Manifesto Flora – Cyntha Hariadi

Manifesto Flora – Cyntha Hariadi

Kalian adalah buah-buah pohon ibu, serupa tapi tak sama, sejiwa hanya beda warna. Aku adalah akar yang tak pernah muncul ke permukaan tanah tapi terus mengakar sedalam-dalamnya agar kalian tidak karam dan aku tak terjaga sepanjang malam.”

Mengambil angka keramat 23 sebagai jumlah cerpen yang disajikan, sejatinya buku ini menawarkan sesuatu yang unik dan disampaikan dengan cara tak biasa. Sayangnya sangat minim konflik, ingat, prinsip cerita bermutu adalah menyesatkan pembaca dalam labirin yang semakin terperosok pusing semakin bagus, semakin kita terkecoh dan tak bisa menebak semakin menyenangkan. Harus diakui kata-kata yang disaji terpilih dengan jeli, tapi tidak dengan permasalahan berikut penyelesaian yang handal.

#1. Bapa, Ini Aku Greta
Sayangnya cerpen pembuka kurang gereget. Karena ini adalah buku pertama Cyntha yang kubaca, first impress-nya jadi turun. Grata dengan seember air sumur mencoba filosofis. Ibunya tukang masak di Gereja, bapaknya tak pernah diungkap seakan terlupa. Bapamu tak pernah tahu, kalau saja bapamu tahu, bapamu bukan orang. Ah… rumah dan pohon yang hanyut dalam air mata.

#2. Apa Yang Kau Tunggu, Ny. Liem?
Liang dan Liong, dua bersaudara yang yatim. Ny. Liem yang kini sudah tua, dulu ia berjualan baju keliling. Setelah rumah dijual, ia kini tinggal bergantian bergiliran di kedua rumah anaknya. Perangai kasar sang ibu memang terlihat ganas, tapi tetap kasih ibu sepanjang beta. “Sudah lama aku tak melihatnya.”

#3. Tuan dan Nyonya di Jl. Abadi
Kisahnya tertebak, rahasia disimpan kurang rapat. Ada sesuatu yang tak lazim perlakuan sang tuan rumah, jelas. Agustin alias Titin suka menulis puisi. Sebagai pembantu rumah tangga. Sang nyonya sibuk usaha, seakan seluruh penghasilan darinya. Sang tuan lebih malas dan pasif. Cerita seperti ini sudah sering kubaca, jadi ga terkejut lagi, sampai akhirnya tangan Titin tak sanggup menulis puisi lagi.

#4. Mohon Tinggalkan Aku Sendiri
Bisa jadi ini cerpen terbaik. Dibawakan dengan tenang namun sangat bermakna. Cerita sedih berkelas, pilihan hidup sendiri seorang ayah yang disampaikan kepada ketiga anaknya melalui surat elektronik. Istrinya baru saja meninggal, ketiga anaknya yang sudah menikah dan jauh di rantau mencoba menghibur dan saling lempar tanggung jawab, siapa yang akan menemani serta mengurus hari tua ayah mereka. Sang ayah dengan tulisan berkelas, mencipta: Mohon tinggalkan aku sendiri. Alasannya pun terdengar aduhai.

Aku ingin pergi dengan sedikit tabungan yang masih kumiliki. Aku mau menentukan tujuanku sendiri, mungkin aku mau berlayar, mungkin aku mau mendaki gunung, mungkin aku mau ikut sayembara, mungkin aku mau merintang bahaya.

Namun sekarang aku sendiri, menjauh dari kalian namun mendekati apa yang ditakdirkan sebagai titik akhir hidupku sejak aku lahir puluhan musim kemarau silam.

#5. Amerika I
Sahabat yang menyambut Mamin di apartemen Amerika. Mamin yang sekarang didiagnosa kanker payudara, genetik bawaan ibu dan beberapa tantenya. Jadi ia melarang sahabatnya sedih. Bercengkerama melepas rindu, diskusi masa lalu sambil menikmati taman. Hipanik? Apakah ia mengejarku?

#6. Amerika II
Di tahun 1990 sang Aku pacaran dengan Ben. 1988 saat mata kuliah video production, mendapat tugas bikin video tema bebas maksimal 30 menit. Mengenang kartun-kartun yang kita kenal. Spongebob di akhir tahun 1980an? Tahun 1992 menemukan pasangan hidup, dengan tato ‘Luis & I, explosions in the sky.’ Sebagai kado. Mana konflik woy?!

#7. Bayang
Salina, Ali, Romo Giri. Dengan setting Gereja dalam tampilan pentas. Janda Mona percaya Romo Giri adalah junjungan yang tak bisa ia sentuh, maka ia pun rela kelaparan daripada dikuasai gairah yang ia tak bisa lawan. “Karena lelaki yang kucintai tak bisa dan tak mau kukawini.” Ah… cinta.

#8. Melankolia
Rumput terang, kau. Dibagi dalam 12 segmen atau kau bisa sebut paragraf tanpa ‘tab’ di setiap kalimat pertama. Agak rumit kalimat-kalimatnya, contoh: … dari balik pintu kaca, aku melahap wajahmu, menelannya dalam otakku, memperhatikan gerak-gerikmu ketika menyalakan lampu.. boleh saja memilah kata-kata dengan merumitkan diri, tapi tetap makna yang utama.

#9. Manifesto Flora
Ini dia, judul yang dipilih sebagai menjadi identitas buku. Bukan yang terbaik, dari pilihan judul sudah merumitkan keadaan. Flora, 14 tahun. Jika nanti ada yang mengajakku kawin, aku punya satu syarat: aku cuma mau kalau ia setuju keluarga kami kelak cuma punya satu telpon, yaitu telpon rumah. Keinginan sederhana, tapi tak lazim. Kita diajak menelusur masa lalu, dan bagiamana komunikasi terjalin.

Ketika kita bisa dihubungi di mana saja, pulang menjadi tujuan akhir, bukan utama.

#10. Dari Terang Tiba-tiba Hujan
Tentang Bapak Wiranata orang tua yang dititipi cucu, Satya. Ketika Lena, anaknya harus mudik. Semua tampak wajar dan normal-kan, sampai ibu Wira bersapa dengan tetangga dan kalimat, ‘Pak Wiranata, tidak bilang-bilang sudah bercucu.’ Ada yang janggal?

Bapak Wiranata berharap hujan akan melunturkan warna kulit Satya. Sebagian lagi berharap hujan akan mencuci hati tuanya yang kotor. Sisanya berharap hujan akan menyembunyikan air matanya yang turun tak terduga.

#11. Rumah Batu Kali
Musibah rubuhnya pohon mangga tua yang mengenai rumah keluarga Kumala. Rumah itu terbuat dari batu. Pondasi, pilar, pagar, jalan setapak, dinding, lantai. Suami bu Kumala seorang arsitek, ia tak menduga bukan kemarau bukan badai, bukan rayap, atau kelalaian yang menghancurkan rumahnya.

#12. Dokter Agnes
Dokter muda yang jarang mau tampil di tv walau banyak tawaran. Kecantikannya pasti menyihir, sebagai dokter kulit yang merawat penampilan, banyak tips agar tampil elok. Entah kenapa kali ini ia mau muncul di depan penonton. “Semuanya sama saja, sangat memuja kecantikan, tidak ada yang memahami keindahan.”

#13. Dokter Arif
Pertama dibuka sama istri, judul inilah yang muncul. Kebetulan dokter anak kami bernama Dokter Arif, yang membuat Hermione selalu ketakutan. Tampak kebetulan. Bagaimana ceritanya? Setelah melahap 12 cerpen, saya mulai ikuti alur dan ciri khas Cyntha. Hemat kalimat langsung, ada yang tak baku menyatukan beberapa kalimat langsung dalam paragraf yang seharusnya dipisah. Dan pemilihan diksi yang tak umum. Kurasa Dokter Arif sama saja, minim konflik.

#14. Bekas Teman Baikku
Teman lama, mengerjakan PR bersama, membuat kue bolu, memakai rias ibu, mencoba jenis gaya rambut hingga cerita cowok. Ah teman baik, sahabat lama yang tak terpisah kala sekolah. Selepasnya banyak perubahan, Juliana yang anak tukang ojeg menaikkan taraf hidup, sang Aku terpuruk. Kutunggu di kedai Pak Sardi depan sekolah besok jam 11 siang. Kangen. Reuni itu tak berjalan sesuai harap.

#15. Tante Tati dan Putrinya, Temanku
Tapi apakah ini cara berduka yang benar, memberi tante Tati sebuah ilusi? Paramitha jatuh cinta pada lelaki apa saja dan berharap lelaki itu ayahnya. Ia bercita-cita punya perkawinan seperti orangtuanya. Karenanya ia diam dan bertahan. Karangan penebus ekspektasi, jadi ingat Atonement dengan Saoirse-nya.

Ah cinta memang sebuah pengorbanan, demi apapun keluarga nomor satu. Setimpalkah?

#16. Setengah Perempuan I
Kisah tak nyaman dibaca tentang lelaki yang kemayu. “Mesa, Melati, Putri dan Alma.” Tiga perempuan, satu lelaki. Told you boys are jerks!

#17. Setengah Perempuan II
“… perempuan punya anak tanpa suami disebut sundal tapi perempuan utuh. Kalau yang bersuami tapi tak beranak, baru setengah jadi perempuan. Coba kalau kau menantuku, Won” Curhatan ibu kepada si meong yang terdengar sang menantu, Lydia. Drama keluarga tentang keturunan, tak akan habis akan terus diproduksi, seperti anak kucing yang terus beranak-pinak.

#18. Kau Tak Berhak akan Dia
Tuan Mari Makan yang tampak baik, disambut ibunya yang juga selalu tampak ceria. Narasinya bagus, sang anak tampak pasif dan menerima kehadiran orang asing dalam keluarga. Suaminya kepingin perempuan lain, bukan anak lain. Tetap semangat Nak.

#19. Dinda Bukan Puisi
Cerpen satu lembar. Teramat pendek. Teramat sangat pendek malah. Dinda yang mudah disebut dalam tulisan, nyaman digores pena, enak dijabarkan seni sajak. Besok aku akan mengenangmu lagi.

#20. Telpon Dari Luar
Semakin lama kenang-kenangan pertama di kehidupan awal manusia akan terdesak dan terkubur oleh kenangan-kenangan baru yang lebih menyenangkan – terseleksi secara alami oleh otak dan mental kita – supaya kita bisa bertahan hidup dan lebih bahagia. Kisah sedih bagaimana ia yang menjadi saksi, permainan psikologis mamanya yang meninggal gara-gara telpon dari luar. Sejak saat itu, aku selalu menunggu dering telpon dan berharap itu adalah pembunuh Mama. Masih kuingat suaranya.

#21. Rose
Ini lebih ke cerita kocak sih. Nama aslinya Rosminah. Menikahi konglomerat yang mau rumah tinggal tunjuk, mau pendidikan terbaik buat anak tinggal pilih yang elit, mau berlian tinggal tiup. Tapi dasarnya memang ndeso, maka saat Mr. Cho memberi wewenang itu, ia tampak tak meyakinkan. “Selamat siang Mbak, cari rumah buat bos-nya?”

#22. Kolokan
Mengingatkan pada lagu Sheila On 7: Generasi Patah Hati. “Kubekerja siang dan malam, agar istriku bahagia. Kelak anak kita hidup selayaknya.Aku generasi yang patah hati, terlahir dengan kondisi yang seperti ini.”

#23. Dua Perempuan di Satu Rumah
Mungkin ini yang terbaik kedua setelah drama ayah mengirim email perpisahan. Ending yang bagus, Siska dan Norman menikah, mereka berjanji hanya bisa dipisahkan oleh kematian. Enam bulan kemudian, Norman dimakamkan di samping kedua orang tuanya. Duka Siska yang mendalam, di rumah didampingi Bi Onah, kejanggalan diungkap paragraf akhir yang sangat panjang, twist!

Kovernya bagus euy, membuat Hermione kaget lalu setelah memperhatikan, ketakutan. Ilustrasi gadis dengan tatapan kosong, kover belakangnya ya gadis tampak belakang. Model semacam ini pernah kulihat pada kover The Kite Runner- nya Khaled Hosseini di mana remaja lelaki mengintip tembok yang gompal dengan sisi-sisi seperti Manifesto. Background-nya hijau, unik dan betah dipandangi lama. Salut buat tim dan editor GPU. Rapi, tak ada typo, enak dibaca, layout ciamik. Dan tentu saja pemilihan kover yang keren. Terima kasih.

Secara kualitas cerita, ya sekedar bagus, tak istimewa. Lebih bagus dari Laut Bercerita tapi tak lebih OK dari pesaing lain yang kini sudah memasuki enam prosa. Sudah kelihatan ngawang-awang dari judulnya. Hanya dua-tiga cerpen yang bagus, lainnya standar. Ada karakter yang tinggal tunjuk beli rumah, tinggal pilih sekolah elit, ada karakter tinggal di Amerika, ada tuan rumah dengan bisnis butik hingga segala perhiasan melekat. Jelas sekali ini kumpulan cerita yang bukan kita banget. Rasanya hanya terjadi sesuatu yang luar biasa yang akan membuat Cyntha menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018. Sulit rasanya mengingat kualitas tinggi para pesaing.

Segala yang manusiawi tidaklah membuat jijik, Tuan Shannon, kecuali yang tak berhati, biadap. – Hannah Jelkes dalam The Night of the Iguana karya Tennesse Williams

Manifesto Flora | oleh Cyntha Hariadi | GM 617202039 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Agustus 2017 | Penyelia naskah Mirna Yulistianti | Pemeriksa aksara Sasa | Ilustrasi sampul Gladys Simpson | Desain buku Roy Wisnu | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-7535-9 | Sjor: 3.5/5

Untuk Roy

Karawang, 240918 – The Cranberries – Time Is Ticking Out

Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom

Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom

Lelucon mereka yang sering terlontar justru tak lama setelah menyanyikan kidung pujian bisa dibilang tak pantas, tapi itu yang menjadikan mereka lebih jahanam.

#1. Muslihat Musang Emas Dan Elena
Cerpen pertama langsung menghentak tatanan ketika kalimat nyeleneh dilontarkan, “Kita punya peluang mendirikan agama baru, Don.” Sebagai cerpen yang dipilih sebagai judul buku, apa yang disajikan memang harus bikin greget pembaca sedari mula. Dan sukses besar. Benar-benar gilax, nge-twist bikin mual. Mengingatkanku pada lelucon Pramugara yang berseliweran di grup Whats App. Dengan tambahan kata ‘…dan Elena’ dalam judul, kita diajak muter-muter diskusi kemiringan otak manusia, dan betapa cinta memang buta, sableng dan kadang tak berlogika. “Ketimbang bikin agama baru, bikin Komunitas Hati Remuk Karena Sebab –sebar Tak Tertangguhkan saja, Mas.”

#2. Ia Pernah Membayangkan Ayahnya Adalah Hengky Tornando
Cerpen kedua tak kalah absurd. Seorang lelaki baru menyadari punya anak di luar nikah setelah belasan tahun berkelana. Ia anak perempuanmu, kau baru mengetahuinya tiga bulan lalu. Di rumah kopi, kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Kilas balik masa remaja dijelaskan. Bagiamana ketika banjir mencipta dua insan mencinta dadakan dan tak tahu bahwa efeknya jauh lebih panjang dari yang dikira. Akhir yang manis, tak seperti kopi yang dipilih atau teh yang ditawarkan. “Bagaimana aku harus memanggilmu?”

#3. Bagaimana Ben Kembali Memeluk Islam
Untuk ketiga kalinya beruntun cerita dibuka dengan duduk-duduk minum kopi. Wah jadi kepikiran bikin cerita dengan opening macam gini. Ini lebih sadis karena di saat jutaan umat muslim mengaji di malam Nifsu Syakban, mereka malah kongkow bersama bir. Ben terlambat datang buat ngumpul, lalu ia berkisah proses telatnya, bagaimana insiden dompet membuat cerita nyata sebagus fiksi. “Kalau kisahmu kaulabeli kisah nyata, tak akan ada yang percaya. Komentar yang akan diterima kira-kira begini, ah pengarang sukanya mengada-ada. Kalau kau jadikan fiksi, terlalu banyak kebetulan.”

#4. Gelang Sipaku Gelang (1)
Salah sendiri pakai nanya siapa naik duluan.” – Oma Irama. Di tahun 1977 di Semarang, di sebuah konser musik hiburan rakyat, ketika Soneta sedang di puncak popularitas sebuah insiden kecil menuai gelitik adu fisik. Band lokal sebagai band pembuka, menyabotase konser saat seharusnya Bang Haji dkk menampil penutup malah, Usbros menyanyikan lagu legendaris Gelang Sipaku Gelang: ‘… Mari pulang, marilah pulang, Marilah pulang bersama-sama.”

#5. Gelang Sipaku Gelang (2)
Lanjutan, kini kita disodori efek insiden lagu penutup itu. Kali ini orang-orang di belakang panggung berseteru. Efek panjang dari insiden kecil itu ternyata merentang jauh, menyeret perseteruan tawur antar kampung hingga masa 2017 atas nama harga diri. Dan itu dimulai hanya gara-gara lagu penutup yang sudah biasa kita nyanyikan ketika TK? Alamak! “Bandmu anjing!” – Satryo Beni. “Bandmu tahi anjing!” balas Setyo Andi.

#6. Samsara
Sabda Dhani Wibisono yang malang. Kisah panjang, yang dinukil di kalimat pertama di kover belakang. Apa yang akan kau lakukan bila kautahu kau anak hasil hubungan sungsang. Ga menyangka petualangannya bisa sampai merentang Pakistan, atas nama agama dan bermuara di ibu kota, atas nama kebutuhan. Inilah lika liku kehidupan. Hidup mulia atau mati syahid. “Untuk catatan resmi, siapa nama Anda?”

#7. Benalu Tak Pernah Lucu
Kita tak bisa membenci keluarga. Hubungan kakak-adik yang parasitisme. Seolah Paman Yusi mengolok para pria agamis yang memikirkan akhirat tapi lupa dunia juga butuh biaya. Dan uang itu hasil dari melucu, ironis memang. Berto adalah gambaran para pemuda yang mengabdi pada orang tua dan tanpa pamrih berlebih berbagi dengan saudara. “Rasanya lucu ya?”

#8. Penyair Yang Meninggalkan Ibadah Puisi
Tentang penyair kenamaan kita, Joko Pinurbo. Setiap beliau merayakan ibadah puisi keluar kota, ada lelayu di desanya. Hal-hal yang rasanya tak ada rantai penghubung, atau sekedar kebetulan? Jika gerimis bisa mempercepat kelam, bisakah ibadah puisinya mempercepat kematian? “Bukannya kebetulan saja, Pak?

#9. Pengelana Waktu
Cerpen satu lembar. Hari ini untuk kedua kalinya ia mengunjungi esok hari. Hari ini ia berkunjung ke dua puluh tahun silam. Semua yang ia saksikan di luar penalaran. “Nanti kalau sudah mandi air panas, akan sedikit enakan.”

#10. Alfion
Cerpen ala Memento (Christopher Nolan) di mana paragraf pembuka adalah ending. Dimulai dengan kematian Alfion, penjahat buron yang ditembak polisi di kereta yang melaju menuju stasiun Cepu. Kisah lalu meluncur terus ke belakang sampai usia Alfion di masa sekolah. “Tidak usah nangis. Laki-laki kok nangisan. Bagaimana mau hidup? Dunia ini keras.” Saus kelwa apa ya?

#11. Upaya Menulis Sebuah Cerita Detektif
Zen Abacus seorang penulis skenario sinetron kejar tayang, mengajak bertemu sang Aku meminta bantu menuliskan draft cerita ketika ia sedang buntu atau sebut saja kepepet. Sang Aku sedang menulis cerita detektif, eh dicomot juga oleh sahabatnya maka saat susunan kata disodorkan, sejatinya terbaca kesal namanya tak dicantum. Sip! Mantab! Dasar manusia. Seolah ini curhatan Paman Yusi? ‘Balas dendam’ bisa dengan banyak cara untuk seorang pengarang ‘kan? “Ceritaku kebanyakan tentang kematian, Bung. Ada yang tentang mutilasi malah. Apa cocok?”

#12. Bangsawan Deli dan Delia
Dengan setting Jakarta tahun 1950, era pasca kemerdekaan dua kejadian coba disambungkan. Misteri tenggelamnya kapal bangsawan SS Deli di Selat Malaka dengan kejadian pembunuhan anak perempuan enam tahun bernama Delia, hanya beberapa meter dari TKP ada buku satu jilid Ashlu Al-Maanah Al-Insaniyah. Langsung deh saya teringat kutipan pembuka buku ini. Apalagi di cerpen sebelumnya Upaya Menulis juga disebut, yah, ini memang cerita detektif. “Jadi benar mereka mati ditelan siluman laut?

#13. b.u.d
Apa sebaiknya sekarang aku dipanggil Anna biar palindromik?” Sempat menyangka-kan ini AKU ya, karena nama saya yang dinukil dan jua saya lahir di Sukoharjo, ge-re, saya belum pernah mewujud ngopi bareng Paman euy. Kisah ini berdasar kejadian nyata. Sayangnya kehidupan saya tak sedramatis itu. Cinta memang harus diperjuangkan, dengan latar palindrom – di mana kata atau kalimat dibolak-balik terbaca sama – kita menelusuri jejak kehidupan seseorang. Salut untuk keteguhan melawan arus, beda agama menikah masih menjadi tabu dan seakan semua jalan keluar dari hati tak nyaman di telinga. Good luck to me, good luck BUD. Siapa Henoch Gunadi Sanbe?

#14. Buris
Kisah sedih teman sekantor yang gendut bernama Buris. Sedihnya agak lucu juga, sang Aku yang panas akan cerita bombastis Buris yang sukses ngajak cewek jalan akhirnya ‘mencoba’ merebut Rara Ireng, teman sekantor jua sekaligus teman lama adiknya. Awalnya terlihat lancar dan akan jadi happy ending, eh malah dibelokkan bencana. Haha.. jodoh memang tak ada yang menyangka-kan? “Alhamdulillah, perut kenyang hati sennag, Kawan.”

#15. Pemuda Penyayang
Itu tanda-tanda kenabian. Pemuda yang disangka nabi, mengeluarkan kotoran turut serta uang logam. Silsilah nabi yang kita kenal dengan segala mukjizat-nya dirunut. Mana ada yang bisa ‘memproduksi’ uang dari dalam perut? “I am the Walrus.” Oalah.. Dave Dave. Kau masih punya waktu panjang untuk mewujudkannya.

#16. Kecerdasan dan Cairan Pekat
Jorok sih, tapi yasu dahlah memang dunia penuh orang menyimpang. Gara-gara artikel yang mengatakan hasil tes IQ mahasiswa Alicia Franklin sebesar 220 di Universitas California, Los Angeles, Amerika. Melebihi Stephen Hawkins, Albert Einstein, dan Leonardo Da Vinci. Tiga minggu jelang ujian SMA, Windu terobsesi menelan sperma, punya sendiri awalnya. Tapi pikiran liarnya menelikung tak tentu arah. Duh! “Kanibal!”

#17. Suatu Hari Dalam Kehidupan Seorang Warga Depok Yang Pergi Ke Jakarta
Ini saya yakin pengalaman pribadi. Sama sepertiku yang malas keluar rumah, malas urusan berbelit dengan dunia luar. Maka saat warga Depok akan ke Jakarta, merapel segala urusan. Dan iapun mengalami satu hari yang melelahkan. “Pancen asu kowe, Mas!” Depok, pinggiran Jakarta. Bekasi, pinggiran Jakarta. Kota-kota satelit yang ikut rembug dalam kemajuan, jadi Karawang satelit cadangan.

#18. Pergi Ke Malang
Nanti malam kau akan pergi ke Malang, Jawa Timur bersama anak laki-lakimu. Dibawakan dengan kalem, tapi sungguh mengerikan. Ini bisa jadi yang terbaik. Kisah detektif tanpa detektif. ‘Bencana’ pembunuhan yang dirancang dengan detail mengagumkan. Punya alasan kuat untuk tak disangka, sebuah keluarga aneh menjelas kronik drama kehidupan. Seolah sebuah musibah, pergi ke Malang adalah ‘tur’ tragedi yang membuat penyidik mungkin langsung mencoret sang pelaku. Kisah ala Agatha Chrstie, dengan ide liar kekejaman lokal.

#19. Nasihat Bagus
Seorang buzzer politik harus bermuka badak. Roy dan kita semua hidup di era digital, segalanya serba instan. Roy agak terkejut ketika Pemilik partai ‘Indoperi’ yang anti Pemerintah tiba-tiab membelokkan haluan. Sebagai buzzer yang awalnya konsisten menjelekkan kudu penguasa, ia harus berganti arah. “… Bentar lagi 2019, siap-siap saja. Ingat, muka badak.”

#20. Ular-ular Temanten
Ini lucu, sumpah. Pengalaman saya juga soalnya. “Hari ini giliran suami mengalah, besok giliran istri yang menang.” Kocak anjrit. Menikah memang butuh banyak pengorbanan, termasuk mengalah. Afu, kena banget gue. Jadi penasaran dengan grup lawak Djunaedi cs yang ada di tahun 1980an.

#21. Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia
Tentang Jarwo dan sisi gelap hidupnya. Sebagai penutup, Bung Yusi dengan cerdas menaruh cerita bagus banget lagi. Hikayat orang cebol di Semarang. Bagaimana profesi penari sebagai maskot sebuah produk minuman kala promosi, menuntun drama yang mengejutkan. Chapter akhir berisi sembilan paragraf itu keren banget men. Edun. Sang protagonis ternyata menyimpan info yang sangat krusial dari pembaca. Pembuka yang keren, penutup yang lebih keren lagi. Nikmat baca mana yang kau dustakan?!

Saya baca dalam sehari pada libur tahun baru Islam, saat menjadi sopir keluarga ke Depok. Saya baca dalam tiga kali kesempatan duduk. Saat menunggu mereka belanja di Pasar Baru, ada tempat duduk ayun tepat sebelahan sama para pengayuh becak bersantai, tidur nyaman di terik matahari. Kedua saat di masjid Nurusalam, Depok Utara diantara Duhur dan Asar, ketiga saat di rumah keluarga saudara Jl. Saledri – mencari ruang sepi ketika ruang tamu penuh canda tawa, bersama segelas kopi pahit bikinan Bude, sembari menunggu mereka nostalgia jelang Magrib, buat pulang. Well, Penerbit Banana ada di Depok seharusnya dekat nih sama rumah Bude yang di Beji, sempat kepikiran pengen main, tapi urung. Lebih ke pengen menyendiri di masjid bersama buku, sudah menjadi kebiasaan ketika ke Depok sebagai sopir saya pasti ‘menghilang’ waktu-waktu Duhur, bukan untuk berdzikir malah bawa buku fiksi. Ampuni hamba ya Allah.

Kata Woody Allen dalam adegan pembuka Annie Hall, “Laki-laki menua dalam dua cara, ada yang rambutnya menipis dulu baru beruban, ada yang beruban dulu baru menipis, yang pasti dua-duanya bakal habis.” Kalimat ini ada dalam Satu Hari Dalam, dan saya langsung meraba rambutku. Alamak, saya jenis pertama.

Arsene Wenger itu manager bagus.” Seperti jutaan fans Arsenal di dunia, ia memiliki ketabahan mengagumkan kaum Yahudi yang hidup di Mesir di bawah kekuasaan Firaun ribuan tahun lalu. Well, Bung Yusi harus berbaur dengan Laziale nih, mengenal penggemar klub jarang juara, kita sudah jauh lebih tabah dari para pengagum The Gunners karena kita menganggap Lazio adalah klub terbaik dunia akhirat, menjuluki Lazio The Great! Yah, karena fanatisme adalah kunci. Terakhir juara Liga 2000, delapan belas tahun. Yah, setidaknya ada yang lebih lama. The Reds!

Amazing. Sekali lagi Bung Yusi memukauku. Setelah tak sengaja berkenalan kumpulan cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa, kisah-kisah tak lazim saya menyebutnya, saya kejang-kejang sama cerita Raden Mandasia, yang menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016. Menjadikan buku lokal yang masuk best 100 novel versiku tahun lalu. Nah kali ini kembali ke kumpulan cerpen dengan kover yang sedap dipandang, warna kuning sebagai latar dengan seekor musang di dalam cangkir di antara dua lainnya. Kover bak poster film art, film festival. Catchy nan mewah. Kover buku ala poster film-film Wes Anderson. Duh jadi inget Grand Budapest Hotel bersama Saoirse Ronan.

Kandidat ketiga yang saya ulas setelah Laut Bercerita dan Gentayangan. Saya pernah bilang Laut akan masuk 10 besar tapi mustahil menang, saat ini masih terbukti. Gentayangan bagus, tapi ga sampai klimaks. Bagaimana dengan Musang? Saat ini sudah baca enam kandidat dan jelas secara kualitas Musang yang terbaik, bahkan dibanding Kura-kura Berjanggut yang tebalnya mengerikan, tunggu waktu tepat buat ketik ulas – maaf tunda memang tindakan ga baik. Masalahnya, biasanya juri akan lebih suka satu cerita dalam satu buku. Atau memang inilah saatnya Kumpulan Cerpen unjuk gigi? Doaku yang terbaik.

Seperti kata Mario kepada Pablo Neruda dalam Il Postino, sebuah sajak begitu dilempar ke publik menjadi milik pembacanya, terserah mau dimaknai dan digunakan sebagai apa. Begitu pula karya-karya lainnya termasuk prosa. Setelah dirilis maka publik punya hak penuh menilai, pujian syukur, cacian ya resiko. Untungnya tiga karya Paman Yusi konsisten memuaskan, jadi saya ketik ulas ya enak banget. Mengeluarkan uneg-uneg tanpa tameng apapun jadi lebih nyaman. Beli buku, baca, puas ketika ngetik juga dibawa ceria. Makanya jangan beli buku Tere Liye lagi dah.

Prediksiku jelas, Kumpulan Cerpen ini masuk lima besar. KUDU! Juara hanya bonus.

Tuhan berencana, manusia menentukan. – Asal-muasal Derita Manusia karya Yusuf Al Uraizy

Muslihat Musang Emas | Oleh Yusi Avianto Pareanom | copyright 2017 | Penerbit Banana | Cetakan pertama, September 2017 | 13,8 x 20,3 cm; 246 halaman | ISBN 978-979-1079-60-0 | Penyunting dan Penata artistik Ardi Yunanto | Fotografer sampul Agung ‘Abe’ Natanael | Skor: 5/5

Karawang, 1809-230918 – Sherina Munaf – Curahan Segalanya

Pekan Kelima: Lazio Vs Genoah

Pekan Kelima: Lazio Vs Genoah

LBP 3-0
BIG match pertama musim ini. Menang syukur, seri alhamdulillah, kalah ya memang wajar. Forza Lazio.

Katrina Jade Prayitno
Lazio 2-0 Genoa; Immobile
Analisis: Waktu delok awakmu liwat ning ngarepku, pengin eruh jenengmu. Tapi aku ragu, atiku gak nentu. Aku takon koncoku opo kenal awakmu. Jarene koncoku awakmu iku arek paling ayu.

Imoenk
Lazio 2-1 genoa, Immobile
Wah big match beneran ini. Lazio selalu rame kalo lawan genoa. Lawan berat lazio selain Juve, Chievo, Roma, Milan dan beberapa klub serie A yg lain. Jaminan determinasi tinggi, serangan balik cepat, dan tackle berbahaya. Catet.

Siska
Lazio 2-2 Genoa
Immo
Rekor H2H Lazio dan Genoa relatif seimbang. Pada dua pertemuan terakhir kedua tim saling mengalahkan. Kedua tim berada di posisi berurutan di klasemen, yakni Genoa di posisi 7 dan Lazio di posisi 8. Bisa jadi, laga ini akan berakhir imbang.

Emas Agos
Lazio 1-2 genoa
Gol Ciro
Musim lalu lazio dibungkam di kandang sendiri. Tidak menutup kemungkinan musim ini diulangi. Potong bebek angsa masak di kuali, Lazio main kandang kalah dua kali.

DC
Lazio 3-1 Genoa
Immo
Kami datang. Kami bertanding. Kami menang. VVV

AP
Lazio v Genoa 1-0
Immobile
Lazio sudah mulai panas. Musim lalu Genoa bisa menang di Olimpico. Setelah pekan lalu mengalahkan Filippo Inzaghi (Bologna), Ballardini berpotensi kembali menang melawan keluarga Inzaghi.

AW
Lazio vs Genoa : 2-1, Luis Alberto
Lazio siap menang lagi. Luis Alberto nyekor lagi. Tren positif berlanjut lagi.

Takdir

Lazio 2-2 Genoah, Caicedo
Analisis Laga yang sulit. Partai Genoah adalah partai prestis, hanya sedikit di bawah Barcelona. Bisa seri sudah bangga.

Karawang, 230918