Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran – Bernard Batubara

Apapun bisa tumbuh di hati manusia. Luka dan kejahatan bahkan tumbuh sangat subur.

Wah saya terkecoh. Ternyata bagus, kukira bakalan berkutat tentang nostalgia mobil bekas yang pernah dimiliki lalu cerita klise keterkaitnya. Bukan, cerita Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran lebih ke arah permainan psikologis para tokoh yang menaungi, memainkan sisi gelap manusia. Sejatinya lebih ke kumpulan cerita pendek yang dirajut oleh benang mobil jip. Ada kaitan, ada ‘roh’ yang menghinggapi kenangan setiap pemilik kendaraan. Makanya saya selalu wanti-wanti kalau beli kendaraan bekas. Kita tak benar-benar tahu histori barang yang kita beli, kita tak tahu sejatinya mobil itu sebelumnya untuk apa saja. Apapun yang bekas sudah digunakan orang lain, dan tidak ada yang tahu bagaimana pemilik sebelumnya memperlakukan benda tersebut. Nah, kekhawatiran saya akan sejarah kendaraan bekas itu berbukti di buku ini. Bagaimana kendaraan itu dijadikan saksi bisu setiap individu yang sakit. Dari tempat bercinta, menjadi saksi barang bukti pembunuhan, menjadi ‘telinga’ kaku diskusi eksistensi Tuhan sampai jiwa rapuh penjaja cinta. “Aku percaya di luar kita ada energi yang besar banget, energi semesta. Mungkin namanya Tuhan, mungkin bukan. Kalian boleh sebut pakai nama apa saja, aku sih enggak begitu peduli.” Sungguh mantab, jip itu tetap membisu kata dan sekedar raungan geram mesin mengisi sukma. Terbitan lokal, harus diakui sekarang bagus-bagus ya. “Ngobrol sama Tuhan kayak ngobrol sama tembok. Udah enggak bisa bales ngomong, kita enggak tahu pula dia beneran bisa dengar atau ga. Mending curhat sama alien.

Kisahnya terpecah lima yang bisa saja berdiri sendiri. Lima sudut pandang, kelimanya memiliki kompleksitas kejiwaan yang berbeda. Pertama adalah Rio, seorang pekerja kantor yang jatuh hati sama karyawan hotel yang gedungnya bersebelahan bernama Dara Indah Tirani. Cara perkenalan mereka juga terlihat biasa sekali. Makan di warteg – Warung Tegal, Rio dapat telpon dari bos untuk kembali dari istirahat siangnya, saat merogoh kantong ternyata dompet ketinggalan dan secara bersamaan sang gadis membantu membayar sekalian. Rio menatap takjub akan kecantikan sang penolong. Blasteran Indo-Belanda. Setelah kembali ke kantor, temu rekan kerja unik Jek yang suka bokep, Rio memutuskan ke hotel tempat Indah bekerja. Dan selain mengembali uang, Rio mendapat nomor kontaknya. Selanjutnya jelas, kita tahu ke arah mana tapi eh nyatanya enggak seperti perkiraan. Nge-date makan malam pertama berakhir dengan begitu instens. Indah Tirani adalah seorang istri, yang langsung ‘menembak’ Rio. Dont bullshit me or I leave you. Di sini jelas sang gadis sudah expert, Rio yang jatuh hati bilang ya! Jadi di mana peran mobil jip-nya? Malam itu kita tahu Rio ‘sakit’ dan kendaraan di garansi menjadi ajang adu fisik. Indah kemudian memainkan sebuah pianika bernada kukuku… “Ada atau enggak ada Tuhan, ada atau enggak ada reinkarnasi yang penting kita bersyukur dan berbuat baik, yang penting kita semua bahagia.”

Cerita kedua mengenai Kuku. Seorang perempuan terluka, mahasiswi patah hati karena sang kekasih yang aktivis kampus tewas dibunuh. Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Sebuah konspirasi mengakibat kekasihnya di BEM – Badan Eksekutif Mahasiswa yang vocal tiada di tangan pembunuh bayaran. Kuku yang tahu dalang pelaku lalu menyusun cara balas dendam. Dengan parang dan niat kuat, sebuah mobil jip hijau menjadi kendaraan penuntasan hasrat. Keras, sadis dan penuh darah. Ada trivia unik, Kuku di sini diambil dari lagu klasik berlirik: ‘Matahari tenggelam, hari mulai malam. Terdengar burung hantu suaranya merdu. Kuku kuku kuku…’ kalau kalian bacanya sambil berdendang berarti kalian sepakat lagu anak itu lintas generasi dan memorable. Semuanya, luka dan penderitaan, terus berlanjut. Dia selalu berfikir bahwa hidup tidak lebih dari serangkaian kesialan dan rutinitas yang membunuh pelan-pelan. Tuhan tidak ingin manusia bahagia. “Tuhan itu ada di dalam diri kita, alien mungkin adalah kita karena kita ada. Karena kita ada.”

Cerita ketiga terkait sebuah perjalanan. Kali ini pure sebuah perjalanan religi di jip menuju pantai. Adalah Pho, Nadia dan Sara. Mereka bertiga sudah setahun tak bertemu. Bernostalgia menghilangkan kepenatan hidup. “Dari sekian banyak kemungkinan berubah jadi perokok tuh satu-satunya yang enggak akan terjadi. Aku bisa jamin itu ke kalian.” Bercengkrama akan seluk beluk kesibukan, yang terasa hampa. Dia tidak ingin mengingat apapun, dia hanya ingin tahu dan menyadari bahwa pada saat ini dia sedang bersama dua orang yang dia sayangi dan menyayanginya. Dia hanaya ingin berada di momen itu. Pho menyetir, Sara di sampinya, Nadia di jok belakang. Sampai akhirnya sebuah debat panas menyangkut eksistensi Tuhan, batas semesta sampai pada hal-hal yang prisipil. Pantai menjadi ujung kisah, sebuah gambaran kalimat ‘semua akan indah pada waktunya’. Bertiga mencipta lirik lagu sebelum menginjakkan kaki di pasir. Satu-satunya keindahan di pantai adalah kesepain yang ditawarkan. Laut memang riuh dan penuh makhluk tak dikenal. Namun, pantai selamanya kekasih yang menunggu. Meski puluhan atau ratusan manusia mengisi dirinya, ia tetap tenggelam dalam kesepian.

Cerita keempat yang paling rumit. Seorang pekerja seks komersial (PSK) sejatinya menikmati hidup. Hidup ya saat ini, detik ini ga peduli kemarin atau masa depan. Suci, pekerjaannya tak sesuci namanya. Ia menjadi penjaja cinta karena memang keadaan, dan ehem.. takdirnya ke sana. Sampai akhirnya ada seorang laki-laki yang benar-benar mencinta, tak sekedar butuh layanan seks. Laki-laki yang menawarkan bau masa depan. Suci tak menolak jua tak menerima, awalnya. Suci akhirnya luluh atas kegigihan, memberi syarat membuatkan puisi, yang sederhana tak apa asal puisi buatan sendiri. Harapan memang kejam sih, ujung kisah Suci menikmati keindahan debur ombak laut di malam hari yang berakhir dengan kejutan aneh saat nelayan lewat. Hati yang sempit dan kosong. Sadis, biasa ataukah beban perasan dosa? Betapa mudahnya hidup jika manusia tidak punya kemampuan mengingat. Jika saja tidak ada yang namanya kenangan. Jika saja semua terjadi pada suatu waktu dan telah terlupakan pada waktu lain. Atau, jika saja ada cara untuk menghapus kenangan tertentu yang kita tidak ingin simpan.

Cerita penutup adalah yang paling lemah, sayang sekali. Sebagai pengungkap segala garis kisah harusnya bisa lebih memberi impresi bagus. Bahkan kover kayu yang terbakar dengan api merah menyala itu diambil dari sini. Jadi Ana mengendara dalam kegelapan malam dalam rangka mencari kabar sang ayah yang menghilang, mengambil jalan pintas yang beresiko. Di tengah jalan mobil jip mogok, dicoba stater dan dipaksa kembali nyala gagal. Hingga akhirnya muncullah sebuah penampakan. Hantu ‘Penyampai Kebenaran’. Sang hantu mengungkap bahwa ayahnya sudah mati, karena ia tak bisa bicara ia hanya memberi isyarat dengan embun di kaca dan menyampaikan berderet tulisan. KITA SUDAH KALAH. Dan kapak yang tersimpan di jok mobil memberi benang merah kisah lainnya. Pahit memang kenyataan. Akhirnya dia mengerti, ucapan bisa disangkal tetapi tidak dengan kebenaran. Kebenaran adalah kebenaran bagaimanapun caranya datang dan siapapun yang mambawanya. Kebenaran adalah kebenaran meskipun semua orang menyangkalnya. Dengan api dan pembebasan beban, kisah ditutup. Well, narasi Ana yang kurang nendang. Penderitaan akan dimulai kembali. Petaka akan disusun kembali. Luka akan ditoreh kembali.

Disela-sela lima cerita, ada sub bab ‘protes’. Ini semacam selingan, bagaimana warga yang kena gusur pemerintah untuk pembangunan proyek melakukan demo. Awalnya seorang, jalan kaki menuju kantor gubernur. Muncul seorang yang mengikuti. Berdua membentang tulisan aspirasi. Muncul seorang memberi semangat dan makanan, bahkan menggantikan membentang tulisan saat sang demonstran makan. Dan pada akhirnya yang lemah selalu tersingkirkan. Ah, lingakaran era yang tak mengenal belas kasih.

Di akhir, ada penjelasan singkat bagaimana novel ini ternyata berdasarkan skenario film karya Bung Ismail Basbeth. Dari prolog pengantar, Bung Bernard menyampai proses perjalanan setengah tahun buku mewujud. Ini adalah debut novelnya, setelah melalangbuana dengan karya seni dan fiksi lainnya. Debut manis, bagus sekali. Bagian penutup juga kita akan tahu bagaimana proses penggarapan film ini, sepuluh tahun berkarya memberi kenangan dan pengalaman sang sineas. Gagasan dasar karya film pendek selalu berangkat dari dua hal yaiut: “Ingin bicara soal apa.” dan “Ingin berbagi perasan apa.” Setelah Menuju Bulan dan Mencari Hilal maka Mobil Bekas melengkapinya. Maaf, saya belum menonton satupun. Mungkin di lain waktu, moga ada kesempatan.

Imajinasi yang membuatmu hidup, Nak!”

Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran | oleh Bernard Batubara | Penyunting Dhewiberta | Perancang sampul Ryn Yoanta | Pemeriksa aksara Tita Hamid & Achmad Muchtar | Penata Aksara Martin Buczer | Foto Penulis Bernard Batubara | Penerbit Bentang | Cetakan pertama, November 2017 | viii + 152 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-436-5 | Skor: 4/5

Karawang, 090818 – Sherina Munaf – Primadona
HBD Hermione Budiyanto – 4 Tahun

Iklan

One thought on “Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran – Bernard Batubara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s