Manifesto Flora – Cyntha Hariadi

Manifesto Flora – Cyntha Hariadi

Kalian adalah buah-buah pohon ibu, serupa tapi tak sama, sejiwa hanya beda warna. Aku adalah akar yang tak pernah muncul ke permukaan tanah tapi terus mengakar sedalam-dalamnya agar kalian tidak karam dan aku tak terjaga sepanjang malam.”

Mengambil angka keramat 23 sebagai jumlah cerpen yang disajikan, sejatinya buku ini menawarkan sesuatu yang unik dan disampaikan dengan cara tak biasa. Sayangnya sangat minim konflik, ingat, prinsip cerita bermutu adalah menyesatkan pembaca dalam labirin yang semakin terperosok pusing semakin bagus, semakin kita terkecoh dan tak bisa menebak semakin menyenangkan. Harus diakui kata-kata yang disaji terpilih dengan jeli, tapi tidak dengan permasalahan berikut penyelesaian yang handal.

#1. Bapa, Ini Aku Greta
Sayangnya cerpen pembuka kurang gereget. Karena ini adalah buku pertama Cyntha yang kubaca, first impress-nya jadi turun. Grata dengan seember air sumur mencoba filosofis. Ibunya tukang masak di Gereja, bapaknya tak pernah diungkap seakan terlupa. Bapamu tak pernah tahu, kalau saja bapamu tahu, bapamu bukan orang. Ah… rumah dan pohon yang hanyut dalam air mata.

#2. Apa Yang Kau Tunggu, Ny. Liem?
Liang dan Liong, dua bersaudara yang yatim. Ny. Liem yang kini sudah tua, dulu ia berjualan baju keliling. Setelah rumah dijual, ia kini tinggal bergantian bergiliran di kedua rumah anaknya. Perangai kasar sang ibu memang terlihat ganas, tapi tetap kasih ibu sepanjang beta. “Sudah lama aku tak melihatnya.”

#3. Tuan dan Nyonya di Jl. Abadi
Kisahnya tertebak, rahasia disimpan kurang rapat. Ada sesuatu yang tak lazim perlakuan sang tuan rumah, jelas. Agustin alias Titin suka menulis puisi. Sebagai pembantu rumah tangga. Sang nyonya sibuk usaha, seakan seluruh penghasilan darinya. Sang tuan lebih malas dan pasif. Cerita seperti ini sudah sering kubaca, jadi ga terkejut lagi, sampai akhirnya tangan Titin tak sanggup menulis puisi lagi.

#4. Mohon Tinggalkan Aku Sendiri
Bisa jadi ini cerpen terbaik. Dibawakan dengan tenang namun sangat bermakna. Cerita sedih berkelas, pilihan hidup sendiri seorang ayah yang disampaikan kepada ketiga anaknya melalui surat elektronik. Istrinya baru saja meninggal, ketiga anaknya yang sudah menikah dan jauh di rantau mencoba menghibur dan saling lempar tanggung jawab, siapa yang akan menemani serta mengurus hari tua ayah mereka. Sang ayah dengan tulisan berkelas, mencipta: Mohon tinggalkan aku sendiri. Alasannya pun terdengar aduhai.

Aku ingin pergi dengan sedikit tabungan yang masih kumiliki. Aku mau menentukan tujuanku sendiri, mungkin aku mau berlayar, mungkin aku mau mendaki gunung, mungkin aku mau ikut sayembara, mungkin aku mau merintang bahaya.

Namun sekarang aku sendiri, menjauh dari kalian namun mendekati apa yang ditakdirkan sebagai titik akhir hidupku sejak aku lahir puluhan musim kemarau silam.

#5. Amerika I
Sahabat yang menyambut Mamin di apartemen Amerika. Mamin yang sekarang didiagnosa kanker payudara, genetik bawaan ibu dan beberapa tantenya. Jadi ia melarang sahabatnya sedih. Bercengkerama melepas rindu, diskusi masa lalu sambil menikmati taman. Hipanik? Apakah ia mengejarku?

#6. Amerika II
Di tahun 1990 sang Aku pacaran dengan Ben. 1988 saat mata kuliah video production, mendapat tugas bikin video tema bebas maksimal 30 menit. Mengenang kartun-kartun yang kita kenal. Spongebob di akhir tahun 1980an? Tahun 1992 menemukan pasangan hidup, dengan tato ‘Luis & I, explosions in the sky.’ Sebagai kado. Mana konflik woy?!

#7. Bayang
Salina, Ali, Romo Giri. Dengan setting Gereja dalam tampilan pentas. Janda Mona percaya Romo Giri adalah junjungan yang tak bisa ia sentuh, maka ia pun rela kelaparan daripada dikuasai gairah yang ia tak bisa lawan. “Karena lelaki yang kucintai tak bisa dan tak mau kukawini.” Ah… cinta.

#8. Melankolia
Rumput terang, kau. Dibagi dalam 12 segmen atau kau bisa sebut paragraf tanpa ‘tab’ di setiap kalimat pertama. Agak rumit kalimat-kalimatnya, contoh: … dari balik pintu kaca, aku melahap wajahmu, menelannya dalam otakku, memperhatikan gerak-gerikmu ketika menyalakan lampu.. boleh saja memilah kata-kata dengan merumitkan diri, tapi tetap makna yang utama.

#9. Manifesto Flora
Ini dia, judul yang dipilih sebagai menjadi identitas buku. Bukan yang terbaik, dari pilihan judul sudah merumitkan keadaan. Flora, 14 tahun. Jika nanti ada yang mengajakku kawin, aku punya satu syarat: aku cuma mau kalau ia setuju keluarga kami kelak cuma punya satu telpon, yaitu telpon rumah. Keinginan sederhana, tapi tak lazim. Kita diajak menelusur masa lalu, dan bagiamana komunikasi terjalin.

Ketika kita bisa dihubungi di mana saja, pulang menjadi tujuan akhir, bukan utama.

#10. Dari Terang Tiba-tiba Hujan
Tentang Bapak Wiranata orang tua yang dititipi cucu, Satya. Ketika Lena, anaknya harus mudik. Semua tampak wajar dan normal-kan, sampai ibu Wira bersapa dengan tetangga dan kalimat, ‘Pak Wiranata, tidak bilang-bilang sudah bercucu.’ Ada yang janggal?

Bapak Wiranata berharap hujan akan melunturkan warna kulit Satya. Sebagian lagi berharap hujan akan mencuci hati tuanya yang kotor. Sisanya berharap hujan akan menyembunyikan air matanya yang turun tak terduga.

#11. Rumah Batu Kali
Musibah rubuhnya pohon mangga tua yang mengenai rumah keluarga Kumala. Rumah itu terbuat dari batu. Pondasi, pilar, pagar, jalan setapak, dinding, lantai. Suami bu Kumala seorang arsitek, ia tak menduga bukan kemarau bukan badai, bukan rayap, atau kelalaian yang menghancurkan rumahnya.

#12. Dokter Agnes
Dokter muda yang jarang mau tampil di tv walau banyak tawaran. Kecantikannya pasti menyihir, sebagai dokter kulit yang merawat penampilan, banyak tips agar tampil elok. Entah kenapa kali ini ia mau muncul di depan penonton. “Semuanya sama saja, sangat memuja kecantikan, tidak ada yang memahami keindahan.”

#13. Dokter Arif
Pertama dibuka sama istri, judul inilah yang muncul. Kebetulan dokter anak kami bernama Dokter Arif, yang membuat Hermione selalu ketakutan. Tampak kebetulan. Bagaimana ceritanya? Setelah melahap 12 cerpen, saya mulai ikuti alur dan ciri khas Cyntha. Hemat kalimat langsung, ada yang tak baku menyatukan beberapa kalimat langsung dalam paragraf yang seharusnya dipisah. Dan pemilihan diksi yang tak umum. Kurasa Dokter Arif sama saja, minim konflik.

#14. Bekas Teman Baikku
Teman lama, mengerjakan PR bersama, membuat kue bolu, memakai rias ibu, mencoba jenis gaya rambut hingga cerita cowok. Ah teman baik, sahabat lama yang tak terpisah kala sekolah. Selepasnya banyak perubahan, Juliana yang anak tukang ojeg menaikkan taraf hidup, sang Aku terpuruk. Kutunggu di kedai Pak Sardi depan sekolah besok jam 11 siang. Kangen. Reuni itu tak berjalan sesuai harap.

#15. Tante Tati dan Putrinya, Temanku
Tapi apakah ini cara berduka yang benar, memberi tante Tati sebuah ilusi? Paramitha jatuh cinta pada lelaki apa saja dan berharap lelaki itu ayahnya. Ia bercita-cita punya perkawinan seperti orangtuanya. Karenanya ia diam dan bertahan. Karangan penebus ekspektasi, jadi ingat Atonement dengan Saoirse-nya.
Ah cinta memang sebuah pengorbanan, demi apapun keluarga nomor satu. Setimpalkah?

#16. Setengah Perempuan I
Kisah tak nyaman dibaca tentang lelaki yang kemayu. “Mesa, Melati, Putri dan Alma.” Tiga perempuan, satu lelaki. Told you boys are jerks!

#17. Setengah Perempuan II
“… perempuan punya anak tanpa suami disebut sundal tapi perempuan utuh. Kalau yang bersuami tapi tak beranak, baru setengah jadi perempuan. Coba kalau kau menantuku, Won” Curhatan ibu kepada si meong yang terdengar sang menantu, Lydia. Drama keluarga tentang keturunan, tak akan habis akan terus diproduksi, seperti anak kucing yang terus beranak-pinak.

#18. Kau Tak Berhak akan Dia
Tuan Mari Makan yang tampak baik, disambut ibunya yang juga selalu tampak ceria. Narasinya bagus, sang anak tampak pasif dan menerima kehadiran orang asing dalam keluarga. Suaminya kepingin perempuan lain, bukan anak lain. Tetap semangat Nak.

#19. Dinda Bukan Puisi
Cerpen satu lembar. Teramat pendek. Teramat sangat pendek malah. Dinda yang mudah disebut dalam tulisan, nyaman digores pena, enak dijabarkan seni sajak. Besok aku akan mengenangmu lagi.

#20. Telpon Dari Luar
Semakin lama kenang-kenangan pertama di kehidupan awal manusia akan terdesak dan terkubur oleh kenangan-kenangan baru yang lebih menyenangkan – terseleksi secara alami oleh otak dan mental kita – supaya kita bisa bertahan hidup dan lebih bahagia. Kisah sedih bagaimana ia yang menjadi saksi, permainan psikologis mamanya yang meninggal gara-gara telpon dari luar. Sejak saat itu, aku selalu menunggu dering telpon dan berharap itu adalah pembunuh Mama. Masih kuingat suaranya.

#21. Rose
Ini lebih ke cerita kocak sih. Nama aslinya Rosminah. Menikahi konglomerat yang mau rumah tinggal tunjuk, mau pendidikan terbaik buat anak tinggal pilih yang elit, mau berlian tinggal tiup. Tapi dasarnya memang ndeso, maka saat Mr. Cho memberi wewenang itu, ia tampak tak meyakinkan. “Selamat siang Mbak, cari rumah buat bos-nya?”

#22. Kolokan
Mengingatkan pada lagu Sheila On 7: Generasi Patah Hati. “Kubekerja siang dan malam, agar istriku bahagia. Kelak anak kita hidup selayaknya.Aku generasi yang patah hati, terlahir dengan kondisi yang seperti ini.”

#23. Dua Perempuan di Satu Rumah
Mungkin ini yang terbaik kedua setelah drama ayah mengirim email perpisahan. Ending yang bagus, Siska dan Norman menikah, mereka berjanji hanya bisa dipisahkan oleh kematian. Enam bulan kemudian, Norman dimakamkan di samping kedua orang tuanya. Duka Siska yang mendalam, di rumah didampingi Bi Onah, kejanggalan diungkap paragraf akhir yang sangat panjang, twist!

Kovernya bagus euy, membuat Hermione kaget lalu setelah memperhatikan, ketakutan. Ilustrasi gadis dengan tatapan kosong, kover belakangnya ya gadis tampak belakang. Model semacam ini pernah kulihat pada kover The Kite Runner (Khaled Hosseini) di mana remaja lelaki mengintip tembok yang gompal dengan sisi-sisi seperti Manifesto. Background-nya hijau, unik dan betah dipandangi lama. Salut buat tim dan editor GPU. Rapi, tak ada typo, enak dibaca, layout ciamik. Dan tentu saja pemilihan kover yang keren. Terima kasih.

Secara kualitas cerita, ya sekedar bagus, tak istimewa. Lebih bagus dari Laut Bercerita tapi tak lebih OK dari pesaing lain yang kini sudah memasuki enam prosa. Sudah kelihatan ngawang-awang dari judulnya. Hanya dua-tiga cerpen yang bagus, lainnya standar. Ada karakter yang tinggal tunjuk beli rumah, tinggal pilih sekolah elit, ada karakter tinggal di Amerika, ada tuan rumah dengan bisnis butik hingga segala perhiasan melekat. Jelas sekali ini kumpulan cerita yang bukan kita banget. Rasanya hanya terjadi sesuatu yang luar biasa yang akan membuat Cyntha menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018. Sulit rasanya mengingat kualitas tinggi para pesaing.

Segala yang manusiawi tidaklah membuat jijik, Tuan Shannon, kecuali yang tak berhati, biadap. – Hannah Jelkes dalam The Night of the Iguana karya Tennesse Williams

Manifesto Flora | oleh Cyntha Hariadi | GM 617202039 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Agustus 2017 | Penyelia naskah Mirna Yulistianti | Pemeriksa aksara Sasa | Ilustrasi sampul Gladys Simpson | Desain buku Roy Wisnu | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-7535-9 | Sjor: 3.5/5

Untuk Roy

Karawang, 240918 – The Cranberries – Time Is Ticking Out

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s