The Darkness – Jason Pinter

The Darkness – Jason Pinter

Chester: “Jalanan ini biasanya dipenuhi oleh para pekerja professional. Ini sudha jam makan siang, tapi kau bisa menghitung dengan jari mereka yang memakai setelan jas. Seberapa persen penurunan pekerja keuangan? Dua puluh persen. Dulunya jalanan ini menyiratkan sesuatu. Lebih dari seratus ribu orang kehilangan pekerjaan di kota ini dalam kurun waktu dua tahun. Dan sekarang pikirkan berapa banyak dari mereka yang duduk di rumah, melihat tabungan berkurang sedikit-demi-sedikit sambil menunggu panggilan yang mungkin tak pernah ada.”

Kisah tentang penjualan narkoba di kota nyaman New York yang diungkap oleh jurnalis. Idenya bagus, eksekusinya bagus, sampai pertengahan dengan lelucon segar, penempatan karakter yang pas, dan proses menjelang ‘Perang Besar’ lumayan seru. Yang disayangkan, eksekusi final. Menurutku buruk. Jurnalis yang berkelit dalam ancaman, memburu berita dalam ketegangan, di akhir jadi jagoan kelahi bak polisi gagah yang meringkus Bandar Besar. Sayang sekali, daki cerita yang menanjak bergairah itu anti klimak. Ending-nya mencoba menyentuh dengan memberi harapan, seorang newbie yang memposisikan diri seperti karakter utama saat newbie dulu, namun tetap tak bisa menyelamatkan penuturan yang kedodoran. 

Kisahnya sebenarnya sangat bagus di awal sampai pertengahan. Sudut pandang berpindah-ganti dari reporter perempuan yang terancam, jurnalis saingan yang mencoba membuat berita sensasional, sampai pengedar narkoba yang galau karena terdesak kebutuhan di tengah krisis ekonomi. Pertama, Paulina Cole. Jurnalis New York Dispatch, seorang orang tua tunggal dari putri yang kini kuliah. Kedua, Henry Parker, jurnalis saingan Cole, bekerja untuk New York Gazette. Seorang pria lajang yang kehilangan saudara gara-gra narkoba, Stephen Gaines tewas dibunuh Bandar. Ketiga, seorang pekerja kantoran yang tiba-tiba diberhentikan karena krisis sedang melanda Amerika, Morgan Issacs. “Ekonomi sedang sulit, Dollar hampir taka da nilainya, selain nilai kertanya.” Awalnya dapat pesangon yang lumayan sehingga tak terlalu khawatir. Namun berjalannya waktu, CV dan usia muda tak menjamin ia segera mendapat pekerjaan baru. Karena ekonomi buruk sedang melanda Negara, banyak pemuda yang bernasib sama dengannya. Sampai batas keuangan sudah mengkhawatirkan, ia masih jobless. Ketiganya lalu dirajut dalam masalah peredaran narkoba jenis baru bernama The Darkness, Sang Kegelapan.

Pembukanya, Cole wartawan senior pamit dari kantornya. Setelah jalan beberapa meter, ada mobil dari Perusahaan berhenti mengajaknya masuk untuk mengantar pulang, mengaku dikirim oleh Ted Allen, atasannya. “Saya Chester dari New York Taxi and Limo.” Ternyata Cole diculik, diancam dengan keselamatan putrinya Abigail. Cole diminta mengikuti instruksi dalam bungkusan plastik, untuk tidak melapor polisi. Dengan menunjukkan foto Abby di pantai dengan pakaian seksi dan merobeknya. Ah.. pembuka yang bagus. Mengancam anggota keluarga terkasih untuk mengikuti alur panjahat.

Cerita digulirkan seminggu, dimulailah Senin. Henry Parker yang berangkat lebih awal ke kantor terkejut karena sudah banyak pekerja yang tiba. Ternyata sang former jurnalis, Penulis alcoholic yang lama menghilang kini datang lagi ke New York Gazette. Jack O’Donnell, Penulis Through the Darkness kembali dari mengasingkan diri. Jack adalah bintang pujaan Henry, alasan dia menjadi penulis berkat nama besarnya. Seorang suri tauladan dalam berkarya, tapi tidak untuk kehidupan sehari. Alkoholik dengan kehidupan pribadi yang suram. Nah, ada benang benar dengan Cole. Karena yang menjatuhkan karirnya adalah ia, dengan artikel negative. Cole sendiri adalah mantan reporter Gazette.

Morgan Issacs yang sudah diambang keterpurukan suatu hari mendapat telepon nomor asing. Dari seorang misterius bernama Chester – Jason tak pinter merangkai nama-nama karakter, entah fiktif ataukah bercabang. Logikanya penjahat professional tak menggunakan nama sama, harusnya memakai nama alias atau ambigu untuk di beberapa kejahatan, agar tak terlacak. Lha, penipuan SMS berkedok transfer aja bisa pakai seribu nama bajakan, masak Bandar narkoba dengan terang-terangan bilang Chester ke beberapa calon korban. Dan sayangnya tak menyimpan twist karena Chester yang ini juga Chester yang itu. Morgan diundang untuk menemuinya, mendapat rekomendasi dari almarhum rekannya, kurir narkoba yang tewas dan dalam ketergesaan ia mengikuti alur. Jobless yang menjadi kurir narkoba, bagaimana pertemuan, ruang rahasia sampai cara kerja obat terlarang itu beredar terbaca seru bak film-film spy yang misterius. Adegan terbaik tersaji saat pemaparan para calon pekerja yang salah satunya berakhir tragis, yang seandainya kita ditempatkan di sana seolah tak ada pilihan selain mengiyakan pekerjaan itu.

Pembunuhan sadis terjadi, korbannya Ken Tsang. Pengedar narkoba itu ditemukan tewas di sungai dengan bentuk remuk redam. Pembunuhan itu ditunjukkan pada dunia, bahwa siapapun yang berhianat dalam perputaran bisnis kotor ini akan berakhir tragis. Juga kepada warga kota, narkoba kini merajalela. Polisi Curt yang sering membantu Henry, menyelidiki criminal itu. Penelusuran Henry dan Jack mengarah pada sebuah bisnis ilegal di gedung misterius di mana salah satu lantainya disewa oleh 718 Enterprises, sebuah perusahaan siluman yang sulit terlacak. Yang dalam selidik mereka adalah temoat traksaksi/markas/transit narkoba. Perjalanan itu mengakibatkan Henry jadi saksi ledakan yang menewaskan target saksi kunci, menghebohkan berita nasional sampai telusur social media dan bagaimana menanganinya. Tampak hidup dan gerak cepat bak novel-novel Dan Brown.

Hari Kamis, New York Dispatch menerbitkan tulisan yang menghebohkan. Ditulis oleh Cole dalam ancaman. Artikel exclusive, Gazette ketinggalan. “The Darkness: Narkoba yang akan membawa Manhattan kembali ke zaman batu. Kegelapan muncul menikuti munculnya obat jenis baru di jalanan, polisi dna penduduk diam-diam ketakutan akan kekacauan seperempat abad lampau.” Ternyata berkas yang diterima Cole di pembuka itu adalah paksaan untuk merilis dalam koran sebuah barang baru, sebuah kerikil Kristal narkoba yang lebih candu dan lebih melayang bernama The Darkness. Dan ya,  judul buku dinukil dari sana. Nah, Morgan yang kini jadi pengedar di hari pertama rilis tampak sangat menjanjikan karena bisa mendistribusikan the darkness dengan sukses. Kebahagiaan dirasa Morgan karena kemewahan yang hilang dan diidamkan itu akhirnya kembali. Selamat tinggal kesulitan keuangan.

Ujung dari perseteruan kejar ala Kucing-Tikus ini seharusnya di saat target pembunuhan berikutnya. Seorang eks rekan Chester di militer menjadi mendebarkan. Bagaimana prosesnya dibuat dengan gaya macam Hit Man, padahal pelakukannya amatir Morgan yang terpaksa mengangkat senjata. Dan dipertemuan sudut pandang dalam perputaran plot. Saat ledakan pistol terdengar dan Morgan kabur, semua tampak sangat seru. Dah, akan lebih mengena biarkan menggantung, biarkan seni menjadi seni. Banyak hal tak perlu penjelasan gamblang nasib para karakter.

Sayangnya alur bagus itu malah justru dirusak. Nasib Morgan dijelaskan hingga ke ujung, siapa penghianatnya. Proses transaksi berikutnya yang menjerat, pengintaian yang menyeret ke akhir yang mencoba meledak. Sayangnya klise. Henry yang jadi tokoh utama jadi begitu enteng mengangkat senjata, ahli berkelahi dan bak jagoan tunggal yang mendepak para cecunguk. Padahal para bajingan itu professional, mantan militer yang tentunya gagah nan macho dan tampak sangat digdaya sepanjang kisah. Kok keok sama jurnalis yang bahkan tak bisa dengan benar memegang senjata? Duh! Sayang sekali.

Akhir kisah nasib sang alkoholik dan de javu kisah juga tak bisa menyelamatkan secara keseluruhakn karena eksekusi ending yang kedodoran. Dengan hasil akhir yang mengecewakan seperti ini apakah saya minat buku Pinter lainnya? Di halaman depan tertulis daftar novel Mira Books: The Mark, The Guilty, The Stolen, The Fury. Kisah Henry Parker ternyata berseri. Dan The Darkness ini adalah seri  kelima. Kalau beli, rasanya enggak deh. Tapi kalau pinjam baca, saya tak pernah menolak. Buku tebal dengan anti klimak, terasa mengecewakan. Tapi tak terlalu jua karena hanya pinjam, untungnya.

Sebelum saya tutup, saya mau buat paragraph tambahan. Kesan ketika narkoba merajalela dan mengancam kota New York kembali seperti era 1980an mengingatkan pada sebuah adegan film Spider-Man. Bagaimana Peter Parker meringkus para penjahat dengan jaring-nya di antara gedung pencakar langit di hiruk pikuk New York, kota yang penuh kejahatan bisa dibereskan dalam lemparan jarring pintal. Yah, kota besar impian dunia itu memang tampak megah dan menakjubkan. Bahkan dulu saya pernah punya keinginan suatu hari mengunjunginya, berurutan dengan kota London tentunya. Oiya, saya tak terlalu nggeh sama kejadian buruk era 1980an yang menyelimuti. Nah poin terpenting novel ini justru di sini, saya penasaran histori New York dari zaman batu sampai terbaru. Aneh juga, dua kota impian itu kenapa ga dari dulu ga saya kejar baca, pelajari dan nikmati sejarahnya? Terima kasih Darkness kamu mengingatkan…

Sang Kegelapan | by Jason Pinter | diterjemahkan dari The Darkness | copyright 2009 | GWI 703.11.1.046 | alih bahasa Ni Wayan Shanti | editor Anna Ervita Dewi | penata isi Budi Triyanto | Penerbit VioletBooks, imprint Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-979-081-634-3 | cetakan pertama, 2011 | Skor: 3/5

Untuk penjual buku, pustakawan dan pembaca yang mendukung karyaku. Terima kasih. Dan untuk Bud White, yang menolak mati.

Karawang, 061217 – Sherina Munaf – Sing Your Mind

Thx to Sekar Ayu F, pemberi pinjam buku-buku (un)bermutu.