Gentayangan – Intan Paramaditha

Seorang kawan yang kukenal di San Francisco mengirimi novel Anda kepada saya sebagai hadiah. Saya tak bisa berhenti membacanya. Setelah menyelesaikan novel ini, saya segera menjadi penggemar baru Anda.

Hei ini benar-benar kebetulan, tiga orang Asia Tenggara bertemu di San Francisco. Kebetulan. Biasanya, kebetulan adalah sebuah pertanda. Pertanda! Aku tahu pertanda apa. Akan ada fiesta.” Kau merasa sedikit geli. Dengan pertemuan singkat di jalan, seberapa mungkin ada lain kali? Banyak hal kebetulan di kisah ini, tapi bukankah hidup ini juga berisi hal-hal yang tak direncana matang?

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan. Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau ubah setelah mendengarnya.

Umurku hampir 28 tahun dan aku belum pernah ke New York. Ini tragedi. Well, berarti mayoritas kita disapu bencana besar. Cerita berputar, bagaimana kita membaca buku bukan berurut dari halaman satu, dua, tiga dst sampai halaman akhir. Novel yang menawarkan ‘Pilih sendiri petualanganmu’ bersama sepatu merah menyala. Sepatu Iblis Kekasih yang mengajak pembaca terlibat menentukan pilihan. Lagi pula, cerita petualangan sering kali mulai dengan warisan dari seseorang yang telah wafat. Sudah beberapa kali membaca dengan plot macam gini, semua terjemahan, jadi ini versi lokal pertama. Dan selalu memusingkan, bukan karena harus bolak-balik halaman, cek sana-sini lalu dirajut banyak kejadian. Bukan. Saya lebih nyaman serta praktis maju, seperti hidup yang selalu menatap masa depan, waktu itu linier tak ada peluang mengubah sekalian mengulang sebuah kejadian yang sama persis. Saat kita sudah mengambil pilihan, maka ya itulah yang kita jalani tak ada tapi atau andai. Contoh esok pagi sarapan nasi uduk atau nasi kuning, esok saat pagi tiba jam 07:00 kamu putuskan makan nasi kuning ya kamu ga akan bisa dapat kesempatan kembali ke jam 07:00 di titik itu untuk makan nasi uduk. Kisah pilih sendiri gini, malah membuat kita capek sendiri. Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau setelah mendengarnya. Saya putuskan baca buku ini karena masuk kandidat saja, tak lebih. Memangnya siapa Penyihir Perempuan ini?

Jadi sang tokoh utama menjalani kehidupan membosankan sebagai guru les bahasa Inggris memohon untuk bisa berpetualangan, apapun syarat dan ketentuan sang cewek siap. Begitulah petualangan tak selalu menjanjikan banyak pilihan. Dengan sudut pandang orang kedua, pembaca diajak menentukan nasib. Maka saat malam ia ‘menantang’ di kamar kosnya kepada iblis, dia mendapat kesempatan langka, diberi sepatu merah dan cling! Dia-pun terbangun di taksi yang sedang berjalan ke bandara JFK, New York. Kau bertanya-tanya apa yang akan kau alami apabila waktu itu kau batalkan perjalananmu ke Berlin. Apakah petualanganmu akan lebih mendebarkan? Sebuah masa di antara, seberapa panjang ia? Mungkin hanya sekejap mata tapi mungkin juga ia sebuah ruang tunggu yang elastis. Di dalamnya kau sempat mengucapkan selamat tinggal pada Bapak-Ibu, juga kakakmu dan anak-anaknya. Yang pasti Sang Aku sudah merentang jauh dari Jakarta. Satu-satunya yang kuinginkan adalah pergi dari sini dan berpetualang. Tapi dalam setiap petualanganmu kau ingin apa jadinya bila kau ambil jalan yang ini bukan yang itu. “Beri aku uang, visa, dan tiket sekali jalan. Aku tak mau pulang.” Dengan wajah bingung ia menyusun kepingan apa saja yang terjadi dari ia menandatangani kontrak iblis hingga dirinya di Amerika. Hilang, tak ada yang bisa diingat. Saat akhirnya turun dari taksi dan akan menuju lobi bandara, ia menyadari sepatunya hanya sebelah. Maka untuk pertama kalinya pembaca diberi pilihan.

Pertama, kalau mau balik ke rumah (kemanapun itu) buka halaman berikutnya. Kedua, kalau ingin melaporkan kehilangan lapor ke polisi, buka halaman 29. Ketiga, kalau mau meneruskan ke Berlin buka halaman 33. Hal-hal macam gini tentunya sangat sering terjadi dalam kenyataan, bedanya kita tak bisa ambil kesempatan kedua. Rendah diri, penyebab iri dengki, adalah akar kejahatan di dunia. Tapi kasih Allah sepertinya hanya untuk mereka yang berhati tulus, bukan mereka yang dirongrong iri dengki.

Bagiku, mau balik ke apartemen, lanjut atau ke kantor polisi sama saja. Kenapa? Karena kita tahu bahwa selalu ada keajaiban ‘mendadak’ yang bisa menyelamatkan sang karakter utama. Seperti Iblis yang kasih cermin lalu tiba-tiba terbangun di tempat lain seolah Amsterdam – New York itu sepelemparan batu. Mungkin saja jika kau pilih New York kau akan sampai kemari juga sebagai orang lain. Barangkali kau akan menikah dengan lelaki ganteng Peru dan berlibur bersama keluargamu di sini. Menaruh sepatu di luar kamar dan cling terbangun dari lamunan, sudah di masjid yang jauhnya ribuan kilometer. Tak berdasar, terlalu menggampangkan jadi apa bedanya saya pilih ini atau itu (dalam fiksi, seharusnya masih ditawarkan ketegangan). Semua sama saja. Beda sama cerita fantasi yang ada aturan baku, semisal Harry Potter yang harus menggunakan bubuk untuk merangkai jaringan floo untuk berpindah tempat atau portkey yang disentuh untuk cling transport ke tempat-tempat yang ditandai. Sepatu Merah ga menjelaskan rincian itu, dia (bisa juga penulis) punya hak penuh mau dengan cara apa dia berpindah tempat. Berpindah halaman maksudnya. Rumah adalah tempat terbaik untuk menyalip seseorang.
Setiap hari ia memilih khayalannya sendiri.

Untungnya kisahnya lumayan bagus, beberapa layak kutip, beberapa hal sepakat, beberapa paragraf sungguh menggugah. Seperti sindiran pilihan hidup, menikahi lelaki yang tampak agamis mencalonkan diri menjadi wali kota Depok. Sepertinya bener-benar pilihan buruk, saya sepakat. Atau seperti yang disampaikan di kalimat-kalimat pembuka, “Azan sumbang yang berkumandang dari pertarungan toa-toa masjid menjadi penanda masamu, berikut bonus sekali waktu berupa kasidah ibu-ibu gila tampil atau pentas dangdut tujuh belas Agustus.” Itu mewakili suara siapapun yang saat ini sedang hangat isunya. Sang Perempuan Sihir sudah memprediksinya sobat.

Ingat konsep enam derajat keterpisahan?” Andai saja teleport-nya bukan di luar negeri tapi cukup dari kota ke kota di Nusantara, kisah ini akan tampak jauh lebih pas, tampak dekat dengan pembaca lokal apalagi jika dibuat lebih masuk akal, tanpa sihir atau campur tangan kekuatan ketiga. Saya sempat bayangkan, coba kalau yang dibagi cerita bukan perbatasan San Diego-Tijuana, tapi Batam-Singapura. Dengan gelisah kita hidup sedekat mungkin dengan perbatasan menantikan hari kembali. Atau dengan hantu-hantu lokal, ke pantai laut selatan, genderuwo, atau berziarahnya bukan ke Betolt Brecht tapi makam Nike Ardila, misalkan, pengandaian, pasti akan jauh lebih hidup. Petualangan ke luar negeri dengan pamer keleluasaan waktu dan biaya malah jatuhnya seperti kisah Miss Jinjing versi mewah. Saya enggak anti cerita Penulis lokal dengan setting luar, karena banyak buku terjemahan yang kulahap, tapi akan lebih kita banget kalau ceritanya ngulik di sekitar. Satu lagi, andai pilihan-pilihan yang ditawarkan tak ada magis berpindah tempat, sehingga tampak membumi pastilah akan jadi luar biasa. Semisal, pilihan ke Amsterdam atau Zabreg. Dah jangan ada Iblis di antara kita, biarkan semua natural, hanya ‘keajaiban’ mengulang kesempatan. Tak ada sulap ataukah lorong waktu dengan segala muslihatnya. Kau telah mengikat pada seutas benang, tak kokoh tapi tetap saja kau meratap saat menjadi layang-layang putus.

Bagian-bagian yang bikin gereget. Iblis dengan anjing kepala tiganya setiap muncul. Cordelia dan saudari-saudarinya, Regan dan Goneril dia tiga dalam satu. Bagian obsesi novel tentang gadis Vietnam yang misterius. Perempuan yang dilihat di cermin itu, siapa dia? Karina Lam, Karina Le, Karina Lee? Saat pamali: Jangan bercermin berlama-lama jam dua belas malam. Sempat menduga bakalan muncul hantu seram beneran yang mencekiknya, misalkan. Bagian penyimpangan seksual sesama jenis, Juwita Padmadivya. Nama yang cantik dan sedikit pretensius. Juwita sang pengelana. Mungkin ada Juwita di dalam diri kita semua. Obsesi bunuh diri yang rumit. Bunuh diri adalah pernyataan anti-kuasa paling tulus… sebagai anak-anak atau kau bolehs ebut anak muda, satu-satunya tempat yang kau inginkan adalah melawan kuasa.

Bagian yang bikin kesel. Interaksi sama Mbak-nya beda jauh sifatnya. Mbaknya gadis baik, si Aku bandel. Dulu sebelum ada dinding kau bercerita tentang apa saja. Kita tak bisa membenci keluarga kita. Guru yang menyebalkan, teman-teman yang curang. Katanya di Finland, anak-anak nggak dikasih PR – PR buatku ingin baca Tech Like Finland sejak kapan tuh? Ketiga anaknya bernama keArab-araban, bah bahkan ia sering lupa nama asli ponakannya. Dan benar juga nama-nama ini suatu saat langka: Dewi, Wati, Sari. Saya tambahi: budy! Tante macam apa kau. Hahaha… tiap ngomongi bule sesama guru les. Gagasan kita tentang yang disebut keren di sekolah menengah memang kerap mengenaskan. Bule berbahasa Indonesia mungkin terlihat seksi sebab bukankah bahasa ini demikian tak penting.

Bagian-bagian proses film juga diturunkan dengan ciamik. Kok bisa ada pasangan keren Brad Pitt dan Angelina Jolie. Nasehat film snob: Intinya pertahankan long take. Penonton harus merasa bosan. Semua suara harus diegetik, dan ini berarti filmku nyaris tanpa suara. Bagian infil sama ‘calon mangsa’. Barangkali dia cuma ingin pulang bersama-sama. Kau mulai bungah. Lelaki yang mendengarkan adalah makhluk langka meski ia tak menggetarkan seluruh sudutmu seperti iblis. Aku tak pernah mencintainya. Aku tak pernah mencintai seseorang yang nyata.

Bagian-bagian yang nyindir religi. Seumur hidup kau dilarang makan babi, saat pertama kau ingin mencobanya, kau bertanya mengapa tidak? Al Kitab mengajarkan kita untuk tak membangun rumah di atas pasir. Sayangnya tak ada peringatan soal membangun di atas air. Apalagi cermin. Iblis justru dekat dengan orang-orang yang beragama. Kau memohon pada Tuhan supaya kau tidak bertemu lagi. Aku tak yakin ia mendengarmu sebab antrean doa kelewat panjang.

Bagian-bagian unik walau beberapa juga agak ga jelas. Betapa aneh wilayah yang disebut Asia Tenggara. Negara-negara yang disebut Vijay begitu dekat, tapi juga begitu asing. “Ia tak hilang, aku menghilangkannya.” Aku bosan. Kedengarannya seperti slogan pemberontakan. Kosmopolitanisme adalah latihan menuju alam baka. Sydney Mardi Gras. Pesta baru saja dimulai.

Dan tentu saja bagian-bagian petualangan yang ditawarkan. Di mana rumahmu kini? Mungkin, seperti hantu, kau cuma bernaung namun tak berumah. Bepergian adalah hasrat manusia paling purba. Liburan, sesuatu yang memberi ilusi bahwa kita terbebaskan, dan setelah itu kita akan kembali pada kerja, kerja, entah untuk apa. Entah bagaimana kau tahu inilah yang selalu terjadi. Sebagian cerita selalu menikam, tak pernah tumpul meski diulang-ulang. Perjalanan adalah ruang di antara, ketidakpastian yang terus-menerus. Jalan-jalan buat banyak perempuan adalah kemewahan baru. Di Eropa abad 18 perempuan selalu mencari taktik agar bisa bepergian sendiri. Betapa perjalanan mengungkit ingatan termasuk hal-hal terjauh yang tidak pernah kau pikirkan lagi, hal-hal yang tersimpan di dalam museum kebodohan.

Sejak muda ia bersimpati dengan dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang Amrika yang merasa nyaman tinggal di satu kota yang sama seumur hidup mereka. Tak pernah mereka merasa butuh untuk melihat dunia lain. kelompok kedua adalah para turis yang gencar berwisata demi menambah koleksi foto atau survenir. When in Rome, do as Romans do.

Jiwa petualang yang berfikir bebas. Jika di situ tertulis peringatan ‘jangan bersandar pada pagar’ yang ingin kau lakukan adalah mencondongkan tubuhmu di sana. Karena tulisan itu ada maka bahaya yang tak kau bayangkan jadi punya nama. Ia tak keliling dunia; dunia yang memutarnya, terus-menerus memecahnya. Hidupnya serasa fragmen kecil di sana-sini, kadang terpaut kadang bertabrakan, dan terhempas. Dan mereka yang tak bisa mengingat masa lalu terkutuk untuk mengulanginya.

Bagian di Klub juga menyentuh sekali, apalagi pas twist ternyata bagaimana salah satu karakter bilang suaminya tak hilang. Klub Solidaritas Suami Hilang tak menemukan yang hilang, tetapi menghidupi kehilangan. Ingatan menjadi kuil yang mesti dilap hingga berkilat. Hilang dan kehilangan adalah lekuk yang lain. pelik sekaligus licin. Kadang keduanya terhubungkan dengan cara yang ajaib. Kehilangan menjadi mudah bagimu karena kau tak pernah mencintai suami.

Siapa kira kau akan menempuh akhir yang brengsek, terperangkat deus ex machina. Saya mulai baca akhir pekan lalu, dan sudah ada di garis finish cerita pada Selasa malam, tiga hari diantara bacaan Bartleby, Si Juru Tulis dan cicilan Tiba Sebelum Berangkat. Finish di sini bukan benar-benar sudah kubaca semua, tiap ganti segmen saya tandai stabilo kuning jadi saya tahu mana yang sudah kubaca mana yang terlewat. Ada tiga kali TAMAT di tengah buku, yang keempat sampai di Meksiko, selesai. Karena harga buku di atas seratus ribu, tentu saya tak ingin skip, wajib baca tiap katanya! Jadinya saya tarik kembali baca saat di pilihan awal. Ternyata cerita lebih bervariatif, saat menyesatkan diri, saat fun. It’s retro and it’s fun. Yang kiranya sukses finish saya melalangbuana di Amerika, saat pilihan saya coba baca lagi ke Berlin ternyata malah lebih bagus. Lebih rumit sekaligus menyenangkan. Ngapain jauh-jauh ke Amerika cuma untuk kawin siri, kau romantis atau bodoh.

Gentayangan mengingatkanku pada cerita-cerita Sidney Sheldon, tokoh perempuan kuat dengan akal panjang dan keberuntungan melimpah. Juga bagian-bagian kesempatan kedua, dalam Rage of Angels, Sheldon mematikan tokoh anak kecil dan beliau mulai menerima surat bernada benci. Seorang wanita menyurati dari timur memberi nomor telepon dan berkata, “Teleponlah aku, aku tidak bisa tidur. Mengapa kau biarkan dia mati?” Sheldon mendapat begitu banyak surat serupa sehingga ketika novel ini menjadi miniseri, karakter itu hidup. Seolah itu adalah penebusan dosa Sheldon untuk ‘kesalahannya’. Dalam Gentayangan, kesempatan kedua, ketiga bahkan lebih selalu muncul. Karena akan saling silang nasib sang protagonis di masa depan. Seperti di ending Peru saat ia keluar nandara, bersama pasangan lesbinya melihat keluarga kecil dengan putri remaja yang mengeluhkan panasnya Lima. Lalu di bagian lain, jagoan kita adalah mengambil sudut sang istri keluarga tersebut, melihat pasangan lesbi naik taksi. See… tampak menarik ya?! Intan memberi aman, dengan tak bertatap muka keduanya. Hal-hal macam gini hanya ada di fantasi, waktu linier dan kehidupan pararel biarlah dikuasai imaji para pengarang.

Kau tersenyum. Kau tidak merayakan Natal, dan kau pun yakin iblis tidak. Tapi di New York Natal adalah milik semua. Mereka yang beriman atapun yang agnostic dan ateis, pusat perbelajaan, dan barangkali juga penyihir dan iblis. Modern gothic yang setelah kubaca tuntas ternyata seru. Saya buka satu-per-satu lembarnya agar tak ada yang kelewat. Setiap ketemu stabile berarti sudah kulahap. Dan benar-benar taka da satu katapun terlewat. Saya harus akui, sekalipun cerita tak kuat untuk buat kisah panjang dengan detail seperti ini lebih susah dan rumit dari plot yang lurus. Makanya kenapa Memento masterpiece, karena pllt-nya mundur dan sekalipun prolog adalah ending kita tetap penasaran. Nah, Gentayangan tentunya disusun dengan riset mendalam, mengatur halaman-per-halaman, saya jadi penasaran bagaimana rewelnya Intan dan editor. Salut.

Tapi sungguh, kisah yang tak selesai selalu membuatmu penasaran. Perjalanan ternyata juga sebuah ruang tunggu. Feelingku, Gentayangan masuk lima besar. Seorang pencerita adalah seorang penghapus. Dan ini sukses dilakukan Gentayangan. Penulis fiksi ternyata benar-benar iseng, kalau bukan keji. Mereka bekerja keran menciptakan labirin, mencari orang-orang patuh untuk disesatkan di dalamnya, menikmati penderitaan korban sambil minum kopi dan makan donat. Good luck!

Kini kau kembali pada pertanyaan eksistensial yang kian mengganggumu. Bagaimana hidup berlanjut? Atau lebih tepatnya: memulai hidup dengan tujuan? SeeGood girls go to heaven, bad girls go everywhere.

Gentayangan – Pilih sendiri petualangan sepatu merahmu | oleh Intan Paramaditha | GM 617202043 | copyright 2017 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Penyelia naskah Mirna Yulistianti | Pemeriksa aksara Sasa | Desain sampul Suprianto | Foto sampul Ugoran Prasad | Penata letak Fitri Yuniar | cetakan pertama, Oktober 2017 | ISBN 978-602-03-7772-8 | Skor: 4/5

Untuk ia yang memberiku sebuah cermin dan sepasang sepatu merah sebelum datang musim gugur

Karawang, 1909 – 210918 – Sherina Munaf – Pergilah Kau & Apakah Ku Jatuh Cinta

HBD Mbak Purwantihuges and kisses