Black Panther: Wakanda Forever

King T’Chaka: “The world is changing. Soon there will only be the conquered and the conquerors. You are a good man, with a goes heart. And its’ hard for a good man to be king.”

Dalam seminggu ini euforia di segala lini sosmed, akhirnya saya berhasil sempatkan waktu nonton di Selasa sore yang gerimis. Dengan bekal kabar bahwa film ini mencetak rekor opening week terbesar kelima, segala bocoran wow nya. ‘Eh filmnya mirip Prince Caspian lho.’, ‘Ini kok jadinya Lion King versi live action ya?’, ‘Wakanda Forever!!! Jelas itu mirip teriakan ‘Narnia Forever’, ‘For Aslan, For Narnia’ dst. Pas setengah jam sebelum mulai, saya sempatkan baca bab-bab akhir Kealpaan-nya Milan Kundera. Novel nostalgia, kerinduan akan kampung halaman. Akan sebuah arti kehadiran dengan orang terkasih.

Pembukanya adalah prolog dialog tentang sebuah asteroid berkekuatan dahsyat metal vebranium dahulu kala ada lima Warga Afrika yang memperebutkannya, empat diantaranya bersatu dan membentuk Wakanda. Benda itu memberikan banyak dampak, salah satunya Wakanda jadi daerah maju secara teknologi. Tapi banyak pertempuran dan kepentingan membuatnya mengisolasi diri. Lalu setting tercipta jauh ke tahun 1992 di Oakland, California di mana ada warga Wakanda ke Amerika yang melakukan kejahatan terkait pencurian penjualan vibranium, N’Jabu ditangkap dan akan diadili, tapi sebuah tragedi terjadi – apa itu akan diungkap di akhir kisah. Dengan tatapan bocah-bocah main basket ke angkasa, cerita Black Panther sesungguhnya dimulai. ‘Its a Bugatti Spaceship’. Pembuka ala Marvel berunculan di layar, panel-panel komik para superhero.

Present day adalah sambungan dari pembuka kisah Civil War, raja Wakanda T’Chaka (John Kani) tewas dalam serangan teroris, tampuk pimpinan kosong. T’Challa (Chadwick Boseman) didapuk naik, tapi sesuai tradisi. Untuk jadi raja ada pengesahan dengan memberi kesempatan bagi para penantang, saat itulah salah satu kepala suku mengajukan diri. Pertarungan one-on-one disajikan dengan gaya keren – relevan dengan kejantanan. Bagaimana pertarungan fair harus dijaga. Di sebuah air mancur, disaksikan warga. Sesempit apapun kesempatan lawan, kita pasti bisa prediksi Challa bakal menang. Seolah ini hanya alur have fun. Kaget juga ada aktor besar Forest Whitaker bermain sebagai Zuri, sebagai tetua dan pengesah kekuasaan. Sayangnya nantinya beliau mustahil melanjutkan peran dalam sekuel.

Dengan luka yang ada raja baru Wakanda itu ‘dikirim’ ke sebuah dimensi antah, sebuah set dunia antara untuk bertemu dengan almarhum ayahanda dan seluruh raja yang telah tiada. Dalam bentuk macan hitam – black panther. Adegan penuh petuah, penuh nasehat ditampilkan. Bagus. pinter. Imajinatif. “A man who has not prepared his children for his own death has failed as father.’

Sementara di Inggris sebuah pencurian seolah artefak vibranium terjadi di museum. Kiranya dipimpin oleh Klaue (Andy Serkis) Dengan gaya para perampok menyikat barang curian secara elegan. Adegan macam gini sudah sangat banyak dibuat, sering penjahatnya pura-pura sakit didorong paramedis yang menunggu di ambulance dan ternyata semua penjahat. Sudah sangat umum, sehingga jadinya biasa saja. Laiknya Joker atau Bane yang menyerahkan diri tersamar lalu booom melawan. Yah, setidaknya Killmonger (dimainakn dengan jantan oleh Michael B. Jordan) menjaga kelas karena sampai akhir ia memberi sentuhan semangat antagonis berperasaan yang luar biasa. Kasus pertama sesungguhnya film ini muncul, Klaue diburu warga Wakanda atas kejahatannya. Kita diajak ke Korea Selatan. Dalam pemburuan aksi megah bak film-film James Bond, sang villain rencananya mau transaksi, para CIA Amerika mencoba cegah, jagoan kita coba seret Klaue pulang. Bentrok kepentingan ini mengacaukan segalanya. Dengan pertarungan jalanan penuh balap, ini seperti summer movie. Action dan ledakan di mana-mana, penjahatnya gagal ditangkap, Challa kena omel warga. Agen CIA Everett K. Ross (Martin Freeman) terluka dan dibawa ke Wakanda untuk diobati. Obat herbal what?!

Sementara diluarduga Klaue malah dibunuh oleh Killmonger. Penjahat utama kisah ini ternyata adalah warga Wakanda jua yang dengan kantong berisi mayat Klaue membawanya ke Wakanda. Bertemu dengan W’Kabi (ih Daniel Kaluuya – kamu ngeselin banget di sini) dan mengklaim hak raja. Karena ia punya garis keturunan, ia adalah orang yang terbuang. Taaa-daaa…. Ia adalah anak kecil yang ada di adegan pembuka. Maka saat rapat sambil ngopi, ia meminta pertarungan one-on-one.Hey auntie…”

Permintaan itu dipenuhi, pertarungan tersaji. Kini lebih seru dan menegangkan, dan saya menebak jagoan keok terbukti. Hero falls. Sayangnya, harapan Challa tewas terpenggal gagal (haha… imposible jagoan ini tewas lha di Civil War dan akhirnya Infinity muncul kok). Karena kita tahu, sang Black Panther sesungguhnya ya dia, dan seperti di Civil War ia punya andil jadi kalau Challa tewas maka Invinity War ya wassalam. Raja dilempar dalam debur air terjun. Di sini sekalipun keadaan genting, raja oleh sang kekasih dan penjaga dibilang tewas, saya tahu itu tak mungkin. Civil War sudah memberi bukti siapa sang Kucing Hitam. Yang jelas bukan Killmonger ‘kan? “I’ve waited my whole life for this. The world’s going to start over. I am burn it all!

Killmonger sebagai raja baru memerintahkan membakar segala obat herbal heart-shaped setelah dengan gaya bertemu almarhum ayahnya. Menanyakan akar masalah masa lalu, dan kekecewaan itu disajikan (mencoba) terlihat sangar. ‘People die every day. That’s just part of life around here.’ Karena di sini Killmonger adalah antagonis maka ia sebagai raja baru langsung memerintahkan invasi ke dunia luar. Pokoknya dibaut jahat, ambisius dan tak ada logika. Mengerahkan armada untuk menyerang keluar Wakanda. Bak sebuah episode perebutan takhta dalam serial A Game of Throne semua serba cepat dan kejam. Dan sangat ambisius. Dan seperti yang kita duga, raja selamat. Recover instan heart-shaped udah diselamatkan sebagian, lalu menyiapkan serangan balik. Dalam adegan dua black panther kisah ini menemui epic ending. Seru, tegang dan amburadul!

Filmnya memang bagus, tapi tak original. Banyak hal keren di kisah lain, dicomot, dimodifikasi lalu dibentuk lagi seakan perubahan panel komik ke layar lebar adalah murni aplikasi penggeseran. Padahal kisah utama Black Panther bukan barang baru. Apalagi banyak adegan ngantuk, hype itu berlebihan. Bagus namun tak istimewa. Film ini dibintangi Lupita Nyong’o sebagai Nakia, kekasih sang jagoan. Perannya ga signifikan. Mau diperankan Jenifer Lopez atau Kiki Fatmala tak terlalu berpengaruh. “I would make a great queen, because I am so stubborn.” Justru peran Shuri (Letitia Wright) yang membantu menyiapkan segala peralatan dan kecanggihan Wakanda yang berhasil mencuri hati. Seolah ia adalah Iron (wo)Man versi Afrika. Canggih dan sangat membantu. “Much more for you to learn.” Lalu sang panglima perang Okoye (Danai Gurira) juga menonjol, sangat pas dan benar-benar efisien membuat laga dan drama perang menjadi sangat hidup. Kegamangannya akan membantu sang raja yang terjatuh atau mengabdi pada raja baru yang sah tampak sungguh natural. Seakan ia seorang Winterfall yang bingung mau dukung Raja Robert kesruduk babi atau ikut dalam pertaruhan perebutan Takhta. “I am loyal to that throne, no matter who sits on it.”

Jangan lupakan juga Stan Lee, cameo beliau di setiap film Marvel patut diacungi jempol. Maestro ini muncul di sela-sela judi yang haus dan sebenarnya kalau kita tak tahu siapa beliau akan tampak annoying. “You know what? I am just going to take these chips and set them over here.

Kesuksesan komersial film ini diluarduga, banyak mematahkan rekor dan melaju tak terkendali karena tayang di bioskop lama. Di Karawang bahkan tembus dua bulan! Tayang sejak Februari dan baru turun bulan lalu jelang Infinity. Gilax! Memang ini seakan adalah selebrasi kaum kulit hitam, acuan pahlawan mereka yang punya hajat di bioskop, borong tiket, nonton berkali-kali. Luar biasa, sungguh rekor box office yang sangat mengejutkan.

ACSnya jelas menjadi jembatan menuju Infinity karena Shuri bertemu Bucky Barnes. Aksi sang Black Panther yang akan membantu dunia untuk kemajuan teknologi padahal dari warga petani, senyumin aja. ‘Its a third world country. Textiles, shepherds, cool outfits.’ Dan kalimat akhir yang sangat jelas: ‘Black Panther will return in Infinity War’ dan seperti yang kita lihat saat ini, Wakanda jadi ajang perang yang menggelegarkan Thanos.

Black Panther 2 dalam pengembangan, Marvel semakin hari semakin menggila, seakan teriakan Okoye ke telinga fan DC mengencang setiap menitnya: Wakanda Forever!

Glory for Hanuman.’

Black Panther | Year 2018 | Directed by Ryan Coogler | Screenplay Ryan Coogler | Cast Chadwick Boseman, Michael B. Jordan, Lupita Nyong’o, Danai Gurira, Martin Freeman, Daniel Kaluuya, Letitia Wright, Forest Whitaker, Andy Serkis, John Kani | Skor: 4/5

Karawang, 2602 – 2203 – 1505 2018 – Sherina Munaf – Simfoni Hitam

Ditulis pada 26 Februari, saya hold karena kejar Oscar. Dan baru saya lanjutkan, edit Maret, terhenti lagi. Dan saya lanjutkan bulan Mei ini.

Iklan