Comedy Apparition #21

Ya, Helloween adalah ajang reuni bagi para penyihir.

Saya melabelinya tomat buruk. Laiknya film-film yang harus dirate pasca menikmati, Comedy Apparition jelas terpilah ke dalam keranjang rotten. Entah di goodreads apakah buku ini bisa mencuri hati pembaca, namun pengalamanku dengan Harry Potter, Narnia, Game Of Thrones, Hobbit, Spiderwick Chronicles, Bartimaeus Trilogy, sampai segala bacaan Neil Gainman membuatku tahu bahwa fantasi tidak seharusnya begini. Mungkin apes jua, akhir tahun lalu saya selesai baca Samudera Di Ujung Jalan Setapak dengan fantasi Lenny Hempstock yang luar biasa keren, novel ini langsung drop tak ada apa-apanya. Mencoba memberi warna dengan opsi sihir yang aneh, tak bisa menyelamatkan. Ini adalah buku ‘belajar mengarang tingkat dasar’.

Buku yang jelek sekali. Tak ada konflik, tak ada masalah berarti yang disodorkan, tak ada sesuatu yang membuat Pembaca penasaran. Ini buku semacam parade pamer imaji kosong, tak ada penawaran kisah berbobot. Benar-benar buruk. Entah apa yang ada di dalam pikiran sang Penulis sehingga bisa memainkan sihir tanpa experliarmus, tanpa pertarungan, sihir tanpa trik sehingga tak ada hal bagus untuk diikuti. Kenapa roller coster begitu seru? Karena rutenya naik turun, karena memacu andrenalin, karena benar-benar menantang. Bayangkan andai rute rel coaster itu datar, lempeng saja, memutar dengan tanpa sudut kemiringan. Duh! Mending naik odong-odong sekalian, kisah dengan alir datar gini hanya menarik minat anak-anak, basic. Sangat dasar. Comedy jelas sebuah karya hambar yang tak menarik untuk Potter mania (dan berani-beraninya disebut!), seonggok sampah bagi pecinta fantasi. Buku ini sekedar lewat dan lupakan, sayang sekali. Padahal dapat kesempatan dicetak dan jual oleh Penerbit Laksana yang terkenal bermutu, saya punya lima atau enam terbitan mereka dan semua berkelas sebelum kitab kuning ini muncul memberi noda dalam rak perpustakaan keluarga.

“Dengar Stephen kita punya cara masing-masing untuk berkompromi dengan hal-hal buruk. Aku mencicil rasa sakitnya. Aku tidak bisa meledak begitu saja. Apa kau pernah melihatku marah-marah?”

“Darah kalau belum kena oksigen berwarna biru.”

“Kau tahu tidak kalau gelas pertama kali diciptakan pada tahun lima ribu sebelum Masehi dan sebenarnya bukan berbentuk padat, namun adalah cairan yang sangat dingin?”

“Ada dua puluh sembilan kata ‘lelucon’ di Perjanjian Lama.”

Musik adalah interpretasi hati. Kadang-kadang itu menular. Biasanya aku menyimpan perasaanku di dalam MnM’sku.

Koin berarti kekayaan, semanggi daun empat berarti keberuntungan, kancing atau bidal berarti kau akan menjadi perewan tua, jepitan baju berarti kemiskinan, kuali berarti masalah, padi berarti perkawinan, paytung berarti perjalanan, cincin berarti pernikahan dini, dan kunci berarti kemasyuran.

Kodok kalau terlalu banyak makan kunang-kunang akan jadi bercahaya. Bedanya, kami membuat agar cahayanya tidak pudar-pudar sampai akhir Day of Death nanti. Seilmiah apapun, kalau tidak normal ya tidak normal.

Kami sebenarnya atheis, tapi tidak apa-apa kok kalau kalian mau membesarkan bayi Kristen.

Aku tidak pernah berdandan. Satu-satunya make up yang kupakai cuma bedak bayi dan tabir surya.

Kamar ini memang tidak ada kalau kami tidak ada tamu, namanya kamar tamu, dia hanya muncul sesuai fungsinya.

“Burung bulbul jatuh cinta pada bunga mawar. Dia bernyanyi untuknya setiap hari. Tapi bunga mawar hanya menikmatinya saja.”

Tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa mendengarkan musik berpengaruh pada perasaan, atau kenapa janin bisa pintar kalau mendengarkan musik klasik. Ada sihir dalam musik, frekuensinya bisa memanggil roh.

Hatimu berdebar-debar sangat kencang mengikuti irama lagu dan seluruh bagian dari dirimu berdentum-dentum. Kalau kau memegang buku, kau akan merasakan itu bergetar di antara jari-jarimu.

Nyesel sekali beli buku ini. Saya ambil saat melimpah pilihan di pameran buku akhir tahun di Gedung Wanita, GOR Karawang. Bayangkan, dengan banyaknya buku berkualitas saya justru membawa pulang kumpulan cerpen 99 Penulis (belum selesai baca) dan buku sampah ini. Pertama lihat sejatinya sudah dua tahun sebelumnya di (Alm) toko buku Kharisma, KCP. Waktu itu sempat menimang-nimang, memilah antara buku ini atau Albert Camus: Summer. Waktu itu masih waras, jelas pilih Camus. Masuk pertimbangan karena ini Penulis lokal dengan gaya fantasi di mana settingnya luar negeri. Mengingatkanku pada novel My Secret Identity, novel remaja lokal dengan setting Amerika. Kisah Penulis yang menyamar dan terus mencoba menghindar publitas itu sukses membuatku takjub yang mana setiap lembarnya memberi tanya dan kejutan. Lha ini, Comedy benar-benar payah di semua lini. Pamer skill penamaan karakter (kalau nama keren bisa mencetak best seller buku ini bisa jadi masuk), pamer gaya English (bolehlah setting luar negeri tapi tetap intinya kosong), pamer referensi kisah-kisah fantasi (ya ya ya, sebut saja) namun melupakan daya pikat utama alasan kenapa kita membaca novel. Nol. Konflik! Kejutan, dan segala syarat bagus cerita tak ada. Entah ini memang bertujuan untuk buku panduan fantasi pemula atau memang Ginger tak bisa meramu alur cerita dengan benar. Ga yakin, remaja pun suka cerita hapily ever after macam gini, apalagi generasi tua.

Hari Helloween dan Day of Death di mana mereka sesuai tradisi menguliti kucing hitam dan memarut paruh gagak. Mereka tidak pernah melewati satu kali pun malam penuh perayaan itu, tidak karena Every langsung pucat dan minta tinggal di rumah saja, tidak karena Yvonne muntah-muntah mengingat pembantaian kecil-kecilan itu.

Dengan mengikuti gaya Penulis keren ga otomatis menjadikanmu keren. Dengan memiripkan gaya kisah-kisah romance, fantasi, detektif yang bagus, ga serta merta menjadikanmu Penulis bagus. Anda boleh saja mengutip Penulis Besar yang pernah lahir, Anda juga boleh mengambil referensi polanya, namun tetap pilihlah gaya bahasa sendiri. Comedy jelas masuk dalam kategori buruk, sangat buruk.

Kualitas cetak OK, pemilihan kover OK, proofreader OK, nyaris tak ada typo, editorialnya amazing, pemilihan front OK, tata letak dan segala hal teknis dalam dunia percetakan luar biasa. Penerbit Laksana memang OK di bagian ini, namun semua runtuh karena kopong. Tak ada hal menarik di dalamnya, zonk. Mengecewakan sekali kisah macam gini bisa lolos, masih mending KKPK atau fantasteen, atau Penulis SD yang apa adanya. Mereka masih punya permasalahan dengan teman, dengan keluarga, lha Comedy. Wkwkwkk… benar-benar komedi buruk.

Laiknya dongeng indah yang datar. Dan, pernikahan itu bagi mereka adalah pernikahan paling indah yang pernah mereka lihat, selain pernikahan mereka sendiri.

Comedy Apparition | Oleh Ginger Elyse Shelley | Editor Diara Oso | Proofreade RN | Tata Sampul Ferdika | Tata isi Violet V. | Pracetak Wardi | Cetakan pertama, 2015 | Penerbit Laksana | 244 hlm.; 15.5 x 24 cm | ISBN 978-602-7933-87-3 | Skor: 1/5

Kaarwang, 250618 – Nikita Willy – Cinta Putihmu

#21 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s