Murder On The Orient Express: You’ll Never Guess Whodunnit

Murder On The Orient Express: You’ll Never Guess Whodunnit

Mary HERMIONE Debenham: “I am sleeping here where everyone can see me. And I can see everyone.”

— Catatan ini mungkin mengandung spoiler —

Bah. Sebuah kisah detektif kalau belum menikmati sebaiknya memang jangan baca apapun, jangan lihat apapun, jangan dengar dari siapapun. Preview, ulasan, review, trailer, kutipan, tagline, bahkan potongan tulisan sekecil apapun di poster. Karena bocoran sesepele remeh temeh berpotensi merusak kejutan. Walau sejatinya setelah kalian membaca ulasan ini kalian jua tak akan (gamblang) menemukan siapa pembunuhnya.

First impress, sudah saya pos di ig @lazione.budi: Wow, just wow. #MurderOnTheOrientExpress is movie of the year. It completely my expectation and beyond. I was pleased and surprised. Balance, imbalance, justice. Everyine is a suspect. E.V.E.R.Y.O.N.E…

Menikmati kisah detektif harus hati-hati, sehati-hati dalam proses penyelidikannya sendiri. Dari judulnya kita tahu ada pembunuhan di kereta, kalau ada pembunuhan maka pasti ada pembunuh. Hidup ini penuh masalah, menonton film bisa jadi masalah, menikmati alur bisa saja menjadi masalah. Saya memutuskan cara memecahkan masalah ya, menutup segala kemungkinan bocor informasi masuk. Saya sudah punya bukunya tiga bulan lalu, tapi tak kuputuskan membaca tuntas. Saya hanya baca 2-3 bab awal dan meninggalkannya demi dapat merasakan feel, mendapatkan kepuasan menonotn dalam layar besar. Menahannya. Teaser poster sudah tersebar, trailer sudah wara-wiri. Saya bergeming, semakin sedikit klu yang didapat (seharusnya) semakin besar ledakan akhir. Bum! Saya merasakan klimak cerita, sungguh beruntung bisa meluangkan waktu di Kamis malam (9/12) hanya dengan 25,000 Rupiah bersama belasan penonton lain. Film paling bagus tahun ini, so far.

Kisah dibuka dengan setting tahun 1934 di Yerusalem, Palestina. Hercule Poirot (Kenneth Charles Branagh) meminta sajian santap dua buah telur sempurna, sampai diukur. Bagian ini hanya coba memperlihatkan sebuah perfectionist style. Ia ke sana diundang untuk memecahkan kasus pencurian sebuah benda keramat keagamaan zaman old. Ada tiga terduga pencuri yang dijajar di pelataran Tembok Ratap: priest, rabbi dan imam. Imam, Pendeta Yahudi, Pendeta Kristiani: sebuah perlambang kota ini adalah kota suci tiga agama. Setelah menancapkan tongkat di tembok, Poirot mulai membuka detail proses penyelidikan. Dan dari sebuah jejak di TKP (Tempat Kejadian Perkara) ia dengan lantang bisa menemukan pencurinya yang ternyata adalah (jreng jreng jreng…) sang pelapor sendiri, seorang polisi. Massa langsung merespon mengejarnya, dan tongkat yang ditancap itu ternyata sudah diperhitungkan. Hebat. 

Dalam proses kepulangan yang dibuat dengan suguhan sederhana, kita diperkenalkan beberapa karakter yang nantinya ikut dalam perjalanan kereta dari Istanbul, Turki. Dari Mary Debenham, Dokter Arbuthnot, kepala kereta api sekaligus sahabat Poirot, Tuan Bouc sampai Hardman. Dari perkelahian aneh Countess Rudolph Andrenyi, sampai sajian roti yang mengembang. Tuan Bouc-lah yang membooking satu tempat duduk, awalnya penuh karena sedang musimnya. Tapi seorang penumpang bernama tuan Harris, tak muncul. Aturan 1,5 jam melapor sudah dilanggar sehingga satu kursi itupun kini milik Poirot. Semua itu dalam gerak cepat menuju Orient yang di-stater. Poirot dapat teman sekamar MacQueen, pria gendut yang tampak gugup.

Kereta berjalan dengan kebimbangan, aura tegang memang sudah dicipta sedari bunyi tut tut tut -nya. Para penumpang sudah tampak mencurigakan, sebuah suguhan suspence untuk membuat penonton menduga, untuk membuat penonton memilah, menebak. Salju turun untuk bersatu dalam kepulan asap kereta.

Setelah malam pertama berlalu tanpa insiden, Poirot yang sedang menikmati kesendirian dengan tawa novel Charles Dickens: A Tale of Two Cities, saya sudah membacanya tak banyak agedan lucu, entah apa yang membuatnya terbahak. Cinta sejati, mati demi cinta? Ahh… Catherine! Didekati oleh Ratchett, dalam adegan makan satu kue berdua kita tahu, ia membawa pistol. Meminta tolong dan menawari Poirot sejumlah uang untuk menjaganya, karena terus terang musuhnya banyak dan dia diancam. Poirot yang sedang ingin santai menikmati perjalanan, agak terkejut juga ada pistol di atas meja. Monyongnya mengarah padanya walau tak diancam. Marah, “I detect criminal. I do not protect them.” Penolakan yang mengakibat kematian sang gangster. Saat kereta melaju di daerah Vinkovci, Kroasia longsoran salju menghantam kereta dan sebagian badan oleng. Lebih ekstrem lagi, gerbong sebagian masih di atas jembatan. Scene mencekam, setting yang bagus. Waktu kematian diperkira dini hari, sebelum kejadian Poirot beberapa kali terbangun dan menyaksi kejanggalan dengan gerik aneh sang kondektur Michel.

Setelah kematian tuan Samuel Ratchett, semua penumpang seakan tampak meyakinkan sebagai tersangka. Saya urutkan dari kanan nama-nama (potensi) tersangka itu saat duduk di ‘Jamuan Terakhir’, biar nyaman merunut. Kenapa ga sesuai pandangan meja dari the professor sampai the princess, saat diumumkan ada pembunuhan? Yah, karena gambar dua belas manusia duduk dalam deret meja di terowongan itu adalah gambar paling mengesankan dalam film 2017. Cucok dijadikan wallpaper.

My name is Hercule Poirot and I am probably the greatest detective in the world.

#1. Sang asisten, Hector MacQueen (Jos Gad): “Hard to believe, you talk to a man… and only the next morning, he’s blue.

Sebagai sekretaris sang korban, sebagai orang yang mencatatkan semua kegiatan tuannya, asisten yang baik, awalnya. Si gendut yang pengugup, ini terbukti tak sebaik lapisan luar. Melakukan beberapa kecurangan dalam pencatatan keuangan, memanipulasi data demi kepentingan pribadi, pencurian terencana, dan menyeret masalah menjadi makin rumit. Apakah hanya kejahatan material saja yang ia lakukan? Ataukah lebih parah lagi?

#2. Profesor, Gerard Hardman (Willem Dafoe): “In this case I consider that justice has been done.

Turin.” Satu kata yang berarti banyak makna. Ia adalah orang pertama yang setelah bilang semua dari kalian akan diinterogasi yang dengan berani bilang, ‘Emang lu siape?’. Tiap muncul dia saya selalu membayang wajah jahat Green Goblin. Muka kodok yang patut dicurigai, apalagi ia jua tak bisa tampak secerdas seorang professor.

#3. The  Countess, Elena Andrenyi (Lucy Boynton): “I reached for my husband as soon as I heard.

Tatapan Lucy yang tajam, tampak sakit. Ia tak ada di meja saat diumumkan ada pembunuhan, nantinya kita tahu ternyata ia kecanduan narkoba. Apa yang kamu takuti? “Everything!” dalam kisah-kisah thriller, orang macam gini patut dimasukkan sebagai kandidat utama pelaku kejahatan. Egoism seorang puteri.

#4. The Count / Pasangan Countness, Rudolph Andrenyi (Sergei Polunin): “He is a dangerously handsome man, with his back to the world.”

Ketika di adegan pembuka, tak dijelaskan detail kenapa ia tersulut saat ada fotografer yang mengambil gambarnya dan marah sampai berkelahi. Sesuatu yang disimpan, karena ia sebenarnya defensive. Ia akan marah jika ada yang mengusik, pesohor introvert. Tatapannya sama seram dengan sang putri.

#5. Pelayan, Hildegard Schmidt (Olivia Colman): “The Princess entrusted my skills to serve her well.”

Saat diinterogasi Poirot, ia tak tampak meyakinkan dengan bahasa Jerman. Rautnya khawatir seakan takut salah jawab dan wanti-wanti kemarahan sang Ratu. Bagi yang pengalaman menikmati kisah-kisah Christie, peran pelayan jadi begitu penting. Sangat penting, banyak kejadian krusial diambil sudut pandangnya. Nah raut Schmidt bisa menampilkan daya asli pelayan yang terintimidasi. 

#6. Sang Ratu, Natalia Dragomiroff (Judi Dench): “It is not my place to be troubled.”

Seorang putri dari Rusia. Akting asisten Bond ini tak pernah mengecewakan. Menjadi orang penting, bersama anjing-anjing kerajaan yang harus diperlakukan istimewa. Sudah tampak mengesalkan sebelum Orient bergerak, seharusnya memang harus dicurigai ini orang karena saat tahu Sang Gangster tewas, ia faceless dan setiap nama korban saat disebut seakan ingin meludahi, ‘fppuuuf…’ Jelas ada sesuatu yang besar dibaliknya. Orang penting, kaya yang berlagak, sombong.

#7. Janda, Caroline Hubbard (Michelle Pfeiffer): “Anything for an audience.”

Saya selalu kesulitan nulis namanya, alamat typo kalau ga jiplak. Seorang wanita berkelas, berbicara tentang putrinya, seorang aktris, performer. Termasuk akting-nya saat bicara dengan sang detektif, penuh kepalsuan. Sangat elegan, tapi sebenarnya ketika twist diungkap ialah yang paling rapuh, bahkan dibanding sang kepala pelayan sekalipun. Angelina Jolie sempat masuk kandidat utama untuk menerima peran ini, tapi sampai batas waktu taka da klik. Michelle jua sumbang suara untuk lagu closing credit, seminggu lebih saya putar ulang bersanding dengan Sherina Munaf.

#8. Dokter, Dr. Arbutnot / Kolonel Arbuthnot (debut istimewa Leslie Odom): “There’s a very ill patient waiting for me.

Si jago tembak, si keling yang jatuh hati sama Hermione. Awalnya tampak annoying, gerak-geriknya kaku. Membantu memperbaiki kapal yang rusak, membantu mendeteksi dan analis kematian korban dan sebagai mantan tentara, ia memiliki pistol. Seorang terpelajar yang bisa dipercaya, sekaligus paling berbahaya. Agak mengkhawatirkan saat dia sering bersama Poirot dalam mengupas fakta demi fakta.

#9. Pengajar, Mary HERMIONE Debenham (Daisy Ridley) : “Who would do such a hideous thing?”

Sudah berkenalan dengan Poirot sebelum naik kereta, lebih pasnya sebelum naik kapal. Kekasih sang dokter. Seorang wanita idaman Inggris Raya, pengajar sekaligus pengasuh anak yang ‘aman’ dari tuduhan, awalnya. Adegan interogasi minum teh di bentang salju dengan latar kereta itu salah satu adegan paling menakjubkan cinema tahun ini, Hermione disebut, ada nada khawatir mengambang di udara. “I like a good rose.” Dan pada akhirnya Mary gemetar masuk pusaran kemungkinan terlibat, akting jempol Daisy yang cantik. Bisa kita saksikan aktingnya saat ini di bioskop dalam #TheLastJedi.

#10. Kepala pelayan, si tua penggerutu Edward Masterman (Derek Jacobi): “A valet and his master should be as strangers.”

Wawancara dengan Poirot alasan berkereta mau berobat, operasi gigi. Tapi sakit gigi tak harus sampai hopeless gitu kan. Pasti ada sesuatu yang membuat hatinya khawatir, atau setidaknya menanggung beban. Seorang tua yang makan asam garam pengalaman, masa lalunya diungkap dengan pilu. Dan rasa muak kita lalu berubah sedih.

#11. Penjual, Biniamino Marquest / Antonio Foscarelli (Manuel Garcia-Ruflo): “I’ve become well established in America.”

Ceriwis, maklumlah sales. Penjual mobil yang dulunya sopir, tampak sangat meyakinkan, orang yang Pede. Latar belakangnya seorang keturunan Latin yang membuatnya patut diwaspadai, bahkan nantinya seorang penumpang mengarahkan Poirot untuk menempatkannya di posisi pertama sebagai orang yang patut dicurigai. Rasis sih, tapi mau bagaimana lagi?

#12. Sang misionaris, Pilar Estravados (Penelope Cruz): “On their death, all good men are greeted by an angel’s laughter.”

Sedari awal hingga akhir, wajah Cruz tampak tak bahagia. Ngomongin al kitab terus, seakan cenayang nasib buruk. Setiap fakta yang terkelupas, ia berpaling ke Tuhan. Dosa masa lalu yang tertumpuk di punggung, jelas ada yang salah dengan tindakan masa lalu pahit menghantui. “Wine is where the devil finds his darling.”

Ditambah yang berdiri dua: 

#Kondektur yang siaga, Pierre Michel (Marwan Kenzari): “No assassin could have moved through the car without me seeing him.”

Tampak aneh, setiap Poirot keluar kamar di malam kejadian, Michel siaga dan menyapa. Siap melayani, kenapa selalu ada dalam gerbong itu? Apalagi nantinya saat sebuah kancing baju ditemukan ternyata menyeretnya. Tapi wajah Michel tampak tak berdosa, ia seakan hanya menjalankan tugas.

#Pemilik dengan pistol teracung, M. Bouc (Tom Bateman): “This is luxury my friend, not some new trend.

Si tampan yang memuja kemewahan kereta Orient inilah yang langsung meminta Poirot untuk memecahkan kasus ketika tahu ada pembunuhan saat kereta terhenti longsor. Ini mengenai reputasi Perusahaan miliknya, sebelum kereta kembali berjalan ia memohon kepada Poirot agar sang pembunuh sudah ditemukan. Tapi mengingat kasus pembuka yang ternyata polisi pelapor sendirilah pelakunya, bukan hal mustahil pemilik jua sutradara kasus bukan?

Dua belas tersangka, plus dua penanggung jawab Orient Express. Berhasilkah kalian menebak siapa pembunuh sebenarnya? Ketika semua karakter mencoba merancang kebohongan, hanya dua sosok yang tak bisa kena tipu yaitu Tuhan dan Poirot!

Dari novel Penulis favorit Agatha Christie, Murder On memang sebuah remake, karena tahun 1974 Sidney Lumet pernah mengadaptasi. Konon bagus, dan sukses sehingga jasi semacam tolok ukur. Termasuk klu yang di akhir menuju ‘Death On The Nile’, itu juga sudah dibuat. Proyek berikutnya Branagh berpotensi memecah belah kubu lagi. Memang kenikmatan sejati di dapat kalau esensi kejutnya kena, men-jab muka penonton. Karena saya belum lihat versi jadul dan menahan baca novelnya, kejutan peraga dengan mimik sempurna bak lukisan Leonardo Da Vinci, The Last Supper sukses besar.

Keluhan utama film ini, (mungkin) yang paling krusial. Misscast Branagh, dia jelas jauh dari penggambaran Christie seorang Poirot yang kenal. Gendut, kumis yang terawat baik, mengerucut dan tebal (tapi tak seekstrem itu juga kali), dan agak pendek. Branagh terlalu tampan, walau kumis palsunya merambah wajah, kegagahannya tak hilang. Tapi apalah, era sudah banyak berubah. Sherlock saja bisa sukses di tangan Robert Downey Jr., yang juga tak ada mirip-miripnya sama seni tulis Sir Arthur Conan Doyle, bahkan harusnya lebih parah karena aksen British khas itu lenyap, Branagh orang Irlandia dan aksennya masih ada. Jadi jelas, saya menerima dengan tangan terbuka Poirot pertama yang saya tonton di bioskop ini. Lagian Branagh adalah produsernya, satu tim sama Ridley Scott, Mark Gordon, Michael Schaefer jadi yah, dia yang punya duit biarin aja. Apalagi tahun 2015, James Prichard, cicit sang Penulis sekaligus CEO Agatha Christie Ltd. sudah memberi hak adaptasi ke Kinberg Genre, dan rancangan sekuelnya pun dipersiapkan. Dia yang punya duit, dia juga yang bikin, dia pula yang main peran utama. Narsis banget. Hay whatever Purist, karena poin yang dipuja penikmat layar lebar first thing first, ya cerita. Kisahnya harus kita akui, bagus banget. Walau tentu saja ini semua berkat sang Penulis, Dame Agatha Mary Clarisa Christie yang bisa membuat plot berlapis. Michael Green tetaplah harus diapresiasi. Ini adalah film ketiganya tahun ini yang ia tulis setelah Logan yang muram itu dan Blade Runner 2049, belum kutonton. Jelas masuk daftar antri.

Saya mencatat ada lima adegan keren:

#1. The Wailing Wall

Walau tak ada adegan ini di novel manapun karya Agatha Christie mana pun, opening ini sudah pas. Terlepas saat ini Yerusalem sedang berhawa panas terkait penyataan Presiden Trump yang sepakat memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv. Bagian ketika ketiga terduga pencurian berjejer di pelataran Tembok Ratap. Sempat was-was juga Poirot akan menyebut salah satunya, karena kalau script itu menunjuknya pasti kena cekal di negara yang mayoritas. Dan syukurlah, sang pelaporlah yang kena. Apa kalian kira tongkat yang ditancap itu sekedar iseng?

#2. Hermione

Nama ini istimewa. Jadi sebuah trivia sederhana yang berubah mewah saat nama putriku disebut. Jamuan minum teh, salju yang tipis, kepala kereta yang oleng, senyum Poirot yang ambigu serta mimik cantik Daisy. 

#3. TKP

Pagi saat tahu ada pembunuhan, Poirot meminta sang dokter untuk ikut memastikan bersama jua sang Pemilik yang khawatir dan proses analisis deduksi yang Indah. Yang istimewa dari bagian ini adalah, bagaimana kamera menyorot ada di atas, bergerak lambat menyusuri gambar-gambar lokasi kematian. Bagus, sangat bagus. Gaya pengambilan gambar bak tatapan Tuhan kepada umatnya, dengan palu untuk menghakimi.

4. Analis Scan Tersangka

Setelah analisis mayat korban, Poirot yang mendapat info dari Bouc ada dua belas orang penumpang dalam gerbong yang kemungkinan sebagai pelaku, Poirot berjalan pelan untuk mengumumkan. Sarapan khidmat itu menjadi mencekam karena, sambil berjalan menatap kanan kiri meja Poirot men-scan setiap orang. Satu orang absen, setiap wajah tampak mencurigakan, setiap orang wajib diwaspadai, acting semua actor pas. Cara pengambilan gambar, juga istimewa seakan kamera itu adalah mata sang detektif. Scan itu ditutup dengan hening tanya. ‘Kalian semua adalah tersangka’

5. The Last Supper

Suara tembakan, dan dalam ringkus maya. Dua belas penumpang dalam jamuan terakhir. Dan kita masih bertanya-tanya, sebenarnya siapa pelakunya? Nyaris semua Fakta karakter diungkap, Poirot memegang pistol, moncong-nya mengarah kepada ssetiap orang, bergantian. Dengan tenang membuka final act dan taaa-daaa… seluruh penonton terkesima, tepuk tangan menggema, convetti diterjunkan, dan tempik sorai terdengar sepanjang terowongan. Bagaimana bisa ada cerita se-brilian ini?

Spoilert Alert! — Gatal saya tak menjelaskan bagian ini, seakan ada eek yang tertahan kalau ga dilepas. Satu paragraf ini tak menjawab siapa pembunuhnya, tapi jelas memberi banyak jawab. Kita hanya duduk menyaksikan kepeningan Poirot, semua dipecahkan olehnya. Jadi baca dengan bijak.

Nama Lanfranco Cassetti jadi kunci utama kasus ini yang menyambung ke kasus penculikan, pemerasan disertai pembunuhan Daisy Armstrong. Keluarga Armstrong yang terpukul kehilangan buah hati berefek panjang sekali. Ayahnya bunuh diri, dan semua elemen penumpang menyimpan dendam. Dendam membara. Identitas Cassetti diungkap sesaat setelah pembunuhan. Lalu kulit bawang orang-orang terkasih sekitar keluarga Armstrong dikupas satu per satu. Berikut masa lalu para penumpang. Huruf H yang dicari dalam klu ternyata adalah identitas dari Elena – yang berarti Helena Goldenberg alias Countess Andrenyi aka tantenya Daisy! Sonia Armstrong ternyata nyonya Hubbard alias Linda Arden! Wow, silakan terkejut. Dragomiroff adalah ibu baptis Sonia. Schmidt adalah koki keluarga. Artbuthnot adalah rekan seperjuangan dalam perang. Mary adalah guru privat Daisy. Marquez adalah sopir keluarga. Masterman adalah kepala pelayan. Pilar adalah pengasuh. Ayah MacQueen adalah pengacara kasus dan membuat kacau segalanya karena mengakibat matinya Susanne. Sudah? Belumlah, harus ada tembakan penutup. Dan dalam terowongan itu memang terdengar tembakan pada akhirnya, walau tak menggelegar. Kalian masih tak akan bisa menebaknya?!

Ada iklan cokelat Godiva di film, dengan setting tahun 1934 terjadi ketidaksingkronan dengan fakta. Karena bungkus cokelat itu menggunakan logo baru, dan tokonya sendiri hanya ada di Brussel tahun 1950. Bagaimana bisa ada dalam perjalanan kereta Orient Express? Dalam novel uang yang ditawarkan Rachett adalah 20,000 Dollar di film sebesar 10,000 lalu menaikkan tawaran 15,000 Dollar, tapi akhir dari dialog itu sama. “Gue ga suka tampang lu!”

Skoring Patrick Doyle bagus sekali, walau rasanya sulit masuk nominasi Oscar tapi benar-benar bernyawa mengiringi setiap percobaan pemecahan kasus. Saat credit title, saya seorang yang menikmati Lagu ‘Never Forget’ yang dinyanyikan dengan indah oleh Michelle Pfeiffer. Tulisan biru dengan latar hitam, mencoba nyeleneh, tak lazim.

Saat akhirnya kereta menurunkan Poirot di stasiun Brod, saya sudah mematok satu hal yang pasti. Pembunuhan di Sungai Nil, kutunggu dengan tak sabar. Dan segala adaptasi Christie layak diantisipasi. Termasuk menyaksikan versi lama? Go ahead!

Menonton bersama tetangga meja kerja. Bagaimana pendapat Rani Skom? “Murder On itu apa ya, eerrgh… kalau yang belum tahu ceritanya sih mungkin apa, eeergg… bagus. Tapi karena sudah tahu ceritanya gmana ya? setiap film, eh setiap film yang diadaptasi dari buku yang udah gue baca itu selalu errgh… (jeda beberapa detik). Beyond my expectation, gitu. Tapi untuk nilai, 1 sampai 10. Murder On The Orient Express itu dapat nilai 8. Dah, udah!

Transformasi hebat dari seorang guru pekok, aneh dan narsis Gilderoy Lockhart menjadi detektif hebat, menjadikannya Poirot kelima belas yang muncul di layar setelah Austin Trevor (1931-1934), Francis L. Sullivan (1937), Heini Gobel (1955), Martin Gabel (1962), Tony Randall (1965), Horst Bollman (1973), Albert Finney (1974), Peter Ustinov (1978-1988), Vidas Petkevicius (1981), David Suchet (1989-2013), Anatoliy Ravikovich (1981), Alfred Molina (2001), Konstantin Raykin (2002) dan Mansai Nomura (2015). Apalagi yang dikomplainkan? Mau membanding-bandingkan mana yang terbaik? Semua Poirot ada di masanya, semua punya keunggulan dan kekurangan. Waktu mengubah banyak hal, pengalaman adalah pelajaran paling bermakna. 

I just loved everything and every bit of this film, it’s just was amazingly director and perfect story. Ujarannya, “I see evil on this train.” Berujung pemecahan kasus berkelas, sangat menyenangkan menyaksikan Poirot pertamaku di layar lebar. Scary, and yes I thoroughly enjoyed this movie. What a journey. For great escapism and a reminder of a simpler time, Murder On achieves this goal for audience that truly appreciate its greatness!

Well Done.

Murder On The Orient Express | Year 2017 | Directed by Kenneth Branagh | Screenplay Michael Green | Cast Kenneth Branagh, Daisy Ridley, Leslie Odom Jr., Tom Bateman, Penelope Cruz, Richard Clifford, Josh Gad, Johnny Depp, Derek Jacobi, Michelle Pfeiffer, Judi Dench, Olivia Colman, Willem Dafoe | Skor: 5/5

Duh, saya belum bahas Herkules dan Image Dragon, believer!!!

Karawang, 08-09–91217 – Sherina Munaf – Ku Disini

Iklan