Phantom Thread: Perang Batin Dua Jam

Reynold Woodcock: When I was a boy, I started to hide things in the lining of the garments. Things only I knew were there. Secrets.

Film ter-ngegoliam Oscar tahun ini. Perang batin, meledak-ledak sepanjang kisah. Benar-benar butuh kesabaran ekstra karena untuk menunggu Daniel Day-Lewis ngomong aja penuh perhatian, nunggu-nunggu dengan cemas akan titah seakan apa yang dikatakan adalah sabda Nabi. Kunyah sayur aja ya, sampai lima menit. Film perang batin terdahsyat tahun ini.

Film dibuka tanpa tulisan apapun. Kita langsung memasuki kehidupan Woodcock. Tentang seorang designer baju ternama tahun 1950an di London, Reynold Woodcock (dimainkan dengan dingin oleh Daniel Day-Lewis). Pasca Perang Dunia yang melelahkan, dunia butuh hiburan. Dituturkan oleh sudut pandang seorang gadis pelayan restoran Alma (Vicky Krieps) yang terpesona. Suatu ketika Reynold datang, memesan dan dengan tatapan sendu yang akan bikin cewek-cewek salting mengajak makan malam sang pelayan. Ajakan itu diganggapi dengan secarik kertas yang sudah disiapkan bahkan sebelum ditanya: ‘For the hungry boy, my name is Alma’ dengan gambar lucux setangkai bunga di samping namanya.

Sebuah awal yang romantis, karena secara naluri penikmat fiksi, mereka nantinya pasti bersama. Tak salah, memang, tak salah walau prosesnya tak dikira. Karena memang dari ajakan makan malam itulah akan ada malam-malam yang lain. Reynold sendiri terus memandang kecantikan Alma dengan cara yang tak lazim, seakan akan menerkamnya, seakan penuh kasih dan perhatian berlebih, sangat fokus. Mulailah mereka mencoba mengenal satu sama lain. ‘Jika kau ingin melakukan kontes menatap dengan ku kau akan kalah.
Reynold adalah perancang busana kelas wahid. Rich and famous. Melajang hingga tua, memang sudah jadi kutukan bahwa perancang baju pengantin tidak akan menikah, atau kalaupun iya akan merana. Adiknya juga. ‘Wah kamu kan dikelilingi cewek-cewek seksi, berarti banyak dong gebetan?’ logika awam kita pastinya sejalan sama Alma. Namun Reynold memang tak seperti orang kebanyakan. Mencintai kerja all-out. Lahir batin, wow. Benar-benar mencurahkan tenaga dan pikiran untuk sebuah kesempurnaan. Ia lebih nyaman dengan ketenangan dan kain dan alat jahit ketimbang jalan sama cewek, ke pesta misalkan. Benar-benar workaholic. The tea is going out, the interruption is staying here with me. Bayangin, gara-gara adukan teh yang berbunyi klonteng-klonteng-klonteng saat makan bersama saja, komplain. Bagaimana enggak, lha makan saja ia masih sambil pegang pensil dan buku. Gila! Fokus kelas dewa.

Akhirnya memang Alma direkrut untuk menjadi model rancangan baju, masuk ke dunia fashion, berkenalan lebih dekat kehidupan glamour ala 50an, dan memasuki The House of Woodcock. Mobil yang dipakai Reynold adalah Bristol 405, itu mobil yang sama dikendarai David Goldman di An Education berplat WDF 964. Adik Reynold, Cyril Woodcock (Lesley Manville) selama ini mengurus segala kehidupan sang kakak dari rancangan busana, atur royalti, jadwal kerja sampai menjadi saksi kehidupan pribadi sang designer – masa lalu yang suram dan hopeless menyaksikan kakaknya menikah. Maka saat ada gadis desa lugu memasuki rumah mewah mereka, ia tak terlalu antusias. Awalnya.
Lihatlah, cara memperlakukan Alma saat mengukur badan, terdengar kasar. Namun, waktu mengubah banyak hal. Alma ternyata lebih cerdas ketimbang gadis lain. Lebih tahu keadaan, dan benar ia jatuh hati, akan kulakukan segalanya untuk Reynold. Maka ia pun menjelma penting dalam keluarga ini. Memasak, membantu kerja dan siap mengikuti aturan. Poin penting yang mengkhawatirkanku adalah saat mencari jamur di kebun liar. Pisahkan mana yang bisa dimasak mana yang beracun, ada di buku resep dapur. Bagian ini membuatku takut, duh please jangan diracun, please. Reynold memang menyebalkan, tapi kalau ga cocok ya keluarlah dari sana, ga perlu diganggu. Setiap kehidupan memang beredar dengan cara dan aturan sendiri, punya rotasi berbeda tiap individu. Semua orang punya plus minus, lantas kalau ada orang yang tak sepaham dan tak satu arah dengan kita ya minimal tak melibatkan diri. Tidak, Alma sudah jatuh hati dan akan memperjuangkan haknya di Woodcock House.

Maka suatu malam ia meminta Cyril dan seluruh penghuni untuk pergi saat Reynold pulang, biar hanya ada dia yang menyambut. Alma akan memasak spesial, ia akan menyambut hangat sang pangeran, akan jadi makan malam romantis dengan lilin dan tatapan mesra. Ide gile itu tentu saja ditentang sang adik, ia tahu ini akan berjalan berantakan, Cyril yang sudah kenal luar dalam pasti tahu ini tak kan berjalan sesuai impian Alma. And who is this lovely creature making the house smell so nice? Dan ta-daa… adegan yang kumaksud, kunyah batang sayur lima menit tersaji. Absurd, class! Menghentak, marah, perang batin, dan bisa kita duga segalanya memang berantakan. Kecewa Alma, menyusun rencana jahat. Mencari jamur, kali ini bukan jamur aman untuk dimakan. Justru memilah jamur beracun. Duh, seram. Alma bukan hanya muse and lover, ia tak seperti gadis lainnya yang pasrah. Ia punya kekuatan. Bagaimana akhir kisah pilu ini? Kalian akan salah duga, saya terkejut. Wow. Cockwood gilax!Kiss me my gilr, before I am sick’

Film ini memang jadi hebat berkat akting Day-Lewis. Aura dan kharismanya tak tertahankan. Luar biasa, ia berhasil mengubah segalanya. Film tentunya akan jauh berbeda bila aktor lain yang memerankan, Daniel Craig misalkan. Krik Krik Krik. Jelas Lewis adalah aktor berkelas. Anderson benar-benar memanfaatkan setiap momen, kamera benar-benar fokus ke beliau. Tensi dan emosi dikuras, semua tercurah demi dia. Tak heran masuk lagi nominasi best actor.

Walau bukan penampilan terbaik Lewis, tapi tetap Phantom adalah perpisahan berkelas. Pada tanggal 20 Juni 2017, beliau mengumumkan pensiun dari dunia akting. Kita hormati keputusan hidupnya. Kita akan merindukan karakter kharismatik kelas satu. Syukurlah film terakhirnya sangat bagus, komitmen beliau pilih pilah peran bukan isapan jempol. Hebatnya ia bisa aksen British demi peran ini.

Phantom sejatinya hanya menonjolkan tiga karakter. Lewis sebagai pusat perhatian, Vicky sebagai pusat cerita, sang narator dan Lesley sebagai peran bantu penyeimbang dua karakter beda sifat. Selebihnya hanya tempelan, termasuk pak dokter yang sempat mengusik atau Ratu dan para pesohor sekedar lewat.

Ide pembuatan film terinspirasi saat Paul sakit satu hari penuh terbaring di ranjang. Istrinya Maya Rudolph terlihat tak seperti biasanya, imaji liarnya merespon ‘bagaimana kalau sakitnya justru disebabkan orang yang merawatnya?’ wuih keren, blessing in disguise. Lewis mempelajari tren pakaian era 40an dan 50an untuk dapat mood cerita, ia dan Vicky bahkan tak dipertemukan sama sekali selama proses rancang, mereka bertemu pas di syuting hari pertama untuk membuat impresi cinta yang dalam. Film dengan rancang bangun baju. Hebatnya Paul komitmen tak ada iklan. Ini adalah film personal yang ditulis langsung olehnya dan Lewis jadi tak boleh ada tempelan atau pesanan pihak luar. Cool. Kalau punya duit dan kelas memang bisa idealis ya. Beda sama film maker kere yang mengemis sponsor. Film didedikasikan untuk Demme. Siapa Demme? Sahabat Lewis yang meninggal saat akhir syuting karena sakit kanker. ‘It’s comforting to think the dead are watching over the living. I don’t find that spooky at all’

Bagiku tetap kolaborasi Paul-Lewis terbaik There ‘William’ Be Blood yang menjadikan mereka menang banyak Oscar.

What precisely is the nature of my game? The art of being. Monastic life. Elegant crafted!

Phantom Thread | Year 2017 | Directed by Paul Thomas Anderson | Screenplay Paul Thomas Anderson | Cast Daniel Day-Lewis, Vicky Krieps, Lesley Manville | Skor: 4/5

Karawang, 060317 – American Authors – Best Day of My Life

Hari H pengumuman Oscar, pas kupos pagi sebelum berangkat streaming.

2 thoughts on “Phantom Thread: Perang Batin Dua Jam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s