Three Billboard Outside Ebbing, Missouri: Revenge And Violence

Mildred Hayes: I need to tell you something. It was me that burned down the police station.

Tiga papan Iklan kreatif, provokatif sekaligus aneh.
#1. Raped while dying
#2. And still no arrests?
#3. How come, Chief Willoughby?

Dendam kesumat terhadap (bayangan) pembunuh. Seorang ibu yang kehilangan putrinya yang jadi korban pemerkosaan dan pembunuhan, Mildred melakukan segala upaya dan daya untuk menjerat pelaku. Jelas bukan gagasan baru, tema balas dendam yang membara adalah sebuah cerita usang dikemas berkali-kali dengan bungkus yang bervariatif. Ada yang sukses, banyak yang gagal. Three Billboard Outside Ebbing, Missouri termasuk yang berhasil menyentuh hati penonton, sukses menjerat juri Oscar. Namun untuk menang piala tertinggi, rasanya berlebihan. Walaupun memang semangat Mildred yang powerful bisa menapak puncak kejayaan.

Sedari pembuka kita sudah dihadapkan sama tiga papan yang dimaksud. Sebuah papan iklan di jalan Drinkwater punya agensi Red Welby (Caleb Landry Jones – film Oscar kedua tahun ini yang kutonotn setelah peran aneh dalam Get Out) di pinggir kota yang sudah menganggur lama, saat Mildred Hayes (dimainkan dengan api membara oleh Frances McDormand) melintasi langsung terbesit untuk menyewanya, langsung setahun dibayar tunai. Apa yang dibaca Red saat Mildred datang? Kumpulan cerpen karya Flannery O’Connor berjudul Good Man is Hard to Find. Iklan yang dipasang bukan sembarangan iklan. Sebuah kemarahan atas kinerja polisi, terutama sherif kota Chief Willoughby. Dalam wawancara TV ia bahkan menantang Departeman Polisi Ebbing untuk menuntaskannya. ‘My daughter Angela was murdered 7 months ago, it seems to me the police department is too busy torturing blackfolk to solve actual crimes.’ Tulisan iklan yang memicu banyak reaksi, komentar pedas yang menjadi-jadi. Sesuatu yang dibutuhkan Mildred, agar kasus yang mulai menguap setelah tujuh bulan mandek ini kembali dibuka, kembali digencarkan, kembali diselidiki lebih intens. Namun buntutnya ternyata juga sangat panjang dan konsekuensinya berat.

Mildred yang menjanda, hidup sama putranya yang aneh Robbie (Lucas Hedges) sehari-hari memang terlihat murung, gara-gara papan iklan itu Robbie juga kena perisak. Almarhum putrinya Angela Hayes (Kathryn Newton) nantinya dalam sebuah dengan pilu, terakhir kali terlihat hidup sama Mildred mengucap kalimat sumpah serapah yang bikin trenyuh, sedih, nangis. Penyesalan selalu di belakang. Mantan suaminya Charlie (John Hawkes) kini sudah punya gandengan baru, gadis muda yang annoying Penelope (Samara Weaving). Charlie marah, ia mendatangi Mildred, melabrak, omel-omel kenapa ada papan iklan yang provokatif? Polisi Willoughby adalah panutan masyarakat! Masa baktinya tak kan lama lagi, ia akan pensiun. Bla bla blah… Siapa peduli? Sambil nangis Charlie bilang ‘Those billboards aren’t gonna bring her back.’

Pak kepala polisi Willoughby (dimainkan dengan mantab oleh Woody Harrelson) adalah panutan warga, ia begitu dihormati. Di masa baktinya yang jelang berakhir ia mendapat kasus berat yang penyelidikannya sampai kini buntu. Ia memiliki keluarga harmonis, keluarga yang bahagia. Istrinya yang perhatian Anne (Abbie Cornish), dua putrinya yang rupawan dan pirang Polly (Riyah May Atwood) dan Jane (Sarah Atwood). Sayang sekali tekanan kasus ini membuatnya frustasi, dan ditambah ia ternyata mengidap kanker ganas di mana hidupnya diprediksi takkan lama lagi. Sejatinya is bersahabat dengan Mildred, namun kematian putrinya membuat segalanya rumit. Bagian Willoughby akhirnya membuat keputusan besar dan berani itu adalah salah satu bagian terbaik film 2017. Seram, tragis, mengenaskan. Saya jagokan Woody menang Oscar untuk itu!

Dixon (dimainkan dengan mantab pula oleh Sam Rockwell) adalah anak buah paling loyal Willoughby. Ia begitu menghormati bosnya, begitu memuja malah. Namun ia rasis, ia berkali-kali bilang menghajar para penjahat – keling kebanyakan. Terlihat sombong, jalannya slengekan. Sam juga sangat meyakinkan untuk menggondol piala. Tampan, bermasa depan cerah. Komik apa yang dibacanya saat ngaso? Robot Stories karya Bob Burden. Nantinya kita tahu, waktu telah banyak mengubah banyak orang. Waktu dan pengalaman akan mengajari manusia betapa hidup ini keras, penuh tekanan. Dixon memang karakter kuat di sini, transformasinya luar biasa.

Nah dari data fakta tersebut film mengalir dengan kerikil bertaburan, mengganggu syaraf setiap adegan berganti. Seorang dokter gigi yang kesal sama iklan itu, dilukai Mildred saat periksa. Ia dibekuk sang emak yang membara. Berikutnya setiap papasan warga, Mildred dicemooh. Tempat kerjanya di toko jua diganggu. Anaknya di sekolah dilempari kaleng. Sang pemilik papan iklan, Red juga dihajar akhirnya sama Dixon karena menerima adv yang membuatnya marah besar. Penyerbuan ini berefek panjang pula. Saling todong, saling menyalahkan, saling mengintimidasi. Dasar film yang bagus, kuat, dan menegangkan. Tragedi bercabang dan menuntut konsekuensi setiap karakter.

Tekanan kasus plus penyakit mematikan itu membuat sang sheriff melakukan tindakan ekstrem. Menulis surat kepada orang-orang yang terdekat yang punya kepentingan setelah dirinya pamit. Untuk istri tercinta Anne: Your final memories of me will be us at the riverside, and that dumb fishing game, which I think they cheated at. Untuk Mildred: So good luck with all that, and good luck with everything else too. Dan sebuah surat yang memicu masalah lainnya, surat untuk Dixon yang diambil di kantor polisi di waktu yang tak tepat. I know you’re gonna wince when I say this, but what you need to become a detective is love. Pengganti Willoughby adalah Chievo Abercrombie (Clarke Peters), mengambil tindakan tegas. Mengambil keputusan terkait kedisiplinan, tentang integritas polisi.

Nah, suatu malam terjadilah puncak kemarahan. Seseorang membakar tiga papan iklan itu. Mildred yang kebetulan lewat langsung berupaya memadamkannya bareng sang Putra, tak semua selamat. Siapa yang membakar, tak disebutkan secara detail awalnya tapi kita tak sangka ternyata adalah dia, tapi Mildred yang membara langsung menuduh pihak polisilah pelakunya. Maka dengan kemarahan ia membalas, membakar kantor polisi. Fuck ‘em! Bagian ini luar biasa, bagaimana bisa emak-emak marah bisa begitu meyakinkan melakukan penyerbuan maut? Dengan iringan skor menawan, Mildred memporakporanda simbol penegak keadilan itu. Kebetulan di TKP ada penjual mobil James (Peter Dinklage) yang menyelamatkan momen sehingga ia tak segera dijerat. Makan malam?

Tiga papan kemudian direnovasi, diperbaiki dan karena sang Sherina Ebbing sudah bukan Willoughby apakah tulisan namanya juga diganti? Penyelidikan ini seakan menemui jalan buntu. Semua terlanjur babak belur, semua kena dampak. Saat kegelapan menyelimuti dan puncak frustasi memeluk erat, suatu malam Dixon tak sengaja mencuri dengar dua lelaki bicara mengenai sebuah kejahatan yang mereka lakukan di malam kejadian pembunuhan, mendengar bahwa mereka melakukan tindakan brutal. Otomatis terbesit mereka pelakunya, Dixon berfikir cepat. Karena dia sudah off pekerjaan, dengan sengaja ‘mengalah’ adu jotos agar dapat sample darah pelaku. Tes DNA tak akan bisa mengelak. Adegan ini juga dibuat dengan meyakinkan, menyakitkan. Saat penyelidikan lebih lanjut, lagi-lagi fakta pahitlah yang muncul. Dixon dan Mildred yang kini berdamai dengan kenyataan memutuskan bersatu, ending yang sangat hebat. Mari kita bakar Idaho! Jadi siapa sebenarnya pelaku pembunuhan?

Untuk supporting actor sudah dikunci film ini. Dua wakilnya maju, dan jelas salah satunya menang. Setelah film Bugsy jadi sejak tahun 1991, inilah pertama kali ada film mengirim dua wakil best supporting actor. Saya sih lebih ke Woody karena adegan di kandang kuda itu gesture betapa hidup yang sudah tak tertanggung dapet sekali. Namun seandainya Sam yang menang, juga setuju. Hebat euy transformasinya.

9 nominasi bagaimana peluang bagian lainnya? Untuk Best Picture, saya tak jagokan. Tema balas dendam terlalu umum. Untuk Best Actress, Frances begitu meyakinkan – seharusnya pantas menang. Peluang sama besar dengan Saoirse, tapi jelas kalian tahu siapa yang kudukung kan? Untuk screenplay, bisa jadi. Peluang terbesar di sini di mana naskah ditulis Martin langsung sama sang pemeren utama, dan peluang film editing sangat terbuka kalau ga disikat Baby Driver. Karena skor sudah di-lock sama Dunkirk.

Film bagus dengan penampilan prima para actor. All this anger, man, it just begets greater anger! Namun untuk best picture? I said ‘No’. I said ‘of course NOT!’

Three Billboard Outside Ebbing, Missouri | Year 2017 | Directed by Martin McDonagh | Screenplay Martin McDonagh | Cast Frances McDormand, Caleb Landry Jones, Kerry Condon, Sam Rockwell, Woody Harrelson, Abbie Cornish, Peter Dinklage, Kathryn Newton, Samara Weaving, Darrell Britt-Gibson | Skor: 4/5

Karawang, 270218 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Iklan

One thought on “Three Billboard Outside Ebbing, Missouri: Revenge And Violence

  1. Ping balik: Prediksiku Di Oscar 2018: #SacramentoProud | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s