Pesta Remeh Temeh #11

Keremeh-temehan kawanku, adalah esensi dari eksistensi. Semua itu ada di sekitar kita, dan di mana serta senantiasa. Keremah-temehan bahkan hadir di saat tidak ada yang ingin melihatnya. Di dalam kengerian, di dalam perang berdarah-darah, di dalam bencana yang paling buruk.

Aku mengorbankan diriku sendiri kawan-kawan seperjuangan, demi kemanusiaan.” – Stalin

Happy Birthday Sherina Munafku. Hari ini Sherina ulang tahun ke 28. Picture profil grup Whats Up pun berlomba menggambarkan diri sang kekasih. Terima kasih.

Saat itu bulan Juni, matahari terbit dari balik awan dan Alain sedang berjalan perlahan-lahan menyusuri jalanan kota Paris.

Ini adalah buku kedua yang kubaca dari Penulis kandidat Nobel Sastra Milan Kundera setelah Gelak Tawa yang luar biasa itu. Seperti judulnya buku ini memang sekedar pesta kecil yang remeh temeh, buku yang biasa. Seseorang yang khawatir mengidap penyakit mematikan periksa ke dokter, hasilnya tak seperti yang diwas-waskan, negatif. Seharusnya lega dong, lha malah diumumkan ke teman-temannya bahwa ia sakit parah dan hidupnya tak kan lama, becanda yang tak lucu, maka untuk memberi kesenangan akhir yang fana ini dibuatlah pesta perpisahan, pesta remeh temeh yang sungguh sungguh hampa dan tak guna. Itu saja? Garisnya, karena ini menyangkit ‘kematian’ maka efeknya panjang dan menyeret banyak hal tak terduga. “Kawan-kawan, sekarang, mari kita berhenti di situ.

Ini novel yang dibuat setelah Milan migrasi, jadi setting-nya di Perancis. Tak seperti yang sebelumnya yang padat dan mencekam dan sungguh berbobot karena dibuat seakan dalam tekanan pihak Pemerintah, novel Pesta dibuat benar-benar hura-hura, konfliknya lebih ringan dan sekedar menyentuh persahabatan. Seakan dunia sudah nyaman dan tak ada ancaman berarti untuk diri dan keluarga serta teman. Walaupun dalam berkumpul mereka membicarakan hal-hal filosofia dan arti hidup dengan menyebut Stalin dan kroninya, tapi jelas lelucon sakit kanker tetaplah sekedar tawa di tengah koktail.

“Waktu bergulir, karena waktulah pertama-tama kita hidup. Artinya didakwa dan dihukum kemdian kita mati dan untuk beberapa tahun lagi kita bertahan hidup di dalam ingatan orang-orang yang mengenal kita, tapi segera pula terjadi perubahan yang lain. orang mati menjadi orang yang telah lama mati, tak ada yang mengingatnya lagi, mereka lenyap dalam kehampaan…”

“Orang yang meminta maaf menyatakan dirinya keliru dan ketika kau menyatakan dirimu bersalah, kau mendorong orang lain untuk terus menghinamu, menyalahkanmu, di depan umum, sampai mati, begitulah konsekuensi permintaan maaf yang pertama.”

“Aku tidak tahu banyak tentang teologi. Aku membayangkan sosok malaikat sebagian besar dari apa yang orang-orangkatakan kepada seseorangyang mereka ingin berterima kasih atas kebaikannya – ‘Kau adalah malaikat’.

Ia selalu memiliki gagasan yang samar bahwa seandainya ia dilahirkan sekitar enam puluh tahun lebih awal, ia akan menjadi seorang seniman. Suatu gagasan yang sungguh-sungguh kabur, karena ia tak tahu apa arti ‘seniman’ pada saat ini.

Dengan demikian ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membuka minuman itu pada hari ulangtahunnya untuk merayakan kebesarannya bersama kawan-kawan, kebesaran penyair yang begitu agung ini, berasal dari pemujaan sederhananya terhadap puisi yang bersumpah tak kan menulis lagi satu baris pun.

“Kawanku terkasih, kekuranganku hanya satu: suasana hati yang menyenangkan.”

Stalin bertanya: “Apa kualitas pertama dari kehendak, Kamerad Zdhanov?” Zdhanov terdiam dan stalin menjawab, “Kebebasan. Suatu kehendak bisa menegaskan apa pun yang dipilihnya. Mari kita labjutkan, pertanyaan sebenarnya adalah: Ada banyak representasi yang berbeda-beda di dunia ini, sebagaimana ada banyak individu di planet ini, tak terelakan hal ini menimbulkan kekacauan. Bagaimana caranya menciptakan keteraturan dalam kekacauan ini? Jawabnya jelas dengan memaksakan satu representasi tunggal kepada semua orang.”

“Apa yang membuatmu merasa bersalah? Karena tidak berdaya mencegah kelahiranku? Atau tidak bisa mendamaikan diriku sendiri dengan kehidupanku yang sebagaimana sudah terjadi, tidak terlalu buruk.”

Mereka akan pergi ke manapun, di manapun, melakukan apapun, demi membunuh waktu ketika mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak tahu apa-apa dengan begitu mereka membiarkan diri mereka sendiri dibawa ke mana-mana.

“Di tubuh erotik wanita terdapat beberapa titik kencana tertentu dan aku selalu befikir ada tiga titik kencana: paha, bokong, payudara. Kemudian suatu hari aku mengerti ada titik kencana keempat: pusar.”

“Di masa lalu, cinta adalah suatu perayaan indicidual yang tidak ada bandingnya suatu penghormatan yang unik, suatu yang tidak mungkin bisa ditiru.”

Sebagaimana yang kau katakan, pertunjukan yang sempurna… dan sama sekali sia-sia, anak-anak tertawa tanpa tahu sebabnya – bukankah ini indah?

Buku pertama Penerbit Indi Trubadur kubaca, sudah punya empat lainnya. Terlalu banyak koma, terlalu banyak tanda baca. Ada beberapa typo yang biasanya dari autotext, salah satunya saying yang seharunys sayang. Beberapa dialog menggunakan bahasa Perancis, Portugis atau Pakistan, tapi oleh penerjemah tetap meng-Indonesia-kan, harusnya bahasa selain yang utama tetap ada tercantum, barulah ke Indonesia, di sini justru dijelaskan dalam tanda kurung. Namun tetap saja ini buku bagus, sekalipun sederhana di tangan maestro Milan Kundera bisa lebih berwarna. Biasanya buku-buku terjemahan berkualitas hadir dari Yogyakarta, ini dari Bandung hanya dua jam perjalanan dari Karawang. Terima kasih sudah menghadirkan buat pembaca novel berbobot, sayangnya tipis-tipis. Ambil yang lebih berat dong, atau saya tunggu hasil alih bahasa novel-novel Virginia Wolf. Berani?

Saya juga sudah membaca karya lain Milan, Kealpaan, sama dengan Pesta. Novel yang lebih sederhana karena Milan sudah hidup nyaman di Perancis, tanah rantau, jadinya permasalahan yang ditawarkan kurang gereget. Jadi kesimpulan sementara, untuk jadi novel berkelas kita harus menempatkan sang tokoh dalam problem pelik? Ya ya ya… tidak di sebuah pesta tidak di sebuah nostalgia.

“Keberadaan manusia tak lain hanyalah kesunyian.” Apakah inilah saat Milan Kundera meraih Nobel Sastra? Mari kita lihat…

Pesta Remeh Temeh | by Milan Kundera | diterjemahkan dari The Festival of Insignificance | Penerjemah Luthfi Mardiansyah | Penyelia Akhir Wisnu Sapta Nugraha | Penata Isi Tirena Oktaviani | Perancang Sampul Rifki Syarani Fachry | Kolase Sampul ‘Huru-Hara Lelucon’ (Rifki Syahrani Fachry) | Penerbit Trubadur | cetakan pertama, November 2017 | iv + 131 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-602-50034-7-9 | Skor: 3,5/5

Karawang, 110618 – Sherina Munaf – My Life (Indonesia) #HBDSher

#11 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Thanks to Paperbook Plane, toko buku daring yang keren.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s