Manusia Setengah Salmon #23

Manusia Setengah Salmon #23

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Setiap kali gue ke airport untuk kerja ke luar kota gue selalu melihat orang-orang yang hendak pergi berpelukan keluarga atau pacarnya di depan pintu masuk. Kepindahan mereka membuat orang-orang terdekatnya sedih… gue jadi berfikir ternyata untuk mendapatkan yang lebih baik, gue ga perlu menjaid manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.

Buku yang buruk. Dengan ekspektasi rendah, hasilnya memang sesuai. Apa yang bisa diharapkan dari curhatan orang kaya tentang cinta dan kejombloannya yang memprihatinkan? Komedian stand up yang kelucuannya tak lucu, dimana masalah yang disodorkan tak pelik-pelik amat, jelas ada yang kurang. Seberat-beratnya masalah Dhika tentang cinta lebih pelik masalah cintanya Cak Lontong. Hanya fan Dhika yang konsisten memujanya. Dunia diluar sana masih sangatlah penuh dengan konflik yang jauh lebih berbobot.

Kisahnya berkutat keseharian Dhika yang dituangkan ke blog. Keseharian tentang kuliahnya, tentang keluarganya, tentang pembantu dan sopirnya, tentang cinta dan mencoba kalimat bijak yang ga bijak-bijak amat terkait pilihan hidup. Sedari pembuka kita sudah tak nyaman dengan cerita kebiasaan bokap (ayah) nya yang suka kentut di mana saja. Dengan vibra dan segala keanehannya.

Di bagian dua hanya tulisan di twitter yang dijawab dan ditulis ulang! Gilax bisa ya kalimat sosmed dijual gini. Satu dua sih masih OK, tapi ini buaanyak dan temanya sesederhana tips mengerjakan ujian. Yah..

Sepotong hati di dalam kardus masalah cinta dan kesiapan move on. Cowok diputusin ceweknya, yah bisa jadi kesedihan yang melimpah, Dhika dengan santai mencipta pengalaman ala sinetron. Cool di depan, meraung kencang di dalam. Kepindahan rumah jauh lebih penting ketimbvang kepindahan cinta.

Bagian keempat adalah cerita tips kencan pertama yang berkesan. Menurutku kencan tak perlu tips, berpacaran tak perlu buku paduan, selain sekedar lucu-lucuan yang sayangnya tak lucu. Berikutnya masalah sopirnya yang bau keteknya parah. Sederhananya langsung kasih tahu, beri deodoran yang pas, selsesai. Enggak, Dhika memberi kepanjangan tulisan muter-muter sampai dapat tipsnya dari majalah Gadis lama biar bau itu hilang, dengan cara sopan. Yailleh hal sederhana dibuat rumit sendiri, sopir pasti sepakat ikuti bos demi kenyamanan bersama.

Hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan tapi kenapa entah kepikiran adalah bab paling payah. Hal-hal yang dengan mudah kita temui di twitter ini ditulis ulang dan dicetak. Cerita-cerita yang kini dengan tagar #RecehkanTwitter jauh lebih berkelas. Jauh lebih lucu dan menghibur.

Bab berikutnya lebih glamour lagi, ke Venice, Italia. Masalah makan yang sulit dan muter-muter. Pesan moral bagaimana proses perjalanan mencari makanan enak dan lezat ala the genk. Piza di Jababeka kurasa sudah jauh lebih nikmat ketimbang segala ketakjelasan ini.

Dari Italia kita ke Belanda. Bagaimana sosok ibu yang selalu mengkhawatirkan anaknya di tanah rantau. Wajar, sangat wajar. Pengalaman belajar Dhika di Negeri Belanda bersama teman-teman kuliahnya dan bagaimana mama terus mencoba menerima kabar sang buah hati. Sesungguhnya terlalu perhatian orang tua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima. Sepakat.

Bab norak berikutnya interview Dhika dengan hantu-hantu ga jelas. Benar-benar ga jelas. Tulisan macam gini bisa-bisanya dicetak? Berikutnya curhat sobat Trisna, S2 Swiss yang jomblo perak, usia 25 tahun dan belum pacaran! Curhatnya jelas ga di angkringan apalagi lesehan depan toko, curhat Trisna di kafe kopi daerah Senopati. Jomblo itu pilihan, status kita menyatakan kedekatan kita dengan calon pasangan. Sepelik apapun cinta gadis lulusan luar negeri, lebih pelik penganggur kelas jelata.

Jenis-jenis jomblo ini ditulis dengan gaya alay, emo yang berlebih dan mengada-ada serta komedi ala kadar yang tak lucu. Paper jomblonology yang ga guna. Daripada sakit gigi lebih baik sakit hati. Apa hubungannya dengan dokter gigi yang menyambung ke film The Last Exorcism of Emily Rose? Sebagai kaum jelata, jangankan ke dokter gigi rutin, buat beli odol rutin saja susah. kebiasan ke dokter gigi dua kali setahun itu bagus. menjaga, merawat dan mengetahui ga ada masalah dalam mulut. Namun takut ke dokter gigi kurasa cocoknya untuk kaum anak dan jelang remaja. Bagaimana kalau sudah gede dan masih takut ke dokter gigi? Kurasa ini hanya cocok untuk cowok-cowok berbehel yang senyumnya membuat muntah kaum snob. Sepakat?

Bab penggalauan idem dengan Recehkan tagar di twitter yang kini menjamu dan cocok dibaca santai buat seru-seruan aja. Pindahan rumah dan akhirnya bab penutup yang dinukil sebagai judul itu agak mending yang menaikkan rate, tapi tetap secara keseluruhan buku ini jelex. Tulisan curhat blog biarkan tetap di blog, tolong yang dicetak jual lebih berbobot. Ga ala kadarnya.

Kover dan gambar dibaliknya ampun deh. Narsis dan payah akut. Pede bikin muntah kalangan pemuda jangkis, bagaimana bisa seorang Penulis bisa senorak itu memajang dirinya dengan berbagai pose heran. Sedikit narsis tak apalah, lah kalau memajang 6×4 pose norak ya kebangetan. Plus sebuah pembatas buku yang layak dilempar di bak sampah. Berlindunglah kami dari segala kebobrokan ini ya Allah.
Bahasa Penulis memang gaul sih makanya tak cocok kulahap. Gue, elo, papa, mama, sampai segala kamus gaul 2000an dikembangkan. Mungkin cocok untuk generasi milenial yang jelas ga nyaman buat kita yang melewati generasi Dragon Ball saat Goku menyatakan cinta untuk Cici.
Saat buku ini kubaca, Penulis sudah menikah dan sudah beberapa kali mencipta film serta konsisten menjuri lomba stand up komedi yang kesemuanya tak kuikuti beritanya.

Hanya sesekali lihat sekelebat lewat di tv atau berita sosmed. Dan merasa masih malesi…

Manusia Setengah Salmon | oleh Raditya Dika | Editor Windy Ariestanty | Proofreader Gita Romadhona | Penata Letak Nopianto Ricaesar | Desain kover dan ilustrasi isi Andriano Rudiman | Penerbit Gagas Media | Cetakan keenam, 2010 | xiii + 264 hlm.; 13 x 20 cm | ISBN (13) 978-979-780-531-9 | ISBN (10) 979-780-531-x | Skor: 1,5/5

Karawang, 12-280618 – Sherina Munaf – Pergilah Kau
Thx to Jokop yang telah meminjami buku ini.

#23 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSher

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s