Trilogi Insiden #1 Saksi Mata – Seno Gumira Ajidarma

Trilogi Insiden #1 Saksi Mata – Seno Gumira Ajidarma

Saya sudah beberapa kali memegang dan menimang buku Saksi Mata, tapi beberapa kali juga gagal membawanya ke kasir. Kumpulan cerpen yang tipis sebenarnya tapi selalu terbentur skala prioritas. Maka betapa beruntungnya saya menemukannya di Perpustakaan Taman Kota Galuh Mas, Karawang, bahkan bukan hanya satu buku tapi tiga! Dalam bundel Trilogi Inside. Wow, terkadang kita memang bisa tepat memutuskan sebuah pertimbangan. Probabilitasnya kecil tapi Tuhan selalu punya cara untuk memberi opsi pas. Saya akan ulas dalam tiga bagian: kumpulan cerpen, novel dan esai.

Saksi Mata berisi 16 cerita pendek yang mayoritas adalah tragedi. Saksi Mata sendiri ternyata dulu pernah saya baca di sebuah pos daring sehingga pas baca ulang, lho kisahnya familiar. Sebagai judul utama, sudah pas dan memang yang terbaik. Beberapa yang lain juga sudah baca di media cetak, jadi nostalgia juga. Menjadi nyaman pas dibaca dalam rentetan gini. Bagus sekali ya, ingat ini pertama terbit di era Orde Baru lho. Hebat, kendel, berani! Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di atas muka bumi.

#Saksi Mata

Saksi mata datang tanpa mata. Lho.. kalimat pembuka yang nyeleneh, bagaimana bisa seorang saksi bersaksi dalam sebuah persidangan tanpa pengelihatan? Sidang dagelan itu masih bisa berjalan karena saksi masih bersedia bersaksi, masih punya mulut kok untuk mengutarkan kejadian. Sidang penuh tawa. Namun selalu ada cara jahat untuk (orang jahat mencegah) upaya membuka kebenaran. Cerita lucu? Enggaklah, tragis. “Habis, terjadinya dalam mimpi sih, Pak.”

#Telinga

Tentang Alina yang meminta cerita kekejaman. Sang juru cerita berkisah bahwa Dewi, gadis yang menerima hadiah sebuah telinga yang dikirim pacarnya yang sedang bertugas dalam pertempuran. Telinga yang dipotong itu awalnya satu, tapi tampak bagus dijadikan aksesoris dan sang pacar mengirim lagi lebih banyak. Cerita seram dengan gaya humor. “Alangkah kejamnya pacar Dewi itu.” Yah, pahlawan ataukah pecundang tergantung dari sisi mana juru cerita bertutur.

#Manuel

“Apa aku sedang mabuk? Apa aku bertampang seperti pengarang?” Manuel menenggak minuman keras dan bercerita tentang masa lalunya kepada Aku. Kisah tentang kekejaman yang terjadi, dan penindasan yang diabaikan. Dengan rokok yang menyembul, Manuel curhat. Apakah penderitaan membuat seseorang bertambah tua? Manuel yang malang, hati-hatilah dengan lawan bicaramu!

#Maria

Maria, seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya yang tak tentu rimba. Cerita orang-orang yang kehilangan anggota keluarga, anak, kakak, adik, suami, ayah. Pilu yang menyeret korban perang, penculikan, korban penghilangan. Antonio suatu ketika pulang, tapi Maria dan Evangelista tak mengenalinya karena wajahnya hancur, badannya rombeng. Tak ada klaim untuk orang gila, dan suara sepatu tentara berbaris masih terdengar.

#Salvador

Tentang pahlawan yang diklaim penguasa sebagai pembangkang, pencuri ayam yang dibunuh dan mayatnya digantung di gerbang kota sebagai peringatan. Cerpen yang bagus sekali ini, bagaimana seharusnya sebuah perjuangan dibuat dengan sarkasme dan heroine quote: mati satu tumbuh seribu. Carlos Santana menerima estafet itu. ‘Ya Tuhan, berilah mereka istirahat yang kekal, sinarilah mereka dengan cahaya abadi. Orang besar akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka.

#Rosario

Seorang dokter meminta penjelasan kepada pasien Fernando yang hasil rontgen memperlihatkan rosario dalam tubuh, yang ternyata sudah 20 bulan! “Bayonet, bayonet, bayonet!” setelah melewati lima cerpen dengan gaya seram, saya sudah mulai akrab dengan kekerasan dan kata bayonet tentu saja mengarah ke pemaksaan, mustahil Fernando memakannya seakan telur puyuh. “Kemerdekaan adalah impian terkutuk.

#Listrik

Ini cerita yang unik, tentang sejarah listrik yang dari awal mula sekali dan penggunaan temuan umat yang digunakan untuk penyiksaan. Pada tahun 1993 listrik digunakan untuk menyetrum Januario yang diinterogasi. Dulu ia punya masa depan cerah ke arah Porto FC, klub Portugal karena ia pemain bola muda berbakat. Namun keadaan memaksanya untuk memanggul tanggung jawab lebih besar, ‘Viva Forever!

#Pelajaran Sejarah

Pak guru Alfonso mengajar muridnya tentang sejarah di luar kelas, di pekuburan dan kisah-kisah masa lalu yang tak tercantum di buku. “Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama. Sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dalam ombak. Sejarah itu merayap di luar kelas.”

#Misteri Kota Ningi

Petugas sensus yang heran, bagaimana bisa sebuah kota setiap tahun angka penduduk bukannya meningkat tapi malah turun. Kota Ningi populasi manusia memang turun secara angka, namun warganya tetap menganggap mereka yang pergi tetap tinggal. Segalanya absurd karena yang duduk di meja makan dua orang, meja dan piring yang disiapkan enam. Lho?! Ini bukan kota hantu, ini kota saksi perjuangan integrasi.

#Klandestin

Kupikir, begitulah. Kupikir-pikir, musuhku adalah sistem. Cara berfikirku terlarang dan murtad. Kurang ajar! Siapakah dia yang merasa dirinya punya kekuasaan untuk mengatur cara berfikir di dalam batok kepala orang lain? sebuah kota bawah tanah dibangun, untuk sebuah pemberontakan/perjuangan. “Aku datang untuk berfikir bebas, temukan aku dengan pimpinanmu.” Aku tidak perlu menghancurkan kota, aku hanya perlu membebaskan pikiranku – dari ideologi yang paling sempurna.

#Darah Itu Merah, Jenderal

Pensiunan jenderal mengenang masa lalu yang gemilang. Menikmati hari tua dengan santai di tepi kolam renang dengan air jernih. Ia sudah lupa berapa banyak jiwa telah diterbangkannya ke langit. Aneh, cukup banyak juga darah ditumpahkan – lewat peluru, dinamit, mortir, granat, dan bom. Dalam hujan ia berenang dan sang jenderal berenang dalam lautan darah.

#Seruling Kesunyian

Dengar, dengarkan aku. Setiap malam aku bermimpi tentang jeritan itu.” Bermain seruling di atas kerbau meniupkan nada-nada merdu dalam hati yang luka. Bunyi seperti dengung mimpi abad-abad lalu dan akan datang kukira dirimu yang tersembunyi dalam debur ombak. Kau dengarkan suara tanpa bunyiitu menurut buku-buku tanpa huruf bernama kesunyian.

#Salazar

Aku yang menunggu Salazar di sebuah kafe tua, dekat hotel murah, di lorong gelkap di Barcelona. Salazar, pemuda yang melagukan apa yang dipikirkan, berkata-kata dengan jelas dan jujur tentang sikap hidupnya. Tersisih, dengan bertebaran berita-berita buruk di masa lalu.

#Junior

Apa yang kau janjikan, Gunung?” seorang anak diberi nama Junior karena ayahnya juga bernama Junior. Suster Tania berkisah tentang masa lalu yang menyedihkan dan harapan masa depan yang harus diperjuangkan. “Indah sekali, seperti bidadari, apakah semua gadis di Jakarta, seperti bidadari?

#Kepala di Pagar da Silva

Kepala yang tertancap di pagar menghadap ke pintu, matanya terbuka siap menatap siapapun yang keluar dari dalam rumah. Ini kisah menyeramkan sekali, fiksi, hikayat, horor, apalah, membayangkan kepala orang terkasih yang ditancapkan di pagar rumah adalah hantu cerita yang ngilu. Gerimis pun berhenti. Air menetes-netes dari pucuk daun pisang. Da Silva membuka pintu.

#Sebatang Pohon di Luar Desa

Pohon ini adalah saksi mata sejarah desa kita.” Pohon besar yang dijadikan acuan, temapt ngumpul, tempat teduh di luar desa itu menjadi ciri khas. “Kutunggu kau di bawha pohon.” Jadi tempat pertemuan, janji dan banyak hal terjadi. Termasuk mayat yang tergantung, tertiup angin.

Kumpulan cerita pendek yang sangat bervitamin. Sejarah kelam Timor Leste 1990an yang dikemas dengan ironi. SGA, salute!

Next: Jazz, Parfum & Insiden.

Trilogi Insiden | #1 Saksi Mata – Kumpulan Cerita Pendek | oleh Seno Gumira Ajidarma | cetakan pertama, April 2010 | perancang sampul Windu Budi | ilustrasi dalam Saksi Mata Agung Kurniawan | pemeriksa aksara Prita & Ratri | penata aksara gores_pena | Penerbit Bantang | vi + 458 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-979-1227-98-8 | Skor: 5/5

Karawang, 180418 – Sherina Munaf – Here To Stay

Iklan

One thought on “Trilogi Insiden #1 Saksi Mata – Seno Gumira Ajidarma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s