Lady Bird Saoirse Best Actress Saoirse Lady Bird

Lady Bird McPherson: What if this is the best version?!

Yes. This is the best version of my love Saoirse. For Saoirse! For Ronan! For Lady Bird! Saoirse pernah ditanya apakah kata yang sulit diucapkan dalam aksen Amerika? Jawabnya ‘Perfect’. Padahal bagiku kau sudah sempurna sayang.

Just because something looks ugly doesn’t mean that it’s morally wrong. “King Forever 1985!

Kalau bukan sekarang kapan lagi? Inilah kesempatannya, inilah saatnya, inilah momen itu. Untuk ketiga kalinya Saoirse Ronan mendapat nominasi. Setelah kesempatan pertama dalam Atonement yang absurb, lalu pengalaman dalam Brooklyn kini sang gadis pujaan menjelma Lady Bird. Kali ini kesempatan jauh lebih besar karena setelah kutonton filmnya –berulangkali – memang sangat bagus dan pantas berbicara banyak di Oscar 2018. Catet! Semua kategori saya jagokan film ini – picture, directing, screenplay, actress dan supporting actress. Sempurna. Demi Greta, Demi Laurie, Demi Sacramento. Demi Saoirse, demi kamu sayang.

Kisahnya sudah sangat bagus sedari awal. Bagaimana tidak terpesona? Ada kutipan putih di atas layar hitam: ‘Siapapun yang berbicara tentang hedoisme California, tak pernah menghabiskan Natal di Sacramento’ – Joan Didion. Siapa Joan Didion? Tak kenal? Sama, tapi kutipannya sangat pas menggambarkan kota Sacramento skala luas. Lady dan ibunya bangun tidur dan berdiskusi, apakah Aku terlihat seperti orang Sacramento? Berikutnya nama Penulis besar favoritku John Steinbeck disebut, novel audio The Grapes of Wrath (yang ini belum baca, tapi saya benar-benar terkesan sama Of Mice and Men dan The Pearl) itu didengarkan dalam perjalanan pulang bermobil. Siapa John Steinbeck? Nah kalau yang ini saya tahu dong. Pemenang Nobel Sastra. Mereka dalam perjalanan pulang dari sebuah hotel, dari tur pengenalan kuliah CA, sayangku Christine ‘Lady Bird’ McPherson (diperankan dengan SANGAT cantik seperti biasa, oleh Saoirse Ronan) dengan ibunya Marion McPherson (Laurie Metcalf, Oscar juga for her please…). Hubungan ibu anak inilah tema utama kisah ini. Transformasi putri kesayangan dari sekolah menuju kuliah. Masa-masa peralihan, menuju dewasa. Sebagaimana keluarga umumnya, saat dekat mereka cekcok terus. Jadi ingat kakakku yang pernah robek poster Marcelo Salas. Dari hal-hal remeh seperti milih baju pesta sampai masalah krusial terkait keperawanan. Dialog keren nan lancar dan menggigit dalam mobil tentang pemilihan tempat sekolah itu diakhiri dengan adegan loncat keluar pintu mobil karena ngambek, Yup saat kendaraan masih berjalan. ‘Yang menarik dari 2002 hanyalah sama jika dibaca dari belakang.’

Christine McPherson (berikutnya saya akan pakai nama Lady dalam penyebutan) belajar di sekolah Katolik yang kolot. Sepanjang film nyaris kita akan lihat Saoirse berambut cat merah di sebagian kecil ujungnya dan mengenakan perban pink di tangan kanan (draft aslinya tak ada perban itu, tapi Saoirseku-lah yang mengusulkan), perban itu dicoretin kalimat kasar tentang ibunya. Sekolah agama yang memang lebih banyak mengajarkan budi pekerti, tentang seni dan republik. Dengan setting di Sacramento tahun 2002, kita akan diajak menelusuri keseruan dunia pendidikan dari sisi seorang cewek yang galau. Lady dan sahabat karibnya yang gendut Julie Steffans (Beanie Feldtein) mengambil kelas drama – Some people aren’t built happy. Ikut audisi drama, belajar akting, bikin poster Vote Lady Bird for president dengan gambar burung berkepala dirinya. Poster yang dikomplain bu Guru. Sang guru merekomendasikan ikut kelas drama, padahal Lady ingin ikut Olimpiade Matematika. Hahaha… Kasar.

Ia jatuh hati sama seorang pemuda tampan dari sekolah Xavier Danny O’Niell (Lucas Hedges), lawannya berakting untuk pementasan ‘Merrily We Roll Along’. Kisah cinta pertama ini awalnya terlihat sempurna. Karena saat pesta keluarga ia diajak ke rumah impian yang pernah dilewati duo sahabat. Wow tempat istimewa di Sacramento Timur itu ternyata istana milik neneknya!? Berarti nanti kalau jadi menikahi Danny rumah itu akan jadi miliknya, kan harusnya ke ibunya dulu, Ok nanti saya bunuh! Dasar dialog remaja ngasal. Hampir saja cerita ini jatuh ke kisah kasih anak SMA yang klise. Tidak. Tentu saja tidak.

Sepulang sekolah mereka belajar merokok untuk pertama kalinya. Cerita memang berpusat pada aktivitas hari-hari dalam dunia pendidikan, tapi berjalannya durasi kita diajak menelusuri konflik keluarga jua. Ayahnya Larry McPherson (Tracy Letts) bermasalah dalam pekerjaan. Ia kena pengurangan karyawan – bahasa alusnya PHK sih. Ibunya seorang perawat rumah sakit jiwa yang untuk mengumpulkan duit harus kerja extra, bahkan dobel shift. Untuk membayar sekolah yang dekat saja sidah berat, Lady malah ingin sekolah prestise jauh yang mustahil dibayar. Laiknya keluarga, segalanya akan dilakukan demi anak. Maka saat tahu, Lady berulah di sekolah berujar tentang aborsi kepada gurunya ‘Listen, if your mother had had the abortion, we couldn’t have to sit through this stupid assembly!’, Marion marah besar. ‘Koe tak sekolahke larang-larang, kelakuanmu koyo wedus!’ Ibu yang cerewet, ayah yang pasif. Dua saudaranya freak Shelly (Marielle Scott)dan Miguel (Jordan Rodrigues) yang lulusan Berkeley aja hanya jadi kasir toko kelontong, walau nantinya mereka pun punya sesuatu yang bisa dibanggakan dalam keluarga, sejauh apapun kalian pergi, sedalam apapun kalian terluka, marah, kesal, Keluarga adalah jawaban segala keresahan itu.

Ada keretakan hubungan persahabatan antara Lady dan Julie. Muncul teman baru yang lebih popular Jenna Walton (Odeya Rush) yang menjadi sandaran curhat dan meluangkan waktu. Jenna terlihat memakai rok pendek, sering ditegur guru. Gambaran anak nakal. Permulaan persahabatn mereka pun lucux. Lady ngerjain guru dengan memasang tulisan di belakang mobil ‘Just married to Jesus’. Namun sahabat sejati, jelas tak sama dengan teman yang ada sekedarnya. Adegan saat pesta dansa, itu sungguh menyentuh. Ada hati terluka antara Lady dan pacarnya, alasan putusnya pun dibuat dengan alasan sangat kuat sehingga kita akan ma’ruf. Lady yang juga terpesona sama anggota band L’Enfance, Kyle Scheible (Timothee Chalamet), menjalin kasih berikutnya. Cinta monyet itu berakhir menyakitkan. Kekecewaan Lady mewakili hati para terkasih yang patah. Waktu terus berjalan Lady…

Dan yang utama sekali, hubungan timbul tenggelam antara Lady dan ibunya. Akan sangat spesial jika mereka berdua menang Oscar. Keretakan hubungan itu bisa ditambal sulam, direkatkan lagi, lalu pecah berantakan. Adegan saat Lady meminta nominal itu luar biasa keren, maka saat Saoirse nanti maju ke podium ingatlah bagian ini. Emosi prima, menghenatk, berdebar dan deg-degan. Apalagi keputusan akhir yang pas, di mana keberangkatan Lady merantau untuk melanjutkan studi membuatnya lebih dewasa. I hate California, I want to go to the east coast. I want to go where culture is like, New York, or Connecticut or New Hampshire. Akankah ada kesempatan kedua merajut retak hubungan itu?

Different things can be sad, it’s not all war. Kekuatan utama film ini adalah dialog-dialog berkelas. Memainkan ironi, drama kuat hubungan keluarga yang keren. Pantas menang Best Picture dan Directing. Setelah lama tak terdengar ada sutradara wanita menang piala tertinggi setelah film Zero Dark Thirty, inilah saatnya buat Greta Gerwig. Kota Sacramento pernah membentangkan papan iklan sebagai ucapan selamat untuk Greta Gerwig atas piala Golden Globe, #SacramentoProud bayangkan nantinya saat ia mennag piala tertinggi. Wow. #PalurProud

Chemistry Greta dan Saoirse sangat kuat laiknya Saoirse dan Laurie. Proses sangat awal film ini bahkan terdengar dramatis karena Saoirse di tahun 2015 saat mempromosikan Brooklyn bertemu Greta yang sedang jual film Maggie’s Plan. Di hotel tempat Saoirse menginap itulah, Greta berdialog mengenai proyek Lady Bird, naskah yang sudah selesai ditulis tahun 2013 itu ditelaah dan diapungkan guna terealisasi. Draft naskah aslinya 350 halaman yang bisa memakan durasi lebih dari enam jam, dan setelah tertahan bertahun-tahun Greta dengan bahagia telah menemukan sang protagonist. Saoirse sendiri bilang untuk menghidupkan karakter is terinspirasi film Saved by the Bell tahun 1989. Dalam prosesnya Gerwig bilang sama kameramen untuk tak seringan mengambil gambar close-up Saoirse karena takutnya dijadikan explore kecantikan. Judul aslinya adalah ‘Mother and Daughter’. Bagian saat Danny bilang, ‘Your Mom is crazy’ lalu dibantah Lady karena ibunya hangat, dikelakari lagi ‘She’s warm, yeah but she’s scary and warm.’ Haha… Well, you can’t be scary and warm. Dasar Lady, sekalipun sama ibunya ngambekan tapi tetap saat sama orang lain dibela. All hail Mom!

Apapun itu Lady Bird sukses dari segi kualitas dan komersial. Menjadikan film rumah produksi A24 dengan penghasilan tertinggi.

Melihat alur waktu 2002, saya yakin film ini sebagian besar adalah pengalaman hidup sang director. Pemilihan nama karakter Christine contohnya, itu adalah nama ibunya, apalagi dalam cerita Marion adalah perawat, profesi yang dilakukan Christine Gerwig. Setting waktu 2002 sampai 2003 adalah watu yang sama dengan sang sutradara lulus sekolah SMU di St. Francis Catholic. Tahun yang sama denganku lulus STM 1 Solo, eh abaikan.

I was on top! Who the fuck is on top their first time!’ YOU Saoirse, You. Congratulation…

Lady Bird | Year 2017 | Directed by Greta Gerwig | Screenplay Greta Gerwig | Cast Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Tracy Letts, Lucas Hedges, Timothee Chalamet, Beanie Feldstein, Lois Smith, Odeya Rush, Stephen Henderson | Skor: 5/5

Karawang, 280218 – Sherina Munaf – Ada

Mudbound: Narasi Kisah Yang Hebat

Pappy: I don’t know what they let you do over there, but you’re in Mississippi now Nigger. You use back door.

If the book is better than this film, this is a book for your library. The good narrations by different characters at different times. Different perspective of the storytellers is blatantly obvious while the movie spares realistic actions. Cool! Pantaslah narasinya bagus, lha diadaptasi dari novel Hillary Jordan, kalau ada kesempatan suatu hari akan kunikmati.

Ketika opening credit muncul, saya lumayan kaget jua karena kukira Netflix hanya memproduksi film layar kecil. Sudah banyak yang bilang, film produksi mereka berkualitas. Karena saya tak ikuti, tak nonton juga secara runut dari TV kabel, maka seingatku ini film pertama dari Netflix yang kunikmati sampai tuntas.

Film ngegoliam yang melelahkan. Untungnya plotnya bagus, narasinya luar biasa, sehingga dua jam lebih yang kita luangkan tak rugi. Menikmati Mudbound seperti membaca buku. Keunggulan utama kisah ini adalah narasi padat yang enak sekali diikuti. Apalagi saat tahu endingnya ternyata dinukil di prolog. Lima menit awal yang krusial itu, menjadi sebuah boom penyelamat keseluruhan. Spesifik lubang kubur yang berisi tengkorak budak yang tewas ditembak, seakan berteriak lantang ‘kena kau! Karma does exist’. Untuk mencapai boom itu kita memang harus bersabar, detik demi detik orang ngoceh, ngelantur dan pada akhirnya meledak dalam tikaman pilu.

Kisahnya memang tentang dua keluarga yang hidup bertetangga. Jacksons berkulit hitam dan McAllan berkulit putih. Tak ada sentral cerita termasuk da pusaran duo saudara Henry McAllan (Jason Clarke) dan Jamie McAllan (Garrett Hedlund) di masa sebelum saat dan sesudah Perang Dunia Kedua. Tak ada tokoh utama yang dominan, semua pembagian tugas sudah sangat pas. Henry yang kolot yang tak romantis sedang bahu membahu menggali kubur dengan sang adik, Jamie yang tempak lebih cerdas. Hujan, mencari liang yang lebih pas, dan saat sebuah gerobak berisi keluarga negro melintas Henry meminta bantuan. Dengan tatapan penuh arti Jamie dan wajah sendu sang gadis lalu kita dinarasinya secara voice-over ke Musim Semi 1939.

Laura (diperankan dengan cantik oleh Carey Mulligan) adalah perawan tua 31 tahun, lulusan seni yang mengajar musik ini ‘dijodohkan’ dengan Henry dalam jamuan makan malam. Dalam narasi sendu, Laura bertutur bagaimana ia dilamar tak seperti yang diharapkan dalam bayang harap, tak ada pria berjongkok dan memohon. Sementara Jamie adalah seorang pilot yang Amerika yang siap diterjunkan dalam perang. Dalam adegan pembuka ini kita tahu, bahwa Laura sejatinya jatuh hati sama sang adik yang lebih cocok karena paham seni dan literasi. Saat Jamie akhirnya bergabung dalam perang, keluarga Henry berkembang. Jepang menyerang Amerika, 7 Desember 1941 dan pertempuran akhirnya berkecamuk.

Sementara dari keluarga Jacksons yang punya kulit berwarna, kita diajak ke pertemuan perpisahan sang Putra sulung yang berangkat mengemban tugas militer. Ronsel Jacksons (Jason Mitchell) diantar keluarga dan para tetangga dengan haru biru. Sang ibu Florence (Mary J Blige) hanya berpesan satu, ‘Pulanglah. Kembali lah dengan selamat.’ Dengan narasi sang ayah Hap (Rob Morgan), kita diajak menelusuri kehidupan para budak pertanian. ‘Miskin, menggali, banting tulang, menanam, memetik, membesarkan, dibakar, miskin lagi. Mengerjakan tanah ini seumur hidup, tanah ini takkan pernah menjadi milik mereka.’ Kalimat ini jelas diambil dari buku langsung. Saya belum membacanya, tapi suara berat Rob Morgan terdengar jelas ia membaca kutipan buku asli. Penyataan sedih para minoritas.

Saat Jamie bertempur, keluarga Henry yang kini terdiri ayahnya Pappy (Jonathan Banks) yang rasis, Laura dan dua putrinya memutuskan pindah. Bukan keputusan bulat sih, tapi Henry sebagai kepala keluarga mengambil keputusan sendiri untuk pindah ke Mississippi, membeli tanah dan akan hidup di sana. Di sinilah kebodohan Henry nampak, ia ditipu. Rumah yang dibelinya ternyata sudah dijual kepada orang lain, jadi saat keluarga ini sampai di sana mereka diusir. Konyol, sungguh bodoh. Akhirnya mereka terpaksa tinggal di perkebunan, di peternakan dekat rumah orang-orang kulit hitam.
Sesampai di sana, tahulah kita. Keluarga Hap yang menyambut, diminta bantu menurunkan barang. Mereka kini hidup bersisian. Di tahun 1940an Amerika masih sangat rasis, perbedaan warna kulit, antipati Jerman dan Soviet (nantinya) masih kental. Maka Papy terhadap keluarga Hap selalu pikir kolot sungguh seluruh kalimatnya terdengar mengancam, melecehkan. Dalam sebuah adegan yang sederhana, Hap menemukan bukunya Charles Dicken: A Tale of Two Cities di gudang. Ternyata ia bisa baca, dikit-dikit. Putranya Ronsel ikut perang, putrinya bahkan bercita-cita menjadi seorang stenograf. Hebat, setidaknya keluarga ini punya harapan. Punya keinginan untuk memperbaiki nasib. Nantinya Hap yang sedang memperbaiki atap, terjatuh dan sakit parah. Keluarga Henry memaksa pertanian untuk terus berlanjut, terutama Pappy yang tak mau tahu kondisi apapun. Tak mau peduli sekalipun, nantinya Florence yang membantu Laura mengurus anak-anak yang sakit, membantu banyak hal dalam rumah tangga. Sungguh memprihatinkan.

Ronsel sendiri akhirnya menemukan cinta saat Perang berlangsung. Di Jerman ia menjabat komando tank, dan memadu kasih. Sementara dari udara Jamie mengalami trauma, saat rekan co-pilot tertembak dan pesawat mereka tersudut. Pesawat bantuan tiba di saat krisis, yang menyelamatkan hidupnya. Kejutan kecilnya, pilot pesawat penyelamat berbuntut merah itu diisopiri oleh pria kulit hitam. Hal ini membekas dalam ingatannya, dan mengubah pendangannya terhadap hidup. Seperti yang kita tahu tahun 1945 sejarah mencatat kemenangan sekutu. Pasukan Amerika otomatis ditarik pulang. Dan di sinilah sejatinya kisah dimulai. Para pahlawan perang adaptasi dengan kehidupan tenang sebagai warga Negara.

Ronsel mengalami pelecehan warna kulit. Di sebuah toko, saat ia akan keluar dicegat gerombolan Pappy yang memintanya keluar lewat pintu belakang. Ia frustasi, klontang-klantung ga jelas. Ga mau ambil bagian untuk menggarap sawah, memikirkan gadis Jerman yang dipacarinya. Suatu hari ia menerima surat yang bilang, ia kini jadi ayah. Makinlah menjadi-jadi kerinduan ini. Orang tuanya bilang, jangan mimpi muluk-muluk. Apapun yang terjadi, warga kulit putih akan menang. Hiks, sedih. Apalagi nantinya surat dan foto itu jadi barang bukti utama untuk memicu ledakan kisah.

Jamie-lah yang membantu Ronsel. Sebagai sesama alumni pasukan perang mereka akrab. Saling bantu, saling cerita. Kisah cintanya disampaikan kepada sahabatnya, kepahitan hidup karena diperlakukan tak adil, berbagi rokok dan alcohol. Duo ini adalah presentasi bagus terkait toleransi, bahwa hidup emang harus bersisian. Perbedaan adalah wajar. Jamie yang juga frustasi karena sepi, kecewa sama kakaknya dan hidup yang membosankan. Cintanya pada kakak ipar, juga semakin intens. Persahabatan mereka nantinya diuji dengan sangat berat. Sedih sekali saya nonton bagian pasukan bertudung itu. Sebelum adegan ini kukira film akan berjalan bosan mengenai kegagalan adaptasi mereka di masyarakat. Ternyata tak seklise itu. Film ini punya ledakan dan kejutan bagus. Mudbound, tubuh siapa gerangan yang ditakdirkan terendam lumpur nasib itu?

Carey Mulligan adalah actress yang memikatku dalam An Education. Sejak itu saya selalu ikuti perkembangannya. Walau sempat terjatuh di Never Let Me Go, ia sejatinya konsisisten main film berkualitas. Membuatku megap-megap dalam pesta pora The Great Gatsby. Mengimbangi Ryan Gosling di Drive sampai jadi panas bareng Fassy di Shame. Tahun ini ia main sama Jake Gyllenhaal di Wildlife yang disutradarai Paul Dano. Gaungnya belum terdengar. Di Mudbound, jelas ia jadi secercah warna Indah di tengah kemuraman kisah. Apa yang ia putuskan saat akhirnya ada kesempatan berdua sama Jamie adalah sebuah tindakan puncak berontak atas segala nasib buruk yang menyelimutinya. Ia berkomentar, saat-saat genting Henry taka da, Henry memang payah saat memutuskan, bukan suami ideal, dan saat boom!

Garrett Hedlund saya kenal pertama di Tron: Legacy. Perannya sebagai pemain game yang narsis dengan piringan dan motor itu selalu membekas dalam kepala. Sebagai Jamie ia memainkan peran sebagai mantan pilot tempur dengan pas, persahabatan dengan mantan tentara hitam yang tertindas terlihat natural. Alkoholik, frustasi, dan kemarahan yang memuncak. Keren. Sangar. Tragis.

Jadi kenapa dua actor utama itu yang kuulas sepintas di sini? Karena ini adalah film kedua mereka bersama setelah mahakaya Inside Llewyn Davis tahun 2013. Terasa istimewa karena di sini mereka mendapat peran dengan sifat karakter yang sehati.

Untuk Oscar saya jagokan Mudbound di adapted screenplay. Naskah unik dan ‘menyenangkan’ diikuti laiknya didongengkan langsung dari buku gini saya suka sekali. Persaingan dengan superhero yang jarang-jarang ikut kategori ini. Bisakah kalahkan Logan? Untuk Mary J kurang terkesan saya. Saya lebih milih ibunya Saoirse. Cinematography OK lah, Rachel Morrison menjadi perempuan pertama yang masuk nominasi. Andai menang sungguh hebat, tapi sisi ini sungguh berat. Sedang untuk lagu Mighty River so sorry, sangat berat juga. Dapat piala satu saja sudah hebat ini, ketimbang tangan hampa.

We kicked the hell out of Hitler and them Jerries! While y’all at home, safe and sound… cool answer.

Mudbound | Year 2017 | Directed by Dee Rees | Screenplay Virgil Williams, Dee Rees | Cast Carey Mulligan, Garrett Hedlund, Jonathan Banks, Jason Clarke, Jason Mitchell, Mary J. Blige, Rob Morgan, Vera Atwood, Dylan Arnold | Skor: 4.5/5

Karawang, 280218 – Sherina Munaf – Akan Kutunggu

Three Billboard Outside Ebbing, Missouri: Revenge And Violence

Mildred Hayes: I need to tell you something. It was me that burned down the police station.

Tiga papan Iklan kreatif, provokatif sekaligus aneh.
#1. Raped while dying
#2. And still no arrests?
#3. How come, Chief Willoughby?

Dendam kesumat terhadap (bayangan) pembunuh. Seorang ibu yang kehilangan putrinya yang jadi korban pemerkosaan dan pembunuhan, Mildred melakukan segala upaya dan daya untuk menjerat pelaku. Jelas bukan gagasan baru, tema balas dendam yang membara adalah sebuah cerita usang dikemas berkali-kali dengan bungkus yang bervariatif. Ada yang sukses, banyak yang gagal. Three Billboard Outside Ebbing, Missouri termasuk yang berhasil menyentuh hati penonton, sukses menjerat juri Oscar. Namun untuk menang piala tertinggi, rasanya berlebihan. Walaupun memang semangat Mildred yang powerful bisa menapak puncak kejayaan.

Sedari pembuka kita sudah dihadapkan sama tiga papan yang dimaksud. Sebuah papan iklan di jalan Drinkwater punya agensi Red Welby (Caleb Landry Jones – film Oscar kedua tahun ini yang kutonotn setelah peran aneh dalam Get Out) di pinggir kota yang sudah menganggur lama, saat Mildred Hayes (dimainkan dengan api membara oleh Frances McDormand) melintasi langsung terbesit untuk menyewanya, langsung setahun dibayar tunai. Apa yang dibaca Red saat Mildred datang? Kumpulan cerpen karya Flannery O’Connor berjudul Good Man is Hard to Find. Iklan yang dipasang bukan sembarangan iklan. Sebuah kemarahan atas kinerja polisi, terutama sherif kota Chief Willoughby. Dalam wawancara TV ia bahkan menantang Departeman Polisi Ebbing untuk menuntaskannya. ‘My daughter Angela was murdered 7 months ago, it seems to me the police department is too busy torturing blackfolk to solve actual crimes.’ Tulisan iklan yang memicu banyak reaksi, komentar pedas yang menjadi-jadi. Sesuatu yang dibutuhkan Mildred, agar kasus yang mulai menguap setelah tujuh bulan mandek ini kembali dibuka, kembali digencarkan, kembali diselidiki lebih intens. Namun buntutnya ternyata juga sangat panjang dan konsekuensinya berat.

Mildred yang menjanda, hidup sama putranya yang aneh Robbie (Lucas Hedges) sehari-hari memang terlihat murung, gara-gara papan iklan itu Robbie juga kena perisak. Almarhum putrinya Angela Hayes (Kathryn Newton) nantinya dalam sebuah dengan pilu, terakhir kali terlihat hidup sama Mildred mengucap kalimat sumpah serapah yang bikin trenyuh, sedih, nangis. Penyesalan selalu di belakang. Mantan suaminya Charlie (John Hawkes) kini sudah punya gandengan baru, gadis muda yang annoying Penelope (Samara Weaving). Charlie marah, ia mendatangi Mildred, melabrak, omel-omel kenapa ada papan iklan yang provokatif? Polisi Willoughby adalah panutan masyarakat! Masa baktinya tak kan lama lagi, ia akan pensiun. Bla bla blah… Siapa peduli? Sambil nangis Charlie bilang ‘Those billboards aren’t gonna bring her back.’

Pak kepala polisi Willoughby (dimainkan dengan mantab oleh Woody Harrelson) adalah panutan warga, ia begitu dihormati. Di masa baktinya yang jelang berakhir ia mendapat kasus berat yang penyelidikannya sampai kini buntu. Ia memiliki keluarga harmonis, keluarga yang bahagia. Istrinya yang perhatian Anne (Abbie Cornish), dua putrinya yang rupawan dan pirang Polly (Riyah May Atwood) dan Jane (Sarah Atwood). Sayang sekali tekanan kasus ini membuatnya frustasi, dan ditambah ia ternyata mengidap kanker ganas di mana hidupnya diprediksi takkan lama lagi. Sejatinya is bersahabat dengan Mildred, namun kematian putrinya membuat segalanya rumit. Bagian Willoughby akhirnya membuat keputusan besar dan berani itu adalah salah satu bagian terbaik film 2017. Seram, tragis, mengenaskan. Saya jagokan Woody menang Oscar untuk itu!

Dixon (dimainkan dengan mantab pula oleh Sam Rockwell) adalah anak buah paling loyal Willoughby. Ia begitu menghormati bosnya, begitu memuja malah. Namun ia rasis, ia berkali-kali bilang menghajar para penjahat – keling kebanyakan. Terlihat sombong, jalannya slengekan. Sam juga sangat meyakinkan untuk menggondol piala. Tampan, bermasa depan cerah. Komik apa yang dibacanya saat ngaso? Robot Stories karya Bob Burden. Nantinya kita tahu, waktu telah banyak mengubah banyak orang. Waktu dan pengalaman akan mengajari manusia betapa hidup ini keras, penuh tekanan. Dixon memang karakter kuat di sini, transformasinya luar biasa.

Nah dari data fakta tersebut film mengalir dengan kerikil bertaburan, mengganggu syaraf setiap adegan berganti. Seorang dokter gigi yang kesal sama iklan itu, dilukai Mildred saat periksa. Ia dibekuk sang emak yang membara. Berikutnya setiap papasan warga, Mildred dicemooh. Tempat kerjanya di toko jua diganggu. Anaknya di sekolah dilempari kaleng. Sang pemilik papan iklan, Red juga dihajar akhirnya sama Dixon karena menerima adv yang membuatnya marah besar. Penyerbuan ini berefek panjang pula. Saling todong, saling menyalahkan, saling mengintimidasi. Dasar film yang bagus, kuat, dan menegangkan. Tragedi bercabang dan menuntut konsekuensi setiap karakter.

Tekanan kasus plus penyakit mematikan itu membuat sang sheriff melakukan tindakan ekstrem. Menulis surat kepada orang-orang yang terdekat yang punya kepentingan setelah dirinya pamit. Untuk istri tercinta Anne: Your final memories of me will be us at the riverside, and that dumb fishing game, which I think they cheated at. Untuk Mildred: So good luck with all that, and good luck with everything else too. Dan sebuah surat yang memicu masalah lainnya, surat untuk Dixon yang diambil di kantor polisi di waktu yang tak tepat. I know you’re gonna wince when I say this, but what you need to become a detective is love. Pengganti Willoughby adalah Chievo Abercrombie (Clarke Peters), mengambil tindakan tegas. Mengambil keputusan terkait kedisiplinan, tentang integritas polisi.

Nah, suatu malam terjadilah puncak kemarahan. Seseorang membakar tiga papan iklan itu. Mildred yang kebetulan lewat langsung berupaya memadamkannya bareng sang Putra, tak semua selamat. Siapa yang membakar, tak disebutkan secara detail awalnya tapi kita tak sangka ternyata adalah dia, tapi Mildred yang membara langsung menuduh pihak polisilah pelakunya. Maka dengan kemarahan ia membalas, membakar kantor polisi. Fuck ‘em! Bagian ini luar biasa, bagaimana bisa emak-emak marah bisa begitu meyakinkan melakukan penyerbuan maut? Dengan iringan skor menawan, Mildred memporakporanda simbol penegak keadilan itu. Kebetulan di TKP ada penjual mobil James (Peter Dinklage) yang menyelamatkan momen sehingga ia tak segera dijerat. Makan malam?

Tiga papan kemudian direnovasi, diperbaiki dan karena sang Sherina Ebbing sudah bukan Willoughby apakah tulisan namanya juga diganti? Penyelidikan ini seakan menemui jalan buntu. Semua terlanjur babak belur, semua kena dampak. Saat kegelapan menyelimuti dan puncak frustasi memeluk erat, suatu malam Dixon tak sengaja mencuri dengar dua lelaki bicara mengenai sebuah kejahatan yang mereka lakukan di malam kejadian pembunuhan, mendengar bahwa mereka melakukan tindakan brutal. Otomatis terbesit mereka pelakunya, Dixon berfikir cepat. Karena dia sudah off pekerjaan, dengan sengaja ‘mengalah’ adu jotos agar dapat sample darah pelaku. Tes DNA tak akan bisa mengelak. Adegan ini juga dibuat dengan meyakinkan, menyakitkan. Saat penyelidikan lebih lanjut, lagi-lagi fakta pahitlah yang muncul. Dixon dan Mildred yang kini berdamai dengan kenyataan memutuskan bersatu, ending yang sangat hebat. Mari kita bakar Idaho! Jadi siapa sebenarnya pelaku pembunuhan?

Untuk supporting actor sudah dikunci film ini. Dua wakilnya maju, dan jelas salah satunya menang. Setelah film Bugsy jadi sejak tahun 1991, inilah pertama kali ada film mengirim dua wakil best supporting actor. Saya sih lebih ke Woody karena adegan di kandang kuda itu gesture betapa hidup yang sudah tak tertanggung dapet sekali. Namun seandainya Sam yang menang, juga setuju. Hebat euy transformasinya.

9 nominasi bagaimana peluang bagian lainnya? Untuk Best Picture, saya tak jagokan. Tema balas dendam terlalu umum. Untuk Best Actress, Frances begitu meyakinkan – seharusnya pantas menang. Peluang sama besar dengan Saoirse, tapi jelas kalian tahu siapa yang kudukung kan? Untuk screenplay, bisa jadi. Peluang terbesar di sini di mana naskah ditulis Martin langsung sama sang pemeren utama, dan peluang film editing sangat terbuka kalau ga disikat Baby Driver. Karena skor sudah di-lock sama Dunkirk.

Film bagus dengan penampilan prima para actor. All this anger, man, it just begets greater anger! Namun untuk best picture? I said ‘No’. I said ‘of course NOT!’

Three Billboard Outside Ebbing, Missouri | Year 2017 | Directed by Martin McDonagh | Screenplay Martin McDonagh | Cast Frances McDormand, Caleb Landry Jones, Kerry Condon, Sam Rockwell, Woody Harrelson, Abbie Cornish, Peter Dinklage, Kathryn Newton, Samara Weaving, Darrell Britt-Gibson | Skor: 4/5

Karawang, 270218 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Get Out: Film Horor Tanpa Hantu

Chris Washington: I got hypnotized last night.

Wow. Sebagai film pertama yang kutonton pasca diumumkan kandidat Oscar, Get Out benar-benar mencengangkan. Film yang kuunduh via wifi (sekaligus sebagai film pertama kalinya saya unduh sendiri lewat HP) di sebuah hotel di Malang saat Konsolidasi NICI 2018 ini benar-benar berkelas. Shock! Pasca menontonnya saya jadi takut mengaduk kopi, saya perhatikan dengan seksama putarannya, saya hitung seberapa banyak sendok itu berputar searah jarum jam dalam sesachet kopi, pusaran isi gelasnya begidik. Ngeri, takut terjerebab di ‘ruang karam’. Dan imaji itu membuatku semriwing, setiap manusia keling apakah ada tidaknya lingkar kepala sebagai bukti dia adalah ‘dia’ yang sebenarnya bukan ‘alien’.

Kisahnya dibuka dengan penculikan, negro yang tersesat (lebih tepatnya disebabkan via telpon) di jalan Edgewood mencoba menelpon mencari petunjuk, ada mobil yang lalu mengawasi. Waspada, takut. Maka saat mobil itu sudah dekat ia mencoba kabur, naas tak bisa ditolak. Dia diringkus, diculik. Nantinya kita tahu, adegan ini adalah rangkaian tragedi. Siapa negro itu, siapa penculiknya akan dibuka dalam twist yang menghebohkan. Ditambah sebuah trivia kecil yang menawan, siapa yang menelpon? Nah! Keren kan.

Tersebutlah, pria berkulit hitam yang manis Chris Washington (dimainkan dengan brilian oleh Daniel Kaluuya), seorang fotografer beruntung yang berpacaran dengan gadis cantik pirang Rose Armitage (Allison Williams). Akhir pekan ini mereka berencana mau ke rumah keluarga Rose, diperkenalkan ke orang tuanya. Setiap detail saat mereka bersama akan membuat iri para jomblowan jomblowati. Pasangan ini serasi, seakan penuh cinta, bertaburan kasih sayang tak terpisah. Saling pengertian, dalam perjalanan Chris yang perokok diminta Rose berhenti, nah betapa cinta saling mengisi, mengingatkan demi kesehatan. ‘You were one of my favorite!’ Nanti ibunya akan terapi deh, buat membuang kebiasaan jelek itu. Adegan saat perjalanan, kijang yang lari tertabrak dan tatapan hampa Chris itu seperti isyarat, alarm buat kita semua.

Dengan gugup, Chris masuk ke lingkungan elit keluarga Armitage. Ayahnya tampak wibawa, saat tahu anaknya memacari pria kulit berwarna, ia welcome. Menyambut dengan terbuka, rentangan tangan hangat dengan bilang “If I could, I would have voted for Obama for a third term.” Ketika sampai menit ini saya bilang wow, rasis di Amerika sudah terpendam lumpur dalam. Seorang berwawasan tinggi dengan bangga berujar, “Saya akan pilih Obama tiga kali, kalau bisa. Presiden terbaik Amerika.” Keren, yah jelaslah ketimbang yang saat ini. Penonton lega, Chris apalagi pastinya plong. Dean Armitage (Bradley Whitford) adalah seorang dokter, dokter bedah yang sukses. Menikahi wanita pirang yang menawan, psikiater Missy Armitage (Catherine Keener). Keluarga ini tampak sempurna. Ditambah dua pelayan yang setia. Walter (Marcus Henderson) yang banyak membantu di kebun dan Georgina (Betty Gabriel) yang mengurus rumah tangga. Dua pelayan berkulit hitam ini anehnya menyambut Chris dengan dingin. Memberi tanggapan yang dingin, tatapan matanya blank dan tampak mencurigakan. Awalnya plot ini seperti berpesan, mereka iri pada Chris karena nasibnya lebih baik, lebih mujur. Sampai di bagian ini saya sempat was-was film akan jatuh ke dalam cinta alur boring laiknya ‘Why Him’ nya James Franco yang mengecewakan. Namun tunggu dulu, ini baru permulaan. Kepingan tragedi sedang disusun, sabar. Sang adik Jeremy Armitage (Caleb Landry Jones) tiba saat makan bersama, tampak aneh. Tatapan antagonis. Kebetulan juga Caleb main di film kandidat Oscar lain, Three Billboard Outside Ebbing, Missouri.

Malamnya, setelah bobo sekamar. Yah, di Amerika mungkin sudah biasa kali ya. Membawa pacar pulang dikenalkan orang tua lalu, indehoy. Chris keluar mencari udara segar dengan akan rokok, adegan absurd saat melihat sang pelayan Walter lari-lari dari jauh kencang ke arahnya, di detik akhir saat akan bertabrakan ia berbelok. Hufh… diperparah Georgina yang menatap kaca keluar, membetulkan rambut. Tampak menakutkan. Dan saat kembali masuk rumah, Missy sang ibu sudah menanti di ruang tamu dengan secangkir kopi. Chris diminta duduk, diajak ngobrol. “Kau tahu betapa berbahayanya merokok?” Tentang masa lalu, tentang kesalahan masa kecil, tentang hal-hal yang sensitif, sebagian sudah dikuak Missy siangnya sehingga malam itu ia hanya mengantar Chris untuk mengikuti alur. Kalau kita kira, ini sekedar pengakraban mungkin, sekedar bantuan untuk terlepas dari jerat asap rokok. Namun tidak, sambil ngegoliam, sang ibu mengaduk secangkir teh, pikirannya blank, ia menitikan air mata. Tangan menggaruk kedua lengan kursi, menggelengkan kepala sedih. Dan cling! Chris masuk ke area misterius. Missy menyebutnya, dengan terdengar cool – sunken place – ruang karam. Jadi kondisi Chris yang terhipnotis memasuki sebuah ruang gelap yang melayang, ia bisa melihat sebagian kecil keadaan di luar melalui sebuah kotak (kedua matanya). Kondisi yang mengerikan, menakutkan, dan benar-benar mencekam. Melayang-layang di ruang hampa seakan di luar angkasa yang tak bertepi. Apakah hipnotis juga seperti ini? Saya tak tahu karena memang tak pernah. Jadi siapa yang mengambil alih kesadarannya?

Esoknya, ia terbangun di kamar. Huuufh, leganya. Semalam hanya mimpi? Tentu saja tidak. Walter minta maaf atas adegan lari itu, yang secara tak langsung bilang, ‘wew semalam itu beneran!’ tak tahu harus gmana, Chris menelpon teman akrabnya Petugas TSA nyentrik Rod Williams aka LilRey Howery (berperan sebagai dirinya sendiri) menginformasikan keadaan. Ia meminta Chris keluar dari rumah itu, ayoo secepatnya! Namun ia bertahan, karena hari ini hari besar. ‘Kelurga besar’ Armitage sedang menjadi tuan rumah dalam jamuan orang-orang penting.

Dengan kepercayaan diri tinggi (tampak Rose bangga punya pacar keling) ia mengenalkan ke semua rekan sejawat. Dari keturunan Jepang yang memujinya, seorang pemain golf yang memegang lengannya seakan ia mau memastikan Chris emang kokoh, sampai si seniman buta yang terkenal Jim Hudson (Stephen Root) semua tampak tak normal. “Apakah kamu tampan?” Saat jamuan makan itu membuat muak Chris, ia pada akhirnya menemukan tamu berkulit hitam yang aneh, Andre (Keith Stanfield). Kelegaan yang menyelimuti Chris hilang, saat melihat Andre tak seperti yang ia kira. Kehilangan kebiasaan kaumnya. Nah, lapisan pertama kejut mulai dikupas saat Andre difoto kena cahaya blitz yang seakan membuatnya terbangun, hidung berdarah. Kalimat berikutnya adalah judul utama film, ‘Get Out! Get Out! Get Out!’ membuat Chris dan sebagian besar penonton pastinya ketakutan. Saat dikabarkan ke Howery dalam telpon dan mengirim fotonya, terkejutlah ia. Andre adalah pria negro yang hilang, pria yang ada di opening itu. Tentu makin membuat khawatir, sekali lagi Howery meminta Chris segera cabut.

Dan saat akhirnya ia berdua dengan Rose, ia meminta ayo pergi. Ayo kabur, rumah ini terlihat aneh sekali. HP cas dicabut, tatapan penghuni yang aneh, dan sederet fakta mengeri. Orang-orang memang ramah dan menyambutnya hangat, tapi tampak tak normal. Rose tentu saja keberatan, ibarat bilang ‘Kamu bagaimana sih, ketemu calon mertua kok gitu!’ Chris yang melihat gesture itu, lalu meminta kepastian cinta Rose dan dengan mantab cinta itu diucapkan. Oke, kita kabur! Wait, kalian kira ini film akan klise bahwa cinta bisa mengalahkan segala masalah? Semua tanya meledak dalam sebuah adegan mengerikan ‘Mari main kembang api dan Bingo!’ Sebenarnya ada kejadian apa di keluarga Armitage sih? Saran saya, tonton sendiri dan bersiaplah shock. Kalian pasti begidik saat tahu apa arti lelang yang tersamar itu!

Wow. Saya kehilangan kata-kata saat tahu segala motif itu. Segala harap sekaligus kecemasan Chris benar-benar mewakilkan perasaan penonton. Sedih, marah, kesal, manis (sedikit sih, hehe pas sama Rose) nano-nano. Luar biasa. Shocking twist. Nyaris saja film ini jatuh seperti film percintaan klise lainnya. Namun pas jelang ending saat Rose buka google, segala kata berengsek bolehlah kita lontarkan. Anjrit! This is crazy. Bitch is crazy.

Kisah ini diinspirasi dari kisah film horor The Amityville Horror yang dilontarkan dalam lelucon Eddie Murphy, ‘Rumah yang Indah namun saat dia tahu ada hantu berbisik ‘get out’ kenapa dia tak keluar rumah? Kenapa ga kabur? Dalam Get Out ‘hantu’ itu bahkan ditransformasi Peele menjadi jauh lebih menakutkan. “Too bad we can’t stay, Baby.” Kapas yang keluar karena digaruk Chris juga seakan simbol perlawanan orang negro, di mana zaman dulu mereka diperbudak di perkebunan kapas. Jadi saat Jim bilang “I want your eyes, man. I want those things you see through.” Saya yang begidik, dan membayangkan nasib Jim berikutnya langsung teriak, ‘Bravo!’ Hebat. Ada ya ide bikin film horor tanpa hantu gini.

Get Out mengambil gambar hanya dalam 23 hari di Fairhope, Alabama. Menjadikan Peele seorang keturuan Afrika-Amerika pertama yang menulis dan menyutradari film debut bisa tembus 100 juta Dollar. Skoring-nya bagus, pas sekali menemani ketakutan penonton. Komposernya Michale Abels, seorang debutan juga karena ia sebelumnya lebih terbiasa dengan musik tradisional. ‘Brother run! Listen to the elders. Listen to the truth. Run away! Save yourself!’ Film ini kalau tak ditonton dengan hati terbuka jatuhnya memang rasis. Adegan Ruang Karam itu pernah dikritik seorang mahasiswa di Universitas California sebagai sebuah bentuk yang rasis, perjuangan bertahan hidup, dan estetika horor negro. Namun lihatlah dengan pikiran terbuka, film dengan ide cemerlang gini patut diapresiasi.

Bagaiman di Oscar nanti? Dengan empat wakil di semua kategori prestise, Get Out tak boleh tangan hampa. Sayangnya Oscar sering kali memilih best picture bukan dari ‘film terbaik’. Film horor pikiran memang menawan. Seperti Black Swam dimana kita diajak masuk ke pikiran Natalie Portman, kali ini kita terwakili Kaluuya. Semoga menang. Daniel Kaluuya awalnya kujagokan, keren sekali. Ia menggantikan kandidat utama Eddie Murphy yang dirasa ketuaan. Untungnya memang bukan Eddy, sulit membayangkan saat ia berciuman sama Rose. Namun untuk jadi best actor masih ragu untuk kujago, apalagi pekan lalu saya lihat ia di Black Panther yang karakternya bikin kesel. “Get out, challenge!” Best Director, bisa jadi. Original Screenplay? Semoga. Just because you’re invited, doesn’t mean you’re welcome.

A mind is a terrible thing to waste. Get Out is. Run, Rabbit Run! This is an excellent horror film that is told from the perspective of a black man.

Get Out | Year 2017 | Directed by Jordan Peele | Screenplay Jordan Peele | Cast Daniel Kaluuya, Allison Williams, Catherine Keener, Bradley Whitford, Caleb Landry Jones, Marcus Henderson, Betty Gabriel, Lakeith Stanfield, Stephen Root, LilRel Howery | Skor: 5/5

Karawang, 270218 – Sherina Munaf – Impian Kecil

Coco: Oscar Lock For Animated Feature

Seize You Moment.

Mama Imelda: “Miguel, I give you my blessing to go home and… never forget how much your family cares for you.”

Terkejut juga sewaktu lihat temanya. Animasi yang ber-aura berat, kehidupan setelah kematian. Semacam ‘dunia antara’ yang menghubungkan akhir hayat dengan keabadian. Tahu gini saya tak akan mengajak Hermione, putriku. Padahal sejatinya Desember ini memang sudah berniat nonton kartun produksi Blue Sky tapi sayangnya segala review yang bilang Coco film yang tearjerker, saya berbelok arah. Film bagus, Disney selalu mencipta senyum di akhir, ketebak sekali. Tipikal Disney yang happy-ending, sehingga saya sudah tahu mau ke arah mana setelah kejutan kecil dibalik lagu ‘Remember Me’.

Sayang aja di bagian pembuka, kartun pendek Petualangan Olaf merusak mood. Untuk film pendek pembuka, durasinya tak pendek. Walau Pixar lalu mengklaim, Olaf memang bukan film pendek, tapi film pembuka. Bah! Gilax sampai 22 menit, waktu yang cukup untuk buang air besar – termasuk ceboknya. Saya sampai geregetan, ih kenapa ga mulai-mulai. Bahkan para penonton di kursi belakang atas ada yang teriak marah, ‘Kami minta Coco woy, kapan mulai!’ dan serentak ‘huuu….’ yup, saya setuju. Begitu membosankan. Frozen sendiri kisahnya tak kuat, sehingga saat kita ditawarkan sang manusia salju, saya sudah tak terlalu berharap. Apalagi, kisah manusia salju ketebak, happy ending dan sederhana. Pencarian jati diri, pencarian kenangan, serta substansi masa lalu untuk perayaan Natal. Untuk sebuah opening Olaf’s Frozen Adventure sungguh menjengkel, salah satu pembuka Pixar terburuk yang pernah kulihat.

Kisah ‘Dunia Antara’ yang berisi para jerangkong berdasarkan sebuah kota di Meksiko, Guanajuato di mana di sana selalu merayakan hari mengenang dengan dekorasi rumah warna-warni dan pesta mengenang para almarhum. An respect tribute to Mexican culture and his people. Salut untuk ide penghormatan ini.

Kisahnya bermula dari keluarga Mama Coco (disuarakan oleh Anna Ofelia Murguia) yang melarang Miguel Rivera (Anthony Gonzalez) dan seluruh saudaranya untuk bermain atau berhubungan dengan apapun terkait musik, bahkan sekedar mencuri dengar. Abuelita: No Music! Padahal kita tahu ia begitu berbakat, begitu antusias. Suatu hari ia bersama anjingnya Dante (tokoh yang paling asyik di sini – guk guk!) di alun-alun kita terpesona seorang musisi jalanan, dan memberinya selembar pengumuman kontes musik di hari perayaan. Dante digambarkan seperti anjing nasional Meksiko, Xoloitzcuintli. Miguel begitu berminat. Walaupun pertentangan dengan seluruh keluarga. Miguel diproyeksikan untuk meneruskan usaha keluarga di bidang industri sepatu. Awalnya kukira akan jadi tema usang ‘follow your dream.’ Atau ‘dengan kekuatan tekun akan mewujud mimpi.’ Atau yang lebih klasik, ‘semua pertentangan keluarga tak bisa mengubah cita-citaku menjadi musisi.’ Dan yah, awalnya memang terlihat seakan seperti itu.

Miguel yang melihat altar perhormatan silsilah keluarga, menemukan foto yang tersobek dibagian wajah. Foto yang mengarahkan dugaan (dan Penonton diajak untuk mengira) bahwa itu adalah musisi terhebat negeri, penyanyi legendaris Ernesto de la Cruz (Benjamin Pratt) – The greatest musician of all time! Fakta yang memukau Miguel itu makin menyentakkannya untuk mengejar mimpi. Di malam persembahan, ia pun menyelinap ke makam sang musisi guna mengambil gitar almarhum. Tapi seakan kena kutuk, ia gagal membawanya keluar ruangan. Dan ia tersentak – apa istilah yang lebih pas untuk terkirim ke dunia antara? – di dunia antah, dunia arwah. Nah bagian inilah, kita mulai curiga temanya akan lebih berat, pesan moralnya akan mendalam. Di sana Miguel bertemu orang-orang yang sudah meninggal. Penggambaran jerangkong hidup itu, hebatnya Pixar tak menakutkan, sehingga nyaman untuk dinikmati anak-anak.

Ia bertemu para anggota keluarga, silsilah orang-orang mati. Mereka kaget Miguel ada di dunia antara. Mengapa ia kesasar di sana dan bagaimana prosesnya sungguh ciamik. Setelah ditelusuri ia bisa dikirim balik, dengan sebuah daun dan izin (blessing) dari anggota keluarganya. Tante Imelda (Alanna Ubach) pun memberi tiupan izin, wuuushhh… tapi ada syaratnya, tak boleh bersentuhan dengan musik. Tersentak, Muguel terbangun di ruang makam di mana ia pingsan sebelumnya.

Keinginan, kegigihan dan tekad kuatnya menjadi musisi terlihat saat ia mencoba kembali membawa gitar sehingga lagi-lagi ia terlempar di dunia antah. Untuk kali ini, untuk kesempatan kedua ini ia akan menemui langsunga sang legendaris Ernesto. Dalam proses perjalanan ia bertemu dengan karakter pengantar Hector (Gael Garcia Bernal), awalnya tapi tak dinyana dialah yang nantinya yang memunculkan twist. Semasa hidupnya, ia memang punya bakat menyanyi, namun seperti lelucon teman-teman yang dilontarkan, ia mati sia-sia karena tersedak. Ia mengantar Miguel bertemu sang musisi, yang ternyata eks temannya di masa hidup. Bagian saat Ernesto bilang, ‘Success doesn’t come for free, you have to willing to, whatever it takes to, seize your moment!’ itu bikin muak. Menghadapi banyak rintangan, karena di dunia antara pun sang maestro – seperti di dunia kita – orang penting yang dikawal, dikelilingi tembok tinggi sekaligus security berjibun. Sehingga saat ada kompetisi menyanyi dengan pemenang akan bertemu langsung sama sang idola, Miguel ikut. Demi menembus plaza Ernesto de la Cruz. Berhasilkah ia meminta restu, melawan banyak rintangan. Berhasilkah? Berhasilkah? Bah, pasti berhasil. Namun, sekeras apa perjuangan itu.

Ada kejutan. Yup. Ini film Pixar, jadi kejutan khas mereka ada – walaupun saya tak sampai shock karena sudah nonton film The Word nya Bradley Cooper, di mana sebuah karya tulis fenomenal menjadi begitu terkenal saat dipublikasikan oleh Penulis lain, tanpa mencantumkan Penulis aslinya. Ide yang megah. Namun tetaplah film ini sungguh manis. Apalagi dibuat oleh Mbah Lee Unkrich, orang yang bikin kita nangis-nangis bahagia di Toy Story 3. Dan ia juga yang menulis cerita, memang akan lebih top penulis naskah sekaligus sutradara sehingga guratan kisah lebih sesuai apa yang mau disampaikan.
Seperti biasa, untuk mengoptimalkan film dalam hal teknis, mereka merekrut para pengisi suara yang belum terkenal. Mayoritas nama-nama asing di telinga penggemar film Hollywood. Bandingkan dengan Dreamwork yang cast-nya wow. Untuk mewujudkan panel-panel seasli mungkin, para creator bahkan ke Meksiko langsung, sampai lima kali untuk mempelajari kebudayaan, orang-orangnya, tingkah laku, tradisi asli yang akan dipetakan dalam film. Hebat! Jempol deh, seperti waktu mereka melukiskan air terjun dalam UP. Bau-bau menang piala tertinggi ini sih.

Dari banyak ajang penghargaan, Coco sudah banyak menang. Di Oscar, hanya kejutan luar biasa besar yang akan membuatnya keok. Saya belum nonton kandidat lain, termasuk Ferdinand yang pengen banget kusaksikan, tapi jelas Coco terlalu superior. Sejauh ini ada 75 yang dimenangkan (termasuk untuk Golden Globe – kemenangan Pixar kedelapan setelah Cars, Ratatouille, Wall-E, UP, Toy Story 3, Brave dan Inside Out), 32 masuk nominasi dan dua di antaranya di Oscar yang akan diumumkan Senin depan. Untuk animasi terbaik sudah pasti, tapi untuk lagu ‘Remember Me’ menurutku tak terlalu memorable. Saya belum nonton lawan lain seluruhnya, yang jelas saya tak menjagokan ‘Ingat aku’.

Di Brazil coco berarti kutukan (diambil dari bahasa Portugis), sehingga saat rilis judulnya dirubah ‘Viva’. Saya sempat mengira Coco itu si kecil yang main gitar, sang tokoh utama. Entah kenapa film ini malah menaruh judul untuk sang nenek. Apakah karena sang nenek menyimpan kutukan yang harus dipatahkan? Judul aslinya Dia de los Muertos, untuk di judul Meksiko. Film ke 19 Pixar, jelas Oscar.

Saya adalah orang terakhir yang keluar bioskop, bersama Hermione yang sudat tertidur sebelum twist-nya terungkap. Ia berkomentar, ‘Miguel nyanyi mulu…’ sebagian kecil ia ikut berjoget karena memang kursinya banyak yang kosong. Tapi tetap ia pada akhirnya pulas, memang film bukan untuk balita.

Vitamins are a real thing.

Coco | Year 2017 | Directed by Lee Unkrich | Screenplay Lee Unkrich | Cast (voice by) Anthony Gonzalez, Gael Garcia Bernal, Benjamin Bratt, Alanna Ubach, Renee Victor, Jaime Camil, Alfonso Arau, Herbert Siguenza, Gabriel Iglesias | Skor: 4/5

Karawang, 28 Des 17 – 15 Jan – 26 Feb 2018, Sherina Munaf – Sing Your Mind

Pekan Ke 26: Sassoulo Vs Lazio

Pekan Ke 26: Sassoulo Vs Lazio
PROBABILE FORMAZIONE (3-5-1-1):
Strakosha;
Wallace, De Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Milinkovic, Lulic;
Luis Alberto;
Immobile.
KindlyLBP 0-3
Hanya berselang dua hari kita berjumpa lagi. Jadwal padat setelahlah ketemu Milan, setelahnya lagi sama Juve lalu kembali bersua di Eropa. Luar biasa ketat. Mental baja skuat Inzaghi ayo kamu bisa.
Arief
sassuolo v lazio 0-2
Immobile
XX
Luiz Agustino
Sassoulo 2 – 2 Lazio
Imobille
Rasa sesal di dasar hati.
Hilang tak mau pergi.
Haruskah aku lari dari kenyataan ini.
#no nani no party
DC
Sassu 0-1 Lazio
Immo
Main tandang di liga. Setelah beruntun kalah ini saatnya menang lagi. Hasil liga eropa memberi semangat baru.
Damar irr
Sassuolo 1-3 Lazio,immo
Kamulah satu satunya. Yang terbaik untukku. ,Maafkan aku selama ini yang sedikit melupakanmu.
Bgs
Sassuolo 1 – 5 Lazio, Immobile
Laga mudah. Menang mudah. Imooo hetrik mudah. Forza Elang
AW
Sassuolo 0-4 Lazio, Felipe Anderson
Lazio pesta lagi. Lazio menang lagi. Felipe Bale bikin sumringah lagi.
Kindly Myers Prayitno
Sassuolo 1-2 Lazio, Immo
Lazio hampir kalah. Mereka kaget dengan permainan cantik yang diperagakan si petruk. Tapi entah bagaimana mereka akhirnya tetep menang. Mungkin ini akibat Bala bantuan Dari dewa dewi amerika yang dibeli pakai kartu kredit titipan.
Siska
Sassuolo 1-4
Immobile
Tren positif harus dijaga. Immobile sedang ganas-ganasnya. Lewati Sassuolo pasti bisa.
Takdir
Sassoulo 0-2 Lazio
Savic
Analisis Yang terjadi di Eropa memberikan asupan gizi untuk lokal. Savic yang FIT akan jadi andalan utama. Tak peduli di kandang lawan, The Great tetaplah menggila.

Imoenk
Sassuolo 0-4 Lazio
Gol: Immobile
Sassu-who? Kemarin di malam jumat menggila hlo. Sekarang bakal menggila lagi. Tapi tenang, belakang UNS masih buka. Mangunjayan belum tutup.
😂😂😂
Karawang, 250218

Pekan Ke 25: Lazio Vs Hellas Verona

Pekan Ke 25: Lazio Vs Hellas Verona Prakiraan Formasi LAZIO 3-5-2: Strakosha, Wallace, De Vrij, Radu, Marusic, Sergej, Parolo, Lulic, Lukaku, Luis Alberto, Immobile. All. S.Inzaghi. LBP 3-0 Milan, Genoah, Napoli. Speechless. Saatnya kembali ke jalur kemenangan. AW Lazio 4-0 Hellas, Immobile Lazio jelas bakal ngamuk lagi. Main kandang harus menang lagi. Immobile nyekor lagi. Margot Robbie Prayitno Lazio 4-1 Hellas; gol Immo Hellas Verona akan tampil nothing to lose dan mereka akan mencoba mencetak gol dari menit pertama. Mereka tidak memiliki catatan bagus dalam pertemuan sebelumnya dengan Lazio dan selalu kalah dalam lima dari enam pertemuan terakhir. Kedua belah pihak akan tampil dengan sejumlah pemain kunci yang cedera dan itu membuat saya cukup yakin pertarungan justru akan seru demi sesuap poin. DC Lazio 5-1 Verona Main kandang. Lazio akan kembali setelah beberapa kali kalah. Immo golin Arief Lazio Vs Verona 2-0 Immobile Lazio tentu ingin bangkit pasca 3x kalah beruntun. Verona makin terpuruk di peringkat 19. Immobile akan kembali menjadi pembeda. Emas calciopoli Lazio 3 – 1 Verona Gol the one and only Luiz Nani. Jakarta kembali bergelora dengan piala presiden. Bagaimana dengan Roma? Tentu ga bisa berharap kepada Nani semata. Tim ibukota akan menjadi juara saat dipimpin seorang yang santun. Takdir Lazio 6-0 Hellas Goal Immobile Analisis Runtuh sudah semua optimis itu. Lazio kembali membumi. Gila, kalian pasti tak pernah menyangka tim yang separuh musim menjadi kandidat kuat juara dalam sebulan terbenam dalam kubang kekalahan. Empat dari lima laga terakhir berakhir bencana. Hellas Verona akan jadi tempat pelampiasan nafsu amarah skuat Inzaghi. Minimal setengah lusin gol bakal terjadi. Siska Lazio 5-0 verona Immo Lazio tidak pernah kalah dalam lima pertemuan terakhir melawan Verona. Dalam pertandingan nanti, Lazio jelas diunggulkan menang (dengan skor besar). Apalagi dengan hanya meraup hasil yg mengecewakan lima pertandingan terakhir, kemenangan adalah hal mutlak yg harus didapatkan Lazio. Bgs Laz 5 – 2 Hellas, Immo Lawan mudah. Menang mudah. Immobile hetrik mudah. Forzaaa Laz. Damar irr lazio 2-1 Hellas Verona. Immo Pekan yang melelahkan. Kekalahan beruntun Lazio akan terbayar lunas dengan bunga 20 persen jaminan bpkb malam ini. Dipastikan Inzaghi akan memakai skuad inti malam ini. Kemarin lapis ke 2 yang dipake di Europa League. Grande Lazio. Bisogna Vincere. Imoenk Lazio 4-1 Hellas Verona, Immobile Lazio bakal menggila lagi. Siapa aktor utamanya? Nani, Immobile orangnya. Setelah beberapa pertandingan dindoboskan oleh VAR, saatnya Laz bangkit. Karawang, 200218