I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

Tonya Harding: America. They want someone to love, they want someone to hate.

Karena saya tak akrab sama olahraga skating, apalagi di Amerika sana. Drama bersaingan yang disajikan sungguh mendebarkan. Wow, ini kisah nyata. Sebuah sabotase, kecurangan dan upaya jahat untuk menjatuhkan lawan satu Negara demi sebuah medali di Olimpiade Skating. Ending-nya juga mengejutkan, bagaimana sifat kasar orang tua menurun sehingga coba dipoles sedemikian rupa menjadi anggun pun tak sesukses yang diharap maka jalan keras jua yang terpaksa diambil. Luar biasanya si Margor Robie yang biasanya tampil cantik dan seksi di sini dirubah menjadi kasar dan skeptis menghadapi hari. Namun tetap aktingnya masih di bawah McD dan Saoirseku tentunya.

Kisahnya dituturkan dengan cara yang sedikit unik. Bagaimana film biografi olahragawati es skater Tonya Harding (diperankan dengan keren oleh Margot Robie) dibuat bak sebuah wawancara diperankan aktor lalu narasi itu membawa kita mengikuti alur kehidupan. Tonya terlahir dari keluarga broken home, ayahnya kabur, hidup dengan ibunya Lavona (Allison Janney) yang keras, bekerja sebagai pelayan restoran. Tiap scene wawancara, si ibu pakai semacam selang oksigen yang menjuntai. Hobi minuman keras dan tak hentinya merokok, jelas ada masalah kesehatan, kebiasaan buruk, sifat yang menurun. Setiap sen yang dikeluarkan dihitung, mempertaruhkan segalanya demi masa depan sang buah hati. Mendaftarkan sekolah skating dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Hidup memang sebuah perjudian ‘kan? Tonya adalah anak ke-5 dari suami ke-4. Wuih… pernah punya 6 suami!

[[Based on irony free, wildly contradictory. Totally true interviews with Tonya Harding and Jeff Gillooly]]

Dengan setting utama di Portland, Oregon. Tonya begitu berbakat. Melakukan putaran yang sulit dan memukau penonton. Di rumah ia dibesarkan dengan disiplin, makian, sinisme dan keras. Bahkan dalam sebuah adegan Tonya dilempar pisau yang melukai tangan, dan hatinya! Sehingga memutuskan kabur. Hidup dan menikahi pacarnya Jeff Gilloony (Sebastian Stan), ia seorang montir yang awam olahraga yang digeluti pasangannya, tapi memberi dukungan penuh. Namun lepas dari ibunya yang keras, ternyata sang suami juga melakukan KDRT – kekerasan dalam rumah tangga. Semakinlah Tonya menampakkan sifat melawannya. Hubungan keluarga ini memang tak harmonis dalam segala segi. Sama ibunya retak, sama suami remuk. Padahal karir olahraganya menanjak. Tonya tampil bagus saat ada penonton mencehooh, ibunya kasih duit si peneriak. Jiah! Tonya makin sayang suami, dan hot setelah pertengkaran. Emang stress.

Dalam ranking tahun 1991 ia menjadi nomor satu di USA dan runner up international, posisi ketiga di Orlando. Di kejuaraan Albertvill, Perancis ia dikenang dalam gerakan sulit Triple Axel, menegangkan, berdebar. Dan gagal. Ia menempati urutan keempat. Tonya menyalahkan sepatu yang rusak dan diperbaiki bilahnya seada, tapi selalu ada kesempatan kedua dalam kompetisi bila kita terus bekerja keras. Namun tidak untuk hubungan rumah tangga. Ibunya memprediksi Tonya salah pilih suami, sang suami yang sebenarnya sayang juga akhirnya melakukan kesalahan fatal yang menjadikan hubungan di ujung jarum. Puncaknya pada tahun 1994 jelang kejuaraan international Olimpiade Winter 1994 di Lillehammer, Norwegia di mana seleksi ice skating yang panas antara Nancy Kerrigan (Caitlin Carver) dan Tonya. Sebuah konspirasi untuk mengintimidasi lawan sekaligus rekan senegara, konfrontasi itu menghasilkan sebuah kekerasan. Rencana hanya meneror justru menjadi tak terkendali saat sang bodyguard gendut yang gila Shawn Eckhardt (Paul Walter Hauser) melakukan melampaui imaji. Ngeri, wew dan jelas melukai sportivitas. Mereka menyebutkan ‘the incident’. Lalu bagaimana hasil olimpiade kejuaraan akbar itu? Sekali lagi, dalam olahraga ini, akankah ada kesempatan kedua?

Dengan segala hype yang ada, Margot memang masih dibawah McD. Sepakat. Ini adalah nominasi Oscar pertamanya, rasanya ia melakukan lonjakan karir yang bagus. I, Tonya adalah kandidat satu-satunya yang kirim kandidat best actress tapi ga masuk best picture. Bukan hanya menggambil peran gadis manis dan panas, Margot memberi bukti bahwa ia bisa mengubah image. Jelas suatu hari ia akan muncul lagi dalam daftar Oscar, dan menang! Suatu hari nanti…

Untuk Allison Janney yang menang Oscar supporting actress, saya kurang setuju. Aksi Laurie Metcalf sebagai ibu Saoirse lebih bagus dan meyakinkan. Keras itu tak perlu sampai melempar pisau, mendidik anak akan lebih mencekam dengan memberi aturan main yang diluar jangkau pikiran remaja ketimbang adegan tabok-tabokan. Sama-sama dari kelurga sederhana, sama-sama memerankan ibu yang kolot mencoba mengatur masa depan anaknya, keduanya memang layak dinominasikan, tapi tetap Laurie lebih memberi nyawa dan pas banget. Sayang sekali antipasti juri terhadap Lady Bird memberi 0 piala termasuk yang paling kurang prestise sekalipun. Hiks,…

Akhir kisah juga sadis, hukuman yang dijatuhkan pada Tonya membuatnya kecewa. Dan mengakhiri segalanya. Efek salah penanganan dan tekanan berlebih memang serem. Tonya yang berbakat sejatinya bisa jauh lebih hebat andai dalam jalur yang benar. Sayang sekali, keputusan-keputusan hidup yang mendorongnya menuju lorong hitam. Kalimat umpatan di ending “That’s the fucking truth” dirasa seperti sebuah kekesalan atas segala keputusan salah di masa lalu. Credit akhir yang memunculkan Tonya asli bermain es skating di kejuaran 1991, cukup memberi gambaran betapa hebatnya dia. Putaran sulit, bermain percaya diri, memukau penonton, berjoget penuh gaya. Luar biasa Indah. Diakhiri dengan standing applaus dan keceriaan bersahaja.

You skated like a graceless bull dyke. I was embarrassed for you. Sial!

I, Tonya | Year 2017 | Directed by Craig Gillespie | Screenplay Steve Rogers | Cast Margot Robbie, Sebastian Stan, Allison Janney, Julianne Nicholson, Paul Walter Hauser, Mckenna Grace | Skor: 4/5

Karawang, 180418 – Sherina Munaf – Sahabat Sepanjang Masa

Iklan