Diary Playgirl Kambuhan #6

Diary… Aku lelah. Mataku bengkak. Buat melihat tulisanku sendiri saja rasanya susah. Oh Ry, seandainya aku bisa cerita sama kamu sedetail-detailnya apa yang baru saja terjadi. Ya Tuhan, semoga mereka mau memaafkanku…”

Buku yang kupandang sebelah mata, namun tak dinyana ternyata kisahnya lumayan OK. Dari judulnya saja sudah bikin muntah, warna kovernya pinky yang mencolok mata, teenlit adalah genre yang paling enggak banget untuk kubaca sejak dulu. Buku ini ada di dalam daftarku karena saat beli novel Dean R Koontz dapat bonus beberapa buku, ini salah satunya. Bersama beberapa buku lain yang benar-benar diluar habitat.
Tentang anak SMA yang pacaran, bukan hanya satu tapi lebih. Bukan cowok, tapi cewek. Jiah, template yang buruk. Benar-benar buruk. Duh! Dengarnya aja dah pengen muntah. Yah, cerita remaja memang standar tapi Joshua memiliki kejutan, amunisi itu disimpan dan sukses ditembakkan di jelang akhir. Tak perlu petuah panjang lebar pesan motal atau hikamh di kisah macam ini karena jelas pacaran itu sendiri adalah salah, dan ditambah selingkuh jelas dobel salah. Memang sih tak banyak hal baru, kisah cinta-cintaan remaja memang akan ada terus seperti ini dari waktu ke waktu. Akan terus diproduksi dan akan terus bisa mencipta peluang pasar. Buku macam gini juga akan tenggelam dengan sendirinya karena memang kualitas akan berbicara, yah semua orang pernah muda.
Kisahnya tentang cewek tajir, kaya dan sombong bernama Felicia Zatara Zen. Wah dari namanya saja sudah mentereng, boleh saja Penulis menulis dan memilih nama karakter unik sah sah saja. Panggilannya Felly, settingnya kini di Yogyakarta. Yah, setidaknya bukan lagi hiruk pikuk ibu kota. Sekolah naik mobil euy. Zamanku bisa naik sepeda genjot aja dah syukur sekali. Ini 2010an siswa SMA dah bisa naik roda empat. Wew…
Timelinenya dari 21 Juli sampai 1 April, ga disecutkan tahunnya, durasi ga ada setahun dan diarynya memang bertuliskan sedikit, ada yang sehalaman berisi empat-lima hari, ada juga yang agak panjang bila yang mau dicerita agak pelik mencapai selembar dalam sehari. Curhatan cewek sekolah, yang anehnya justru Penulisnya cowok. Hebatlah, eh annoy juga sih, saya saja pasti ga bisa memposisikan sebagai cewek alay yang suka selingkuh, sombong dan begitu menyebalkan. Yah, walau selalu ada sisi baiknya.
Dibuka dengan kekesalan Felly yang minta putus sama Jonathan karena jadi pacar ga peka. Sang mantan masih coba kontak dan menghubungi, tapi Felly keukeh putus. Jelang sweet seventeen 28 Agustus Felly merayakan dengan mewah, yah untuk ukuran anak sekolah bisa hura-hura di Hotel Grand Hyatt jelas orang hedon. Dari party ultah itulah, ia berkenalan dengan cowok cakep kuliah di London yang sedang berlibur bernama Reno. Seakan mencari pacar adalah segampang beli nasi dengan lauk oreg ke warteg, dari kontak-kontak iseng dan kopi darat berikutnya jadilah mereka pasangan kekasih. Hebat! Plot yang hebat, untung saya ga muntah.
Ribby adalah sahabat Reno yang mengenalkan, akhirnya jadi teman juga Felly sama Ribby karena otomatis ialah penghubung hubungan itu. pacaran jarak jauh, London cuy, saya ke Lumajang aja harus hitung budget keuangan, tabung uang berminggu-minggu, receh-receh dikumpulin, ini London tempatnya Eden Hazard main bola. Kota tersibuk sedunia, asal sebut aja nih orang. Tapi apalah, bagi orang kaya liburan mudik untuk ketemu pacar berapun biayanya dicipta ada. Pada dasarnya Felly kan ga bisa jauh, maka pacaran jarak jauh ini diuji saat ia berkenalan dengan cowok ganteng lainnya di tempat latihan jelang audisi Olimpiade. Yup, Olimpiade kelasnya bukan cerdas cermat antar sekolah kecamat. Cool! Jadikan yang tinggi sekalian menjulang ajalah ga nanggung-nanggung.
Adalah Farel Iwagami, seorang panitia, desianer poster lomba, spanduk. Seorang jago gambar, yang awalnya iseng chit chat dan tak butuh waktu lama, mereka jadian. Duh main belakang nih Felly. Kaya dan pasti cantik nih orang, pekerja sukses pada minat. Digampangkan, selalu ada jalan untuk pacaran sembunyi toh Reno ada di London. Cukup? Belum, kisah masih harus diperumit. Anak kuliah udah, desaigner udah, berikutnya adalah pemuda musisi. Wah kolektor cowok kece nih. Untungnya bukan Ariel atau Duta, kali ini drop dikit.
Dari Jonathan sang mantan yang kasih brosur kursus musik di Purwacaraka Music Course kita diperkenalkan dengan sosok Ronald. Seorang cool yang mirip Donnie Sibarani ADA Band, band favorit Felly.
“Farel SMS. Nanyain kabar aku. Reno juga kirim email. Aku kadang-kadang masih suka kok chatting sama dia walau frekuensinya jarang. Lagian dia sibuk… kalau ada Reno di sini pasti asyik banget. Ah tapi kan ada Farel. Dan ada Ronald, hahaha…”
Lihatlah kelakuan playgirl ini, sangat menggelikan, sangat ga bermutu, sangat ga jelas, sangat ga setia.
“Kujatuh cinta lagi, ‘Tuk kesekian kali, Saat pandangan kita menyatu, Menatap langit biru” – Kujatuh Cinta Lagi, Ada Band
Dan Ronald pun pada akhirnya menjadi cowok ketiga. Frekuensi ketemu dalam latihan vokal, Farel yang snob suka menyendiri dan jalannya ke toko buku dan ngomongin seni, membuat Felly butuh keceriaan maka Ronald yang bersuara merdu cukuplah menjadikan segalanya tampak sempurna. Masih mau lanjut ceritanya? Lanjut… belum muntah dan siap menghadapi segala resiko ke depan. Seperti jomblo yang takut menatap hari esok, Felly juga mulai takut memecahkan segala masalah dengan ketiga cowoknya karena ga mungkin kan poliandri. Cewek secakep apapun, laki pastinya punya harga diri.
Orang yang akhirnya tahu situasi ini adalah Ribby, teman yang memperkenalkan Reno dengan Felly. Ia menyebutnya palygirl, pas sesuai judul. Nah makin ketar-ketir nih cewek. Maju kena mundur kena. Sampai akhirnya saat Ronald akan konser ala kafe segalanya yang disusun dirubuhkan seketika. Ada apa gerangan?
Untuk sebuah kisah remaja, buku ini disusun rapi. Dibuat jengkel sekaligus penasaran, lumayan juga sih walau pada akhirnya tetap jatuh juga. Kapok? Enggaklah, saya masih penikmat segala genre. Teenlit dan horor memang bukan genreku tapi saat ada kesempatan baca, terutama free ya pasti kulahap. Diary Playgirl ada di ambang batas jelek dan bagus maka rate separuh kurasa pas. Masih bisa dinikmati, masih layaklah ditaruh di rak buku. Why I should forgive you? Because you deserve another chance. Because you are only human and human make mistake, because I care about you… Good luck Joshua!
Diary Playgirl Kambuhan | oleh Joshua Riwu Kaho | GM 312 01 09 0015 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | desain dna ilustrasi sampul Eduard Iwan Mangopang | cetakan kedua, April 2009 | 128 hlm; 20 cm | ISBN-13: 978-979-22-4503-5 | Skor 2,5/5
Karawang. 060618 – Sherina Munaf – Sing Your Mind
#6 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s