Laut Bercerita #29

“Peristiwa yang tak nyaman atau menyakitkan tidak perlu dihapus, tetapi harus diatasi.”

Buku yang biasa sekali. Hype tinggi dan adanya film pendek dengan promo gencar membawaku untuk ikut menikmati. Sayang tak bisa memenuhi ekspektasi. Alurnya sangat lambat, berulang-ulang dan sangat datar. Entah kenapa sesuatu yang pasti dan sudah diketahui publik, ga ada inisiatif untuk mengembangkan cerita ke arah lebih. Tragedi penculikan mahasiswa dan aktivis 1998 jelas kita tahu, fakta ada beberapa mahasiswa yang dihilangkan dan dibuang ke perairan pulau Seribu juga sudah dengan mudah kita baca di banyak artikel. Hal-hal yang sudah diketahui khalayak, boleh saja dicerita ulang, diriset lagi dan ditambah bumbu-bumbu fantasi tapi jelas Laut Bercerita ga canggih dalam pengembangan kisah. Benar-benar biasa, tak ada karakter loveable, penyelesaian juga kurang OK.

Laut Bercerita bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan makm anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur. Sinopsis kover belakangnya juga sudah mewakili, kita tahu semua itu. tak ada kejutan, termasuk siapa yang berhianat dan siapa yang terus ada saat krisis menerjang.

“Semakin aku tumbuh dan semakin melahap banyak buku perlahan aku menyimpulkan ada dua hal yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan dan kematian.”

Jadi penghianat adalah kata yang relatif, bisa repot kalau kita selalu menggunakan relatifitas sebagai justifikasi.

Di kampus kita banyak belajar tentang disiplin berfikir, seperti pengalaman yang memberi daya akan hidup adalah di lapangan. Saya hanya pesimistis. Kawan-kawan kita hanya berdiskusi karya Pram saja sudah di penjara, bagaimana kita bisa berharap para tapol dan keluarganya akan memperoleh keadilan, rehabilitasi nama, dan pemulihan jiwa? Bukan Pak Razak saja, tetapi jutaan korban yang dibunuh tahun 1965 sampai tahun 1966…

“Kau selalu tak nyaman dengan beberapa kawan, dan insting seperti itu memang penting untuk dipelihara.”

Bapak memang satu dari sedikit penggemar musik yang masih mempertahankan tradisi vynil sebagai pertahanan diri dari kekonyolan kaset, yang kata Bapak secara estetika mencemaskan.

“Kalau kami hanya anak kecil, kenapa Bapak mencemaskan?”

“Aku ingin sekali perempuan tak selalu menjadi korban, menjadi subjek yang ditekan, yang menjadi damsel in distress…”

Dalam setiap kelompok pasti ada agen ganda.

Dari kami berempat, memang hanya akulah lelaki yang pasif, setengah tolol dan hanya bisa mengagumi perempuan dari jauh.

“DPRD kan seperti septitank, kerjanya cuma menampung terus.”

Hujan semakin menjadi-jadi seolah-olah langit menumpahkan persediaan air. Tak lama kemudian terdengar serangkaian petir mulai menyambar…

Gaya baca Mao kesentuh lintah dikit saja menjerit.

Ini bukan model penahanan yang akan membiarkan kami membaca, menulis, atau melakukan kegiatan cerdas seperti tahanan politik terkemuka itu.

Cita-citaku suatu hari: melempar boombox itu ke dalam sumur. Siapapun yang menciptakan house music jauh lebih layak disiksa daripada kami.

“Kita tak boleh jatuh, tak boleh tenggelam, dan sama sekali tak boleh terempas karena peristiwa ini. Kebenaran ada di tangan mereka yang memihak rakyat.”

“Ayo yuk masuk semua, mandi, lalu makan. Kamu masak apa Jani, ini pahlawan perang perutnya kosong.”

Pada titik yang luar biasa menyakitkan karena setrum, itu terasa sampai di ujung syaraf, aku sempat bertanya, apa yang sebetulnya kita kejar?

“Kekuatan Laut. Keinginan jauh lebih besar untuk tetap bergerak. Ini semua menaikkan militansi kita, bukan memadamkannya.”

Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini, Laut.

Ini memang sesuatu yang pragmatis. Bukan soal ‘berguna’ atau ‘tidak berguna’. Kita tak akan pernah tahu kalau kita tak mencoba.

“Setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi, tapi apa pun yang kamu alami di Blangguan dan Bungurasih adalah sebuah langkah. Sebuah baris dalam puisimu, sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu..”

Betapa Mas Laut akan bergelora mengetahui banyak hal yang dulu dilarang dan dibungkam kini bisa bebas dibaca dan didiskusikan. Betapa kini pers Indonesia sudah berjalan sesuai institusi yang kerjanya bukan menerangkan.
Gabo bisa meramu kata-kata menjadi kalimat yang luar biasa, dan Mas Laut selalu takjub dengan kekuatan kata-kata.

“Mengapa aku merasa Laut dan kawan-kawan ada di bawah sana, di dasar laut dan tetap hidup.” | “Ya di bawah sana, bersama ikan dan karang berbincang tentang puisi dan perjuangan bersama Mas Gala.”

Mereka jadi pendiam dan agak mudah tersinggung. Ada semacam survivor’s gulit yang mengikat mereka menjadi satu.

Aku tak berani membayangkan sesungguhnya yang terjadi pada Mas Laut, tetapi aku juga tidak ingin Bapak Ibu terus menerus hidup dalam titik yang sama, di dalam dunia yang sama, penuh harap, penuh penyangkalan, dan penuh mimpi kosong.

“Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian. Kami tidak merasa pasti tentang lokasi. Kami tidak merasa pasti apakah akan bisa bertemu dengan orang tua, kawan dan keluarga kami, juga matahari. Kami tak pasti apakah akan dilepas atau dibunuh, dan kami tidak tahu pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain meneror dan membuat jiwa kami hancur.”

Harapan itu tetap terjaga karena memiliki keinginan, kerja keras dan ilmu yang terus menerus diuji. Sedangkan apa yang kuhadapi sekarang adalah sesuatu yang asing, tak pasti, terus-menerus menggerogot rasa optimisme dan kemanusiaan.

Sudah dua tahun kami ada di kampungku belajar menentukan arah mata angin bersama bintang dan bernyanyi berbagai tembang untuk membujuk badai… kembalilah.

Jika bukan karena kalian bertiga aku tak kan menyadari betapa perempuan pencipta kehidupan, penggerak matahari dan peniup ruh kegairahan hidup.

Bertemu, berkencan, dan mencintai lelaki lain tak berarti dia berpaling dariku, karena apapun yang terjadi aku sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Leila Salikha Chudori, Penulis wanita kelahiran Jakarta 1962 adalah Pemenang 2013 Prosa Terbaik Khatulistiwa Kusala Sastra dengan novel Pulang. Bagaimana peluang Laut di tahun 2018? Kecil, sangat kecil. Saat ini kita bisa tunjuk novel 10 besar kandidat lawan dengan ulasan empat atau lima bintang. Laut monoton, sangat biasa ceritanya jadi sangat sulit melaju. Bisa saja menjadi pesaing 50 besar tapi mustahil menang. Pembanding dua pemenang terakhir, Raden Mandasia narasinya luar biasa, berbobot dan sangat menghantui. Dawuk fantastis, cerita kuat dan mengandung banyak unsur kejutan. Laut tak memiliki kekuatan ke arah sana.

Ulasan singkatku di ig lazione.budy 11 Maret 2018: ‘Baru saja selesai baca #LautBercerita nya #LeilaChudori so sorry jelex. Maaf ya, menyebut Pramudya, Gabo, The Beatles sampai Tan Malak tak otomatis keren. Cerita harus tetap kuat dan membuat Pembaca terpaku semangat. Sayang sekali, bukunya membosankan, berulang kali melakukan pengulangan ceritabtak perlu. Cerita ngelantur tanpa membuat penasaran. Laut Bercerita sama buruknya dengan #LukisanNabila tentang drama penculikan 1998 yang terendam. Ekspektasiku ketinggian, dari nama besar #Pulang saya berharap sebuah prosa megah. Apesnya lagi buku ini kubaca terjepit nikmat antara #TheEnglishPatient yang wow dan #Sapiens yang wow banget, drop. Buku pertama bulan Maret yang kuselesaikan baca setelah gempita Oscar.’

Laut Bercerita | Oleh Leila S. Chudori | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | KPG 59 17 01418 | cetakan kedua, Desember 2017 | Penyunting Endah Sulwesi, Christina M. Udiani | Ilustrasi sampul dan isi Widiyanto | Perancang sampul Aditya Putra | Penataletak Landi A. Handiwiko | Foto Faizal Amiru | x + 379 hlm.; 13,5 cm x 20 cm | ISBN 978-602-424-694-5 | Skor: 2/5

Untuk mereka yang dihilangkan dna tetap hidup selamanya.
Untuk Rain Chudori-Soerjoatmodjo

Karawang, 300618 – Sherina Munaf – 1000 Topeng

#29 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

4 thoughts on “Laut Bercerita #29

  1. Saya pernah nyoba baca Leila Chudori, lupa judulnya apa, pokoknya novel lama. Dan merasa nggak cocok. Jadi ketika teman-teman ngomongin Laut Bercerita, nggak tertarik, huhuhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s