Pekan Ke 35: Torino Vs Lazio

Pekan Ke 35: Torino Vs Lazio

Prakiraan formasi lawan torino
LAZIO (3-5-1-1):
Strakosha;
Luiz Felipe, de Vrij, Radu;
Marusic, Murgia, Leiva, Milinkovic, Lulic;
Luis Alberto;
Immobile.

LBP 0-3
Immobile berpeluang jadi top skor Eropa. Seteru Salah dan Cristiano. Wah kapan lagi Lazio punya striker yang luar biasa hingga tembus Eropa gini. Saatnya terus menambah gol.

Alessandro Del Widyanto
Lazio 3-1 Torino, Immobile
Lazio masih mengejar tiket UCL. Torino siap beri perlawanan tanpa embel-embel. Immobile nyekor tanpa gembel.

Firman
Lazio 0-0 Torino
Semoga duel ini berakhir imbang agar peluang klub lain terutama Nerazzurri meraih tiket UCL tetap terbuka, masih ragu dgn kemampuan Blucherchiati d ajang Eropa

Arief
Lazio v Torino 2-0
Immobile
Inter kalah, Lazio harus menang demi posisi top 4. Rekor 21 kemenangan akan diperoleh jika menang v torino. Rekor gol 83 gol akan terus bertambah.

Agustino Calciopoli
Lazio 2-1 torino
Luiz Alberto
Indonesia tanah airku.Tanah tumpah darahku.Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.

Indah Santika
Lazio vs Torino 1-0
Immobile
Lazio ingin menang demi mengamankan tiket UCL. Immobile belum bosan bikin gol. Lazio sangat bernafsu jadi tim tertajam di serie A musim ini

Bryana Holly Prayitno
Torino 1-2 Lazio; gol Immo
Selalu follow the right. Jangan mudah tertipu dengan permulaan yang salah. Selalu ikuti kata pak ketua. Beliau tidak selalu benar tapi untuk urusan Serie A sangat bisa dipertanggungjawabkan. Di negara api apalagi, penyebutan pertama itu penting. Sekali lagi jangan mudah tertipu dan terkecoh. Selalu follow the right. Salam olahraga!

Bgs
Lazio 1 – 0 Torino
Goollll goollll gooolllll ciro immobile…… Goooolllll goooolllll goooolllll ciro immobile…. Immobile for baloon door….

DC
Torino 1-0 Lazio
Belotti
Main dikandang banteng mengamuk. Memangsa burung yg terbang rendah. Il Toro unggul tipis

Imoenk ikut kuis
Torino 2-4 lazio, Immobile
Jaktv harga mati. Pantengin malam nanti. Duel immo vs belotti. Jangan lupa kopi. Dab kwaci. Juga tahu isi.

Takdir
2-3, Immobile
Roma menang menjauh. Inter kalah menjauh. Lazio? Apapun hasilnya pekan ini mereka akan tetap tertahan di posisi empat. Gengsi yang dikejar adalah top skor Eropa, mumpung Salah tertahan nirgol, saatnya Immobile mengambil alih pimpinan.

Kirana
1-1, immobile
Kali ini laju kemenangan Lazio terhenti. Mosok arep menang terus. Tapi ga sampai kalah kok, tenang aja.

Karawang, 290418

Iklan

Trilogi Insiden #3 Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara – Seno Gumira Ajidarma

Trilogi Insiden #3 Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara – Seno Gumira Ajidarma

Voltaire: “Kebebasan Tuan untuk menyatakan pendapat saya bela sampai mati, asal pendapat Tuan tidak berbeda dengan pendapat saya.”

Buku terakhir dalam bundel. Ini mungkin justru yang terbaik. Tentang proses penulisan kisah-kisah. Saya menyukai proses kreatifnya, saya mencintai seluk beluk bagaimana penulisan dari ide yang mentah dituangkan ke dalam tulisan, diproses ke editor hingga sampailah ke pembaca. Memang lebih banyak membahas proses mencipta dua buku sebelumnya: Saksi Mata dan Jazz tapi beberapa adalah proses mencipta cerita karya bung Seno yang lain. Sungguh sangat bervitamin bagiku yang masih banyak perlu belajar menulis. Bagaimana cara bung Seno mengakali agar tulisannya lolos ke media massa di era Orde Baru, menyelipkan kisah-kisah insiden itu tanpa menyebut secara terbuka itu adalah tragedi 12 November 1991. Banyak hal dirasakan, bermula dari beliau dan dua temannya dicopot dari Jakarta Jakarta tahun 1992 gara-gara tulisan mereka yang meloloskan detail kejadian itu, dikutip beberapa media international, drama detik-detiknya sehingga penguasa marah. Jadi tahu sensor di era itu sungguh mengerikan. Kebebasan dikekang tanpa kompromi. “Kebebasan Pers” adalah kamuflase, sesuatu yang sangat mahal.

Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, tapi kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku sastra bisa dibredel, tapi kebenaran dan kesustraan menyau bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi. Itu adalah paragraf pembuka yang sangat menghentak. Langsung ke intinya.

Bab tentang empat cerpen itu bagiku sangat bermanfaat bagi Penulis untuk mengubah ide menjadi benar-benar karya. Jadi tahu bahwa Pelajaran Mengarang diinspirasi dari kisah karya Alfred Hitchcock berjudul Nona Fitch. Bagaimana aturan ATM – Amati, Tiru, Modifikasi benar-benar kental. Hebat Kang! Cerpen kedua Sepotong Senja Untuk Pacarku adalah pengalaman Seno di pantai Karangbolong. Cerpen ke 3 dan ke 4: Telinga dan Maria lebih pelik lagi. Telinga adalah efek dari sebuah laporan jurnalistik bahwa pernah ada Gubernur Timtim yang didatangi empat pemuda, dua diantaranya tak bertelinga, bagaimana bisa? Ternyata ada insiden yang absurd, ide liar itu mengantar cerita kekasih yang mendapat kiriman telinga dari dari pasangannya yang seorang tentara, dibuat komedi satir. Gaya humor yang sinis – dan kasar. Dan ternyata kekejaman tentara seperti itu pernah juga benar-benar terjadi di Perang Vietnam. Di mana kemanusiaan ditenggelamkan dalam lumpur hitam.

Sedang cerpen Maria adalah kegetiran mengharu biru, orang tua yang kehilangan anak-anaknya tanpa rimba. Saat anaknya kembali, sang ibu sudah tak mengenali karena babak belur. Sesuatu yang jelas pernah benar-benar terjadi di era Orba, penghilangan paksa, petrus, dan orang-orang hilang karena politik tangan besi. “Mempunyai anak perempuan adalah suatu berkah.” Sebuah drama ‘Mengapa Kau Culik Anak Kami.’

Berikut kutipan dua paragraf yang indah untuk dibagikan: Pilihan perlawanan saya jatuh pada hal-hal yang sensitif karena saya pikir hanya dengan cara itu saya bisa menunjukkan betapa insiden Dili bukan hanya tidak bisa dilupakan – seperti berita sepenting apapun yang akan kami lupakan ketika mendapat berita penting yang lain, dari hari ke hari – tapi bahkan saya abadikan. Karena memang di sanalah hakikat perbedaan jurnalistik dan sastra. Saya dengan sabar ingin membuat pembungkaman itu tidak berhasil. Saya melawan. Ini membuat setiap detik dari kehidupan saya menjadi jauh lebih bernilai dari sebelumnya – meski sejatinya saya berstatus penganggur. Saya ingin orang-orang tahu pasti bahwa konteks tulisan saya adalah Insiden Dili atau situasi Timor Timur. Namun bersamaan dengan itu saya juga harus menyembunyikan fakta tersebut supaya cerpen saya lolos dari self-censorship para redaktur media masaa, ke manapun cerpen tersebut saya kirimkan. Maka saya hanya menyusupkan sejumlah kata kunci untuk pembaca. Pertama, terdapat konteks pembantaian orang-orang tidak bersenjata. Kedua, terdapat nama-nama yang diwarsikan penjajah Portugal. Pembantaian menunjuk Insiden Dili, sedang nama-nama Portugis menunjuk lokasi Timor Timur. Ketiga, jika mungkin saya beri sinkronisasi waktu.

Harusnya orang-orang hebat yang sudah mencipta karya tulis membuat esai proses mereka, akan sangat banyak penggemar yang menanti cerita dibalik prosesnya. Tak banyak saya bisa menikmati hal semacam ini. Haruki Murakami punya semacam memoar ‘What I Talk About When I Talk About Running’, lebih ke kegemarannya akan berlari tapi itu tips yang sangat amat berguna bagi kutu buku untuk menjaga kebugarannya. Sejak baca itu saya lari sore rutin seminggu tiga kali. Bagaimana Murakami mencipta seni tulis dan tetap fit, ternyata beliau suka mengikuti lomba ke berbagai negara. Bukan hanya lari, tapi triaton – lari, sepeda, renang. Nah detail macam gini jelas sangat berpengaruh.

Dalam Ketika Jurnalisme, kita jadi tahu proses kreatif itu sendiri adalah seni. Kita jadi tahu bahwa Bung Seno belum pernah ke Timtim ketika 12 cerita Saksi Mata terbit, tapi berkesempatan ke sana juga akhirnya sehingga kumpulan cerpen ditambah menjadi 18, kelimanya ditulis melengkapi. Hebat ya. kita juga tahu, bahwa sung Seno pernah mengirim cerita di sebuah media ditolak gara-gara menyinggung Timtim. Kota Ningi adalah bahasa gali untuk Dili, seperti Dagadu untuk Matamu, seni bahasa gali-nya Yogya. Ketika G30S dan segala kejadian sesudahnya berlangsung, saya masih terlalu kecil untuk berfikir kritis. Jadi bagi saya pembasmian gali-gali itu merupakan ‘peristiwa besar’ saya yang pertama. Apa boleh buat saya memang mempunyai idealisasi sendiri tentang para gali. Well, saya juga akan bilang bahwa Insiden Dili saya lewati ketika saya masih kecil sehingga saya tak mengikutinya, peristiwa besar bagiku ya pas pecahnya Reformasi, tapi itupun saya masih sekolah masih belum bisa kritis. Saya benar-benar tahu kerasnya hidup ya pas merantau tahun 2004an, era carut marut kebebasan pers yang kebablasan. Informasi melimpah, kualitas meh. Era internet yang butuh update apapun tinggal klik. Luar biasa, pengekangan pers padahal seakan baru kemarin. Dua setengah dekade yang lalu! “Depan tidur, belakang tembak!”

Dalam Cerita Pendek tentang Sebuah Proses bung Seno mencerita proses bagaimana ide diolah. Dengan setting Singapura, beliau menginap di sebuah hotel dalam keseharian menjadi juri festival film. Di lift hotel itu berpapasan dengan dua orang keling, si Tinggi dan si Pendek. Mereka tampak akrab, sepasang, tapi suatu ketika si Pendek menjerit histeris karena semua barangnya digondol kabur si Tinggi. Begitu teganya, karena pengamatan dari orang awam kita tak tahu motif kejahatan, kita hanya tahu si Pendek kini tak punya apapun termasuk surat penting. Nah, seusai dari Singapura bung Seno ke Malaysia melanjutkan aktivitas. Tak dinyana, papasan dengan si Tinggi di sebuah stasiun kereta api. Apa yang harus dilakukannya? Lapor polisi, menangkapnya langsung bak hero, mengikutinya seolah mata-mata, atau diam. Itu adalah pengalaman pribadi yang bisa dioleh menjadi cerita. Banyak sekali hal yang bisa dijabarkan. Sungguh cerita akan sangat nyata dan bagus bila tak sekedar teori. Amati kejadian sekitar, jabarkan, kembangkan imaji dan konflik. Hhmm… keren keren. Jadi pengamatan ini sudahkah jadi cerita? Belum, bung Seno hanya mengajari kita dalam mencipta ide.

Buku ini saya selesaikan baca pas libur di hari Kartini, pas paginya saya lagi dalam perjalanan menjemput istri saya melihat tukang koran keliling. Langsung saya beli Kompas, ini adalah koran cetak Kompas pertama yang kubeli setelah empat tahun! padahal dulu saya langganan Sabtu-Minggu. Kalau Bung Seno membeli banyak koran Minggu saya langganan du hari weekend. Rasanya ada rindu, aroma kertas koran yang dibaca sekali duduk. Kenapa saya tiba-tiba menginginkannya? Karena di bagian akhir bung Seno menuliskan: “…Pers Indonesia yang berhasil adalah pers yang berhasil survive dalam kemelut ekonomi dan politik. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa narasi besar jurnalisme Indonesia ditentukan oleh bisnis. Segala inovasi pemberitaan dipertaruhkan, bukan terutama demi kualitas jurnalistik, tetapi untuk membuka peluang bisnis – dan sebagai usaha bisnis, perusahaan pers ternyata tidak bisa melepas diri dari kepentingan-kepentingan politik, tapi dengan sikap yang sama sekali tidak tulus.” Dan kita tahu koran paling tua dan berhasil bertahan dari banyak gempuran waktu hanya Kompas. Kini mereka mengklaim, senja kala mengingat gempuran informasi dalam jaringan. Sampai kapan mereka akan bertahan akan sangat seru dinanti. Terima kasih Kompas, saya termasuk pembaca rutinmu – dulu.

Kebetulan sekali, bukunya Pram: ‘Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer’ diulas di bagian akhir buku ini ‘Sebuah Cerita tentang Berita-Berita Tak Penting’ dan saya baru saja membuka segel buku itu untuk jadi buku berikutnya saya baca. Wow.

Buku Trilogi Insiden ini adalah buku milik Perpustakaan Bus Taka Taman Kota Galuh Mas, Karawang. Hari ini saya kembalikan. Hiks, suatu hari saya akan punya sendiri. Jelas ini adalah salah satu buku paling berpengaruh, buku bagus, keren dan sangat layak dikoleksi. Berkat buku ini saya akan buru buku-buku lain karya Bung Seno.

Sah saya jadi fan bung Seno. Love you full! Mungkinkah suatu hari beliau akan masuk nominasi Nobel Sastra? Aaaaamiiiiiiin…..

Trilogi Insiden | #3 Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara – Kumpulan Esai | oleh Seno Gumira Ajidarma | cetakan pertama, April 2010 | perancang sampul Windu Budi | ilustrasi dalam Saksi Mata Agung Kurniawan | pemeriksa aksara Prita & Ratri | penata aksara gores_pena | Penerbit Bentang | vi + 458 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-979-1227-98-8 | Skor: 5/5

Karawang, 220418 – Sherina Munaf – Pelangi Di Tengah Bintang

Trilogi Insiden #2 Jazz, Parfum & Insiden – Seno Gumira Ajidarma

Aku tak pernah ingin menyerah. Tapi masihkah berarti kalau kalah? | Waktu menyiram tubuh. Darah pun menjadi putih | Aku tahu saat untuk pasrah, meski jauh di dalam tanah, kulambaikan dirimu dengan pedih. –

Kulambai Dirimu, 14 Januari 1996

Ketika matahari tenggelam, kami berciuman…”

Novel yang aneh. Seperi judulnya yang terbagi dalam tiga bagian kata yang berbeda, kisahnya adalah tiga hal berbeda namun terkait. Bagian jazz adalah bagian yang rumit karena saya memang tak akrab musik jazz. Hanya musik Sherina Munaf yang benar-benar kutahu, kutelanjangi. Selain itu hanya musik yang isi sekedar bunyi teman aktivitas. Sejarah, kenikmatan telinga, dan bagaimana cara menjabarkan alunan dengan cara yang seakan jazz adalah musik surga. Kedua parfum pun jua rumit. Histori penciptaan pewangi yang sama tak akrab bagiku yang jarang sekali mengenakannya seusai mandi. Benar-benar belajar seluk beluk ramuan kimia memusing, sejatinya selingan karena kita diajak mengenal orang-orang dekat si Aku yang memakai parfum tersebut. Bagian insiden, ini menyambung dengan tema utama buku ini. Peristiwa 1991 di Timor Timur itu diceritakan dengan sudut pandang seorang analis laporan, seakan laporan itu nyata apa adanya bahkan sebagian dituturkan dengan English agar terasa benar adanya. Tiga hal yang tak familiar, tiga cerita yang sejatinya bukan aku banget, eh ternyata bagus. Memang, cara bercerita itu hal yang krusial. Senja jadi kata yang dicintai Bung Seno Gumira Ajidarma, maka tak heran dijadikan pondasi, dijadikan pengantar dalam prolog. Bagaimana keadaan di sore yang megah dan menakjubkan itu menjadi seolah sebuah potret indah yang tak mau lepas.

Cahaya senja yang keemasan jatuh di atas kertas. Aku sedang menulis surat – isinya akan kuceritakan nanti…’ Kalimat pembuka yang memastikan bahwa cerita ini akan naratif seakan ada orang mendongeng kepada pembaca.

Bagian Pertama adalah pekerja kantor yang bergadang membaca laporan insiden, ditemani kopi dan walkman (dengan kaset pita) berisi lagu-lagu jazz. Laporan itu dicerna di lantai 20 sebuah gedung, dengan dinding kaca sehingga setiap senja tiba ia dengan tepekur bisa menikmati detik-detik indah pergantian alam. Laporan kekerasan yang keras dan berdarah. Sebagian pakai English, sebagian bikin mual. “ … Kemudian kami ditendang, kepala saya dipukul dengan popor senjata sampai bocor dan keluar darah.”

Kamu sedang menatap senja ya?” Tidak semua orang memperhatikan senja, kebanyakan.

Laporan yang dibaca variatif. Dari wartawati, korban, saksi sampai laporan international. Tentang politik dan kebijakan. Tentang antisipasi dan saling klaim tak bersalah. Di sini Aku memang ditempatkan pada pengamat, pendongeng, dan tak terlalu memunculkan banyak analisis walau beberapa bagian dilakukan selfcensorship. Endingnya diluarduga. Ada Sukap the legend. Wow!

Bagian kedua adalah cerita tentang jazz dan sejarahnya. Termasuk sejarah si Aku yang pertama mencintainya, menelusuri sertamerta mengagungkannya. Teoritis sih, tapi disusun dengan nyaman untuk dinikmati. Salah satu judul lagu So This is Jazz, Huh? Dalam Volume 1 dari musisi Wynton Marsalis, diceritakan sejarahnya. Judul itu selalu diucapkan mereka yang tak mengerti jazz. Namun, sekali mereka menemukan, well, mereka tidak akan pernah melupakannya. Tidak penting jazz itu apa yang penting kita dengar saja musiknya. Rasa yang ditularkan, emosi yang diteriakkan, jeritan yang dilengkingkannya. Raungan gemuruh yang memuntahkan kepahitan.

Jazz isn’t music. It’s language. Communicatiin.” – Enos Payne.

Jazz is a feeling, more than anything else.” – Mark C. Gridley.

“Nothing but bop? Stupid.” – Miles Davis.

Music kept you rolling.” – Louis Amstrong.

Music is the sign of the opressed masses. It is the heart in a heratless world.” – Bill Graham.

I say that was a noble sound because we are told today that this great sound is dead.” – Stanley Crouch

Tentu saja setiap jenis musik, bahkan jenis kesenian bisa dinyatakan hakikatnya sebagai pembebasan jiwa. Namun dalam jazz pembebasan itu hadir secara konkret dalam satu ruang bernama improviasasi. Jazz adalah percakapan akrab yang terjadi dengan seketika, spontan dan tanpa rencana. Apakah musik seperti jazz? Ada sebuah buku terbitan tahun 1955 tentang jazz berjudul ‘Hear Me Talkin’ To Ya’ karya Stan Kenton. Keinginan menyampaikan sesuatu yang begitu pelik dan rumit karena hanya bisa terwakili oleh susunan bunyi yang sangat pribadi dan betapa indah bila kita bisa mendengarkannya. Bukan dalam pengertian mendengarkan bunyi, bukan sekedar mendnegar suara, melainkan mendengarkan perasaan. Jazz, aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Apakah aku harus menjadi doktor untuk memahaminya? Tidakkah cukup mendengarkan baik-baik saja? Tentu saja selalu jawaban teknis, dan para musisi jazz memang jarang kita dengar ungkapan yang filosofis, mereka mengekspresikan diri dengan bermain jazz, berimprovisasi, mencari wilayah-wilayah penjelajahan baru, dan hanya sound yang mereka hasilkan itulah cara yang tepat untuk mengungkapkan diri.

Bagian ketiga adalah masalah parfum yang disemprutkan ke beberapa karakter yang ditemui Aku dan menelusuri jejak panjang historinya. Wanita berinisial Burung Malam. Tak menyukai jazz tapi musik rock. Menyebut dirinya ‘Rock n roll people’. Agak gila.

Saya hanya tahu Calvin Klein itu merk seprai kasur yang kupasang di kamar. Atau beberapa kali lihat di pasar jenis celana dalam. Ternyata beliau adalah salah satu pembuat parfum. Cerita mencipta parfum Obsession, adalah ia jatuh hati sama wanita sampai termehek-mehek yang suatu saat jadi istrinya. Wanita itu jadi obsesinya. Perkenalan dengan sang wanita dicerita dengan lucux. Telepon salah sambung dan digodain, “Kenapa tidak mencari saya saja…” Suaranya. Suaranya itu. Well, well, well. Suara yang sangat erotik. Saat akhirnya kopi darat, sungguh wanita yang unik. Rok pendek, rambut gaya medusa, sepatu gaya tentara, kaos ketat. Ia tidak cantik, tapi tidak jelek juga. Dan parfum yang dipakainya adalah Obsession…

Calvin Klein mencipta parfum Eternity untuk istri keduanya yang 14 tahun lebih muda. Tentang keabadian. “Kupikir ini adalah cincin keabadian.” Maka barangkali maunya, aroma eternity berhubungan dengan cinta yang agung, cinta yang setia, abadi dan selamanya.

Waktu mengubah seseorang barangkali, tapi cintaku tetap.

Tahun 1991 Calvin Klein mencipta parfum bernama Escape yang lebih keartian ‘pergi jauh dari semuanya’, secara harfiah berarti bertema liburan tapi ini juga bisa sebuah pandangan baru Calvin akan hidup. “Anda lari, Anda pergi, tapi Anda melakukannya dengan gaya.”

Parfum berikutnya yang dibahas adalah Poison, kali ini bukan Klein tapi karya Christian Dior. “Baunya elit” Begitu banyak nama, begitu banyak wajah, berapa banyak cinta mengalir terbuang? Air mata. Air mata. Terbuat dari zat apakah dia? Apakah rumusan kimia?

Parfum kelima yang diungkit adalah L’eau d’Issey karya Issey Miyake. Wanita inilah yang mengenalkan padaku bahwa dunia itu tidak hitam, tidak putih, tapi abu-abu. “Bukankah kesetiaan adalah sesuatu yang mutlak?

Dan setelahnya adalah parfum yang beraduk banyak merk dari Vendetta dari Valentino, Opium dari Yves Saint Laurent, Narcisse dari Chloe, No 5 dari Channel, Action dari Trussardi, Montana dari Claude Montana, Giorgio dari Beverly Hills, L’Aret dari Gucci sampai Samsara dari Guerlain. “Sasa harus mulai dari nol lagi, Ma.”

Katakan kepadaku kamu mencintaiku.” | “Aku cinta padamu.” | “Katakan padaku kamu akan mengawini aku.” | “Aku tidak bisa.”

Kenapa cinta begitu sering berada di tempat yang salah? Kita tidak pernah mengerti mengapa.

Semuanya begitu saja terjadi. Lagu apa yang diciptakan Chick Corea kalau mendengar cerita ini? Aku tidak mencium parfum, aku mencium amis darah. Ini bukan lagu jazz. Tapi lagu apa pun bisa di-jazz-kan, toh? Apakah begitu penting sebuah lagu itu jazz atau bukan jazz? Ketiganya sedikit banyak bersinggungan. Aku adalah penyuka jazz, membaca laporan jurnalistik Insiden 1991 dan sang wanita adalah sosok yang menemani hari-harinya. Alurnya tak banyak gejolak karena memang digulirkan dengan tenang, setenang alunan jazz itu sendiri. Bahkan saat ada ancaman penggeledahan dan kantor itu akan digerebek, alirannya tak seganas ombak, tetap tenang dan tak emosional. Benang merahnya, apalagi kalau bukan Insiden Dili 12 November 1991. Walau tak disebutkan secara implisit, cerita memang coba diselap-selip agar lulus sensor.

Seperti kata Brian May, too much love will kill you. Wanita yang mengangankan cinta, anak dan keluarga. Aku tahu, banyak misteri yang tidak pernah terpecahkan dalam hidup ini. Barangkali sampai mati. Punya anak, kawin dan bahagia? Aku mengingat semua ini ketika semua yang akan kuceritakan telah berlalu.

Kamu indah, selalu indah.” Katakan itu pada suamiku. Wah!

Mau disebut fiksi boleh, mau dianggap fakta terserah – ini cuma sebuah roman metropolitan.

Next Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara …

Trilogi Insiden | #2 Jazz, Parfum & Insiden – Novel | oleh Seno Gumira Ajidarma | cetakan pertama, April 2010 | perancang sampul Windu Budi | ilustrasi dalam Saksi Mata Agung Kurniawan | pemeriksa aksara Prita & Ratri | penata aksara gores_pena | Penerbit Bentang | vi + 458 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-979-1227-98-8 | Skor: 4,5/5

Karawang, 210418 – Radiohead – Creep

Pekan Ke 34: Lazio Vs Il Samp

Pekan Ke 34: Lazio Vs Il Samp

PROBABILE FORMAZIONE (3-5-1-1):
Strakosha;
Caceres, de Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Milinkovic, Lulic; Felipe Anderson;
Immobile.
A disp. Guerrieri, Vargic, Luiz Felipe, Wallace, Bastos, Basta, Crecco, Di Gennaro, Lukaku, Nani, Caicedo.
All. Inzaghi.

LBP 3-0
Menata diri. Laga akhir musim yang hanya perebutan zona. Awalnya kukira akan jadi laga laga perebutan Scudetto. Yo weslah.

Skye Blue Prayitno
Lazio 4-1 il Samp; gol by immobile
Analisis: Degrit semangat mengejar zona cempyen. Il Samp pasrah menunggu berakhirnya musim. Mereka ingin cepat-cepat ganti musim agar poinnya tak terpuruk lagi.

Siska
Lazio 3-1 sampdoria
Immo
Saatnya melanjutkan tren kemenangan. Saatnya melanjutkan raihan 3 poin. Saatnya memantapkan posisi di zona cempyen 🔥

JK
Lazio 0-1 Il Samp
Gianluca Caprari.
Jangan remehkan skuad Il Samp. Sempat merepotkan beberapa team besar. Bisa jadi akan merepotkan elang biru

Takdir

Lazio 2-0 Samdoria, Immobile
Pekan pekan akhir yang krusial. Il Samp sudah tak ada niat apapun di sisa musim, Lazio masih kejar kejaran zona Champion. Rasanya The Great akan menang, minimal gap dua gol.

Karawang, 220418

I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

Tonya Harding: America. They want someone to love, they want someone to hate.

Karena saya tak akrab sama olahraga skating, apalagi di Amerika sana. Drama bersaingan yang disajikan sungguh mendebarkan. Wow, ini kisah nyata. Sebuah sabotase, kecurangan dan upaya jahat untuk menjatuhkan lawan satu Negara demi sebuah medali di Olimpiade Skating. Ending-nya juga mengejutkan, bagaimana sifat kasar orang tua menurun sehingga coba dipoles sedemikian rupa menjadi anggun pun tak sesukses yang diharap maka jalan keras jua yang terpaksa diambil. Luar biasanya si Margor Robie yang biasanya tampil cantik dan seksi di sini dirubah menjadi kasar dan skeptis menghadapi hari. Namun tetap aktingnya masih di bawah McD dan Saoirseku tentunya.

Kisahnya dituturkan dengan cara yang sedikit unik. Bagaimana film biografi olahragawati es skater Tonya Harding (diperankan dengan keren oleh Margot Robie) dibuat bak sebuah wawancara diperankan aktor lalu narasi itu membawa kita mengikuti alur kehidupan. Tonya terlahir dari keluarga broken home, ayahnya kabur, hidup dengan ibunya Lavona (Allison Janney) yang keras, bekerja sebagai pelayan restoran. Tiap scene wawancara, si ibu pakai semacam selang oksigen yang menjuntai. Hobi minuman keras dan tak hentinya merokok, jelas ada masalah kesehatan, kebiasaan buruk, sifat yang menurun. Setiap sen yang dikeluarkan dihitung, mempertaruhkan segalanya demi masa depan sang buah hati. Mendaftarkan sekolah skating dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Hidup memang sebuah perjudian ‘kan? Tonya adalah anak ke-5 dari suami ke-4. Wuih… pernah punya 6 suami!

[[Based on irony free, wildly contradictory. Totally true interviews with Tonya Harding and Jeff Gillooly]]

Dengan setting utama di Portland, Oregon. Tonya begitu berbakat. Melakukan putaran yang sulit dan memukau penonton. Di rumah ia dibesarkan dengan disiplin, makian, sinisme dan keras. Bahkan dalam sebuah adegan Tonya dilempar pisau yang melukai tangan, dan hatinya! Sehingga memutuskan kabur. Hidup dan menikahi pacarnya Jeff Gilloony (Sebastian Stan), ia seorang montir yang awam olahraga yang digeluti pasangannya, tapi memberi dukungan penuh. Namun lepas dari ibunya yang keras, ternyata sang suami juga melakukan KDRT – kekerasan dalam rumah tangga. Semakinlah Tonya menampakkan sifat melawannya. Hubungan keluarga ini memang tak harmonis dalam segala segi. Sama ibunya retak, sama suami remuk. Padahal karir olahraganya menanjak. Tonya tampil bagus saat ada penonton mencehooh, ibunya kasih duit si peneriak. Jiah! Tonya makin sayang suami, dan hot setelah pertengkaran. Emang stress.

Dalam ranking tahun 1991 ia menjadi nomor satu di USA dan runner up international, posisi ketiga di Orlando. Di kejuaraan Albertvill, Perancis ia dikenang dalam gerakan sulit Triple Axel, menegangkan, berdebar. Dan gagal. Ia menempati urutan keempat. Tonya menyalahkan sepatu yang rusak dan diperbaiki bilahnya seada, tapi selalu ada kesempatan kedua dalam kompetisi bila kita terus bekerja keras. Namun tidak untuk hubungan rumah tangga. Ibunya memprediksi Tonya salah pilih suami, sang suami yang sebenarnya sayang juga akhirnya melakukan kesalahan fatal yang menjadikan hubungan di ujung jarum. Puncaknya pada tahun 1994 jelang kejuaraan international Olimpiade Winter 1994 di Lillehammer, Norwegia di mana seleksi ice skating yang panas antara Nancy Kerrigan (Caitlin Carver) dan Tonya. Sebuah konspirasi untuk mengintimidasi lawan sekaligus rekan senegara, konfrontasi itu menghasilkan sebuah kekerasan. Rencana hanya meneror justru menjadi tak terkendali saat sang bodyguard gendut yang gila Shawn Eckhardt (Paul Walter Hauser) melakukan melampaui imaji. Ngeri, wew dan jelas melukai sportivitas. Mereka menyebutkan ‘the incident’. Lalu bagaimana hasil olimpiade kejuaraan akbar itu? Sekali lagi, dalam olahraga ini, akankah ada kesempatan kedua?

Dengan segala hype yang ada, Margot memang masih dibawah McD. Sepakat. Ini adalah nominasi Oscar pertamanya, rasanya ia melakukan lonjakan karir yang bagus. I, Tonya adalah kandidat satu-satunya yang kirim kandidat best actress tapi ga masuk best picture. Bukan hanya menggambil peran gadis manis dan panas, Margot memberi bukti bahwa ia bisa mengubah image. Jelas suatu hari ia akan muncul lagi dalam daftar Oscar, dan menang! Suatu hari nanti…

Untuk Allison Janney yang menang Oscar supporting actress, saya kurang setuju. Aksi Laurie Metcalf sebagai ibu Saoirse lebih bagus dan meyakinkan. Keras itu tak perlu sampai melempar pisau, mendidik anak akan lebih mencekam dengan memberi aturan main yang diluar jangkau pikiran remaja ketimbang adegan tabok-tabokan. Sama-sama dari kelurga sederhana, sama-sama memerankan ibu yang kolot mencoba mengatur masa depan anaknya, keduanya memang layak dinominasikan, tapi tetap Laurie lebih memberi nyawa dan pas banget. Sayang sekali antipasti juri terhadap Lady Bird memberi 0 piala termasuk yang paling kurang prestise sekalipun. Hiks,…

Akhir kisah juga sadis, hukuman yang dijatuhkan pada Tonya membuatnya kecewa. Dan mengakhiri segalanya. Efek salah penanganan dan tekanan berlebih memang serem. Tonya yang berbakat sejatinya bisa jauh lebih hebat andai dalam jalur yang benar. Sayang sekali, keputusan-keputusan hidup yang mendorongnya menuju lorong hitam. Kalimat umpatan di ending “That’s the fucking truth” dirasa seperti sebuah kekesalan atas segala keputusan salah di masa lalu. Credit akhir yang memunculkan Tonya asli bermain es skating di kejuaran 1991, cukup memberi gambaran betapa hebatnya dia. Putaran sulit, bermain percaya diri, memukau penonton, berjoget penuh gaya. Luar biasa Indah. Diakhiri dengan standing applaus dan keceriaan bersahaja.

You skated like a graceless bull dyke. I was embarrassed for you. Sial!

I, Tonya | Year 2017 | Directed by Craig Gillespie | Screenplay Steve Rogers | Cast Margot Robbie, Sebastian Stan, Allison Janney, Julianne Nicholson, Paul Walter Hauser, Mckenna Grace | Skor: 4/5

Karawang, 180418 – Sherina Munaf – Sahabat Sepanjang Masa

Trilogi Insiden #1 Saksi Mata – Seno Gumira Ajidarma

Trilogi Insiden #1 Saksi Mata – Seno Gumira Ajidarma

Saya sudah beberapa kali memegang dan menimang buku Saksi Mata, tapi beberapa kali juga gagal membawanya ke kasir. Kumpulan cerpen yang tipis sebenarnya tapi selalu terbentur skala prioritas. Maka betapa beruntungnya saya menemukannya di Perpustakaan Taman Kota Galuh Mas, Karawang, bahkan bukan hanya satu buku tapi tiga! Dalam bundel Trilogi Inside. Wow, terkadang kita memang bisa tepat memutuskan sebuah pertimbangan. Probabilitasnya kecil tapi Tuhan selalu punya cara untuk memberi opsi pas. Saya akan ulas dalam tiga bagian: kumpulan cerpen, novel dan esai.

Saksi Mata berisi 16 cerita pendek yang mayoritas adalah tragedi. Saksi Mata sendiri ternyata dulu pernah saya baca di sebuah pos daring sehingga pas baca ulang, lho kisahnya familiar. Sebagai judul utama, sudah pas dan memang yang terbaik. Beberapa yang lain juga sudah baca di media cetak, jadi nostalgia juga. Menjadi nyaman pas dibaca dalam rentetan gini. Bagus sekali ya, ingat ini pertama terbit di era Orde Baru lho. Hebat, kendel, berani! Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di atas muka bumi.

#Saksi Mata

Saksi mata datang tanpa mata. Lho.. kalimat pembuka yang nyeleneh, bagaimana bisa seorang saksi bersaksi dalam sebuah persidangan tanpa pengelihatan? Sidang dagelan itu masih bisa berjalan karena saksi masih bersedia bersaksi, masih punya mulut kok untuk mengutarkan kejadian. Sidang penuh tawa. Namun selalu ada cara jahat untuk (orang jahat mencegah) upaya membuka kebenaran. Cerita lucu? Enggaklah, tragis. “Habis, terjadinya dalam mimpi sih, Pak.”

#Telinga

Tentang Alina yang meminta cerita kekejaman. Sang juru cerita berkisah bahwa Dewi, gadis yang menerima hadiah sebuah telinga yang dikirim pacarnya yang sedang bertugas dalam pertempuran. Telinga yang dipotong itu awalnya satu, tapi tampak bagus dijadikan aksesoris dan sang pacar mengirim lagi lebih banyak. Cerita seram dengan gaya humor. “Alangkah kejamnya pacar Dewi itu.” Yah, pahlawan ataukah pecundang tergantung dari sisi mana juru cerita bertutur.

#Manuel

“Apa aku sedang mabuk? Apa aku bertampang seperti pengarang?” Manuel menenggak minuman keras dan bercerita tentang masa lalunya kepada Aku. Kisah tentang kekejaman yang terjadi, dan penindasan yang diabaikan. Dengan rokok yang menyembul, Manuel curhat. Apakah penderitaan membuat seseorang bertambah tua? Manuel yang malang, hati-hatilah dengan lawan bicaramu!

#Maria

Maria, seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya yang tak tentu rimba. Cerita orang-orang yang kehilangan anggota keluarga, anak, kakak, adik, suami, ayah. Pilu yang menyeret korban perang, penculikan, korban penghilangan. Antonio suatu ketika pulang, tapi Maria dan Evangelista tak mengenalinya karena wajahnya hancur, badannya rombeng. Tak ada klaim untuk orang gila, dan suara sepatu tentara berbaris masih terdengar.

#Salvador

Tentang pahlawan yang diklaim penguasa sebagai pembangkang, pencuri ayam yang dibunuh dan mayatnya digantung di gerbang kota sebagai peringatan. Cerpen yang bagus sekali ini, bagaimana seharusnya sebuah perjuangan dibuat dengan sarkasme dan heroine quote: mati satu tumbuh seribu. Carlos Santana menerima estafet itu. ‘Ya Tuhan, berilah mereka istirahat yang kekal, sinarilah mereka dengan cahaya abadi. Orang besar akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka.

#Rosario

Seorang dokter meminta penjelasan kepada pasien Fernando yang hasil rontgen memperlihatkan rosario dalam tubuh, yang ternyata sudah 20 bulan! “Bayonet, bayonet, bayonet!” setelah melewati lima cerpen dengan gaya seram, saya sudah mulai akrab dengan kekerasan dan kata bayonet tentu saja mengarah ke pemaksaan, mustahil Fernando memakannya seakan telur puyuh. “Kemerdekaan adalah impian terkutuk.

#Listrik

Ini cerita yang unik, tentang sejarah listrik yang dari awal mula sekali dan penggunaan temuan umat yang digunakan untuk penyiksaan. Pada tahun 1993 listrik digunakan untuk menyetrum Januario yang diinterogasi. Dulu ia punya masa depan cerah ke arah Porto FC, klub Portugal karena ia pemain bola muda berbakat. Namun keadaan memaksanya untuk memanggul tanggung jawab lebih besar, ‘Viva Forever!

#Pelajaran Sejarah

Pak guru Alfonso mengajar muridnya tentang sejarah di luar kelas, di pekuburan dan kisah-kisah masa lalu yang tak tercantum di buku. “Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama. Sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dalam ombak. Sejarah itu merayap di luar kelas.”

#Misteri Kota Ningi

Petugas sensus yang heran, bagaimana bisa sebuah kota setiap tahun angka penduduk bukannya meningkat tapi malah turun. Kota Ningi populasi manusia memang turun secara angka, namun warganya tetap menganggap mereka yang pergi tetap tinggal. Segalanya absurd karena yang duduk di meja makan dua orang, meja dan piring yang disiapkan enam. Lho?! Ini bukan kota hantu, ini kota saksi perjuangan integrasi.

#Klandestin

Kupikir, begitulah. Kupikir-pikir, musuhku adalah sistem. Cara berfikirku terlarang dan murtad. Kurang ajar! Siapakah dia yang merasa dirinya punya kekuasaan untuk mengatur cara berfikir di dalam batok kepala orang lain? sebuah kota bawah tanah dibangun, untuk sebuah pemberontakan/perjuangan. “Aku datang untuk berfikir bebas, temukan aku dengan pimpinanmu.” Aku tidak perlu menghancurkan kota, aku hanya perlu membebaskan pikiranku – dari ideologi yang paling sempurna.

#Darah Itu Merah, Jenderal

Pensiunan jenderal mengenang masa lalu yang gemilang. Menikmati hari tua dengan santai di tepi kolam renang dengan air jernih. Ia sudah lupa berapa banyak jiwa telah diterbangkannya ke langit. Aneh, cukup banyak juga darah ditumpahkan – lewat peluru, dinamit, mortir, granat, dan bom. Dalam hujan ia berenang dan sang jenderal berenang dalam lautan darah.

#Seruling Kesunyian

Dengar, dengarkan aku. Setiap malam aku bermimpi tentang jeritan itu.” Bermain seruling di atas kerbau meniupkan nada-nada merdu dalam hati yang luka. Bunyi seperti dengung mimpi abad-abad lalu dan akan datang kukira dirimu yang tersembunyi dalam debur ombak. Kau dengarkan suara tanpa bunyiitu menurut buku-buku tanpa huruf bernama kesunyian.

#Salazar

Aku yang menunggu Salazar di sebuah kafe tua, dekat hotel murah, di lorong gelkap di Barcelona. Salazar, pemuda yang melagukan apa yang dipikirkan, berkata-kata dengan jelas dan jujur tentang sikap hidupnya. Tersisih, dengan bertebaran berita-berita buruk di masa lalu.

#Junior

Apa yang kau janjikan, Gunung?” seorang anak diberi nama Junior karena ayahnya juga bernama Junior. Suster Tania berkisah tentang masa lalu yang menyedihkan dan harapan masa depan yang harus diperjuangkan. “Indah sekali, seperti bidadari, apakah semua gadis di Jakarta, seperti bidadari?

#Kepala di Pagar da Silva

Kepala yang tertancap di pagar menghadap ke pintu, matanya terbuka siap menatap siapapun yang keluar dari dalam rumah. Ini kisah menyeramkan sekali, fiksi, hikayat, horor, apalah, membayangkan kepala orang terkasih yang ditancapkan di pagar rumah adalah hantu cerita yang ngilu. Gerimis pun berhenti. Air menetes-netes dari pucuk daun pisang. Da Silva membuka pintu.

#Sebatang Pohon di Luar Desa

Pohon ini adalah saksi mata sejarah desa kita.” Pohon besar yang dijadikan acuan, temapt ngumpul, tempat teduh di luar desa itu menjadi ciri khas. “Kutunggu kau di bawha pohon.” Jadi tempat pertemuan, janji dan banyak hal terjadi. Termasuk mayat yang tergantung, tertiup angin.

Kumpulan cerita pendek yang sangat bervitamin. Sejarah kelam Timor Leste 1990an yang dikemas dengan ironi. SGA, salute!

Next: Jazz, Parfum & Insiden.

Trilogi Insiden | #1 Saksi Mata – Kumpulan Cerita Pendek | oleh Seno Gumira Ajidarma | cetakan pertama, April 2010 | perancang sampul Windu Budi | ilustrasi dalam Saksi Mata Agung Kurniawan | pemeriksa aksara Prita & Ratri | penata aksara gores_pena | Penerbit Bantang | vi + 458 hlm; 20,5 cm | ISBN 978-979-1227-98-8 | Skor: 5/5

Karawang, 180418 – Sherina Munaf – Here To Stay

Pekan Ke 33: Fiorentina Vs Lazio

Pekan Ke 33: Fiorentina Vs Lazio

LBP 0-3
Pioli menemukan komposisi terbaik setelah Sang kapten mangkat. Inzaghi justru dalam banyak dilema. Pertarungan jelang akhir musim, setiap poin sangat berharga.

Siska
Fio 1-1 Lazio
Simeone
Lazio harus menang kalo tidak mau digeser Inter. Tapi statistik Lazio jelek kalo dipimpin Antonio Damato. Sepertinya bakal seri dengan Fio 🙊

AW
Fiorentina vs Lazio : 1-2, Immobile
Lazio menang lagi. Immobile nyekor lagi. FOC bergemuruh lagi.

Arief
Fiorentina v Lazio 0-2. Immobile
Lazio tentu ingin kembali ke 4 besar. Fiorentina belum terkalahkan sejak kepergian Astori. Immobile ingin menambah golnya.

Ma Huateng
Fiorentina vs Lazio 2-0
Simeone
Analisa: La Viola lagi on fire setelah kepergian sang kapten, Lazio inkonsisten, udah gtu aja

Takdir
Fiorentina 1-4 Lazio, Felipe Bale
Analisis Fiorentina punya rekor bagus dalam delapan laga tak pernah kalah. Lazio pun sejatinya juga punya rekor ok di liga sejauh ini dalam liga laga terakhir. Keduanya sudah fokus di kompetisi tunggal dan apa yang bisa dilakukan Pioli pada mantan? Perlawanan yang sia sia.

Simone Holtznagel Prayitno
Fio 1-1 Lazio; Immobile
Dengarkanlah lagu yang ada di hatiku ini. Melodi yang kumulai namun tak bisa kuselesaikan. Dengarkanlah suara dari lubuk hatiku ini oh Lazioku. Yang kini mulai menemukan kebebasan.

Effe
Fio 1-0 Lazio
Saponara
Fiorentina lagi bagus. Ga terkalahkan dlm 5 match terakhir mereka. Main kandang lawan Lazio sepertinya mereka akan menang.

Agustino Calciopoli
Fio 2-2 Lazio
Cirro
Disini nani. Disana nani. Dimana mana diaU oh nani. lalalalalalalala….. lalalalalalalala….. lalalalalalalala……

Kirana
Fio 2 – 1 Lazy
Milan Badelj
La Violla akan menang. Lazio akan kalah. Udah itu aja.

Karawang, 170418