Lagu Terakhir – Nicholas Sparks

Steve: “Aku ingin kau tahu bahwa kau adalah anak lelaki terbaik yang bisa dimiliki seorang ayah. Aku selalu bangga padamu, dan aku tahu kau akan tumbuh dewasa dan melakukan banyak hal luar biasa. Aku sangat menyayangimu.

Buku pertama Nicholas Sparks yang kubaca. Drama percintaan bukan genreku. Kuputuskan baca karena pinjam aja, free. Ya. kalian bisa bilang filmnya sudah apa. Lantas kenapa tetap memilih baca? Medium tulis masih yang terbaik, masih yang paling nyaman. Saya belum menonton filmnya, awalnya memang tak berniat nonton sih. Tapi setelah baca?

Buku pinjaman dari bus taka Taman Kota Galuh Mas, Karawang. Butuh seminggu untuk menuntaskan ratusan halaman di tengah kesibukan akhir bulan. Hasilnya? Ternyata mengecewakan. Judulnya sudah spoiler, ketika halaman menyisakan tiga puluh halaman, dan Steve yang sekarat tak bisa menuntaskan tulis lagu yang dicipta, kita pasti tahu Ronnie akan menyelesaikannya. Dan ketika Will pamit, akan melanjutkan studi keluar kota, berjauhan dengan Ronnie apakah kalian percaya mereka pisahan? Sparks mencipta kisah ending yang terlalu sempurna untuk jadi nyata. Seakan Penulis remaja debutan yang menginigkan kisah-kisah Cinderella yang berakhir dipelukan sang Pangeran. Sayangnya itu mewujud, ya. Kisahnya klise, bahkan sebagian ditata dengan bahasa sinetron. Duh! Pengalaman pertama dengan Sparks yang buruk.

Jadi ceritanya so so. Di sebuah libur musim panas, Ronnie yang masih 17 tahun dan adiknya yang manis Jonas dikirim ibunya, Kim ke pantai Wrightville, Carolina Utara untuk melewatkan liburan dengan ayah mereka yang menyendiri. Orang tua mereka sudah bercerai, lebih dari tiga tahun, sudah tak berkomunikasi. Ronnie yang marah, karena sang ayah kabur tentu saja ngambek berat. Andai ia kini sudah 18 tahun, usia batasan untuk diperboleh mengambil keputusan sendiri karena sudah dewasa, tentunya ia akan jalan-jalan sama teman-temannya ketimbang menyepi.

Tokoh utamanya Veronica ‘Ronnie’ Miller. Ia marah diasingkan ibunya. Musim panas yang dirasa akan membosankan, punah saat dirinya mencoba membaur dengan orang sekitar. Berkenalan dengan warga sebaya, dan ehem – tentu saja, menemukan cinta. Bertemu Marcus yang suka atraksi api bersama Teddy dan Lance – gerombolan antogonis ceritanya – dan tampak jahat kala mencampakkan pacarnya Blaze. Blaze sendiri sebenarnya muak dengan Marcus tapi karena ia terusir dari keluarga dan ia kini sendiri tak beruang, ia tak punya banyak pilihan. Nantinya kita tahu, Blaze pada akhirnya punya batasan, dan terjadi salah pengertian karena Marcus yang jatuh hati sama Ronnie membuat suasana panas.

Ronnie mendapati sarang penyu di dekat rumah pantainya, telur penyu itu harus dilindungi. Karena penyu termasuk hewan langka, sehingga segera menghubungi lembaga konvervasi. Sayangnya tak kunjung tiba, padahal Ronnie melihat ada rakun yang siap melumat telur-telur itu. Maka ia pun memutuskan membuat tenda darurat, untuk bermalam di pantai di dekat sarang telur. Nah, saat esoknya petugas datang ia terkejut karena petugas yang datang adalah Will. Orang yang kemarin menabraknya, saat bermain voli pantai. Will ternyata hanya volunteer, seorang tenaga bantu. Ia sudah lulus sekolah, sembari menunggu melanjutkan kuliah ia membantu bisnis bapaknya di bidang rem permesinan. Maka saat mereka berdua berjumpa, ada rasa canggung, sedikit rasa benci, sekaligus ada cinta yang tak terkata. Hasilnya, mudah ditebak. Karena kita nantinya akan tahu, Will adalah anak orang kaya – dari keluarga Braze, Ronnie tampak seorang gadis istimewa yang membuat banyak laki terpesona. Yah, klise deh. “Aku adalah pemain voli garis miring montir garis miring relawan.”

Steve adalah seorang ayah yang kaku. Seorang pengajar les musik. Ia mahir main piano, tapi kini ia melepas segalanya. Menyendiri di rumah pantai, bekerja seadanya di bidang pertukangan, membuat jendela, pintu, furniture ala kadarnya. Berteman dengan Pendeta Harris yang mengayomi, kini Steve lebih banyak menghabiskan membaca Alkitab ketimbang kegiatan duniawi, termasuk memainkan tuts piano. Perubahan yang mengejutkan. Ronnie yang ngambek sudah tak mau main piano meminta, alat musik di ruang tengah untuk disingkirkan atau minimal disekat agar tak terlihat. Maka Steve membuat pembatas, memenuhi putri kesayangan agar tak menggangu. Yah, Steve tampak tak banyak marah, tak banyak omong dan pasrah seakan menanggung kesalahan masa lalu. Saat putrinya pulang malam-pun, ia hanya menyapa sweetheart dan bersikap bersahaja. Seakan begadang adalah rutinitas wajar. Steve menyayangi anak-anaknya lebih daripada hidupnya sendiri, tapi lebih dari itu, dia tahu Jonah juga membutuhkannya dan sekali lagi dia menyadari dia sudah gagal menjadi ayah.

Jonah adalah adik yang sempurna. Karakter manis yang mengisi segala kemuraman kisah, bisa menempatkan diri saat kakak dan ayahnya saling berdiam diri. Mem-ceria-kan suasana, membuat ruang keluarga berwarna. Seakan anak berusia tujuh atau delapan tahun. Dewasa sebelum waktunya. Menghibur ayahnya dengan main layang-layang – ini lebih menyenangkan ayah ketimbang Jonas. Mengajak menghabiskan waktu untuk kegiatan bersama, diajari membuat jendela, pintu dan menyanyikan lagu-lagu kesukaan orang tua. Benar-benar anak yang manis.

Will di sini jadi pemuda impian setiap wanita. Manis, cerdas, setia, kaya, tampan, sangat baik – sebutkan kata-kata pujaan Gadis untuk dijdikan pendamping di pelaminan. Bagaimana bisa ada karakter sehebat ini, bahkan saat saya mengetiknya rasanya malah muak. Nyaris tanpa cacat. Maka saat tahu pacarnya selingkuh, ia memutuskan sendiri. Saat menjadi tenaga sukarela lembaga konvervasi itulah, ia menemukan cewek istimewa di diri Ronnie. Maka kisah bak dongeng masa kini itu dicipta. Saya sudah menebak, apapun yang terjadi, konflik apapula yang disodorkan PASTI pada akhirnya mereka bersatu. Sangat biasa, sayang sekali Sparks benar-benar tak berfikir untuk merombak happily ever after tersebut. Lulusan Laney High School. “Micahel Jordan bersekolah di sana.”

Kutemukan beberapa typo. Kiranya Penerbit sekelas Gramedia akan terbebas dari terlewatkan cek and recheck karena pastinya sudah melalui beberapa proof reading. Saya hanya tandai sebagian dan ingat halaman berapanya, karena ini buku pinjaman maka ga boleh kunodai pewarna segaris-pun. Berarti typo-nya lebih dari yang saya cantumkan berikut.

Kentang gorang – halaman 56. Kaian bersaudara? – h 103. Ronne – entah halaman berapa. Blazee – entah halaman berapa.

Dengan sudut pandang berubah-ubah sesuai dasar penceritaan, sebenarnya kisah ini berpotensi meledak andai tak klise. Yah, buku pinjam sih jadinya ga terlalu sedih. Hanya kecewa dan dirugikan waktunya saja. Tak kapok sama Sparks, apalagi beberapa novelnya sudah diadaptasi layar lebar jadi kalau ada lagi pinjaman masih siap melahap, yang pasti tak beli. Haha… Lagu Terakhir bukanlah buku pertama dan terakhir dari Sparks untukku.

Lagu Terakhir | by Nicholas Sparks | copyright @ 2009 | diterjemahkan dari The Last Song | 6 15 1 84 020 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Hetih Rusli | editor Ruth Priscilia Angelina | cover Marcel A. W. | cetakan pertama, 2015 | ISBN 978-602-03-2120-2 | 520 hlm; 20 cm | Skor: 3/5

Karawang, 060218 – Sherina Munaf – Jalan Cinta