Rose Madder – Stephen King

Rose Madder – Stephen King

Kisah istri yang kabur dari rumah memperjuangkan hak hidup dari suami psikopat, sekalipun nyawa pertaruhannya.

Namanya Norman Daniels, dia suamiku seorang detektif polisi dan gila.”

Butuh perjuangan ekstra untuk menuntaskan 750 halaman, dua bulan, di antaranya malah menyelesaikan banyak baca buku lain. hehe… Padahal buku pinjam Bus Taka Taman Galuh Mas, buku pinjaman biasanya kebut dan prioritas biar segera balik. Namun Rose ternyata lebih lama dari rencana. Bisa jadi ini adalah buku Stephen King pertama yang kutuntaskan, setelah senyap maju mundur Night Shift seri satu dan dua yang ga tuntas. Kumpulan cerpen yang sebenarnya menarik tapi memang mood horor sedang down. Rose walau ada horror-nya, dominan drama keluarga yang sangat asyik diikuti, misteri pembunuhan, fantasi seru serta bumbu misteri terus mengelayut, setiap lembarnya memberi tanya penasaran nasib para jagoan. Bagaimana setitik noda darah di seprai memicu rangkaian kisah panjang, merentang sangat panjang dalam kejar tangkap Tom & Jerry. Aku tangkap, atau kau memperangkapku. Uniknya, mereka adalah pasangan suami istri yang masih sah, sudah belasan tahun menikah. Detail kenapa, kok bisa, dan segala kerumitan rumah tangga pematiknya menjadi magnet baca luar biasa karena dituturkan dengan bagus, sangat bagus malah.

Kisah bermula dari Rose McClendon Daniels yang pada titik entah apa, duduk di kursi Pooh menatap aneh setitik darah di kasur. Ia adalah istri yang teraniaya, menikahi Norman Daniels, seorang polisi gila yang suka kekerasan. Mengidap penyakit sadism, di mana ia akan merasakan kepuasan melihat pasangan terluka, teraniaya. Menggigit kuku hingga berdarah, menyiksa diri demi kepuasan. Maka pagi itu, ketika suami bekerja menjalankan rutinitas, Rose bebebres rumah menyaksikan noda darah, ada klik di kepalanya bahwa darah itu bisa jadi bukan yang terakhir, suatu saat Norman akan lebih gila, tak terkontrol, yang bisa saja membuatnya tewas. Pernah ia keguguran bayi pertama karena aniaya, telpon bantuan ambulan dan Rose diminta bahwa itu kecelakaan. Bayi yang rencana diberi nama Caroline, keguguran karena pukulan emosi tak jelas. Walau tidak setiap saat Norman ingin memukul, kalau dilogika kenapa, orang sakit gitu cuma bergumam, ya pukul karena memang seharusnya begitu. Dan setelah menikah empat belas tahun penuh derita, terpenjara sepi karena terputus dunia luar dan menghamba tanpa perlawanan, Rose McClendon memutuskan kabur. “Aku pergi. Aku akan benar-benar pergi.” Tanpa banyak bawa barang, dengan kartu ATM dan tekad baja demi masa depan yang lebih menantang dan menjanjikan. Karena ia tak pernah melihat dunia luar lama, rasanya aneh sekali. Seperti anak ayam yang pertama dilepas ke dunia luar, setelah lama disuapi induk. Tanpa tujuan pasti, tanpa sanak family (orang tua dan saudaranya digambarkan tewas kecelakaan, awalnya kukira Norman punya andil di bencana ini tapi tidak, kecelakaan itu lebih pada takdir apes mereka) dan tanpa petunjuk jelas akan ke mana, ia naik taksi ke terminal. Mengambil uang secukupnya, beli tiket asal, tanya petugas bantu, maka perjalanan panjang-pun terjadi. Perjalanan entah ngapain, entah ke mana, yang jelas melarikan diri dari rumah.

Norman shock, tak menduga istrinya berani mengambil langkah berani ini. Sebagai polisi teladan, terlatih untuk memburu. Ia menyelidiki banyak kemungkinan ke arah mana. Kita diajak mendalami pikirannya, mengambil sudut pandang merasuki kegilaan dalam otaknya. Sering ngobrol sendiri, sering berdebat dalam kepala, bahkan suara almarhum ayahnya sering ikut diskusi. Ciri khas seorang imajiner nih, mengingatkan pada 24 wajah Billy dimana ia memiliki kepribadian multi. Ketika front miring, rasanya muak menjadi Norman. Bagaimana keji dan skeptisnya hidup, betapa ia dengan perilaku abmoral-nya. Darah, saya butuh pemandangan darah! Demi kelangsungan penyelidikan masalah keluarga ini, ia ambil cuti panjang. Lalu kita mengambil perspektif-nya melakukan deduksi, menjelma dalam sukma dan berandai berada dalam jiwa sang istri. Penyelidikan yang efektif, dijelaskan dengan mengagumkan. Mengambil keputusan tepat, sampai akhirnya ada dalam satu kota dengan Rose. Sampai di sini kita tahu, otak Norman encer, pintar analisis dan bisa memikirkan langkah lebih ke depan dengan segala resiko dan akibat.

Rosie sendiri diceritakan menemukan kehidupan baru yang seru dan menyenangkan, terlihat ia beruntung. Hal-hal yang ia pilih langkah terasa benar terus – tepat dan dinaungi orang-orang baik. Diarahkan oleh Peter Slowik, pekerja sukarela Travel Aid ke rumah penampungan wanita yang butuh bantuan Daughers and Sisters (D&S) di 251 Durham Avenue, yang ternyata pemiliknya adalah mantan istrinya. Terlihat aneh, pasangan yang sama-sama peduli sesama, jiwa sosial tinggi namun tak bisa langgeng sehingga bercerai. Berkenalan dengan teman-teman baru, bertemu Anna Stevenson menjelma menjadi dewi penolong, menjadi pramusaji paruh waktu sampai ia nantinya sudah mandiri. Benar-benar rumah panti sosial yang keren. Mandiri serta efektif, walau di dunia luar dikira rumah lesbi dan bernada miring, tapi jelas kalau benar ya ga perlu dengerin omongan orang lain.

Ketika di toko gadai Liberty City Loan and Pawn ia iseng menanyakan apakah cincin nikahnya emas asli ataukah imitasi, ia tak terkejut bahwa itu tak murni. Berarti suaminya bohong, saat ditanya harga beli dulu pas mau nikah mengaku setara mobil baru. Maka harga 50 dolar yang ditawarkan sang penjual Abe Steiner terlihat wajar, awalnya tak mau menjual dengan harga serendah itu tapi pikiran itu langsung berubah saat tak sengaja melihat lukisan, tergeletak seakan tak laku karena jarang disentuh. Ia sedang tak berminat pada seni, entah seni rupa atau apalah, jadi ketika ia berhenti berjalan demi lukisan, itu sungguh luar biasa. Seolah-olah bukan dirinya yang melihat lukisan itu, setidaknya saat pertama itu. Seolah-olah lukisan itulah yang melihat dirinya. Maka tak terjadi transaksi jual beli, tapi barter – tukar barang, harganya 75 dolar basa basi terjadi deal jua tanpa ada yang keluar uang. Cincin nikah ditukar dengan lukisan misterius seorang perempuan berbaju ungu yang menghadap reruntuhan kuil dengan pemandangan alam, sungainya bahkan seakan mengalir kalau ditatap lama penuh khayal. Lukisan dengan bingkai kayu ukuran panjang dua kali tiga kaki disandarkan pada jam dinding mati dan patung anak telanjang di ujung jalan. Perempuan yang terlihat punggung itu memang sudah terlihat tak wajar, dan pertukaran itu semakin mengejutkan karena sang pelukis tak mencantumkan namanya, hanya bertulis Rose Madder di balik bingkai. Kebetulan langka, seolah lukisan itu memang berjodoh dengan Rosie McClendon. Dari sinilah judul buku ini diambil. Rose Madder – Wanita Dalam Lukisan. “Ini lukisan cat minyak asli, bukan foto.

Kehidupan Rosie berubah banyak setelah berkenalan dengan anak penjualnya, Bill Steiner melayani dengan gugup karena jatuh hati pada pandangan pertama, yang suatu hari mengajakanya jalan. Awalnya makan malam biasa, lalu dengan Harley Davidson nya berlanjut mengajak piknik di Sabtu pagi ke Shoreland, State Highway 27. Dengan mudah bisa kita tebak mereka akan berlanjut kencan. Rosie setelah mandiri memang merubah penampilan, berdandan, merubah warna rambut, memandang hidup dengan optimisme, mendapatkan pekerjaan sebagai pembaca audio novel-novel atas rekomendasi Rob Leffers yang ditemuinya secara tak sengaja, diminta membacakan beberapa penggalan buku dan langsung tertarik, uji coba di studio, memikat di hari pertama sehingga langsung disodori kontrak, dengan gaji yang membuatnya bungah, tak diduganya, suaranya dinilai mahal. “Katanya suaramu suara paling bagus setelah Kathy Bates membacakan Silence of the Lambs.” Dan novel-novel klasik-pun disebutkan, dipenggal kalimat-kalimatnya, sungguh menyenangkan saat buku-buku favorit dibaca ulang dan digulir penuh keceriaan. Lihat, betapa beruntung dan asyiknya hidup bagi orang-orang pasca dianiaya, jangan pernah berhenti berdoa dan berusaha wahai manusia! Akhirnya Rosie punya kehidupan yang patut disyukuri, mendapat teman-teman luar biasa, pekerjaan menyenangkan, serta kehidupan baru yang bahkan tak berani dipikirkannya ketika mendekam menjadi ibu rumah tangga. Namun King tentu saja tak akan tinggal diam akan kisah datar semacam itu. Norman marah, kecewa dan memburu dengan segala cara.

Korban pertama adalah pemuda apes yang menemukan kartu ATM di tong sampah. Kemudian korban tewas pertama adalah mantan suami Anna, Peter Slowik dibunuh dengan sadis di bawah lantai sebuah rumah. Berikutnya dalam pemburuan, mengendus bak kucing liar penuh nafsu, Norman mengarah ke rumah D & S. Pamela si pirang, menjadi korban juga. Bahkan akhirnya termasuk sang pemilik D & S bernasib tragis. Saat Rosie tahu korbannya dibunuh dengan cara ia tahu pula Norman tak akan tinggal diam, akan memburunya.

D & S berencana mengadakan bazar di Sabtu pagi, wahana ala Sekaten sampai konser amal di malam hari. Rosie berencana tetap menghadirinya selepas piknik dengan Bill. Norman yang melihat brosur acara saat makan siang, mengendus inilah saatnya menemukan istrinya. Mencukur habis rambutnya, mencuri mobil di bandara untuk transpotasi, membeli kursi roda dan peralatan pura-pura sakit demi memantau bazar. Dan meledaklah pertikaian di sana. Suami-vs-istri dalam kisah penuh darah, siapa yang berhasil bertahan hidup?

Cerita sejatinya adalah lukisan yang hidup. Lukisan Rose Madder tersebut mengeluarkan jangkrik hidup dan bernyanyi di kala malam. Lalu saat Rosie antara sadar dan pikiran melayang, berhasil masuk ke dalamnya. Bertemu Rose Madder, perempuan lain yang meminta tolong untuk mengambilkan bayi di dalam kuil banteng, dan misi rumit di dalamnya. Ia harus telanjang, demi kemurnian dan saat terbangun diluarduga, ia telanjang. Gelang yang ada dalam lukisan sudah berpindah tangan, sehingga malam itu yang dikira hanya mimpi menjadi menakutkan, ini bukan khayalan sobat. Di sinilah saya mulai membuncah, inilah King yang kita kenal. Eksekusi jelang edingnya sendiri lebih nendang, lebih seru dimana pertarungan hidup mati, adu cerdik dan ketangkasan terjadi dalam lukisan, pertaruhan malaikat dan setan. “Kalau kau berusaha membalas dendam, akan kupermak penampilanmu.”

Hanya sayangnya, happy ending. Keseruan berlembar-lembar itu menjadi hambar karena menjadi kisah Cinderella yang menemukan sepatunya, berbonus pangeran tampan. King tak mau berspekulasi untuk menamatkan karakter penting yang disukai pembaca. Sesaat setelah perjalan panjang di alam fantasi, kita malah disodori banyak hal klise tentang cairan penghilang ingatan, kisah rubah filsuf sampai ke pohon kematian. Sayang sekali, walau tetap secara keseluhan memuaskan. Rose Madder hanya nyaris, ya nyaris sempurna. Sedikit terpeleset saja.

Kisah-kisah King rasanya tinggal tunggu waktu pas untuk kuburu, dan Rose Madder sekedar pembuka. Ayo kejutkan kami!

I am really Rosie | And I am Rosie Real | You better believe me, I am a great big deal… – Maurice Sendak

A bloody egg yolk. A burnt hole spreading in a sheet. An enrage rose threating to bloom. – May Swenson

Rose Madder | by Stephen King | copyright 1995 | Published by agreement with the author c/o Ralph M. Viciananza Ltd | diterjemahkan menjadi Wanita Dalam Lukisan | alih bahasa Tanti Lesmana | GM 402.07.015 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Juli 2007 | 768 hlm.; 18 cm | ISBN-10: 979-22-2705-9 | ISBN-13: 978-979-22-2705-5 | Skor: 4.5/5

Untuk Joan Marks

Karawang, 133918 – Andra & The Backbone – Tak Ada Yang Bisa

Terima kasih Perpustakaan Bus Taka Taman Galuh Mas, Karawang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s