Potret Diri #25

bu!
bu!
bu!
debu!
debu!
debu!
buta!
bu!
a
!

Itu adalah salah satu judul puisi ‘Anak Kecil Jalanan’ yang tersaji dalam kumpulan puisi karya Atasi Amin.

Buku lokal dengan citarasa artistik. Membuatku bingung juga untuk mengulasnya. Terlalu bersifat hampa untuk kuraba dunia syair. Padahal lagu-lagu yang kunikmati sejatinya juga ber-draft puisi? Mungkin karena lagu berjalan bersisi dengan indera pendengar makanya lebih rileks, ga seperti puisi yang berbentuk visual dalam deret huruf di atas kertas. Medianya beda, sudut pandang beda, cara menikmati juga beda. Walau yang disajikan sedikit banyak sama.

Saya teringat lagu Sherina Munaf, idola kita. Junjungan kita semua, salah satu lagunya yang begitu puitis dalam ‘Lihatlah Lebih Dekat’ itu berima dan mengalun nikmat dalam aura dengar. Jelas, lagu itu dicipta dalam langkah bentuk puisi/sajak terlebih dulu barulah dialihkan ke media suara. Coba bayangkan kumpulan puisi ini dalam alunan lagu, mungkin akan lebih mantab. Sayangnya koleksi Perpustakaan Keluarga-ku hanya punya slot lokasi puisi sebenar 5%. Mayoritas adalah novel. Walau kecil, tetap ada ruang.
Kumpulan puisi. Entah saya yang tak peka atau memang ga romantis, membaca kompulan puisi nyaris selalu tak berkesan. Saya memang lebih suka cerita berpola, mempunyai karakter jelas dengan pengembangan alur. Hanya sedikit kumpulan puisi yang kupunya, dan yang sedikit itu lebih sedikit lagi yang benar-benar bisa kunikmati. Potret Diri masuk ke kategori tengah, sebagian OK bisa kuikuti, sebagian lagi sekelebat lewat.

Sejatinya sedari kata pengantar Penerbit yang memperkenalkan singkat sejarah kepenulisan Kang Ata – panggilan Atasi Amin – yang punya rekam jejak dunia sajak, sungguh menjanjikan. Apalagi di akhir kalimat bertulis, ‘… kami dari pihak penerbit ingin menghaturkan terima kasih karena telah bersedia buku puisinya diterbitkan oleh Penerbit kami, dan kepada pembaca sekalian. Selamat membaca dan bermain-main serius…’ sebuah kalimat hormat atas Penulis senior.

Total ada 24+29+29+13 = 95 puisi yang disajikan. Semuanya hanya sehalaman dua halaman, bahkan ada yang hanya satu paragraph berisi tiga baris kalimat, seperti di judul Haiku 1: malam lebaran | anak anak kejaran | di bawah bulan. Dah gitu saja, makanya saya memang ga terlalu bisa memahami sembari lewat semua kutipan berima atau sajak-sajak puitis. Ditambah lagi, saya bacanya saat sedang servis kendaraan, sehingga memang konsentrasi tak terlalu fokus. Sejatinya bagaimana menikmati puisi yang bijak itu? Karena novel bisa dinikmati kapan saja, di mana saja, mau nyaring atau dalam hati, novel bisa kita masukkan ke dalam kepala. Jadi apakah puisi harus lantang dalam ruang sunyi?

Seperti pembuka buku ini yang dijadikan dulu Potret Diri.
Di atas mimbar aku bicara, tentang keadilan, kemiskinan dan resesi | dunia terkutuk diurai paparkan | orang orang bawah menyambut | mari atasi bersama, mari bersama atasi | amin

Sebuah kamuflase uraian bagaimana puisi memang terselip hal-hal yang sederhana namun berhikmah.

Ruang Tunggu 2: ‘orang di depanku bersilang tangan | bersilang pendapat | saling saling silang seling | selang seling | tanda silang?

Dalam biografi singkat di halaman akhir dijelaskan pula puisi yang pernah ditulisnya. Dari antologi Laut Merah: Antologi tiga Penyair (bersama Diro Aritonangdan Soni Farid Maulana, Aksara Indonesia (2001), Antologi Puisi Muktamar (2003), Senandung Bandung Jilid 2 (Swawedar69 Institute & Ads., 2008), Benteng: Antologi Tiga Penyair (bersama Anton de Sumantana dan Matdon (Swawedar69 Institute & Ads., 2009) dan buku tunggalnya yang terbit tahun 2004 Ke Pintu (Prive). Penyair kelahiran tahun 1966 saat ini sibuk dengan kedai kopi Bingkai Kopi dan kerja di studio Jeihan Bandung.

Lagi, puisi aneh berjudul Yanti. siang itu matahari basah | sebab di sampingku ada yanti | pun aku tak tahu mengapa basah | andai tak ada yanti di sampingku. Terlihat mengada dan menanya, tanpa jawab dan sekedar mengandai. Apanya yang jadi permasahkan? Yah, mungkin itulah seninya bersyair.

Delapan puisi penutupnya adalah sebuah kata-kata cinta untuk Bandung, tempat kelahiran snag Penulis. Wajar, sangat wajar. Saya sendiri ingin mengabadikan Palur, desa kecilku yang penuh kenangan dan menjadi tempat pijak memulai kehidupan.

Dalam ulasan singkat pada tanggal 17 Februari 2018 di ig ku lazione.budy saya menulis. ‘Servis kendaraan sambil baca puisi? Bisa! Pelan saja, dapat free kopi dan camilan. #atasiamin menuturkan banyak topik dengan #puisi pendek-pendek. Dari puisi pembuka #potretdiri … Mari bersama atasi. Amin sampai beragam tema dari yang sepele macam cacing, suarasusra sampai narasi aneh punokawan. Penyair senior Bandung, otomatis akan juga ada cerita Dago dan sekitarnya. Menikmati libur bersama buku berlanjut… HBD Mas Amin dan Surakarta’

Karena ini diterbitkan Penerbit indi favorit, jelas sangat layak masuk dalam koleksi berjejer dalam rak perpustakaan bersama Joko Pinurbo, Saparadi Djoko Damono, Chairil Anwar, Yopi Setia Umbara sampai Tagore.

Potret Diri | Karya Atasi Amin | Penyunting Lutfi Mardiansyah | copyright 2017 | Penata isi Tirena Oktaviani | Perancang sampul Rifki Syahrani Fachry | kolase sampul ‘Apollo Biru’ (Rifki Syahrani Fachry, 2016) | Penerbit Trubadur | x + 105 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-602-50034-4-8 | Cetakan pertama, 2017 | Skor: 3/5

Karawang, 280618 – Sherina Munaf – Tak Usah Cemburu

#25 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s