A Wrinkle In Time: Disney Salah Kaprah

Mrs. Which: Trust Nothing

Setelah menunggu delapan tahun, inilah jadinya. Terjemahan gambar gerak salah kaprah. Salah penanganan. Kenapa diberikan sutradara yang minim pengalaman, tak mahir di zona fantasi? Ava DuVernay hanya kutahu di film Selma, CVnya belum banyak. Awalnya kukira bakal disutradarai James Bobin, orang yang berjasa membawa Alice menembus cermin melintas batas. Ternyata enggak jadi, sutradara perempuan yang memperjuangkan persamaan hak itu membuat Kerutan Dalam Waktu menjadi film drop segala lini. Mengecewakan. Sangat mengecewakan.

Sudah kupersiapan menonton di hari pertama tayang. Jumat sore lari sore, capek. Hujan badai menyapa pasca Mahgrib, penggambaran di novel juga dibuka dengan hujan badai. Sudah klop. Mie rebus pedas untuk menghangatkan, menanti jam 21:00. Jalan kaki ke Festive Walk untuk menyegarkan pikiran, dan apa yang kudapat dari layar lebar tak sebanding. Setelah trailer Pasific Rim: Uprising yang menjanjikan. Trailer Wreck It Ralph 2 masuk ke dunia internet dan anime Mazinger Z Infinity yang merayakan ceremonial 50 tahun. Opening act baru CGV yang berasa horor. Akhirnya kuarungi perjalanan penjelajahan dimensi yang terkenal itu.

Film dibuka dengan logo Disney aneh seolah kena gelombang kerut tesseract. Sedari awal mencoba menerapkan kesesuaian dengan buku dengan memunculkan badai di malam yang dingin, Meg Murry (diperankan aneh oleh Storm Reid) turun dari lantai atas untuk minum susu. Di dapur si bungsu yang freak Charles Wallace (Deric McCabe) sudah menunggu. Percakapannya juga sepersis mungkin. Bagaimana keluarga ini kehilangan ayah/suami tercinta Dr. Alex Murry (Chris Pine) yang kini sudah menyentuh angka empat tahun. Alex bekerja di NASA dalam penelitian kuantum fisika. Tessering is almost, nearby, perfect natural!

Di sekolah Meg adalah siswa yang penyendiri dan tampak murung, padahal sebelum kejadian hilangnya Mr Murry dia adalah siswa cemerlang. Seteru dengan teman dan tetangganya Veronica Kiley (Rowan Blackhard – cantik euy. Kucatat deh kunanti film-filmnya) menjadi bumbu tambahan kisah yang seharusnya bisa dimaklumi. Dalam adegan di lapangan basket yang annoy, Meg melempari Veronica dengan kekuatan, bola itu ke wajahnya langsung karena perisaknya keterlaluan. Adegan ia dipanggil kepala sekolah Jenkins (Andre Holland) juga bisa ma’ruf. Sekedar adegan tambahan prolog.

Suatu senja saat Meg diinterogasi kesalahan di sekolah oleh ibunya yang cantik (di novel disebutkan jelita) Mrs Murry (Gugu Mbatha-Raw) muncullah karakter aneh pertama Mrs Whatsit (Reese Witherspoon) yang seakan sudah akrab dengan Wallace. Ngobrol ngalor ngidul, disinggunglah kata ajaib ‘tesseract’. Kata itu menggerakkan kita ke masa lalu dua sejoli ini bagaimana saling mengagumi, saling memjua penemuan sebuah tesser bahwa semesta ada dalam pikiran, kita hanya butuh frekuensi yang pas untuk melintasi ruang dan waktu. Mrs Whatsit tahu dan bahkan menuturkan teori itu benar, berarti penelitian mereka bukan omong kosong. What if we are here for a reason. What if we are part of something truly divine.

Di sebuah rumah tua yang tampak kumuh dan kosong, Wallace mengajak kakaknya dan Calvin O’Keefe (si tampan Levi Miller – ini satu-satunya kasting yang pas) yang seakan dijatuhkan dari langit ada di antara mereka. Diperkanalkanlah kita sama karakter yang sejatinya paling cerdas dan unik dalam cerita ini. Mrs Who (diperankan kacau oleh Mindy Kaling – debut buruk live action) sayangnya dibuat seadanya. Bukan seadanya dalam arti penampilan, namum seadanya dalam penjiwaan, tokoh kurang penting sehingga tak memberikan kesan. Setiap bicara ia mengutip kalimat orang-orag besar yang mempengaruhi dunia. Sayangnya, Kaling seakan benar-benar hanya membaca kutipan itu. tak ada jeda pas, tak ada sentuhan asyiknya. Mulai dari sinilah saya down, duh kenapa tokoh istimewa ini jadi terlihat biasa? Kutipan pertama yang dinukil adalah Khalil Gibran dari Lebanon. Lalu mengatakan kutipan kedua, Rumi, Persia ia tertidur. Sampai akhir film, total ada 10 kutipan yang terlontar. Tak seperti di novel yang dikutip adalah bahasa asli, diterjemahkan ke English, di film ia mengutip dan menyebut Orang beserta Negara asalnya. Ga masalah sejatinya, letak salah memang ada di pembawaan bukan isi.

Saat di kebun belakang rumah, saat Meg dan Calvin menghindari tatapan dari jendela Veronica. Wallace berteriak gembira inilah saatnya. Trio W – Whatsit Who dan Mrs Which (dibawakan buruk sekali oleh Oprah Winfrey) yang tampil raksasa berkumpul. Setiap Which muncul yang ada dalam benak adalah dewa Budha raksasa yang menasehati Sun Gokong yang nakal. Inilah saatnya memulai perjalanan menembus dimensi. Kita hanya butuh di frekuensi yang pas! Dan dengan gelombang dan kerutan memusingkan kita diajak menjelajah dunia antah. Dari sinilah seharusnya keseruan itu benar-benar dimulai karena fantasi murni membimbing kita dalam fiksi yang melesat bersama kecepatan cahaya. Memasuki sebuah kehampaan di luar nalar. Wuuuuzzzz… dengan keraguan tak berkesudahan Mrs Whatsit terhadap kemampuan Meg tentang fisika kita mewujud di sebuah dunia penuh warna. Rumput padang hijau membentang, danau jernih terlihat indah, hamparan tebing yang bak potret kartu pos dan langit biru cerah disajikan dengan indah. Sangaaat indah, seakan ada di surga. Kerumuman bunga yang berisik bergosip, apa yang kita bayangkan dalam seni tulis kini bisa kita lihat dengan megah di layar lebar. Sajian tempat menyejukkan menawan hati yang kita tunggu bertahun-tahun itu mewujud.

Pencarian Mr Murry dimulai dengan Meg memperlihatkan fotonya kepada mereka yang bergosip. Mrs Whatsit mewujud sebuah makhluk terbang dengan sayap terbentang berwarna hijau menangkup mereka bertiga untuk menjelajah angkasa. Well, tak seperti yang kukira karena bukan naik vertikal membumbung tinggi, Mrs Whatsit hanya berputar melayang tak setinggi yang kuperhitungkan. Itupun sudah membuat Calvin terjatuh. Saya sempat membandingkan adegan ini dengan adegan jatuhnya Alice yang seakan tak bertepi, namun bukan. Bukan serumit itu, spesial efeknya ketara. Entah karena Miller akting jatuhnya terlihat konyol atau memang film ini sudah salah sedari awal, setelah pukauan memikat justru kita mendapat bagian yang tak semenakjubkan harap.

Di angkasa kita melihat awan hitam dengan petir dan kilatnya yang menghantui, otomatis Meg bertanya itu apa? ‘Itulah Camazotz’ materi gelap dalam dimensi. Menjauhlah darinya, berbahaya karena tesser mustahil dilakukan. Maka saat tahu ternyata Mr Murry terperangkap di sana ketiga W menyerah. Kita harus kembali ke bumi, perjalanan ke sana sulit dan sangat mengerikan. Meg menolak, kapan lagi? Inilah kesempatan menyelamatkan ayahnya. Tak boleh pulang tangan hampa, sudah sejauh ini. Sebelumnya kita juga memasuki planet bahagia bertemu Happy Medium (Zach Galfianakis). Ga seperti yang kuharapkan, ga berkesan blas. Aktor sebesar Zach bahkan diberi peran segitu doang. Kisahnya juga ga melintas waktu pada akhirnya karena diterjemahkan menjadi melintasi planet, antar semesta. Berarti ini harusnya A Wrinkle in Planet bukan in Time.

Maka saat perjalanan jelajah, dua tujuan: Bumi atau planet Camazotz itu adu kuat. Meg ternyata lebih kuat, arah terbelok ke dimensi gelap. Ketiga W tak bisa menemani perjalanan berikutnya, saatnya petualangan sesungguhnya dimulai. Hanya bermodal tiga hadiah dari W berupa kaca mata Mrs Who, nasehat mengenai pengetahuan melawan ragu Meg dan petuah agar selalu bersama, mereka bertiga memasuki sesuatu yang asing. Benar-benar asing. Benar-benar sebuah tempat antah. Melawan IT (David Oyelowo). Berhasilkah misi ini? The only thing faster than light is the darkness.

Film ini dibintangi Michael Cena, ia hanya muncul sebentar sebagai villain utama Red yang mewujud di ¼ akhir. Tak terlalu berkesan, biasa saja tak semengerikan dalam bayanganku. Dibintangi pula oleh Bellamy Young, muncul lebih sebentar. Menjadi penghubung menuju pusat kendali musuh, yang andai diperankan oleh aktor tak terkenalpun tak terlalu berpengaruh. Jualan utama film ini ga terlalu jelas memang. Semua serba nanggung.

Visual efek? Nope. Bagian bunga yang bermekar, terbang dan ditaburi di ruang sekeliling itu emang lumayan OK tapi lihatlah, kesannya hilang karena perannya emang tak terlalu mendukung cerita. Bayangan hitam yang kuharap seram juga tak mewujud. Efeknya sia-sia karena tak ada debar jantung saat Meg dan Calvin mencoba lari dari sesuatu yang tak pasti. Bayangkan kalau film ini dibuat oleh Del Toro atau David Fincher pasti akan sangat menawan saat diberi budget melimpah, efek yang ditampilkan jauh dari kata berkelas. IMAX kabarnya tak ambil jatah film ini, keputusan yang tepat. Sangat tepat.

Cerita? Nope. Mempunyai pondasi dasar buku yang sangat bagus bukan jaminan punya naskah yang rupawan. Kalimat-kalimat itu dipetakan dalam layar tanpa sentuhan yang seharusnya. Narasi novel yang menakjubkan, rontok tak terkendali. Jelas sektor utama ini gagal total. Penulis skenarionya berdua: Jeff Stockwell dan Jennifer Lee yang punya CV Wreck It Raph, Frozen dan Zootopia! Gilax, riwayat naskah kartun memukau padahal. Apa karena ini ada campur tangan orang lain dan debut live action-nya? Entahlah yang jelas babak belur skenarionya.

Aktor? BIG NO. Lagu-lagu khas Disney? Nope. Lagunya juga standar. Hanya karya Sade: Flower of the Universe yang menonjol, lainnya biasa sekali. Make up, hairstyle, costume? Nope. Semua serba nanggung. Maka kalau orang luar sana menanti keajaiban karya Madeleine L’Engle melayar lebar selama bertahun-tahun (50 tahun?) hasilnya seperti ini, pastilah kecewa. Ini adalah film bioskop adaptasi pertama L’Engle setelah versi TV pernah dibuat tahun 2003. Akankah sekuel akan diteruskan? Butuh perombakan besar pastinya, kalau ada produser gilax berani bertaruh lagi. Saya saja yang baru delapan tahun menunggu kecewa sekali. Film salah kaprah penanganan. Sama ga jelasnya, sama kecewanya bagi yang sudah membaca atau belum. Kacau.

Dengan budget tembus 100 juta Dolar, saya prediksi akan flop merugi dimensi dan mustahil capai target minimal 400 juta Dolar untuk pasar worldwide. Entah ke mana biaya sebesar itu larinya, tak terlalu nampak di semua segi. Disney salah kaprah.

Ini film persembahan Ava untuk warga kulit berwarna, bukan untuk penggemar fantasi, alih-alih pembaca A Wrinkle.

Boleh saja menghilangkan duo karakter kembar Sandy dan Dennys karena memang di novel juga tak banyak peran. Boleh juga menambahkan simbol infinity dengan eight hanging lopsided dalam frame. Namun tetap harus didasari sesuatu yang OK.

Dari belasan penonton yang ada hanya tinggal tiga yang bertahan sampai akhir. Hanya satu yang menyaksikan closing credit title berjalan. Tentu saja itu saya. Saya tetap menatap layar sampai detik terakhir untuk menemukan sesuatu di balik layar. Sedari pembuka tidak ada judul, judul utama baru muncul di akhir setelah para karakter utama memenuhi layar satu per satu. Sungguh sangat disayangkan film yang dinanti-nanti itu menjerumuskan diri ke lembah kebobrokan. Apa yang kudapat? Tak banyak pesohor yang kukenal, tidak ada scene after credit, tidak ada yang istimewa. Memang sedari awal sudah salah ini film. Tidak ditangani oleh orang-orang ahli di-genre-nya. Fantasi harusnya dimainkan oleh pecinta fantasi. Sayang sekali.

Bukannya rasis, tapi menyerahkan duit 100 juta Dolar untuk wanita berwarna pertama demi film ambisius adalah kesalahan mutlak Disney.

Boring and cheaply done plot, taking all the liberties of Disney-style writing and turning into slop. Horrible. Sad to say it, but it is true. Truly all of this expectations for this film turned into a great let-down. Bad movie, oh girl shockingly bad. What a disappointment.

Penuh sinar tapi bukan filmnya Rubay. Penuh perenungan tapi bukan filmnya Will. Segmented film tapi Disney melabeli SU – Semua Umur. Film merenung dicoloki sinar. Kalau film ini bisa bertahan dua minggu saja di Festive Walk saya akan acungi jempol.

A Wrinkle In Time | Year 2018 | Directed by Ava DuVernay | Screenplay Jennifer Lee, Jeff Stockwell | Cast Storm Reid, Oprah Winfrey, Reese Witherspoon, Mindy Kaling, Levi Miller, Deric McCabe, Chris Pine, Gugu Mbatha-Raw, Zach Galifianakis, Michael Pena Rowan Blanchard | Skor: 2/5

Karawang, 170318 – Michael Buble – Haven’t Met You Yet

Iklan

Tomb Raider: Vikander’s Adventure

Lara Croft: All myths are foundations of reality.

Sesuai ekspektasi. Memang tak muluk-muluk harapannya. Hanya kisah seru-saruan. Karena saya terpesona Alicia Vikander sebagai eks mesin Ava yang wow itu, maka wajar film-film berikutnya saya ikuti. The Danish Girl, Man From U.C.L.E. sampai Jason Bourne. Saya bukan gamer Tomb Raider, dan cerita versi Angelina Jolie sudah lupa saking biasanya. Jadi reboot ini kurasa sukses. Tak ada sesuatu yang spesial yang bisa bikin kejang-kejang di bioskop, tak ada hal istimewa sampai histeris. Adegan terbaik ya pas mencoba survive di bangkai pesawat terbang, tapi itupun sekedar membuat degub jantung terpacu. Film ini memang dibuat sebagai pembuka jalan Alicia ke depannya sebagai wanita perkasa petualangan Lara Croft.

Tak ada niat siang ini saya luangkan waktu untuk bioskop, karena sore harusnya jadwal lari bersama CIF Runners. Rencana tinggal rencana, saat membuat SIM C di Polres Karawang yang seharusnya dari jam 08:00 sampai sebelum istirahat makan siang justru blabas melalui banyak birokrasi. Setelah melahap soto pedas dan dhuhur barulah kartu sakti berkendaraku beres. Mau masuk kerja sudah terlampau siang, mau pulang belum sore. Maka setelah cek jadwal film ada 14:10 di Mal Karawang Tomb Raider dan 15:15 tersedia Red Sparrow di Festive Walk ya saya ambil yang awal saja. Lagian bioskop baru XXI Mal Ramayana belum pernah. Sampai di tempat cari toko buku Salemba di lantai dasar sudah tak ada. Lho? Ternyata eh ternyata, pindah ke lantai bawah. Jadi ada renovasi mal menambah lantai bawah, Salemba diangkut turun. Seakan ini menyiratkan toko buku yang tersingkir, dipojokkan dan ditempatkan di tempat terpencil. Miris. Sepi. Dan sungguh trenyuh melintasi deretan buku yang makin hari makin tergerus. Karena budgetku bulan ini sudah membengkak, saya ambil buku tipis dengan harga dibawah 50 ribu: God and the State nya Bakunin.

Dengan narasi suara berat Lord Richard Croft (Dominic West) kita diajak berpetualang, setting waktu 2009. Bahwa ada hikayat, mitos, atau legenda dari negeri Sakura, Pemimpin dinasti pertama mythical Queen: Himiko yang memerintah dengan banyak pengorbanan. Mitos itu menyeret banyak spekulasi, makamnya menyimpan kekuatan dahsyat yang berbahaya bagi keselamatan umat bila terlepas di publik. Maka Richard memberikan bocoran, demi dunia yang damai ia dengan berat hati meninggalkan sang putri.’Aku akan kembali sebelum kamu rindu.’ Kiss dua jari ditempel di kening jadi ikonik.

Sembilan tahun kemudian, present day. Lara Croft (diperankan dengan bagus sekali oleh Alicia Vikander) adalah seorang kurir makanan bersepeda, menekuni hobi tinju dan kekurangan dana. Dalam adegan pembuka yang keras Lara kalah bertinju latih, ia terpekur untuk mencari uang tambahan. ‘No pay no play’. Dari kutipan Hamlet tentang rubah yang kabur, permainan kejar sepeda dengan tetesan cat dan ekor rubah tersaji. Lara menghindari serbuan pesepeda yang mengejarnya demi 600 Dollar. Naas, Lara yang melamunkan ayahnya, menabrak mobil polisi. Pembuka yang seru dan menjanjikan. Ia lalu dijemput wakilnya yang mewakili Croft holding Ana Miller (Kristin Scott Thomas).

Lara bukanlah gadis miskin yang perlu mengais receh. Ia adalah pewaris Croft Enterprise di London. Maka undangan Ana untuk menandatangani surat kematian ayahnya yang tujuh tahun tak terlihat itu akan serta merta menjadikannya gadis kaya raya. Di depan Mr. Yaffe (Derek Jacobi yang absurd – saya suka sekali akting kakek ini). Banyak sekali filmnya yang membekas di kepala karena peran kecil tapi worth it disaksikan. Tentu saja akan selelu kuingat perannya yang aneh sebagai orang tua sakit parah di The Murder on the Orient Express. Saat surat kematian akan ditandatangani, sang kakek memberi mainan puzzle misterius yang merupakan warisan ayahnya. Diotak-atik, karena Lara sudah terbiasa diajari memainkannya ia berhasil membuka tabir. Dan mainan itu memuntahkan selembar foto Lara kecil dan ayahnya dan tulisan teka-teki: ‘Huruf pertama adalah tujuanku’. Surat belum diparaf, ia menemukan sebuah asa. Lara ke makam keluarga, dan ‘Huruf pertama’ yang dimaksud adalah huruf ‘R’ pada kata Richard, makamnya yang sudah disiapkan keluarga besar Croft. ‘R’ pada separo lingkaran itu sebuah tombol yang mengantar Lara menemukan ruang rahasia, Chamber of Secret itu berisi banyak hal misteri yang merupakan penelitian ayahnya. ‘Play Me’ berisi video instruksi menghancurkan semua berkas ‘Himiko’. Namun bukannya membakar segalanya, Lara malah menelusuri jejak yang ditinggal. Dengan modal kalung amulet hijau (apakah ada sangkut pautnya dengan Amulet Samarkand nya Bartimaeus?) Lara merentang jauh ke Hongkong menemui pelaut Lu Ren (Daniel Wu). Adegan tawar-menawarnya lucux. 10,000 yang ditawarkan Nick Frost, Lara minta tambahan sedikit saja, ayahnya sudah mati. Frost malah menjadikan 9,000. Damn it! ‘Kamu menggodanya ya?’ Anak yatim ini? Bah! Jadi 8,000, Lara menghentak kaca pembatas, sialan. ‘buat jaga-jaga’. Lara ambil duitnya, dengan bolpoin yang ada ia mendorong segelas kopi panas yang ada dan mengenai bajunya. ‘buat jaga-jaga’. Nantinya di akhir kisah kita akan diberi bocoran kecil, ke arah mana Lara berikutnya yang melibatkan pembelian senjata dengan kalung amulet terpasang di leher sang jagoan.

Aksi pertama sesungguhnya film ini muncul di pelabuhan, saat tiga berandal merampas tas Lara dan lari-larian di galangan kapal, melompati perahu-perahu yang tertambat, berayun dengan tali bak bajak laut. Lu Ren ternyata sang pemabuk, dengan iming-iming segepok duit disimpan di sepatu kiri, kapal Endurance mereka berlayar menuju pulau misterius Yamatai. Apa isi sepatu satunya?

Pulau itu memang tampak menyeramkan, awalnya. Badai menghancurkan kapal, mereka terdampar dan Lara sadar di sebuah tenda. Kita diperkenalkan musuh utama cerita ini Mathias Vogel (Walton Gaggins) tak tampak seperti villain? Mereka sedang dalam misi mencari makam the legend of Himiko, dan buku yang ada dalam ransel Lara menunjukkan peta lokasi. Maka setelah bertahun-tahun mencari akhirnya ada titik terang. Dalam perjalanan menuju titik X, Lara kabur. Nah bagian inilah yang terbaik. Lari, terjatuh di sungai, terseret arus, dalam posisi genting hampir terjatuh di air terjun Lara bergelayut di bangkai pesawat. Tak ada musuh, hanya besi rongsok tapi intensitas tegang justru meningkat tajam. Krak krak krak… really?

Dalam survival-nya Lara bertemu dengan pria misterius berrambut dan jenggot tebal. Ketika pria itu kabur ke tebing goa (kok ga ketemu fan MU yang lagi menepi?), Lara mengikuti. Bukan dengan cara mudah karena talinya sudah ditarik, ia ngegelayut penuh perjuangan. Taa-daaa... dia adalah Richard Croft. Ayahnya belum tewas, selama ini ternyata menjadi pelindung makam sang legenda. Justru kedatangan Lara malah memberi petunjuk. Karena kini Vogel sudah menemukan apa yang dicarinya, dia menghubungi bosnya dari Trinity untuk mengirim transpoda. Lara dan Richard Croft dikejar waktu untuk mencegahnya. Menurut mitos mayat legenda itu akan mendatangkan bencana. Jadi berhasilkan Trinity membawanya keluar dari pulau? Benarkah mitos menyeramkan itu?

Melihat aksi Alicia yang luar biasa strong benar-benar menyenangkan. Setara Wonder Woman, walau kecantikan Gadot memang setingkat diatasnya tapi tetap saja Vikander menunjukkan kapabilitasnya sebagai wanita perkasa. Film ini jadi begitu hebat berkat one-woman-show Vikander. Ini adalah petualangan Vikander seorang. Bisa saja jadi makin garang bila Daisy Ridley yang masuk, ia melepas peran ini demi franchise Star Wars. Namun rasanya akan sangat kurang bila Emilia Clarke, Olivia Wilde, Saoirse Ronan (jangan ikutan main film keras sayang, ntar flu) atau Cara Delevingne yang mendapat peran ini. Kelimanya dan belasan kandidat pernah digosipkan, tapi akhirnya Alicia yang dapat, ia komit dengan membentuk otot karena dasarnya dia kan kurus imut. Lima hari seminggu! Tapi Alicia tetap tampak imut sih walau keringat menyertai.

Referensi film ini banyak sekali. Memanah seperti Katniss, memecahkan kode bak Benjamin, ngegelantung di mana-mana bak Hunt, run – run your life seperti Thomas. Adu tinju bak Ali, kelahi tangan kosong seperti Bourne. Sederhananya Indiana Jones versi cewek. Pas banget judulnya karena memang ‘Penjarah Makam’ terlihat secara harfiah. Namun ini prekuel, yang artinya baru mula-mula, baru transform dari gadis kota yang bergelayut sepeda di jalanan metropolitan menuju ngegelayut di hutan rimba pada tempat-tempat antah. Endingnya sendiri pas banget, dengan mempertemukan sang penjual aneh dengan senjata dobel yang disilangkan. ‘I’ll take two’. Jelas, seri ini akan panjang, sangat panjang. Jelas ini adalah awal segala aksi Lara Croft versi Vikander demi meninggalkan image Jolie.

Komentar singkatku pasca nonton adalah ini seperti adaptasi A Wringle In Time, padahal film produksi Disney ini akan tayang dalam waktu dekat, bulan ini. Pencarian ayahnya yang hilang, versi video game. Was-was karena Tomb rilis duluan, pasti nanti muncul meme yang mencibirnya. Padahal buku Madeleine L’Engle sudah terbit sejak tahun 1962, Tomb muncul tahun 90an.

Film ini sejatinya rilis 16 Maret, tapi pasar Asia mendapat keistimewaan awal. Sesuatu yang makin hari makin sering demi menghindari pembajakan. Dasar utama kisah adalah reboot game keluaran Crystal Dynamincs tahun 2013 dengan judul yang sama. Dalam game dikabarkan Lara memang tampak manusiawi, tampak lebih lemah dan harus dilindungi tak seperti Lara yang sudah perkasa. Bahkan ada unsur seksual di dalamnya. Maka wajar sekali saat Lara membekuk musuh hingga menenggelamkan dalam lumpur, pembunuhan pertamanya ia gemetar kalut. Some men like dangerous women.

Mari kita apresiasi kengototan Vikander demi peran ini. Plotnya memang lemah, beberapa bagian boring tapi jelas ini adalah aksi menawan Vikander. Setelah menang Oscar, hanya The Danish Girl yang benar-benar bagus jadi wajar aksi di film ini harus diapresiasi. Her acting was great, always brave, spontaneous, humour, kind and stopable. Too skinny? Not sexy? Whatever! Yes this movie is not perfect, plot holes are there but adventure film in adapted game is it. This movie is fun, energetic and Vikander make it better. Ayo Vikander, saya mendukungmu. #ForzaVikander

Tomb Raider | Year 2018 | Directed by Roar Uthaug | Screenplay Geneva Robertson-Dworet, Alastair Siddons | Cast Alicia Vikander, Dominic West, Walton Goggins, Daniel Wu, Kristin Scott Thomas, Derek Yacobi | Skor: 3.5/5

Karawang, 140318 – Maudy Ayunda – Perahu Kertas

RIP Stephen Hawking

Oscar Winners 2018: Lady Empty Hand

Selama saya mengikuti Oscar, nonton live baru tahun ini tebakanku rusak parah. Empat dari empat belas. Benar, fanatisme jangan dibawa dalam prediksi atau tebak apalah sebuah kompetisi. Berkat Saoirse Ronan saya gelap mata, lima kategori prestis yang diwakilkan tak satupun menemui sasaran. Sungguh terlalu. Film paling biasa dengan banyak nominasi The Shape of Water memenangkan dua piala tertinggi Best Picture dan Director. Film coming of age gay, Call Me by Your Name menang di tulisan adaptasi. Remember Me yang biasa bisa menggenapkan piala Coco dan seabreg kekecewaan. 90 kali ini jadi angka sialku.

Berikut daftar lengkap pemenang Academy Awards ke-90 atau piala Oscar 2018 beserta komentar singkat:

#1. Film Terbaik: The Shape of Water
Dalam prediksiku saya menuliskan, ‘… cerita, acting, teknikal, semua biasa. Ampun deh, jangan hilangkan kepercayaan kami, please ba[ak ibu juri. Hasilnya? Sungguh gilax, bukan film bagusnya Del Toro menyabet piala paling tinggi ini. Saat penganugerahan, Duo tua Warren Beatty dan Faye Dunaway menyapa penonton dengan kocak: ‘hey keyemu saya lagi’. Pintar sekali panitia, memberi kesempatan kedua. Kesalahan sebut tahun lalu memang bukan dari beliau, tapi memberi kesempatan lagi sungguh mulia. Salute!

#2. Aktor Utama Terbaik: Gary Oldman, Darkest Hour
Bagian ini sudah terprediksi dengan jelas sekali. Keluarga Potter bangga. Keluarga Drakula ikut menari. Timnas Inggris dalam semangat tinggi menyambut Piala dunia 2018, Rusia. Beberapa hari kemudian, Oldman memposting gambar dirinya mengenakan jersey Rashford dengan piala Oscar dalam genggaman. Sebuah dukungan penuh untuk The Three Lions. Inikah saatnya?

#3. Aktris Utama Terbaik: Frances McDormand, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Seperti yang kusangka, hanya McD lawan sesungguhnya Saoireku. Dan terjadilah. Emang pantas menang sih. Beliau begitu menyakinkan sekali melempari kantor polisi dengan bom molotov. Maka saat McD maju ke podium dan menyampaikan pidato keren, kita semua kasih aplaus. Para nominator yang kalah berkumpul, berpelukan seakan sepakat: Mildred Anda luar biasa.

#4. Aktor Pendukung Terbaik: Sam Rockwell, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Bagian ini juga sudah sesuai. Sam memang layak menang, penampilannya konsisiten bagus sampai akhir film. Apes aja Woody dimatikan di tengah sehingga tergelincir. Three Billboards setidaknya tak bertangan hampa. Hiks.

#5. Aktris Pendukung Terbaik: Allison Janney, I, Tonya
Karena I, Tonya saya memang belum nonton sehingga ga tahu sebagus apa Allison. Sayang saja, Emaknya Saoirse ga menang. Yang pasti lawan-lawannya ga tangguh.

#6. Film Animasi Terbaik: Coco
Sah. Hanya pengesahan saja. Tanpa melihat para lawan, Coco terlalu digdaya. Sungguh tribute menawan untuk warga Meksiko. Hal ini membesitkan harap, kapan ya suatu saat sineas Hollywood membuat film budaya Indonesia dialihkan dalam kartun? Yang anti-mainstream harusnya lebih menggigit, macam cerita Bawang Merah Bwang Putih versi cadas.

#7. Sutradara Terbaik: Guillermo del Toro, The Shape of Water
Greta dalam puncak prestasi, kalah. Bukan film Del Toro, dominasi Amerika Latin. Dalam lima tahun mereka membombardir Hollywood. Sayang sekali timing menangnya ga di film keren. Dalam pembacaan pemenang, Greta mendapat sebutan Wanita hebat, satu-satunya dalam daftar. Menyambut International Woman Day padahal, sayang sekali.

#8. Sinematografi Terbaik: Blade Runner 2049
Roger Deakins akhirnya pecah telur di angka keramat 14. Luar biasa, semua hadirin berdiri memberi aplaus selamat.

#9. Efek Visual Terbaik: Blade Runner 2049
Yah, I am Groot keok. Saya belum nonton Blade Runner makanya ga tahu semegah apa efek yang disajikan. Tapi emang baru dua film yang kulahap, yang pasti penutup trilogy Apes biasa saja dari segala segi.

#10. Tata Rias dan Tata Rambut Terbaik : Darkest Hour
Seyakin baju-baju cantik Phantom, make up Perdana Menteri Churchill memang luar biasa. Agak curang memilih kategori ini dalam 14 tebakan yang kusajikan. Yah, sudah curang saja berantakan apalagi enggak. Haha..

#11. Skenario Adaptasi Terbaik: Call Me By Your Name
Meh. Masterpiece Mudbound kalah oleh film gay. Banyak yang memuji Call Me tapi bagiku sanagt biasa. Dasar utama kisahnya yangkuanggap biasa membuat penulisan naskah terabaikan. Masih mending Logan yang luar biasa padahal. Asal bukan The Disaster Artist-lah. Haha, James Franco gelo.

#12. Skenario Orisinal Terbaik: Get Out
Sepakat. Kecuali The Shape, semua bagus. Saya antusias padahal Get Out akan berbicara banyak. Namun kemenangan Jordan Peele adalah kemenangan kita semua, pecinta film berkualitas. Menjadikannya orang kulit hitam pertama yang sukses menyabet piala penulisan scenario original.

#13. Scoring Orisinal Terbaik : The Shape of Water
Dunkirk yang hebat di Teknik keok di kualitas tertinggi mereka memanjakan penonton dengan gemuruh skor. Emang lumayan bagus The Shape, iringannya masih menghantui kita tapi jelas Dunkirk memiliki kualitas skor dewa. Salah satu film dengan desingan terhebat yang pernah kutonton. Sial.

#14. Musik Orisinal Terbaik: Remember Me , ‘Coco’
Seakan Disney-Pixar menjawab tantangan apa yang bisa diraih selain best animated? Tahun ini genap juga akhirnya. Coco rilis diwaktu yang tepat. Tak seperti Kubo yang tahun lalu punya dua nominasi tapi tangan hampa. Walau saya tak terlalu terkesan Remember Me, tapi setidaknya dunia animasi memang sedang bergairah dnegan film-film Indah. Suatu saat, catat kata-kataku: animasi akan memenagkan piala tertinggi: Best Picture. Kuharap itu tak lebih dari 10 tahun dari sekarang. Akan lebih gila bila bukan Pixar, Dreamworks kini sudah menjajarkan diri, Sony sudah yahud, Iluminati juga sudah luar biasa rutin buat animasi OK. Suatu hari nanti, bukan hanya kategori music, tapi best picture.

Berikut daftar pemenang lainnya diluar prediksi 14-ku:

#15. Desain Kostum Terbaik: Phantom Thread
Saya heran sendiri, tak memasukkan daftar ini dalam prediksi padahal udah jelas ini film kuat di kostum. Akan sangat aneh bila film yang jualan utamanya baju, ga menang di bagian kostum terbaik. Phantom nyaris seperti Lady Bird tangan hampa, untung mereka berhasil menyabet baju-baju jahitan Reynold emang sangat layak menang.

#16. Film Animasi Pendek Terbaik: Dear Basketball
Sekali masuk daftar Hollywood, Kobe menang. Hebat. Sebuah piala yang tak pernah dimenangkan Michael Jordan.

#17. Film Berbahasa Asing Terbaik: A Fantastic Woman (Cile)
Belum melihat satupun bahasa asing. Namun akan kucanangkan tahun depan kulibas sebelum hari H. Era makin maju, film makin musah diakses. Kapan Indonesia punya wakil ya? Mirles, Pak Joko, Hanung, dkk. Ini tantangan sesungguhnya buat kalian sebagai sutradara lokal. Harapan kita semua.

Film Live Action Pendek Terbaik : The Silent Child
Desain Produksi Terbaik: The Shape of Water
Penyuntingan Suara Terbaik : Dunkirk
Tata Suara Terbaik: Dunkirk
Film Dokumenter Panjang Terbaik : Icarus
Film Dokumenter Pendek Terbaik: Heaven is a Traffic Jam on the 405
Penyuntingan Terbaik: Dunkirk

Secara keseluruhan Jimmy membawakan acara dengan meriah dan sangat bagus. Walaupun jelas bukan yang terbaik dari Sembilan Oscar yang kulihat karena yang terbaik tetap Ellen. Sementara yang terburuk masih dipegang Franco. Konon di tahun 2000an pernah ada host wanita kulit berwarna. Please, saya ingin suatu saat melihat pembawa acara wanita berkulit hitam. Apakah itu Oprah Winfrey?

Karawang, 120318 – Dewi Perssik – Indah Pada Waktunya

Pekan Ke 28: Cagliari Vs Lazio

Pekan Ke 28: Cagliari Vs Lazio

PROBABILE FORMAZIONE (3-5-1-1): Strakosha; Bastos, Luiz Felipe, Radu; Basta, Parolo, Leiva, Milinkovic, Lulic; Luis Alberto; Immobile.

LBP 0-3

Kekalahan Chievo memicu Cagliari untuk mengamankan posisi jauhi jurang. Kemenangan tetangga membuat persaingan empat besar merumit. Bakal seperti apa dua tim yang saling ingin mengamankan posisi? Lukaku dan Murgia jangan starter deh.

Bgs

Cagliari 1 – 4 Lazio, Immobile Kemenangan besar tetangga atas Torino menjadi semangat tersendiri bagi anak asuh Inzaghi, 3 poin harus dibawa pulang ke kota Roma untuk menjaga asa bertemu dengan City di pentas Eropa, sekarang atau tidak selamanya…. 😊

Siska

Cagliari 1-2 Lazio Immo

Diharapkan menang di laga Sparing eh ternyata cuma imbang. Harusnya Cagliari bisa ini jadi pelampiasan. Ya, meski akhir-akhir ini tim tamu mainnya rada angin-anginan, sepertinya 3 poin bisa dibawa pulang.

Arief

Cagliari v Lazio 0-2 Immobile

Lawan mudah bagi Lazio. Walau sedang berduka, Cagliari tetap semangat. Kepergian Astori akan membuat sepakbola Italia lebih baik. Immobile akan menambah golnya.

AW

Cagliari vs Lazio: 1-3, Immobile

Lazio bakal balik ke tren kemenangan. Suasana duka setelah Astori pergi mungkin masih terasa tapi semua tim harus move on. Lazio wajib menang demi jaga harapan bertemu Barcelona di UCL dan membuktikan kelayakan (menang atau menangis).

Takdir

Cagliari 0-4 lmmobile

Analisis Amarah the Great buncah di sini. Pakai strategi 3-5-1-1 tapi fakta di lapangan semua maju serang. Gol terhenti ketika Nani masuk.

Emma Stone Prayitno

Cagliari 2-4 Lazio; Immobile

Lukaku Dan Luiz Alberto starter, pertanda akan hujan gol. Entah ke gawang sendiri atau gawang lawan. Pokoknya hujan gol. Lazio better than Dortmund.

DC

Cagliari 0-1 Lazio Immobile

Tuan rumah akan kalah. Tim tamu akan menang. Jadi 3 poin buat Lazio.

Karawang, 110318

Phantom Thread: Perang Batin Dua Jam

Reynold Woodcock: When I was a boy, I started to hide things in the lining of the garments. Things only I knew were there. Secrets.

Film ter-ngegoliam Oscar tahun ini. Perang batin, meledak-ledak sepanjang kisah. Benar-benar butuh kesabaran ekstra karena untuk menunggu Daniel Day-Lewis ngomong aja penuh perhatian, nunggu-nunggu dengan cemas akan titah seakan apa yang dikatakan adalah sabda Nabi. Kunyah sayur aja ya, sampai lima menit. Film perang batin terdahsyat tahun ini.

Film dibuka tanpa tulisan apapun. Kita langsung memasuki kehidupan Woodcock. Tentang seorang designer baju ternama tahun 1950an di London, Reynold Woodcock (dimainkan dengan dingin oleh Daniel Day-Lewis). Pasca Perang Dunia yang melelahkan, dunia butuh hiburan. Dituturkan oleh sudut pandang seorang gadis pelayan restoran Alma (Vicky Krieps) yang terpesona. Suatu ketika Reynold datang, memesan dan dengan tatapan sendu yang akan bikin cewek-cewek salting mengajak makan malam sang pelayan. Ajakan itu diganggapi dengan secarik kertas yang sudah disiapkan bahkan sebelum ditanya: ‘For the hungry boy, my name is Alma’ dengan gambar lucux setangkai bunga di samping namanya.

Sebuah awal yang romantis, karena secara naluri penikmat fiksi, mereka nantinya pasti bersama. Tak salah, memang, tak salah walau prosesnya tak dikira. Karena memang dari ajakan makan malam itulah akan ada malam-malam yang lain. Reynold sendiri terus memandang kecantikan Alma dengan cara yang tak lazim, seakan akan menerkamnya, seakan penuh kasih dan perhatian berlebih, sangat fokus. Mulailah mereka mencoba mengenal satu sama lain. ‘Jika kau ingin melakukan kontes menatap dengan ku kau akan kalah.
Reynold adalah perancang busana kelas wahid. Rich and famous. Melajang hingga tua, memang sudah jadi kutukan bahwa perancang baju pengantin tidak akan menikah, atau kalaupun iya akan merana. Adiknya juga. ‘Wah kamu kan dikelilingi cewek-cewek seksi, berarti banyak dong gebetan?’ logika awam kita pastinya sejalan sama Alma. Namun Reynold memang tak seperti orang kebanyakan. Mencintai kerja all-out. Lahir batin, wow. Benar-benar mencurahkan tenaga dan pikiran untuk sebuah kesempurnaan. Ia lebih nyaman dengan ketenangan dan kain dan alat jahit ketimbang jalan sama cewek, ke pesta misalkan. Benar-benar workaholic. The tea is going out, the interruption is staying here with me. Bayangin, gara-gara adukan teh yang berbunyi klonteng-klonteng-klonteng saat makan bersama saja, komplain. Bagaimana enggak, lha makan saja ia masih sambil pegang pensil dan buku. Gila! Fokus kelas dewa.

Akhirnya memang Alma direkrut untuk menjadi model rancangan baju, masuk ke dunia fashion, berkenalan lebih dekat kehidupan glamour ala 50an, dan memasuki The House of Woodcock. Mobil yang dipakai Reynold adalah Bristol 405, itu mobil yang sama dikendarai David Goldman di An Education berplat WDF 964. Adik Reynold, Cyril Woodcock (Lesley Manville) selama ini mengurus segala kehidupan sang kakak dari rancangan busana, atur royalti, jadwal kerja sampai menjadi saksi kehidupan pribadi sang designer – masa lalu yang suram dan hopeless menyaksikan kakaknya menikah. Maka saat ada gadis desa lugu memasuki rumah mewah mereka, ia tak terlalu antusias. Awalnya.
Lihatlah, cara memperlakukan Alma saat mengukur badan, terdengar kasar. Namun, waktu mengubah banyak hal. Alma ternyata lebih cerdas ketimbang gadis lain. Lebih tahu keadaan, dan benar ia jatuh hati, akan kulakukan segalanya untuk Reynold. Maka ia pun menjelma penting dalam keluarga ini. Memasak, membantu kerja dan siap mengikuti aturan. Poin penting yang mengkhawatirkanku adalah saat mencari jamur di kebun liar. Pisahkan mana yang bisa dimasak mana yang beracun, ada di buku resep dapur. Bagian ini membuatku takut, duh please jangan diracun, please. Reynold memang menyebalkan, tapi kalau ga cocok ya keluarlah dari sana, ga perlu diganggu. Setiap kehidupan memang beredar dengan cara dan aturan sendiri, punya rotasi berbeda tiap individu. Semua orang punya plus minus, lantas kalau ada orang yang tak sepaham dan tak satu arah dengan kita ya minimal tak melibatkan diri. Tidak, Alma sudah jatuh hati dan akan memperjuangkan haknya di Woodcock House.

Maka suatu malam ia meminta Cyril dan seluruh penghuni untuk pergi saat Reynold pulang, biar hanya ada dia yang menyambut. Alma akan memasak spesial, ia akan menyambut hangat sang pangeran, akan jadi makan malam romantis dengan lilin dan tatapan mesra. Ide gile itu tentu saja ditentang sang adik, ia tahu ini akan berjalan berantakan, Cyril yang sudah kenal luar dalam pasti tahu ini tak kan berjalan sesuai impian Alma. And who is this lovely creature making the house smell so nice? Dan ta-daa… adegan yang kumaksud, kunyah batang sayur lima menit tersaji. Absurd, class! Menghentak, marah, perang batin, dan bisa kita duga segalanya memang berantakan. Kecewa Alma, menyusun rencana jahat. Mencari jamur, kali ini bukan jamur aman untuk dimakan. Justru memilah jamur beracun. Duh, seram. Alma bukan hanya muse and lover, ia tak seperti gadis lainnya yang pasrah. Ia punya kekuatan. Bagaimana akhir kisah pilu ini? Kalian akan salah duga, saya terkejut. Wow. Cockwood gilax!Kiss me my gilr, before I am sick’

Film ini memang jadi hebat berkat akting Day-Lewis. Aura dan kharismanya tak tertahankan. Luar biasa, ia berhasil mengubah segalanya. Film tentunya akan jauh berbeda bila aktor lain yang memerankan, Daniel Craig misalkan. Krik Krik Krik. Jelas Lewis adalah aktor berkelas. Anderson benar-benar memanfaatkan setiap momen, kamera benar-benar fokus ke beliau. Tensi dan emosi dikuras, semua tercurah demi dia. Tak heran masuk lagi nominasi best actor.

Walau bukan penampilan terbaik Lewis, tapi tetap Phantom adalah perpisahan berkelas. Pada tanggal 20 Juni 2017, beliau mengumumkan pensiun dari dunia akting. Kita hormati keputusan hidupnya. Kita akan merindukan karakter kharismatik kelas satu. Syukurlah film terakhirnya sangat bagus, komitmen beliau pilih pilah peran bukan isapan jempol. Hebatnya ia bisa aksen British demi peran ini.

Phantom sejatinya hanya menonjolkan tiga karakter. Lewis sebagai pusat perhatian, Vicky sebagai pusat cerita, sang narator dan Lesley sebagai peran bantu penyeimbang dua karakter beda sifat. Selebihnya hanya tempelan, termasuk pak dokter yang sempat mengusik atau Ratu dan para pesohor sekedar lewat.

Ide pembuatan film terinspirasi saat Paul sakit satu hari penuh terbaring di ranjang. Istrinya Maya Rudolph terlihat tak seperti biasanya, imaji liarnya merespon ‘bagaimana kalau sakitnya justru disebabkan orang yang merawatnya?’ wuih keren, blessing in disguise. Lewis mempelajari tren pakaian era 40an dan 50an untuk dapat mood cerita, ia dan Vicky bahkan tak dipertemukan sama sekali selama proses rancang, mereka bertemu pas di syuting hari pertama untuk membuat impresi cinta yang dalam. Film dengan rancang bangun baju. Hebatnya Paul komitmen tak ada iklan. Ini adalah film personal yang ditulis langsung olehnya dan Lewis jadi tak boleh ada tempelan atau pesanan pihak luar. Cool. Kalau punya duit dan kelas memang bisa idealis ya. Beda sama film maker kere yang mengemis sponsor. Film didedikasikan untuk Demme. Siapa Demme? Sahabat Lewis yang meninggal saat akhir syuting karena sakit kanker. ‘It’s comforting to think the dead are watching over the living. I don’t find that spooky at all’

Bagiku tetap kolaborasi Paul-Lewis terbaik There ‘William’ Be Blood yang menjadikan mereka menang banyak Oscar.

What precisely is the nature of my game? The art of being. Monastic life. Elegant crafted!

Phantom Thread | Year 2017 | Directed by Paul Thomas Anderson | Screenplay Paul Thomas Anderson | Cast Daniel Day-Lewis, Vicky Krieps, Lesley Manville | Skor: 4/5

Karawang, 060317 – American Authors – Best Day of My Life

Hari H pengumuman Oscar, pas kupos pagi sebelum berangkat streaming.

The Shape of Water: Bizzare Fairy Tale

Stickland: You may think, ‘That Thing looks human’. Stands on two legs, right? But, we created in the Lord’s image. You don’t think that’s what Lord looks like, do you?

Film yang sekedar bagus. Aneh sekali juri Oscar memberi 13 nominasi, overated! Sebagai komitmen saya yang tak terlalu suka film ini, saya tak menjagokan satupun akan dimenangkan. Sejatinya saya penggemar film-film Del Toro, Pan’s Labyrinth tetap yang terbaik. Sayang sekali saat beliau dilirik penghargaan tertinggi untuk kategori bergengsi justru malah saat film yang seperti ini.

Kisahnya tipikal Hollywood. Saya bahkan sudah bisa menebak ending-nya ketika menit baru berjalan 10. Jelas sekali, akan ke mana arah film ini saat tahu gadis bisu jatuh hati sama makhluk air yang terkekang, apalagi saat penjelasan singkat dari mana asal Elisa, klise sekali. Perkenalan, penyelamatan, pertentangan – sedikit, dan happy ending. Kenapa film pole position Oscar justru kisah semacam ini?
Kisahnya dibuka dengan narasi pria bersuara bareto dengan setting sebuah ruangan penuh air. Ruangan berisi segala perabot itu ada dalam air, ia bertutur tentang peri, tentang kisah putri dan monster air yang dicinta. Sang narator adalah Giles, pria penyendiri yang jadi saksi peristiwa Beauty and the Beast. If I told you about her, what would I say? I wonder.

Elisa Esposito (Sally Hawkins) dan Zelda Fuller (Octavia Spencer) adalah duo petugas cleaning service di sebuah badan pemeriksa antariksa The Occam Aerospace Research Center. Elisa bisu, tapi bisa mendengarkan sejak lahir? Entahlah, ia tak tahu siapa orang tuanya karena dibesarkan orang lain saat bayi ditemukan di pinggir sungai. Ia begitu mencintai sebuah sepatu, sebuah tampikan halus untuk Cinderella. Kolonel Richard Stickland (dimainkan dengan aneh oleh Michael Shannon) adalah Penanggungjawab utama penelitian temuan makhluk laut yang dikerangkeng. Makhluk air laut itu disebut ‘Asset’ (diperankan tanpa dialog oleh Doug Jones – yang punya peran juga dalam Hell Boy sebagai Abe) – manusia ikan humanoid? Stickland memperlakukannya dengan sadis. Menggunakan pentung listrik, sehingga saat melawan akan distrum. Kejam, aneh, ga jelas. Dokter Robert Hoffstetler (Michael Stuhlbarg) adalah kepala penelitian, ia sudah tampak tak wajar sejak awal diperkenalkan. Bisa bahasa Rusia, melakukan pertemuan-pertemuan rahasia, dan menyimpan sebuah misteri. Dengan setting Baltimore tahun 1960an, perang dingin yang berlangsung dan segala kecurigaan bisa menjadi bencana. Setting yang sama dengan Pan’s Labyrinth nih. Ternyata benar, ia adalah agen rahasia Soviet bernama Dimitri. As Lenin said, There is no profit in last week’s fish.

Suatu saat terjadi kegaduhan di ruang teliti, dua jari sang kolonel putus karena suatu hal ketika dekat si makhluk. Elisa dan Zelda dipanggil untuk membersihkan darah yang tercecer, dua potongan jari ditemukan. Elisa menemukan koneksi saat dekat dengan Asset, maka saat ada kesempatan masuk dan berinteraksi ia membawa telur yang disambut suka. Perkenalan tanpa bicara, hanya mengandalkan isyarat cinta – eheemmm. Pertemuan mereka dipergoki dokter Robert tapi tak menegur, hanya memperhatikan dalam gelap, yang lalu melapor pada bos Rusia-nya bahwa makhluk itu kemungkinan bisa berkomunikasi. ‘Waktu hanyalah sungai yang mengalir dari masa lalu kita.’

Sementara Elisa keseharian tinggal bertetangga dengan Giles (Richard Jenkins) adalah pelukis, mereka tinggal apartemen di atas sebuah gedung bioskop sepi Orpheum yang sedang menayangkan ‘Triumphant Return of The Story of Ruth & Mardi Grass’. Nantinya ada adegan absurd bagimana bisa makhluk itu di tengah kuris kosong bioskop yang menayangkan film? Dan imaji nyanyi tak lazim. Berkomunikasi dengan isyarat, mereka menampilkan adegan aneh saat beli kue lime ‘Pie Guy’, menonton tv hitam putih dan walau langganan kue yang tak enak mereka selalu berulang. Kenapa Giles selalu beli akan diungkap dengan sedih, nantinya.

Atasan Stickland, Jenderal Hoyt (Nick Searcy) memberi tenggat waktu akan ke arah mana penelitian ini. Dan kemudian memutuskan membolehkan membedah sang makhluk, dokter Robert yang tahu mencoba melawan. Maka terjadilah konspirasi pelarian diri. Elisa membantu membawanya keluar dalam gerobak binatu, Zelda yang tahu membantu, Giles menyupiri, dokter Robert memasang bom (made in Israel) untuk mematikan listrik agar CCTV tak aktif, dan walau ada adegan tembak-tembakan kalian pasti bisa menebaknya.

Di apartemen sang makhluk ditempatkan di bak mandi yang ditabur zat asin dan garam melimpah. Sembari menunggu Hari H pelepasan ke laut liar pada saat hujan mengisi air kanal yang akan membawanya ke laut luas, mereka mengakrabkan diri. Tangan Giles terluka tak sengaja, ternyata bisa disembuhkan seketika ketika disentuh makhluk. Kepala botaknya jadi tumbuh rambut, luka separah apa bisa disembuhkan. Wow, minta royalti nih ke Wolverine. Apakah Elisa nantinya bisa ngomong kalau lidahnya dicium? ‘No name no ranking, they just clean’.

Stickland diberi waktu tenggat 36 jam untuk kembalikan makhluk. Dokter diberi waktu 48 jam untuk eksekusi keputusan agen rahasia. Kill it, destroy it. Elisa punya waktu yang mendesak menuju hari pelepasan. Semua punya kepentingan, bagaimana akhir makhluk air laut itu?

Fairy tale snob, aneh dan yah standar. Tak ada yang istimewa, ketebak dan harapan tinggi sebagai pemegang nominasi terbanyak tak terbukti berkualitas tinggi. Inspirasi Asset dari film The Black Lagoon. Tampilan makhluknya juga tak wow, kalau pembandingnya karya Del Toro yang punya Hell Boy dan sobat Princess Ofelia, jelas Asset tidak ada apa-apanya. Apakah ada kemungkinan Asset adalah pasukan neraka yang terlepas? Del Toro memastikannya tidak ada hubungan dengan The Golden Army. Di Soviet ada novel dengan tema yang mirip karya Belyaev berjudul Amphibian Man yang terbit tahun 1928. Inspirasi?

Michael Stuhlbarg dalam seminggu ini kutonton beruntun, kok bisa? Sebab ternyata dia juga ambil bagian di film Call Me By Your Name dan The Post. Sedang naik daun nih, seperti Lily James yang juga ada dalam Baby Drive dan Darkest Hour. ‘What am I doing, interviewing the help?’ Pemilihan nama Elisa sendiri tak sembarangan karena merujuk pada Eliza dalam My Fair Lady-nya Audrey Hepburn. Terlalu banyak referensi film ini yang menyambungkan karya lain.

Unable to perceive the shape of you, I find you all around me. Your presence fills my eyes with your love, it humbles my heart, for you are everywhere.’ – Rumi

Let me hear you whispher!

The Shape of Water | Year 2017 | Directed by Guillermo del Toro | Screenplay Guillermo del Toro, Vanessa Taylor | Cast Sally Hawkins, Michael Shannon, Richard Jenkins, Octavia Spencer, Michael Stuhlbarg, Doug Jones, David Hewlett, Nick Searcy, Steward Arnott | Skor: 3/5

Karawang, 040318 – Pitbull – Wild Wild Love