Samudra di Ujung Jalan Setapak – Neil Gaiman

Samudra di Ujung Jalan Setapak – Neil Gaiman

“Aku ingat masa kecilku, ingat sangat jelas… aku tahu banyak hal mengerikan. Tapi aku tahu, jangan sampai orang-orang dewasa tahu bahwa aku tahu. Bisa-bisa mereka ketakutan.” – Maurice Sendak, dalam percakapan dengan Art Spiegelman – The New Yorker, 27 September 1993

Buku pertama yang selesai saya baca di tahun 2018 di tanggal satu. Gaiman memang jaminan kualitas. Masternya cerita fantasi imajinasi. Tak serumit Interworld namun juga tak sesederhana Unfortunately Milk. Sepusing The Silver Dream, walau tak semegah The Good Omens. Eksekusi ending-nya wow, sedih sekali. Kematian terjadi pada kita semua. Seakan terbangun dari mimpi buruk, tapi mimpi itu memang terjadi (dalam bayang mengancam), tampak menakutkan walau-pun kamu tahu itu hanya sekelebat dimensi lain. Hebat. Hebat adalah kata pertama yang kulontarkan seusia mengikuti petualangan Aku di gemerlap samudra di kolam bebek. “Kau hanya perlu tumbuh dewasa dan berusaha untuk layak. Hidup ini memang tidak adil.” Orang-orang dewasa dan monster tidak takut pada apapun.

Kisahnya beralur mundur. Pembukanya adalah ending, jadi kalian pasti tahu sang tokoh utama masih bertahan hidup sekalipun nantinya ia akan terpepet, terjebak dan nyaris koit. Jelas ia akan selamat, catat! Prolog sebanyak delapan halaman itu menjelaskan Lettie Hempstock menganggap kolam bebek di ujung jalan setapak itu adalah sebuah samudra – kalian boleh mencibir, tapi nantinya kalian tahu ternyata airnya memang asin, kini ia merantau jauh ke Australia. Sang Pencerita – menggunakan sudut pandang orang pertama – sang aku ini kini sudah dewasa berumur empat puluhan. Ia mengunjungi rumah masa kecilnya, rumah penuh kenangan itu sudah dijual,  dirobohkan dan sudah dibangun rumah petak lebih modern, maka ia pergi ke rumah tetangga, keluarga petani Hempstock yang istimewa. Aku disambut Nyonya Hempstock tua dengan logat Sussex yang lembut, menawarinya teh panas. Sembari menunggu, Aku berjalan menuju kolam bebek di ujung jalan, duduk menanti senja dan begitulah, kisah ini ditarik jauh ke belakang. Ke masa empat puluh tahun yang lalu saat Aku berusia tujuh tahun. 

Aku merayakan ulang tahunnya dengan hampa, tak ada yang datang. Adiknya yang ceriwis dan akan selalu begitu sampai akhir, mencibirnya tak punya teman. Kursi pesta kosong, tak ada kemeriahan pesta walau kue sudah disiapkan. Aku memang aneh, seorang introvert yang gemar menyendiri, ditemani buku dan mainan segala imaji. Buku-buku adalah para guru dan penasihatku. Di buku-buku anak lelaki biasanya memanjat pohon, jadi aku juga memanjat pohon, kadang-kadang tinggi sekali, selalu takut jatuh. Ketika keuangan keluarga sedang tak baik, Aku yang kamarnya di lantai atas akhirnya mengalah pindah sekamar dengan adiknya. Debat saat tidur pintu harus dibuka atau ditutup, tirai jendela harus disibak atau rapat? Sederhana tapi sungguh menggugah. Kelahi seru kakak-adik bagai dua kutub berujung sama. Kamar atas disewakan kepada seorang penambang opal berlogat Afrika Selatan, memang orang Afrika Selatan. Kedatangannya membuat kasus, kucing imut hadiah ulang tahunnya Fluffy tewas tertabrak di hari pertama tiba dan ia bertanggung jawab menggantinya dengan membawa kucing liar yang kemudian diberi nama Monster. Bukankah nyawa tak bisa ditukar? Sedih, namun waktu lurus ke depan, semarah apapun sesedih apapun Fluffy tidak bisa kembali. “Aku ingin mengingat, sebab aku mengalaminya. Dan aku masih tetap aku.”

Suatu pagi, saat Aku sedang menanti hadiah komik dari ayahnya untuk menyambut libur sekolah di Sabtu mendung. Komik itu seharusnya ada di mobil depan rumah, tapi kosong. Mobil Rover hitam tak ada ditempatnya, mereka baru tahu bahwa mobil itu dibawa kabur pencuri dari telpon polisi yang memberitahukan kendaraan mereka ada di ujung jalan, dengan mayat penambang opal di dalamnya. Terindikasi bunuh diri karena kalah judi, ahh materi. Nah dari sinilah segalanya bermula, di ujung jalan Aku berkenalan dengan Lettie Hepmstock. Gadis sebelas tahun yang istimewa, sangat istimewa. Keluarga ini terdiri dari tiga orang: Lettie, Nyonya Winnie Hempstrock muda dan Nyonya Hempstock tua. “Aku ingat waktu bulan baru diciptakan. Ketika bulan baru muncul. Kami menengadah ke langit, waktu itu semuanya berwarna cokelat keruh dan kelabu jelaga di sini, bukan hijau dan biru…” Aku akrab dengan Lettie karena suatu ketika aku diajak menjelajah dimensi lain melalui gerumbulan pohon hazel di samping jalanan lama. Lettie mematahkan sepotong cabang yang kurus, menguliti cabang itu dengan pisaunya, seperti sudah puluhan ribu kali melakukannya, kemudian dipotongnya lagi sehingga kini menyerupai huruf Y dan memegang cabang pada kedua ujungnya. “Aku memakai ini sebagai penuntun saja, kita akan mencari botol biru…” Lalu menelusur benda, sifat, zat dan lainnya: kain, badai, segala bentuk sebagai pintu, sebagai portkey. Kubayangkan bunga narsisus tentunya bunga tercantik di dunia. Aku kecewa ketika tahu bunga itu mirip bunga dafodil, namun tidak terlalu mengesankan. Dan tanganku tak boleh dilepas selama petualangan. Namun dalam perjalanannya sebuah hentakan dan ada benda yang dilempar ke arahku membuat reflek melepas. Dan di sinilah segala bencana bermula. Sekembali ke dunia fana, Aku mendapai luka di kaki, lubang luka itu menjadi tempat sembunyi cacing yang walau sudah ditarik keluar, dibuang ke saluran air namun ia sudah hadir di dunia kita. Kularikan anganku ke dalam buku, ke sanalah aku pergi kalau kehidupan nyata terasa sangat berat, atau tidak fleksibel. Lettie dan keluarga Hempstock awalnya tetap bersikap biasa, mencari jalan keluar. “Itu adalah pekerjaan menggunting dan menjahit yang sangat rapi, kalau kau tanya padaku. Ini malam harimu, kau bisa menyimpannya kalau mau. Tapi kalau aku jadi kau, aku akan membuangnya.”

Cacing itu, kutu atau kini berwujud gadis cantik bernama Ursula Monkton. Nenek selalu menyebut jenismu kutu, Skarthach dari antara yang lain. Maksudku, dia bisa menyebutmu apa saja. Ia menjelma sebagai pengurus rumah tangga, kembali mengisi kamar kosong Aku di lantai atas. Ibuku bekerja, sehingga kini Aku dan adik dalam kendalinya. Aku tahu, Ursula adalah makhluk antah sehingga aku selalu dilarang keluar pekarangan rumah. Ursula digambarkan sebagai gadis penggoda yang sanggup meruntuhkan iman – iman orang dewasa. Dia adalah badai. Dia adalah halilintar. Dia adalah dunia orang dewasa dengan semua kekuasaannya, rahasia-rahasianya dan kekejamannya yang bodoh dan dianggap angin lalu, dia mengedipkan mata kepadaku. Sampai akhirnya suatu malam aku berhasil kabur ke pertanian Hempstock untuk minta bantuan. Aku hanya tahu pertanian Hempstock terletak di ujung jalan setapakku, namun aku tersesat di sebuah ladang gelap, dan awan-awan guruh sudah semakin rendah, malam begitu kelam, dan hujan terus saja turun, walaupun belum turun hujan deras, dan sekarang imajinasiku mengisi kegelapan itu dengan serigala dan hantu-hantu. Aku ingin berhenti membayangkan, berhenti berfikir, namun tak kuasa. Setelah dibawa ke rumah dan bermalam di sana. Lettie kembali ke dimensi lain, kali ini sendiri, ia mengambil benda-benda untuk dijadikan pintu, untuk memulangkan kutu. Ursula menolak, Lettie mengancam dan akan membawakan pemangsa ke hadapannya, disinilah keadaan segalanya menjadi kacau karena ketika Para Pemangsa pun hadir, mereka juga ga mau ke dimensi mereka, tak mau pulang, dunia kita indah, bumi ini gemerlap. Perang rumit itu membawa tragedi, meruntuhkan tatanan fantasi imajinasi.

Aku tidak tahu meski bagaimana kalau ada orang dewasa menangis. Orang-orang dewasa tidak seharusnya menangis, aku tahu. Mereka tidak punya ibu yang bisa menghibur mereka.

Hebat juga terjemahan sekarang. Pertama terbit di Inggris tahun 2013, langsung dialihbahasakan di tahun itu juga. Dan kasus macam gini sekarang sudah banyak, terutama untuk novel baru dari para Penulis Besar. Contoh terbaru, The Origin-nya Dan Brown rilis tengah tahun 2017, tak butuh setengah tahun terbitan Bahasa sudah tersedia di toko buku. Ikut senang dengan pola ini, walaupun otomatis berharga mahal tapi sangat sepadan. Sangat patut dinanti. Kita tak terlalu ketinggalan jauh, kita bisa menikmati karya luar dengan jarak hanya hitungan bulan. Maka sewajarnya buku-buku baru terbitan lokal-pun kini jua banyak yang bagus.

Bagian saat aku di sebuah wilayah ‘cicin peri’ itu keren sekali. Aku tak boleh keluar lingkaran APAPUN alasannya, siapapun yang menggoda. Dari kemunculan lagi arwah penambang opal, kutu jelmaan. Anak kucingku, dan penambang opal hanya akan mengambil tubuh baru dan akan kembali ke dunia, tak lama lagi. Entah, itu benar atau tidak aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku sudah terbiasa menjadi diriku, aku menyukai buku-bukuku, nenek-kakekku, dan Lettie Hampstock. Dan kematian akan mengambil semua itu dariku. Maka saat ayahnya datang ia ragu, asli apa makhluk jadian? Ayahnya yang marah memintaku pulang karena makan malam sudah siap. Bahkan aku membentaknya, sebagai kode untuk membiarkannya tetap tinggal. “Apakah kau jadi merasa hebat kalau bisa membuat anak kecil menangis?” Solusi akhir pun jua keren karena Lettie membawa ember berisi air samudra memintanya masuk dan bayangkan saat kemudian kamu muncul dari ember kepala menyembul dahulu, absurd – imaji membumbung tinggi. Fantasi kelas berat. Aku berfikir, orang bisa bernafas dalam air ini. Aku pikir, barangkali ada rahasianya untuk bernafas dalam air, rahasia sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, asalkan tahu caranya.

Kisah Samudra di Ujung mengingatkanku pada kisah fantasi murni bersama penciptaan semesta dengan segala keampuhannya. Menggugah, menakutkan dan puitis. Aku memahaminya seperti aku memahami materi kegelapan, materi alam semesta yang menciptakan segala sesuatu yang pasti ada namun tak bisa kita temukan. Mantra kuno yang rumit, gaya yang bebas, plotnya sangat rapi dan logika pembentuk yang sangat bisa diterima. Keganjilan dunia antah yang dengan hebat dirajut dengan sangat menawan. 10, 15 tahun lalu kisah-kisah bak Penyihir abadi macam gini adalah favoritku, genre utamaku sebelum digilas sastra dan buku penuh petuah filsafat. Tapi tetap, saya selalu suka akar dunia berlapis, yang cara masuk dimensi punya aturan tersendiri. Di sini, kita diajak mengikuti ranting kering yang dibentuk bercabang dengan pisau lalu kita dituntun masuk dunia lain, menempatkan Aku untuk tak melepas pegangan tangan yang dengan brilian diserang makhluk tak kasat mata yang melempar benda tiba-tiba sehingga pegangan terlepas. Aturan baku yang bengkok itu menuntun konsekuensi bencana, dan bencana tentu saja adalah batang utama konflik yang selalu dinanti pecinta cerita. Sungguh hebat, konsep ruang dan waktu yang dituturkan Neil. Salut. Saat akhirnya epilog kunikmati, seakan saya usai melahap puding-dan-pai-yang-manis, kau dalam masalah besar. Damn it! Saya jatuh hati sama karakter Lettie Hempstock.

Samudra di Ujung Jalan Setapak | by Neil Gaiman | diterjemahkan dari The Ocean at the End of the Lane | copyright 2013 | published by arrangement with Writers House, LLC and Maxima Creative Agency | GM 402 0113 0093 | alih bahasa Tanti Lesmana | desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Juli 2013 | 264 hlm., 20 cm | ISBN 978-979-22-9768-3 | Skor: 5/5

Untuk Amanda, yang ingin tahu.

Karawang, 020118 – Sherina Munaf – Sendiri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s