Perempuan Di Titik Nol #5

Perempuan Di Titik Nol – Nawal el-Saadawi

“Mari kita berangkat… waktumu sudah tiba.”

Firdaus adalah kisah seorang wanita yang telah didorong oleh rasa putus asa ke pojok yang paling kelam. Ini adalah kisah wanita sejati. Dari penjara Qanatir, Mesir kita diajak berpetualang, menekuri riwayat hidup pelacur yang menunggu hukuman mati.

Akhirnya saya berhasil membaca buku ini. Sudah numpuk dalam wishlist, agak sulit dicari. Wajar buku ini kena cekal di Mesir saat pertama terbit, diterjemahkan oleh Penerbit snob Obor yang jelas tak bisa kita dapatkan di toko buku konvensional. Banyak hal yang tabu, dan di sana tak sejalan dengan kebijakan Pemerintah. Berani menyuarakan minoritas, dan sukses melambungkan perjuangan persamaan gender. Tamparan kuat buat para religius di tempat ibadah, lalu bunglon menjelam jadi biadap saat ganti ruang dan pakaian. Di Mesir sana, negeri tua yang peradabannya maju ternyata banyak kemiripan dengan negeri kita, eerghh… 20, 30 tahun lalu?

Saya merasa ditolak bukan saja oleh dia, bukan saja oleh satu orang di antara sekian juta yang menghuni dunia yang padat ini, tetapi oleh setiap makhluk atau benda yang ada di bumi ini, oleh dunia yang luas itu sendiri.

Seumur hidup saya telah mencari sesuatu yang akan mengisi diri saya dengan perasaan bangga, membuat saya merasa lebih unggul dari siapapun juga, termasuk para raja, pengeran, dan para bangsawan. Tiap saya mengambil surat kabar dan menemukan gambar lelaki, saya akan meludahinya.

Bagaimana mungkin saya bisa begitu yakin itu adalah muka saya, karena saya belum pernah melihat muka saya di sebuah cermin?

Karena itulah jika ada sesuatu yang ingin saya katakan, maka itu hanyalah masa depan. Masa yang akan datang masih dapat saya lukiskan dengan warna-warna yang saya sukai. Tetapi menjadi milik saya untuk secara bebas memutuskan, dan mengubah seperti yang saya inginkan.

Kau tahu yang mulia, memasak adalah ‘semangat yang kau tiup’ ke dalamnya. Dan saya tidak suka apa yang dia ‘hembuskan’ ke dalam masakannya.

Seorang tua yang dapat dipercaya masih lebih baik daripada seorang muda yang memperlakukannya dengan cara yang menghina, atau memukul. Anda tahu bagaimana orang muda jaman sekarang.

‘Tiada yang memalukan seorang lelaki kecuali kantongnya yang kosong.’
Satu dunia baru telah terbuka di hadapan mata saya, suatu dunia yang bagi saya belum pernah ada. Barangkali selalu ada di situ, selalu hadir, tetapi saya belum pernah melihatnya, belum pernah menyadarinya, bahwa itu selalu telah ada.
Rasa gemetar melintasi sekujur tubuh saya, seperti rasa takut mati, atau seperti kematian itu sendiri.
Justru lelaki yang tahu agama itulah yang gemar memukul istrinya. Aturan agama mengizinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya adalah kepatuhan yang sempurna.
“Jeruk keprok,” jawab saya. Tetapi setelah dia membelinya, saya menyadari bahwa saya lebih menyukai jeruk manis, tetapi saya malu untuk berkata demikian, karena jeruk keprok harganya lebih murah.
Jalanan telah menjadi tempat yang aman, tempat saya dapat mencari tempat berlindung, dan ke situ saya dapat melarikan diri dengan seluruh jiwa raga saya.
Hidup adalah ular. Keduanya sama. Bila ular itu menyadari bahwa kau itu bukan ular, dia akan menggigitmu. Dan jika hidup ini tahu kau tidak punya sengatan, dia akan menghancurkanmu.
Dapatkah sungai Nil, dan langit dan pepohonan berubah? Saya telah berubah jadi mengapa sungai Nil dan warna pepohonan itu tidak berubah pula?
“Kau seorang pelacur dan menjadi tugasku menangkap kamu dan lain-lain sejenis kamu. Untuk membersihkan negeri ini dan melindungi keluarga terhormat dari jenis kalian.”
Seakan-akan uang itu sesuatu yang membuat malu, dibuat untuk disembunyikan, suatu objek dosa bagi saya tetapi diperbolehkan bagi orang lain, seperti dibuat sah bagi mereka.
Tetapi tiada kekuatan di dunia ini yang bisa memutar kembali jarum jam, sekalipun untuk sejenak saja. Sebelumnya pikiran telah tenang sentosa, tidak terganggu. Ada baiknya saya tetap awam terhadap kenyataan.
Cinta telah membuat saya menjadi pribadi yang berlainan. Ia telah membuat dunia ini Indah. Tetapi saya mengharapkan sesuatu dari cinta, dengan cinta saya mulai membayangkan bahwa saya menjadi seorang manusia. Seperti orang suci, saya memberikan segalanya yang saya miliki tanpa memperhitungkan ongkosnya.
Kebajikan saya, seperti kabjikan semua orang yang miskin, tak pernah dianggap atau sebuah aset, tetapi malah seperti sebuah kedunguan, atau cara berfikir tolol untuk dipandang lebih rendah lagi daripada kebejatan moral atau perbuatan jahat.
Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan paling kejam untuk kaum perempuan.
Dia mengalami kenikmatan yang langka karena tak punya ikatan dengan siapapun, telah memutuskan ikatan dengan segalanya. Telah memotong semua hubungan dengan dunia di sekelilingnya, karena telah bebas sama sekali dan menikmati kemerdekaan itu sepenuhnya.
Kehormatan memerlukan sejumlah uang yang besar untuk dibela, tetapi jumlah uang yang besar tidak dapat diperoleh tanpa kehilangan kehormatan seseorang.
Tidak ada perempuan yang menjadi penjahat, untuk menjadi penjahat hanyalah laki-laki. Ketika saya membunuh saya melakukannya dengan kebenaran bukan dengan sebilah pisau.

Seorang pelacur yang sukses lebih baik daripada seorang suci yang sesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan menghukum mereka karena tertipu, menindas mereka sampai tingkat terbawah, menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang hidup, menghantam mereka dengan penghinaan atau dengan pukulan.
Saya dapat pula mengetahui bahwa semua yang memerintah adalah laki-laki. Persamaan di antara mereka adalah kerakusan dan kepribadian yang penuh distorsi, nafsu tanpa batas mengumpul duit, mendapat seks dan kekuasaan tanpa batas. mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi di bumi, yang merampas rakyat mereka, yang bermulut besar, berkesanggupan untuk membujuk, memilih kata-kata manis, dan menembakkan panah beracun. Karena itu kebenaran tentang mereka hanya terbuka setelah mereka mati, dan akibatnya saya menemukan bahwa sejarah cenderung mengulangi dirinya dengan kekerasan kepala yang dungu.
Lelaki revolusioner yang berpegang pada prinsip sebenarnya tidak banyak berbeda dari lelaki lainnya. Mereka mempergunakan kepintarannya dengan menukar prinsip mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya sebagai seks bagi kami. Sesuatu yang disalahgunakan. Sesuatu yang dapat dijual.
Saya tahu bahwa profesiku ini diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau bentuk lain. Karena saya orang yang cerdas saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak.
Saya mengatakan bahwa kamu semua adalah penjahat, kamu semua: para bapak, paman, suami, germo, pengacara, dokter, wartawan, dan semua lelaki dari semua profesi.
Perempuan Di Titik Nol | by Nawal el-Saadawi | copyright Zed Books Ltd. 1983, London | diterjemahkan dari Women at Points Zero | diterjemahkan oleh Amir Sutaarga | penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia | pertama terbit Agustus 1989 | cetakan 13, 2017 | YOI: 1331.35.4.2017 | desain sampul Ipong Purnama Sidhi | xxiv + 176 hlm.: 11 x 17 cm | ISBN 978-602-433-438-3 | Skor: 5/5
Karawang, 020118 – Sherina Munaf – Ku Disini

#5 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s