Christopher Robin: Lima Belas Menit Pertama Luar Biasa, Selanjutnya Please Jangan Tertidur

Winnie The Pooh: People say nothing is impossible, but I do nothing every day.

Harapan: Seperti Finding Neverland (dari sutradara yang sama), bagaimana proses penciptaan novel fenomenal Peter Pan dibuat dengan drama berkualitas, setidaknya Wendy memberi banyak warna penggerak kisah. Kenyataan: Robin melimpahkan warna kebahagiaan di layar, keceriaan buat anak-anak, tidak untuk dewasa. Ini film nostalgia, sekedar hiburan. Anak-anak bisa saja tepuk tangan keseruan, non fan boy fokus menghabiskan popcorn, tanpa tertidur saja sudah sebuah prestasi!

Rencananya mau nonton sama Hermione Budiyanto karena dia suka boneka. Di kamar ada banyak teman tidur: Ciprut Kodok, Tayo and Friends, Doraemon, Pinky Bear, Spongebob, Princess Elsa, Bernie, dan seterusnya. Tentu saja Pooh ada, boneka sejuta umat anak manusia. Jauh hari sudah antisipasi, tapi Rabu sore, 29 Agustus 2018 segala rencana buyar. Rencana lari sepulang kerja gagal. Rencana baca Jo’s Boys di ruang baca Priority gagal. Yang utama sekali rencana nonton bareng keluarga gagal, lebih karena Rizka, teman kerja beli online pakai MTix dapat free satu dan diskon di XXI Resinda Park Mall (RPM), karena waktu mepet bakda Magrib yah akhirnya cuzz sama teman-teman kantor. Rencana nanti nonton lagi sama keluarga, kalau bagus. Harapannya…

Christopher Robin, seperti yang sudah kita kenal, adalah karakter dalam cerita novel Winnie The Pooh karya Alan Alexander Milne. Awalnya sang veteran mau menulis kisah tentang perang, tapi saat pengasuhnya membeli boneka mainan untuk sang anak, ide kisah Beruang muncul. Buku yang muncul tahun 1920an itu meledak di pasaran, Milne akhirnya meletakkan draft kisah perangnya dan terus mengejar fantasi Pooh. Beliau memberi nama karakter pendamping sang beruang dengan nama putranya, mencoba menciptakan anak idaman di lembar-lembar buku daripada mewujudkan dalam dunia nyata. Sebuah legacy luar biasa, wajarnya itu sebuah penghargaan. Awalnya menyenangkan diajak berpose dengan anak-anak dengan menyuapkan madu, diminta tanda tangan dan seterusnya. Faktanya, Robin kena bully di sekolah. Menjadi terkenal, teman-temannya mengidolai karakter rekaan, Robin populer instan. Hal tersebut malah membuat muak, Robin mencoba keluar dari bayang-bayang Pooh hingga membencinya. Mencoba melepas image bocah lucu. “Ayahku menaiki punggung kecilku, ia mencuri nama baikku dan meninggalkanku tanpa hal lain kecuali ketenaran.” Ironisnya lagi, selepas ayahnya meninggal ia menolak royalti karya saking keselnya sama Pooh! Walau akhirnya setelah menikah ia kembali mengakrabi lagi sang beruang setelah memutuskan kembali ke Devon dengan kecimpung dunia buku. Hal yang otomatis membuatnya ‘bertemu’ Pooh lagi.

Itu yang ada di benakku ketika dengar sang Robin akan difilmkan, bagaimana kenyataan? Bisa dipastikan cerita film ini fiksi. Tak ada sangkut pautnya dengan Goodbye Christopher Robin yang rilis tahun lalu. Tidak mengadaptasi dari buku apapun, sebagian paling dinukil dari The Enchanted Place, tapi tetap Christopher Robin berdiri sendiri. Disney merombak segalanya. See…

Sejatinya kisah sungguh menarik sedari pembuka. Christopher Robin muda (Orton O’Brien) melakukan pesta perpisahan di hutan legendaris Hundred Acre Wood dengan teman-teman. Farewell dengan Piglet (voice by Nick Mohammed), Rabbit (Peter Capaldi), Eeyore (Brad Garrett), Kanga (Sophie Okonedo), Roo (Sara Sheen), Owl (Toby Jones), Tigger (Jim Cummings – aslinya audisi jatuh ke Chris O’Dowd tapi karena aksen British-nya kurang maka menit injury diganti) dan tentu saja Winnie The Pooh (juga disuarakan oleh Jim Cummings). Robin akan sekolah asrama jauh dari Sussex. Boneka ini tampak hidup, tampak meyakinkan sekali. Teknologi benar-benar mencipta hal-hal mustahil menjadi tampak mewah dan nyata, seolah bulu-bulu Pooh yang lembut bisa kita rasakan kepekaannya. Kalimat haru sebelum benar-benar berpisah, saat Robin nanti berusia 100 tahun, Pooh akan berusia berapa? 99 tahun. Hehe.. janji setia bilang ga akan melupakan Pooh. Adegan dialog ini jelas diambil langsung dari ending novel, Plek sama persis sebagai perpisahan A.A. Milne. Lalu judul utama muncul, diikuti cast and crew utama. Salah satunya muncul nama penulis skenario jaminan kualitas film-film anti mainstream (baca snob): Alex Ross Perry, orang yang menghantar kita dalam petualangan Queen of Earth, Golden Exits, Listen Up Phillip sampai Nostalgia.

Adegan berikutnya tak kalah keren. Bak membuka lembar-lembar novel kita disuguhi Bab demi bab, bagian pembuka bab yang biasanya bergambar untuk menarik minat tetap terlihat asli dalam goresan pena Ernest Shepard. Dari hari-hari sedih Robin menjadi yatim saat dengar kabar sang ayah meninggal, sayangnya slot cerita sang Penulis ga di-explore sama sekali, yah sebenarnya saya hanya ingin lihat Milne sebentar aja ga papa, sebentaaaaar saja, tapi ternyata ga ada dalam script. Berikutnya bab-bab singkat itu menggambarkan Christopher Robin Dewasa (Ewan McGregor) pertama bertemu Evelyn Robin (Hayley Atwell, secantik biasanya) di kendaraan umum, berangkat perang Dunia Kedua mengemban tugas, sampai akhirnya mereka memiliki seorang putri imut Madeline Robin (Bronte Carmichael).
Kini Robin bekerja di perusahaan koper. Punya atasan galak Giles Winslow Jr. (diperankan dengan konyol oleh saudara Holmes: Mark Gatiss), Perusahaan sedang kolaps dan butuh cost down. Pembiayaan dari berbagai sumber harus disunat, diskusi melucu dari 1%, 2%, sampai akhirnya harus 20%. Apesnya, biaya man power masuk daftar sehingga Robin yang bekerja sebagai manager efisiensi harus memecat karyawan demi stabilitas, memilah mana yang masih dan harus dibutuhkan siapa yang bisa dikeluarkan. Akhir pekan ini Robin harus tetap kerja, tetap ke kantor, demi perusahaan agar tetap bertahan. Mimpi itu tidak gratis, ada harga yang harus dibayar termasuk mengorbankan waktu kebersamaan keluarga. Kamu jadi perenang atau yang tenggelam?

Maka saat Robin menyampaikan hal ini, rencana liburan keluarga ke Sussex gagal, Evelyn kecewa, Madeline lebih kecewa lagi. Harus lembur di kala sudah menyusun waktu liburan itu emang ngeselin. “Apakah kertas kerja dalam tas lebih penting ketimbang keluarga?” Klise yak. Tetangganya yang annoying menambah rumit mengajak main kartu. Sebelum berangkat Madeline meletakkan gambar Pooh di meja yang pernah dibuat Robin waktu kecil, di sampingnya ada segelas madu. Karena tak awas, Robin tak mengaja menyenggolnya hingga tumpah. Dan ta-daaa… di dunia fantasi Hundred Acre Wood, di dimensi lain, di semesta imajiner. Di sebuah rumah pohon, Pooh kini (tampak) sudah dewasa, seakan masa hibernasi sudah selesai. Terbangun dan kebingungan mencari teman-temannya. Pooh menyeberangi sungai kecil sambil berteriak-teriak memanggil teman-temannya, tak ada. Lalu masuk ke pintu pohon, dan saat keluar ia berada di taman London, dunia yang sangat berbeda dengan hutan miliknya. Tertidur di kursi dua arah tepat di tengah taman.
Robin dengan payung dan kopernya pulang kerja mendapati tetangga mengetuk pintu rumahnya. Waduh, tampak mengganggu, Robin ngumpet dan duduk di kursi taman. Dan pada akhirnya sahabat lama ini bertemu. Pooh langsung mengenali Robin sekalipun sekarang sudah dewasa dan tinggi. Robin shock, Pooh hidup dan berada di London!!! Pintu pohonnya pun sudah menghilang. Pertemuan mengejutkan, mereka harus segera ditutup karena tetangga muncul, Robin memasukkan Pooh ke dalam baju dan mengaku sebagai kucing penyakitan agar bisa segera pergi dan tak diganggu. Banyak tanya, banyak cerita dua sahabat ini. Apa yang terjadi selama ini. Pooh mencari teman-temannya, Robin sudah dewasa, sekarang pikirannya sudah lebih ke logika. Semua masa lalu mereka hanya bayang dan jauh dari realita.

Madu yang tumpah di meja disikat Pooh. Rakus dan tampak menggemaskan. Robin ngomel ga jelas, rumah berantakan, madu bertaburan di mana-mana. Puncaknya, Pooh mencipta dapur bak kapal pecah gara-gara rak roboh dipanjat yang dikiranya tangga. Saat itulah, ting! Robin memutuskan ke Sussex, menyusul anak istri dan mengembalikan Pooh untuk menemukan kembali teman-temannya.

Perjalanan-pun sungguh lucu. Di stasiun, Pooh ingin balon. Merah seperti yang sudah sering kita lihat tentu saja. Beli tiket, Pooh kebawa anak kecil, dicari dalam kerumunan hingga pas kereta berangkat mereka sudah di dalam, balon-nya terjepit di pintu sepanjang perjalanan. Di tempat duduk, Pooh menyebut setiap benda yang terlihat dari jendela. Rumah. Pohon. Sapi. Kambing. Robin yang butuh konsentrasi dengan kertas kerja di meja, meminta Pooh memelankan suara. Sudah lebih pelan, tapi tetap mengganggu. Meminta lebih pelan lagi. Pooh suka bermain. “I am playing a game. It’s called “Say Waht You See”’ Hufh… gemes kan!? Sungguh dunia memang sebuah lingkaran kehidupan yang berulang. Anak kecil hanya dengan balon sudah bahagia, hanya makan es cream sudah wow, hanya melihat hal-hal sederhana dan bermain sudah sumringah, hal-hal remeh itu akan memudar seiring waktu. Kita semua pernah mengalami, hal yang dahulu terasa penting kini seolah sekedar angin lewat. Maka dewasa kebahagiaan seharusnya tak melulu dengan tolok ukur jumlah dan pencapaian materi, lihat sekeliling banyak hal bagus berlangsung yang harus disyukuri.

Sesampai di Sussex, Robin melihat anak istri dari luar rumah. Mereka adalah segalanya. Lebih penting dari pekerjaan? Tentu. Saat di depan rumah pohon, Pooh diminta kembali masuk dan segera say goodbye. Berkali-kali. Namun, seakan ada bunyi ‘ting’ lagi di kepala. Robin memutuskan ikut masuk ke dimensi lain. Dirinya kini sudah dewasa, sehingga kesulitan. Dan akhirnya, ta-daa… Welcome back to Hundred Acre Wood, Robin. Kini hutan mereka ga secerah dulu. Berkabut, tampak suram, tampak samar. Pooh selalu gembira, “It’s always a sunny day, when Christopher Robin comes to play.” Lokasi syuting Hundred Acre Wood benar-benar dibuat di Ashdown Forest, tempat yang menjadi ilham sang Penulis atau sekarang disebut Windsor Great Park.

Ada banyak adegan menggemaskan berikutnya. Setiap Pooh yang polos ngomong pengen cubit. Tigger yang sok tahu, yang kaget dan marah melihat bayangannya di air. Piglet yang mengkhawatirkan buah eks, Owl yang bijak sampai Eeyore yang sayu, slow, woles. Semua boneka rasanya kolektivable. Nah di tempat asing, di masa kecilnya inilah Robin mencoba menelaah, membantu Pooh menemukan teman-temannya sementara ia sendiri harus memecat karyawan, mengejar deadline. Tak perlu kutanya apakah akhirnya para sahabat akan muncul, karena jelas pasti terjadi pertemuan nostalgia. Melawan musuh bebuyutan Heffalump dengan gaya kocak, walau hanya akting dengan pura-pura kelahi, tentu saja Piglet yang paling was-was ceriwis menganalisis. Setelah reuni yang hangat ini, Robin harus segera kembali ke London. Drama aslinya ada di sini, akibat ulah Tigger, koper berisi kertas kerjaan tertinggal. Pooh dkk mencoba membantu, bersama Madeline mereka bergegas ke London. Misi ‘expedition’ yang Pooh salah ucap ‘exposition’. Naik sepeda mini berisi gerobak, naik kereta api, menumpang mobil boks. Hal-hal konyol yang akan membuat tawa anak-anak, yah mungkin jua remaja. Berhasilkah mereka menyelamatkan hari? Senin pagi memang tampak selalu menyebalkan, tapi Woozle jelas jauh lebih menyebalkan.

Terus terang, bagiku mengecewakan. Drama keluarga yang sudah banyak dibuat, kisah fantasi yang diharapkan menghadir imaji liar tak terwujud. Alurnya bergegas, seolah durasi satu setengah jam lebih yang diberi kurang lama. Para karakter ngos-ngosan, penonton menguap ingin selekas sampai. Nilai utama film ini ada di para karakter lucu yang paling mengena ucapan Eeyore: “Hello Evelyn my wife!” membuat seisi geeer dalam tawa, lupakan cerita karena Christopher Robin lebih kepada film hiburan keluarga. Niatan nonton ulang langsung saya coret sekalipun Hermione merengek. Untungnya kemudian film Sherina Munaf rilis sehingga bisa dislemur. Hufh…

Menurut Rani Skom – Menurut aku lucu, lucunya ngemesin si Pooh-nya, binatang-binatangnya, tapi dari awal itu saya sempat nanya ya, itu tuh beru.. boneka apa hewan? Cuman kalau untuk konfliknya terlalu standar ya. Konflik keluarga itu ya sudah banyak banget dibahas apalagi tentang masalah pekerjaan yang mengorbankan keluarga, itu tuh pada akhirnya pasti keluarga, kayaknya terlalu lumrah. Cuman untuk masalah cute, visualisasi itu OK. Skor: 3.5/5

Menurut Rizka Nov. – Idem sama Bu Rani, haha… filmnya lucu, Cuma visualisasinya gambarnya bagus errgghh… ceritanya standar ada satu ini sih ya, pas Pooh ngeliat, ngeliat Pooh-nya itu kakinya keliatan. Ininya, gariiis yang menunjukkan dia boneka itu kelihatan. Yaa.. udah sih gitu aja. Skor: 4/8

Menurut Intano. – Entar dulu aku lagi makan, hehe… Aku emang suka banget sama Pooh dari dulu, suka banget. Kalau mau ngecek di kamar juga ada, boneka Pooh teman bobo aku. Trus, errgh.. mungkin aku eerghh… ih aku… emang sih konfliknya ga terlalu, ga terlalu bagus. Maksudnya eerggrr.. kurang greget tapi, karena filmnya kan buat semua umur jadi ya sebenarnya bisa inspiring dah dapet sih untuk kartegori semua umur ya. Seru banget, lucu, gemesin, apalagi Pooh-nya yang polos banget. Habis itu Tigger-nya yang ga mau diem, Piglet-nya yang depresif banget, Eeyore yang sama-sama depresi juga. Eh enggak-enggak Piglet itu ga depresi, Piglet itu pencemas. Seru banget konfliknya dapet banget, seru, lucu, eerhhgg… kalau aku sih skor: 4.25/5

Ketika film selesai jangan langsung cus keluar, ada pesan moral dalam lagu. Doing nothing often leads to the very best kind of something. Karyawan-karyawan Mr Winslow Luggages sedang di pantai bersama Pooh dkk dengan iringan piano dan nyanyian ceria Richard M. Sherman: “Busy Doing Nothing.” Nah, berarti tindakan Patrick Stars berdiri dari pagi sampai sore di perempatan jalan menunggu Spongebob Squarepants pulang kerja itu tak sebodoh yang kalian kira, menunggu diam berdiri dengan muka polos: ‘Doing Nothing’ Dalam film bisa kita lihat saat Pooh bilang, ‘Saya memikirkanmu setiap hari.’

Oh I am Tigger! Ti-doubleG-er. “What day is this? It’s today.”

Christopher Robin | Year 2018 | Directed by: Marc Forster | Screenplay Alex Ross Perry, Tom McCarthy, Allison Schroeder | Story Greg Brooker, Mark Steven Johnson | Based on characters created by A.A. Milne, Ernest Shepard | Cast Ewan McGregor, Hayley Atwell, Bronte Carmichael, Mark Gatiss, Jim Cummings, Toby Jones | Skor: 3/5

Karawang, 3008 – 140918 – Bee Gees – How Deep Is Your Love

Iklan