Gerimis di Kuta – Wendoko

Gerimis di Kuta – Wendoko

Apa boleh buat. Kita adalah produk kapitalisme yang tak punya hati nurani. Kita sudah terperangkap banyak hal: status sosial, pekerjaan, rumah dan apartemen.”

Foto yang baik adalah foto yang bercerita. Di semua cerpen ada gambar dengan nuansa gelap. Laiknya di kover, gelap dengan sapuan putih yang acak. Kalian akan temui gambar-gambar tersebut tersebar dalam halaman. Karena saya bukan penikmat seni gambar, ya saya sepintas lihat tanpa memandang penuh makna laiknya menikmati lukis Da Vinci.

Tak heran bukunya tipis, semua cerita pendek memang benar-benar pendek. Delapan diantaranya sudah terpublis di media masa, dua cerpen terakhir baru.

#1. Cerita Di Malam Natal
Dengan setting London, sebuah pencarian kerabat di tengah badai salju. Steve dan adiknya Nancy yang baru saja menjadi piatu diwasiatkan untuk bertemu Bibi Rose. Berasal dari kota Bristol mereka hanya berbekal alamat dari surat. Bibi sudah pindah, bibi sudah ga di sini lagi. Dengan menyedihkan berdua menelusur kota terbesar di dunia ini. Dengan narasi, aku adalah seorang pengarang kita seperti didongengkan. Sekarang cerita ini apakah sudah bisa disebut ‘cerita’?

#2. Surat Giovanni untuk Liliana, Surat Liliana untuk Giovanni
Cerita dua arah dalam skenario film, Ermanno Olmi. Gio yang bercerita dalam perantauan menulis surat untuk kekasihnya. Bekerja di kilang minyak yang jauh dan terpencil. Merindu dan ingin ketemu. Lili lebih praktis, jarang membalasi surat, tapi tetap tersentuh walau meragu. Total ada 10 surat yang digores tanpa emosi. Lalu kenangan itu muncul. Kenangan akan perempuan itu.

#3. Kafe
Ini kopi konsentrat, yang didapat dengan menyeburkan air panas. Hasilnya cairan mirip sirop yang kental. Larutan yang lebih padat dan crema, yaitu busa coklat kemerahan yang mengambang di permukaan.”

Bisa jadi ini cerpen terbaik. Sudut pandang dan permainan waktu dan bagaimana eksekusi ambigu, sarat analis dituturkan. Kafe menjadi setting utama, dan nantinya akan sering dipakai. Terkait jaket yang tertinggal, terhubung mainan yoyo yang terbawa. Merentang 12 tahun untuk menyadari ada yang janggal, 20 menit yang terlewat tanpa tahu mengapa hal-hal sederhana di sekeliling kita nyatanya tak sesederhana yang tampak.

#4. Kafe, Impresi
Kafe adalah tempat pemberhentian. Banyak hal terjadi semasa interaksi, terselubung kenangan. Ada yang bergerombol, ada yang sendiri, ada membaca buku, ada yang main HP, ada yang membuncah ceria bertemu teman lama, ada yang biasa saja. Semua tergambar dalam potongan-potongan dialog yang bagus. “Di jantung kapitalisme ini apapun keinginanmu bisa kau cari. Kita mungkin punya banyak relasi atau rekan. Tapi percayalah, tak ada yang benar-benar memiliki teman atau kekasih.” Aku lalu teringat film My Blueberry Night. Entah kapan sebetulnya aku menonton film itu. Wah, idem. Saya juga lupa kapan, padahal itu film unik.

#5. Afrodit
Misteri perempuan bernama Eta. Kisah selingkuh yang hinggap di kepala tanpa bisa melepas kenangan. Berkenalan dengan unik, bercengkerama dengan syahdu, bercinta dalam nafsu. Sang Aku mencari jejak-jejak yang hilang, menghubungkan kemungkinan satu dan yang lain serta beberapa (atau kebanyakan) manusia memang egoistis. Kalimat mantra yang menjadi kenyataan. “Kau akan teringat usapan ini, ruang ini, cermin itu… namaku Eta!”

#6. Gerimis di Kuta
Bukan yang terbaik, bukan pula yang terburuk. Biasa banget. Gerimis, senja, pelangi, sampai hal-hal kejadian alam yang selalu menarik, yang terlampau sering disebut dan digunjingkan para pengarang. Gerimis, kafe, malam larut, Bali. Adalah Naomi penggerak kisah dalam kegelapan pekat. Mirip sama kisah Afrodit, ini mengenang kenang. Naomi adalah Eta yang lain, template pematung menjadi pelukis. Sama-sama tak datang setelah bertahun menghabiskan waktu bersama dengan singkat, mereka terpisah. Hanya saja di ending Gerimis kita punya harapan, punya rencana cadangan bernama Luna. Ah… andai hidup bisa dimodifikasi laiknya fiksi. “Aku tak percaya pada hubungan intens. Jika kau percaya, kau sedang bersiap-siap untuk kecewa.”

#7. Jendela dan Sore yang Gerimis
Kisah paling datar. Lempeng saja tanpa isentuhan emosi, tanpa konflik sama sekali. Lia adalah anak sekolah yang obsesif terhadap kisah-kisah legendaris. Kisah-kisah H.C Andersen, Aladdin, Lion King, Little Mermaid, Beauty and the Beast dan seterusnya. Anak horang kaya yang memiliki koleksi novel bergambar, tentunya dicetak berwarna, kertas luks dengan hard kover menyelimuti. Sore itu seharusnya ia akan bermain dengan temannya, gerimis membuatnya tertahan. Dah gitu doang, syukur kedua orang tuanya akur. Lantas apa yang menarik dari cerita pamer kebahagiaan semacam ini?

#8. Bulan Merah
Jangan nyalakan lampu, Lia. Kau tahu mataku tidak tahan dengan cahaya yang terlalu terang. Lia yang bertemu Ling di malam gelap dalam kamar. Ling yang bermain kursi goyang. Kita dengan mudah menebak Ling adalah hantu, kenapa? Karena dialog Lia adalah kalimat langsung dengan tanda petik, Ling dengan kalimat miring. Dan ketika suara Lia terdengar di lantai bawah, ayahnya menanyakan dengan siapa dia bicara, jelas sekali bukan manusia. Tak ada misteri untuk kisah misteri.

#9. Puding Custard Caramel
Obrolan santai saat makan malam. Pak Wie, Bu Wie dan kedua anaknya: Ines, Ites. Lalu aku ingat kata-kata, kenangan itu seperti es krim. Pertama-tama kau akan terperangah oleh sensasi panas dan dingin yang menyerbu lidah dan mulut. Ini cerpen sederhana sekali.

#10. Hujan yang Ritmis Itu
Kalau kau menganggap pertemuan kita, dan juga hubungan kita adalah kesalahan, aku tidak bisa berkata apa-apa. Namaku memang Hime. Penutupnya lumayan OK. Kejadian di parkir kelap malam, membawa dampak sebuah hubungan personal. Seorang pemabuk ditemukan di depan mobilnya yang terbuka dalam kondisi pinsan, Hime dkk lalu menolongnya. Membawa ke tempatnya tinggal. Lalu hubungan aneh terjalin, kalimat-kalimat akhirnya bikin merinding.

Buku tertipis dari kandidat lain, wajar buku paling cepat selesai baca dalam sehari, sejam sebelum kerja, setengah jam sepulang kerja pada Tengah pekan kemarin. Dari Penerbit Indi Book Corner dikepung para raksasa Grup Gramedia dan dua Banana. Bisa apa? Promo paling kurang, nyelip dalam tatanan. Bahkan agak sulit cari bukunya, untung punya teman toko buku daring dari Yogyakarta sehingga bisa menikmatinya segera.

Mari kita berjanji untuk saling bertemu di pulau ini setahun lagi, pada hari dan jam yang sama, seperti malam ini di bungalow di tempat kita bersantap malam. Jika seorang dari kita tak muncul hari itu, berarti kita sudah membuat keputusan.” Kalau kalian sudah nonton Before Trilogi (Richard Linklater) jelas kalimat itu dikutip persis dalam dialog Celine. Hal itu dilakukan jua, dengan akhir yang beda.

Prediksiku Gerimis akan tersingkir dari lima besar. Cerpen akan nikmat bila dibaca satu per satu dalam rentang waktu lama, ga bersusun berurutan. Rasanya monoton. Temanya mirip, kalau ga mau diblang sama. Berkutat di kafe mulu, berurusan dengan gerimis mulu, berbekal panorama Bali mulu, seninya cuma diubah lukis, potret, patung tapi poinnya sama: pelancong kerja yang menginap di hotel. Jelas kalau baca dalam tempo sesingkat-singkatnya, buku ini berasa biasa – sangat biasa. Sama seperti kita makan sate, suapan pertama mantab, kedua masih enak, ketiga mulai bosan, keempat dan seterusnya akan minta makanan lain. Cerpen-cerpen Wendoko setting tempat mirip, temanya mirip, penuturan juga lempeng saja, jadinya seusai halaman terakhir, rasanya tak banyak vitamin yang dipetik.

Sejak mengenal perempuan itu, ia tidak memotret lagi matahari terbenam, padahal ia menyukainya kegiatan itu. Ia selalu menyukai senja dengan cahaya matahari terbenam, karena baginya itulah panorama terindah. Tapi ia terpikir, untuk apa memotret senja kalau ia sudah mendapatkan ‘panorama senja yang paling indah.’

Gerimis di Kuta | Oleh Wendoko | Penerbit Indi Book Corner | Cetakan pertama, Mei 2018 | Desain sampul & isi Alexandre Octavio Hartono | ISBN 978-602-309-338-8 | x + 122 hlm.; 13 cm x 20 cm | Skor: 3/5

Karawang, 270918 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Thx to Stan Buku (Olih) , toko buku daring drai Yogyakarta. Buku terbitan Indi Book Corner yang sulit dicari, di Stan Buku ada. Nuhun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s