The Equalizer 2: Sequelizer Great Energy

Robert McCall: There are two kinds of pain in this world. The pain that hurts, the pain that alters. Today, you get to choose.

Libur Lebaran Adha tahun ini tampak special. Selain kunjungan ke banyak toko buku, dari Yogyakarta, Klaten, Solo sampai Sukoharjo. Saya menikmati waktu-waktu ke Sragen mengantar ponakan Winda LI untuk memulai belajar di Pesantren, yang artinya setiap mudik saya belum tentu bisa bertemu seperti biasa. Saya menikmati perjalanan menemani ponakan, Wildan AP tes ke Yogyakarya. Waktu beneran lari, rasanya baru kemarin saya menimang mereka, dan sekarang sudah beranjak dewasa. Momen tiap menitnya harus disyukuri. Salah satunya mengajaknya menonton film. Jumat, 24 Agustus 2018 jelang tengah malam di Paragon Mal dengan harapan hiburan berkelas kita nikmati sekuel kisah sang mata-mata baik hati dan tidak sombong.

Film yang seru dan keren sekali. Salah satu yang terbaik tahun ini. Jadi jagoan ga perlu eksis disorot spotlight dan penuh puja-puji nitizen. Denzel punya gaya, dengan membantu orang sekitar dengan aksi terselubung sebagai sopir taksi daring. Sebenarnya plot pengulangan dari seri satu, namun kini lebih intens. Melibatkan hati dan perasaan yang lebih mendalam karena sahabat baiknya menjadi korban. Sungguh gerakan sikat diam Denzel jadi begitu menakutkan. Better than the original. In this day and age, I need to see a hero like this. Bukan sekedar orang keren, tapi baik hati dan peduli sesama. Bonus tak terkira, sang pahlawan menyukai novel! Edun. Sempurna yak. Membacanya di kala punya waktu luang. 100 Novel terbaik bahkan kini sudah di daftar akhir. Kalau di seri satu kita sering melihat The Old Man and the Sea-nya Ernest Hemingway, di seri ini buku Marcel Proust: In Search of Lost Time (ada enam volume), duh kapan ya dialihbahasakan.

Sedari pembuka kita sudah dibuat takjub. Kereta melaju ke Istanbul, Turki di mana Robert McCall (Denzel Washington) dengan jenggot lebat santai membac . Sebelum judul muncul kita disuguhi aksi adu jotos dalam kereta, McCall dalam misi menyelamatkan anak korban penculikan oleh ayahnya sendiri. Bagi yang sudah nonton seri satu, jelas ini pengulangan. McCall memang pahlawan menyendiri. Mengantar sang anak ke pengacara yang mengurus hak asuh, dan sang ibu histeris putrinya selamat.
Sekarang ia tinggal di sebuah apartemen urban di Massachusetts, melanjutkan pekerjaannya sebagai sopir online. Tetangganya yang suka bercocok tanam, Fatima salam. Ponakanku langsung mengira ia muslim? Hhmm… Salah satu pelanggan taksi online adalah seorang kakek Sam Rubinstein (Orson Bean) yang mencoba klaim lukisan jutaan dollar dengan gambar Magna, sang adik. Korban holocaust yang bertahan hidup dengan harapan tinggi sekalipun di pengadilan dia sering tersudut kalah. Sejatinya memang bukan uangnya sih, tapi keingingan bukti bahwa lukisan itu adalah adiknya dan itu adalah miliknya. Nantinya ada kejut menyentuh, saat akhirnya bukan sekedar lukisan yang ia peroleh tapi sebuah kado luar biasa tak ternilai.
Tetangga apartemennya, seorang negro Miles Whittaker (Ashton Sanders) suatu ketika menawarkan mengecat tembok yang dicoret-coret orang tak bertanggung jawab dekat tamannya Fatima. Miles punya masalah kita tahu, ia bergabung dengan genk ga jelas juga kita tahu. Tapi ia butuh kesempatan, maka McCall memberinya ruang untuk kreasi artistik melukis dinding dan nantinya tembok kamar McCall. Bahkan berikutnya ia dilibatkan tahu, background sang jagoan. Adegan sembunyi dalam ruang harasia di kamar yang mengingatkanku pada adegan The Raid.

Jadi kini mari kita hitung berapa orang yang dibantu beliau. Penculikan anak dari penjaga toko buku, kakek tua yang terus berharap, dan pemuda keling yang terjerak keadaan. Namun bukan ketiganya yang jadi plot utama. Kasus sebenarnya muncul dari Brussels. Sebuah pembunuhan yang direka bunuh diri yang melibatkan satu keluarga disinyalir ada kejanggalan. Maka Defence Intelligence Agency (DIA) spy menyelidiki lebih mendetail, Susan Plummer (Melissa Leo) sahabat McCall yang investigasinya menemui titik terang, malah jadi korban pembunuhan. Tampak seolah adalah perampokan biasa saat ia sampai di hotel, dua pemuda berandal menggarong uangnya. Rapi dan meyakinkan, Susan hanyalah korban perampokan. McCall dalam kepedihan luar biasa. Ia pun melajutkan investigasi, dengan dramatis ia muncul di depan rekannya Dave York (Pedro Pascal) yang sedang lari pagi. Terkejut karena McCall sejatinya mati, namun menyembunyikan diri. Ia meminta Dave untuk bersatu, bersama membekuk penjahat dengan janji pasukan: one blood, one mud.

Sampai di sini kisah masih tenang, riak sesungguhnya muncul saat penyelidikan ini menemui fakta mengejutkan. Di pagi hari di rumah Dave saat sarapan, kedua anaknya akan bernagkat sekolah, istri sedang siap-siap pergi, McCall muncul. Mengungkap tabir dan kenyataan pahit. Betapa agen DIA memang tak berperikemanusiaan, tak peduli moral. Siapapun nama yang muncul dalam data, siapapun itu tugasmu adalah bunuh! Serem, sadis, mengerikan. Jadi berhasilkah mereka menuntaskan dendam?

Ending serunya di Brant Rock, selatan Massachusetts terlihat gemuruh dengan angin topan dan aksi saling tembak dan tikam. Simpati untuk polisi penjaga yang tewas sia-sia saat Dave menarik pelatuk ketika diminta putar balik. Akhir yang personal karena McCall memasuki rumah masa lalunya dengan ketenangan campur aduk, sedih dan membiru. Seri ketiga? Yakin sekali dilanjut, mungkin setelah selesai baca daftar 100 Book You Should Read Before Your Die, McCall bisa masukkan antrian 100 Novels Best versi LBP yang (rencana) ku-update tiap 11 November.

Ada tiga adegan seru yang membuatku terkesima. Pertama, saat si negro terjebak di ruang rahasia. Terjepit dalam ketakutan, dari kaca satu arah saat sang penjahat menguapkan abab – hah, membuat icon smiley dan menaruh ujung pistol untuk ditembakkan, McCall berhasil menyelamatkan nyawanya dari jarak jauh. Wow, deg-degan cuk. Hampir saja… Kedua saat adegan twist siapa pembunuh Susan diungkap. Hufh, seolah bilang Fck ketahuan. Lalu di jalan depan rumah, Sang penjahat dan tiga rekannya bertatap muka ngobrol basa-basi. Jalan Perumahan memang lengang, ada anak dan istri penjahat di situ. Saling sapa sama teman lama itu terlihat ramah dan saling senyum, tapi jelas sekali di kepala mereka semua panas. Ibarat adu kuat gaya pikiran, kamu mati atau saya yang mati. Kamu sudah membunuh teman baikku. Hiks. Ada yang siap mengantar ke stasiun. Ketiga saat adegan investigasi kasus pembunuhan. Dengan visual ilustrasi dalam kepala McCall membuat gambaran detail adegan bahwa mereka tidak bunuh diri karena ada orang lain di meja makan. Karena kita sudah tahu, maka kita hanya menghanyutkan diri, deduksi ala Holmes.

Film dengan mengandalkan satu aktor terkenal. Sutradara dengan rate bagus. Ini adalah kolaborasi keempat Fuqua dan Washington setelah The Equalizer, Training Day dan Magnificent Seven. Semuanya kubilang bagus. Memuaskan, berkelas. EQ betapa film yang nyaris sempurna dengan segala tindak tanduk kalem namun mematikan. Training menjadikan bad-good cop yang begitu mengejutkan. Magnificent, well sebagai remake sukses meledak di akhir. EQ2 jelas sekuel sukses. Duet jaminan mutu.
Produksi Sony. Sequel pertama Fuqua. Sequel pertama Washington. Dan jutaan aksi kebahagian yang ditebar untuk orang-orang sekitar.

McCall serves an unflinching justice for the exploted and oppressed, but how far will he go when that is someone he loves?

Jadi menurut Rani S,Kom. Bagaimana? – Menurut aku bagus ya, tetap dengan ciri khas Antoine Fuqua, tapi ya itu terlalu ga to the point, ga kayak Equalizer satu kan to the point, dia menolong satu orang dan itu fokus ke situ sedangkan yang kedua ini kita tuh harus menunggu lamaaaaa dulu baru kita ketemu eeehh… apa namanya, puncaknya jadi masalahnya ini jadi terlalu banyak aksi heroiknya si Denzel ini. Itu sih yang saya sayangkan, tapi menurut saya overall bagus. TOP lah, selalu bagus. Denzel selalu bagus. Skor? 8.5 dari 10. OK Thanks.

The Equalizer 2 | Year 2018 | Directed by: Antoine Fuqua | Screenplay Richard Wenk | Cast: Denzel Washington, Pedro Pascal, Ashton Sanders, Orson Bean, Melissa Leo, Bill Pullman | Skor: 4/5

Karawang, 28-290818 – Sherina Munaf – Demi Kamu dan Aku

One thought on “The Equalizer 2: Sequelizer Great Energy

  1. Saya termasuk penyuka aksi Denzel, bahkan drama pun apik dia. Equalizer 1 kurang greget, konflik kurang kuat, alur tertebak walau aksinya masih oke. Equalizer 2 keliatan asyik banget nih, lebih berwarna–sayang filmnya ga lewat kota kecil saya. Cukuplah Wiro Sableng untuk sementara, hehe. Terima kasih ulasannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s