Ibu Susu – Rio Johan

Ibu Susu – Rio Johan

Istigfar BUD

Tidak ada penyembuh yang lebih mujarab selain keinginan untuk sembuh. Kalau keinginan untuk sembuh itu sendiri sudah tidak ada, tidak akan ada obat yang bisa mujarab.”

Tapi hukum adalah hukum dan kedaulatan adalah kedaulatan. Astaga, mengecewakan. Jelex sekali. Plotnya tak bergerak, dua ratus halaman disiksa. Cerita lempeng aja kek jalan tol. Benar-benar kisah sederhana. Pamer kosa kata aneh-aneh, deben, teringa-inga, ancala, sempena, lekit, leta, dan seterusnya, kamu ga otomatis hebat ketika kamu menyebut kata-kata asing – apa kabar Cinta Laura? Kamu ga otomatis dewa ketika kamu nyebut berpuluh-puluh kali Ra, Maat, Neferura, Hathor, Thor, dan seterusnya. Sungguh menyebalkan membaca buku jelex yang masuk penghargaan prestis. Macam lihat film snob dengan scene dinding kamera menyorot dari jauh, dan lama merenung hingga bermenit-menit tanpa dialog tanpa gerak lalu tiba-tiba juri Oscar teriak: kereeeen! Paan, cerita woy cerita. Mengejutkanku, Ibu Susu masuk 10 Besar Kusala Sastra, serta semalam baru saja kulihat masuk jua dalam Karya Pertama atau Kedua. Bencana kalau buku ini menang best Prosa.

Tiada perlu gentar dengan gelegar kereta kuda, sebab kita punya kereta tempur sendiri, tiada perlu gentar dengan serbuan tiba-tiba sebab kita punya seligi dan perisai sendiri.” Segalanya harus berjalan sesuai dengan yang telah dia rencanakan. Dan Firaun Theb sudah siap apa pun risikonya.

Ceritanya hanya berkutat di drama keluarga Firaun. Istrinya, Meth ga bisa memberi air susu yang melimpah kepada sang putra bayi Sem, calon penerus raja. Hingga akhirnya sang pangeran sakit. “Sebagaimana yang Firaunku tahu, ada tiga macam penyakit: yang bisa disembuhkan, yang merupakan ujian dewa-dewi, dan yang sama sekali tandus akan harapan, bahwa penyakit Pangeran Sem masuk dalam golongan terakhir.” Ibu susu langganan didakwa bersalah, diadili memberi susu basi beracun makanya langsung dikucilkan. Melalui mimpi-mimpi yang berkepanjangan, yang di sini diartikan sebagai petunjuk. Mimpi raja adalah wahyu, mimpi jelata adalah sampah. Yah kira-kira gitulah. Kita diajak bersafari ria bertemu para ahli nujum, ahli hisap, penafsir mimpi, para peramal sampai hal-hal remeh temeh yang diujar orang pandai dimensi lain untuk mengartikannya. Para penafsir yang ngegambleh miring, dihukum berat, para peramal negatif dibui, para ahli yang memprediksi buruk, diturunkan jabatan. Salah satunya ternyata sang raja diminta melakukan audisi ibu susu, terbuka untuk umum. Untuk semua kalangan, dari babu sampai sangkilat. Dari istri petani sampai emak-emak pasar. “Saya mau ibu susu bagi bayi saya mengabdikan seluruh dirinya, Firaunku, bukan hanya air susunya.”

Gelap matamu melakabkan langit malam, karam-kempisnya melekukkan rembang jumantara.” Kisahnya ngulik terus di istana, ga gerak, ga beranjak. Monoton. “Kau tahu Nak kuda Nil lebih cepat dan lebih bertenaga daripada manusia, rahangnya terutama yang paling berbahaya…” Firaun yang kita kenal keras, tegas, kuat dan sangat berkuasa itu punya sisi lemah, jelas ia juga manusia biasa. Sisi takut, akan kesehatan anaknya sang penerus. Firaun Theb menamai putranya Semermaat, Putra Ra. Handai Maat, sang Hakikat Adalat. Pangeran Sem, putranya. Sekarang semua itu mimpi belaka, pikir Meth.
Terpujilah Firaunku. Penguasa dua negeri, terlimpahilah dan jerahilah kehidupan, kewibawaan dan keberlanjutan kejayaannya. O titisan adiluhur Ra, termuliakanlah napasnya dan napas keturunan-keturunannya.

Dan tersebutlah seorang gembel yang disini ditokohi Perempuan Iksa. “Dia orang paling papa di antara orang papa. Dia orang paling hina di antara orang paling hina. Dia orang paling pesakitan di antara orang pesakitan. Dia makhluk lain yang lebih rendah dari manusia.” Sang gadis meminta tiga, tak lebih dari tiga agar ia menjadi ibu susu. Karena titahnya sudah turun, ketiga permintaan itu (akan) diturut. Yang pertama, sungguh panjang daftarnya. Mengahbiskan tiga lembar deret benda dengan satuan asing. Tak banyak yang hamba minta, hamba berkenan menjadi ibu susu untuk pangeran sebagaimana yang telah diperhitungkan dan diramalkan para juru dan pakar jika dan hanya jika curahan dalam kantong susu hamba disebabkan oleh sempena Yang Mulia Firaun sendiri. Akan hamba abdikan seluruh kandungan kantung susu hamba pada Panegran Sem dengan jaminan kekuasaan hakiki, mutlak dan penuh atas wilayah Kheta yang dijajah.

Penetapan peningkatan pajak sudah bulat, dan Firaun Theb tidak bersedia mengangkat persoalan ini pada mahkamah harian.”
Karena sang perempuan Iksa masih gadis, maka siapa yang mau bergaul dengan manusia penyakitan gitu? Menyentuh saja pada ogah, gembel yang perlu dikasiani. Cukup. Biar saya yang sudah berpusing ria membaca muter-muter dalam pusaran melelahkan, singkat cerita (nah kalian beruntun saya skip-kan kisah) Perempuan Iksa hamil dan melahirkan bayi laki-laki. Sang bayi disingkirkan, diberi ibu susu kepada orang lain, Perempuan Iksa dijadikan ibu susu sang Pangeran Sem. Susunya yang melimpah sukses menyembuhkan, sementara… Begitu saja? Belum, kan saya belum cerita dua permintaannya lagi? Sayangnya, merasa sang Perempuan tak dihargai, ia dipisahkan dengan anak pertamanya, susu yang keluar juga mulai sedikit, ia ‘melakukan protes’ hingga akhirnya tindakan tegas harus dilakukan. Bagaimana akhirnya nasib sang gembel? Berhasil kembali sehatkah sang pangeran setelah segala pengorban ini? “Boleh jadi perempuan itu memang betul-betul harapan yang diramalkan untuk Pangeran Sem.”

Lha kok ditutup. Udah… segini saja ulasannya. Kalau baca buku ga bagus, antusiasme nulis review jua ikut drop. Ibarat beli barang, barangnya rijek, siapa yang ga sedih? Ibarat beli apel, apelnya busuk. Padahal penjualnya sudah bilang, ‘ini barang kualitet terjamin bos.’ Kalau penasaran dua lagi permintaan gadis Iksa, ya silakan baca sendiri. Kok malah kamu suruh baca sendiri sih, kalau kamu bilang jelex. Yah, siapa tahu kamu bisa ambil sudut lain yang lebih OK. Yang pasti, dari persepsi saya Ibu Susu gagal memuaskan dahaga. Kandidat terburuk – sejauh ini sudah baca 9, tinggal Sang Raja yang saat ini kukejar – sektor prosa. Novel sejarah memang laiknya ditulis oleh mereka yang paham nan ahli sejarah sahaja. Mending kita cerita kehidupan kehidupan sekitar kita. Sejatinya Rijon sudah berujar di ‘Ucapan Terima Kasih’ bahwa “Saya merasa tidak bisa menulis fiksi sejarah; yang saya maksud dengan fiksi sejarah di sini adalah fiksi yang bertujuan untuk memaparkan sejarah, fakta sejarah dengan benar, tepat, lurus, tidak menikung sana-sini… cerita ini murni fiksi.” Nah! Jelas sekarang, ketimbang saya ulas panjang lebar, harusnya saya cukup nulis paragraf ini saja, sudah cukup. Lha, sang Penulisnya sendiri saja sudah bilang TIDAK BISA, lalu kenapa dipaksakan? Tentu saja korbannya adalah pembaca jua ‘kan?! “Semuanya akan baik-baik saja.” Adalah kalimat yang sering diucapkan dalam kisah. Ahhh… baik-baik saja apanya?! Oh Ra yang agung. Kuserahkan tanganku padamu sebagaimana Anubis.

Guratkan juga isi papyrus tersebut pada makamku.”

Salut buat editor, penyunting, proof reader,dan orang-orang dibaliknya. Satu-satunya peningkatan dari Aksara Amanapatuh adalah nyaris ga kutemui typo, Aksara ada ratusan salah ketik ngeri, tata letaknya ancur. Buku kedua ini, lebih rapi dan terstruktur. Salut jua bagian ilustrasi, gambar-gambarnya cukup mewakili.

Kalau saya bilang Aksara saja overated, bagaimana dengan ini? Aksara tema lebih beragam, cerita lebih variatif dan kita diajak berkeliling, melalangbuana. Jelas Ibu susu drop, degradasi kualitas, remuk redam. Susunya basi, silakan coba lagi.

Dah gitu saja, istigfar BUD.

Ibu Susu | Oleh Rio Johan | KPG 591701413 | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | Cetakan pertama, Oktober 2017 | Penyunting Christina M. Udiani | Perancang sampul Iqbal Asaputra | Ilustrasi isi Iqbal Asaputra | Penataletak Landi A. Handwiko | vi + 202 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-424-692-1 | Skor: 2/5

Penulisan karya ini didukung oleh Program Residensi Penulis 2016, Komite Buku Nasional

Karawang, 270918 – Sherina Munaf – Geregetan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s