Trilogi Insiden #2 Jazz, Parfum & Insiden – Seno Gumira Ajidarma

Aku tak pernah ingin menyerah. Tapi masihkah berarti kalau kalah? | Waktu menyiram tubuh. Darah pun menjadi putih | Aku tahu saat untuk pasrah, meski jauh di dalam tanah, kulambaikan dirimu dengan pedih. –

Kulambai Dirimu, 14 Januari 1996

Ketika matahari tenggelam, kami berciuman…”

Novel yang aneh. Seperi judulnya yang terbagi dalam tiga bagian kata yang berbeda, kisahnya adalah tiga hal berbeda namun terkait. Bagian jazz adalah bagian yang rumit karena saya memang tak akrab musik jazz. Hanya musik Sherina Munaf yang benar-benar kutahu, kutelanjangi. Selain itu hanya musik yang isi sekedar bunyi teman aktivitas. Sejarah, kenikmatan telinga, dan bagaimana cara menjabarkan alunan dengan cara yang seakan jazz adalah musik surga. Kedua parfum pun jua rumit. Histori penciptaan pewangi yang sama tak akrab bagiku yang jarang sekali mengenakannya seusai mandi. Benar-benar belajar seluk beluk ramuan kimia memusing, sejatinya selingan karena kita diajak mengenal orang-orang dekat si Aku yang memakai parfum tersebut. Bagian insiden, ini menyambung dengan tema utama buku ini. Peristiwa 1991 di Timor Timur itu diceritakan dengan sudut pandang seorang analis laporan, seakan laporan itu nyata apa adanya bahkan sebagian dituturkan dengan English agar terasa benar adanya. Tiga hal yang tak familiar, tiga cerita yang sejatinya bukan aku banget, eh ternyata bagus. Memang, cara bercerita itu hal yang krusial. Senja jadi kata yang dicintai Bung Seno Gumira Ajidarma, maka tak heran dijadikan pondasi, dijadikan pengantar dalam prolog. Bagaimana keadaan di sore yang megah dan menakjubkan itu menjadi seolah sebuah potret indah yang tak mau lepas.

Cahaya senja yang keemasan jatuh di atas kertas. Aku sedang menulis surat – isinya akan kuceritakan nanti…’ Kalimat pembuka yang memastikan bahwa cerita ini akan naratif seakan ada orang mendongeng kepada pembaca.

Bagian Pertama adalah pekerja kantor yang bergadang membaca laporan insiden, ditemani kopi dan walkman (dengan kaset pita) berisi lagu-lagu jazz. Laporan itu dicerna di lantai 20 sebuah gedung, dengan dinding kaca sehingga setiap senja tiba ia dengan tepekur bisa menikmati detik-detik indah pergantian alam. Laporan kekerasan yang keras dan berdarah. Sebagian pakai English, sebagian bikin mual. “ … Kemudian kami ditendang, kepala saya dipukul dengan popor senjata sampai bocor dan keluar darah.”

Kamu sedang menatap senja ya?” Tidak semua orang memperhatikan senja, kebanyakan.

Laporan yang dibaca variatif. Dari wartawati, korban, saksi sampai laporan international. Tentang politik dan kebijakan. Tentang antisipasi dan saling klaim tak bersalah. Di sini Aku memang ditempatkan pada pengamat, pendongeng, dan tak terlalu memunculkan banyak analisis walau beberapa bagian dilakukan selfcensorship. Endingnya diluarduga. Ada Sukap the legend. Wow!

Bagian kedua adalah cerita tentang jazz dan sejarahnya. Termasuk sejarah si Aku yang pertama mencintainya, menelusuri sertamerta mengagungkannya. Teoritis sih, tapi disusun dengan nyaman untuk dinikmati. Salah satu judul lagu So This is Jazz, Huh? Dalam Volume 1 dari musisi Wynton Marsalis, diceritakan sejarahnya. Judul itu selalu diucapkan mereka yang tak mengerti jazz. Namun, sekali mereka menemukan, well, mereka tidak akan pernah melupakannya. Tidak penting jazz itu apa yang penting kita dengar saja musiknya. Rasa yang ditularkan, emosi yang diteriakkan, jeritan yang dilengkingkannya. Raungan gemuruh yang memuntahkan kepahitan.

Jazz isn’t music. It’s language. Communicatiin.” – Enos Payne.

Jazz is a feeling, more than anything else.” – Mark C. Gridley.

“Nothing but bop? Stupid.” – Miles Davis.

Music kept you rolling.” – Louis Amstrong.

Music is the sign of the opressed masses. It is the heart in a heratless world.” – Bill Graham.

I say that was a noble sound because we are told today that this great sound is dead.” – Stanley Crouch

Tentu saja setiap jenis musik, bahkan jenis kesenian bisa dinyatakan hakikatnya sebagai pembebasan jiwa. Namun dalam jazz pembebasan itu hadir secara konkret dalam satu ruang bernama improviasasi. Jazz adalah percakapan akrab yang terjadi dengan seketika, spontan dan tanpa rencana. Apakah musik seperti jazz? Ada sebuah buku terbitan tahun 1955 tentang jazz berjudul ‘Hear Me Talkin’ To Ya’ karya Stan Kenton. Keinginan menyampaikan sesuatu yang begitu pelik dan rumit karena hanya bisa terwakili oleh susunan bunyi yang sangat pribadi dan betapa indah bila kita bisa mendengarkannya. Bukan dalam pengertian mendengarkan bunyi, bukan sekedar mendnegar suara, melainkan mendengarkan perasaan. Jazz, aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Apakah aku harus menjadi doktor untuk memahaminya? Tidakkah cukup mendengarkan baik-baik saja? Tentu saja selalu jawaban teknis, dan para musisi jazz memang jarang kita dengar ungkapan yang filosofis, mereka mengekspresikan diri dengan bermain jazz, berimprovisasi, mencari wilayah-wilayah penjelajahan baru, dan hanya sound yang mereka hasilkan itulah cara yang tepat untuk mengungkapkan diri.

Bagian ketiga adalah masalah parfum yang disemprutkan ke beberapa karakter yang ditemui Aku dan menelusuri jejak panjang historinya. Wanita berinisial Burung Malam. Tak menyukai jazz tapi musik rock. Menyebut dirinya ‘Rock n roll people’. Agak gila.

Saya hanya tahu Calvin Klein itu merk seprai kasur yang kupasang di kamar. Atau beberapa kali lihat di pasar jenis celana dalam. Ternyata beliau adalah salah satu pembuat parfum. Cerita mencipta parfum Obsession, adalah ia jatuh hati sama wanita sampai termehek-mehek yang suatu saat jadi istrinya. Wanita itu jadi obsesinya. Perkenalan dengan sang wanita dicerita dengan lucux. Telepon salah sambung dan digodain, “Kenapa tidak mencari saya saja…” Suaranya. Suaranya itu. Well, well, well. Suara yang sangat erotik. Saat akhirnya kopi darat, sungguh wanita yang unik. Rok pendek, rambut gaya medusa, sepatu gaya tentara, kaos ketat. Ia tidak cantik, tapi tidak jelek juga. Dan parfum yang dipakainya adalah Obsession…

Calvin Klein mencipta parfum Eternity untuk istri keduanya yang 14 tahun lebih muda. Tentang keabadian. “Kupikir ini adalah cincin keabadian.” Maka barangkali maunya, aroma eternity berhubungan dengan cinta yang agung, cinta yang setia, abadi dan selamanya.

Waktu mengubah seseorang barangkali, tapi cintaku tetap.

Tahun 1991 Calvin Klein mencipta parfum bernama Escape yang lebih keartian ‘pergi jauh dari semuanya’, secara harfiah berarti bertema liburan tapi ini juga bisa sebuah pandangan baru Calvin akan hidup. “Anda lari, Anda pergi, tapi Anda melakukannya dengan gaya.”

Parfum berikutnya yang dibahas adalah Poison, kali ini bukan Klein tapi karya Christian Dior. “Baunya elit” Begitu banyak nama, begitu banyak wajah, berapa banyak cinta mengalir terbuang? Air mata. Air mata. Terbuat dari zat apakah dia? Apakah rumusan kimia?

Parfum kelima yang diungkit adalah L’eau d’Issey karya Issey Miyake. Wanita inilah yang mengenalkan padaku bahwa dunia itu tidak hitam, tidak putih, tapi abu-abu. “Bukankah kesetiaan adalah sesuatu yang mutlak?

Dan setelahnya adalah parfum yang beraduk banyak merk dari Vendetta dari Valentino, Opium dari Yves Saint Laurent, Narcisse dari Chloe, No 5 dari Channel, Action dari Trussardi, Montana dari Claude Montana, Giorgio dari Beverly Hills, L’Aret dari Gucci sampai Samsara dari Guerlain. “Sasa harus mulai dari nol lagi, Ma.”

Katakan kepadaku kamu mencintaiku.” | “Aku cinta padamu.” | “Katakan padaku kamu akan mengawini aku.” | “Aku tidak bisa.”

Kenapa cinta begitu sering berada di tempat yang salah? Kita tidak pernah mengerti mengapa.

Semuanya begitu saja terjadi. Lagu apa yang diciptakan Chick Corea kalau mendengar cerita ini? Aku tidak mencium parfum, aku mencium amis darah. Ini bukan lagu jazz. Tapi lagu apa pun bisa di-jazz-kan, toh? Apakah begitu penting sebuah lagu itu jazz atau bukan jazz? Ketiganya sedikit banyak bersinggungan. Aku adalah penyuka jazz, membaca laporan jurnalistik Insiden 1991 dan sang wanita adalah sosok yang menemani hari-harinya. Alurnya tak banyak gejolak karena memang digulirkan dengan tenang, setenang alunan jazz itu sendiri. Bahkan saat ada ancaman penggeledahan dan kantor itu akan digerebek, alirannya tak seganas ombak, tetap tenang dan tak emosional. Benang merahnya, apalagi kalau bukan Insiden Dili 12 November 1991. Walau tak disebutkan secara implisit, cerita memang coba diselap-selip agar lulus sensor.

Seperti kata Brian May, too much love will kill you. Wanita yang mengangankan cinta, anak dan keluarga. Aku tahu, banyak misteri yang tidak pernah terpecahkan dalam hidup ini. Barangkali sampai mati. Punya anak, kawin dan bahagia? Aku mengingat semua ini ketika semua yang akan kuceritakan telah berlalu.

Kamu indah, selalu indah.” Katakan itu pada suamiku. Wah!

Mau disebut fiksi boleh, mau dianggap fakta terserah – ini cuma sebuah roman metropolitan.

Next Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara …

Trilogi Insiden | #2 Jazz, Parfum & Insiden – Novel | oleh Seno Gumira Ajidarma | cetakan pertama, April 2010 | perancang sampul Windu Budi | ilustrasi dalam Saksi Mata Agung Kurniawan | pemeriksa aksara Prita & Ratri | penata aksara gores_pena | Penerbit Bentang | vi + 458 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-979-1227-98-8 | Skor: 4,5/5

Karawang, 210418 – Radiohead – Creep

Iklan

One thought on “Trilogi Insiden #2 Jazz, Parfum & Insiden – Seno Gumira Ajidarma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s