Ketika Segalanya Berantakan

Lazio was one of the most enjoyable teams to watch this season. Contains 89 goals! Wow…

Kalau jumlah gol yang jadi komparasi. Musim ini Lazio adalah Barcelona-nya Serie A, City-nya Serie A, PSG-nya Serie A, Bayern Munchen-nya Serie A. Minus gelar Liga doang. Lini depan Marchedes lini belakang Agya. Apapun yang terjadi serang serang serang, ofensif siapapun lawannya. Sayangnya mesin Agya diajak kecepatan 120 Km/jam saja sudah bikin spion kader. Sport jantung tiap pekan. Apalah daya, bek-bek kita amburadul. Duh, segalanya berantakan…

Lazio hanya butuh imbang! Main di kandang, penonton penuh. Optimis tinggi sebagai tim pencetak gol tertinggi, Immobile pun kembali setelah absen cedera. Lalu dalam tiga menit segalanya berantakan…

Sebagai Laziale saya memang tak muluk-muluk mendesak tim dalam meraup pencapaian akhir musim. Dengan tim keuangan pas-pasan, walaupun sekarang mulai sangat membaik berkat salary cap dan surplus transfer tapi tetap skuat kita ya kalah telak jika dinominalkan lawan Milan, apalagi Juventus – jangan sebut dua El Clasico. Loyalitas, dedikasi, dan doa yang khusuk tiap pekan adalah sebuah keharusan saat kamu menjadi fan sebuah tim yang bahkan untuk sekedar ingin ikut di Liga Tertinggi Eropa saja ngos-ngosan, ingat sekedar berharap ikut meramaikan, menggeser jadwal tengah pekan dari Malam Jumat ke jadwal tarung tim tim elit, belum minta membungkam Barca apalagi juara. Pun akhir musim ini, segalanya berantakan…

Dengan poin sama di ambang jalur Champions, kita tersingkir. Kita bisa saja menyalahkan wasit, menghujat tim lawan sekedar diuntungkan, bisa juga maki-maki personel yang down performe tapi tetap hasil akhirnya tak akan bersulap ke nomor empat. Bukan jumlah gol atau gap-nya yang dipakai Lega Calcio untuk merunut aturan baru 4 Besar siapa saja yang lolos ke Eropa tapi hasil head-to-head. Inter sendiri sebenarnya ga bagus-bagus amat semusim ini, terutama setelah ganti tahun. Walau beberapa pekan di puncak mereka langsung klepek-klepek setelah di depan Interisti, berkah kebangkitan Udinese dengan Masimo Oddo-nya pamer kekuatan, dan beruntun terjerebab, terjungkal, terbenam tanpa daya. Beda dengan kita yang konsisten di posisi empat besar, namun sekali rontok di pekan terakhir. Nyesek, tower rubuh seminggu. Entah kenapa aturan h-2-h yang dipakai, padahal Serie B menggunakan selisih gol. Sungguh disayangkan leg satu kita kalah sederhana dengan mereka, segalanya berantakan…

Immobile sudah tancap gas menjadi pemuncak top skorer sedari liga bergulir. Tak terkejar oleh siapapun, tak tersentuh oleh waktu berpekan-pekan. Juve boleh punya Dybala, Napoli boleh jadi moncer bersama Dries Mertens, Lupakan Dzenko yang ndobos musim ini. Inter memiliki Icardi yang membuntuti Immobile, sedang on fire juga. Apes, Immobile cedera jelang garis finish. Apes pula, Luiz Alberto menyusul. Dan saat pertandingan tinggal satu di mana Immobile lead hanya satu gol dan langsung berhadapan Icardi, startegi aneh kala menit 75 Ciro ditarik saat sudah unggul 2-1. Hanya unggul dua-satu dan Ciro sedang berlomba sepatu emas. Wasit pun bersorak dalam hati atas keputusan Inzaghi ini dan otomatis sinyal FIGC menyala, segera bereaksi atas subtitusi, hadiah pinalti buat menyamakan jumlah gol, segalanya berantakan…

Thomas Strakosha menjadi satu-satunya pemain Serie A musim ini yang bisa menjalani 38 pertandingan tanpa putus. Bayangkan kiper muda baru promosi ke senior langsung diserahi posisi penting! Kalau kalian mengira karena dia setangkas De Gea, Anda salah. Ya, sesekali memang tampil memukau tapi seringnya blunder. Ditopang bek-bek sembrono macam Wallace, Bastos, Radu dan Patric (keempatnya boleh dilepas, monggo), duh lengkap sudah. Jumlah kebobolannya sebelum pertandingan final adalah 46. Sangat kontras untuk tim yang sedang berjuang di papan atas. Gol terakhir musim ini jelas kesalahannya yang tak bereaksi saat bola lambung depan gawang, tak memotong atau setidaknya melakukan lompatan. Dia kiper Bro, bukan bek dimana tangannya bisa bergerak jauh lebih tinggi untuk menghantam bola. Gol ke 49 Serie A musim ini yang menghancurkan hati Laziale. Dengan total gol mengerikan 89, tertinggi dibanding siapapun. Lazio tersingkir berkat tiga bola mati, segalanya berantakan…

Ketika Roma sudah berhasil menghantam Barca tiga gol di Olimpico, kita masih sangat sekedar hanya ingin berjumpa. Ketika Roma sudah kebantai tujuh gol berulang kali sebagai Badut Eropa, kita sekedar tampil mbadut saja belum terwujud. Ketika Juventus sudah bolak-balik masuk final dan tak juara di Liga Champions, entah Zebra iki dikutuk apa ya? Kita sekedar menyodok posisi Liga Para Juara saja minta ampun susahnya. Ketika Milan sudah pamer honour tujuh piala tertinggi kita hanya punya piala abadi Winner cup. Ketika Immobile sampai berujar, “Saya lebih baik tampil di Liga Champions ketimbang sepatu emas.” Beliau mencipta total 41 gol dan 11 asis. Ketika Felipe Bale Anderson berujar, “Saya akan pergi jika Lazio gagal tampil di Liga Champions.” Beliau mencipta 8 gol dan 11 asis. Ketika Luiz Alberto berujar, “Sebuah kehormatan Barcelona tertarik kepadaku dan akan sangat mempesona tampil di Liga Champions.” Beliau mencipta 12 gol dan 21 asis. Ketika itu pula Sergej Milinkovic-Savic dihajar isu transfer paling panas musim panas ini. Beliau mencipta 14 gol dan 9 asis. Dengan banderol ‘hanya’ 150 juta Euro, setara satu setengah trilyun Rupiah. Ga ada setengahnya harga Neymar yang overated itu. Angka yang termasuk murah untuk talenta luar biasa, usia muda usia emas 23 tahun. Sekarang pertanyaannya empat bintang HEBAT dan megah ini apakah masih mau berbaju Lazio musim depan untuk kembali tampil di Liga Sparing? Liga buruk sekedar latihan karena bahkan para buangan Champions saja jadi seakan raksasa tertawa ngakak di hadapan kurcaci. Atletico, MU, Sevilla sejatinya para pupuk bawang UCL yang kena reject. Duh… segalanya berantakan…

Ya Allah apa salah kami, apa dosa Laziale untuk sekedar melihat logo Elang Biru Langit sejajar logo bintang bintang perak berjingle ikonik ‘champioooonn…. jrreng jreng jreng….’ gitu aja bertahun-tahun ga kesampaian. Entah siapa yang paling dikutuk laga pekan ke 38 ini, terpeleset di pekan krusial itu sakit. Makan ga enak, kerja ga nyaman, tidur ga pules. Cuma gajian tanggal 25 ini yang bisa membangkitkan semangatku. Tapi drop lagi saat tahu siapa yang dipercaya orang-orang di balik Bumi Manusia. Duh, segalanya berantakan…

Satu paragraf ini saya dedikasikan kepada Stefan De Vrij. Yang mau muntah silakan, yang mau misuh juga monggo, yang tetap kalem biasa saja juga persilakan. Saya Laziale Independen yang terikat erat nama besar Lazio era 1990an, pemain besar datang dan pergi. Pemain semenjana datang dan menghilang. Pemain ga jelas sudah banyak kita kenal berbaju Biru di ibukota Italia. Nama-namanya akan panjang, sepanjang tol Cipali, yang serta merta membuat kerut fan City bertanya-tanya ini daftar pemain bola di salah satu tim Lega Calcio apa pemain bola timnas Kepulauan Faroe yang bahkan main bola sekedar hobi buruh tani yang diangkut ke lapangan bola saat istirahat makan siang. Dan jelas, De Vrij masuk golongan orang-orang kualifikasi pertama. Jadi cerita runut singkatnya seperti ini. Sejatinya Stefan bukanlah pilihan utama tahun 2014. Dia dibidik Tare berkat kegagalan mendatangkan target utama bek (alm) Astori yang malah berlabuh ke tetangga. Lazio kala itu sebelum Piala Dunia hanya bersaing sama tim-tim lemah, yang tak degradasi saja sudah syukur. Stefan sudah dihubungkan sebelum kejuaraaan yang mencatat Brazil menuai malu sekali. Stefan tampil mempesona sepanjang perhelatan, dan disebut bek terbaik turnamen. Seusainya barulah tim-tim elit melakuakn penawarannya, MU yang sedang kalang kabur berkat performa amburadul Moyes pun kalah saing sama Lazio dengan alasan yang sangat menyentuh hati fan sejati, “Lazio adalah tim yang percaya kemampuan saya saat (sedari) kejuaraan belum dimulai, maka saat bisa membuktikan maka saya tentunya menuju ke sana. Saya hanya akan bermain untuk tim yang mempercayai kemampuan saya.” Nah! Di bandara Fiumicino, Stefan disambut Laziale bak seorang bintang rock sedang naik daun, meriah dan akan membuat fan MU kaget, ‘itu nyambut pemain bola apa menyambut kedatangan Paus Franciscus?’ Sesuatu yang wajar, Laziale sudah lama tak bisa mendatangkan pemain bintang yang benar-benar sudah jadi di usia emas. Saya sendiri juga euforia bahagia, seakan lupa sejarah pahit bersama Kompeni. Musim pertama berjalan bagus, Pioli yang dikasih skuat keren ini memang gagal di kualifikasi Champions, dan tumbang di final Copa. Kontribusi Stefan jelas besar untuk pencapaian perdana ini menyumbang 30 laga Serie A. Musim kedua Pioli malah mendatangkan bek jagal Mauricio yang tiap lihat bola masuk kotak pinalti seakan melotot papah pisang yang harus ditebas, ‘lesh lesh lesh…’. Kocar-kacir menuju musim terakhir Klose. Stefan De Vrij lebih banyak murung di bangku cadangan, dirawat, disembuhkan, dan dipuk-puk agar kembali mencapai penampilan terbaik. Bayangkan semusim hanya tampil dua kali, dan tertatih di akhir kompetisi! Ini yang kau beri balasan kompeni! Hiks. Musim ketiganya berjalan lebih hebat lagi menjalani gol perdananya di liga pada 11 September 2016 kala bertandang bersua Chievo Verona, Inzaghi menjalani musim penuh pertamanya dan mencapai final Copa jelas bukanlah sebuah kebetulan. Walau kalah, beliau berhasil membalas di awal musim ini dengan menyabet piala Super Copa dengan gol istimewa Murgia. Stefan menjadi bek tengah tak terganti musim ini dengan 36 penampilan dan enam gol. Di musim terakhirnya ini Stefan terasa diistimewa. Saat pemain bintang banyak yang menolak perpanjangan ditahan dalam kulkas, diparkir di bangku cadangan, Keita Balde jadi korban keganasan kebijakan ini setelah tak dimainkan di final yang akhirnya cabut ke Perancis, Stefan ajaibnya terus dipercaya main. Sepanjang musim panas sampai akhir tahun, Tare sampai gatal karena negosiasi draft kontrak gagal tergores pena. Maka saat jendela transfer Januari 2018 ditutup, maka berakhir pula segala segala kata ‘andai.. andai… andai Stefan De Vrij dibekukan’ dia bebas memilih klub, free! Yang secara resmi diumumkan Igli Tare bulan Maret 2018. Gilax, langka sekali Lotito Crab melakukan blunder duit sedahsyat ini. Liverpool, MU, Madrid dan tentu saja Inter Milan menggoda. Sungguh biadab, saat pertandingan jelang akhir muncullah pernyataan yang menyakitkan bahwa De Vrij sudah dideposit ke Meazza! Wow, twist yang membuat Nolan saja kejang-kejang. Kalau orang normal jelas, dia diparkir karena akan terjadi konflik batin, perang malaikat dan setan di ubun De Vrij. Namun Inzaghi memang tak normal, bahkan seusai laga dia berujar kalau ada laga rematch terjadi – waktu bisa diputar lagi bak kalung Time Turner-nya Hermione Granger di seri ketiga Potter, dia akan pasang dia starter lagi. Mungkin setelah diputer sepuluh kali dan masih kalah, Inzaghi tetap saja memasang De Vrij saking menaruh cinta. Sebegitu percayanya kepada pemuda yang pernah main ke Indonesia setengah tahun lalu ini? Kepercayaan itu ditertawakan Interisti dengan tekel ga perlunya ke Icardi yang diving. Satu terjangan untuk gaji talangan 4 juta Euro menghasil dua kerugian besar tercipta. Istilah ekonominya Deadweight Loss dimana modal lebih besar dari yang dihasilkan. Pinalti untuk gol penyama skor sekaligus penyama top skorer dan drama ala Raam Punjabi yang disutradarai Paolo Tagliavento. Ketika menit 84 Pangeran Pupuk Bawang Nani masuk, Stefan De Vrij ditarik, berakhir pula cerita kompeni ini di tanah Olimpico. Enyahlah! Empat tahun dipuja puji endingnya tak khosnul khotimah. Segalanya berantakan…

Saya adalah Laziale, entah kalian mau menyebutnya Laziale apa. Member Karawang ga punya, member Cikarang sudah alumni, member Lazio Indonesia mungkin sudah kadaluarsa. Saya Laziale yang terdaftar di Italia sejak 2010. Namun bukan itu esensinya, saya penikmat Lazio sebagus dan seburuk apapun bentuknya, siapapun pemainnya. Saya sudah men’syahadat’kan istri yang saat masih cantik dan langsing seorang Romanisti pemuja Montella. Saya selalu menanamkan ke putriku Hermione untuk teriak ‘Forza Lazio’ sedini mungkin, sesering mungkin. Suatu malam saat saya beranjak akan keluar rumah dia bertanya, ‘Ayah mau kemana?’ saya jawab, ‘Mau menonton para bintang berlaga, mau mendukung Lazio Sayang’ sambil kutunjuk dada berbordir Elang Biru. Dan dia reflek membalas berujar, ‘Forza Lazio.’ Untukku, untukmu Lazioku tercinta, untuk kalian semua yang setia mendukung tim kesayangan selamanya. #LazioTiAmo

Karawang, 23-250518 – Space Girl – Viva Forever

Hei kalian semua yang tertawa terbahak-bahak kala akhir, kita punya piala musim ini Super Coppa, kemang kalian punya apa? Selama sepuluh tahun ini kita punya empat piala, emang kalian punya apa? Avanti Lazio!