Rumah Kertas #20

“Bluma membaktikan diri pada satra tanpa pernah membayangkan bahwa sastralah yang merenggutnya dari dunia ini. Bluma mati gara-gara mobil, bukan gara-gara puisi.”

Novel yang menggairahkan. Kisahnya tipis tapi tak sederhana, membuat kita para pecinta buku yang ngakunya die hard tak ada apa-apanya. Ini adalah contoh nyata segala yang dicinta berlebihan itu tak sehat. Bagaimana buku menjadi obsesi, jadi pegangan dan daya pikat utama hidup ini. Saya memang sudah merencana jauh hari suatu hari punya perpustakaan keluarga, yang minimalis tapi elegan. Namun impian itu beneran hanya seujung kuku sang kolektor. Pematiknya adalah seorang dosen pecinta sastra yang mati tertabrak mobil saat di jalan membaca puisi. Dari tragedi itu sangat Aku (sudut pandang adalah Penulis sendiri) menelusuri sebuah kiriman buku yang merentang jauh ke Amerika. Buku yang berlumur semen itu dibawa dan rencana dikembalikan, nyatanya malah membawa petualangan seru dan nyelenh akan hobi buku seorang eksentrik membangun rumah dari buku! Bukan tersirat, tapi benar-benar membangun dari kertas! Keren.

“Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu. Sori kalau aku bertingkah sedikit mirip penyihir buatmu dan seperti yang sudah kubilang sedari awal, kau takkan pernah melakukan apapun yang bisa mengejutkanku.” – 8 Juli 1996

Aku kerap bertanya-tanya mengapa kusimpan buku-buku yang mungkin baru ada gunanya jauh di masa mendatang, judul-judul yang tidak terikat dengan minatku pada umumnya, buku-buku yang pernah kubaca sekali dan tidak akan kubuka lagi, selama bertahun-tahun.

Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya.
Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung ketimbang buku yang halaman-halamannya tidak pernah bisa kit abaca lagi, namun yang tetap terkenang seperti bunyi judulnya, sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu.

Seorang profesor sastra klasik yang sengaja berlama-lama menyeduh kopi di dapur agar tamunya bisa mengagumi buku-buku di raknya.

Ada bintang-bintang menyilaukan di peta sastra, orang-orang yang jadi kaya raya dalam semalam berkat buku-buku yang payah, yang dipromosikan habis-habisan oleh penerbitnya, di suplemen-suplemen koran, melalui pemasaran, anugerah-anugerah sastra, film-film acakadut dan kaca panjang toko buku yang perlu dibayar demi ruang untuk tampil menonjol.

“Dunia orang hidup berisi cukup keajaiban dan misteri yang menindaki perasaan dan pemikiran kita dengan cara-cara yang begitu tak terjelaskan sampai-sampai nyaris membenarkan konsepsi tentang hidup sebagai suatu kondisi kena sirep.”

Saya sadar bahwa buku tidak seharusnya bercampur dengan kehidupan rumah tangga. Mereka cenderung lekas kotor.

Membangun perpustakaan adalah menciptakan kehidupan. Perpustakaan tidak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka.

Saya perlu membaca semua catatan yang ada di sebuah buku untuk menjernihkan makna tiap-tiap konsep, jadi sulit bagi saya untuk duduk membaca buku tanpa ditemani dua puluh buku lain di sampingnya, kadang hanya untuk menafsirkan satu bab saja secara utuh.

Namun sialnya beberapa jam sehari yang bisa saya peruntukkan untuk membaca? Paling banter empat, lima jam. Saya kerja pukul delapan pagi sampai lima sore di sebuah jabatan yang tidak enteng tanggung jawabnya. Tapi sepanjang waktu itu, yang saya rindukan cuma bisa kembali ke sini. Di gua inilah – izinkan saya menggunakan istilah ini – saya luang beberapa jam yang menyenangkan sampai pukul sepuluh, saat saya biasanya naik ke lantai atas untuk makan malam.

Ngengat membuat Brauer gila.

Ia memberikan mobil untuk temannya agar bisa mengisi garasi dengan buku.

Kalau boleh saya pinjam separuh kalimat Borges: Perpustakaan adalah pintu untuk memasuki waktu.

Dengan menulisi marjin-marjinnya dan menggarisbawahi kata-kata, kerap kali dengan warna berbeda-beda yang mengandung sandi tertentu, ia bisa menangkap maknanya.

Buku apapun yang dicetak misionaris-misionaris Katolik amatlah langka, tapi Perpustakaan Nasional kami punya satu.

Kalau Anda ingin menulis puisi Anda perlu secarik kertas dan alat tulis yang berfungsi sama seperti kalau Anda ingin mangambil hati seorang perempuan, persiapannya kan macam-macam termasuk yang kelihatannya tidak asyik.

“Kemudahan untuk mencari buku-buku yang dicari itu satu hal, tapi menempatkannya berdekatan dan berjauhan itu soal lain.”

Lukisan itu jadi lukisan baru, bayang-bayang jadi hidup, nyala api memainkan lidahnya dan seolah-olah tidak ada beda riil antara cahaya yang berasal dari pigmen dan minyak dengan ruangan tempat karya itu berada.

“Jangan takut. Atau kita berdua justru harus takut. Saya nyaris tak percaya.”

Tipe akademisi yang penuh semangat yang puas diri, yang sedikit-sedikit suka menyitir kutipan-kutipan sastra, dan kalau mati memilih ditabrak mobil sedang membaca Emily Dickinson

Yang menakjubkan adalah bahwa kebetulan atau nasib meresponnya persis demikian.

“Lantas suatu hari tak dinyana, Anda kehilangan urutan kenangan-kenangan ini. Kenangannya sendiri tidak hilang tapi juga tidak bisa ditemukan.”

… ia menyuruh buku-buku diubah jadi bata.

Ia tidak gembira, tidak pula sedih, ternganga oleh brutalitasnya sendiri, dibuai oleh siul si kuli, radio yang menyala atau debur ombak laut, pekik camar di pantai.

Banyak kamus sering dipakai buat mengepres dan meluruskan macam-macam ketimbang dibuka-buka dan tidak sedikit buku dipakai untuk menyimpan surat-surat, dan rahasia agar tersembunyi di rak. Orang rupanya bisa mengubah takdir di buku-buku.

Buku-buku menjalin kekerabatannya sendiri atau karena pada akhirnya aku kembali bisa menguasai emosiku, kuputuskan bahwa sudah waktunya menyekar ke makam Bluma.

“Ya setiap orang punya kesukaannya sendiri-sendiri. Dia bangun rumah dari buku-buku itu sudah cukup mengejutkan. Lebih mengherankan lagi waktu di melubanginya. Seperti yang kubilang, dua hari ia menggodami temboknya, dan si bocah bilang itu karena buku yang dicari tidak ketemu.”

Ia bukan seorang dukun sihir dan membacakan keras-keras buatnya hal-hal yang sepenuhnya tidak ia pahami, tapi kedengarannya seperti musik, dan ia tidak punya bayangan buat apa tulang-tulang itu.

Beberapa endorse di sampul belakang:

“Kisah yang tak terlupakan tentang dunia sastra, kepustakaan, dan kecintaan akan buku. Sebuah novel untuk dibaca ulang berkali-kali.” – Critiques Libres

“Buku tipis yang akan menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.” – New York Times

Sebuah mahakarya – Frankische Landeszeitung

Buku yang sangat bagus, sayangnya sangat tipis. Kelemahan buku ini ya hanya terlalu tipis, seperti novella atau bahkan kumpulan cerpen yang dijilid.untuk dikatakan novel jelas kurang panjang, halamannya tak lebih dari 100. Selain itu, tak ada. Cerita yang dipersembahkan untuk para pecinta buku, para kolektor dan kutu buku kelas kakap. Wajib koleksi!

Rumah Kertas | By Carlos Maria Dominguez | Diterjemahkan dari La Casa De Papel | Pertama terbit 2002 oleh Penerbit Ediciones de la Banda Oriental di Montevideo, Uruguay | Penerjemah Ronny Agustinus | Ilustrasi isi Melia P. Khoo | Penerbit CV. Marjin Kiri, eksklusif dari Guilermo Schavelzon & Asoc., Agencia Literaria, Barcelona | Cetakan kedua, Oktober 2016 | vi + 76 hlm., 12 x 19 cm | Ilustrasi sampul ‘Le Libraire’ karya Andre Martins de Barros | ISBN 978-979-1260-62-6 | Skor: 4.5/5

Untuk mengenang Joseph sang adiluhung

Karawang, 250618 – Sherina Munaf- Sebelum Selamanya

#20 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s