Dari IIBF, Eka Kurniawan, Dee Sampai Oak

Dari IIBF, Eka Kurniawan, Dee Sampai Oak

Kemenangan Dee untuk Aroma Karsa, 10 kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa, sampai kejutan menyenangkan di Belanda. Sejatinya pengen nulis semua hal tersebut, satu per satu. Sayangnya waktu di depan lembar buku lebih banyak (dan menyenangkan serta leluasa) ketimbang waktu di depan komputer. Maka kabar buku setengah bulan September ini, kita rapel dalam satu pos saja, termasuk curhat masalah lain.

#1. Tujuh Buku Tuntas Baca

Lagi gandrung-gandrungnya menginvestasikan waktu dengan buku. Dua minggu dapat baca tujuh buku: Timeline (Michael Crichton) yang berkisah perjalanan waktu ke abad ke 14. Seru, mendebarkan, sadis. Harimau! Harimau! (Mochtar Lubis) bagaimana tujuh pencari damar mencoba bertahan hidup di rimba raya dari terkaman harimau. Luar biasa, sejatinya manusia memang makhluk yang memiliki naluri buas demi kelangsungan hidup. The Spirit of Loving (Emily Hipburn Sell) isinya hanya kutipan cinta-cintaan, sekalipun dinukil dari berbagai orang besar (sebagian besar Penulis), jelas ini sekedar kumpulan kalimat, yang bisa kita susun mahasiswa magang dalam semalam. Sungguh mengecewakan. Manifesto Flora (Cyntha Hariadi), kandidat ketiga Kusala. Kumpulan cerpen yang padat, aneh, dan menggelitik. Lebih bagus dari Laut Bercerita, tapi tak lebih berat dari Kura-Kura Berjanggut. Catatan Harian Adam & Hawa (Mark Twain), bagaimana manusia pertama dan kedua menjelajah bumi. Twain adalah jaminan kualitas, sayangnya mutu terjemahan kurang OK, typo dan layout payah. Muslihat Musang Emas (Yusi Avianto Pareanom) buku terbaik pekan ini, kumpulan cerpen unik khas Paman Yusi yang memang selalu tak biasa dari gaya bercerita ala Memento sampai kisah pembunuhan berencana yang rapi sekali. Rose Madder (Stephen King) tentang seni bertahan hidup, istri yang kabur dari rumah demi masa depan yang menjanjikan. Megap-megap mengikuti Rosie McClendon menelusur masa lalu dan menyusun kepingan harap. Misteri, drama, horror.

Rose Madder sudah kureview dan kukembalikan ke Perpus Bus Taka lalu pinjam pulang Pulang (Leila S. Chudori) dan Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer), semuanya nantinya akan kuulas satu per satu. Tunggu waktu yang pas. #OneWeekOneBook itu event apa ya?

#2. Pengumuman 10 Besar Kusala Sastra Khatuistiwa

One

Langsung dari akun facebook Richard Oh, pengumuman 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 rilis pada hari Jumat 30 Agustus 2018. Malam sepulang kerja, saat beli nasi goreng muncul di timeline sosmed. “Karya2 terseleksi Kusala Sastra Khatulistiwa ke 18 tahun ini. Selamat!”

Kejar prosa. Ketika pengumuman ini disampaikan saya baru baca dua dan ulas satu: Kura-kura Berjanggut, Laut Bercerita. Langsung pesan di toko daring Demabuku apa saja yang ready stok: Manifesto Flora, Muslihat Musang Emas dan Gentayangan. Sampai saat ini sudah nambah baca dua (baca nomor satu). Dan kemarin di IIBF beli dua lagi: Tiba Sebelum Berangkat (Faisal Oddang) dan Sai Rai (Dicky Senda). Total tujuh buku sudah ada di rak, sisanya kejar! Maaf mengabai kategori puisi karena saya tak romantis dan otakku sulit mencerna sajak.

Jadi di mana kategori Karya pertama atau kedua ya?

#3. Eka Kurniawan Mendapat Prince Claus Award 2018

Wow, ini kejutan menyenangkan. Penulis lokal kebanggan kita semua Eka Kurniawan mendapatkan penghargaan bergengsi di Belanda The Prince Claus Award. Bersama Eka adalah penulis naskah teater dari Uganda Adong Judith, arsitek Suriah Marwa al-Sabouni, sutradara Filipina Kidlat Tahimik dan jurnalis independen O Manelick.

Prince Claus Award adalah penghargaan terhadap individu dan organisasi yang mengapresiasi kebudayaan di tiap negaranya yang diadakan sejak 1997, Indonesia sebelumnya sudah mengukuhkan nama Slamet Gundono pada tahun 2005, seniman visual FX Harsono tahun 2014 dan Teater Garasi dari Yogya tahun 2013. Sesuatu yang membanggakan sekali akhirnya tahun ini seorang Penulis yang menyabetnya. Rencana penganugerahan dilakukan di Royal Palace Amsterdam pada 6 Desember 2018.

Sebagai orang Indonesia pertama yang masuk kandidat Man Booker Prize, pernghargaan bergengsi dari Inggris. Tahun 2016 bersaing dengan nama-nama besar Orhan Pamuk dan Kenzaburo Oe. Mari kita tunggu apa yang akan disampaikan beliau dalam ‘Louder Than Words’ di Compagnietheatre. Selamat Sang Manusia Harimau!

#4. Aroma Karsa dinobatkan Book of the year oleh IKAPI

Bersamaan dengan dibukanya Indonesia International Book Fair (IIBF) 2018 di JCC (Jakarta Convention Center), IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) menganugerahkan para pemenang tahun ini. Tiga pemenang IKAPI Award 2018 adalah: Aroma Karsa karya Dee di kategori buku, Rhenald Kasali sebagai Penulis dan Nirwan Asuka sebagai literasi promo dengan Pustaka Bergerak-nya.

Sudah baca lima buku Dee: Filosofi Kopi, Akar, Ksatria dan Bintang Jatuh, Recto Verso. Karena dirasa tak memenuhi ekspektasi maka kurang antusias saat rilis karya berikutnya, Aroma Karsa banyak promo dari Bentang, saya pasif. Ada beberapa give away-pun saya tak turut. Ketika akhirnya menang, apakah minat? Tetap tahan diri, kecuali ada yang minjami pasti kubaca, pada dasarnya saya pembaca segala rupa. Saya justru tertarik sama buku-buku Rhenald Kasali, selalu berbobot dan nikmat analisisnya. Sudah akrab di Harian Kompas. Baru baca ulas Let’s Change! Kumpulan esai di media massa. Sayangnya buku-buku baru beliau mahal-mahal sekali, untuk invest ke non fiksi saya selalu pikir panjang.

Well, selamat!

#5. IIBF

IIBF berlangsung 12-16 September 2018 dengan acara meluber, dari 17 negara, saya akhirnya bisa datang di hari terakhir untuk ketemu Eka Kurniawan, yeeee…. Ada Fenny Rose, Hanum dan Rangga sampai Maudy Ayunda tapi tetap yang antusias bersapa Bung Eka, sampai berebut foto. Belanja sembilan buku, ga kalap-kalap amat sih karena diskon untuk buku-buku bagus paling 20-30%. Yang zona kalap 50-80%, kebanyakan buku biasa jadi untuk mendapatkan bukunya Seno Gumira Ajidarma, Harper Lee serta kumpulan cerpen Penulis dunia harus berjubel dengan ratusan pengunjung, mengulik-ulik tumpulan sampai kaki pegel banget. Setelah perjuangan itu, hanya dapat tiga buku jelas ga sebanding. Hufh… malah saya antusias pameran buku di Solo, buku-buku keren harga beneran dibanting. Di zona kalap, saya tak kalap.

Ketemu teman-teman: Ari Keling, Penulis kece dari Bekasi teman Cendol KCP. Bersua, teman komunitas buku Bung Jamal tak sengaja saat di grup konfirmasi langsung japrian, dan tentu saja Moh Takdir, manusia super dari Bandung. Janjian dengan bung Tak doang sih sebenarnya, ketemu teman-teman dalam lingkup buku sungguh menyenangkan.
Terima kasih kawan.

#6. One Hundred Years of Solitude

Penulis nomor satu dalam daftar Best 100 Novel versiku tahun lalu akhirnya terbit lagi, kini dengan Penerbit major Gramedia Pustaka Utama. Gabriel Garcia Marques menang Nobel Sastra tahun 1982 setelah merilis One Hundred Years of Solitude. Mahakarya yang berkisah Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran beserta keturunannya di dunia imajiner. Saya sudah beli bukunya tahun 2015 terbitan Bentang, hard kover dari toko buku online langganan. Terpesona akan realis magis, langsung mengukuhkan menjadikan Penulis favorit yang wajib antisipasi. Bahkan tanggal berdirinya grup WA Bank Buku terpilihkan 6 Maret.

Saya bukan pengoleksi buku sama dari penerbit berbeda, sudah banyak buku dengan variatif kover, penulis luar diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan berbagai versi dan penerbit, tentu dengan kualitas berbeda-beda. Plus-minus wajar, Bentang sendiri bagiku sudah cukup memuaskan. Tanggal 10 September 2018 dengan dirilisnya alih bahasa Gramedia tentu kabar menggembirakan karena Gramedia cakupan jauh lebih luas, tokonya ada di tiap kota besar.

Justru saya mengejar Love in the Name of Cholera yang jua sudah dikerjakan Gramedia, kumpulin duit lagi.

#7. Penerbit Oak Tutup

Sayangnya catatan ini harus ditutup dengan kabar sedih. Melalui akun resmi ig-nya Penerbit indi keren dari Yogyakarta, Oak mengumumkan selesai. “Bersama ini kami umumkan bahwa, setelah beroperasi selama empat tahun dari tahun 2014, karena satu dan hal lain sebab, Penerbit Oak telah dibubarkan secara resmi. Apabila ada yang kurang memuaskan atau kurang menyenangkan selama empat tahun ini, kami mohon maafd sebesar-besarnya. Terima kasih.”

Secara keseluruhan Oak termasuk penerbit indi keren. Buku-bukunya terpilih, kualitas terjemahan OK, tata letak rapi, sedap di mata, mutu cetak bagus dan harga jua bersahabat. Sudah punya tiga bukunya, maka setelah tutup saya langsung pesan online tiga lagi: Bartleby, si Juru Tulis (Herman Melville), Mati Bahagia (Albet Camus) dan Sang Pengoceh (Mario Vargas Llosa).

Terima kasih Oak dan tim. Semoga bisa bangkit lagi dengan rupa baru yang lebih menakjubkan. Kami selalu menantimu.

Sekian.

Karawang, 170918 – Sheila On 7 – Segalanya