Kelir Slindet – Kedung Darma Romansha

Kelir Slindet – Kedung Darma Romansha

Kamu mencintaiku? Lakukan sesuatu, Min! Besok kakakmu akan datang lagi, mungkin esok dia akan melamarku. Lakukan sesuatu, Min!

Saya menemukannya ga sengaja di Bus Taka, Taman Kota Galuh Mas – Karawang saat Minggu sore iseng pilih pilah. Dinikmati kurang dari 24 jam, dan dari sinilah saya tahu arti telembuk – pekerja seks komersial. Selesai baca, ada yang mengganjal. Ga tuntas, mungkin karena buku satu jadinya menggantung, apakah buku duanya telembuk? Segelnya masih terpasang, jadi saya tak tahu. Sebagai novel pemenang sayembara roman Tabloid Nyata 2014. Kisah cinta remaja dari Indramayu, katanya sih fiksi tapi dibuat senyata di sekitar kita, sekitar kehidupan di Pantura lebih pasnya.

Tentang anak telembuk yang cantik berbibir merah kepudung yang memikat semua orang, termasuk kedua anak Pak Haji. Good idea, orang-orang yang tampak baik, tampak relijius menginginkan menikahi anak pelacur. Pusat cerita ada pada Safitri. Pemudi yang punya bakat menyanyi – antara tarling (dangdut keliling) atau kosidahan (musik dengan vokal Islami), berwajah cantik, dan punya kepercayaan diri tinggi menghadapi masa depan. Baru berumur 14 tahun, sekolahnya tinggal setahun lebih untuk selesai, tapi romantika-nya membuncah. Ibunya bernama Saritem (terdengar familiar?), di kampung sudah terkenal akan masa lalunya. Punya mimpi jadi TKW – Tenaga Kerja Wanita ke Arab Saudi, seperti warga sekitar yang pulang sukses secara materi membawa bergepok-gepok Dinar. Bapaknya, Safrudin lebih parah lagi. Cuek, hobi judi, mabuk dan nelembuk – biasanya itu memang kan satu paket. Keluarga berantakan, jelas bukan keluarga ideal. Apalagi Safrudin jarang pulang, kerjaan ga jelas, punya telembuk langganan Santi yang menambah panas suasana.

Pak Haji Nasir (akan lebih banyak memakai kata Kaji – sesuai pengucapan daerah sana) memiliki tiga anak lelaki. Ia dikenal sebagai kaji nyupang – pesugihan dengan cara mistis. Pertama Musthafa lulusan pesantren dan sarjana Agama. Sekarang ia jadi guru ngaji di mushola ayahnya Mushola Nasir. Ia juga ngajar agama di MTS Negeri Terisi. Anak kedua Zaki digambarkan yang paling normal. Tapi Kedung dengan jeli ‘membuang’ karakter normal itu ke luar kota. Zaki sedang sekolah pesantren sehingga jarang disebut. Untuk jadi kisah bagus, memang harus mengumpulkan para karakter tak normal, para karakter pecundang, jadi sudah benar posisinya si anak baik dibuang sejauh mungkin. Anak ketiga seumuran dengan Safitri, Mukimin yang di pembuka kisah ia kesemsem, kepincut dan jatuh hati. Sering mengintip kecantikannya saat berlatih vokal kosidah, ia jadi ‘Romeo’ –nya cerita ini. Kenakalan remaja, dari mandi di sungai, main layangan, cari ikan, sampai bolos sekolah demi kesenangan di bawah terik matahari. Namun tak sampai di situ, ia seakan adalah bocah cabul yang dewasa sebelum waktunya? Ya, keadaan lingkungan berpengaruh, orang tua punya andil. Dan kisah cintanya tak seperti cinta monyet yang kita kira, nantinya. Walau secara harfiah gemetar jua berduaan dengan lawan jenis, berlidah kelu dengan kata cinta serta blank seisi kepala saat bergenggam tangan. Namun lingkungan membentuknya dewasa lebih cepat. Sedari pembuka saya sudah bisa tahu akan mengarah ke mana cerita ini nantinya.

Kedung tak menutup-nutupi sifat asli para pelaku. Musthafa digambarkan guru ngaji yang tak biasa karena suatu ketika ketahuan ayahnya menyimpan buku cerita stensil, buku porno yang sebagian halamannya disobek – disimpan dan secara otomatis dinikmatinya. Novel ‘Cintaku Hilang di Ranjang’. Tentu saja kita tahu siapa pelakunya, karena Mukimin juga sama error-nya. Makin kelihatan jelas minornya karakter Musthafa karena nantinya digambarkan (secara otomatis) punya pikiran ngeres tiap lihat leher jenjang Safitri, dan tampilan (maaf) fisik, botak yang ditutupi rambut panjang serta berpeci. Sementara sang bungsu bersama genk-nya Casta, Kartam, Govar, Bagus, dan Kriting diluar sepengetahuan warga membuat janji temu di dekat pemakaman, dekat warung Sulistiowati yang di mana gosip dengan mudah tersambar bak api kena daun kering.

Suatu ketika Sondak, menjadi mata rantai gosip sekaligus mata-mata untuk sang bos. Janji temu dua sejoli di pekuburan? Sungguh ide yang romantis kawan! Kombinasi kakak-adik ini nantinya menemui titik seru saat Musthafa melamar Safitri, Mukimin mengintip bersama begundalnya lalu berbuat nakal dengan merusak motor RX King sang kakak. Aneh, unik dan jenaka. Kalimat ironis diucapkan dengan nada frustasi, “Usiamu ini sangat rentan dengan hal-hal yang berbau maksiat. Apalagi pacaran, banyak mudharatnya. Saya datang ke sini justru untuk mengajakmu ke jalan yang benar. Diridhoi Alloh. Dan jelas ini sunah Rosul.”

Cinta Safitri dan Mukimin mendapat rintangan. Walau kita tahu lamaran sang kakak ditolak, rasanya absurd: anak telembuk berjodoh dengan anak haji? Saritem yang sejatinya berharap anaknya mandapat kehidupan yang lebih baik dengan mantu yang lebih kaya, berharap menerima pinangan Musthafa, pupus saat tahu sang Kaji ternyata melecehkan. Ia muntap, marah-marah di depan rumahnya. Dikira stres, tapi ternyata ada kisah lama yang tersimpan. Apa itu, ada baiknya tak kuceritakan. Nantinya suaminya mengikuti juga berteriak-teriak depan rumah pak Kaji dengan membawa senjata tajam. Kenapa? Sama, sebaiknya disimpan agar kejutan lebih terasa syahdu saat kalian membacanya sendiri.

Di tengah kerumitan kisah, muncul satu karakter yang diambil sudut pandangnya. Didi adalah murid ngaji Musthafa, ia satu angkatan Safitri dan sejatinya juga menaruh hati padanya, tapi minder mengingat pesaingnya bejibun. Dari orang tua yang lebih sederhana, ia menuturkan beberapa keberatan, beberapa pendapat yang lebih wajar, dan tak kusangka ia menjadi kunci sebagai penutup kisah. Ia memandang dunia lebih normal dan masuk akal.

Pilihan yang sulit buat Safitri. Cintanya untuk Mukimin tapi sang ibu ingin Musthafa – nantinya datang lagi orang yang jua keluarga berada dengan tampilan agamis untuk memberi opsi lain. Wow, Safitri ini pasti lebih cantik dari Via Valen, suaranya lebih merdu dari Nella Kharisma. Cita-citanya memang jadi penyanyi terkenal sejak usia sembilan tahun, seperti pedangdut pertama yang terkenal Dede. Kalian kenal? Tidak? Saya juga! Mungkin memang saat di 90an Dede fenomenal laiknya Valen saat ini.

Ia ingin nyanyi dangdut keliling karena lebih mudah dapat duit, bisa dapat saweran dari goyangan lelaki nakal. Ia dengan mudah mengalahkan kemolekan dan suara penyanyi lain. Namun dengan bernyanyi kosidah ia (akan) dapat pahala. Seperti kata ustadz-nya yang berujar, ‘hiburan sekaligus dakwah’.

Di usianya yang ke 14 tahun ia harus memutuskan sesuatu yang sulit saat suatu hari ia bolos sekolah karena keadaan menjadi begitu sangat rumit. Ada apa gerangan?

Indramayu. Sebuah Kabupaten yang berada di jalur Pantura – Pantai Utara pulau Jawa ini memang unik. Setiap mudik naik bus yang berangkat dari Karawang/Cikarang sore hari, saat melewati malam harinya di Indramayu kalian akan melihat pemandangan yang seronok. Gadis-gadis berjajar berpakaian minim di depan rumah-rumah, warung kopi atau tempat nongkrong. Teman sekursiku pernah menyenggol perutku sembari berujar nakal, ‘Bob, lihat Bob jangan tidur dulu.’ Indramayu adalah kota santri, karena dari sanalah banyak lulusan pemuda-pemudi agamis. Indramayu juga kota dangdut, karena dari sana pula tarling populer menelurkan penyanyi dangdut skala Nasional. Maka tak heran, musik kosidah bersamaan dengan dangdut menyatu. Dan sang Penulis dengan jeli meramunya, jelas ini bukan sefiktif yang kita kira.

Kedung kelahiran Indramayu, setting tahun 1990an, pas kan dengan usia kisah Kelir Slindet. Judulnya saya apakah salah tafsir? Kiranya kelir itu kelamin. Well, kelir menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (terbitan Eska Media Press – Tri Kurnia Nurhayati, S.S., M.Pd, 2005) berarti ‘tirai dari kain layar putih untuk memainkan wayang kulit; penutup kedok dan sebagainya untuk menutupi maksud yang sebenarnya; warna.’ Sedang slindet tak ada dalam kamus, dan tak akan ketemu artinya secara terbuka di novel ini. Kiranya semacam ungkapan seronok dalam dunia pelacuran. Namun entahlah, ada yang bisa jelaskan?

Ending-nya menggantung. Nasib para karakter masih belum jelas. Bagaimana Safitri? Ke mana Mukimin? Dengan tutur Didi, akhir kisah memang tak tuntas. Karena ini buku satu, yah kalau diberi kesempatan melanjutkan baca saya dengan senang hati. Walau tak masuk prioritas, tapi tetap dibuat penasaran.

Terdapat beberapa umpatan level sedang hingga berat. Dari ‘setan!’, ‘kirik sialan’, ‘celeng!’, ‘telembuk biuk’, sampai ‘koplok!’, ‘goblok’, ‘tahi’, ‘bangsat’, dan seterusnya. Fasih tenan, mantab jaya Lik. Nuansa misuh dengan segala seninya.

Kelir Slindet memang menampilkan hiruk pikuk masyarakat apa adanya, nama-nama karakter yang sudah akrab di telinga, suasana yang terlihat wajar. Hanya sayang aja, namanya ROMAnsha. Coba kalau LAZIOsha, pasti kunilai lebih. Haha… punten buyut!

Bli adoh-adoh bakat sing bapa’, saya bacanya ikut medok. Saya jadi penasaran sama cerita legendaris Baridin dan Suratminah.

Kelir Slindet | oleh Kedung Darma Romansha | GM 201 01 14 0014 | pertama terbit bentuk ebook dan POD oleh Penerbit Bentang / Mizan Publishing 2012 | copyright 2014 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Maret 2014 | setter Ayu Lestari | desain sampul Diambil Dari shutterstock.com | ISBN 978-602-03-0356-7 | Skor: 4/5

Untuk Kedua orangtuaku dan tanah kelahiranku

Karawang, 170218 – Katty Perry – Last Friday Night

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s