Best Film 2017

Tahun yang sibuk. Seperti janjiku, setiap 31 Maret saya susun best film tahun sebelumnya. Kali ini genre jauh lebih beragam. Anehnya, genre fantasi hanya satu, itupun ga fantasi murni. Genre favoritku itu perlahan tergeser ke drama. Ya, kabar bagusnya film lokal benar-benar menggeliat bangkit. Kali ini saya pilih dua dari ratusan yang tersebar.

Dari agen Inggris sampai ketidakadilan takdir olahragawan. Dari tukang jahit merenung sampai pidato menggelegar Perdana Menteri. Dari kesempatan kedua menjadi muda sampai ruang karam hipnotis. Dari cakar menua sampai kisah rasis pasca perang Dunia Kedua. Dari remaja galau sampai cerita detektif klasik dengan kumis menjuntai.

Berikut daftar 14 film terbaik 2017 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo.

#14. Kingsman2: The Golden Circle – Matthew Vaughn

Now go on and save the world. Ditonton di bioskop bersama teman-teman yang riuh. Tak peduli teriak-teriak geje, yang pasti aksi agen rahasia ini luar biasa menghibur. Lupakan logika, fun fun fun. Seri tiga akan lebih cadas dengan Tatum memegang kendali utama?

#13. Coco – Lee Unkrich

Animasi satu-satunya yang kutonton di bioskop rilisan tahun lalu. Bersama Hermione yang berjoget dalam remang bioskop, film anak bukan untuk anak-anak. Filosofis. Sebuah jawaban Pixar atas kritik dan tantangan bisakah meraih Oscar di luar kategori best animated, ‘Remember Me’ sekedar mula, suatu saat saya percaya kartun akan menang Best Picture. Suatu hari… Seize your moment.

#12. I, Tonya – Craig Gillespie

Dibuat bak dokumenter, film biografi pemain es skating yang menghentak. Hubungan ibu anak yang timbul tenggelam. Bagaiman bisa perempuan dengan watak keras menggemulai di atas es anggun? Margot Robbie dalam puncak performa, dibuat ga seseksi biasanya.

#11. Posesif – Edwin

Sebenarnya saya sudah curiga, ada sesuatu yang tak beres dalam diri sang pacar. Dor! Cut Mini langsung mengingatkanku pada novel Big Little Lies. Keras, dahsyat, setia, dipaksa pisah. Untungnya kisah cinta klise hanya berada di awal, dominannya justru thriller remaja yang menghantui.

#10. Phantom Thread – Paul Thomas Anderson

Drama luar biasa, dengan alur yang saaaaangat lambat. Film uji nyali menahan kantuk. Namun dua hal utama syarat film bagus terpenuhi. Akting keren sekali Daniel Day Lewis sebagai film pamitnya dan cerita yang sangat kuat. Adegan mengunyah sayur bermenit-menit, membuat penonton menahan nafas menanti kilatan jarum berikutnya. Hebat!

#9. Three Billboard Outside Ebbing, Missouri – Martin McDonagh

Kemenangan McDormand adalah kemenangan sebuah balas dendam yang absurd. Perempuan tua yang melempari kantor polisi dengan bom molotov. Papan iklan kreatif yang memberi tekanan kepada pihak berwajib untuk terus mengejar bayang.

#8. Dunkirk – Christopher Nolan

Secara teknikal luar biasa. Amazing. Merdu memanjakan telinga, eye poping mencuci mata. Dari sutradara kisah-kisah master WTF-Twist Nolan menyuguhkan drama evakuasi menawan di pantai Durkirk. Skoringnya sedari menit pertama sampai detik akhir membuat penonton menggigil merasuki aura perang. bukan film terbaik Nolan, tapi jelas salah satu film dengan teknik paling memuaskan di sinema.

#7. Sweet 20 – Ody C. Harahap

Paket komplit. Adaptasi Miss Granny Korea Selatan yang juga diproduksi negara lain. Sukses menghibur dari semua segi. Fantasi, komedi, drama, musikal. Pecah! Banyak cameo muncul, dari menit ke menit penonton diajak nostalgia dan menebak siapa lagi ya yang akan muncul? Endingnya mungkin tertebak, tapi dijamin mewek saat kasih ibu diungkap. Skenarionya ternyata ditulis Upi, pantas berkelas.

#6. MudBound – Dee Rees

Narasi ceritanya juara. Kisah rasis yang kena karma. Sistem alur macam gini memang menyenangkan, bagaimana adegan awal adalah bocoran akhir. Pesona Carey Mulligan tak pernah luntur di mataku. Lulusan An Education ini menjadi sentral kegalauan kakak-adik beda sifat dan terjebak dalam Amerika rasis akut pasca Perang Dunia Kedua.

#5. Logan – James Mangold

Jarang-jarang ada superhero masuk best screenplay. Terlebih ini adalah Wolvie, satu-satunya poster film yang masih bisa kupajang sampai menikah. Drama berkelas dalam bayang masa depan yang suram. Memainkan emosi rollercoaster dengan banyak trivia seru. Mari berdoa Hugh Jackman mau menajamkan lagi cakarnya.

#4. Darkest Hour – Joe Wright

Pidato Winston Churchill dibawakan Sirius Black dengan meluap-luap di akhir. Luar biasa. Menghentak, menjadi link istimewa Durkirk-nya Nolan. Ikut senang sekali, akhirnya Gary Oldman diakui kehebatannya. ‘Succes is not final. Failure is not fatal. It is the courage to continue that counts.

#3. Murder On The Orient Express – Kenneth Branagh

Salah satu adaptasi novel terbaik yang penah dibuat. Dasar cerita memang sudah luar biasa, Branagh tinggal mewujudkan dalam gambar gerak, setia pada cerita. Klimak di bioskop karena memang tak tertebak. Banyak adegan memorable dicipta, sebuat tribute untuk Poirot. You’ll Never Guess Whodunnit.

#2. Lady Bird – Greta Gerwig

Saoirseku yang kurang beruntung. Hubungan anak-ibu yang memiliki chemistry sempurna. Dua kali beruntun Saoirse membintangi film yang sangat personal di hatiku. Anak rantau yang menderita homesick dan hubungan timbul tenggelam dengan sang ibu. Kisah kebanggaan Sacramento. Suatu hari saya akan buat #PalurProud suatu hari nanti, demi Saoise, demi Najwa, demi kalian.

#1. Get Out – Jordan Peele

Saat Peele dipanggil maju untuk menerima penghargaan best original screenplay, saya ikut kasih applaus. Sejatinya layak menang di piala tertinggi. Jelas secara cerita, Get Out juara. Sehari sebelum hari H, beliau memborong piala dulu, sebuah sinyal menyenangkan seharusnya. Sayang kurang beruntung juga. Jadi sesuatu yang lumrah, best picture Oscar bukanlah film terbaik di mataku. Bagaimana bisa ada ide menanamkan manusia dalam ruang karam? Film horor tanpa hantu.

Karawang, 310318 – Sherina Munaf – Sendiri

Happy Birthday Winda Luthfi 12 tahun, sayangku, manisku, cintaku.

Pekan Ke 30: Lazio V Benevento

Pekan Ke 30: Lazio V Benevento.

LBP 3-0

Entah apakah Inzaghi masih nafsu kejar posisi atau benar-benar fokus ke Eropa. Entah apakah Cataldi masih ada hati atau udah move on. Entah apa jadinya lawan juru kunci masih tega tampil ofensif.

DC

Lazio 4-0 Benevento

Immobile

Main kandang. Lawan tim kemah. Menang dengan skor besar

aseli imoenk

Lazio 4-1 Benevento, Immobile

Lawan bento gak bisa menang ya rugi besar. Menang tipis adalah seri, menang besar adalah wajib, Immobile hattrick adalah biasa kaleee. Udah sering.

Damar irr.

Lazi0 3-1 Benebae.. Immobile

Lazio tanding oee. menang mudah ini. Immo bisa lah nyekor. Bisogna VINCERE.

agustino calciopoli

Lazio 2 – 0 Benevento Nani

Partai yang ga layak tonton di malam minggu. Sedikit terobati dengan dimainkannya sang pangeran. Pangeran akan membungkam mulut Inzaghi dengan golnya.

Manuk

Lazio 5-0 Benevento Immobile

Lazio edyan ngamuk sejadi – jadinya 😂

Takdir

Lazio 2-0 Benevento Immobile

Analisis Jelang liga Eropa, menghindari April Nop 9 Laga di gelar serentak malam minggu. Kesempatan menghindari kejaran Gatusso, kesempatan memeriahkan zona Champion. Lazio menang.

Bgs

Laz 4 – 1 Benne, Immobile

Salah jadwal tak masalah yang penting salah tetep jadi kapten. Lazio menang mudah. Semoga Immobile hetrik… Forza Lazio

Marcella Zhafirah Prayitno

Lazio 2-1 Benevento; Immobile

Kuingin marah, melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri disini. Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada. Bahwa hatiku kecewa… oh Lazio.

Megawati Soekarno Putra

Lazio 2-2 Benevento Luis Alberto

Tidak mudah menghadapi Bene yang secara notabene hampir pasti degradasi musim ini, kelengahan lini belakang Lazio yang dijaga De Vrij menjadi penyebab tiket terakhir UCL riskan direbut oleh klub kota Milan

AW

Lazio vs Benevento : 4-2, Immobile

Lazio hore. Benevento kere. Immobile ngehe.

Jabo

Lazio 1-0 Benevento Immobile

Lawan tim gak jelas, Lazio pasti menang. Kebangetan kalo nggak. Tapi cukup satu gol aja.

Karawang, 310318

Love For Sale: Remuk Redam Pria Kesepian

Sungguh mencintai adalah pekerjaan yang berat dan penuh resiko karena selalu melibatkan perasaan, tapi kukira, mengambil resiko tak pernah ada salahnya.

Sedih. Sungguh menyedihkan. Saya kehilangan kata-kata yang pas untuk menggambarkan kesedihan hati lelaki tua yang sendiri. Suatu hari Watson pernah bertanya pada sahabatnya, apakah yang paling kamu ditakutkan? Sherlock menjawab: “Melewati hari tua sendiri tanpa pasangan.” Itulah yang terbesit di kepala saat ending film ini, walaupun harapan diapung dengan sapa teman-teman lewat aplikasi HP web cam, optimisme berbagi dan menikmati ‘perjalanan’ tapi membayangkan usia 41 tahun dalam perenungan tanpa ada genggaman erat kekasih sungguh bayangan yang menakutkan. Love For Sale jelas merupakan salah satu film lokal terbaik tahun ini yang berhasil mengintimidasi penonton.

Ekspektasiku tak tinggi sebab dua hal utama. Pertama tema yang ditawarkan paling kisah cinta klise. Dari trailer, poster sampai promo yang digencarkan sudah terbentuk kerangka cerita akan berkutat pada jomblo akut yang akhirnya mencinta kepada cewek panggilan yang disewa lewat aplikasi. Sebelum kuputuskan berangkat menonton saya sudah memprediksi, ah paling akan ada benih cinta – FTV banget, kan? Tepat! Tapi endingnya tak setepat yang kukira. Kedua, film dengan bintang kelas premium. Gading Marten belum ada tanda-tanda mengikuti jejak hebat Bapaknya. Sudah kepala tiga, belum ada kharisma menuju ke sana. Sibuk dengan syuting alay, sibuk nge-MC (maaf norak) main keroyok satu genk. Namun keduanya langsung rontok, salah satu sebab dibantu oleh lagu hit jadul yang luar biasa dari The Mercy’s. Hidupku Sunyi, sungguh biadap lagu ini. Sepanjang film sukses mewakili jiwa-jiwa yang sepi. “Mengapa dikau bertanya, mengapa ku harus bersedih, hidupku hanya untukmu…”

Proses menuju keputusan nonton juga tak setenang yang kalian kira, datang beli tiket, duduk. Enggak selurus itu bung. Rilis bergandengan dengan film adaptasi buku favorit A Wrinkle In Time yang salah kaprah penanganan, saya tunda pekan berikutnya. Lihat jadwal Love Sale sudah tersingkir, hanya tayang pagi. Bah! Seminggu tergusur, Kamis-nya sudah turun layar! Gila, apaan ini. Pembagian jatah kursi di bioskop kita sungguh riuh antrian seakan pembagian jatah kursi di DPR. Ketat dan penuh persaingan. Minggu sore saat santai baca buku di Bustaka Taman Galuh Mas, iseng buka web CGV Festive Walk, Karawang yang berada sepelemparan batu dari ayunan di taman. Kejutan, Love Sale melakukan come back, tayang lagi. Karena akhir pekan mustahil nonton me time bareng keluarga, Senin juga sulit karena jadwal lari sore maka saya pilih Selasa. Jamnya juga dilematis, pulang kerja jam 17:00 trafik lalu lintas sungguh mengerikan di jam sibuk. Macetos, hujan badai, selip kanan kiri untuk kejar 18:15. Setelah Magrib di lantai dasar, menuju bioskop dalam ketergesaan akhirnya dapat jua tiketnya. Sepi, hanya belasan. Saat duduk nyaman di tengah dengan sebotol teh dingin di tangan, penonton yang hadir semua berpasangan, kecuali saya. Selalu, saya menjadi ‘Jomblo’ saat masuk dalam gedung pertunjukan.

Kisahnya dibuka dengan logo love.inc aplikasi yang akan jadi main produk film ini. Richard Ahmad (dimainkan dengan meyakinkan oleh Gading Marten) terbangun karena alarm mengusik indra telinga. Dengan kolor dan kaos oblong, khas anak kos umur 20 tahun yang tak ada kegiatan saat libur selain mendekam di kamar. Buka HP, sebuah pesan tausiyah dari temannya Panji (Verdi Solaiman) tentang makna hidup. Nyalain musik, wuih di film ini pakai player record vynil. Duh saya generasi kaset pita saja sudah merasa tua! Lagunya klasik The Mercys: Hidupku Sunyi. Lagu satu-satunya yang jadi soundtrack. Berkali-kali diputar, berkali-kali pula membuat penonton ikut frustasi. Makan mie, menyapa tetangga lewat lantai atas sayup sayup terdengar pertengkaran pasutri, dan membuang waktu depan tv. Adegan di depan tv akan sering muncul, anehnya layar tv justru menonton penonton. Kita hanya dihadapkan sekali saja ke layar saat mengungkap twist, wajah familiar yang nyaris dikenali Richard. Bonus scene pembuka, Gading garuk-garuk anu sambil berjalan sempoyongan masih ngantuk, nyawa belum terkumpul penuh, bonus lagi perangkat pakaiannya sobek. Bayangkan saudara saudara, bayangkan! Kalau Sherina Munaf yang dijual sih penonton bisa dengan senang hati menatap layar penuh damba. Lha ini Gading dengan perut buncit dan ubanan! Untung bioskop belum melengkapi fasilitas 4D sehingga bau pengapnya ga merasuki hidung. Berteman kura-kura Kelun – 17 tahun euy – Richard kembali terlelap. Pembuka yang hampa, pas untuk mewakili film ini. Jadi inget Peter and Mary kurakuraku yang tiada. 10 tahun tapi tak sebesar Kelun.

Akhir pekan itu Richard ngumpul sama teman-teman segenk, syukurlah tak ada Narji atau Irfan atau Nose. Di sebuah bar/kafe setelah nonton bareng sepak bola dan bertaruh, keseruan anak muda dilakukan orang tua, menjago tim favorit itu teman kentalnya mengumumkan ada kondangan, yang undangannya ketinggal di mobil. “Dua minggu lagi aku akan menikah, bawa pacarmu atau harga dirimu yang kami pertaruhkan.” Terlihat sudah pada berumur matang, sudah saatnya emang. Kelakar untuk bertaruh, apakah nanti Richard akan datang bersama seseorang ataukah sendiri? Taruhan yang sebenarnya sembari lalu itu, bagi sang jomblo menjadi cambuk pemicu kisah utama film ini. Ok, deal. Dimulailah pencarian kekasih kilat! Muncullah judul utama dengan tulisan blink-blink bak neon restoran padang 24 jam.

Richard adalah bos percetakan, home industri: Prima Warna. Tinggalnya di lantai atas. Pagi itu anak buahnya yang bertugas buka ruko datang terlambat, Raka (Albert Hakim) yang hobi makan bilang motor mogok. ‘Bah hari ini mogok, besok macet, besoknya motor lu dicuri!’ Ingat kenapa Perusahaan ini bisa bertahan sampai sekarang? Hargai waktu! Sambil nunjuk poster besar terpajang. Untung ga nunjuk poster film Filosofi Kopi di dinding kiri, diceramahi hakekat hidup dalam secangkir kopi, kelar kau! Dalam satu tim selain Raka ada Jaka (Adriano Qalbi) yang aneh, Pak tua yang bijak Pak Syamsul (Rukman Rosadi), pemanis aura percetakan, cewek manis Mira (Sabrina Rochelle). Mas Richard (wuih panggilannya Mas euy) adalah bos yang galak. Pelit. Disiplin tinggi. Sebutin aja kriteria bos jahat yang ada dalam pikiran, Mr. Krab-nya industri ini. Sifat ini nantinya akan lebur oleh karena cinta. Heleh…

Pencarian pacar terus membayang sang bos di tengah kesibukan kerja. Berbagai upaya dikerahkan. Buka sosmed, cari kabar teman-teman lama apakah ada yang masih sendiri? Mencari data dalam kartu nama kolega di bawah laptop di dalam meja kaca, otomatis yang nama laki skip: Yana Yuli? Cowok apa cewek ya? ketemu nama perempuan, telpon. Ada yang tak aktif, ada yang angkat laki – rejectlah, ada pula yang sibuk lagi meeting. Telpon teman lama, basa-basi. Sedang mulai akrab, eh backsound-nya anak memanggil ‘Bunda..’ sudah punya buntut. Jujur saja dulu pernah kulakukan. Pencobaan ekstrem penuh resiko diambil saat anak buahnya dua cewek – seakan sedapatnya – sedang istirahat beli buah iris dalam gerobak, diajak jalan yang tertinggal. Dengan adegan kaku ajakan itu dijawab iya dalam keraguan. Untung bukan Mira C. Beres? Nope! Karena besoknya sang cewek cerita sama temannya, dan Richard malu. Hari itu juga sang cewek dipecat. Kejam? Begitulah hidup, tak ada yang bisa menerka. Apes aja kau Nak!

Richard sendiri mendapat ide membeli cinta secara tak sengaja, saat anak buahnya mencetak ribuan semacam pamlet sebuah iklan kencan Love.Inc yang setelah dibaca sekilas pintas, sekilas lalu, akhirnya diperhatikan sungguh-sungguh dan mengambil satu leaflet dimasukin ke dalam baju. ‘Kasihan juga ya, banyak jomblo di luar sana’. Ironis sih, tapi yah itulah kenyataannya. Donwload, isi data, dihubungi. Operator bertanya cari yang bagaimana? ‘Menarik!’ ada promo versi baru dengan 40-45 hari bayar sama, awalnya masih tak terlalu minat. Karena masih coba kopi darat, ngopi. Kenalan cewek dapat agresif, malah kabur, itu yang bayar kopi siapa ya, enyakmen. Maka ketika waktu sudah menipis, tak ada pilihan lain yang lebih dirasa bijak, atas nama harga diri ia membeli kebersamaan dengan perempuan, cari, klik. Datanglah sang primadona Arini Kusuma (dimainkan dengan cantik sekali oleh Della Dartyan).

Kencan kilat, saling mengenal sepintas di taksi, apa tugas Arini nanti di kondangan, dan jebret. Sukses besar, Mas Richard tak jomblo lagi – di mata teman, kolega dan Kelun tentunya. Karena kontrak 45 hari, maka Arini dibiarkan tinggal satu atap. Mengakrabkan diri, bola yang jadi alur sampingan cerita ini mulailah memberi peranan. Sevilla masuk 8 Besar Champion! Prediksi jitu, sukur kau Mou! Saya suka bola berkat bapak, fan Newcastle. David Ginola ganteng, dengan kumis dan kharismanya. Richard yang berkumis, secara otomatis mengelus kumis. Pinter juga yang disebut si gondrong. Coba kalau Alan Shearer, yang dielus botaknya kali? Hehe… Pertandingan antara Chelsea dan Liverpool disuarakan dengan merdu, Coutinho, Diego Costa sampai menit-menit dramatis gol dibacakan unik – sengau sengau syahdu. Rayana Djakasurya mah lewat, walau tak semenggebu-gebu Valentino Jebret komentator bola memberi nyawa, memberi arahan gol sejatinya di depan tv: ciuman yang dinanti itu akhirnya terjadi. Label 21+ bukan omong kosong, adegan panas disajikan. Coba apa yang ada dalam kepala Giselle? Bergelut dalam selimut dan ta-daaa chemistry benar-benar tercipta kini. Makin hari makin cinta, makin mesra semakin kuat ikatannya.

Arini, gadis sewa itu menjelma jadi pacar impian. Masak makanan favorit, mengantar makanan ke tempat kerja, otomatis menyatu para pegawai, membaur dengan teman-teman nonton bola, jalan mesra di jalanan ibu kota. Makan duren dengan alunan pengamen Hidupku Sunyi seakan tinggal masa lalu, haha ketawa sambil nyanyi lagu sedih? Ironis. Arini memberi segala yang diharapkan Richard. Mengajak kenalan teman-temannya yang absurd. Mengajak nonton konser. Mengajaknya mengenal keluarga ke Depok, dikenalkan dengan kedua adiknya dan kedua orang tuanya. Pak Kartolo (Torro Margens) yang menderika amnesia 24 jam dan celetuk ‘ga papa sama calon..’ itu jleb banget. Arini mengubah banyak hal secara instan. Richard jadi atasan yang ideal, traktir makan, toleransi kerja, jadi murah senyum, kasih diskon sampai senandung kecil keceriaan bersama teman lama: Panji. Dalam sebuah adegan mereka nostalgia sesaat di jalanan waktu kecil main bola di jalan ini. Ya ini! Dulu saya yang umpan, kamu yang cetak gol. Panji di sini jadi panutan, jadi pegangan. Maka saat dikenalkan, apakah ini saatnya? Well, saatnya move on mas bro. Richard dalam dilematis, 20 tahun menyepi. Inikah saatnya, beli cincin untuk melamar. Dan dipersiapkan segalanya. Saat lampu kamar dimatikan dan esok menjelang, segala hantu ketakutan menjadi nyata. Akankah lamaran itu berhasil?

Kamu sebenarnya asli Pacitan, Tulungagung, apa Depok sih Arini? Pertanyaan itu sekaligus menjadi selaras dengan perkiraan. Diluardugaanku, film ini keren. Melebihi harapan, kukira klise kukira berakhir biasa. Baguslah ada film spesial buat para jomblo akut. Sejatinya jelang umur 30 tahun saya sempat merasakan ketakutan Richard. Namun ribuan novel memberiku sedikit banyak pencerahan akan arti cinta. Akan arti pengorbanan dan melepas ego. Merasa beruntung? Ya! andai saya dikasih kesempatan kembali ke sepuluh tahun lalu, maka saya akan tetap memilih jalan ini. Karena kalau kucoba jalan lain bisa saja itu mengarah ke 41 tahun melajang dan pastinya saya akan menangis kemarin lusa di akhir kisah.

Untuk sebuah debut Pemeran Utama di layar lebar, jelas sebuah pencapaian istimewa Gading Marten. Berterima kasihlah pada Andibachtiar Yusuf yang memolesmu menemukan jalan yang lurus, berterima kasihlah pada Angga Dwimas Sasongko dan Chicco Jerikho yang menjadikanmu pilihan pertama untuk peran ini. Sekarang tiket jalan emas untuk menjadi aktor berkelas terbuka, pilihan kembali padamu. Apakah melanjutkan memilah peran film prestise ataukah kembali ala kadar dalam acara jayus tv ga jelas? Untuk sebuah debut, Della Dartyan jelas sukses besar. Segala geriknya meyakinkan sekali. Dari gadis panggilan yang membutuhkan uang dan pekerjaan menjelma gadis menghamba penuh cinta, all out. Tatapannya, senyumannya, lirikan matanya. Jangankan pria kesepian. Kalau godaan sepanas Arini, pria setia-pun bisa bertekuk lutut. Chemistry kalian keren, pantas emang dapat label 21+. Komedi satir yang hadir layak dipresiasi. Naskah cerita bagus, lengkap sudah.

Pilihan nonton Selasa malam itu kurasa tepat karena Rabu ini di Festive Walk sudah ganti, digempur film baru yang rilis bersamaan: Hantu, Game dan Milea versi upgrade. Belum lagi besok makhluk air juga menyerbu, maka kesempatan nontonku di bioskop sejatinya memang hanya kemarin lusa. Sayang sekali, film bagus tak tayang lama. Liverpool bisa saja melakukan come back tiga gol, tapi rasanya mustahil Love Sale melakukan come back kedua kalinya tayang di Festive.

Credit title cuma semenit dua, jadi bahkan belum selesai kubuka semua pesan WA yang masuk saat nonton, tulisan jalan sudah selesai. Terima kasih Jose Mourinho?

Penampilan sebentar Torro Margens sangat hebat. Saya mulai curiga arah film ya saat sampai di Depok, ini aktor emang nyeleneh makanya alarm firasat buruk saya langsung menyala. Scene berikutnya saat muncul Mbah Torro itu sadis banget men. Remuk redam pria kesepian. Lha ini beneran!?

Well, coba kalau Arini Lazialita pasti ku-rate sempurna. Saya punya teman fan Newcastle orangnya alay, jadinya males. Coba kalau pertandingan yang dikomentari adalah final Copa Italia 2013, dan teriakan klimaks Arini adalah gol LU71C, kalau boleh kasih rate 6 dari 5 saya kasih deh. Coba kalau sketsa di dinding itu Beppe Signori, bukan Maradona. Mungkin saya akan kasih label film terbaik sepanjang masa, akan kubingkai gambar Kelun dan kupajang di kamar. #ForzaLazio Per Sempe!

Pulang langsung coba buka web loveinc.id beneran ada, silakan coba jomblo level berapa kamu?

Love For Sale | Year 2018 | Directed by Andibachtiar Yusuf | Screenplay Andibachtiar Yusuf, M. Irfan Ramli | Cast Gading Marten, Della Dartyan, Adriano Qalbi, Verdi Solaiman, Melissa Karim, Torro Margens, Albert Halim, Sabrina Rochelle, Asmara Abigail | Skor: 4/5

Karawang, 28-290318 – Sherina Munaf – 1,000 Topeng

The Art Of Deception – Nora Roberts

Adam: “Kau tahu kebanyakan perempuan mengharapkan rayuan, tak peduli betapa gombalnya.” | Kirby: “Kebanyakn perempuan bukan Kirby Fairchild. Aku tak ingin membuatmu bosan dengan rayuan kuno.

Serial Harlequin terbaik yang kubaca sejauh ini. Setelah kecewa beberapa kali, akhirnya ada serial ini yang lumayan bagus. Memang endingnnya ketebak. Tetap isinya cinta-cintaan nafsu, tapi ada sisi art yang menunjang cerita. Bukan sekedar hajar bleh, ciuman, buka baju dan terjadilah, yang penting pembaca nefsu dan senang. Enggak. Kisah cintanya menjadi sedikit berbobot ketika kedua insan memiliki motif kuat untuk saling mengalahkan, ada semacam benang merah yang menghubungkan segala plot sederhana ini. Yah, setidaknya ga drop amat. Mungkin karena sebagian kisah berkutat pada gerak tipuan-tipuan dalam seni lukis, saling serang dalam permainan pikiran dan intimidasi serta menyinggung hubungan ayah-anak yang lumayan ngena sehingga ga rugi-rugi amat kutuntaskan baca. Selalu, chemistry antara ayah-anak ada di tempat hati. Hatiku mudah tersentuh bila menyinggung koneksi spesial itu.

Saya review segera karena sudah didesak Meyka untuk secepatnya mengembalikan tiga buku Harlequin pinjaman kepada temannya. Yang pertama sudah baca tahun lalu, terbengkelai kejar Best 100 Novels, buku ini awal tahun kunikmati dan satu lagi kini masih dalam progres baca. Akan segera kutuntaskan, karena memang buku pinjam selalu prioritas. Daftar buku beli di #Promo61 sementara hold dulu, dan beginilah kisah ‘Indahnya Dusta’.

Adam Haines adalah pemuda pelukis pemula yang dikirim ke rumah seniman kondang, rumah bak istana di dekat sungai Hudson, pinggiran kota New York. Seniman kaya raya itu mempekerjakan magang atau mengajari atau membagi ilmu kepada pemuda punya talenta, banyak berbagi kepada pemula. Seniman yang kalau beneran ada pasti akan membuat dunia gempar karena bisa meniru dan memalsukan lukisan legendaris dengan cermat dari Rembrandt, Van Gogh, Titian, Da Vinci, Picasso, Masaccio, Dali, dst. Sebut saja lukisan hebat Eropa tempo doeloe yang ada dalam kepalamu, ia bisa menciptanya. Hebat. Mr. Fairchild memiliki putri semata mayang yang cantik jelita Kirby Fairchild, yang di kisah ini menyambut Adam membukakan pintu yang dikira pelayan. Karena ini roman picisan maka dengan mudah kita bisa menebaknya, mereka pasti bersatu entah bagaimana caranya pasti happy ending dalam satu peluk indah. Well, kalau saya bilang iya apakah ini spoiler yang akan membuat kalian kecewa? Ga usah khawatir, gampang banget kok mengiranya karena di akhir bab pertama saja kita sudah tahu mereka saling menggoda. Bocoran sederhana untuk kisah sederhana.

Namun sebelum jauh menuju ke sana kita diajak mengenal lebih dekat profesi sesungguhnya Tuan Fairchild. Dalam ke-glamor-an pesta, bisnis seni yang menjanjikan dan hiruk pikuk kota besar Amerika ternyata ada banyak sekali singgung emosi antar pribadi yang katanya manusia beradab. Adam memang menjadi tokoh utama yang diambil sudut pandangnya, sehingga saat lapisan fakta satu per satu dikupas Pembaca dalam posisi sama-sama tak tahu. Ia dengan pelan mengamati segala hal keluarga ini. Dari hal sepele seperti kebiasan makan malam, waktu luang yang dihabiskan ke mana sampai teknik lukis yang rumit. Kirby pernah tunangan dengan Stuart, seorang pemuda yang awalnya terlihat bermasa depan cerah, tapi terputus oleh sebuah sebab yang sungguh berat. Masalah hati.

Kirby pernah slek dengan teman dekat Mellanie yang sudah dianggap saudara sendiri. Karena Kirby yang jelita selalu mengambil perhatian, merebut pacar, dan unggul segala hal. Dendam itu merekah dengan berjalannya waktu. Bahkan di kisah cinta-cintaan ini Melly nantinya berniat membunuh dan menghancurkan keluarga ini. Dengan pistol dan rencana ledakan gas? Luar biasa. Memang kisah harus mencipta konflik berat untuk menjadi keren. Namun tetap, tenang saja ini kisah cinta.

Sebelum ke sana kita akan diberitahu bahwa Tuan Fairchild ternyata seorang kriminal. Pencuri lukisan terkenal, mencipta ulang dan menjualnya kepada para kolektor gila yang berani membayar mahal. Jelas ini penipuan sehingga semirip apapun karya yang dicipta tetap saja lukisan yang dijual adalah palsu. Ia bersama rekan Phillip memiliki galeri yang sama-sama gila lukisan ternama memiliki kesepakatan memiliki bergantian. Namun jelas akan ada penghianatan. Akan ada riak dalam persahabatan.

Adam sendiri bak pion yang ditendang ke sana kemari mengikuti alur keras persaingan para pesohor. Walau karakter ini terlihat lemah, yang jelas beruntung sekali karena dalam kesehariannya ia dekat dengan Kirby. Bahu-membahu membantu Tuan Fairchild agar tak tertangkap, agar tidak kena bui, bahkan dalam satu malam yang menegangkan melakukan pencurian lukisan! Nah, pada akhirnya timbul benih-benih cinta. Mudah ditebak mereka akhirnya melepas dahaga cinta, di sini bagian ini di-eksplore lumayan banyak bahkan nyaris bikin muntah. Romantis ala ala ABG yang merayu, merajuk dan lebay. Apakah sebenarnya ini daya jualnya? Duh! Kirby: “Aku benci harus mengulang-ulang lagi, tapi aku cinta padamu.” | Adam: “Ulanglah terus sesering kau mau. Kau mencuri nafasku.

Saat pada akhirnya Kirby berhasil takluk mencinta penuh damba pada Adam ada sesuatu yang tak terduga diungkap. Saat Tuan Fairchild sudah menaruh banyak tanggung jawab dan kepercayaan pada Adam, ada sebuah kejutan yang bagiku sih ga kaget-kaget amat, tapi tetap saja ini memang sengaja disimpan untuk membuat lonjak girang Pembaca. Adam yang kita kenal sepanjang 200 halaman itu tak selugu yang dituturkan. Ia memiliki sebuah rahasia yang sejatinya ayah-putri ini tahu jelas tak akan menerima masuk istana mereka. Sebuah kejutan yang merusak segalanya. Apakah ada kesempatan kedua? Adam: “Aku datang mencari Rembrandt. Sewaktu aku masuk lewat pintu aku hanya punya satu tujuan, menemukan lukisan itu. Tapi aku belum mengenalmu ketika aku masuk ke sini. Aku belum jatuh cinta padamu.

Bagiku kisah seperti ini sudah tak terlalu memuaskan, klise dan sederhana. Namun Nora Roberts memberi senyawa kisah yang sejatinya bisa jadi begitu hidup. Yah, setidaknya dibanding Harlequin sebelum ini. Saya jadi penasaran apakah ada dalam serial ini yang mengangkat senjata dalam perang epik bacok-bacokan penuh darah?

Jualan cinta semacam ini memang menjadi komoditi utama dan akan masih terus digandrungi 20, 25 tahun lagi. Cerita cinta memang selalu ada tempat, generasi muda silih berganti. Seperti kita yang pernah muda, proses menuju dewasa selalu memberi daya deg-degan hanya sekedar memandang lawan jenis. Bandingkan saat usia sudah 30an atau malah 40an, hal yang membuat remaja belasan tahun itu tak ada artinya. Seperti itulah Harlequin walau cintanya norak akan selalu laku dijual.

Indahnya Dusta | by Nora Roberts | diterjemahkan dari The Art Of Deception | copyright 1986 | alih bahasa Marina Suksmono | GM 404 03.005 | Sampul Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Mei 2003 | 304 hlm.; 18 cm | ISBN 979-22-0319-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 220318 – Shontelle – Impossible

Thx to: Melly Potter, Meyka’s friend

8 Besar Eropa

8 Besar Eropa.

LBP

Lazio 3 Vs 0 Entah

Barcelona 7 Vs 1 Roma

Analisis: Di Eropa, Juventus tetaplah wakil Italia yang mumpuni. Lazio jadi satu satunya di EL yang tersisa. Sementara satu lagi abaikan, pertanyaannya jelas menang berapa Barca agregatnya? 7-1, 7-0, 11-0?

Damar irr

Lazio 2-1 Entah fc

Barca 5-1 Romlah

Kuiz yang aneh, tapi ikut ajalah. Udah takdir Lazio juara dan udah takdir tetangga dibantai. Dari dulu beginilah bola, deritanya tiada berakhir.

Jelly Jelo Prayitno

Lazio 2 Vs 0 Entah

Barcelona 6 Vs 0 Roma

Analisis: Baru buka sosmed langsung ketemu jadwal 8 besar. Degrit ketemu tim cupu lagi. Ini laga mudah, final sudah di tangan. Romlah HAHAHAHA.

Frank Mill

Lazio 4-1 Entah CF

Barca 5-0 Roma

Lazio lawan Entah CF. Entah lawan darimana itu. Entah sapa nanti yang menang kuis ini. Pokoknya entah.

Siska

Lazio 2-2 Entah

Barsya 4-1 Roma

Masih terkejut dengan keberadaan tim entah yang entah kenapa bisa lolos ke perempat final. Sepertinya Lazio kudu berhati-hati karena lawannya entah 🙈 Barca mau nebak skor gede tapi kipernya Roma kok ya lumayan entah kemampuannnya. Entahlah

Bagas

Lazio 1 – 0 Mateng

Barca 2 – 3 Roma

Laga masih lama tapi udah dibikin kuis, semoga tidak hilang disela sela chat ndobos Arief dan Siska, Lazio menang Roma menang fansnya senang.

Takdir

Lazio 3-1 Entah

Roma 1-2 Barcelona

Sejatinya Italia hanya diwakilkan dua tim di Eropa. Saat pengundian, Roma bagai tikus curut yang direbutin kucing, singa, sampai gajah. Apes, justru malah ketemu racun Dora. Akan jadi santapan empuk Laziali seantero dunia, noda Eropa lagi?

AW

Lazio 2-0 Salzburg

Barcelona 4-1 Roma

Lazio menang. Barcelona menang. Om Budi senang.

Karawang, 220318

Pekan Ke 29: Lazio Vs Bologna

PROBABILE FORMAZIONE (3-5-1-1):
Strakosha;
Ramos,de Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Luis Alberto, Lukaku; Felipe Anderson;
Immobile.

LBP 3-0
Persaingan papan top skor sama serunya sama persaingan papan Champion. Persaingan papan bawah sama sangarnya persaingan juara. Serie A sepertinya akan panas sampai pekan pekan akhir. Bologna akan jadi krusial seperti laga lainnya. Immobile goal lagi?

Siska
Lazio 4-1 Bologna
Immobile
Baca bolonya jadi keinget spagetti duh. Mainnya di kandang. Lajio bisalah menang besar.

Arief
Lazio v Bologna 2-0
Immobile
Lazio harus bertahan di 4 besar. Bologna selalu kalah di 4 match away terakhir. Immobile akan menambah gol lagi.

DC
Lazio 3-1 Bologna
Immobile
Main kandang. Kemenangan sepertinya layak buat elang. Jadi makin dekat ke Liga Cempien.

Takdir
Lazio 1-0 Bologna
Immobile
Analisis Hasil undian Liga Sparing yang dapat tim entah membuat Lazio bisa leha leha. Kalau perlu lapis tim yang turun. Bologna selalu jadi lumbung gol. Immobile sedang berkompetisi di top skor Eropa, saatnya mengejar Salah.

Bgs
Lazio 5 – 1 Bologna, Immobile
Tiket UCL adalah target utama musim ini. Lazio menang besar. Immobile akan jadi pembeda dengan cetak 4 gol biar tidak kalah ama mantan bintang tetangga.

AW
Lazio 2-1 Bologna, Immobile
Lazio bakal kebut kebiri. Tiga besar jadi harga mati. Immobile nyekor lagi.

Park Joo Bong
Lazio 0-1 Bologna
Destro
Gli Aquilotti bakal tersandung d laga ini setelah kecapean d laga tandang lawan Kiev. Tiket UCL pun terasa semakin berat. Ada kemungkinan Inzaghi lebih fokus menghadapi Raja Austria ntar.

Tania Ayu Prayitno
Lazio 4-2 Bologna; Luis Alberto
Pagi ini Inzaghi berpikir keras ketika duduk di jamban. Apakah ia harus mengejar top 4, ataukah hanya perlu menjuarai Yuropa lhik agar bisa bertemu Barcelona. Akhirnya dia memutuskan agar adik2 asuhnya bermain tanpa beban pekan ini. Menang syukur kalah tak perlu disesali.

Karawang, 180318

Jatuh 7 Kali, Bangkit 8 Kali – G. Sutarto & J. Sumardianta

Pertama berdamai dengan diri sendiri. Kedua berdamai dengan orang lain. Ketiga berdamai dengan Tuhan. – Pak Paimin.

Dua alasan sederhana kenapa saya membaca buku ini. Pertama jelas saya tidak membelinya, buku-buku self improvement adalah buku yang ‘enggak banget’ untuk kukoleksi beli. Kedua saya menantang kualitas Bentang lagi. Penerbit Yogyakarta yang konsisten secara mutu ini saya coba rambah ke sektor non fiksi. Saya menemukan buku ini dideretan rak Bus Taka Taman Kota Galuh Mas, Karawang. Kupinjam sebelum perhelatan akbar Oscar dan kuselesaikan santai tengah bulan ini. Hasilnya? Well, tak banyak hal baru yang kudapat, sesuai ekspektasi. Namun jelas sekali buku ini dengan jujur mencantumkan sumber, memberitahu Penulis aslinya jika itu saduran dan tak mengklaim itu karya duo ini. Di era serba digital gini, menjiplak tanpa sumber adalah kebodohan akut. Apa kabar Tere Liye? Buku ini dengan apa adanya menduplikasi separuh bab adalah kesan dari kisah usang dari siapapun yang bisa memberi inspirasi, separuhnya lagi adalah pengalaman hidup yang 90% adalah riwayat G Sutarta. Jadi buku ini masih sangat layak dinikmati. Dan menikmati gratis sebuah kisah di bukan genre tetaplah sebuah nilai plus tiada dua.

Mungkin karena pengalaman-pengalamn yang dibagikan begitu dekat dengan masa kecilku sehingga banyak hal menyentuh hati. Sutarto – berikutnya kita sebut Tarto, lahir dan besar di Karanganyar sebelum akhirnya hijrah ke ibu kota. Rumah tinggalnya, hanya setengah jam dari Palur, kampung halamanku. Masa kecilnya yang susah, ayahnya yang hanya sebagai buruh tani, lalu menjadi pak bon sekolah – semacam penjaga kebun dan sekolah dengan penghasilan minim. Ibunya membantu ekonomi keluarga kalau ada panggilan mburuh tani sawah tadah hujan. Namun mereka keluarga dengan cita-cita luar biasa. Ibunya sekali waktu pernah bermimpi anaknya akan bisa sukses. Saat lihat pesawat terbang, ia sudah pede bilang ‘anakku suatu saat bisa naik motor mabur’. Saat orang berada bisa pulang dari kota membawa makanan enak, dan alat-alat keren – di zamannya, beliau optimis Mimpi itu sudah dipetakan sedari kecil oleh orang tua.

Setiap bab dibuka dengan kutipan-kutipan keren. Saya ketik ulang semua deh, dibagi sekaligus buat pengingatku. Berisi 31 bab Bung, angka keberuntunganku!

#Kata Pengantar “No matter how good or bad you think life is, wake up each day and be thankful for life. Someone somewhere else fighting to survive.” – Tyga

#Prolog “Sebagian besar orang mampu membuat hamburger yang lebih enak ketimbang McDonald’s. Kendati demikian, sangat sedikit yang mampu membangun bisnis dengan sistem yang lebih baik dibandingkan dengan restoran itu.” – Robert Toru Kiyosaki

Bagian I Mensyukuri Keuntungan Tidak Adil

#1 “Peluang melakukan perbuatan istimewa mungkin tidak akan pernah muncul. Peluang melakukan perbuatan baik selalu diperbarui setiap hari. Kebaikan seharusnya menjadi dambaan setiap orang. Bukan pujian.” – F.W. Faber

#2 “Kita meski membangun tanggul keberanian untuk menahan banjir rasa takut.” – Martin Luther King Jr.

#3 “Banyak yang mengira disiplin berarti kehilangan kebebasan. Padahal disiplin itu sumber kebebasan.” – Stephen R. Covey

#4 “Kebanyakan orang lebih suka hancur oleh pujian ketimbang selamat berkat kecaman.” – Norman Vincent Peale

#5 “Lupakan diri sendiri. Investasikan banyak kebaikan kepada orang lain. Keduanya niscaya membuat kita meraup deviden terbesar dalam hidup.” – William Griffith Wilson

#6 “Silence and smile are two powerful tools. Smile is the way to solve many problems. Silence is the way to avoid many problems.” – Kutipan Motivasi

#7 “Salah satu cara meraih kebahagiaan adalah menikmati bagian perjalanan yang paling menggairahkan.” – Bertrand Russel

#8 “Pahlawan adalah orang yang memberikan uluran tangan saat dibutuhkan, lalu menepi diam-diam usai memberi pertolongan.” – Tom Brokow

#9 “Terobosan itu sesuatu yang tidak biasa kerena memiliki daya dobrak tinggi. Jika biasa-biasa saja dan normatif, bukan terobosan namanya.” – Lin Che Wei

#10 “An investment in knowledge always pays the best interest.” – Benjamin Franklin

Bagian II 3M : Menemani, Melayani, dan Membela

#11 “Real leaders must be ready to sacrifice all for the freedom of their people.” – Nelson Mandela

#12 “Tidak ada alas tidur yang lebih empuk dibandingkan dengan nurani yang bersih.” – Ungkapan Perancis

#13 “Pernikahan bukan sekedar pelukan mesra dan penyatuan spiritual. Pernikahan juga berarti makan tiga kali sehari, berbagi beban kerja, dan senantiasa ingat untuk mmbuang sampah.” – Joyce Brothers

#14 “Aku menangis karena tidak punya sepatu. Air mataku berhenti saat melihat orang tidak punya kaki.” – Ungkapan Persia kuno

#15 “To love is nothing. To be loved is something. To love and to be loved are everything.” – Rembrant van Rijn

#16 “Watak hampir bersinomin dengan integritas. Masa bodoh anonim dari integritas. Watak dibangun melalui jangka waktu yang tidak pendek. Reputasi itu bisa runtuh hanya dalam hitungan detik.” – David K. Hatch

#17 “Everything happens for a reason: live it, love it, learn it! Make your smile change the the world but don’t let the world change your smile.” – Kutipan motivasi

#18 “Respect people who find time for you in their busy schedule. But love people who never look at their schedule when you need them.” – Kutipan motivasi

#19 “Entah sedang mujur atau sedang sial, kita mesti bersikeras jika ingin mewujudkan impian paling bermakna.” – David K. Hatch

#20 “Tidak ada kesuksesan yang berhasil diraih di luar rumah yang bisa menggantikan kegagalan dalam berumah tangga.” – Catur Supatmono

#21 “Buat apa kita hidup kalau bukan untuk membuat dunia menjadi lebih mudah bagi semua.” – George Eliot

Bagian III Stay Hungry Stay Foolish

#22 “Dalam perlombaan meraih kualitas, tidak ada yang namanya garis finis.” – David T. Kearns

#23 “The teacher is like the candle which lights others in consuming itself.” – Giovanni Ruffini

#24 “Berdiam diri seperti besi berkarat gara-gara jarang digunakan, bisa merusak kecerdasan.” – Leonardo da Vinci

#25 “Hampir semua sifat jahat yang memadat dalam bentuk keserakahan maupun egoisme sebenarnya hasil dari keangkuhan.” – C.S. Lewis

#26 “Jika Anda melakukan sesuatu yang mudah dicerna orang-orang bodoh, mereka akan menganggap Anda pandir juga.” – Euripides

#27 “Apatisme hanya bisa diatasi dengan antusiasme. Antusiasme hanya bisa dibangkitkan oleh dua hal: cita-cita yang secepat kilat menyambar imajinasi dan rencana matang yang langsung dieksekusi untuk mewujudnyatakan cita-cita.” – Arnold Toynbee

#28 “Rahasia kesuksesan itu tak lain kemampuan mendapatkan sudut pandang orang lain dan melihat segalanya dari sudut pandang kita sendiri.” – Henry Ford

#29 “In life, I have made a lot of mistake and I have felt a lot of pain. But mistake make me smarter and pain make me stronger.” – Gregorius Sutarto

#30 “Perhatikan musuh-musuhmu karena mereka yang menunjukkan kebodohanmu.” – Antisthenes

#31 “Saat hidup Anda terasa berat itu tandanya sedang bergerak maju. Saat semuanya terasa mudah dan ringan itu tandanya hiudp Anda justru sedang turun. Persis seperti pengendara sepeda yang sedang menanjak atau melintasi turun.” – Rhenald Kasali

Pola cerita selalu sama. Kisah menggugah orang-orang terkenal (mayoritas yang sukses) lalu mengekor kisah hidup Pak Tarto, kecuali bab penutup. Kisahnya adalah dari Pak Sumardinata. Kolaborasi orang Solo dan Yogyakarta nih. Dari orang pertama yang di kampung yang bisa sarjana, pernikahan yang modal nekat, merantau ke Jakarta. Sampai sekarang menjadi Penulis buku-buku pelajaran terutama Fisika. Memang hidup harus diperjuangkan. Yang menentukan kebahagiaan sendiri yang diri sendiri, seperti kata istri John Maxwell. “Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri. Always happy. Happy always.” – Margaret Maxwell

Sebagian kisah sudah saya baca di broadcast grup WhatApps, di sosmed sampai di buku-buku motivasi. Namun tetap saja kita mendapat sajian ringkas yang enak dinikmati. Modal mengajar hanya tiga mantra sakti: “Mari kita lihat bersama, Hari ini kita akan belajar yang namanya… dan Ada pertanyaan?” – Frederik Ray Popo sang Einstein-nya SMA Kanisius Jakarta.

“Ya ya ya syukurlah kalau kamu belajar dari pengalaman keliru di masa lalu.” – Romo Bock

“Kunci kebahagian itu memberi bukan menerima. Menerima hanya menghasilkan kesenangan.”

“Bila Anda merasa senang akan keberuntungan orang lain, keberuntungan itu akan melekat pada diri Anda. Bila Anda mengagumi dan mengahrgai orang lain, Anda meletakkan kualitas-kualitas baik itu pada diri Anda. Namun bila Anda memikirkan atau membahas keburukan orang lain, sebenarnya Anda sedang meletakkan berbagai citra negatif pada diri Anda sendiri.” – Rhonda Byrne.

Les Giblin, seorang ahli hubungan manusia menjelaskan bahwa manusia belajar sesuatu dari pancainderanya. Sebesar 1% dari rasa, 1.5% dari sentuhan, 3.5% dari penciuman, 11% dari pendengaran dan 83% dari pengelihatan.

John C. Maxwell mempelajari proses seseorang menjadi pemimpin: 5% akibat krisis, 10% dari karunia alam, dan 85% karena pengaruh pemimpin sebelumnya.

Mengapa makin tinggi penghasilan seseorang makin menurun arti, fungsi, dan peran uang dalam membentuk kebahagiaan? Psikologi finansial menemukan jawabnya hedonic treadmill. Gaji berapapun yang diterima habis. Harapan, ekspektasi, dan gaya hidup akan ikut naik seiring dengan kenaikan penghasilan. Nafsu belanja materi dan barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan income, seperti berjalan di treadmill. Kabahagian jalan di tempat, tidak maju-maju dan tidak bergerak ke manapun. Nafsu terhadap materi tidak akan penah terpuaskan.

Charles Dickens punya ungkapan bagus: Manusia kala meragukan diri sendiri dan sedang kebungungan malah menghasilkan karya spektakuler. Dari lembah kesengsaraan muncullah berkah.

“Kita sudah jauh meninggalkan keindahan taman Eden. Telah lama kita lupakan diet sempurna yang menggantung matang dari setiap cabang pohon. Buah-buahan segar yang dirancang dengan susunan molekul tepat untuk tubuh sudah digantikan dengan makanan yang dikemas kreatif, diawetkan kimiawi, diberi rasa buatan, ditingkatkan teksturnya, diberi warna, diberi lemak (fatterned), dimaniskan, difortifikasi secara sintetis, dan dapat dihangatkan dalam microwave. Instan yang berbahaya.” – Tom GcGregorThe Perfect Diet.

Kita terlanjur menganggap filantropis (dermawan) adalah orang yang mendermakan uang dalam jumlah banyak. Padahal kata ‘filantropis’ berasal dari bahasa Yunani: philos – penuh cinta dan anthropos – orang yang berarti ‘orang penuh cinta’. Kita semua bisa menjadi filantropis. Mulailah dari hal yang kecil, yang terdekat, yang bisa kita perbuat. Sekarang! Para pemennag memikirkan hal-hal yang sama. Mereka hanya melakukan hal-hal yang berbeda.

Aku belajar menggesek biola sejak usia 14 tahun, tetapi aku selalu mengecewakan guru-guruku. Aku benar-benar mulai suka belajar sesudah jatuh cinta pada Sonata Mozart. Usaha untuk mengulangi keanggunan aransemen Mozart membuatku memperbaiki teknik gesekku. Aku yakin, secara keseluruhan, cinta merupakan guru yang lebih baik ketimbang keharusan melakukan sesuatu karena terpaksa. – Albert Einstein.

Tetaplah kaya raya akan integritas, disiplin dan kejujuran! – Sara Smith.

Jadi penasaran dan ingin nonton film Jepang: Eternal Zero. Hiks…

Jatuh 7 Kali, Bangkit 8 Kali | oleh G. Sutarto & J. Sumardianta | kisah guru pemberani yang menuai keungtungan dari ketidakadilan | cetakan pertama, Maret 2017 | penyunting Ikhdah Henny & Nurjannah Intan | perancang sampul Fahmi Ilmansyah | pemeriksa aksara Titish A.K. | penata aksara Arya Zendi | Penerbit Bentang | xxxvi + 248 hlm.; 20,5 cm | ISBN 978-602-291-373-3 | skor: 3,5/5

Dipersembahkan untuk SMA Kanisius Jakarta yang berulang tahun ke – 90 tahun (27 April 1927 – 27 April 2017).

Karawang, 180318 – Coldplay – Till Kingdom Come

Diketik Minggu pagi yang cerah bersama antrian baca Sapiens dan lagu kompilasi Winamp

A Wrinkle In Time: Disney Salah Kaprah

Mrs. Which: Trust Nothing

Setelah menunggu delapan tahun, inilah jadinya. Terjemahan gambar gerak salah kaprah. Salah penanganan. Kenapa diberikan sutradara yang minim pengalaman, tak mahir di zona fantasi? Ava DuVernay hanya kutahu di film Selma, CVnya belum banyak. Awalnya kukira bakal disutradarai James Bobin, orang yang berjasa membawa Alice menembus cermin melintas batas. Ternyata enggak jadi, sutradara perempuan yang memperjuangkan persamaan hak itu membuat Kerutan Dalam Waktu menjadi film drop segala lini. Mengecewakan. Sangat mengecewakan.

Sudah kupersiapan menonton di hari pertama tayang. Jumat sore lari sore, capek. Hujan badai menyapa pasca Mahgrib, penggambaran di novel juga dibuka dengan hujan badai. Sudah klop. Mie rebus pedas untuk menghangatkan, menanti jam 21:00. Jalan kaki ke Festive Walk untuk menyegarkan pikiran, dan apa yang kudapat dari layar lebar tak sebanding. Setelah trailer Pasific Rim: Uprising yang menjanjikan. Trailer Wreck It Ralph 2 masuk ke dunia internet dan anime Mazinger Z Infinity yang merayakan ceremonial 50 tahun. Opening act baru CGV yang berasa horor. Akhirnya kuarungi perjalanan penjelajahan dimensi yang terkenal itu.

Film dibuka dengan logo Disney aneh seolah kena gelombang kerut tesseract. Sedari awal mencoba menerapkan kesesuaian dengan buku dengan memunculkan badai di malam yang dingin, Meg Murry (diperankan aneh oleh Storm Reid) turun dari lantai atas untuk minum susu. Di dapur si bungsu yang freak Charles Wallace (Deric McCabe) sudah menunggu. Percakapannya juga sepersis mungkin. Bagaimana keluarga ini kehilangan ayah/suami tercinta Dr. Alex Murry (Chris Pine) yang kini sudah menyentuh angka empat tahun. Alex bekerja di NASA dalam penelitian kuantum fisika. Tessering is almost, nearby, perfect natural!

Di sekolah Meg adalah siswa yang penyendiri dan tampak murung, padahal sebelum kejadian hilangnya Mr Murry dia adalah siswa cemerlang. Seteru dengan teman dan tetangganya Veronica Kiley (Rowan Blackhard – cantik euy. Kucatat deh kunanti film-filmnya) menjadi bumbu tambahan kisah yang seharusnya bisa dimaklumi. Dalam adegan di lapangan basket yang annoy, Meg melempari Veronica dengan kekuatan, bola itu ke wajahnya langsung karena perisaknya keterlaluan. Adegan ia dipanggil kepala sekolah Jenkins (Andre Holland) juga bisa ma’ruf. Sekedar adegan tambahan prolog.

Suatu senja saat Meg diinterogasi kesalahan di sekolah oleh ibunya yang cantik (di novel disebutkan jelita) Mrs Murry (Gugu Mbatha-Raw) muncullah karakter aneh pertama Mrs Whatsit (Reese Witherspoon) yang seakan sudah akrab dengan Wallace. Ngobrol ngalor ngidul, disinggunglah kata ajaib ‘tesseract’. Kata itu menggerakkan kita ke masa lalu dua sejoli ini bagaimana saling mengagumi, saling memjua penemuan sebuah tesser bahwa semesta ada dalam pikiran, kita hanya butuh frekuensi yang pas untuk melintasi ruang dan waktu. Mrs Whatsit tahu dan bahkan menuturkan teori itu benar, berarti penelitian mereka bukan omong kosong. What if we are here for a reason. What if we are part of something truly divine.

Di sebuah rumah tua yang tampak kumuh dan kosong, Wallace mengajak kakaknya dan Calvin O’Keefe (si tampan Levi Miller – ini satu-satunya kasting yang pas) yang seakan dijatuhkan dari langit ada di antara mereka. Diperkanalkanlah kita sama karakter yang sejatinya paling cerdas dan unik dalam cerita ini. Mrs Who (diperankan kacau oleh Mindy Kaling – debut buruk live action) sayangnya dibuat seadanya. Bukan seadanya dalam arti penampilan, namum seadanya dalam penjiwaan, tokoh kurang penting sehingga tak memberikan kesan. Setiap bicara ia mengutip kalimat orang-orag besar yang mempengaruhi dunia. Sayangnya, Kaling seakan benar-benar hanya membaca kutipan itu. tak ada jeda pas, tak ada sentuhan asyiknya. Mulai dari sinilah saya down, duh kenapa tokoh istimewa ini jadi terlihat biasa? Kutipan pertama yang dinukil adalah Khalil Gibran dari Lebanon. Lalu mengatakan kutipan kedua, Rumi, Persia ia tertidur. Sampai akhir film, total ada 10 kutipan yang terlontar. Tak seperti di novel yang dikutip adalah bahasa asli, diterjemahkan ke English, di film ia mengutip dan menyebut Orang beserta Negara asalnya. Ga masalah sejatinya, letak salah memang ada di pembawaan bukan isi.

Saat di kebun belakang rumah, saat Meg dan Calvin menghindari tatapan dari jendela Veronica. Wallace berteriak gembira inilah saatnya. Trio W – Whatsit Who dan Mrs Which (dibawakan buruk sekali oleh Oprah Winfrey) yang tampil raksasa berkumpul. Setiap Which muncul yang ada dalam benak adalah dewa Budha raksasa yang menasehati Sun Gokong yang nakal. Inilah saatnya memulai perjalanan menembus dimensi. Kita hanya butuh di frekuensi yang pas! Dan dengan gelombang dan kerutan memusingkan kita diajak menjelajah dunia antah. Dari sinilah seharusnya keseruan itu benar-benar dimulai karena fantasi murni membimbing kita dalam fiksi yang melesat bersama kecepatan cahaya. Memasuki sebuah kehampaan di luar nalar. Wuuuuzzzz… dengan keraguan tak berkesudahan Mrs Whatsit terhadap kemampuan Meg tentang fisika kita mewujud di sebuah dunia penuh warna. Rumput padang hijau membentang, danau jernih terlihat indah, hamparan tebing yang bak potret kartu pos dan langit biru cerah disajikan dengan indah. Sangaaat indah, seakan ada di surga. Kerumuman bunga yang berisik bergosip, apa yang kita bayangkan dalam seni tulis kini bisa kita lihat dengan megah di layar lebar. Sajian tempat menyejukkan menawan hati yang kita tunggu bertahun-tahun itu mewujud.

Pencarian Mr Murry dimulai dengan Meg memperlihatkan fotonya kepada mereka yang bergosip. Mrs Whatsit mewujud sebuah makhluk terbang dengan sayap terbentang berwarna hijau menangkup mereka bertiga untuk menjelajah angkasa. Well, tak seperti yang kukira karena bukan naik vertikal membumbung tinggi, Mrs Whatsit hanya berputar melayang tak setinggi yang kuperhitungkan. Itupun sudah membuat Calvin terjatuh. Saya sempat membandingkan adegan ini dengan adegan jatuhnya Alice yang seakan tak bertepi, namun bukan. Bukan serumit itu, spesial efeknya ketara. Entah karena Miller akting jatuhnya terlihat konyol atau memang film ini sudah salah sedari awal, setelah pukauan memikat justru kita mendapat bagian yang tak semenakjubkan harap.

Di angkasa kita melihat awan hitam dengan petir dan kilatnya yang menghantui, otomatis Meg bertanya itu apa? ‘Itulah Camazotz’ materi gelap dalam dimensi. Menjauhlah darinya, berbahaya karena tesser mustahil dilakukan. Maka saat tahu ternyata Mr Murry terperangkap di sana ketiga W menyerah. Kita harus kembali ke bumi, perjalanan ke sana sulit dan sangat mengerikan. Meg menolak, kapan lagi? Inilah kesempatan menyelamatkan ayahnya. Tak boleh pulang tangan hampa, sudah sejauh ini. Sebelumnya kita juga memasuki planet bahagia bertemu Happy Medium (Zach Galfianakis). Ga seperti yang kuharapkan, ga berkesan blas. Aktor sebesar Zach bahkan diberi peran segitu doang. Kisahnya juga ga melintas waktu pada akhirnya karena diterjemahkan menjadi melintasi planet, antar semesta. Berarti ini harusnya A Wrinkle in Planet bukan in Time.

Maka saat perjalanan jelajah, dua tujuan: Bumi atau planet Camazotz itu adu kuat. Meg ternyata lebih kuat, arah terbelok ke dimensi gelap. Ketiga W tak bisa menemani perjalanan berikutnya, saatnya petualangan sesungguhnya dimulai. Hanya bermodal tiga hadiah dari W berupa kaca mata Mrs Who, nasehat mengenai pengetahuan melawan ragu Meg dan petuah agar selalu bersama, mereka bertiga memasuki sesuatu yang asing. Benar-benar asing. Benar-benar sebuah tempat antah. Melawan IT (David Oyelowo). Berhasilkah misi ini? The only thing faster than light is the darkness.

Film ini dibintangi Michael Cena, ia hanya muncul sebentar sebagai villain utama Red yang mewujud di ¼ akhir. Tak terlalu berkesan, biasa saja tak semengerikan dalam bayanganku. Dibintangi pula oleh Bellamy Young, muncul lebih sebentar. Menjadi penghubung menuju pusat kendali musuh, yang andai diperankan oleh aktor tak terkenalpun tak terlalu berpengaruh. Jualan utama film ini ga terlalu jelas memang. Semua serba nanggung.

Visual efek? Nope. Bagian bunga yang bermekar, terbang dan ditaburi di ruang sekeliling itu emang lumayan OK tapi lihatlah, kesannya hilang karena perannya emang tak terlalu mendukung cerita. Bayangan hitam yang kuharap seram juga tak mewujud. Efeknya sia-sia karena tak ada debar jantung saat Meg dan Calvin mencoba lari dari sesuatu yang tak pasti. Bayangkan kalau film ini dibuat oleh Del Toro atau David Fincher pasti akan sangat menawan saat diberi budget melimpah, efek yang ditampilkan jauh dari kata berkelas. IMAX kabarnya tak ambil jatah film ini, keputusan yang tepat. Sangat tepat.

Cerita? Nope. Mempunyai pondasi dasar buku yang sangat bagus bukan jaminan punya naskah yang rupawan. Kalimat-kalimat itu dipetakan dalam layar tanpa sentuhan yang seharusnya. Narasi novel yang menakjubkan, rontok tak terkendali. Jelas sektor utama ini gagal total. Penulis skenarionya berdua: Jeff Stockwell dan Jennifer Lee yang punya CV Wreck It Raph, Frozen dan Zootopia! Gilax, riwayat naskah kartun memukau padahal. Apa karena ini ada campur tangan orang lain dan debut live action-nya? Entahlah yang jelas babak belur skenarionya.

Aktor? BIG NO. Lagu-lagu khas Disney? Nope. Lagunya juga standar. Hanya karya Sade: Flower of the Universe yang menonjol, lainnya biasa sekali. Make up, hairstyle, costume? Nope. Semua serba nanggung. Maka kalau orang luar sana menanti keajaiban karya Madeleine L’Engle melayar lebar selama bertahun-tahun (50 tahun?) hasilnya seperti ini, pastilah kecewa. Ini adalah film bioskop adaptasi pertama L’Engle setelah versi TV pernah dibuat tahun 2003. Akankah sekuel akan diteruskan? Butuh perombakan besar pastinya, kalau ada produser gilax berani bertaruh lagi. Saya saja yang baru delapan tahun menunggu kecewa sekali. Film salah kaprah penanganan. Sama ga jelasnya, sama kecewanya bagi yang sudah membaca atau belum. Kacau.

Dengan budget tembus 100 juta Dolar, saya prediksi akan flop merugi dimensi dan mustahil capai target minimal 400 juta Dolar untuk pasar worldwide. Entah ke mana biaya sebesar itu larinya, tak terlalu nampak di semua segi. Disney salah kaprah.

Ini film persembahan Ava untuk warga kulit berwarna, bukan untuk penggemar fantasi, alih-alih pembaca A Wrinkle.

Boleh saja menghilangkan duo karakter kembar Sandy dan Dennys karena memang di novel juga tak banyak peran. Boleh juga menambahkan simbol infinity dengan eight hanging lopsided dalam frame. Namun tetap harus didasari sesuatu yang OK.

Dari belasan penonton yang ada hanya tinggal tiga yang bertahan sampai akhir. Hanya satu yang menyaksikan closing credit title berjalan. Tentu saja itu saya. Saya tetap menatap layar sampai detik terakhir untuk menemukan sesuatu di balik layar. Sedari pembuka tidak ada judul, judul utama baru muncul di akhir setelah para karakter utama memenuhi layar satu per satu. Sungguh sangat disayangkan film yang dinanti-nanti itu menjerumuskan diri ke lembah kebobrokan. Apa yang kudapat? Tak banyak pesohor yang kukenal, tidak ada scene after credit, tidak ada yang istimewa. Memang sedari awal sudah salah ini film. Tidak ditangani oleh orang-orang ahli di-genre-nya. Fantasi harusnya dimainkan oleh pecinta fantasi. Sayang sekali.

Bukannya rasis, tapi menyerahkan duit 100 juta Dolar untuk wanita berwarna pertama demi film ambisius adalah kesalahan mutlak Disney.

Boring and cheaply done plot, taking all the liberties of Disney-style writing and turning into slop. Horrible. Sad to say it, but it is true. Truly all of this expectations for this film turned into a great let-down. Bad movie, oh girl shockingly bad. What a disappointment.

Penuh sinar tapi bukan filmnya Rubay. Penuh perenungan tapi bukan filmnya Will. Segmented film tapi Disney melabeli SU – Semua Umur. Film merenung dicoloki sinar. Kalau film ini bisa bertahan dua minggu saja di Festive Walk saya akan acungi jempol.

A Wrinkle In Time | Year 2018 | Directed by Ava DuVernay | Screenplay Jennifer Lee, Jeff Stockwell | Cast Storm Reid, Oprah Winfrey, Reese Witherspoon, Mindy Kaling, Levi Miller, Deric McCabe, Chris Pine, Gugu Mbatha-Raw, Zach Galifianakis, Michael Pena Rowan Blanchard | Skor: 2/5

Karawang, 170318 – Michael Buble – Haven’t Met You Yet

Tomb Raider: Vikander’s Adventure

Lara Croft: All myths are foundations of reality.

Sesuai ekspektasi. Memang tak muluk-muluk harapannya. Hanya kisah seru-saruan. Karena saya terpesona Alicia Vikander sebagai eks mesin Ava yang wow itu, maka wajar film-film berikutnya saya ikuti. The Danish Girl, Man From U.C.L.E. sampai Jason Bourne. Saya bukan gamer Tomb Raider, dan cerita versi Angelina Jolie sudah lupa saking biasanya. Jadi reboot ini kurasa sukses. Tak ada sesuatu yang spesial yang bisa bikin kejang-kejang di bioskop, tak ada hal istimewa sampai histeris. Adegan terbaik ya pas mencoba survive di bangkai pesawat terbang, tapi itupun sekadar membuat degub jantung terpacu. Film ini memang dibuat sebagai pembuka jalan Alicia ke depannya sebagai wanita perkasa petualangan Lara Croft.

Tak ada niat siang ini saya luangkan waktu untuk bioskop, karena sore harusnya jadwal lari bersama CIF Runners. Rencana tinggal rencana, saat membuat SIM C di Polres Karawang yang seharusnya dari jam 08:00 sampai sebelum istirahat makan siang justru blabas melalui banyak birokrasi. Setelah melahap soto pedas dan dhuhur barulah kartu sakti berkendaraku beres. Mau masuk kerja sudah terlampau siang, mau pulang belum sore. Maka setelah cek jadwal film ada 14:10 di Mal Karawang Tomb Raider dan 15:15 tersedia Red Sparrow di Festive Walk ya saya ambil yang awal saja. Lagian bioskop baru XXI Mal Ramayana belum pernah. Sampai di tempat cari toko buku Salemba di lantai dasar sudah tak ada. Lho? Ternyata eh ternyata, pindah ke lantai bawah. Jadi ada renovasi mal menambah lantai bawah, Salemba diangkut turun. Seakan ini menyiratkan toko buku yang tersingkir, dipojokkan dan ditempatkan di tempat terpencil. Miris. Sepi. Dan sungguh trenyuh melintasi deretan buku yang makin hari makin tergerus. Karena budgetku bulan ini sudah membengkak, saya ambil buku tipis dengan harga dibawah 50 ribu: God and the State-nya Bakunin.

Dengan narasi suara berat Lord Richard Croft (Dominic West) kita diajak berpetualang, setting waktu 2009. Bahwa ada hikayat, mitos, atau legenda dari negeri Sakura, Pemimpin dinasti pertama mythical Queen: Himiko yang memerintah dengan banyak pengorbanan. Mitos itu menyeret banyak spekulasi, makamnya menyimpan kekuatan dahsyat yang berbahaya bagi keselamatan umat bila terlepas di publik. Maka Richard memberikan bocoran, demi dunia yang damai ia dengan berat hati meninggalkan sang putri.’Aku akan kembali sebelum kamu rindu.’ Kiss dua jari ditempel di kening jadi ikonik.

Sembilan tahun kemudian, present day. Lara Croft (diperankan dengan bagus sekali oleh Alicia Vikander) adalah seorang kurir makanan bersepeda, menekuni hobi tinju dan kekurangan dana. Dalam adegan pembuka yang keras Lara kalah bertinju latih, ia terpekur untuk mencari uang tambahan. ‘No pay no play’. Dari kutipan Hamlet tentang rubah yang kabur, permainan kejar sepeda dengan tetesan cat dan ekor rubah tersaji. Lara menghindari serbuan pesepeda yang mengejarnya demi 600 Dollar. Naas, Lara yang melamunkan ayahnya, menabrak mobil polisi. Pembuka yang seru dan menjanjikan. Ia lalu dijemput wakilnya yang mewakili Croft holding Ana Miller (Kristin Scott Thomas).

Lara bukanlah gadis miskin yang perlu mengais receh. Ia adalah pewaris Croft Enterprise di London. Maka undangan Ana untuk menandatangani surat kematian ayahnya yang tujuh tahun tak terlihat itu akan serta merta menjadikannya gadis kaya raya. Di depan Mr. Yaffe (Derek Jacobi yang absurd – saya suka sekali akting kakek ini). Banyak sekali filmnya yang membekas di kepala karena peran kecil tapi worth it disaksikan. Tentu saja akan selelu kuingat perannya yang aneh sebagai orang tua sakit parah di The Murder on the Orient Express. Saat surat kematian akan ditandatangani, sang kakek memberi mainan puzzle misterius yang merupakan warisan ayahnya. Diotak-atik, karena Lara sudah terbiasa diajari memainkannya ia berhasil membuka tabir. Dan mainan itu memuntahkan selembar foto Lara kecil dan ayahnya dan tulisan teka-teki: ‘Huruf pertama adalah tujuanku’. Surat belum diparaf, ia menemukan sebuah asa. Lara ke makam keluarga, dan ‘Huruf pertama’ yang dimaksud adalah huruf ‘R’ pada kata Richard, makamnya yang sudah disiapkan keluarga besar Croft. ‘R’ pada separo lingkaran itu sebuah tombol yang mengantar Lara menemukan ruang rahasia, Chamber of Secret itu berisi banyak hal misteri yang merupakan penelitian ayahnya. ‘Play Me’ berisi video instruksi menghancurkan semua berkas ‘Himiko’. Namun bukannya membakar segalanya, Lara malah menelusuri jejak yang ditinggal. Dengan modal kalung amulet hijau (apakah ada sangkut pautnya dengan Amulet Samarkand nya Bartimaeus?) Lara merentang jauh ke Hongkong menemui pelaut Lu Ren (Daniel Wu). Adegan tawar-menawarnya lucux. 10,000 yang ditawarkan Nick Frost, Lara minta tambahan sedikit saja, ayahnya sudah mati. Frost malah menjadikan 9,000. Damn it! ‘Kamu menggodanya ya?’ Anak yatim ini? Bah! Jadi 8,000, Lara menghentak kaca pembatas, sialan. ‘buat jaga-jaga’. Lara ambil duitnya, dengan bolpoin yang ada ia mendorong segelas kopi panas yang ada dan mengenai bajunya. ‘buat jaga-jaga’. Nantinya di akhir kisah kita akan diberi bocoran kecil, ke arah mana Lara berikutnya yang melibatkan pembelian senjata dengan kalung amulet terpasang di leher sang jagoan.

Aksi pertama sesungguhnya film ini muncul di pelabuhan, saat tiga berandal merampas tas Lara dan lari-larian di galangan kapal, melompati perahu-perahu yang tertambat, berayun dengan tali bak bajak laut. Lu Ren ternyata sang pemabuk, dengan iming-iming segepok duit disimpan di sepatu kiri, kapal Endurance mereka berlayar menuju pulau misterius Yamatai. Apa isi sepatu satunya?

Pulau itu memang tampak menyeramkan, awalnya. Badai menghancurkan kapal, mereka terdampar dan Lara sadar di sebuah tenda. Kita diperkenalkan musuh utama cerita ini Mathias Vogel (Walton Gaggins) tak tampak seperti villain? Mereka sedang dalam misi mencari makam the legend of Himiko, dan buku yang ada dalam ransel Lara menunjukkan peta lokasi. Maka setelah bertahun-tahun mencari akhirnya ada titik terang. Dalam perjalanan menuju titik X, Lara kabur. Nah bagian inilah yang terbaik. Lari, terjatuh di sungai, terseret arus, dalam posisi genting hampir terjatuh di air terjun Lara bergelayut di bangkai pesawat. Tak ada musuh, hanya besi rongsok tapi intensitas tegang justru meningkat tajam. Krak krak krak… really?

Dalam survival-nya Lara bertemu dengan pria misterius berrambut dan jenggot tebal. Ketika pria itu kabur ke tebing goa (kok ga ketemu fan MU yang lagi menepi?), Lara mengikuti. Bukan dengan cara mudah karena talinya sudah ditarik, ia ngegelayut penuh perjuangan. Taa-daaa... dia adalah Richard Croft. Ayahnya belum tewas, selama ini ternyata menjadi pelindung makam sang legenda. Justru kedatangan Lara malah memberi petunjuk. Karena kini Vogel sudah menemukan apa yang dicarinya, dia menghubungi bosnya dari Trinity untuk mengirim transpoda. Lara dan Richard Croft dikejar waktu untuk mencegahnya. Menurut mitos mayat legenda itu akan mendatangkan bencana. Jadi berhasilkan Trinity membawanya keluar dari pulau? Benarkah mitos menyeramkan itu?

Melihat aksi Alicia yang luar biasa strong benar-benar menyenangkan. Setara Wonder Woman, walau kecantikan Gadot memang setingkat diatasnya tapi tetap saja Vikander menunjukkan kapabilitasnya sebagai wanita perkasa. Film ini jadi begitu hebat berkat one-woman-show Vikander. Ini adalah petualangan Vikander seorang. Bisa saja jadi makin garang bila Daisy Ridley yang masuk, ia melepas peran ini demi franchise Star Wars. Namun rasanya akan sangat kurang bila Emilia Clarke, Olivia Wilde, Saoirse Ronan (jangan ikutan main film keras sayang, ntar flu) atau Cara Delevingne yang mendapat peran ini. Kelimanya dan belasan kandidat pernah digosipkan, tapi akhirnya Alicia yang dapat, ia komit dengan membentuk otot karena dasarnya dia kan kurus imut. Lima hari seminggu! Tapi Alicia tetap tampak imut sih walau keringat menyertai.

Referensi film ini banyak sekali. Memanah seperti Katniss, memecahkan kode bak Benjamin, ngegelantung di mana-mana bak Hunt, run – run your life seperti Thomas. Adu tinju bak Ali, kelahi tangan kosong seperti Bourne. Sederhananya Indiana Jones versi cewek. Pas banget judulnya karena memang ‘Penjarah Makam’ terlihat secara harfiah. Namun ini prekuel, yang artinya baru mula-mula, baru transform dari gadis kota yang bergelayut sepeda di jalanan metropolitan menuju ngegelayut di hutan rimba pada tempat-tempat antah. Endingnya sendiri pas banget, dengan mempertemukan sang penjual aneh dengan senjata dobel yang disilangkan. ‘I’ll take two’. Jelas, seri ini akan panjang, sangat panjang. Jelas ini adalah awal segala aksi Lara Croft versi Vikander demi meninggalkan image Jolie.

Komentar singkatku pasca nonton adalah ini seperti adaptasi A Wrinkle In Time, padahal film produksi Disney ini akan tayang dalam waktu dekat, bulan ini. Pencarian ayahnya yang hilang, versi video game. Was-was karena Tomb rilis duluan, pasti nanti muncul meme yang mencibirnya. Padahal buku Madeleine L’Engle sudah terbit sejak tahun 1962, Tomb muncul tahun 90an.

Film ini sejatinya rilis 16 Maret, tapi pasar Asia mendapat keistimewaan awal. Sesuatu yang makin hari makin sering demi menghindari pembajakan. Dasar utama kisah adalah reboot game keluaran Crystal Dynamincs tahun 2013 dengan judul yang sama. Dalam game dikabarkan Lara memang tampak manusiawi, tampak lebih lemah dan harus dilindungi tak seperti Lara yang sudah perkasa. Bahkan ada unsur seksual di dalamnya. Maka wajar sekali saat Lara membekuk musuh hingga menenggelamkan dalam lumpur, pembunuhan pertamanya ia gemetar kalut. Some men like dangerous women.

Mari kita apresiasi kengototan Vikander demi peran ini. Plotnya memang lemah, beberapa bagian boring tapi jelas ini adalah aksi menawan Vikander. Setelah menang Oscar, hanya The Danish Girl yang benar-benar bagus jadi wajar aksi di film ini harus diapresiasi. Her acting was great, always brave, spontaneous, humour, kind and stopable. Too skinny? Not sexy? Whatever! Yes this movie is not perfect, plot holes are there but adventure film in adapted game is it. This movie is fun, energetic and Vikander make it better. Ayo Vikander, saya mendukungmu. #ForzaVikander

Tomb Raider | Year 2018 | Directed by Roar Uthaug | Screenplay Geneva Robertson-Dworet, Alastair Siddons | Cast Alicia Vikander, Dominic West, Walton Goggins, Daniel Wu, Kristin Scott Thomas, Derek Yacobi | Skor: 3.5/5

Karawang, 140318 – Maudy Ayunda – Perahu Kertas

RIP Stephen Hawking

Oscar Winners 2018: Lady Empty Hand

Selama saya mengikuti Oscar, nonton live baru tahun ini tebakanku rusak parah. Empat dari empat belas. Benar, fanatisme jangan dibawa dalam prediksi atau tebak apalah sebuah kompetisi. Berkat Saoirse Ronan saya gelap mata, lima kategori prestis yang diwakilkan tak satupun menemui sasaran. Sungguh terlalu. Film paling biasa dengan banyak nominasi The Shape of Water memenangkan dua piala tertinggi Best Picture dan Director. Film coming of age gay, Call Me by Your Name menang di tulisan adaptasi. Remember Me yang biasa bisa menggenapkan piala Coco dan seabreg kekecewaan. 90 kali ini jadi angka sialku.

Berikut daftar lengkap pemenang Academy Awards ke-90 atau piala Oscar 2018 beserta komentar singkat:

#1. Film Terbaik: The Shape of Water
Dalam prediksiku saya menuliskan, ‘… cerita, acting, teknikal, semua biasa. Ampun deh, jangan hilangkan kepercayaan kami, please ba[ak ibu juri. Hasilnya? Sungguh gilax, bukan film bagusnya Del Toro menyabet piala paling tinggi ini. Saat penganugerahan, Duo tua Warren Beatty dan Faye Dunaway menyapa penonton dengan kocak: ‘hey keyemu saya lagi’. Pintar sekali panitia, memberi kesempatan kedua. Kesalahan sebut tahun lalu memang bukan dari beliau, tapi memberi kesempatan lagi sungguh mulia. Salute!

#2. Aktor Utama Terbaik: Gary Oldman, Darkest Hour
Bagian ini sudah terprediksi dengan jelas sekali. Keluarga Potter bangga. Keluarga Drakula ikut menari. Timnas Inggris dalam semangat tinggi menyambut Piala dunia 2018, Rusia. Beberapa hari kemudian, Oldman memposting gambar dirinya mengenakan jersey Rashford dengan piala Oscar dalam genggaman. Sebuah dukungan penuh untuk The Three Lions. Inikah saatnya?

#3. Aktris Utama Terbaik: Frances McDormand, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Seperti yang kusangka, hanya McD lawan sesungguhnya Saoireku. Dan terjadilah. Emang pantas menang sih. Beliau begitu menyakinkan sekali melempari kantor polisi dengan bom molotov. Maka saat McD maju ke podium dan menyampaikan pidato keren, kita semua kasih aplaus. Para nominator yang kalah berkumpul, berpelukan seakan sepakat: Mildred Anda luar biasa.

#4. Aktor Pendukung Terbaik: Sam Rockwell, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Bagian ini juga sudah sesuai. Sam memang layak menang, penampilannya konsisiten bagus sampai akhir film. Apes aja Woody dimatikan di tengah sehingga tergelincir. Three Billboards setidaknya tak bertangan hampa. Hiks.

#5. Aktris Pendukung Terbaik: Allison Janney, I, Tonya
Karena I, Tonya saya memang belum nonton sehingga ga tahu sebagus apa Allison. Sayang saja, Emaknya Saoirse ga menang. Yang pasti lawan-lawannya ga tangguh.

#6. Film Animasi Terbaik: Coco
Sah. Hanya pengesahan saja. Tanpa melihat para lawan, Coco terlalu digdaya. Sungguh tribute menawan untuk warga Meksiko. Hal ini membesitkan harap, kapan ya suatu saat sineas Hollywood membuat film budaya Indonesia dialihkan dalam kartun? Yang anti-mainstream harusnya lebih menggigit, macam cerita Bawang Merah Bwang Putih versi cadas.

#7. Sutradara Terbaik: Guillermo del Toro, The Shape of Water
Greta dalam puncak prestasi, kalah. Bukan film Del Toro, dominasi Amerika Latin. Dalam lima tahun mereka membombardir Hollywood. Sayang sekali timing menangnya ga di film keren. Dalam pembacaan pemenang, Greta mendapat sebutan Wanita hebat, satu-satunya dalam daftar. Menyambut International Woman Day padahal, sayang sekali.

#8. Sinematografi Terbaik: Blade Runner 2049
Roger Deakins akhirnya pecah telur di angka keramat 14. Luar biasa, semua hadirin berdiri memberi aplaus selamat.

#9. Efek Visual Terbaik: Blade Runner 2049
Yah, I am Groot keok. Saya belum nonton Blade Runner makanya ga tahu semegah apa efek yang disajikan. Tapi emang baru dua film yang kulahap, yang pasti penutup trilogy Apes biasa saja dari segala segi.

#10. Tata Rias dan Tata Rambut Terbaik : Darkest Hour
Seyakin baju-baju cantik Phantom, make up Perdana Menteri Churchill memang luar biasa. Agak curang memilih kategori ini dalam 14 tebakan yang kusajikan. Yah, sudah curang saja berantakan apalagi enggak. Haha..

#11. Skenario Adaptasi Terbaik: Call Me By Your Name
Meh. Masterpiece Mudbound kalah oleh film gay. Banyak yang memuji Call Me tapi bagiku sanagt biasa. Dasar utama kisahnya yangkuanggap biasa membuat penulisan naskah terabaikan. Masih mending Logan yang luar biasa padahal. Asal bukan The Disaster Artist-lah. Haha, James Franco gelo.

#12. Skenario Orisinal Terbaik: Get Out
Sepakat. Kecuali The Shape, semua bagus. Saya antusias padahal Get Out akan berbicara banyak. Namun kemenangan Jordan Peele adalah kemenangan kita semua, pecinta film berkualitas. Menjadikannya orang kulit hitam pertama yang sukses menyabet piala penulisan scenario original.

#13. Scoring Orisinal Terbaik : The Shape of Water
Dunkirk yang hebat di Teknik keok di kualitas tertinggi mereka memanjakan penonton dengan gemuruh skor. Emang lumayan bagus The Shape, iringannya masih menghantui kita tapi jelas Dunkirk memiliki kualitas skor dewa. Salah satu film dengan desingan terhebat yang pernah kutonton. Sial.

#14. Musik Orisinal Terbaik: Remember Me , ‘Coco’
Seakan Disney-Pixar menjawab tantangan apa yang bisa diraih selain best animated? Tahun ini genap juga akhirnya. Coco rilis diwaktu yang tepat. Tak seperti Kubo yang tahun lalu punya dua nominasi tapi tangan hampa. Walau saya tak terlalu terkesan Remember Me, tapi setidaknya dunia animasi memang sedang bergairah dnegan film-film Indah. Suatu saat, catat kata-kataku: animasi akan memenagkan piala tertinggi: Best Picture. Kuharap itu tak lebih dari 10 tahun dari sekarang. Akan lebih gila bila bukan Pixar, Dreamworks kini sudah menjajarkan diri, Sony sudah yahud, Iluminati juga sudah luar biasa rutin buat animasi OK. Suatu hari nanti, bukan hanya kategori music, tapi best picture.

Berikut daftar pemenang lainnya diluar prediksi 14-ku:

#15. Desain Kostum Terbaik: Phantom Thread
Saya heran sendiri, tak memasukkan daftar ini dalam prediksi padahal udah jelas ini film kuat di kostum. Akan sangat aneh bila film yang jualan utamanya baju, ga menang di bagian kostum terbaik. Phantom nyaris seperti Lady Bird tangan hampa, untung mereka berhasil menyabet baju-baju jahitan Reynold emang sangat layak menang.

#16. Film Animasi Pendek Terbaik: Dear Basketball
Sekali masuk daftar Hollywood, Kobe menang. Hebat. Sebuah piala yang tak pernah dimenangkan Michael Jordan.

#17. Film Berbahasa Asing Terbaik: A Fantastic Woman (Cile)
Belum melihat satupun bahasa asing. Namun akan kucanangkan tahun depan kulibas sebelum hari H. Era makin maju, film makin musah diakses. Kapan Indonesia punya wakil ya? Mirles, Pak Joko, Hanung, dkk. Ini tantangan sesungguhnya buat kalian sebagai sutradara lokal. Harapan kita semua.

Film Live Action Pendek Terbaik : The Silent Child
Desain Produksi Terbaik: The Shape of Water
Penyuntingan Suara Terbaik : Dunkirk
Tata Suara Terbaik: Dunkirk
Film Dokumenter Panjang Terbaik : Icarus
Film Dokumenter Pendek Terbaik: Heaven is a Traffic Jam on the 405
Penyuntingan Terbaik: Dunkirk

Secara keseluruhan Jimmy membawakan acara dengan meriah dan sangat bagus. Walaupun jelas bukan yang terbaik dari Sembilan Oscar yang kulihat karena yang terbaik tetap Ellen. Sementara yang terburuk masih dipegang Franco. Konon di tahun 2000an pernah ada host wanita kulit berwarna. Please, saya ingin suatu saat melihat pembawa acara wanita berkulit hitam. Apakah itu Oprah Winfrey?

Karawang, 120318 – Dewi Perssik – Indah Pada Waktunya