Pulang – Happy Salma

Kumpulan Cerita Pendek. Dibaca kilat saat senja menyapa di taman kota Galuh Mas. Tengah pekan saat jelang Gerhana Bulan Total. Rencana awalnya buku ke 31 yang dibaca tanggal 31 tahun ini adalah Dilan, tapi iseng santai di ayunan taman dengan buku ini justru langsung selesai. Happy sukses membuatku happy. Mungkin karena tipis, hanya 120 halaman tapi banyak juga kok buku tipis tak selesai baca, apalagi dalam sekali duduk. Penulis yang bisa menahan pembaca untuk penasaran sehingga terus terpaku jelas sudah separuh jalan untuk memukau.
Ini adalah Happy Salma. Yup, Anda ga salah baca. Happy yang itu, selebriti nulis buku? Yup. Kata pertama yang keluar setelah selesai baca adalah KEREN. Tante Happy bukan sekedar menulis kisah, tak apa adanya, tak Cuma narsis, tapi isinya juga OK. Ini jelas diluar dugaku. Ceritanya ngena banget. Selaput kejut yang dilepas bisa pas. Detail kecil yang harusnya disimpan, bisa ditahan. Daya kejutnya mungkin tak WTF ala Nolan – yah siapa juga yang berharap kelas berat, tapi jelas seorang pesohor di mana seni tulis bukan job utama bisa menulis cerita sebagus ini patut diapresiasi. Sangat patut dipuji. Herannya kumpulan cerpen ini dirilis tahun 2006, kenapa tak ada hype ya? Kenapa saya baru tahu setelah lebih dari sedekade? Berisi 8 cerita dengan problematika variatif.
#1. Pertemuan
Andai satu kalimat ending-nya ga gitu pasti ini cerita akan jatuh ke dalam kisah klise. Walau bukan sesuatu yang baru, tapi keberanian mengetik twist itu saja jelas sebuah keputusan yang berani. Di Depok, Cantik mencari kakaknya Yuli yang sudah lama tak dijumpai, di akhir jumpa ada riak yang menyakitkan, dendam, sakit hati, kesal. Ibunya rindu, ibunya ingin Yuli pulang. Berbekal alamat, ia menelusuri jalan. Dan sebuah pertemuan itulah terungkap kejutannya. Kak, mengapa kau ‘sangat’ berubah, sampai aku tak menemukan kata lain selain ‘sangat’ untuk menggambarkan perubahanmu.
#2. Ibu dan Anak Perempuannya
Ini juga ada kejut di akhir, dayanya memang ga besar tapi getarnya terasa, terasa ngilu. Ibu yang sakit-sakitan. Anak yang dulunya membandel, kini coba menebus dengan bakti tanpa pamrih apapun. ‘Bu, Arum janji, Arum tidak akan pernah berhenti untuk menjaga ibu.’ Dan saat klason terdengar di luar rumah, kita tahu ada yang janggal di narasi ini. Ibu adalah segalanya.
#3. Adik
Sang adik Kiki kini terasa berubah. Si kecil yang dulu ceria, suka berkicau, bandel, jahil, jenaka. Kini lebih banyak merenung, sedih dan kehilangan gairah. Secara naluri, kita menebak ada apa dengan Kiki? Dengan tutur kisah sudut pandang orang pertama sang kakak Nani Novianti, kita diajak mengenang masa lalu, tentang segala kesan indah. Rasanya merinding. Salam buat Emak dan Bapak. Ini bukan tentang Kiki.
#4. Perjalanan Jauh
Ini kali pertama akan kutapakkan kaki di Negeri Sakura. Benang merahnya tipis. Masa kini yang dalam perjalanan udara ke Jepang dengan kisah utama tentang menunggu ibu yang berbelanja. Kilas balik, bagaimana saat itu, saat masih kecil ia ditinggal sendiri. Sore yang dijanjikan pulang tak kunjung muncul sang ibu. Nunggu sampai kapan? Bukan, kalau kamu nebak sad ending, macam ibu tak pulang karena kecelakaan – klise sekali – kalian salah. Happy tak sedatar itu memutuskan apa yang terjadi pada tokohnya.
#5. Kenangan Singkat
Yang paling biasa dari daftar ini, konfliknya kurang. Di tanah Papua, sang penyanyi menghibur warga dalam rangka menyambut Pilkada. Lagu-lagu yang dimuntahkan Penyanyi Ibu kota tak bisa membuat penonton bersuka cita, justru dari penyanyi lain, penyanyi lokal yang bisa membawa aura membuncah karena lagu yang dibawakan lagu daerah yang lebih akrab. Saat jeda, ia berbincang dengan seorang anak asli Papua, Daniella. “Matamu, cantik!” Yah, judulnya tak bohong. Ini hanya kenangan singkat di Negeri Timur Indonesia. Tak ada kejutan.
#6. Pada Sebuah Pementesan
Ini tentang para siswa yang latihan sandiwara jelang pementasan sekolah. Laiknya anak-anak yang ceria, drama itu disambut ceria – sebagian besar. Namun tidak untuk Iska yang punya rasa judes sama Nadia si ratu merak. Sang pemeran utama si peri yang siap mengabulkan permintaan. Rina, teman kita antusias saat diajak walau dapat peran kecil. Iska yang kepalanya penuh dendam dan aura jahat merencana sesuatu. ‘Iska, ternyata kamu pintar menari juga ya. Mungkin kalau pementasan ini masih panjang, kamu bisa jadi sahabat peri’ Nah, kita bisa tahu ke arah mana pikiran Iska setelahnya. Hahaha…, ketawa jahat.
#7. Pulang
Jadi judul utama buku, biasanya yang terbaik. Biasanya. “Kapan menikah? Perempuan semakin bertambah umur hanya bisa dipilih bukan memilih.” Nar pulang kampung, kini tanah kelahiran, kampungnya itu berubah pesat. Tempat-tempat hijau dan alami masa lalu itu kini telah berubah banyak sekali. Semen dan beton menyulap kenangan menjadi buyar. Pohon ditebang, air sungai mengeruh, jalanan beraspal, cerobong asap pabrik menantang langit. “Ini tanah kita, Nar, tanah yang harus kita junjung.” Awalnya terlihat seakan mengenang kenang, tapi tidak. Ada gap, ada seteru lama antara Nar dan Bapak. Aku tidak ingin pulang, aku sedang patah hati. Bukan sedekar sakit hati, ada prinsip orang tua yang bisa terbengkokkan. Beranikah Nar?
#8. Umi
Penutup yang bagus, yang paling bagus. Kalau sudah takdir, mana bisa kita mengelak sekeras apapun yang kita coba, sekuat apapun daya dorong kita menampik kenyataan. Bangunan kuno, melajang hingga tua. Umi berumur panjang, ‘Aku ingin hidup seribu tahun lagi!’ Dalam kunjungan Ratih kepada orang yang pernah berjasa di masa kecilnya. ‘Kau lebih cantik dari yang kubayangkan.’ Awalnya dikira kunjungan biasa, Umi yang menua duduk di kursi memandang jendela dan terkadang terkikik, seram. Si Chairil itu cakap, sekali lagi seolah berteriak, ‘aku ingin hidup seribu tahun lagi’. Disambut saudara jauh Umi, Ratih terkejut karena kedatangannya tak sesederhana yang ia bayangkan. Tak seperti yang ia duga, dan pembaca kira. Lalu keris sakti warisan leluhur mengungkap segalanya.
Keksuksesan secara kualitas ini harusnya menjadi pemicu karya-karya tulis lainnya buat Tante Happy. Karena saya termasuk orang yang tak upadate kabar pesohor maka saya juga tak tahu apakah beliau sudah menelurkan tulisan berikutnya. Yang jelas kalau ada, rasanya layak diburu. Layak dinimati.
Pulang. Pulang Nak. Kapanpun, bila kau merasa sepi.
Pulang | oleh Happy Salma | cetakan pertama, November 2006 | editor Tim Koekoesan | penata sampul Iman Koharudin | ilustrasi Gilang Cempaka | fotografer Ojel dan Harry Syahrizal | Penerbit Koekoesan | ISBN 979-9545-2-5 | Skor: 3.5/5
Karawang, 040218 – Spice Girl – Viva Forever
Diulas santai di Ahad pagi yang gerimis ditemani secangkir kopi panas dan iringan kompilasi lagu akustik. Meyka dan Hermione masih pulas.

Iklan