Siddhartha #13

Siddhartha #13
Dengan satu ciuman, Siddartha pamit. “Kuharap akan begini, guruku; bahwa tatapanku menyenangkan hatimu, bahwa nasib baik akan selalu datang kepadaku dari dirimu.”
Aku bisa berfikir. Aku bisa menunggu. Aku bisa berpuasa. | Tidak ada yang lain? | Tidak ada. Tetapi aku juga bisa menulis puisi. Kau mau memberiku ciuman untuk satu sajak? | Dengan senang hati, kalau aku menyukai sajakmu. Apa judulnya?
Buku yang mengejutkanku. Sebelum membaca buku ini pengetahuan dasarku tentang siddartha memang sekedar orang suci umat Budha, orang yang dihormati dan diagungkan. Setelah membacanya? Luar biasa, seakan roller coaster kehidupan. Biasanya kalau dengar kata Siddartha lanjutannya ya ‘Gautama’. Nah tahukah sekarang Gautama adalah orang yang disucikan. Kisah buku ini adalah kehidupan Siddartha sebelum menjadi Gautama, karena ada Gautama yang lain yang dipuja dan mengajari makna kehidupan sebelum dia. Dari pria remaja yang haus pengetahuan kehidupan spiritual, penasaran akan hidup liar dan mencaoba meraihnya, hingga menjadi disucikan. Terkejut juga, masa emas beliau justru bergelimang dosa. Berzina dengan pelacur hingga punya satu putra, berjudi dengan segala kenaifannya. Berdagang dengan sukses penuh kerendahan hati, kehiudpan materialis umum yang terlihat adanya. Barulah usia 40 tahuan beliau menyepi dan akhirnya kehidupan sebagai pengantyar penumpang perahu yang terkenal itu ditekuni itu. Shock? Ya saya terkejut.
Bermula dari pamit pergi, hijrah merantau mencari jalan hidup kesunyian. Ayahnya Brahmana melepas Siddartha dengan kesedihan karena belum siap kehilangan putra kesayangan, tapi keinginan yang luhur untuk menjadi samana, untuk menjadi biksu membuatnya tetap pergi. Besama sahabat karibnya Govinda mereka berdua mengembara. Semadi, menyendiri, mencari kanuragan, dari hutan ke hutan sampai pada akhirnya tersiar kabar sang Gautama telah tiba. Bersama murid-murid lainnya mereka berdua ikut menimba ilmu. Mendengarkan petuah, menanti safaat. Saat akhirnya keputusan harus diambil, diluarduga Govinda, Siddartha memutuskan pergi sehingga dua sahabat karib ini berpisah.
Siddartha mengambil langkah ‘aneh’ dengan mencari materi, badaniah dan penuh hal-hal fana. Well, berbanding terbalik dari dunia remajanya yang biksu. Siddartha menginap di sebuah gubuk penambang, mendapat asupan makan lalu menyeberangi sungai yang diantar oleh sang penambang. “sungai ini berbicara.” Siddartha menuju kota, mencari penghidupan. Bertemu dengan pelacur kaya Kamala di tamannya. Siddartha yang menanyakan apa saja yang dibutuhkan untuk bisa membuat Kamala terkesan? Baju bagus, uang dan istana. Maka Siddartha pun diperkenalkan dengan saudagar Kamaswami untuk belajar niaga.
“Kau bersedia. Begini, Kamala: Ketika kau melempar batu ke dalam air, batu dengan cepat melesat ke dasar. Seperti itulah kalau Siddartha memiliki tujuan, keputusan. Siddartha melakukan apapun, menunggu, berfikir, melintasi hal-hal dunia bagai batu menerobos air, tanpa melakukan apapun, tanpa bergerak dia tertarik, dia membiarkan dirinya jatuh. Sasarannya menarik hatinya, karena dia tidak membiarkan apapun memasuki jiwanya yang mungkin menentang sasarannya. Ini yang dipelajari Siddartha di tengah para Samana. Ini yang disebut orang-orang bodoh sebagai sihir dna yang mereka sangka digerakkan oleh jin-jin. Tak ada yang digerakan oleh jin, tidak ada jin. Semua bisa melakukan keajaiban, semua bisa mencapai sasarannya kalau dia mampu berfikir, kalau dia mampu menunggu, kalau dia mampu puasa.”
Pelan nan pasti ia belajar berjualan, mengumpulkan keuntungan dan menjadikan materi sebagai acuan. Dan hebat, sukses. Dan dimulailah kehidupan dunia. Judi, zina, mengumpulkan uang. Ini usia emas, ini puncak kemudaan. Tidak ada yang abadi, semua sementara.
Ada sesuatu yang membuatnya tersadar suatu ketika, membuatnya mengingat masa lalu dan memutuskan ke hutan, hidup dengan tukang tambang Vasudeva dan menyepi lagi. Saat sang Gautama menjelang kematian, Siddartha sudah kemabli putih, sehingga jadilah ia penerusnya. Nah, bagian akhir itulah bagian terbaik. Penuh petuah, penuh ajaran tenang yang membuat Govinda kagum dan juga pembaca. Buku berakhir.
Inilah sejarah sang Gautama sebelum mencapai kesucian. Di usia 40an tahun, sama seperti Nabi Muhaamad SAW. Usia yang matang untuk ke nirwana, untuk mangajar dan menerima wahyu, melanjutkan estafet.
Apa yang kita tanam akan kita tuai. Siddartha memiliki anak, saat menyepi sang putra tak kuat dan akhirnya kabur, awalnya ga rela karena takut akan dunia luar yang keras tapi Siddartha teringat masa mudanya dulu yang kabur dari ayahnya.
“Pengetahuan bisa disampaikan, tapi kearifan tidak. Bisa ditemukan, dihayati dalam hidup, mungkin bisa diutarakan, mukzijat bisa dilakukan dengannya, tetapi tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata dan diajarkan. Inilah yang bakan di masa muda mendorongku menjauhi para guru. Aku mendapatkan suatu pemikiran yang mungkin bagimu seakan kelakar, tapi inilah pemikiranku yang terbaik. Begini: kebalikan dari setiap keberanan sama benarnya! Keberanan apapun hanya bisa diungkapkan dan dijabarkan dalam kata-kata kalau dia berat sebelah. Semuanya berat sebelah, kalau bisa dipikirkan denagn pikiran dan dikatakan dengan kata-kata, semuanya berat sebelah, semuanya hanya satu paruh, semuanya kurang sempurna, kurang bulat, kurang menyatu. Ketika Gautama menyampaikan ajarannya tentang dunia, dia hanya membaginya dalam Sansara dan Nirwana, ke dalam pengelabuhan dan dan kebenaran, ke dalam penderitaan dan jalan keluar dari penderitaan…”
Inilah buku pelajaran menjadi bijak. Semua orang terikat masa lalu, semua orang punya masanya, punya areanya masing-masing. Terpenting adalah sekarang, lakukan terbaik, lakukan demi kehidupan ke depan yang lebih berisi. Sungguh butuh perjuangan untuk menjadi bijak.
Buku ke 8 pinjaman dari Bustaka Galuh Mas, Karawang. Tempat baca yang nyaman, dekat rumah dan bisa dipinjam pulang! Terima kasih.
I – Untuk Romain Rolland, sahabatku tercinta
II – Dipersembahkan kepada Wilhelm Gunder, sepupuku di Jepang
Siddhartha | by Hermann Hesse | diterjemahkan dari Siddhartha | GM 40201140059 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Gita Yuliani | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Cetakan pertama, 2014 | ISBN 978-602-03-0419-9 | 166 hlm; 20 cm | Skor: 4/5
Semarang, 130618 – Sherina Munaf – Impian Kecil
#13 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s