia yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoessoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, semua buat semua.” Lama memandang ke arah kaca matanya. Pada saat itulah ia seperti melihat tiga buah bulatan yang terbentuk dari sepasang bingkai yang menjepit kaca, dan satu lengkungan yang menyambung kedua belah bingkai itu. maka… voila, lahir sebuah legenda. Hell yeah, nama Nitisemito disebut! Kutipan pemberi asa, berarti pra-kemerdekaan beliau kasih andil untuk Pergerakan, berarti pula Sang Raja punya intrik politik. Harapan…

Cerita dibuka dengan pemakaman sang raja kretek NV Nitisemito di Pemakaman Sedio Loehor, Bakalan Krapyak pada tanggal 7 Maret 1953. Acara duka yang melimpah, pemakaman yang luar biasa ramai, bak tokoh sejarah pergerakan perang kemerdekaan yang dikebumikan. Kita diperkenallkan dengan wartawan Bardiman Sapari, yang berencana menulis kisah hidup almarhum. Mengamati suasana duka, mencari orang yang tepat akan diminta keterangan.

Setelah berapa lama, akhirnya dia menemui Wirosoeseno dan Filipus Techterhand. Dua sahabat yang awalnya enggan diwawancarai, karena merasa hanya tahu kulit kehidupan sang legenda. Tapi dengan bujuk rayu serta memenuhi kemauan para narasumber untuk tak mencantumkan mereka dalam tulisan maka kita lalu diajak melalangbuana balik ke awal 1910an bagaimana kedua orang ini menjadi bagian dari sejarah rokok Indonesia.
Wiro terlahir dari keluarga berada, bisa sekolah di awal abad 19 di era kolonial, jelas anugerah tak terkira. “Tahu tidak kamu dari dulu Rama tidak memintamu tidak bekerja di sawah, sementara anak lain pada usia 6 tahun sudah ikut bapaknya bertani? Sama seperti simbahmu dulu. Simbah juga tidak pernah mengirim Rama dan almarhum kakak Rama ke sawah untuk mencangkul dan membajak.” Si Bungkring lahir dan besar di Sleman, Yogyakarta. Kehidupan saat itu memang sederhana, mamanggil ayah sebutan Rama, mengajar anak merokok setelah lulus sekolah, mengajak menata hidup. “Ini pemberian Pak Lurah tadi. Sekarang kau sudah besar, boleh ngeses. Semua priyayi wajib ngeses.” Zaman itu dimeriahkan acara hari lahir Ratu Belanda 31 Agustus. Tanggal istimewa yang kini terlupa.

Banyak kata di dunia ini yang bermula dari bunyi. Tinggal bagaimana lidah setempat mengucapkannya.” Kretek itu bermula dari bunyi rokok yang terbakar bunyinya kemeretek.

Filip adalah anak pejabat Belanda yang membaur dengan bumiputra. “Aku tidak melarangmu bergaul dengan dengan mereka, para bumiputra. Tapi engkau harus pandai menempatkan diri. Jangan main-main dengan masa depan Nak.” Jatuh hati sama pegawai hotel Walini hingga menikah. Banyak suara miring, seorang Belanda menikahi warga asli, ga dijadikan gundik saja, tapi benar-benar menikahi sah secara agama dan negara. Aku mengenang peristiwa ini sebagai sebuah episode yang sangat melelahkan, mengecewakan sekaligus menantang dalam kehidupanku sebagai seorang Belanda yang tinggal di Hindia. “Maukah kau menemaniku dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, sampai maut memisahkan kita.”

Sudah kusiapkan dua nama indah untuknya, nama laki-laki dan perempuan. Kita lihat, mana yang akan dipilih oleh si mungil ini kelak.” Kucium perut Walini. Mereka menikah memiliki putra bernama Hans yang rupawan blesteran lokal-asing euy.

Kedua sahabat merajut kisah, menuju al-Quds – Kudus. “Sedikit kalium nitrat mungkin bisa membantu.” Adalah kalimat pertama Filip kepada Wiro saat ada lomba kreasi antar departemen. Melewati Perang Raya (Perang Dunia Pertama) yang jauh dari hingar bingar Hindia Belanda sehingga mereka netral. Tapi efeknya merentang juga karena ada wabah Flu Spanyol yang merenggut kedua orang tua Filip. Filip yang yatim piatu melanjutkan bisnis hotel keluarga di Batavia, tapi keadaan membuatnya harus banting tulang sampai akhirnya menerima tawaran bekerja pada pribumi sebagai asisten Tuan Poolman di keuangan Pabrik Tiga Bal. Pada bagian atas gerbang tertera nama pabrik, tersusun dari rangkaian besi las berwarna hitam: Sigeretten Fabriek ‘M. Nitisemito’, Koedoes.

Wiro bergabung melalui seleksi yang ketat, menyingkirkan banyak pesaing. Uniknya di era itu, tes keluar kota sampai kos dua bulan menunggu hasil. Memakai batik, jas, blangkon sampai pakaian klasik – singkirkan pakaian kebesaran tes hitam putih kalian. Sesuai surat undangan. Blangkon, jas putih, baju dalam putih, kain, dan nomor tanda pengenal di dada kiri. “Selamat pagi karyawan baru, NV Nitisemito!” Wiro yang jatuh hati sama gadis marketing Lasinah, akhirnya menikah. ‘Pabrik dibuka pukul 06:30. Tepat pukul 07:00 semua buruh yang ada di tempat ini harus sudah mulai bekerja.’ Semangat on time harusnya ditanamkan sejak dulu. “Saudara anak mantri gunung, Pak Nitisemito dan saya juga anak lurah dusun. Kita sama-sama mencari pekerjaan di luar Gupermen.” Ada kesamaan antara aku dan Nitisemito. Semangatku terpompa. Aku harus bekerja di tempat ini. Harus! Astaga, belum pernah aku menginginkan sesuatu seperti ini.

Nasilah, Sawirah, Rebi Tijem, Ngalimah, Mariah adalah istri Nitisemito. Kehidupannya yang glamour tak banyak yang terendus media. Nitisemito adalah anak seorang lurah, nama kecilnya Roesdi bin Soelaiman. Mungkin buta huruf ketika belum sukses. Kurasa demikianlah legenda bekerja, semakin kontras keadaan titik awal dan titik sukses, semakin terdengar hebat. Bahkan di buku yang katanya biografinya ini kita hanya tahu kulitnya. Menantunya M. Karmain yang punya banyak jasa sejarah pabrik malah lebih banyak diceritakan – karena memang perannya dalam menjalankanpabrik begitu dominan. Drama keluarga dengan Akoem Markoem juga lebih mengena. Semua angan itu rupanya telah terjalin rupa menjadi sejenis doa atau mantra yang semakin hari semakin ampuh karena kurapal dengan khidmat setiap detik, setiap ada kesempatan, sehingga pada waktu yang tepat menuai hasil sepadan.

Legenda Bal Tiga dikisahkan bak buku sejarah. Niti, mula-mula menjadi buruh jahit, lalu perlahan berkembang hingga memiliki rumah jahit sendiri, mempekerjakan karyawan. Lalu mencoba menjual minyak kelapa, kemudian Roesdi menjual kerbau. Akhirnya beralih menjadi juragan dokar, mengepalai 3 atau 4 sais dokar, ia sendiri kerap turun ke jalan menjadi sais. Kita terlahir sebagai pemimpin. Para sais dokar istirahat di warung, pemiliknya Nasilah, mereka menikah. Roesdi menjadi Mas Nitisemito.

Sepanjang Perang Raya sampai jelang Pamer kekuatan Jepang dan Jerman, kita terlalu menerima data mentah tanpa sentuhan emosional. Kurang drama berkelas, terlalu lempeng. Bayangkan 200 halaman yang biasa sekali. Baru saat Perang Dunia Kedua ditabuh, kisah hidup menjadi pelik. “Maka segeralah, segeralah tampak bahwa yang tertegun di tengah seperti kerbau dungu adalah kita, Bodoh betul, kita tak bisa mempertahankan netralitas. Pintu neraka bukan hanya dibuka, melainkan telah jebol selebar-lebarnya. Pemerintah Hindia Belanda.” Banyak hal penting terjadi semasa peralihan. Jepang menyerang Cina, merobohkan Singapura, menduduki Malaka dan pada akhirnya mengusir Belanda dari tanah Hindia. Bagian ini diceritakan dengan sangat bagus, ikut terhanyut dalam suasana menegangkan, era Jepang sebagai saudara Asia lebih sadis. Keras. Tak ada ampun. Novel benar-benar hidup di ¼ akhir buku, zaman bergolak sebelum dan sesudah Proklamasi. Bagaimana kelanjutan nasib negeri ini? Sudah tamatkah riwayat Nederlansche Indie alias Hindia Belanda? Apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh orang-orang Jepang ini? Apakah kita benar-benar menjadi orang merdeka? Merdeka itu seperti apa? Siapa pemimpin kita? Banyak desas-desus banyak hal terjadi menuju kemandirian. yang pesimis jua ada. “Jangan bicara begitu, kata orang Jawa tidak baik mendahului takdir.”

Bagaimana mereka merespon perang juga terlihat meyakinkan sekali. Hindia Belanda berperang dengan Jepang. Kita terima tantangan mereka. Cepat atau lambat Hindia akan terlibat, kita harus bersiap. “Meskinya kau paham, ini siklus alam belaka, upaya mencari keseimbangan kekuatan. Seperti air yang mengalir deras ke tempat curam, lalu berhenti ketika mencapai ketinggian permukaan yang setara.” Tarik ulur kebijakan, sampai akhirnya Belanda dibombardir Jerman serta Jepang merangsek maju ke Jawa. Sudah pernah dengan Ramalan Prabu Jayabaya, Raja Kediri? “… tumekaning wong kate cebol kepalang lan nuswantara bakalan kajajah saumuran wenih jagung.” Akan datang orang cebol, Nusantara akan terjajah seumur jagung.

Yang pertama mendirikan pabrik rokok satu atap semacam ini adalah Nitiseminto. Di luar sana, ada Atmowidjojo sejak 1910 membuat Goenoeng dan Kelapa. Lalu anak Atmowidjojo, Ashadi punya Delima. Sirin yang menjual rokok Garbis Manggis. Nasilah pemilik rokok Goenting Soereoe. Nadirun dengan Goenoeng Kedoe, serta Soekenah dengan Roemah Meritja. Belum lagi pengusaha Cina seperti Tjoa Khang Hay pemilik NV Moeria dengan merk Trio. Di kemudian hari kelak aku mengenang saat itu sebagai kebanggaan. Bangga bahwa sekali dalam seumur hidup di masa kolonial aku pernah bekerja di pabrik milik seorang pribumi yang dihormati banyak orang, termasuk Belanda. Puncak kejayaan Bal Tiga terjadi tahun 1938 di mana mereka bisa memproduksi sepuluh juta rokok per hari dengan jumlah karyawan menyentuh angka 10,000 pekerja.
Peristiwa sehari-hari mengalir saja walau geraknya sangat perlahan. Hampir tanpa gejolak. Jutawan yang mempekerjakan ribuan karyawan, ternyata masih harus duduk di lantai. Beruluk sembah kepada para hakim Belanda. Adalah bagian saat Niti diminta menjadi saksi dengan Filip sebagai penerjemah. Sedih juga sih.

Ada bagian saat Wiro kencan dengan Las dan temannya ikut. Tiket yang tergolong mahal. “Kalau kubelikan buku bisa dapat 5 buah buku tebal yang masih bisa kubaca hingga kau berusia 100 tahun.” | “Buku tidak bisa menyanyi dan menari.” Kencan itulah menjadi pematik untuk merajut kasih. Tapi percayalah, aku sudah mengagumimu semenjak kita berjumpa pertama kali di Yogya dulu.

Dengan percetakan fasilitas seperti yang dimiliki De Courant, mulai tahun depan Muhammadyah mampu menerbitkan buletin yang bermutu. Dengan sumbangan sebesar ini, lantas apa timbal balik

Mohammadijah untuk usaha kita? Pabrik juga menjadi identitas. Pabriknya adalah suaka sosial, tempat para petani dan buruh menghindar dari tekanan mental bekerja di pabrik Belanda. “Seharusnya Pemerintah mendukung dan memberi kesempatan pelaku industri daerah seperti kami untuk berkembang sehingga kami sanggup memberi pemasukan besar bagi kas pemerintah. Menyusahkan kami berarti menambah beban masalah pemerintah sendiri.”

Suatu peristiwa sederhana yang terjadi pada suatu titik di masa lalu ternyata sering kali punya kaitan dengan sebuah perkara besar yang berlangsung di masa berikutnya. Ia membuka dan membersihkan kaca matanya berlama-lama. Kegiatan menjengkelkan yang tampaknya selalu dilakukannya tiap mendengar orang lain bicara. Menghisap rokok dalam-dalam lalu mengeluarkan asapnya dengan keras melalui kedua hidung. Sungguh perilaku jauh dari sopan.

Siapa bisa menebak nasib? Siapa bisa mengetahui jalannya sejarah? Tak ada yang tahu, jagat semesta menyimpan misteri sejak awal penciptaan. Tetapi selalu ada tanda-tanda semacam peringatan dini yang samar, agar kita waspada. Selepas dari penjara Banceuy, Soekarno pernah beberapa kali bertemu secara rahasia di Villa Salatiga, milik Nitisemito. Pada pertemuan konon, Pak Niti menitipkan bantuan dana bagi pergerakan. Seperti pada umumnya perusahaan yang dikelola Tionghoa, mereka saling dukung. Dunia usaha sampai kapanpun akan seperti ini, kalaupun ternyata sebuah kesengajaan, tak akan bisa disalahkan. Mereka hanya mempertahankan periuk nasi.

Bayangkan saja, sekumpulan orang Belanda mencintai Nazi. betapa absurb. Paradigma selalu berubah. Engkau tidak bisa melarang orang mencintai ideologi tententu. Apalagi bila zaman di mana engkau hidup tidak lagi berpihak padamu.

Barang-barang buatan Jepang sama bagusnya dengan buatan Eropa, sementara harga jauh lebih murah. Tetapi ini soal bertahan hidup.

Apapun akan kami lakukan. Ada bagian yang kontra pernyataan. Saat Akoem meminta ide-ide kepada karyawan, ada tiga yag mencuat. Membuat radio studio, membuat promo dan membangun lagi pabrik. Kalau direncana jelas, membuat pabrik akan jauh lebih lama dan wajar jadi yang paling akhir. Bung Iksaka dengan aneh menulis: ‘…Yang belum rampung justru pembuatan pabrik.” Kata ‘justru’ kenapa dipakai kesesuatu yang wajar? Bukannya sudah jelas memang pabrik jadi paling belakang?

Kadangkala kami sering bergurau membuat teori sendiri bahwa benteng ekonomi kota ini adalah industri rokok yang menyerap begitu banyak tenaga kerja dan pada saat yang sama menghasilkan produk yang mudah diserap pasar. Zaman sekarang sama sajakan? Minggu lalu Pak Jokowi bilang, BPJS dibantu oleh penjualan rokok secara tak langsung memang mau suka atau tidak suka, produksi rokok masih sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Banyak hal masih relevan dengan sekarang. Jatuhnya bursa saham di New York akhir Oktober 1929, tak lama berselang malaise! Masa Depresi. Bukan hanya di Hindia saja, bacalah koran-koran itu. seluruh dunia mengalaminya. Mereka juga belum menemukan cara untuk pulih. Yang terpenting bagaimana kita terhindar dari malapetaka besar ini. Sekarang lihatlah, kejadian di Amerika banyak mempengaruhi kondisi ekomoni dunia, termasuk naik-turunnya Dolar yang selalu jadi isu panas pihak oposisi. “Ada yang haus kekuasaan di sini. Ada tukang fitnah. Ada kasak kusuk. Ada komplotan besar. Kita sedang dipecah belah. Hati-hatilah memilih teman dan membagi informasi.” Pemerintah juga sama saja. “Sebagai bukti bahwa cukai rokok sudah dibayar, pada setiap kemasan diberi segel pita. Banderol. Disitulah tertera harga akhir setelah ditambah cukai.” Sampai sekarang bea cukai menjadi kekuatan pendapatan.

Ada jatah cuti lima hari aku gunakan pulang ke Batavia. Dari dulu pun pekerja tetaplah pekerja yang butuh cuti dan istirahat untuk me time serta keluarga. Pada tahun 1933 akhirnya diberlakukan peraturan bea cukai dengan besaran angka 40%. “Dan dengan terpaksa harus kuucapkan: selamat datang walai troubadour!”

Nama pastilles itu. Djintan. D-J-I-N-T-A-N di kalangan bumiputra, Djintan itu dipanjangkan menjadi Djendral Japan Ini Nanti Tolong Anak Negeri. Sejarah nama-nama kota juga terdengar asyik. Jakarta. Ah, aneh sekali nama kota itu sekarang. Jakarta! Jakarta! Kurang berwibawa. Itu nama yang sangat tua, kita sudah menggunakannya jauh sebelum Belanda datang ke sini. “Aku ingin tinggal di sini, dan mungkin bahkan mati dan dikubur di sini.

Novel biografi ini awalnya sangat menjanjikan. Banyak kisah ditulis dengan opening macam gini. Penuturan masa lalu yang merentang sampai titik temu ending-nya ya prolog. Sayangnya setelah dua-tiga bab, kisahnya lempeng saja. Monoton dan kaku, wajar sekali tersingkir saat pengumuman lima besar. Kisah baru benar-benar bagus saat gejolak Perang Dunia Kedua ditabuhkan. Yang sayangnya lagi, dinukil sebagian kecil. Apa karena Kudus jauh drai Yogyakarta, atau Bung Iksaka terpaku sejarah rokoknya dengan sejarah Nasional Indonesia sekedar pemanis? Walau demikian, aku masih percaya pada pepatah lama Belanda. Alles heft een reden. Semua peristiwa pasti punya alasan terjadi. Maka aku selalu berusaha tidak menyesali semua yang pernah kulakukan, dan terus melangkah. Memang hebat beliau saat menulis cerpen, tulisan panjang novel butuh kesabaran ekstrak, rajutan kisah demi bab yang melelahkan. Sang Raja memang lumayan bagus, sayangnya tak istimewa. Menjadikan Tiba Sebelum Berangkat melengkapi empat kandidat lain.

Suka tau tidak, Bal Tigalah perintis industri rokok di kota ini. Hampir semua kiat yang dilakukan Pak Niti dan Pak Karmain menjadi panduan pabrik-pabrik baru. Lihatlah iklan dan promosi mereka sekarang ini. Hampir semua pernah dilakukan Bal Tiga. Pendiri boleh tua, pengurus boleh tua, boleh melamban, untuk kemudian dipanggil Gusti, dipanggil Allah, alias mati. Tetapi Perusahaan harus selalu muda. Selalu bergerak maju. Bahkan kalau bisa, lebih cepat dibanding sebelumnya. Jadi penasaran sejarah pengambilalihan PT Djarum Super. Uang berkawan dengan uang, bukan begitu Tuan-tuan.

“Djangan loepa saja poenja nama, M. Nitisemito, gedeponeerd (terdaftar), nomor 4642.”

Sang Raja | Oleh Iksaka Banu | 59 17 01388 | Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) | Cetakan pertama, September 2017 | Penyunting Pax Benedanto | Ide kreatif & Ilustrasi isi + sampul Handoko Hendroyono | Penata letak + Perancang sampul Teguh Tri Erdyan | vii + 383 hlm.; 14 x 21 cm | ISBN 978 – 602-424-331-9 | Skor: 3,5/5
Untuk Heska & Dyota

Karawang, 3009-021018 – Chantal Kreviazuk – Living On A Jet Plane