Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom

Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom

Lelucon mereka yang sering terlontar justru tak lama setelah menyanyikan kidung pujian bisa dibilang tak pantas, tapi itu yang menjadikan mereka lebih jahanam.

#1. Muslihat Musang Emas Dan Elena
Cerpen pertama langsung menghentak tatanan ketika kalimat nyeleneh dilontarkan, “Kita punya peluang mendirikan agama baru, Don.” Sebagai cerpen yang dipilih sebagai judul buku, apa yang disajikan memang harus bikin greget pembaca sedari mula. Dan sukses besar. Benar-benar gilax, nge-twist bikin mual. Mengingatkanku pada lelucon Pramugara yang berseliweran di grup Whats App. Dengan tambahan kata ‘…dan Elena’ dalam judul, kita diajak muter-muter diskusi kemiringan otak manusia, dan betapa cinta memang buta, sableng dan kadang tak berlogika. “Ketimbang bikin agama baru, bikin Komunitas Hati Remuk Karena Sebab –sebar Tak Tertangguhkan saja, Mas.”

#2. Ia Pernah Membayangkan Ayahnya Adalah Hengky Tornando
Cerpen kedua tak kalah absurd. Seorang lelaki baru menyadari punya anak di luar nikah setelah belasan tahun berkelana. Ia anak perempuanmu, kau baru mengetahuinya tiga bulan lalu. Di rumah kopi, kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Kilas balik masa remaja dijelaskan. Bagiamana ketika banjir mencipta dua insan mencinta dadakan dan tak tahu bahwa efeknya jauh lebih panjang dari yang dikira. Akhir yang manis, tak seperti kopi yang dipilih atau teh yang ditawarkan. “Bagaimana aku harus memanggilmu?”

#3. Bagaimana Ben Kembali Memeluk Islam
Untuk ketiga kalinya beruntun cerita dibuka dengan duduk-duduk minum kopi. Wah jadi kepikiran bikin cerita dengan opening macam gini. Ini lebih sadis karena di saat jutaan umat muslim mengaji di malam Nifsu Syakban, mereka malah kongkow bersama bir. Ben terlambat datang buat ngumpul, lalu ia berkisah proses telatnya, bagaimana insiden dompet membuat cerita nyata sebagus fiksi. “Kalau kisahmu kaulabeli kisah nyata, tak akan ada yang percaya. Komentar yang akan diterima kira-kira begini, ah pengarang sukanya mengada-ada. Kalau kau jadikan fiksi, terlalu banyak kebetulan.”

#4. Gelang Sipaku Gelang (1)
Salah sendiri pakai nanya siapa naik duluan.” – Oma Irama. Di tahun 1977 di Semarang, di sebuah konser musik hiburan rakyat, ketika Soneta sedang di puncak popularitas sebuah insiden kecil menuai gelitik adu fisik. Band lokal sebagai band pembuka, menyabotase konser saat seharusnya Bang Haji dkk menampil penutup malah, Usbros menyanyikan lagu legendaris Gelang Sipaku Gelang: ‘… Mari pulang, marilah pulang, Marilah pulang bersama-sama.”

#5. Gelang Sipaku Gelang (2)
Lanjutan, kini kita disodori efek insiden lagu penutup itu. Kali ini orang-orang di belakang panggung berseteru. Efek panjang dari insiden kecil itu ternyata merentang jauh, menyeret perseteruan tawur antar kampung hingga masa 2017 atas nama harga diri. Dan itu dimulai hanya gara-gara lagu penutup yang sudah biasa kita nyanyikan ketika TK? Alamak! “Bandmu anjing!” – Satryo Beni. “Bandmu tahi anjing!” balas Setyo Andi.

#6. Samsara
Sabda Dhani Wibisono yang malang. Kisah panjang, yang dinukil di kalimat pertama di kover belakang. Apa yang akan kau lakukan bila kautahu kau anak hasil hubungan sungsang. Ga menyangka petualangannya bisa sampai merentang Pakistan, atas nama agama dan bermuara di ibu kota, atas nama kebutuhan. Inilah lika liku kehidupan. Hidup mulia atau mati syahid. “Untuk catatan resmi, siapa nama Anda?”

#7. Benalu Tak Pernah Lucu
Kita tak bisa membenci keluarga. Hubungan kakak-adik yang parasitisme. Seolah Paman Yusi mengolok para pria agamis yang memikirkan akhirat tapi lupa dunia juga butuh biaya. Dan uang itu hasil dari melucu, ironis memang. Berto adalah gambaran para pemuda yang mengabdi pada orang tua dan tanpa pamrih berlebih berbagi dengan saudara. “Rasanya lucu ya?”

#8. Penyair Yang Meninggalkan Ibadah Puisi
Tentang penyair kenamaan kita, Joko Pinurbo. Setiap beliau merayakan ibadah puisi keluar kota, ada lelayu di desanya. Hal-hal yang rasanya tak ada rantai penghubung, atau sekedar kebetulan? Jika gerimis bisa mempercepat kelam, bisakah ibadah puisinya mempercepat kematian? “Bukannya kebetulan saja, Pak?

#9. Pengelana Waktu
Cerpen satu lembar. Hari ini untuk kedua kalinya ia mengunjungi esok hari. Hari ini ia berkunjung ke dua puluh tahun silam. Semua yang ia saksikan di luar penalaran. “Nanti kalau sudah mandi air panas, akan sedikit enakan.”

#10. Alfion
Cerpen ala Memento (Christopher Nolan) di mana paragraf pembuka adalah ending. Dimulai dengan kematian Alfion, penjahat buron yang ditembak polisi di kereta yang melaju menuju stasiun Cepu. Kisah lalu meluncur terus ke belakang sampai usia Alfion di masa sekolah. “Tidak usah nangis. Laki-laki kok nangisan. Bagaimana mau hidup? Dunia ini keras.” Saus kelwa apa ya?

#11. Upaya Menulis Sebuah Cerita Detektif
Zen Abacus seorang penulis skenario sinetron kejar tayang, mengajak bertemu sang Aku meminta bantu menuliskan draft cerita ketika ia sedang buntu atau sebut saja kepepet. Sang Aku sedang menulis cerita detektif, eh dicomot juga oleh sahabatnya maka saat susunan kata disodorkan, sejatinya terbaca kesal namanya tak dicantum. Sip! Mantab! Dasar manusia. Seolah ini curhatan Paman Yusi? ‘Balas dendam’ bisa dengan banyak cara untuk seorang pengarang ‘kan? “Ceritaku kebanyakan tentang kematian, Bung. Ada yang tentang mutilasi malah. Apa cocok?”

#12. Bangsawan Deli dan Delia
Dengan setting Jakarta tahun 1950, era pasca kemerdekaan dua kejadian coba disambungkan. Misteri tenggelamnya kapal bangsawan SS Deli di Selat Malaka dengan kejadian pembunuhan anak perempuan enam tahun bernama Delia, hanya beberapa meter dari TKP ada buku satu jilid Ashlu Al-Maanah Al-Insaniyah. Langsung deh saya teringat kutipan pembuka buku ini. Apalagi di cerpen sebelumnya Upaya Menulis juga disebut, yah, ini memang cerita detektif. “Jadi benar mereka mati ditelan siluman laut?

#13. b.u.d
Apa sebaiknya sekarang aku dipanggil Anna biar palindromik?” Sempat menyangka-kan ini AKU ya, karena nama saya yang dinukil dan jua saya lahir di Sukoharjo, ge-re, saya belum pernah mewujud ngopi bareng Paman euy. Kisah ini berdasar kejadian nyata. Sayangnya kehidupan saya tak sedramatis itu. Cinta memang harus diperjuangkan, dengan latar palindrom – di mana kata atau kalimat dibolak-balik terbaca sama – kita menelusuri jejak kehidupan seseorang. Salut untuk keteguhan melawan arus, beda agama menikah masih menjadi tabu dan seakan semua jalan keluar dari hati tak nyaman di telinga. Good luck to me, good luck BUD. Siapa Henoch Gunadi Sanbe?

#14. Buris
Kisah sedih teman sekantor yang gendut bernama Buris. Sedihnya agak lucu juga, sang Aku yang panas akan cerita bombastis Buris yang sukses ngajak cewek jalan akhirnya ‘mencoba’ merebut Rara Ireng, teman sekantor jua sekaligus teman lama adiknya. Awalnya terlihat lancar dan akan jadi happy ending, eh malah dibelokkan bencana. Haha.. jodoh memang tak ada yang menyangka-kan? “Alhamdulillah, perut kenyang hati sennag, Kawan.”

#15. Pemuda Penyayang
Itu tanda-tanda kenabian. Pemuda yang disangka nabi, mengeluarkan kotoran turut serta uang logam. Silsilah nabi yang kita kenal dengan segala mukjizat-nya dirunut. Mana ada yang bisa ‘memproduksi’ uang dari dalam perut? “I am the Walrus.” Oalah.. Dave Dave. Kau masih punya waktu panjang untuk mewujudkannya.

#16. Kecerdasan dan Cairan Pekat
Jorok sih, tapi yasu dahlah memang dunia penuh orang menyimpang. Gara-gara artikel yang mengatakan hasil tes IQ mahasiswa Alicia Franklin sebesar 220 di Universitas California, Los Angeles, Amerika. Melebihi Stephen Hawkins, Albert Einstein, dan Leonardo Da Vinci. Tiga minggu jelang ujian SMA, Windu terobsesi menelan sperma, punya sendiri awalnya. Tapi pikiran liarnya menelikung tak tentu arah. Duh! “Kanibal!”

#17. Suatu Hari Dalam Kehidupan Seorang Warga Depok Yang Pergi Ke Jakarta
Ini saya yakin pengalaman pribadi. Sama sepertiku yang malas keluar rumah, malas urusan berbelit dengan dunia luar. Maka saat warga Depok akan ke Jakarta, merapel segala urusan. Dan iapun mengalami satu hari yang melelahkan. “Pancen asu kowe, Mas!” Depok, pinggiran Jakarta. Bekasi, pinggiran Jakarta. Kota-kota satelit yang ikut rembug dalam kemajuan, jadi Karawang satelit cadangan.

#18. Pergi Ke Malang
Nanti malam kau akan pergi ke Malang, Jawa Timur bersama anak laki-lakimu. Dibawakan dengan kalem, tapi sungguh mengerikan. Ini bisa jadi yang terbaik. Kisah detektif tanpa detektif. ‘Bencana’ pembunuhan yang dirancang dengan detail mengagumkan. Punya alasan kuat untuk tak disangka, sebuah keluarga aneh menjelas kronik drama kehidupan. Seolah sebuah musibah, pergi ke Malang adalah ‘tur’ tragedi yang membuat penyidik mungkin langsung mencoret sang pelaku. Kisah ala Agatha Chrstie, dengan ide liar kekejaman lokal.

#19. Nasihat Bagus
Seorang buzzer politik harus bermuka badak. Roy dan kita semua hidup di era digital, segalanya serba instan. Roy agak terkejut ketika Pemilik partai ‘Indoperi’ yang anti Pemerintah tiba-tiab membelokkan haluan. Sebagai buzzer yang awalnya konsisten menjelekkan kudu penguasa, ia harus berganti arah. “… Bentar lagi 2019, siap-siap saja. Ingat, muka badak.”

#20. Ular-ular Temanten
Ini lucu, sumpah. Pengalaman saya juga soalnya. “Hari ini giliran suami mengalah, besok giliran istri yang menang.” Kocak anjrit. Menikah memang butuh banyak pengorbanan, termasuk mengalah. Afu, kena banget gue. Jadi penasaran dengan grup lawak Djunaedi cs yang ada di tahun 1980an.

#21. Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia
Tentang Jarwo dan sisi gelap hidupnya. Sebagai penutup, Bung Yusi dengan cerdas menaruh cerita bagus banget lagi. Hikayat orang cebol di Semarang. Bagaimana profesi penari sebagai maskot sebuah produk minuman kala promosi, menuntun drama yang mengejutkan. Chapter akhir berisi sembilan paragraf itu keren banget men. Edun. Sang protagonis ternyata menyimpan info yang sangat krusial dari pembaca. Pembuka yang keren, penutup yang lebih keren lagi. Nikmat baca mana yang kau dustakan?!

Saya baca dalam sehari pada libur tahun baru Islam, saat menjadi sopir keluarga ke Depok. Saya baca dalam tiga kali kesempatan duduk. Saat menunggu mereka belanja di Pasar Baru, ada tempat duduk ayun tepat sebelahan sama para pengayuh becak bersantai, tidur nyaman di terik matahari. Kedua saat di masjid Nurusalam, Depok Utara diantara Duhur dan Asar, ketiga saat di rumah keluarga saudara Jl. Saledri – mencari ruang sepi ketika ruang tamu penuh canda tawa, bersama segelas kopi pahit bikinan Bude, sembari menunggu mereka nostalgia jelang Magrib, buat pulang. Well, Penerbit Banana ada di Depok seharusnya dekat nih sama rumah Bude yang di Beji, sempat kepikiran pengen main, tapi urung. Lebih ke pengen menyendiri di masjid bersama buku, sudah menjadi kebiasaan ketika ke Depok sebagai sopir saya pasti ‘menghilang’ waktu-waktu Duhur, bukan untuk berdzikir malah bawa buku fiksi. Ampuni hamba ya Allah.

Kata Woody Allen dalam adegan pembuka Annie Hall, “Laki-laki menua dalam dua cara, ada yang rambutnya menipis dulu baru beruban, ada yang beruban dulu baru menipis, yang pasti dua-duanya bakal habis.” Kalimat ini ada dalam Satu Hari Dalam, dan saya langsung meraba rambutku. Alamak, saya jenis pertama.

Arsene Wenger itu manager bagus.” Seperti jutaan fans Arsenal di dunia, ia memiliki ketabahan mengagumkan kaum Yahudi yang hidup di Mesir di bawah kekuasaan Firaun ribuan tahun lalu. Well, Bung Yusi harus berbaur dengan Laziale nih, mengenal penggemar klub jarang juara, kita sudah jauh lebih tabah dari para pengagum The Gunners karena kita menganggap Lazio adalah klub terbaik dunia akhirat, menjuluki Lazio The Great! Yah, karena fanatisme adalah kunci. Terakhir juara Liga 2000, delapan belas tahun. Yah, setidaknya ada yang lebih lama. The Reds!

Amazing. Sekali lagi Bung Yusi memukauku. Setelah tak sengaja berkenalan kumpulan cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa, kisah-kisah tak lazim saya menyebutnya, saya kejang-kejang sama cerita Raden Mandasia, yang menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Menjadikan buku lokal yang masuk best 100 novel versiku tahun lalu. Nah kali ini kembali ke kumpulan cerpen dengan kover yang sedap dipandang, warna kuning sebagai latar dengan seekor musang di dalam cangkir di antara dua lainnya. Kover bak poster film art, film festival. Catchy nan mewah. Kover buku ala poster film-film Wes Anderson. Duh jadi inget Grand Budapest Hotel bersama Saoirse Ronan.

Kandidat ketiga yang saya ulas setelah Laut Bercerita dan Gentayangan. Saya pernah bilang Laut akan masuk 10 besar tapi mustahil menang, saat ini masih terbukti. Gentayangan bagus, tapi ga sampai klimaks. Bagaimana dengan Musang? Saat ini sudah baca enam kandidat dan jelas secara kualitas Musang yang terbaik, bahkan dibanding Kura-kura Berjanggut yang tebalnya mengerikan, tunggu waktu tepat buat ketik ulas – maaf tunda memang tindakan ga baik. Masalahnya, biasanya juri akan lebih suka satu cerita dalam satu buku. Atau memang inilah saatnya Kumpulan Cerpen unjuk gigi? Doaku yang terbaik.

Seperti kata Mario kepada Pablo Neruda dalam Il Postino, sebuah sajak begitu dilempar ke publik menjadi milik pembacanya, terserah mau dimaknai dan digunakan sebagai apa. Begitu pula karya-karya lainnya termasuk prosa. Setelah dirilis maka publik punya hak penuh menilai, pujian syukur, cacian ya resiko. Untungnya tiga karya Paman Yusi konsisten memuaskan, jadi saya ketik ulas ya enak banget. Mengeluarkan uneg-uneg tanpa tameng apapun jadi lebih nyaman. Beli buku, baca, puas ketika ngetik juga dibawa ceria. Makanya jangan beli buku Tere Liye lagi dah.

Prediksiku jelas, Kumpulan Cerpen ini masuk lima besar. KUDU! Juara hanya bonus.

Tuhan berencana, manusia menentukan. – Asal-muasal Derita Manusia karya Yusuf Al Uraizy

Muslihat Musang Emas | Oleh Yusi Avianto Pareanom | copyright 2017 | Penerbit Banana | Cetakan pertama, September 2017 | 13,8 x 20,3 cm; 246 halaman | ISBN 978-979-1079-60-0 | Penyunting dan Penata artistik Ardi Yunanto | Fotografer sampul Agung ‘Abe’ Natanael | Skor: 5/5

Karawang, 1809-230918 – Sherina Munaf – Curahan Segalanya

Pekan Kelima: Lazio Vs Genoah

Pekan Kelima: Lazio Vs Genoah

LBP 3-0
BIG match pertama musim ini. Menang syukur, seri alhamdulillah, kalah ya memang wajar. Forza Lazio.

Katrina Jade Prayitno
Lazio 2-0 Genoa; Immobile
Analisis: Waktu delok awakmu liwat ning ngarepku, pengin eruh jenengmu. Tapi aku ragu, atiku gak nentu. Aku takon koncoku opo kenal awakmu. Jarene koncoku awakmu iku arek paling ayu.

Imoenk
Lazio 2-1 genoa, Immobile
Wah big match beneran ini. Lazio selalu rame kalo lawan genoa. Lawan berat lazio selain Juve, Chievo, Roma, Milan dan beberapa klub serie A yg lain. Jaminan determinasi tinggi, serangan balik cepat, dan tackle berbahaya. Catet.

Siska
Lazio 2-2 Genoa
Immo
Rekor H2H Lazio dan Genoa relatif seimbang. Pada dua pertemuan terakhir kedua tim saling mengalahkan. Kedua tim berada di posisi berurutan di klasemen, yakni Genoa di posisi 7 dan Lazio di posisi 8. Bisa jadi, laga ini akan berakhir imbang.

Emas Agos
Lazio 1-2 genoa
Gol Ciro
Musim lalu lazio dibungkam di kandang sendiri. Tidak menutup kemungkinan musim ini diulangi. Potong bebek angsa masak di kuali, Lazio main kandang kalah dua kali.

DC
Lazio 3-1 Genoa
Immo
Kami datang. Kami bertanding. Kami menang. VVV

AP
Lazio v Genoa 1-0
Immobile
Lazio sudah mulai panas. Musim lalu Genoa bisa menang di Olimpico. Setelah pekan lalu mengalahkan Filippo Inzaghi (Bologna), Ballardini berpotensi kembali menang melawan keluarga Inzaghi.

AW
Lazio vs Genoa : 2-1, Luis Alberto
Lazio siap menang lagi. Luis Alberto nyekor lagi. Tren positif berlanjut lagi.

Takdir

Lazio 2-2 Genoah, Caicedo
Analisis Laga yang sulit. Partai Genoah adalah partai prestis, hanya sedikit di bawah Barcelona. Bisa seri sudah bangga.

Karawang, 230918

Gentayangan – Intan Paramaditha

Seorang kawan yang kukenal di San Francisco mengirimi novel Anda kepada saya sebagai hadiah. Saya tak bisa berhenti membacanya. Setelah menyelesaikan novel ini, saya segera menjadi penggemar baru Anda.

Hei ini benar-benar kebetulan, tiga orang Asia Tenggara bertemu di San Francisco. Kebetulan. Biasanya, kebetulan adalah sebuah pertanda. Pertanda! Aku tahu pertanda apa. Akan ada fiesta.” Kau merasa sedikit geli. Dengan pertemuan singkat di jalan, seberapa mungkin ada lain kali? Banyak hal kebetulan di kisah ini, tapi bukankah hidup ini juga berisi hal-hal yang tak direncana matang?

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan. Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau ubah setelah mendengarnya.

Umurku hampir 28 tahun dan aku belum pernah ke New York. Ini tragedi. Well, berarti mayoritas kita disapu bencana besar. Cerita berputar, bagaimana kita membaca buku bukan berurut dari halaman satu, dua, tiga dst sampai halaman akhir. Novel yang menawarkan ‘Pilih sendiri petualanganmu’ bersama sepatu merah menyala. Sepatu Iblis Kekasih yang mengajak pembaca terlibat menentukan pilihan. Lagi pula, cerita petualangan sering kali mulai dengan warisan dari seseorang yang telah wafat. Sudah beberapa kali membaca dengan plot macam gini, semua terjemahan, jadi ini versi lokal pertama. Dan selalu memusingkan, bukan karena harus bolak-balik halaman, cek sana-sini lalu dirajut banyak kejadian. Bukan. Saya lebih nyaman serta praktis maju, seperti hidup yang selalu menatap masa depan, waktu itu linier tak ada peluang mengubah sekalian mengulang sebuah kejadian yang sama persis. Saat kita sudah mengambil pilihan, maka ya itulah yang kita jalani tak ada tapi atau andai. Contoh esok pagi sarapan nasi uduk atau nasi kuning, esok saat pagi tiba jam 07:00 kamu putuskan makan nasi kuning ya kamu ga akan bisa dapat kesempatan kembali ke jam 07:00 di titik itu untuk makan nasi uduk. Kisah pilih sendiri gini, malah membuat kita capek sendiri. Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau setelah mendengarnya. Saya putuskan baca buku ini karena masuk kandidat saja, tak lebih. Memangnya siapa Penyihir Perempuan ini?

Jadi sang tokoh utama menjalani kehidupan membosankan sebagai guru les bahasa Inggris memohon untuk bisa berpetualangan, apapun syarat dan ketentuan sang cewek siap. Begitulah petualangan tak selalu menjanjikan banyak pilihan. Dengan sudut pandang orang kedua, pembaca diajak menentukan nasib. Maka saat malam ia ‘menantang’ di kamar kosnya kepada iblis, dia mendapat kesempatan langka, diberi sepatu merah dan cling! Dia-pun terbangun di taksi yang sedang berjalan ke bandara JFK, New York. Kau bertanya-tanya apa yang akan kau alami apabila waktu itu kau batalkan perjalananmu ke Berlin. Apakah petualanganmu akan lebih mendebarkan? Sebuah masa di antara, seberapa panjang ia? Mungkin hanya sekejap mata tapi mungkin juga ia sebuah ruang tunggu yang elastis. Di dalamnya kau sempat mengucapkan selamat tinggal pada Bapak-Ibu, juga kakakmu dan anak-anaknya. Yang pasti Sang Aku sudah merentang jauh dari Jakarta. Satu-satunya yang kuinginkan adalah pergi dari sini dan berpetualang. Tapi dalam setiap petualanganmu kau ingin apa jadinya bila kau ambil jalan yang ini bukan yang itu. “Beri aku uang, visa, dan tiket sekali jalan. Aku tak mau pulang.” Dengan wajah bingung ia menyusun kepingan apa saja yang terjadi dari ia menandatangani kontrak iblis hingga dirinya di Amerika. Hilang, tak ada yang bisa diingat. Saat akhirnya turun dari taksi dan akan menuju lobi bandara, ia menyadari sepatunya hanya sebelah. Maka untuk pertama kalinya pembaca diberi pilihan.

Pertama, kalau mau balik ke rumah (kemanapun itu) buka halaman berikutnya. Kedua, kalau ingin melaporkan kehilangan lapor ke polisi, buka halaman 29. Ketiga, kalau mau meneruskan ke Berlin buka halaman 33. Hal-hal macam gini tentunya sangat sering terjadi dalam kenyataan, bedanya kita tak bisa ambil kesempatan kedua. Rendah diri, penyebab iri dengki, adalah akar kejahatan di dunia. Tapi kasih Allah sepertinya hanya untuk mereka yang berhati tulus, bukan mereka yang dirongrong iri dengki.

Bagiku, mau balik ke apartemen, lanjut atau ke kantor polisi sama saja. Kenapa? Karena kita tahu bahwa selalu ada keajaiban ‘mendadak’ yang bisa menyelamatkan sang karakter utama. Seperti Iblis yang kasih cermin lalu tiba-tiba terbangun di tempat lain seolah Amsterdam – New York itu sepelemparan batu. Mungkin saja jika kau pilih New York kau akan sampai kemari juga sebagai orang lain. Barangkali kau akan menikah dengan lelaki ganteng Peru dan berlibur bersama keluargamu di sini. Menaruh sepatu di luar kamar dan cling terbangun dari lamunan, sudah di masjid yang jauhnya ribuan kilometer. Tak berdasar, terlalu menggampangkan jadi apa bedanya saya pilih ini atau itu (dalam fiksi, seharusnya masih ditawarkan ketegangan). Semua sama saja. Beda sama cerita fantasi yang ada aturan baku, semisal Harry Potter yang harus menggunakan bubuk untuk merangkai jaringan floo untuk berpindah tempat atau portkey yang disentuh untuk cling transport ke tempat-tempat yang ditandai. Sepatu Merah ga menjelaskan rincian itu, dia (bisa juga penulis) punya hak penuh mau dengan cara apa dia berpindah tempat. Berpindah halaman maksudnya. Rumah adalah tempat terbaik untuk menyalip seseorang.
Setiap hari ia memilih khayalannya sendiri.

Untungnya kisahnya lumayan bagus, beberapa layak kutip, beberapa hal sepakat, beberapa paragraf sungguh menggugah. Seperti sindiran pilihan hidup, menikahi lelaki yang tampak agamis mencalonkan diri menjadi wali kota Depok. Sepertinya bener-benar pilihan buruk, saya sepakat. Atau seperti yang disampaikan di kalimat-kalimat pembuka, “Azan sumbang yang berkumandang dari pertarungan toa-toa masjid menjadi penanda masamu, berikut bonus sekali waktu berupa kasidah ibu-ibu gila tampil atau pentas dangdut tujuh belas Agustus.” Itu mewakili suara siapapun yang saat ini sedang hangat isunya. Sang Perempuan Sihir sudah memprediksinya sobat.

Ingat konsep enam derajat keterpisahan?” Andai saja teleport-nya bukan di luar negeri tapi cukup dari kota ke kota di Nusantara, kisah ini akan tampak jauh lebih pas, tampak dekat dengan pembaca lokal apalagi jika dibuat lebih masuk akal, tanpa sihir atau campur tangan kekuatan ketiga. Saya sempat bayangkan, coba kalau yang dibagi cerita bukan perbatasan San Diego-Tijuana, tapi Batam-Singapura. Dengan gelisah kita hidup sedekat mungkin dengan perbatasan menantikan hari kembali. Atau dengan hantu-hantu lokal, ke pantai laut selatan, genderuwo, atau berziarahnya bukan ke Betolt Brecht tapi makam Nike Ardila, misalkan, pengandaian, pasti akan jauh lebih hidup. Petualangan ke luar negeri dengan pamer keleluasaan waktu dan biaya malah jatuhnya seperti kisah Miss Jinjing versi mewah. Saya enggak anti cerita Penulis lokal dengan setting luar, karena banyak buku terjemahan yang kulahap, tapi akan lebih kita banget kalau ceritanya ngulik di sekitar. Satu lagi, andai pilihan-pilihan yang ditawarkan tak ada magis berpindah tempat, sehingga tampak membumi pastilah akan jadi luar biasa. Semisal, pilihan ke Amsterdam atau Zabreg. Dah jangan ada Iblis di antara kita, biarkan semua natural, hanya ‘keajaiban’ mengulang kesempatan. Tak ada sulap ataukah lorong waktu dengan segala muslihatnya. Kau telah mengikat pada seutas benang, tak kokoh tapi tetap saja kau meratap saat menjadi layang-layang putus.

Bagian-bagian yang bikin gereget. Iblis dengan anjing kepala tiganya setiap muncul. Cordelia dan saudari-saudarinya, Regan dan Goneril dia tiga dalam satu. Bagian obsesi novel tentang gadis Vietnam yang misterius. Perempuan yang dilihat di cermin itu, siapa dia? Karina Lam, Karina Le, Karina Lee? Saat pamali: Jangan bercermin berlama-lama jam dua belas malam. Sempat menduga bakalan muncul hantu seram beneran yang mencekiknya, misalkan. Bagian penyimpangan seksual sesama jenis, Juwita Padmadivya. Nama yang cantik dan sedikit pretensius. Juwita sang pengelana. Mungkin ada Juwita di dalam diri kita semua. Obsesi bunuh diri yang rumit. Bunuh diri adalah pernyataan anti-kuasa paling tulus… sebagai anak-anak atau kau bolehs ebut anak muda, satu-satunya tempat yang kau inginkan adalah melawan kuasa.

Bagian yang bikin kesel. Interaksi sama Mbak-nya beda jauh sifatnya. Mbaknya gadis baik, si Aku bandel. Dulu sebelum ada dinding kau bercerita tentang apa saja. Kita tak bisa membenci keluarga kita. Guru yang menyebalkan, teman-teman yang curang. Katanya di Finland, anak-anak nggak dikasih PR – PR buatku ingin baca Tech Like Finland sejak kapan tuh? Ketiga anaknya bernama keArab-araban, bah bahkan ia sering lupa nama asli ponakannya. Dan benar juga nama-nama ini suatu saat langka: Dewi, Wati, Sari. Saya tambahi: budy! Tante macam apa kau. Hahaha… tiap ngomongi bule sesama guru les. Gagasan kita tentang yang disebut keren di sekolah menengah memang kerap mengenaskan. Bule berbahasa Indonesia mungkin terlihat seksi sebab bukankah bahasa ini demikian tak penting.

Bagian-bagian proses film juga diturunkan dengan ciamik. Kok bisa ada pasangan keren Brad Pitt dan Angelina Jolie. Nasehat film snob: Intinya pertahankan long take. Penonton harus merasa bosan. Semua suara harus diegetik, dan ini berarti filmku nyaris tanpa suara. Bagian infil sama ‘calon mangsa’. Barangkali dia cuma ingin pulang bersama-sama. Kau mulai bungah. Lelaki yang mendengarkan adalah makhluk langka meski ia tak menggetarkan seluruh sudutmu seperti iblis. Aku tak pernah mencintainya. Aku tak pernah mencintai seseorang yang nyata.

Bagian-bagian yang nyindir religi. Seumur hidup kau dilarang makan babi, saat pertama kau ingin mencobanya, kau bertanya mengapa tidak? Al Kitab mengajarkan kita untuk tak membangun rumah di atas pasir. Sayangnya tak ada peringatan soal membangun di atas air. Apalagi cermin. Iblis justru dekat dengan orang-orang yang beragama. Kau memohon pada Tuhan supaya kau tidak bertemu lagi. Aku tak yakin ia mendengarmu sebab antrean doa kelewat panjang.

Bagian-bagian unik walau beberapa juga agak ga jelas. Betapa aneh wilayah yang disebut Asia Tenggara. Negara-negara yang disebut Vijay begitu dekat, tapi juga begitu asing. “Ia tak hilang, aku menghilangkannya.” Aku bosan. Kedengarannya seperti slogan pemberontakan. Kosmopolitanisme adalah latihan menuju alam baka. Sydney Mardi Gras. Pesta baru saja dimulai.

Dan tentu saja bagian-bagian petualangan yang ditawarkan. Di mana rumahmu kini? Mungkin, seperti hantu, kau cuma bernaung namun tak berumah. Bepergian adalah hasrat manusia paling purba. Liburan, sesuatu yang memberi ilusi bahwa kita terbebaskan, dan setelah itu kita akan kembali pada kerja, kerja, entah untuk apa. Entah bagaimana kau tahu inilah yang selalu terjadi. Sebagian cerita selalu menikam, tak pernah tumpul meski diulang-ulang. Perjalanan adalah ruang di antara, ketidakpastian yang terus-menerus. Jalan-jalan buat banyak perempuan adalah kemewahan baru. Di Eropa abad 18 perempuan selalu mencari taktik agar bisa bepergian sendiri. Betapa perjalanan mengungkit ingatan termasuk hal-hal terjauh yang tidak pernah kau pikirkan lagi, hal-hal yang tersimpan di dalam museum kebodohan.

Sejak muda ia bersimpati dengan dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang Amrika yang merasa nyaman tinggal di satu kota yang sama seumur hidup mereka. Tak pernah mereka merasa butuh untuk melihat dunia lain. kelompok kedua adalah para turis yang gencar berwisata demi menambah koleksi foto atau survenir. When in Rome, do as Romans do.

Jiwa petualang yang berfikir bebas. Jika di situ tertulis peringatan ‘jangan bersandar pada pagar’ yang ingin kau lakukan adalah mencondongkan tubuhmu di sana. Karena tulisan itu ada maka bahaya yang tak kau bayangkan jadi punya nama. Ia tak keliling dunia; dunia yang memutarnya, terus-menerus memecahnya. Hidupnya serasa fragmen kecil di sana-sini, kadang terpaut kadang bertabrakan, dan terhempas. Dan mereka yang tak bisa mengingat masa lalu terkutuk untuk mengulanginya.

Bagian di Klub juga menyentuh sekali, apalagi pas twist ternyata bagaimana salah satu karakter bilang suaminya tak hilang. Klub Solidaritas Suami Hilang tak menemukan yang hilang, tetapi menghidupi kehilangan. Ingatan menjadi kuil yang mesti dilap hingga berkilat. Hilang dan kehilangan adalah lekuk yang lain. pelik sekaligus licin. Kadang keduanya terhubungkan dengan cara yang ajaib. Kehilangan menjadi mudah bagimu karena kau tak pernah mencintai suami.

Siapa kira kau akan menempuh akhir yang brengsek, terperangkat deus ex machina. Saya mulai baca akhir pekan lalu, dan sudah ada di garis finish cerita pada Selasa malam, tiga hari diantara bacaan Bartleby, Si Juru Tulis dan cicilan Tiba Sebelum Berangkat. Finish di sini bukan benar-benar sudah kubaca semua, tiap ganti segmen saya tandai stabilo kuning jadi saya tahu mana yang sudah kubaca mana yang terlewat. Ada tiga kali TAMAT di tengah buku, yang keempat sampai di Meksiko, selesai. Karena harga buku di atas seratus ribu, tentu saya tak ingin skip, wajib baca tiap katanya! Jadinya saya tarik kembali baca saat di pilihan awal. Ternyata cerita lebih bervariatif, saat menyesatkan diri, saat fun. It’s retro and it’s fun. Yang kiranya sukses finish saya melalangbuana di Amerika, saat pilihan saya coba baca lagi ke Berlin ternyata malah lebih bagus. Lebih rumit sekaligus menyenangkan. Ngapain jauh-jauh ke Amerika cuma untuk kawin siri, kau romantis atau bodoh.

Gentayangan mengingatkanku pada cerita-cerita Sidney Sheldon, tokoh perempuan kuat dengan akal panjang dan keberuntungan melimpah. Juga bagian-bagian kesempatan kedua, dalam Rage of Angels, Sheldon mematikan tokoh anak kecil dan beliau mulai menerima surat bernada benci. Seorang wanita menyurati dari timur memberi nomor telepon dan berkata, “Teleponlah aku, aku tidak bisa tidur. Mengapa kau biarkan dia mati?” Sheldon mendapat begitu banyak surat serupa sehingga ketika novel ini menjadi miniseri, karakter itu hidup. Seolah itu adalah penebusan dosa Sheldon untuk ‘kesalahannya’. Dalam Gentayangan, kesempatan kedua, ketiga bahkan lebih selalu muncul. Karena akan saling silang nasib sang protagonis di masa depan. Seperti di ending Peru saat ia keluar nandara, bersama pasangan lesbinya melihat keluarga kecil dengan putri remaja yang mengeluhkan panasnya Lima. Lalu di bagian lain, jagoan kita adalah mengambil sudut sang istri keluarga tersebut, melihat pasangan lesbi naik taksi. See… tampak menarik ya?! Intan memberi aman, dengan tak bertatap muka keduanya. Hal-hal macam gini hanya ada di fantasi, waktu linier dan kehidupan pararel biarlah dikuasai imaji para pengarang.

Kau tersenyum. Kau tidak merayakan Natal, dan kau pun yakin iblis tidak. Tapi di New York Natal adalah milik semua. Mereka yang beriman atapun yang agnostic dan ateis, pusat perbelajaan, dan barangkali juga penyihir dan iblis. Modern gothic yang setelah kubaca tuntas ternyata seru. Saya buka satu-per-satu lembarnya agar tak ada yang kelewat. Setiap ketemu stabile berarti sudah kulahap. Dan benar-benar taka da satu katapun terlewat. Saya harus akui, sekalipun cerita tak kuat untuk buat kisah panjang dengan detail seperti ini lebih susah dan rumit dari plot yang lurus. Makanya kenapa Memento masterpiece, karena pllt-nya mundur dan sekalipun prolog adalah ending kita tetap penasaran. Nah, Gentayangan tentunya disusun dengan riset mendalam, mengatur halaman-per-halaman, saya jadi penasaran bagaimana rewelnya Intan dan editor. Salut.

Tapi sungguh, kisah yang tak selesai selalu membuatmu penasaran. Perjalanan ternyata juga sebuah ruang tunggu. Feelingku, Gentayangan masuk lima besar. Seorang pencerita adalah seorang penghapus. Dan ini sukses dilakukan Gentayangan. Penulis fiksi ternyata benar-benar iseng, kalau bukan keji. Mereka bekerja keran menciptakan labirin, mencari orang-orang patuh untuk disesatkan di dalamnya, menikmati penderitaan korban sambil minum kopi dan makan donat. Good luck!

Kini kau kembali pada pertanyaan eksistensial yang kian mengganggumu. Bagaimana hidup berlanjut? Atau lebih tepatnya: memulai hidup dengan tujuan? SeeGood girls go to heaven, bad girls go everywhere.

Gentayangan – Pilih sendiri petualangan sepatu merahmu | oleh Intan Paramaditha | GM 617202043 | copyright 2017 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Penyelia naskah Mirna Yulistianti | Pemeriksa aksara Sasa | Desain sampul Suprianto | Foto sampul Ugoran Prasad | Penata letak Fitri Yuniar | cetakan pertama, Oktober 2017 | ISBN 978-602-03-7772-8 | Skor: 4/5

Untuk ia yang memberiku sebuah cermin dan sepasang sepatu merah sebelum datang musim gugur

Karawang, 1909 – 210918 – Sherina Munaf – Pergilah Kau & Apakah Ku Jatuh Cinta

HBD Mbak Purwantihuges and kisses

Dari IIBF, Eka Kurniawan, Dee Sampai Oak

Dari IIBF, Eka Kurniawan, Dee Sampai Oak

Kemenangan Dee untuk Aroma Karsa, 10 kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa, sampai kejutan menyenangkan di Belanda. Sejatinya pengen nulis semua hal tersebut, satu per satu. Sayangnya waktu di depan lembar buku lebih banyak (dan menyenangkan serta leluasa) ketimbang waktu di depan komputer. Maka kabar buku setengah bulan September ini, kita rapel dalam satu pos saja, termasuk curhat masalah lain.

#1. Tujuh Buku Tuntas Baca

Lagi gandrung-gandrungnya menginvestasikan waktu dengan buku. Dua minggu dapat baca tujuh buku: Timeline (Michael Crichton) yang berkisah perjalanan waktu ke abad ke 14. Seru, mendebarkan, sadis. Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis) bagaimana tujuh pencari damar mencoba bertahan hidup di rimba raya dari terkaman harimau. Luar biasa, sejatinya manusia memang makhluk yang memiliki naluri buas demi kelangsungan hidup. The Spirit of Loving (Emily Hipburn Sell) isinya hanya kutipan cinta-cintaan, sekalipun dinukil dari berbagai orang besar (sebagian besar Penulis), jelas ini sekedar kumpulan kalimat, yang bisa kita susun mahasiswa magang dalam semalam. Sungguh mengecewakan. Manifesto Flora (Cyntha Hariadi), kandidat ketiga Kusala. Kumpulan cerpen yang padat, aneh, dan menggelitik. Lebih bagus dari Laut Bercerita, tapi tak lebih berat dari Kura-Kura Berjanggut. Catatan Harian Adam & Hawa (Mark Twain), bagaimana manusia pertama dan kedua menjelajah bumi. Twain adalah jaminan kualitas, sayangnya mutu terjemahan kurang OK, typo dan layout payah. Muslihat Musang Emas (Yusi Avianto Pareanom) buku terbaik pekan ini, kumpulan cerpen unik khas Paman Yusi yang memang selalu tak biasa dari gaya bercerita ala Memento sampai kisah pembunuhan berencana yang rapi sekali. Rose Madder (Stephen King) tentang seni bertahan hidup, istri yang kabur dari rumah demi masa depan yang menjanjikan. Megap-megap mengikuti Rosie McClendon menelusur masa lalu dan menyusun kepingan harap. Misteri, drama, horror.

Rose Madder sudah kureview dan kukembalikan ke Perpus Bus Taka lalu pinjam pulang Pulang (Leila S. Chudori) dan Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer), semuanya nantinya akan kuulas satu per satu. Tunggu waktu yang pas. #OneWeekOneBook itu event apa ya?

#2. Pengumuman 10 Besar Kusala Sastra Khatuistiwa

One

Langsung dari akun facebook Richard Oh, pengumuman 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 rilis pada hari Jumat 30 Agustus 2018. Malam sepulang kerja, saat beli nasi goreng muncul di timeline sosmed. “Karya2 terseleksi Kusala Sastra Khatulistiwa ke 18 tahun ini. Selamat!”

Kejar prosa. Ketika pengumuman ini disampaikan saya baru baca dua dan ulas satu: Kura-kura Berjanggut, Laut Bercerita. Langsung pesan di toko daring Demabuku apa saja yang ready stok: Manifesto Flora, Muslihat Musang Emas dan Gentayangan. Sampai saat ini sudah nambah baca dua (baca nomor satu). Dan kemarin di IIBF beli dua lagi: Tiba Sebelum Berangkat (Faisal Oddang) dan Sai Rai (Dicky Senda). Total tujuh buku sudah ada di rak, sisanya kejar! Maaf mengabai kategori puisi karena saya tak romantis dan otakku sulit mencerna sajak.

Jadi di mana kategori Karya pertama atau kedua ya?

#3. Eka Kurniawan Mendapat Prince Claus Award 2018

Wow, ini kejutan menyenangkan. Penulis lokal kebanggan kita semua Eka Kurniawan mendapatkan penghargaan bergengsi di Belanda The Prince Claus Award. Bersama Eka adalah penulis naskah teater dari Uganda Adong Judith, arsitek Suriah Marwa al-Sabouni, sutradara Filipina Kidlat Tahimik dan jurnalis independen O Manelick.

Prince Claus Award adalah penghargaan terhadap individu dan organisasi yang mengapresiasi kebudayaan di tiap negaranya yang diadakan sejak 1997, Indonesia sebelumnya sudah mengukuhkan nama Slamet Gundono pada tahun 2005, seniman visual FX Harsono tahun 2014 dan Teater Garasi dari Yogya tahun 2013. Sesuatu yang membanggakan sekali akhirnya tahun ini seorang Penulis yang menyabetnya. Rencana penganugerahan dilakukan di Royal Palace Amsterdam pada 6 Desember 2018.

Sebagai orang Indonesia pertama yang masuk kandidat Man Booker Prize, pernghargaan bergengsi dari Inggris. Tahun 2016 bersaing dengan nama-nama besar Orhan Pamuk dan Kenzaburo Oe. Mari kita tunggu apa yang akan disampaikan beliau dalam ‘Louder Than Words’ di Compagnietheatre. Selamat Sang Manusia Harimau!

#4. Aroma Karsa dinobatkan Book of the year oleh IKAPI

Bersamaan dengan dibukanya Indonesia International Book Fair (IIBF) 2018 di JCC (Jakarta Convention Center), IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menganugerahkan para pemenang tahun ini. Tiga pemenang IKAPI Award 2018 adalah: Aroma Karsa karya Dee di kategori buku, Rhenald Kasali sebagai Penulis dan Nirwan Asuka sebagai literasi promo dengan Pustaka Bergerak-nya.

Sudah baca lima buku Dee: Filosofi Kopi, Akar, Ksatria dan Bintang Jatuh, Recto Verso. Karena dirasa tak memenuhi ekspektasi maka kurang antusias saat rilis karya berikutnya, Aroma Karsa banyak promo dari Bentang, saya pasif. Ada beberapa give away-pun saya tak turut. Ketika akhirnya menang, apakah minat? Tetap tahan diri, kecuali ada yang minjami pasti kubaca, pada dasarnya saya pembaca segala rupa. Saya justru tertarik sama buku-buku Rhenald Kasali, selalu berbobot dan nikmat analisisnya. Sudah akrab di Harian Kompas. Baru baca ulas Let’s Change! Kumpulan esai di media massa. Sayangnya buku-buku baru beliau mahal-mahal sekali, untuk invest ke non fiksi saya selalu pikir panjang.

Well, selamat!

#5. IIBF

IIBF berlangsung 12-16 September 2018 dengan acara meluber, dari 17 negara, saya akhirnya bisa datang di hari terakhir untuk ketemu Eka Kurniawan, yeeee…. Ada Fenny Rose, Hanum dan Rangga sampai Maudy Ayunda tapi tetap yang antusias bersapa Bung Eka, sampai berebut foto. Belanja sembilan buku, ga kalap-kalap amat sih karena diskon untuk buku-buku bagus paling 20-30%. Yang zona kalap 50-80%, kebanyakan buku biasa jadi untuk mendapatkan bukunya Seno Gumira Ajidarma, Harper Lee serta kumpulan cerpen Penulis dunia harus berjubel dengan ratusan pengunjung, mengulik-ulik tumpulan sampai kaki pegel banget. Setelah perjuangan itu, hanya dapat tiga buku jelas ga sebanding. Hufh… malah saya antusias pameran buku di Solo, buku-buku keren harga beneran dibanting. Di zona kalap, saya tak kalap.

Ketemu teman-teman: Ari Keling, Penulis kece dari Bekasi teman Cendol KCP. Bersua, teman komunitas buku Bung Jamal tak sengaja saat di grup konfirmasi langsung japrian, dan tentu saja Moh Takdir, manusia super dari Bandung. Janjian dengan bung Tak doang sih sebenarnya, ketemu teman-teman dalam lingkup buku sungguh menyenangkan.
Terima kasih kawan.

#6. One Hundred Years of Solitude

Penulis nomor satu dalam daftar Best 100 Novel versiku tahun lalu akhirnya terbit lagi, kini dengan Penerbit major Gramedia Pustaka Utama. Gabriel Garcia Marques menang Nobel Sastra tahun 1982 setelah merilis One Hundred Years of Solitude. Mahakarya yang berkisah Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran beserta keturunannya di dunia imajiner. Saya sudah beli bukunya tahun 2015 terbitan Bentang, hard kover dari toko buku online langganan. Terpesona akan realis magis, langsung mengukuhkan menjadikan Penulis favorit yang wajib antisipasi. Bahkan tanggal berdirinya grup WA Bank Buku terpilihkan 6 Maret.

Saya bukan pengoleksi buku sama dari penerbit berbeda, sudah banyak buku dengan variatif kover, penulis luar diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan berbagai versi dan penerbit, tentu dengan kualitas berbeda-beda. Plus-minus wajar, Bentang sendiri bagiku sudah cukup memuaskan. Tanggal 10 September 2018 dengan dirilisnya alih bahasa Gramedia tentu kabar menggembirakan karena Gramedia cakupan jauh lebih luas, tokonya ada di tiap kota besar.

Justru saya mengejar Love in the Name of Cholera yang jua sudah dikerjakan Gramedia, kumpulin duit lagi.

#7. Penerbit Oak Tutup

Sayangnya catatan ini harus ditutup dengan kabar sedih. Melalui akun resmi ig-nya Penerbit indi keren dari Yogyakarta, Oak mengumumkan selesai. “Bersama ini kami umumkan bahwa, setelah beroperasi selama empat tahun dari tahun 2014, karena satu dan hal lain sebab, Penerbit Oak telah dibubarkan secara resmi. Apabila ada yang kurang memuaskan atau kurang menyenangkan selama empat tahun ini, kami mohon maafd sebesar-besarnya. Terima kasih.”

Secara keseluruhan Oak termasuk penerbit indi keren. Buku-bukunya terpilih, kualitas terjemahan OK, tata letak rapi, sedap di mata, mutu cetak bagus dan harga jua bersahabat. Sudah punya tiga bukunya, maka setelah tutup saya langsung pesan online tiga lagi: Bartleby, si Juru Tulis (Herman Melville), Mati Bahagia (Albet Camus) dan Sang Pengoceh (Mario Vargas Llosa).

Terima kasih Oak dan tim. Semoga bisa bangkit lagi dengan rupa baru yang lebih menakjubkan. Kami selalu menantimu.

Sekian.

Karawang, 170918 – Sheila On 7 – Segalanya

Pekan Ke 4: Empoli Vs Lazio

Pekan Ke 4: Empoli Vs Lazio

LBP
Empoli 0-3
Laga yang terlihat mudah? Empoli selalu bikin trauma. Ingat musim 1998/1999, Lazio harusnya Scudetto kalau ga di tahan Empoli. Padahal laga itu pertemuan pemuncak dan juru kunci. Sekarang?

AW
Empoli 0-2 Lazio, Immobile
Lazio wajib menang. Empoli masuk empang. Immobile balik garang.

Siska
Empoli 1-2 Lazio
Immobile
Empoli hanya menang sekali dalam 5 kali pertemuan terakhir saat bertemu Lazio. Laga terakhir vs Chievo pun Empoli hanya meraih hasil imbang. Dengan catatan seperti itu harusnya Lazio mampu meraih kemenangan.

D’Casiraghi
Empoli 1-3 Lazio
Immo
Empoli termasuk tim lemah dihadapan Lazio. Bahkan bermain kandang sekalipun. Selisih 2 gol sepertinya bakal terjadi.

AP
Empoli v Lazio 0-1. IMMOBILE
Status empoli adalah juara serie B. Lazio sudah meraih kemenangan pertamanya saat v Frosinone. Tentu Simone Inzaghi ingin kembali meraih 3 poin di Carlo Castellani

Emas
Empoli 2-1 lazio
Gol ciro
Nama saya Budi umur 25 tahun. Pas kejadian itu saya masih kelas 1 sma. Saat itu rumah dalam keadaan sepi karena kedua orang tua dan kakak saya pergi ke rumah paman di luar kota.

Sunny Leone Prayitno
Empoli 2-1 Lazio; Caputo
Ini duel papan bawah. Partisipan Eropa League musim lalu, Lazio, ternyata sudah mengalami 2 kekalahan di awal musim dan kini terpuruk di papan bawah. Sebaliknya Empoli justru tengah onfayah karena namanya mirip Napoli.

WAO
Empoli 3-3 Lazio
Skorer : Immobile
Lazio menjalani start buruk. PARTAI brrikutnya diyakini tdk akan berjalan mulus. Hasil imbang 3-3 hasil yg cukup fair untuk keduanya.

Takdir
Empoli 2-3 Lazio, Immobile
Analisis Hasil dari partai receh gini wajib dimenangkan jika ingin juara. Mau unggul lima gol atau selisih satu ga ada bedanya. Tuan rumah unggul dua dulu, baru The Great balas secara dramatis. Keren kan.

Imunk
Empoli 1-4 lazio, luis alberto
Lawan klub geje lagi. Enteeeennngggg, Lazio bakal menang besar kok. Jangan khawatir, pasti menang.

JCC – Jakarta, 150918

#IIBF2018

Christopher Robin: Lima Belas Menit Pertama Luar Biasa, Selanjutnya Please Jangan Tertidur

Winnie The Pooh: People say nothing is impossible, but I do nothing every day.

Harapan: Seperti Finding Neverland (dari sutradara yang sama), bagaimana proses penciptaan novel fenomenal Peter Pan dibuat dengan drama berkualitas, setidaknya Wendy memberi banyak warna penggerak kisah. Kenyataan: Robin melimpahkan warna kebahagiaan di layar, keceriaan buat anak-anak, tidak untuk dewasa. Ini film nostalgia, sekedar hiburan. Anak-anak bisa saja tepuk tangan keseruan, non fan boy fokus menghabiskan popcorn, tanpa tertidur saja sudah sebuah prestasi!

Rencananya mau nonton sama Hermione Budiyanto karena dia suka boneka. Di kamar ada banyak teman tidur: Ciprut Kodok, Tayo and Friends, Doraemon, Pinky Bear, Spongebob, Princess Elsa, Bernie, dan seterusnya. Tentu saja Pooh ada, boneka sejuta umat anak manusia. Jauh hari sudah antisipasi, tapi Rabu sore, 29 Agustus 2018 segala rencana buyar. Rencana lari sepulang kerja gagal. Rencana baca Jo’s Boys di ruang baca Priority gagal. Yang utama sekali rencana nonton bareng keluarga gagal, lebih karena Rizka, teman kerja beli online pakai MTix dapat free satu dan diskon di XXI Resinda Park Mall (RPM), karena waktu mepet bakda Magrib yah akhirnya cuzz sama teman-teman kantor. Rencana nanti nonton lagi sama keluarga, kalau bagus. Harapannya…

Christopher Robin, seperti yang sudah kita kenal, adalah karakter dalam cerita novel Winnie The Pooh karya Alan Alexander Milne. Awalnya sang veteran mau menulis kisah tentang perang, tapi saat pengasuhnya membeli boneka mainan untuk sang anak, ide kisah Beruang muncul. Buku yang muncul tahun 1920an itu meledak di pasaran, Milne akhirnya meletakkan draft kisah perangnya dan terus mengejar fantasi Pooh. Beliau memberi nama karakter pendamping sang beruang dengan nama putranya, mencoba menciptakan anak idaman di lembar-lembar buku daripada mewujudkan dalam dunia nyata. Sebuah legacy luar biasa, wajarnya itu sebuah penghargaan. Awalnya menyenangkan diajak berpose dengan anak-anak dengan menyuapkan madu, diminta tanda tangan dan seterusnya. Faktanya, Robin kena bully di sekolah. Menjadi terkenal, teman-temannya mengidolai karakter rekaan, Robin populer instan. Hal tersebut malah membuat muak, Robin mencoba keluar dari bayang-bayang Pooh hingga membencinya. Mencoba melepas image bocah lucu. “Ayahku menaiki punggung kecilku, ia mencuri nama baikku dan meninggalkanku tanpa hal lain kecuali ketenaran.” Ironisnya lagi, selepas ayahnya meninggal ia menolak royalti karya saking keselnya sama Pooh! Walau akhirnya setelah menikah ia kembali mengakrabi lagi sang beruang setelah memutuskan kembali ke Devon dengan kecimpung dunia buku. Hal yang otomatis membuatnya ‘bertemu’ Pooh lagi.

Itu yang ada di benakku ketika dengar sang Robin akan difilmkan, bagaimana kenyataan? Bisa dipastikan cerita film ini fiksi. Tak ada sangkut pautnya dengan Goodbye Christopher Robin yang rilis tahun lalu. Tidak mengadaptasi dari buku apapun, sebagian paling dinukil dari The Enchanted Place, tapi tetap Christopher Robin berdiri sendiri. Disney merombak segalanya. See…

Sejatinya kisah sungguh menarik sedari pembuka. Christopher Robin muda (Orton O’Brien) melakukan pesta perpisahan di hutan legendaris Hundred Acre Wood dengan teman-teman. Farewell dengan Piglet (voice by Nick Mohammed), Rabbit (Peter Capaldi), Eeyore (Brad Garrett), Kanga (Sophie Okonedo), Roo (Sara Sheen), Owl (Toby Jones), Tigger (Jim Cummings – aslinya audisi jatuh ke Chris O’Dowd tapi karena aksen British-nya kurang maka menit injury diganti) dan tentu saja Winnie The Pooh (juga disuarakan oleh Jim Cummings). Robin akan sekolah asrama jauh dari Sussex. Boneka ini tampak hidup, tampak meyakinkan sekali. Teknologi benar-benar mencipta hal-hal mustahil menjadi tampak mewah dan nyata, seolah bulu-bulu Pooh yang lembut bisa kita rasakan kepekaannya. Kalimat haru sebelum benar-benar berpisah, saat Robin nanti berusia 100 tahun, Pooh akan berusia berapa? 99 tahun. Hehe.. janji setia bilang ga akan melupakan Pooh. Adegan dialog ini jelas diambil langsung dari ending novel, Plek sama persis sebagai perpisahan A.A. Milne. Lalu judul utama muncul, diikuti cast and crew utama. Salah satunya muncul nama penulis skenario jaminan kualitas film-film anti mainstream (baca snob): Alex Ross Perry, orang yang menghantar kita dalam petualangan Queen of Earth, Golden Exits, Listen Up Phillip sampai Nostalgia.

Adegan berikutnya tak kalah keren. Bak membuka lembar-lembar novel kita disuguhi Bab demi bab, bagian pembuka bab yang biasanya bergambar untuk menarik minat tetap terlihat asli dalam goresan pena Ernest Shepard. Dari hari-hari sedih Robin menjadi yatim saat dengar kabar sang ayah meninggal, sayangnya slot cerita sang Penulis ga di-explore sama sekali, yah sebenarnya saya hanya ingin lihat Milne sebentar aja ga papa, sebentaaaaar saja, tapi ternyata ga ada dalam script. Berikutnya bab-bab singkat itu menggambarkan Christopher Robin Dewasa (Ewan McGregor) pertama bertemu Evelyn Robin (Hayley Atwell, secantik biasanya) di kendaraan umum, berangkat perang Dunia Kedua mengemban tugas, sampai akhirnya mereka memiliki seorang putri imut Madeline Robin (Bronte Carmichael).
Kini Robin bekerja di perusahaan koper. Punya atasan galak Giles Winslow Jr. (diperankan dengan konyol oleh saudara Holmes: Mark Gatiss), Perusahaan sedang kolaps dan butuh cost down. Pembiayaan dari berbagai sumber harus disunat, diskusi melucu dari 1%, 2%, sampai akhirnya harus 20%. Apesnya, biaya man power masuk daftar sehingga Robin yang bekerja sebagai manager efisiensi harus memecat karyawan demi stabilitas, memilah mana yang masih dan harus dibutuhkan siapa yang bisa dikeluarkan. Akhir pekan ini Robin harus tetap kerja, tetap ke kantor, demi perusahaan agar tetap bertahan. Mimpi itu tidak gratis, ada harga yang harus dibayar termasuk mengorbankan waktu kebersamaan keluarga. Kamu jadi perenang atau yang tenggelam?

Maka saat Robin menyampaikan hal ini, rencana liburan keluarga ke Sussex gagal, Evelyn kecewa, Madeline lebih kecewa lagi. Harus lembur di kala sudah menyusun waktu liburan itu emang ngeselin. “Apakah kertas kerja dalam tas lebih penting ketimbang keluarga?” Klise yak. Tetangganya yang annoying menambah rumit mengajak main kartu. Sebelum berangkat Madeline meletakkan gambar Pooh di meja yang pernah dibuat Robin waktu kecil, di sampingnya ada segelas madu. Karena tak awas, Robin tak mengaja menyenggolnya hingga tumpah. Dan ta-daaa… di dunia fantasi Hundred Acre Wood, di dimensi lain, di semesta imajiner. Di sebuah rumah pohon, Pooh kini (tampak) sudah dewasa, seakan masa hibernasi sudah selesai. Terbangun dan kebingungan mencari teman-temannya. Pooh menyeberangi sungai kecil sambil berteriak-teriak memanggil teman-temannya, tak ada. Lalu masuk ke pintu pohon, dan saat keluar ia berada di taman London, dunia yang sangat berbeda dengan hutan miliknya. Tertidur di kursi dua arah tepat di tengah taman.
Robin dengan payung dan kopernya pulang kerja mendapati tetangga mengetuk pintu rumahnya. Waduh, tampak mengganggu, Robin ngumpet dan duduk di kursi taman. Dan pada akhirnya sahabat lama ini bertemu. Pooh langsung mengenali Robin sekalipun sekarang sudah dewasa dan tinggi. Robin shock, Pooh hidup dan berada di London!!! Pintu pohonnya pun sudah menghilang. Pertemuan mengejutkan, mereka harus segera ditutup karena tetangga muncul, Robin memasukkan Pooh ke dalam baju dan mengaku sebagai kucing penyakitan agar bisa segera pergi dan tak diganggu. Banyak tanya, banyak cerita dua sahabat ini. Apa yang terjadi selama ini. Pooh mencari teman-temannya, Robin sudah dewasa, sekarang pikirannya sudah lebih ke logika. Semua masa lalu mereka hanya bayang dan jauh dari realita.

Madu yang tumpah di meja disikat Pooh. Rakus dan tampak menggemaskan. Robin ngomel ga jelas, rumah berantakan, madu bertaburan di mana-mana. Puncaknya, Pooh mencipta dapur bak kapal pecah gara-gara rak roboh dipanjat yang dikiranya tangga. Saat itulah, ting! Robin memutuskan ke Sussex, menyusul anak istri dan mengembalikan Pooh untuk menemukan kembali teman-temannya.

Perjalanan-pun sungguh lucu. Di stasiun, Pooh ingin balon. Merah seperti yang sudah sering kita lihat tentu saja. Beli tiket, Pooh kebawa anak kecil, dicari dalam kerumunan hingga pas kereta berangkat mereka sudah di dalam, balon-nya terjepit di pintu sepanjang perjalanan. Di tempat duduk, Pooh menyebut setiap benda yang terlihat dari jendela. Rumah. Pohon. Sapi. Kambing. Robin yang butuh konsentrasi dengan kertas kerja di meja, meminta Pooh memelankan suara. Sudah lebih pelan, tapi tetap mengganggu. Meminta lebih pelan lagi. Pooh suka bermain. “I am playing a game. It’s called “Say Waht You See”’ Hufh… gemes kan!? Sungguh dunia memang sebuah lingkaran kehidupan yang berulang. Anak kecil hanya dengan balon sudah bahagia, hanya makan es cream sudah wow, hanya melihat hal-hal sederhana dan bermain sudah sumringah, hal-hal remeh itu akan memudar seiring waktu. Kita semua pernah mengalami, hal yang dahulu terasa penting kini seolah sekedar angin lewat. Maka dewasa kebahagiaan seharusnya tak melulu dengan tolok ukur jumlah dan pencapaian materi, lihat sekeliling banyak hal bagus berlangsung yang harus disyukuri.

Sesampai di Sussex, Robin melihat anak istri dari luar rumah. Mereka adalah segalanya. Lebih penting dari pekerjaan? Tentu. Saat di depan rumah pohon, Pooh diminta kembali masuk dan segera say goodbye. Berkali-kali. Namun, seakan ada bunyi ‘ting’ lagi di kepala. Robin memutuskan ikut masuk ke dimensi lain. Dirinya kini sudah dewasa, sehingga kesulitan. Dan akhirnya, ta-daa… Welcome back to Hundred Acre Wood, Robin. Kini hutan mereka ga secerah dulu. Berkabut, tampak suram, tampak samar. Pooh selalu gembira, “It’s always a sunny day, when Christopher Robin comes to play.” Lokasi syuting Hundred Acre Wood benar-benar dibuat di Ashdown Forest, tempat yang menjadi ilham sang Penulis atau sekarang disebut Windsor Great Park.

Ada banyak adegan menggemaskan berikutnya. Setiap Pooh yang polos ngomong pengen cubit. Tigger yang sok tahu, yang kaget dan marah melihat bayangannya di air. Piglet yang mengkhawatirkan buah eks, Owl yang bijak sampai Eeyore yang sayu, slow, woles. Semua boneka rasanya kolektivable. Nah di tempat asing, di masa kecilnya inilah Robin mencoba menelaah, membantu Pooh menemukan teman-temannya sementara ia sendiri harus memecat karyawan, mengejar deadline. Tak perlu kutanya apakah akhirnya para sahabat akan muncul, karena jelas pasti terjadi pertemuan nostalgia. Melawan musuh bebuyutan Heffalump dengan gaya kocak, walau hanya akting dengan pura-pura kelahi, tentu saja Piglet yang paling was-was ceriwis menganalisis. Setelah reuni yang hangat ini, Robin harus segera kembali ke London. Drama aslinya ada di sini, akibat ulah Tigger, koper berisi kertas kerjaan tertinggal. Pooh dkk mencoba membantu, bersama Madeline mereka bergegas ke London. Misi ‘expedition’ yang Pooh salah ucap ‘exposition’. Naik sepeda mini berisi gerobak, naik kereta api, menumpang mobil boks. Hal-hal konyol yang akan membuat tawa anak-anak, yah mungkin jua remaja. Berhasilkah mereka menyelamatkan hari? Senin pagi memang tampak selalu menyebalkan, tapi Woozle jelas jauh lebih menyebalkan.

Terus terang, bagiku mengecewakan. Drama keluarga yang sudah banyak dibuat, kisah fantasi yang diharapkan menghadir imaji liar tak terwujud. Alurnya bergegas, seolah durasi satu setengah jam lebih yang diberi kurang lama. Para karakter ngos-ngosan, penonton menguap ingin selekas sampai. Nilai utama film ini ada di para karakter lucu yang paling mengena ucapan Eeyore: “Hello Evelyn my wife!” membuat seisi geeer dalam tawa, lupakan cerita karena Christopher Robin lebih kepada film hiburan keluarga. Niatan nonton ulang langsung saya coret sekalipun Hermione merengek. Untungnya kemudian film Sherina Munaf rilis sehingga bisa dislemur. Hufh…

Menurut Rani Skom – Menurut aku lucu, lucunya ngemesin si Pooh-nya, binatang-binatangnya, tapi dari awal itu saya sempat nanya ya, itu tuh beru.. boneka apa hewan? Cuman kalau untuk konfliknya terlalu standar ya. Konflik keluarga itu ya sudah banyak banget dibahas apalagi tentang masalah pekerjaan yang mengorbankan keluarga, itu tuh pada akhirnya pasti keluarga, kayaknya terlalu lumrah. Cuman untuk masalah cute, visualisasi itu OK. Skor: 3.5/5

Menurut Rizka Nov. – Idem sama Bu Rani, haha… filmnya lucu, Cuma visualisasinya gambarnya bagus errgghh… ceritanya standar ada satu ini sih ya, pas Pooh ngeliat, ngeliat Pooh-nya itu kakinya keliatan. Ininya, gariiis yang menunjukkan dia boneka itu kelihatan. Yaa.. udah sih gitu aja. Skor: 4/8

Menurut Intano. – Entar dulu aku lagi makan, hehe… Aku emang suka banget sama Pooh dari dulu, suka banget. Kalau mau ngecek di kamar juga ada, boneka Pooh teman bobo aku. Trus, errgh.. mungkin aku eerghh… ih aku… emang sih konfliknya ga terlalu, ga terlalu bagus. Maksudnya eerggrr.. kurang greget tapi, karena filmnya kan buat semua umur jadi ya sebenarnya bisa inspiring dah dapet sih untuk kartegori semua umur ya. Seru banget, lucu, gemesin, apalagi Pooh-nya yang polos banget. Habis itu Tigger-nya yang ga mau diem, Piglet-nya yang depresif banget, Eeyore yang sama-sama depresi juga. Eh enggak-enggak Piglet itu ga depresi, Piglet itu pencemas. Seru banget konfliknya dapet banget, seru, lucu, eerhhgg… kalau aku sih skor: 4.25/5

Ketika film selesai jangan langsung cus keluar, ada pesan moral dalam lagu. Doing nothing often leads to the very best kind of something. Karyawan-karyawan Mr Winslow Luggages sedang di pantai bersama Pooh dkk dengan iringan piano dan nyanyian ceria Richard M. Sherman: “Busy Doing Nothing.” Nah, berarti tindakan Patrick Stars berdiri dari pagi sampai sore di perempatan jalan menunggu Spongebob Squarepants pulang kerja itu tak sebodoh yang kalian kira, menunggu diam berdiri dengan muka polos: ‘Doing Nothing’ Dalam film bisa kita lihat saat Pooh bilang, ‘Saya memikirkanmu setiap hari.’

Oh I am Tigger! Ti-doubleG-er. “What day is this? It’s today.”

Christopher Robin | Year 2018 | Directed by: Marc Forster | Screenplay Alex Ross Perry, Tom McCarthy, Allison Schroeder | Story Greg Brooker, Mark Steven Johnson | Based on characters created by A.A. Milne, Ernest Shepard | Cast Ewan McGregor, Hayley Atwell, Bronte Carmichael, Mark Gatiss, Jim Cummings, Toby Jones | Skor: 3/5

Karawang, 3008 – 140918 – Bee Gees – How Deep Is Your Love

Rose Madder – Stephen King

Rose Madder – Stephen King

Kisah istri yang kabur dari rumah memperjuangkan hak hidup dari suami psikopat, sekalipun nyawa pertaruhannya.

Namanya Norman Daniels, dia suamiku seorang detektif polisi dan gila.”

Butuh perjuangan ekstra untuk menuntaskan 750 halaman, dua bulan, di antaranya malah menyelesaikan banyak baca buku lain. hehe… Padahal buku pinjam Bus Taka Taman Galuh Mas, buku pinjaman biasanya kebut dan prioritas biar segera balik. Namun Rose ternyata lebih lama dari rencana. Bisa jadi ini adalah buku Stephen King pertama yang kutuntaskan, setelah senyap maju mundur Night Shift seri satu dan dua yang ga tuntas. Kumpulan cerpen yang sebenarnya menarik tapi memang mood horor sedang down. Rose walau ada horror-nya, dominan drama keluarga yang sangat asyik diikuti, misteri pembunuhan, fantasi seru serta bumbu misteri terus mengelayut, setiap lembarnya memberi tanya penasaran nasib para jagoan. Bagaimana setitik noda darah di seprai memicu rangkaian kisah panjang, merentang sangat panjang dalam kejar tangkap Tom & Jerry. Aku tangkap, atau kau memperangkapku. Uniknya, mereka adalah pasangan suami istri yang masih sah, sudah belasan tahun menikah. Detail kenapa, kok bisa, dan segala kerumitan rumah tangga pematiknya menjadi magnet baca luar biasa karena dituturkan dengan bagus, sangat bagus malah.

Kisah bermula dari Rose McClendon Daniels yang pada titik entah apa, duduk di kursi Pooh menatap aneh setitik darah di kasur. Ia adalah istri yang teraniaya, menikahi Norman Daniels, seorang polisi gila yang suka kekerasan. Mengidap penyakit sadism, di mana ia akan merasakan kepuasan melihat pasangan terluka, teraniaya. Menggigit kuku hingga berdarah, menyiksa diri demi kepuasan. Maka pagi itu, ketika suami bekerja menjalankan rutinitas, Rose bebebres rumah menyaksikan noda darah, ada klik di kepalanya bahwa darah itu bisa jadi bukan yang terakhir, suatu saat Norman akan lebih gila, tak terkontrol, yang bisa saja membuatnya tewas. Pernah ia keguguran bayi pertama karena aniaya, telpon bantuan ambulan dan Rose diminta bahwa itu kecelakaan. Bayi yang rencana diberi nama Caroline, keguguran karena pukulan emosi tak jelas. Walau tidak setiap saat Norman ingin memukul, kalau dilogika kenapa, orang sakit gitu cuma bergumam, ya pukul karena memang seharusnya begitu. Dan setelah menikah empat belas tahun penuh derita, terpenjara sepi karena terputus dunia luar dan menghamba tanpa perlawanan, Rose McClendon memutuskan kabur. “Aku pergi. Aku akan benar-benar pergi.” Tanpa banyak bawa barang, dengan kartu ATM dan tekad baja demi masa depan yang lebih menantang dan menjanjikan. Karena ia tak pernah melihat dunia luar lama, rasanya aneh sekali. Seperti anak ayam yang pertama dilepas ke dunia luar, setelah lama disuapi induk. Tanpa tujuan pasti, tanpa sanak family (orang tua dan saudaranya digambarkan tewas kecelakaan, awalnya kukira Norman punya andil di bencana ini tapi tidak, kecelakaan itu lebih pada takdir apes mereka) dan tanpa petunjuk jelas akan ke mana, ia naik taksi ke terminal. Mengambil uang secukupnya, beli tiket asal, tanya petugas bantu, maka perjalanan panjang-pun terjadi. Perjalanan entah ngapain, entah ke mana, yang jelas melarikan diri dari rumah.

Norman shock, tak menduga istrinya berani mengambil langkah berani ini. Sebagai polisi teladan, terlatih untuk memburu. Ia menyelidiki banyak kemungkinan ke arah mana. Kita diajak mendalami pikirannya, mengambil sudut pandang merasuki kegilaan dalam otaknya. Sering ngobrol sendiri, sering berdebat dalam kepala, bahkan suara almarhum ayahnya sering ikut diskusi. Ciri khas seorang imajiner nih, mengingatkan pada 24 wajah Billy dimana ia memiliki kepribadian multi. Ketika front miring, rasanya muak menjadi Norman. Bagaimana keji dan skeptisnya hidup, betapa ia dengan perilaku abmoral-nya. Darah, saya butuh pemandangan darah! Demi kelangsungan penyelidikan masalah keluarga ini, ia ambil cuti panjang. Lalu kita mengambil perspektif-nya melakukan deduksi, menjelma dalam sukma dan berandai berada dalam jiwa sang istri. Penyelidikan yang efektif, dijelaskan dengan mengagumkan. Mengambil keputusan tepat, sampai akhirnya ada dalam satu kota dengan Rose. Sampai di sini kita tahu, otak Norman encer, pintar analisis dan bisa memikirkan langkah lebih ke depan dengan segala resiko dan akibat.

Rosie sendiri diceritakan menemukan kehidupan baru yang seru dan menyenangkan, terlihat ia beruntung. Hal-hal yang ia pilih langkah terasa benar terus – tepat dan dinaungi orang-orang baik. Diarahkan oleh Peter Slowik, pekerja sukarela Travel Aid ke rumah penampungan wanita yang butuh bantuan Daughers and Sisters (D&S) di 251 Durham Avenue, yang ternyata pemiliknya adalah mantan istrinya. Terlihat aneh, pasangan yang sama-sama peduli sesama, jiwa sosial tinggi namun tak bisa langgeng sehingga bercerai. Berkenalan dengan teman-teman baru, bertemu Anna Stevenson menjelma menjadi dewi penolong, menjadi pramusaji paruh waktu sampai ia nantinya sudah mandiri. Benar-benar rumah panti sosial yang keren. Mandiri serta efektif, walau di dunia luar dikira rumah lesbi dan bernada miring, tapi jelas kalau benar ya ga perlu dengerin omongan orang lain.

Ketika di toko gadai Liberty City Loan and Pawn ia iseng menanyakan apakah cincin nikahnya emas asli ataukah imitasi, ia tak terkejut bahwa itu tak murni. Berarti suaminya bohong, saat ditanya harga beli dulu pas mau nikah mengaku setara mobil baru. Maka harga 50 dolar yang ditawarkan sang penjual Abe Steiner terlihat wajar, awalnya tak mau menjual dengan harga serendah itu tapi pikiran itu langsung berubah saat tak sengaja melihat lukisan, tergeletak seakan tak laku karena jarang disentuh. Ia sedang tak berminat pada seni, entah seni rupa atau apalah, jadi ketika ia berhenti berjalan demi lukisan, itu sungguh luar biasa. Seolah-olah bukan dirinya yang melihat lukisan itu, setidaknya saat pertama itu. Seolah-olah lukisan itulah yang melihat dirinya. Maka tak terjadi transaksi jual beli, tapi barter – tukar barang, harganya 75 dolar basa basi terjadi deal jua tanpa ada yang keluar uang. Cincin nikah ditukar dengan lukisan misterius seorang perempuan berbaju ungu yang menghadap reruntuhan kuil dengan pemandangan alam, sungainya bahkan seakan mengalir kalau ditatap lama penuh khayal. Lukisan dengan bingkai kayu ukuran panjang dua kali tiga kaki disandarkan pada jam dinding mati dan patung anak telanjang di ujung jalan. Perempuan yang terlihat punggung itu memang sudah terlihat tak wajar, dan pertukaran itu semakin mengejutkan karena sang pelukis tak mencantumkan namanya, hanya bertulis Rose Madder di balik bingkai. Kebetulan langka, seolah lukisan itu memang berjodoh dengan Rosie McClendon. Dari sinilah judul buku ini diambil. Rose Madder – Wanita Dalam Lukisan. “Ini lukisan cat minyak asli, bukan foto.

Kehidupan Rosie berubah banyak setelah berkenalan dengan anak penjualnya, Bill Steiner melayani dengan gugup karena jatuh hati pada pandangan pertama, yang suatu hari mengajakanya jalan. Awalnya makan malam biasa, lalu dengan Harley Davidson nya berlanjut mengajak piknik di Sabtu pagi ke Shoreland, State Highway 27. Dengan mudah bisa kita tebak mereka akan berlanjut kencan. Rosie setelah mandiri memang merubah penampilan, berdandan, merubah warna rambut, memandang hidup dengan optimisme, mendapatkan pekerjaan sebagai pembaca audio novel-novel atas rekomendasi Rob Leffers yang ditemuinya secara tak sengaja, diminta membacakan beberapa penggalan buku dan langsung tertarik, uji coba di studio, memikat di hari pertama sehingga langsung disodori kontrak, dengan gaji yang membuatnya bungah, tak diduganya, suaranya dinilai mahal. “Katanya suaramu suara paling bagus setelah Kathy Bates membacakan Silence of the Lambs.” Dan novel-novel klasik-pun disebutkan, dipenggal kalimat-kalimatnya, sungguh menyenangkan saat buku-buku favorit dibaca ulang dan digulir penuh keceriaan. Lihat, betapa beruntung dan asyiknya hidup bagi orang-orang pasca dianiaya, jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha wahai manusia! Akhirnya Rosie punya kehidupan yang patut disyukuri, mendapat teman-teman luar biasa, pekerjaan menyenangkan, serta kehidupan baru yang bahkan tak berani dipikirkannya ketika mendekam menjadi ibu rumah tangga. Namun King tentu saja tak akan tinggal diam akan kisah datar semacam itu. Norman marah, kecewa dan memburu dengan segala cara.

Korban pertama adalah pemuda apes yang menemukan kartu ATM di tong sampah. Kemudian korban tewas pertama adalah mantan suami Anna, Peter Slowik dibunuh dengan sadis di bawah lantai sebuah rumah. Berikutnya dalam pemburuan, mengendus bak kucing liar penuh nafsu, Norman mengarah ke rumah D & S. Pamela si pirang, menjadi korban juga. Bahkan akhirnya termasuk sang pemilik D & S bernasib tragis. Saat Rosie tahu korbannya dibunuh dengan cara ia tahu pula Norman tak akan tinggal diam, akan memburunya.

D & S berencana mengadakan bazar di Sabtu pagi, wahana ala Sekaten sampai konser amal di malam hari. Rosie berencana tetap menghadirinya selepas piknik dengan Bill. Norman yang melihat brosur acara saat makan siang, mengendus inilah saatnya menemukan istrinya. Mencukur habis rambutnya, mencuri mobil di bandara untuk transpotasi, membeli kursi roda dan peralatan pura-pura sakit demi memantau bazar. Dan meledaklah pertikaian di sana. Suami-vs-istri dalam kisah penuh darah, siapa yang berhasil bertahan hidup?

Cerita sejatinya adalah lukisan yang hidup. Lukisan Rose Madder tersebut mengeluarkan jangkrik hidup dan bernyanyi di kala malam. Lalu saat Rosie antara sadar dan pikiran melayang, berhasil masuk ke dalamnya. Bertemu Rose Madder, perempuan lain yang meminta tolong untuk mengambilkan bayi di dalam kuil banteng, dan misi rumit di dalamnya. Ia harus telanjang, demi kemurnian dan saat terbangun diluarduga, ia telanjang. Gelang yang ada dalam lukisan sudah berpindah tangan, sehingga malam itu yang dikira hanya mimpi menjadi menakutkan, ini bukan khayalan sobat. Di sinilah saya mulai membuncah, inilah King yang kita kenal. Eksekusi jelang edingnya sendiri lebih nendang, lebih seru dimana pertarungan hidup mati, adu cerdik dan ketangkasan terjadi dalam lukisan, pertaruhan malaikat dan setan. “Kalau kau berusaha membalas dendam, akan kupermak penampilanmu.”

Hanya sayangnya, happy ending. Keseruan berlembar-lembar itu menjadi hambar karena menjadi kisah Cinderella yang menemukan sepatunya, berbonus pangeran tampan. King tak mau berspekulasi untuk menamatkan karakter penting yang disukai pembaca. Sesaat setelah perjalan panjang di alam fantasi, kita malah disodori banyak hal klise tentang cairan penghilang ingatan, kisah rubah filsuf sampai ke pohon kematian. Sayang sekali, walau tetap secara keseluhan memuaskan. Rose Madder hanya nyaris, ya nyaris sempurna. Sedikit terpeleset saja.

Kisah-kisah King rasanya tinggal tunggu waktu pas untuk kuburu, dan Rose Madder sekadar pembuka. Ayo kejutkan kami!

I am really Rosie | And I am Rosie Real | You better believe me, I am a great big deal… – Maurice Sendak

A bloody egg yolk. A burnt hole spreading in a sheet. An enrage rose threating to bloom. – May Swenson

Rose Madder | by Stephen King | copyright 1995 | Published by agreement with the author c/o Ralph M. Viciananza Ltd | diterjemahkan menjadi Wanita Dalam Lukisan | alih bahasa Tanti Lesmana | GM 402.07.015 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Juli 2007 | 768 hlm.; 18 cm | ISBN-10: 979-22-2705-9 | ISBN-13: 978-979-22-2705-5 | Skor: 4.5/5

Untuk Joan Marks

Karawang, 133918 – Andra & The Backbone – Tak Ada Yang Bisa

Terima kasih Perpustakaan Bus Taka Taman Galuh Mas, Karawang