Dengarlah Nyanyian Angin – Haruki Murakami

“Apa kamu tahu bagaimana waktu mengalir di alam semesta? | “Tidak. Tidak seorangpun tahu mengenai hal itu.” | “Lantas apa artinya menulis novel yang isinya sudah diketahui semua orang?” Aku terdiam memandangi kuburan itu dan mendengarkan bunyi angin yang berlalu di atas permukaan air. Perasaanku saat itu sulit sekali untuk diungkapkan dengan kata-kata. Judul Dengarkan Nyanyian Angin diambil dari sini.

Selama punya sikap untuk terus belajar dari berbagai hal, maka menjadi tua tentu tidak begitu menyakitkan. Buku debut penulis favorit Haruki Murakami akhirnya kebaca juga. Shock ternyata sudah diterjemahkan oleh KPG jauh hari, terbitan ini sampul baru. Tipis, murah dan baca sekali duduk. Menikmati libur Pilkada Serentak 27 Juni 2018, mendapat diskon di Gramedia Karawang. Buku ini senikmat buku Murakami lainnya. Absurb dan menghibur.

Menulis bukanlah cara untuk menyembuhkan diri, melainkan tidak lebih dari sekedar percobaan-percobaan kecil dalam upaya menyembuhkan diri. Seperti yang kita tahu, Murakami mendapat ide menulis cerita saat usia 29 tahun pas menonotn pertandingan baseball tahun 1978 antara Yakult Swallows versus Hiroshima Carp. Saat itu Hilton melakukan dobel beat dan ia tiba-tiba sadar punya ide membuat cerita. Beberapa bulan kemudian lahirnya Hear The Wind Song. Novela debut ini sukses luar biasa, memenangkan kontes literasi dan memicunya menulis kisah lain. setahun kemudian ia menulis Pinball, 1973. Sekuel sukses ini membuatnya berkomitmen untuk fokus, pekerjaannya dalam berkafe jazz akhirnya dilepas untuk sepenuhnya menulis.

“Menulis kalimat tak ubahnya seperti memastikan jarak antara diri sendiri dan segala hal yang menyelingkupi diri. Jadi yang dibutuhkan bukanlah perasaan tapi msitar.” – Derek Heartfield, What’s So Bad About Feeling Good?, 1936. Sebelum membaca novel ini saya tak tahu siapa Derek Heartfield. Penulis kelas B yang mati bunuh diri ini menjadi ilham dan sangat berpengaruh. Setiap lewat Empire State Building aku selalu memakai payung. Soalnya banyak orang yang berjatuhan dari atas. Ini adalah pengandaian kasar tentang kasus orang bunuh diri dengan menjatuhkan diri. Heartfield membenci banyak hal. Kantor pos, SMA, wortel, perempuan, anjing… kalau dihitung tidak akan ada akhirnya. Dia hanya menyukai tiga hal. Senapan, kucing dan kue yang dipanggang ibunya. Dan kenapa sang Penulis mengakhiri hidupnya bisa dijelaskan dengan sederhana dari ketiganya. Lebih tepat kehilangan yang paling dicinta.

Di antara sesuatu yang kita upayakan untuk disadari dan yang secara faktual memang kita sadari terbentang palung yang sangat dalam. Tak peduli seberapa panjang mistar yang kita bawa, tak sanggup mengukurnya. Kisah utama Dengarkan Nyanyian Angin sejatinya tak rumit, yang mana cinta pemuda mahasiswa kepada janda saat liburan musim panas. Yang membuatnya istimewa adalah penuturannya yang aneh dan jalan berliku untuk menikmati setiap detik kebersamaan.

“Tak usah dipikirkan, mobil bisa dibeli tapi keberuntungan tidak bisa dibeli dengan uang.” Ya, Nezumi terlahir dari keluarga berada. Suatu ketika saat mabuk di bar, ia diantar pulang oleh Aku yang mobilnya kecelakaan. Mobil Fiat 600 Hitam rusak, tapi mereka selamat. Anggur yang dingin dan hati yang hangat.

Sudah cukup lama. Mulanya sebal juga dipanggil seperti itu, tapi sekarang sudah enggak ada masalah. Nezumi artinya tikus. Terdengar aneh, tapi lama-lama asyikin aja. Kayak kita panggil Ciprut, awalnya kok terdengar aneh tapi sudah terbiasa jadinya Hermione pun enjoy disamakan dengan boneka kesayangannya Ciprut Kodok.

“Soalnya Flaubert sudah mati. Karya pengarang yang masih hidup tidak ada nilainya.” Seperti kisah-kisah lainnya yang legendaris, Murakami juga menyebut Penulis besar yang pernah ada sebagai penutan. Jelas, kisah Emma dalam Nyonya Bovary masuk dalam daya khayalnya. Termasuk “Bagaimana bisa cahaya siang memahami kelamnya kegelapan malam…” – Nietzsche dan tentu saja “Dibanding alam sementa yang njelimet, dunia kita ini hanya otak cacing.” – Heartfield.

Ada dua poin unggul dalam novel Nezumi. Pertama adalah tidak adanya adegan seks dan tidak ada satu tokohpun mati. Alasannya adalah meskipun dibiarkan, manusia pasti akan mati dan laki-laki pasti akan tidur dengan perempuan. Demikianlah faktanya. Kutipan ini pertama kutahu dari novel Andina Dwifatma, Semusim dan Semusim lagi. Rasanya beda banget saat mengetahui dari aslinya bagaimana kalimat itu berucap. Lebih pas dan enak dirasakan.

Peradaban adalah informasi. Apabila kau tidak dapat mengekspresikan sesuatu, berarti sesuatu itu tidak pernah ada. Mengerti? Nol besar. Jika terbangun di rumah orang lain, aku selalu merasa tubuh ini seolah dijejali nyawa orang lain secara paksa. Dan kisah Aku dan Nezumi ini awalnya kukira akan jadi kisah cinta klise, bagaimana saat mereka mabuk terbangun di ranjang dan negative thinking menjejali mereka. Oh tidak, peradaban membuat kita membentuk pola itu, nyatanya ga semua.

Bila terus memandangi laut biasanya aku jadi ingin ketemu seseorang. Sebaliknya bila memandangi seseorang aku ingin melihat laut. Aneh ‘kan. Mereka hidup di kota tenang tepi pantai yang tenang. Selama delapan belas hari yang terkenang itu kita tahu, ada rasa indah tak terucap. Aku terus bersiul dalam perjalanan ke rumah. Melodi yang kusiulkan adalah melodi yang pernah aku dengar entah di mana, tapi judulnya tidak kunjung muncul dalam ingatanku.

Kamu justru akan semakin terasing kalau membaca buku. Si Aku memang terlihat istimewa dengan buku dan kebiasaannya menyendiri. Keterasingan itu dilucuti dengan sederhana oleh Nezumi yang akrab. Kamu boleh memberi piutang kepada perempuan, tapi jangan sekali-kali memberi hutang.

‘Aku lebih menyukai kebohongan yang indah daripada kebenaran yang lemah. Yang disebut intelektual unggul adalah meskipun memiliki dua konsep yang bertentangan secara bersamaan, kedua fungsi konsep tersebut bisa dimunculkan secara optimal.’ – Roger Vadim.

Masalahnya bukan pada apa yang kamu rasakan. Aku merasa seharusnya aku tidak bicara seperti itu kepadamu. Ini sudah menjadi peraturan di rumah. Anak-anak harus menyemir sepatu ayahnya. Sang Aku mendapat tugas menyemir sepatu ayahnya setiap malam sepulang kerja. Kebiasaan bagus mengajar agar taat dan membantu orang tua sebisa mungkin. Keluarga yang baik dan tidak punya uang, benar-benar membuatku ingin menangis. Tapi kebiasaan baik akan menghajar kata sifat materialis.

Dibawa ke surga. Di sana mereka akan diperintahkan untuk mengecat dinding. Dengan kata lain, dinding di surga harus selalu putih bersih. Tidak boleh ada noda setitik pun.

“Mungkin juga ya. Tapi aku tak ubahnya seperti mobil bobrok. Kalau diperbaiki satu bagian, maka bagian yang akan terlihat mencolok.”
Aku dibuat pontang-panting oleh obsesi itu kurang lebih selama delapan bulan. Ketika naik kereta, yang pertama kulakukan adalah menghitung jumlah penumpang, jumlah tangga dan bila masih ada waktu aku menghitung jumlah denyut nadiku.

Mengisahkan orang yang telah mati adalah pekerjaan yang sangat sulit, tapi mengisahkan perempuan yang mati muda jauh lebih sulit lagi.
Well, Orang yang baik tidak akan menceritakan kekacauan yang ada di dalam keluarganya kepada orang lain. Sudah lama aku tidak bermimpi, karena sudah cukup lama, aku memerlukan waktu beberapa saat untuk menyadari bahwa itu adalah mimpi.

“Aku menyukai langit. Langit tidak pernah membosankan untuk dipandang kapanpun juga, tapi saat tidak ingin dilihat ya tidak perlu dilihat.”

‘Saya bersumpah atas buku yang paling suci di ruangan ini yakni direktori telepon yang ditulis dalam urutan alfabet, bahwa saya hanya akan mengatakan kebenaran. Hidup adalah hampa namun tentu ada pertolongan.’

Kamu tidak perlu memikirkan aku. Aku hanyalah angin. Kalau mau, kau boleh memanggilku manusia Mars. Gema bunyinya tidak jeleklah. Lagipula kata-kata tidak memiliki makna. Boleh dikata kebohongan dan diam merupakan dosa besar yang merajalela dalam masyarakat sekarang. Kenyataannya kita sering berbohong dan sering lupa diam. Kenapa sapi memamah makanan yang kelihatan tidak enak menyedihkan ini seolah-olah ini sesuatu yang sangat penting. Terlepas dari ada atau tidak adanya arah serta keinginan yang turut campur di dalamnya, alam semesta terus berevolusi dan kita hanya satu bagian dari evolusi tersebut.

Kemudian akupun akan tidur nyenyak di malam hari, karena hal-hal yang tidak mengenakan biasanya muncul di tengah malam. Orang yang memberi dengan penuh keikhlasan akan selalu memperoleh gantinya. “Mungkin dengan begitu perasaan kita jadi lebih ringan.”

Segala sesuatu berlalu. Tak seorang pun dapat menangkap semua itu. Jadi liburan sang Aku dalam delapan belas hari itu akankah bisa menyatukan cinta mereka? Nezumi yang kacau. Manusia bisa belajar dari suatu dari kondisi yang sangat menyengsarakan sekalipun. Karena itulah aku bisa melanjutkan hidupku meskipun hanya setahap demi setahap, alkohol dan Aku? “Aku masuk ke perguruan tinggi untuk menerima wahyu dari surga.” Kalau hidup bersama dalam jangka yang lama, mungkin hobi juga akan menjadi mirip.

Dengarlah Nyanyian Angin | by Haruki Murakami | Judul asli: Kaze No Uta O Kike | Hear The Wind Song | copyright 1979 | Penerbit KGP (Kepustakaan Gramedia Populer) | KGP 59 18 01502 | Cetakan ketiga, April 2018 | Penerjamah Jonjon Johana | Penyunting Dewi Anggraeni | Perancang sampul Leopold Adi Surya | Penataletak Iedham Fitrianjaya Nugroho | iv + 119 hlm.; 13,5 cm x 20 cm | ISBN 978-602-424-407-1 | U 15+ | Skor: 5/5

Karawang, 010718 – 310718 – Alicia Keys – Empire State of Mind (Part II)

One thought on “Dengarlah Nyanyian Angin – Haruki Murakami

  1. Ping balik: Buku Yang Saya Baca 2018 | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s