Trilogi Insiden #3 Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara – Seno Gumira Ajidarma

Trilogi Insiden #3 Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara – Seno Gumira Ajidarma

Voltaire: “Kebebasan Tuan untuk menyatakan pendapat saya bela sampai mati, asal pendapat Tuan tidak berbeda dengan pendapat saya.”

Buku terakhir dalam bundel. Ini mungkin justru yang terbaik. Tentang proses penulisan kisah-kisah. Saya menyukai proses kreatifnya, saya mencintai seluk beluk bagaimana penulisan dari ide yang mentah dituangkan ke dalam tulisan, diproses ke editor hingga sampailah ke pembaca. Memang lebih banyak membahas proses mencipta dua buku sebelumnya: Saksi Mata dan Jazz tapi beberapa adalah proses mencipta cerita karya bung Seno yang lain. Sungguh sangat bervitamin bagiku yang masih banyak perlu belajar menulis. Bagaimana cara bung Seno mengakali agar tulisannya lolos ke media massa di era Orde Baru, menyelipkan kisah-kisah insiden itu tanpa menyebut secara terbuka itu adalah tragedi 12 November 1991. Banyak hal dirasakan, bermula dari beliau dan dua temannya dicopot dari Jakarta Jakarta tahun 1992 gara-gara tulisan mereka yang meloloskan detail kejadian itu, dikutip beberapa media international, drama detik-detiknya sehingga penguasa marah. Jadi tahu sensor di era itu sungguh mengerikan. Kebebasan dikekang tanpa kompromi. “Kebebasan Pers” adalah kamuflase, sesuatu yang sangat mahal.

Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, tapi kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku sastra bisa dibredel, tapi kebenaran dan kesustraan menyau bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi. Itu adalah paragraf pembuka yang sangat menghentak. Langsung ke intinya.

Bab tentang empat cerpen itu bagiku sangat bermanfaat bagi Penulis untuk mengubah ide menjadi benar-benar karya. Jadi tahu bahwa Pelajaran Mengarang diinspirasi dari kisah karya Alfred Hitchcock berjudul Nona Fitch. Bagaimana aturan ATM – Amati, Tiru, Modifikasi benar-benar kental. Hebat Kang! Cerpen kedua Sepotong Senja Untuk Pacarku adalah pengalaman Seno di pantai Karangbolong. Cerpen ke 3 dan ke 4: Telinga dan Maria lebih pelik lagi. Telinga adalah efek dari sebuah laporan jurnalistik bahwa pernah ada Gubernur Timtim yang didatangi empat pemuda, dua diantaranya tak bertelinga, bagaimana bisa? Ternyata ada insiden yang absurd, ide liar itu mengantar cerita kekasih yang mendapat kiriman telinga dari dari pasangannya yang seorang tentara, dibuat komedi satir. Gaya humor yang sinis – dan kasar. Dan ternyata kekejaman tentara seperti itu pernah juga benar-benar terjadi di Perang Vietnam. Di mana kemanusiaan ditenggelamkan dalam lumpur hitam.

Sedang cerpen Maria adalah kegetiran mengharu biru, orang tua yang kehilangan anak-anaknya tanpa rimba. Saat anaknya kembali, sang ibu sudah tak mengenali karena babak belur. Sesuatu yang jelas pernah benar-benar terjadi di era Orba, penghilangan paksa, petrus, dan orang-orang hilang karena politik tangan besi. “Mempunyai anak perempuan adalah suatu berkah.” Sebuah drama ‘Mengapa Kau Culik Anak Kami.’

Berikut kutipan dua paragraf yang indah untuk dibagikan: Pilihan perlawanan saya jatuh pada hal-hal yang sensitif karena saya pikir hanya dengan cara itu saya bisa menunjukkan betapa insiden Dili bukan hanya tidak bisa dilupakan – seperti berita sepenting apapun yang akan kami lupakan ketika mendapat berita penting yang lain, dari hari ke hari – tapi bahkan saya abadikan. Karena memang di sanalah hakikat perbedaan jurnalistik dan sastra. Saya dengan sabar ingin membuat pembungkaman itu tidak berhasil. Saya melawan. Ini membuat setiap detik dari kehidupan saya menjadi jauh lebih bernilai dari sebelumnya – meski sejatinya saya berstatus penganggur. Saya ingin orang-orang tahu pasti bahwa konteks tulisan saya adalah Insiden Dili atau situasi Timor Timur. Namun bersamaan dengan itu saya juga harus menyembunyikan fakta tersebut supaya cerpen saya lolos dari self-censorship para redaktur media masaa, ke manapun cerpen tersebut saya kirimkan. Maka saya hanya menyusupkan sejumlah kata kunci untuk pembaca. Pertama, terdapat konteks pembantaian orang-orang tidak bersenjata. Kedua, terdapat nama-nama yang diwarsikan penjajah Portugal. Pembantaian menunjuk Insiden Dili, sedang nama-nama Portugis menunjuk lokasi Timor Timur. Ketiga, jika mungkin saya beri sinkronisasi waktu.

Harusnya orang-orang hebat yang sudah mencipta karya tulis membuat esai proses mereka, akan sangat banyak penggemar yang menanti cerita dibalik prosesnya. Tak banyak saya bisa menikmati hal semacam ini. Haruki Murakami punya semacam memoar ‘What I Talk About When I Talk About Running’, lebih ke kegemarannya akan berlari tapi itu tips yang sangat amat berguna bagi kutu buku untuk menjaga kebugarannya. Sejak baca itu saya lari sore rutin seminggu tiga kali. Bagaimana Murakami mencipta seni tulis dan tetap fit, ternyata beliau suka mengikuti lomba ke berbagai negara. Bukan hanya lari, tapi triaton – lari, sepeda, renang. Nah detail macam gini jelas sangat berpengaruh.

Dalam Ketika Jurnalisme, kita jadi tahu proses kreatif itu sendiri adalah seni. Kita jadi tahu bahwa Bung Seno belum pernah ke Timtim ketika 12 cerita Saksi Mata terbit, tapi berkesempatan ke sana juga akhirnya sehingga kumpulan cerpen ditambah menjadi 18, kelimanya ditulis melengkapi. Hebat ya. kita juga tahu, bahwa sung Seno pernah mengirim cerita di sebuah media ditolak gara-gara menyinggung Timtim. Kota Ningi adalah bahasa gali untuk Dili, seperti Dagadu untuk Matamu, seni bahasa gali-nya Yogya. Ketika G30S dan segala kejadian sesudahnya berlangsung, saya masih terlalu kecil untuk berfikir kritis. Jadi bagi saya pembasmian gali-gali itu merupakan ‘peristiwa besar’ saya yang pertama. Apa boleh buat saya memang mempunyai idealisasi sendiri tentang para gali. Well, saya juga akan bilang bahwa Insiden Dili saya lewati ketika saya masih kecil sehingga saya tak mengikutinya, peristiwa besar bagiku ya pas pecahnya Reformasi, tapi itupun saya masih sekolah masih belum bisa kritis. Saya benar-benar tahu kerasnya hidup ya pas merantau tahun 2004an, era carut marut kebebasan pers yang kebablasan. Informasi melimpah, kualitas meh. Era internet yang butuh update apapun tinggal klik. Luar biasa, pengekangan pers padahal seakan baru kemarin. Dua setengah dekade yang lalu! “Depan tidur, belakang tembak!”

Dalam Cerita Pendek tentang Sebuah Proses bung Seno mencerita proses bagaimana ide diolah. Dengan setting Singapura, beliau menginap di sebuah hotel dalam keseharian menjadi juri festival film. Di lift hotel itu berpapasan dengan dua orang keling, si Tinggi dan si Pendek. Mereka tampak akrab, sepasang, tapi suatu ketika si Pendek menjerit histeris karena semua barangnya digondol kabur si Tinggi. Begitu teganya, karena pengamatan dari orang awam kita tak tahu motif kejahatan, kita hanya tahu si Pendek kini tak punya apapun termasuk surat penting. Nah, seusai dari Singapura bung Seno ke Malaysia melanjutkan aktivitas. Tak dinyana, papasan dengan si Tinggi di sebuah stasiun kereta api. Apa yang harus dilakukannya? Lapor polisi, menangkapnya langsung bak hero, mengikutinya seolah mata-mata, atau diam. Itu adalah pengalaman pribadi yang bisa dioleh menjadi cerita. Banyak sekali hal yang bisa dijabarkan. Sungguh cerita akan sangat nyata dan bagus bila tak sekedar teori. Amati kejadian sekitar, jabarkan, kembangkan imaji dan konflik. Hhmm… keren keren. Jadi pengamatan ini sudahkah jadi cerita? Belum, bung Seno hanya mengajari kita dalam mencipta ide.

Buku ini saya selesaikan baca pas libur di hari Kartini, pas paginya saya lagi dalam perjalanan menjemput istri saya melihat tukang koran keliling. Langsung saya beli Kompas, ini adalah koran cetak Kompas pertama yang kubeli setelah empat tahun! padahal dulu saya langganan Sabtu-Minggu. Kalau Bung Seno membeli banyak koran Minggu saya langganan du hari weekend. Rasanya ada rindu, aroma kertas koran yang dibaca sekali duduk. Kenapa saya tiba-tiba menginginkannya? Karena di bagian akhir bung Seno menuliskan: “…Pers Indonesia yang berhasil adalah pers yang berhasil survive dalam kemelut ekonomi dan politik. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa narasi besar jurnalisme Indonesia ditentukan oleh bisnis. Segala inovasi pemberitaan dipertaruhkan, bukan terutama demi kualitas jurnalistik, tetapi untuk membuka peluang bisnis – dan sebagai usaha bisnis, perusahaan pers ternyata tidak bisa melepas diri dari kepentingan-kepentingan politik, tapi dengan sikap yang sama sekali tidak tulus.” Dan kita tahu koran paling tua dan berhasil bertahan dari banyak gempuran waktu hanya Kompas. Kini mereka mengklaim, senja kala mengingat gempuran informasi dalam jaringan. Sampai kapan mereka akan bertahan akan sangat seru dinanti. Terima kasih Kompas, saya termasuk pembaca rutinmu – dulu.

Kebetulan sekali, bukunya Pram: ‘Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer’ diulas di bagian akhir buku ini ‘Sebuah Cerita tentang Berita-Berita Tak Penting’ dan saya baru saja membuka segel buku itu untuk jadi buku berikutnya saya baca. Wow.

Buku Trilogi Insiden ini adalah buku milik Perpustakaan Bus Taka Taman Kota Galuh Mas, Karawang. Hari ini saya kembalikan. Hiks, suatu hari saya akan punya sendiri. Jelas ini adalah salah satu buku paling berpengaruh, buku bagus, keren dan sangat layak dikoleksi. Berkat buku ini saya akan buru buku-buku lain karya Bung Seno.

Sah saya jadi fan bung Seno. Love you full! Mungkinkah suatu hari beliau akan masuk nominasi Nobel Sastra? Aaaaamiiiiiiin…..

Trilogi Insiden | #3 Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara – Kumpulan Esai | oleh Seno Gumira Ajidarma | cetakan pertama, April 2010 | perancang sampul Windu Budi | ilustrasi dalam Saksi Mata Agung Kurniawan | pemeriksa aksara Prita & Ratri | penata aksara gores_pena | Penerbit Bentang | vi + 458 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-979-1227-98-8 | Skor: 5/5

Karawang, 220418 – Sherina Munaf – Pelangi Di Tengah Bintang

Iklan