Phantom Thread: Perang Batin Dua Jam

Reynold Woodcock: When I was a boy, I started to hide things in the lining of the garments. Things only I knew were there. Secrets.

Film ter-ngegoliam Oscar tahun ini. Perang batin, meledak-ledak sepanjang kisah. Benar-benar butuh kesabaran ekstra karena untuk menunggu Daniel Day-Lewis ngomong aja penuh perhatian, nunggu-nunggu dengan cemas akan titah seakan apa yang dikatakan adalah sabda Nabi. Kunyah sayur aja ya, sampai lima menit. Film perang batin terdahsyat tahun ini.

Film dibuka tanpa tulisan apapun. Kita langsung memasuki kehidupan Woodcock. Tentang seorang designer baju ternama tahun 1950an di London, Reynold Woodcock (dimainkan dengan dingin oleh Daniel Day-Lewis). Pasca Perang Dunia yang melelahkan, dunia butuh hiburan. Dituturkan oleh sudut pandang seorang gadis pelayan restoran Alma (Vicky Krieps) yang terpesona. Suatu ketika Reynold datang, memesan dan dengan tatapan sendu yang akan bikin cewek-cewek salting mengajak makan malam sang pelayan. Ajakan itu diganggapi dengan secarik kertas yang sudah disiapkan bahkan sebelum ditanya: ‘For the hungry boy, my name is Alma’ dengan gambar lucux setangkai bunga di samping namanya.

Sebuah awal yang romantis, karena secara naluri penikmat fiksi, mereka nantinya pasti bersama. Tak salah, memang, tak salah walau prosesnya tak dikira. Karena memang dari ajakan makan malam itulah akan ada malam-malam yang lain. Reynold sendiri terus memandang kecantikan Alma dengan cara yang tak lazim, seakan akan menerkamnya, seakan penuh kasih dan perhatian berlebih, sangat fokus. Mulailah mereka mencoba mengenal satu sama lain. ‘Jika kau ingin melakukan kontes menatap dengan ku kau akan kalah.
Reynold adalah perancang busana kelas wahid. Rich and famous. Melajang hingga tua, memang sudah jadi kutukan bahwa perancang baju pengantin tidak akan menikah, atau kalaupun iya akan merana. Adiknya juga. ‘Wah kamu kan dikelilingi cewek-cewek seksi, berarti banyak dong gebetan?’ logika awam kita pastinya sejalan sama Alma. Namun Reynold memang tak seperti orang kebanyakan. Mencintai kerja all-out. Lahir batin, wow. Benar-benar mencurahkan tenaga dan pikiran untuk sebuah kesempurnaan. Ia lebih nyaman dengan ketenangan dan kain dan alat jahit ketimbang jalan sama cewek, ke pesta misalkan. Benar-benar workaholic. The tea is going out, the interruption is staying here with me. Bayangin, gara-gara adukan teh yang berbunyi klonteng-klonteng-klonteng saat makan bersama saja, komplain. Bagaimana enggak, lha makan saja ia masih sambil pegang pensil dan buku. Gila! Fokus kelas dewa.

Akhirnya memang Alma direkrut untuk menjadi model rancangan baju, masuk ke dunia fashion, berkenalan lebih dekat kehidupan glamour ala 50an, dan memasuki The House of Woodcock. Mobil yang dipakai Reynold adalah Bristol 405, itu mobil yang sama dikendarai David Goldman di An Education berplat WDF 964. Adik Reynold, Cyril Woodcock (Lesley Manville) selama ini mengurus segala kehidupan sang kakak dari rancangan busana, atur royalti, jadwal kerja sampai menjadi saksi kehidupan pribadi sang designer – masa lalu yang suram dan hopeless menyaksikan kakaknya menikah. Maka saat ada gadis desa lugu memasuki rumah mewah mereka, ia tak terlalu antusias. Awalnya.
Lihatlah, cara memperlakukan Alma saat mengukur badan, terdengar kasar. Namun, waktu mengubah banyak hal. Alma ternyata lebih cerdas ketimbang gadis lain. Lebih tahu keadaan, dan benar ia jatuh hati, akan kulakukan segalanya untuk Reynold. Maka ia pun menjelma penting dalam keluarga ini. Memasak, membantu kerja dan siap mengikuti aturan. Poin penting yang mengkhawatirkanku adalah saat mencari jamur di kebun liar. Pisahkan mana yang bisa dimasak mana yang beracun, ada di buku resep dapur. Bagian ini membuatku takut, duh please jangan diracun, please. Reynold memang menyebalkan, tapi kalau ga cocok ya keluarlah dari sana, ga perlu diganggu. Setiap kehidupan memang beredar dengan cara dan aturan sendiri, punya rotasi berbeda tiap individu. Semua orang punya plus minus, lantas kalau ada orang yang tak sepaham dan tak satu arah dengan kita ya minimal tak melibatkan diri. Tidak, Alma sudah jatuh hati dan akan memperjuangkan haknya di Woodcock House.

Maka suatu malam ia meminta Cyril dan seluruh penghuni untuk pergi saat Reynold pulang, biar hanya ada dia yang menyambut. Alma akan memasak spesial, ia akan menyambut hangat sang pangeran, akan jadi makan malam romantis dengan lilin dan tatapan mesra. Ide gile itu tentu saja ditentang sang adik, ia tahu ini akan berjalan berantakan, Cyril yang sudah kenal luar dalam pasti tahu ini tak kan berjalan sesuai impian Alma. And who is this lovely creature making the house smell so nice? Dan ta-daa… adegan yang kumaksud, kunyah batang sayur lima menit tersaji. Absurd, class! Menghentak, marah, perang batin, dan bisa kita duga segalanya memang berantakan. Kecewa Alma, menyusun rencana jahat. Mencari jamur, kali ini bukan jamur aman untuk dimakan. Justru memilah jamur beracun. Duh, seram. Alma bukan hanya muse and lover, ia tak seperti gadis lainnya yang pasrah. Ia punya kekuatan. Bagaimana akhir kisah pilu ini? Kalian akan salah duga, saya terkejut. Wow. Cockwood gilax!Kiss me my gilr, before I am sick’

Film ini memang jadi hebat berkat akting Day-Lewis. Aura dan kharismanya tak tertahankan. Luar biasa, ia berhasil mengubah segalanya. Film tentunya akan jauh berbeda bila aktor lain yang memerankan, Daniel Craig misalkan. Krik Krik Krik. Jelas Lewis adalah aktor berkelas. Anderson benar-benar memanfaatkan setiap momen, kamera benar-benar fokus ke beliau. Tensi dan emosi dikuras, semua tercurah demi dia. Tak heran masuk lagi nominasi best actor.

Walau bukan penampilan terbaik Lewis, tapi tetap Phantom adalah perpisahan berkelas. Pada tanggal 20 Juni 2017, beliau mengumumkan pensiun dari dunia akting. Kita hormati keputusan hidupnya. Kita akan merindukan karakter kharismatik kelas satu. Syukurlah film terakhirnya sangat bagus, komitmen beliau pilih pilah peran bukan isapan jempol. Hebatnya ia bisa aksen British demi peran ini.

Phantom sejatinya hanya menonjolkan tiga karakter. Lewis sebagai pusat perhatian, Vicky sebagai pusat cerita, sang narator dan Lesley sebagai peran bantu penyeimbang dua karakter beda sifat. Selebihnya hanya tempelan, termasuk pak dokter yang sempat mengusik atau Ratu dan para pesohor sekedar lewat.

Ide pembuatan film terinspirasi saat Paul sakit satu hari penuh terbaring di ranjang. Istrinya Maya Rudolph terlihat tak seperti biasanya, imaji liarnya merespon ‘bagaimana kalau sakitnya justru disebabkan orang yang merawatnya?’ wuih keren, blessing in disguise. Lewis mempelajari tren pakaian era 40an dan 50an untuk dapat mood cerita, ia dan Vicky bahkan tak dipertemukan sama sekali selama proses rancang, mereka bertemu pas di syuting hari pertama untuk membuat impresi cinta yang dalam. Film dengan rancang bangun baju. Hebatnya Paul komitmen tak ada iklan. Ini adalah film personal yang ditulis langsung olehnya dan Lewis jadi tak boleh ada tempelan atau pesanan pihak luar. Cool. Kalau punya duit dan kelas memang bisa idealis ya. Beda sama film maker kere yang mengemis sponsor. Film didedikasikan untuk Demme. Siapa Demme? Sahabat Lewis yang meninggal saat akhir syuting karena sakit kanker. ‘It’s comforting to think the dead are watching over the living. I don’t find that spooky at all’

Bagiku tetap kolaborasi Paul-Lewis terbaik There ‘William’ Be Blood yang menjadikan mereka menang banyak Oscar.

What precisely is the nature of my game? The art of being. Monastic life. Elegant crafted!

Phantom Thread | Year 2017 | Directed by Paul Thomas Anderson | Screenplay Paul Thomas Anderson | Cast Daniel Day-Lewis, Vicky Krieps, Lesley Manville | Skor: 4/5

Karawang, 060317 – American Authors – Best Day of My Life

Hari H pengumuman Oscar, pas kupos pagi sebelum berangkat streaming.

The Shape of Water: Bizzare Fairy Tale

Stickland: You may think, ‘That Thing looks human’. Stands on two legs, right? But, we created in the Lord’s image. You don’t think that’s what Lord looks like, do you?

Film yang sekedar bagus. Aneh sekali juri Oscar memberi 13 nominasi, overated! Sebagai komitmen saya yang tak terlalu suka film ini, saya tak menjagokan satupun akan dimenangkan. Sejatinya saya penggemar film-film Del Toro, Pan’s Labyrinth tetap yang terbaik. Sayang sekali saat beliau dilirik penghargaan tertinggi untuk kategori bergengsi justru malah saat film yang seperti ini.

Kisahnya tipikal Hollywood. Saya bahkan sudah bisa menebak ending-nya ketika menit baru berjalan 10. Jelas sekali, akan ke mana arah film ini saat tahu gadis bisu jatuh hati sama makhluk air yang terkekang, apalagi saat penjelasan singkat dari mana asal Elisa, klise sekali. Perkenalan, penyelamatan, pertentangan – sedikit, dan happy ending. Kenapa film pole position Oscar justru kisah semacam ini?
Kisahnya dibuka dengan narasi pria bersuara bareto dengan setting sebuah ruangan penuh air. Ruangan berisi segala perabot itu ada dalam air, ia bertutur tentang peri, tentang kisah putri dan monster air yang dicinta. Sang narator adalah Giles, pria penyendiri yang jadi saksi peristiwa Beauty and the Beast. If I told you about her, what would I say? I wonder.

Elisa Esposito (Sally Hawkins) dan Zelda Fuller (Octavia Spencer) adalah duo petugas cleaning service di sebuah badan pemeriksa antariksa The Occam Aerospace Research Center. Elisa bisu, tapi bisa mendengarkan sejak lahir? Entahlah, ia tak tahu siapa orang tuanya karena dibesarkan orang lain saat bayi ditemukan di pinggir sungai. Ia begitu mencintai sebuah sepatu, sebuah tampikan halus untuk Cinderella. Kolonel Richard Stickland (dimainkan dengan aneh oleh Michael Shannon) adalah Penanggungjawab utama penelitian temuan makhluk laut yang dikerangkeng. Makhluk air laut itu disebut ‘Asset’ (diperankan tanpa dialog oleh Doug Jones – yang punya peran juga dalam Hell Boy sebagai Abe) – manusia ikan humanoid? Stickland memperlakukannya dengan sadis. Menggunakan pentung listrik, sehingga saat melawan akan distrum. Kejam, aneh, ga jelas. Dokter Robert Hoffstetler (Michael Stuhlbarg) adalah kepala penelitian, ia sudah tampak tak wajar sejak awal diperkenalkan. Bisa bahasa Rusia, melakukan pertemuan-pertemuan rahasia, dan menyimpan sebuah misteri. Dengan setting Baltimore tahun 1960an, perang dingin yang berlangsung dan segala kecurigaan bisa menjadi bencana. Setting yang sama dengan Pan’s Labyrinth nih. Ternyata benar, ia adalah agen rahasia Soviet bernama Dimitri. As Lenin said, There is no profit in last week’s fish.

Suatu saat terjadi kegaduhan di ruang teliti, dua jari sang kolonel putus karena suatu hal ketika dekat si makhluk. Elisa dan Zelda dipanggil untuk membersihkan darah yang tercecer, dua potongan jari ditemukan. Elisa menemukan koneksi saat dekat dengan Asset, maka saat ada kesempatan masuk dan berinteraksi ia membawa telur yang disambut suka. Perkenalan tanpa bicara, hanya mengandalkan isyarat cinta – eheemmm. Pertemuan mereka dipergoki dokter Robert tapi tak menegur, hanya memperhatikan dalam gelap, yang lalu melapor pada bos Rusia-nya bahwa makhluk itu kemungkinan bisa berkomunikasi. ‘Waktu hanyalah sungai yang mengalir dari masa lalu kita.’

Sementara Elisa keseharian tinggal bertetangga dengan Giles (Richard Jenkins) adalah pelukis, mereka tinggal apartemen di atas sebuah gedung bioskop sepi Orpheum yang sedang menayangkan ‘Triumphant Return of The Story of Ruth & Mardi Grass’. Nantinya ada adegan absurd bagimana bisa makhluk itu di tengah kuris kosong bioskop yang menayangkan film? Dan imaji nyanyi tak lazim. Berkomunikasi dengan isyarat, mereka menampilkan adegan aneh saat beli kue lime ‘Pie Guy’, menonton tv hitam putih dan walau langganan kue yang tak enak mereka selalu berulang. Kenapa Giles selalu beli akan diungkap dengan sedih, nantinya.

Atasan Stickland, Jenderal Hoyt (Nick Searcy) memberi tenggat waktu akan ke arah mana penelitian ini. Dan kemudian memutuskan membolehkan membedah sang makhluk, dokter Robert yang tahu mencoba melawan. Maka terjadilah konspirasi pelarian diri. Elisa membantu membawanya keluar dalam gerobak binatu, Zelda yang tahu membantu, Giles menyupiri, dokter Robert memasang bom (made in Israel) untuk mematikan listrik agar CCTV tak aktif, dan walau ada adegan tembak-tembakan kalian pasti bisa menebaknya.

Di apartemen sang makhluk ditempatkan di bak mandi yang ditabur zat asin dan garam melimpah. Sembari menunggu Hari H pelepasan ke laut liar pada saat hujan mengisi air kanal yang akan membawanya ke laut luas, mereka mengakrabkan diri. Tangan Giles terluka tak sengaja, ternyata bisa disembuhkan seketika ketika disentuh makhluk. Kepala botaknya jadi tumbuh rambut, luka separah apa bisa disembuhkan. Wow, minta royalti nih ke Wolverine. Apakah Elisa nantinya bisa ngomong kalau lidahnya dicium? ‘No name no ranking, they just clean’.

Stickland diberi waktu tenggat 36 jam untuk kembalikan makhluk. Dokter diberi waktu 48 jam untuk eksekusi keputusan agen rahasia. Kill it, destroy it. Elisa punya waktu yang mendesak menuju hari pelepasan. Semua punya kepentingan, bagaimana akhir makhluk air laut itu?

Fairy tale snob, aneh dan yah standar. Tak ada yang istimewa, ketebak dan harapan tinggi sebagai pemegang nominasi terbanyak tak terbukti berkualitas tinggi. Inspirasi Asset dari film The Black Lagoon. Tampilan makhluknya juga tak wow, kalau pembandingnya karya Del Toro yang punya Hell Boy dan sobat Princess Ofelia, jelas Asset tidak ada apa-apanya. Apakah ada kemungkinan Asset adalah pasukan neraka yang terlepas? Del Toro memastikannya tidak ada hubungan dengan The Golden Army. Di Soviet ada novel dengan tema yang mirip karya Belyaev berjudul Amphibian Man yang terbit tahun 1928. Inspirasi?

Michael Stuhlbarg dalam seminggu ini kutonton beruntun, kok bisa? Sebab ternyata dia juga ambil bagian di film Call Me By Your Name dan The Post. Sedang naik daun nih, seperti Lily James yang juga ada dalam Baby Drive dan Darkest Hour. ‘What am I doing, interviewing the help?’ Pemilihan nama Elisa sendiri tak sembarangan karena merujuk pada Eliza dalam My Fair Lady-nya Audrey Hepburn. Terlalu banyak referensi film ini yang menyambungkan karya lain.

Unable to perceive the shape of you, I find you all around me. Your presence fills my eyes with your love, it humbles my heart, for you are everywhere.’ – Rumi

Let me hear you whispher!

The Shape of Water | Year 2017 | Directed by Guillermo del Toro | Screenplay Guillermo del Toro, Vanessa Taylor | Cast Sally Hawkins, Michael Shannon, Richard Jenkins, Octavia Spencer, Michael Stuhlbarg, Doug Jones, David Hewlett, Nick Searcy, Steward Arnott | Skor: 3/5

Karawang, 040318 – Pitbull – Wild Wild Love

Prediksiku Di Oscar 2018: #SacramentoProud

Pertama kalinya saya bisa menuntaskan tonton seluruh kandidat best picture. Pertama kalinya pula saya tak beli dvd bjgbye bye DVD player yang barusan saya service solder, karena sudah ganti HP dan unduh di LK21.org yang nyaris semua film dikejar dari sana. Thx to Rani Wulan S.Kom. Tahun ini saya akan nonton live untuk yang ke sembilan tahun beruntun. Izin cuti besok sudah kukantongi. Setelah mendapat hasil buruk hari ini, Lazioku kalah menit ke 92 dan Roma menang meyakinkan ke Naples, semoga Senin akan lebih cerah. Berikut 14 tebakanku.

#14. Animated feature filmCoco

Alasan: Tema kartun yang hebat, kehidupan setelah kematian.

Saya hanya nonton satu film dan sudah cukup yakin Pixar menang lagi. Bagian animasi memang paling mudah ditebak, dari dulu tipikal ceria anak-anak dengan tema cerita tak lazim masih sangat disukai juri Oscar.

#13. Actor in a supporting role – Woody Harrelson (Three Billboards Outside Ebbing, Missouri)

Alasan: Dengan dua wakil dari Three Billboards, rasanya kategori ini hanya untuk Woody atau Sam.

Sayang saja Ray Ramona-nya Big Sick tak masuk. Bagian saat pembacaan surat perpisahan di depan kandang kuda itu sangat menyentuh, tema kematian tapi dibawakan dengan komedi satir. Aneh sekali lima menit lalu saya ketik Sam lho, ga tahu kenapa saya malah backspace dan ganti Woody. Juri selalu suka orang-orang yang bernasib tragis. Luka bakar masih bisa diobati, tapi kematian adalah akhir dari perjalanan fana.

#12. Actor in a leading role – Gary Oldman (Darkest Hour)

Alasan: Pidato ending yang luar biasa, perubahan dratis Oldman dengan prostetik make up

Timothee Chalamet bisa langsung kita coret karena tema gay berciuman sudah tak menarik. Day-Lewis seperti sebelum-sebelumnya yang kharismatik, perpisahan manis. Denzel terlepas. Kaluuya yang pendatang baru justru tampil manis dengan senyum dan air mata di ruang karam. Namun jelas, tak terbantahkan sejarah mencatat perubahan tampilan fisik sudah sangat sering dicatat juara. Tahun ini hanya bencana besar yang bisa mengalahkan Sirius Black.

#11. Actress in a supporting rose – Laurie Metcalf (Lady Bird)

Alasan: Boyhood versi cewek, Patricia Arquette-nya tahun ini.

Senang sekali lihat Laurie mengatur Saoirse. Khas hubungan ibu-anak dimana saat dekat saling marahan, saat jauh rindu. Apalagi saat anak remaja yang beranjak dewasa, di mana banyak pilihan masa depan terbentang, sang ibu hanya menuntun. Sedih, senang, sendu, sayang.

#10. Actress in a leading role – Saoirse Ronan (Lady Bird)

Alasan: Penampilan terbaik Saoirse Ronan, kesempatan ketiga, wajib diganjar piala.

Pesaing sejatinya hanya Frances McDormand yang membara dan luar biasa. Kalau bukan fanatisme, rasanya sang ibu yang melempari kantor polisi dengan api akan menang. Namun Saoirse juga luar biasa hebat menghadapi ibu yang posesif dan ayah yang defensif. Bagian saat ia meminta nominal uang asuh itu absurd, sakit memang sekaligus menyentuh hati terdalam.

#9. Music (original song) – “This is Me” (The Greatest Showman)

Alasan: Saya sudah nonton kandidat lain, terasa biasa.

Saya belum menonton The Greatest Showman, tapi melihat pesaing lain yang biasa rasanya mending menjagokan filmnya Jackman. Apalagi film musikal punya sejarah dominan menang bagian ini. Kenapa Never Forget-nya Michelle Pfeiffer ga masuk ya?

#8. Makeup and hairstyling – Darkest Hour

Alasan: Oldman jadi ga kayak Oldman, sangat berbeda dari Black yang saya kenal

Kalau ga tahu cast sebelum menonton kalian pasti pangling. Sama seperti saat Tom Cruise ambil bagian di Tropic Thunder yang dance aneh itu. Saya terkejut saat di credit title muncul namanya. Sampai butuh tiga jam hanya untuk mendandani satu aktor? Ini gila.

#7. Visual effects – Guardians Of The Galaxy Vol. 2

Alasan: I am Groot! Hahaha.. sinar di mana-mana

Saya baru lihat Guardians dan War For. Banyaknya review negatif film sama tinggi dengan ulasan negatfi-nya. Namun kita sepakat, film ini memiliki efek visual luar biasa. Perang antar galaxy yang melelahkan, untung Mantis punya antena.

#6. Music (original score)Dunkirk

Alasan: Skor film bahkan jauh lebih bagus ketimbang ceritanya.

Sudah saya plot musim panas tahun lalu. Sudah saya prediksi, minimal masuk nominasi – terbukti ‘kan. Iringan musiknya berkejaran beriringan lari pasukan Inggris yang terdesak serangan Jerman dari udara, laut dan darat. Saingan utama The Shape of yang memang bagus menyertai makhluk air, tapi tetap komitmen jago – apakah juga terbukti?

#5. Cinematography – Blade Runner 2049

Alasan: Angka 14 adalah angka istimewa.

Sebenarnya tadi sudah ketik Mudbound, tapi berubah pikiran berkat teringat angka 14, angka spesial. Henry, Keita, Simone, dkk. Angka yang menjadi jimat Roger Deakins untuk pecah telur. Come on doa penggemar King of Highbury menyertaimu.

#4. Writing (adapted screenplay) – Mudbound

Alasan: Narasi yang hebat

Adaptasi novel memang harus seperti ini. Kenikmatan membaca berhasil dialihkan ke pendengaran. Narasinya juara, seperti menikmati novel audio. Sebenarnya suka sekali Logan, tapi sayang sekali kesempatan langka superhero masuk kategori bergengsi ini bersamaan dengan kegemaranku di seni tulis. Dosa besar kalau saya tak menjago takdir yang menyertai dalam lumpur.

#3. Writing (original screenplay) – Lady Bird

Alasan: diary, screenplay, moving picture

Ini kategori favoritku. The Big Sick bisa dicoret. The Shape yang biasa saja juga yakin bisa dihilangkan. Lady Bird yang memang jadi film istimewaku, tak mungkin tak kujago. Terlihat sekali ini adalah pengalaman hidup Greta Gerwig yang sukses diaplikasikan di layar. Three Billboards yang menang menghentak bisa saja, tapi saya akan histeris andai yang menang Get Out.

#2. Directing – Greta Gerwig (Lady Bird)

Alasan: Look like a memory, kita satu angkatan Bu.

Satu-satunya kandidat wanita, keputusan tepat memilih Saoirse di mana kisah penunjukan cast-nya berturut dengan Brooklyn. Hebat sekali, bisa menulis cerita pribadi, menuliskan naskah dan memfilmkan, serta hasilnya qualify. Ganjaran piala akan menyempurnakan itu.

#1. Best picture – Lady Bird

Alasan: For Saoirse. For Gerwig. For Sacramento

Saya akan ulasan sepintas semuanya. Skor, satu kalimat, dan pendapat singkat:

* Call Me By Your Name – 2/5 cheesy, hebat kalau kalian bisa menuntaskan tonton tanpa mengantuk. Tema homo, coming of age yang berat, dan orang asing yang berhasil mencuri hati. Jelas peluangnya paling kecil.

* Darkest Hour – 4,5/5 powerful speech, Film biografi tahun ini. Sungguh memikat, selama ini saya hanya tahu Churchill dari buku-buku – pemenang Nobel Sastra Bro, ini adalah film tentang dirinya pertama yang kutonton dan langsung memikat. Film ini lebih pada aksi tunggal Oldman, bukan milik Joe Wright.

* Dunkirk – 4/5 technical masterpiece, kejutan musim panas. Secara kulitas cerita biasa, Nolan kalau sampai menang justru ironis karena beliau terkenal sebagai master twist ending, masak di puncak pas pamer skill teknik? Lelucon tak lucu

* Get Out – 5/5 sunken place, saya akan kasih aplaus khusus kalau sampai juri Oscar berani memenangkannya. Ini jelas film yang melawan arus, ide brilian memasuki pikiran manusia dengan meletakkan penghuninya di ruang karam. Hebat, canggih, gila.

* Lady Bird – 5/5 Sayangku Saoirse, sesubjektif saya, saya tak pegang Broonklyn dua tahun lalu. Walau film itu sangat personal tapi jelas posisinya tentang cinta yang jauh akan sulit menang. Kali ini Lady Bird sangat layak, sangat pantas. Sebuah kesuksesan tersendiri biografi tak resmi diri sendiri bisa menang di piala tertinggi. #PalurProud

* Phantom Thread – 4/5 ini film Daniel Day-Lewis, bukan Paul Thomas Anderson. Mau dipegang Paul Thomas ataupun Paul Rudd tetap saja akan bagus kalau punya cast semewah Lewis. Film ngegoliam perang batin dua jam yang hanya disukai kaum snob. Jiah, saya nilai 4 bintang shob juga nih? Hiks…

* The Post – 3.5/5 Newspaper Power, sudah sangat banyak film tentang Perang Vietnam, sudah sangat banyak pula film tentang media cetak yang mengungkap fakta rahasia, tapi jelas The Post bukan yang terbaik.

* The Shape Of Water – 3/5 Beauty and the Beast in Nude Mode, 13 nominasi untuk film macam gini? Bah! Del Toro punya masterpiece Pan’s Labyrinth, jadi ini bukannya grafik naik malah drop. Cerita, akting, teknikal, semua biasa. Ampun deh, jangan hilangkan kepercayaan kami, please bapak ibu juri.

* Three Billboards Outside Ebbing, Missouri – 4/5 Membara Berkobar Terbakar, inilah favorit juri sesungguhnya. Kalau kalian jagoin film ini kalian ikuti arus aman laiknya La La Land, Spotlight, Birdman, 12 Years A Slave, Argo, The Artist, dst. Hidup tak seru da menarik kalau tak ada kejutan, dalam delapan tahun terakhir Best Picture Academy Award yang kusaksikan para juri hanya punya keberanian memilih keluar jalur rel kereta tahun lalu. Bagaimana tahun ini?

Karawang, 050318 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Catatan tambahan: Saya ketik prediksi ini tanpa browsing, tanpa buka referensi, tanpa pembanding siapapun dari media sosial ataupun copas pendapat orang lain. Murni penilaianku dari menonton yang mungkin terdengar subjektif. Baiklah, Baby Driver ternyata belum kusebut, perkiraanku bakal menang minimal satu piala, tapi bagian editing tak kucantumkan karena mulai tahun ini saya hanya akan memilih 14 kategori.