Darkest Hour: Oldman Triumph

Winston Churchill: Nations which go down fighting rise again, and those that surrender tamely are finished.

Wow. Powerful Speech. Tak ada keraguan, Gary Oldman pasti menang best actor. Berkat Darkest Hour saya akan jagokan England juara Piala Dunia 2018. Simpati, doa, dukungan, harapan. Orator ulung, kalimat-kalimat akhir film ini sungguh menggugah. Mak jleb!

Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain (Ronald Pickup) mundur di bulan Mei 1940 karena kehilangan kepercayaan dalam menghadapi krisis, dan parlemen segera mencari pengganti. Krisis yang dimaksud adalah Jerman dengan Hitler-nya sedang meruntuhkan negara-negara tetangga, saat ini sedang di perbatasan Belgia dan segera merembet Perancis yang tentu saja Inggris dalam posisi tak nyaman. Welcome to War World II film! Housepainter.

Ini adalah salah satu film sejarah/biografi terbaik yang pernah dibuat. Benar-benar menghentak, memotivasi, memberikan semangat meluap. Saya jadi membayangkan suatu saat sang Proklamator Ir. Soekarno di film-kan Hollywood, pasti akan sangat heboh. Orator ulung yang tak kalah glamor dalam memicu nasionalis warga. Ataukah sudah ada yang buat?

Juru ketik cantik Elizabeth Layton (Lily James – film kedua Oscar yang kutonton setelah menggoda Baby Driver) direkrut menjadi sekretaris Winston Churchill (diperankan dengan gagah oleh Gary Oldman). Diperkenalan awal, tak berjalan lancar. Salah ketik, salah dengar, salah komunikasi ‘banyak banyak banyak…, ada berapa banyak?’ Istrinya Clemmie (Kristin Scott Thomas) menasehatinya, ‘ojo kasar-kasar lah dadi uwong. Dah tua. ‘Yes I am afraid you are.’ Telegram yang menjadikannya Perdana Menteri diterima Layton saat ia akan kabur, seorang pengantar pesan memberinya dengan cuek. Ragu, lantas berbalik, dan siap melanjutkan pekerjaan.

Sang Raja George VI (Ben Mendelsohn) mengundang Churchill ke Buckingham Palace, setelah menerima pengunduran diri Chamberlain ia menyambut dengan absurd. ‘Well even a stopped clock is right twice a day.’ Memang kalau menerima perintah Raja dan tunduk gitu harus cium tangan ya? Churchill ternyata tak sepenuhnya didukung banyak pihak, ia memang jadi pengambil kebijakan utama, tapi banyak suara sumbang dan penentang di sekitar parlemen. Di film ini jelas sekali ditunjukkan ada pertemuan tatap muka rahasia antara mantan Pendana Menteri dan sekjen luar negeri Lord Halifax (Stephen Dillane). Halifax digambarkan tak suka Churchill, menginginkan perdamaian dengan pihak Jerman, sering minta perantara Italia. Ia terus menekan Churchill, ayo bos kita gencatan senjata, tersamar tapi jelas ada aura ketakutan yang menggantung di udara. ‘Will you stop interrupting me while I am interrupting you!’ Chamberlian ternyata sakit kanker dan mengkhawatirkan akan menyaksikan Inggris jatuh di sisa hidupnya. Nantinya ia justru mendesak sang raja kembali mencopot Churchill yang dirasa tak klasify. Konflik yang memang sangat dibutuhkan film berkualitas, sampai di sini mulai bercabang rumit. Antara pendapat pribadi para oposisi, keluarga sang pejabat dan tentu saja kepentingan utama Negara yang terus terancam, didesak waktu.

Keputusan berat pertama harus diambil sang Perdana Menteri, saat ada 300,000 pasukan yang terdampar di Dunkirk dan dalam gempuran Jerman, apakah perlu mengirim pasukan penyelamat atau segera membantu negara tetangga Perancis yang mulai goyah. Rencana penyelamatan dirahasiakan, ia menuju Perancis dulu untuk diskusi kebijakan darurat. Bagian ketika ia mencoba berbicara dengan Pihak France terlihat lucux, Oldman yang coba merebut simpati terasa berlebihan. ‘Negara sahabat, kita pasti bisa melewati masa ini seperti yang sudah-sudah, apa serangan balik yang dipersiapkan, jadi apa rencanamu?’ Well, tak ada rencana! Wew pasrah gan.

Melalui siaran radio, Churchill menghimbau agar warga siap mengeratkan tangan dan siap melawan. Pertemuan dengan Perancis ada kemajuan, maka kita harus berani hadapi tirani gelap ini, bersiaplah perang demi kemenangan kita! Dengan background wilayah-wilayah runtuh dalam serangan Jerman, sungguh kalimat menggugah itu adalah ironi. Suatu ketika ia berfoto dengan dua jari membentuk V yang berarti Victory. Namun sang sekretaris menjelaskan V bisa artinya ‘up your bum’, makna negatif dan positif. Sampai sejauh mana Inggris Piala Dunia nanti?

Di Dunkirk yang darurat, butuh pertolongan, Churchill berencana mengirim 4,000 pasukan untuk melakukan evakuasi, ide itu ditentang para Lord karena seperti misi bunuh diri. Frustasi, ia meminta bantuan Amerika untuk mengirim 40 mesin penghancur. Melalui sambungan telpon jarak jauh Presiden Franklin Roosevelt tak langsung bilang tidak. Secara halus menolak karena kena aturan perang, bisa saja ia mengirim bantuan pasukan berkuda , pasukan tanpa mesin. Bah! Ngeledek ini. Ekspresi Churchill yang berang tapi tetap berkata halus sungguh mengaharu.

Sementara para Lord mendesak meminta Churchill untuk segera berunding damai saja sebelum Herr Hitler menyerang pelosok negeri. Desakan yang makin membuatnya pening, apalagi Halifax malah mengancam 24 jam lagi ia mundur kalau negosiasi tak segera diapungkan. Situasi mendesak itu mengakibat, rencana pengiriman pasukan bantuan diurungkan. ‘He mobilized the English language and send it into battle.’ Dan Churchill justru menjawabnya dengan membentuk Operasi Dinamo dengan melibatkan warga sipil dengan meminta mengirim perahu/kapal ke Dunkirk, ralat ini bukan permintaan, ini perintah! Ide yang terdengar aneh, sipil dilibatkan militer, tapi tidak. Ini jelas ide brilian. Hebat! Apa yang terjadi berikutnya kalian bisa lihat di film karya Nolan yang teknikal unsurnya luar biasa, yang entah kebetulan atau sengaja rilis bersamaan di tahun Oscar.

Belgia akhirnya menyerah. Perancis segera menyusul. Inggris ketar-ketir. Lukaku mejan, Pogba mandul, Rooney pindah. Churchill yang punya opsi menyerah atau berani melawan digdaya Jerman akhirnya menemukan jawab dari kaum jelata. ‘You can not reason with a Tiger when your head is in its mouth.’ Saat di West End, London lalu lintas macet, dan mobil terhenti, ia memutuskan kabur. Naik kereta bawah tanah, membaur dengan warga. Berdiskusi langsung. Meminta api buat rokoknya, warga yang shock karena ada orang penting di kursi kereta pada terdiam dan manut. Ia berdiri, penumpang ikut berdiri. Ia duduk, semua menunduk. Hormat. Sang Perdana Menteri menanyakan, meminta saran dan memastikan apa yang harus kalian lakukan saat ini? Tunduk ke Jerman atau terus melawan? Luar biasa, suara bulat: Lawan! Saya lebih baik mati tercekik darah di tanah merdeka ketimbang menjadi budak. Wow, para warga biasa ternyata punya jiwa ksatria ketimbang para pejabat yang kecut.

Maka saat kereta berhenti di Westminster ia berjalan ke gedung dengan kepala tegak penuh percaya diri. Mengutarkan suara rakyat, mereka para pemberani yang tak takut berperang. Maka jadilah final act, pidato beliau yang terkenal itu. Adegan akhirnya luar biasa menggugah, parlemen mengibarkan, menggelombangkan sapu tangan dan kertas-kertas bertaburan yang tentu saja sepakat bulat, Lawan!

Saya sudah prediksi pasti pidato itu akan dijadikan boom, gong penutup film. Kenapa? Ya karena saat penonton mengakhirinya aura membuncah masih sangat menempel, akan terkenang. Hebat! Joe Wright memenuhi harapan itu. sempat bilang Darkest Hour is movie of the year, sesaat setelah tulisan credit berjalan. Namun kini saya ralat, Orient Express tetap yang terbaik, sejauh ini. Hehe…

Succes is not final. Failure is not fatal. It is the courage to continue that counts.’

Epilog text kurasa tak perlu karena jelas ini film historikal yang kisahnya ada di banyak buku sejarah. Bisa jadi Dunkirk-nya Nolan adalah sekuel Darkest Hour versi popcorn. Atau The Darkest Hour adalah prekuelnya? Hahaha…

V for Victory. Koran-koran jadul yang menunjukkan keklasikannya dimunculkan, salah satunya sebuah koran terbitan Daily Express yang memuat headline ‘Change must be made quickly’. Jadi membayangkan zaman itu betapa mencekam.

Sepanjang film, raut Oldman yang kharismatik ditutupi. Ia menjadi tambun, gugup dan tertekan. Dengan cerutu dan minuman berwarna, segala yang diperbuatnya seolah menjadi sabda. Oldman mempelajari setahun terakhir sebelum mengambil peran ini. Ganjaran yang pas. Saat dia dianugerahi dalam Golden Globe, ia mengucapkan terima kasih untuk istri Gisele yang telah menjadikannya keren, serta ironi ‘I go to bed with Winston Churchilland wake up with Gary Oldman.’ Patut dinanti apa yang diucapnya Senin nanti. Komisaris Gordon, Sirius Black, George Smiley, Vladislav Dukhovich, Winston Churchill. Puncak Oldman, akhirnya Oscar!

Sepintas mengenai Churchill. Karena saya pengikut Nobel Sastra, maka beliau tentu saja akan selalu dikenang berkat kemenangannya di tahun 1953. Churchil adalah anggota partai Konservatif sebelum akhirnya pindah ke Partai Liberal. Di tahun 1931 saat partainya menang Pemilu ia tak dilibatkan Ramsay MacDonald dalam kabinet, menjadikan titik terendah karir politiknya. Ia lalu malah menulis buku History of the English Speaking Peoples, yang diterbitkan setelah Perang Dunia II. Beliau adalah penentang utama Chamberlain yang menjadi penggembira Hitler, maka ketika ia menjadi Perdana Menteri tahun 1940 ia melawan, memperkuat persenjataan. Pidato awal setelah dilantik sangat terkenal memang inspiratif, ‘Saya tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kecuali darah, kerja kuat, air mata dan peluh.’

Karena kenekadnya menentang arus, ia banyak musuh di parlemen maka tak heran kalah telak pasca perang dari Partai Buruh. Barulah tahun 1951 Churchill kembali menjadi Perdana Menteri, dua tahun berselang dapat gelar Sir dan menang Nobel Sastra. Kalimat paling fenomenalnya, yang menjadi final speech film ini akan selalu dikenang generasi ke generasi berikutnya.

Kita akan mempertahankan pulau kita, walau apapun harganya, kita akan bertempur di pantai, kita akan bertempur di tempat pendaratan, kita akan bertempur di padang dan di jalan, kita akan bertempur di bukit, kita tidak akan sekali-kali menyerah!

Darkest Hour | Year 2017 | Directed by Joe Wright | Screenplay Anthony McCarten | Cast Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Ben Mendelsohn, Lily James, Ronald Pickup, Joe Armstrong, Stephen Dillane | Skor: 4.5/5

Karawang, 030318 – Sherina Munaf – Lari Dari Realita

Iklan

One thought on “Darkest Hour: Oldman Triumph

  1. Ping balik: Prediksiku Di Oscar 2018: #SacramentoProud | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s