Seratus Tahun Kesunyian – Gabriel Garcia Marquez

Seratus Tahun Kesunyian – Gabriel Garcia Marquez

“Inilah penemuan terbesar dalam sejarah kita.”

Save the best for the last. Novel setebal alkitab yang brilian. Hikayat dalam angan. Sebuah kota fiktif Macondo menjadi saksi tempat menyatukan realitas dan fantasi. Sejarah-tak-resmi Amerika Latin bagaimana benda-benda ajaib ditemukan pertama kali dan mengubah banyak pola pikir. Dinasti Buendia dalam tujuh generasi di mana generasi pertama adalah pondasi menuju banyak konflik. “Kau tidak usah mengeluh. Anak-anak memang mewarisi kegilaan orangtua-nya.” Benturan-benturan di lingkungan, keterlibatan dan penolakan sistem politik praktis, hinggap pola seteru dan kawan, pertarungan yang berlarut hingga bisakah keadilan ditegakkan, bahkan di kota fiktif rasa simpati pun tercerabut.

Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenangn suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajak dia untuk menemukan es. Sebuah pembuka kisah yang legendaris. Sangat terkenal, sngat spoiler, sangat fenomenal. Namun cara tutur seperti ini menyimpan daya ledak. “Itu adalah intan paling besar di dunia.” Bukan. Ini adalah es. Jose Arcadio Buendia adalah sosok yang mudah takjub, puja kerang ajaib! Mudah larut akan kehebatan ilmu pengetahuan. Dari orang gipsi yang datang ke kota Macondo ia bertaruh segalanya. “Hidup ini akan membusuk di sini tanpa bisa menerima keuntungan dari ilmu pengetahuan.”

Dimulai dari besi sembrani, magnet yang bisa menarik pot, panci, tang dan kompor. Menarik besi dan baja. Ia takjub dan terpesona. Benda-benda memang memiliki hidupnya sendiri. Ia tukar bagal dan sepasang kambingnya demi dua besi ajaib itu. Ia menyelami sungai mencari emas, namun sampah baju zirah perang yang ditemukan selain besi rongsok tak guna di dasar laut. “Tepat di sana, di seberang sungai itu terdapat segala macam peralatan ajaib, sementara kita di sini hidup seperti keledai.”

Orang gipsi kembali membawa teropong ajaib (lupakan sesaat amber spyglass), di mana orang jauh bisa dilihat seakan dalam jangkauan tangan. Ia tukar lagi barang lagi demi alat itu, bagaimana bisa membakar kertas dengan teropong melalui matahari? Demi hak cipta, mematenkan gaya namun tak kunjung menerima jawab. Lalu balok es yang bak kristal. Bagaimana bisa air terperangkap dalam benda padat yang mengkristal? “Telah dibuktikan bahwa yang namanya setan itu memiliki benda-benda sulfur, dan yang ada padaku ini adalah sedikit sublimat korosif.” Ringkasanya mereka mengambil jalan yang berlawanan dengan jalan ke Riohacha.

Istrinya Ursula selalu mengeluh atas kegilaan Jose. Debat jadi hal biasa dalam keluarga. “Kita tidak akan pindah. Kita akan tinggal karena anak laki-laki kita lahir di sini.” Kata Ursula. | “Sampai sekarang belum ada keluarga kita yang meninggal di sini.” Kata suaminya. “Seseorang tak akan terikat pada suatu tempat sampai ada yang meninggal dan dikuburkan di sini, di tanah ini.”

“Sup itu tumpah.” Cinta adalah perasaan yang sebenarnya lebih Indah dan lebih dalam daripada bahagia itu sendiri, liar tetapi sesaat, seperti mereka telah menjalani malam-malam mereka secara diam-diam. “Biarkan mereka bermimpi. Kita akan membuat alat terbang yang lebih baik dibandingkan yang mereka kerjakan, dengan bahan-bahan yang lebih ilmiah dan bukan rongsokan tempat tidur.”

Ia telah memohon dengan sepenuh hati dari lubuk hatinya yang paling dalam, agar kerinduan akan keajaiban itu bukanlah menemukan apa yang disebut telur filsuf, atau membebaskan pernafasan yang membuat benda-benda menjadi hidup atau kemampuan mengubah engsel-engsel dan kunci-kunci di rumah itu menjadi engsel-engsel dan kunci-kunci yang terbuat dari emas, tetapi adalah apa yang baru saja terjadi: kembalinya Ursula.

Figur ciptaan Marquez adalah manusia-manusia yang kita kenal, yang menakutkan sekaligus lucu, naif, tapi cerdik, gila tetapi sangat rasional, cantik tapi mengerikan, jahat sekaligus simpatik, yang ditulis jujur dan penuh rasa kemanusiaan. “Tak ada seorang pun yang kecewa kalau mereka tidak dibantu Pemerintah.” 

Ringkasnya 100 tahun kesunyian menampilkan ksempurnaan tata seni tulis dalam percobaan kimia yang gila-gilaan, percintaan yang ganas, pelacuran, perang saudara, hukuman mati sampai pada titik temu perabadan modern yang seakan adil. “Kami tidak membutuhkan hakim, sebab tak ada yang perlu dihakimi.”

Inilah novel sempurna, paket komplit segala kisah yang pernah ditulis.

Seratus Tahun Kesunyian | by Gabriel Garcia Marquez | diterjemahkan dari One Hundred Years of Solitude | Penguin Books Ltd., London 1972 | YBB. 163. 03 | Penerbit Bentang Budaya | cetakan pertama, Februari 2003 | penerjemah Max Arifin | penyunting Wendoko | perancang sampul Buldanul Khuri | gambar sampul Alfi | pemeriksa aksara Trie Hartini | penata aksara QAgus W Pambudi | ISBN 979-3062-57-6 | Skor: 5/5

Untuk Jomi Garcia Ascot dan Maria Elio

Karawang, 111117 – Taylor Swift – Red

Iklan

Madame Bovary – Gustave Flaubert

Madame Bovary – Gustave Flaubert

Emma: “Ah, saya kasihan melihat Anda. Ya saya iba pada Anda…

Tema perselingkuhan yang menghantui. Emma Bovary adalah gadis cantik, pintar (namun tak cerdas) karena berwawasan luas, punya impian tinggi dan menginginkan kehidupan yang lebih maju. Hati-hati dengan apa yang kamu baca. Manusia memang tak pernah ada puasnya, lingkungan tentu sangat berpengaruh, pola pikir yang dipengaruhi pengetahuan sehingga banyak tahu tak terkendali dengan pijakan di bumi itu sangat berbahaya. Setinggi angan-angan, kita harus tahu batasan mana yang mampu diraih dan mana yang mustahil. Kalau tidak tahu kontrol bisa gila. Manusia memang tak pernah tahu arti kata cukup, dan syukur tetap yang utama.

Charles Bovary adalah dokter yang sederhana. Dipaksa sekolah kedokteran oleh ibunya, walau dengan nilai cukup. Bahkan selulus kuliah, saat mendapat kerja prakter di desa terpencil Charles dijodohkan dengan janda mapan yang cemburuan. Hidup seakan memang dijalani ala kadarnya. Namun segalanya menjadi lain ketika suatu malam keluarga Charles mendapat tamu seorang pesuruh dengan secarik kertas yang memintanya datang kepada tuannya karena beliau sakit patah tulang dan butuh perawatan.

Monsieur Rouault sangat kaya, istrinya sudah meninggal dan ia punya putri tunggal Emma yang begitu cantik. Ketika sampai di bagian ini jelas kita bisa memprediksi mereka akan bersatu. Dan benar saja, setelah Tuan Rouault sembuh, Charles measih saja berkunjung sekedar cek kesehatan. Ada benih cinta, lalu garis memang mempersatukan mereka karena suatu hari istri Charles meninggal dunia. Sekalipun istrinya cerewet, curigaan, ia terpukul jua. Ia bersandar di mejanya dan tetapi berdiri di sana sampai malam tiba, hanyut dalam kesedihan, bagaimanapun istrinya sangat mencintainya.

Tuan Rouault menghiburnya, mengajaknya jalan dan bersenandung pengalaman, sama-sama duda. Saya sering menyendiri di ladang, saya berbaring di bawah pohon dan menangis, lalu saya bicara dengan Tuhan dan saya melontarkan pada-Nya segala macam hal bodoh. Rasanya saya ingin menjadi tikus mole yang saya lihat bergelantungan di dahan-dahan pohon, dengan ulat-ulat merayapi perutnya – menjadi bangkai. Sangat tidak masuk akal bila seseorang ingin meninggal hanya gara-gara orang yang disayanginya meninggal.

Sampai pada pikiran itu pula muncul. “Tapi bagaimana kalau kamu menikahinya? Tapi bagaimana kalau kamu menikahinya?” Emma lebih suka melangsungkan pernikahannya pada tengah malam, menjelang matahari terbit, tetapi ide itu tidak disetujui ayahnya. Dan menikahlah mereka, mulai bagian ini Emma resmi menjadi Madame Bovary, sesuai judul. Buku ini lalu menyoroti pikiran sang karakter utama.

Charles membayangkan kehidupan berkeluarga adalah awal kehidupan yang lebih menyenangkan, merasa ia akan jauh lebih bebas serta bisa menghemat waktu dan uangnya. Tapi ternyata istrinyalah yang mengatur semuanya. 

Awalnya Charles bangga memiliki istri cantik. Awalnya kehidupan mereka berjalan baik, Emma hamil dan mereka mandiri. Konflik itu mencipta dari dalam. Emma yang hobi baca buku, berpikiran luas serta memiliki pandangan hidup maju mulai banyak menuntut. Harapan naik saat pengetahuan juga naik. Kesempatan mengembangakn pikiran hilang karena suaminya, dokter Charles sederhana, tekun, tak neko-neko, dokter biasa yang mendedikasikan untuk kemanusiaan.

Perkawainan hampa. Pasangan yang tak sejalan, selingkuh terjadi. Awal mula segala kacau, sang Madam Bovary mengejar impian penuh nafsu dan kebahagiaan semu, titik terperosoknya untuk makin dalam frustasi. Adakah jalan untuk kembali?

Novel dengan pola yang bagus, detail yang seram. Menyeret sang Penulis untuk diadili karena di era itu buku macam gini dianggap vulgar. Walau pada akhirnya ia menang, tetaplah kisah legendaris Madam Bovary memberi warna feminisme yang berpengaruh untuk masa selanjutnya. Penggambaran kaum borjuis era abad 19, potret kejiwaan yang sempurna. Seperti kengerian dalam Therese Raquin-nya Emile Zola, kisah selingkuh selalu berujung buruk. Sepakat?!

“Mereka sudah cukup membuatmu menderita. Jangan biarkan kondisimu lebih parah dari yang sekarang.”

Madame Bovary | by Gustave Flaubert | diterjemahkan dari Madame Bovary | Penerbit Serambi  | penerjemah Santi Hendrawati | penyunting M. Sidik Nugraha | pemeriksa aksara Eldani | pewajah isi Siti Qomariyah | cetakan I, Juni 2010 | ISBN 978-979-024-176-3 | Skor: 5/5

Karawang, 101117 – Novia Kolopaking – Aku Selalu Cinta

Pangeran Cilik – Antoine de Saint-Exupery

Pangeran Cilik – Antoine de Saint-Exupery

“Sekali peristiwa, ada Pangeran Cilik yang berdiam di sebuah planet yang hampir tidak lebih besar dari dirinya sendiri dan yang memerlukan kawan…”

Jadi buku terakhir yang kubeli sebelum daftar buku terbaik saya rilis. Beli di Kamis malam yang gerimis di Gramedia Karawang, awalnya slot satu buku sudah saya sediakan untuk Heart  of Darkness-nya Joseph Conrad yang terpajang di toko buku sepi. Sayang sekali setelah lama kutunda beli, toko buku Kharisma di KCP – Karawang Central Plaza Minggu ini tutup. Satu lagi, hari yang menyedihkan. Kebahagiaan berdirinya toko buku besar berefek langsung dengan tutupnya toko buku kecil. 

Ceritanya nyeleneh, untuk buku anak jelas kisah yang disampaikan tak lazim. Si Aku – jelas ini merujuk pada Penulis sewaktu usia enam tahun memutsukan berhenti memimpi menjadi pelukis karena hasil karyanya sebuah gambar gajah yang dimakan ular sanca, orang dewasa melihatnya adalah topi. Lalu gambar transparan ditunjukkan, ohhht.. absurb. 

Suatu ketika Pesawat terbang yang dikemudikan mogok di Gurun Sahara (merujuk inspirasi kejadian nyata Antoine yang pernah terdampar tiga hari di gurun Pasir Libya bulan Januari 1935). Dengan persediaan air minum yang minim untuk delapan hari ke depan, mencoba memperbaikinya. Nah, saat melewati malam pertama dalam keterasingan, ia mendengar suara, “Tolong… tolong gambarkan aku seekor domba.” Dan dilihatnya sesosok bocah luar biasa yang ternyata seorang Pangeran Cilik yang turun dari planet lain. Berikutnya kisah bagaimana ia terdampar di sana dituturkan dengan luar biasa Indah.

Dari Asteroid B 612, tempat segalanya bermula kita diajak berjalan-jalan sama Sang Pangeran Cilik ke Asteroid 325, 326, 327, 328, 329, 330. Dari raja yang tak ber-rakyat. “Mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul-betul bijaksana.” Yang meminta Pangeran menjadi hakim. 

Lalu di planet manusia sombong. “Mengampuni artinya mengakui bahwa aku orang yang paling tampan, berpakaian paling bagus, paling kaya, dan paling pandai di planet ini. Berbaik hatilah, kagumi aku juga.”

Lalu di planet sang pemabuk, “Minum sampai mabuk biar saya lupa. Lupa apa? Lupa karena minum.”

Lalu ke planet orang serius yang terus menghitung bintang. “Tentu saja. Jika kamu menemukan berlian yang bukan milik siapa-siapa, itu menjadi milikmu. Jika kamu menemukan pulau yang bukan milik siapa-siapa, itu berarti menjadi milikmu. Jika kamu yang pertama mempunyai suatu gagasan, kamu patenkan; kamulah yang memilikinya. Dan aku memiliki bintang-bintang, karena tidak seorang pun sebelum aku yang pernah berfikir akan memilikinya.”

“Aku memiliki sekuntum bunga yang kusirami setiap hari. Aku mempunyai tiga gunung berapi yang kubersihkan setiap minggu. Aku juga membersihkan yang sudah mati. Siapa tahu! Bagi bungaku dan bagi gunung-gunungku ada gunanya aku memilikinya. Tetapi kau tidak ada gunanya bagi bintang-bintangmu…”

Planet kelima dan terkecil kita bertemu dengan manusia yang menghidupkan dan mematikan lentera setiap menit karena rotasi perputaran planet setiap menit yang artinya malam-siang berganti dengan kecepatn gila. “Pekerjaanku sangat menyiksa.”

Lalu di planet berikutnya bersapa dengan filsuf yang menulis buku mahatebal. “Buku ilmu bumi adalah buku yang paling berharga dari segala buku. Buku ilmu bumi tidak pernah kedaluarsa. Gunung jarang sekali pindah. Samudra jarang sekali kekeringan. Kami menuliskan hal-hal yang abadi.”

Dan disinilah pada akhirnya, planet ketujuh adalah planet bumi. Bumi adalah planet yang paling aneh, planet yang tidak sembarangan karena terdapat seratus sebelas raja, tujuh ribu ahli ilmu bumi, Sembilan ratus ribu pengusaha, tujuh setengah juta pemabuk, tiga ratus sebelas juta orang sombong, dan yaitu kira-kira dua miliar orang dewasa!

Awalnya ia mencari manusia karena Pangeran Cilik turun di gurun. Berdialog dnegan ular, “Di mana manusia? Rasanya agak kesepian di gurun pasir…” | “Rasanya kesepian juga di tengah manusia.” Kata ular | “Kamu binatang aneh, kurus seperti jari…”

Bertemu bunga. “Manusia? Aku kira ada kira-kira enam atau tujuh orang. Aku pernah melihat mereka beberapa tahun lalu. Tapi tidak pernah jelas dapat dicari di mana. Mereka terbawa-bawa angin. Mereka tidak punya akar dan sangat susah karena itu.” Kata bunga.

Bertemu taman bunga yang meruntuhkan hatinya. “Aku selama ini menganggap diri kaya, dengan sekuntum bunga tunggal, padahal aku hanya memiliki sebuah mawar biasa. Bunga serta tiga gunung berapi yang setinggi lututku, apalagi yang satu barangkali sudah padam selama-lamanya, tidak menjadikan aku seorang pangeran yang begitu agung.” Dan, berbaring di rerumputan. Pangeran Cilik menangis. “Sama seperti bunga. Jika kamu mencintai setangkai bunga yang berada di sebuah bintang, terasa lembut memandang langit pada malam hari. Semua bintang berbunga.”

Berdebat dengan rubah. “Kita hanya mengenal apa yang kita jinakkan. Manusia tidak sempat mengenal apa-apa lagi. Mereka membeli apa-apa yang sudah jadi dari pedagang. Tapi karena tidak ada pedagang teman, manusia tidak mempunyai lagi teman. Kalau kamu ingin mempunyai teman, jinakkanlah aku…” Waktu yang kamu buang untuk mawarmu, itulah yang membuatmu penting.

Dan pada akhirnya bertegur sapa dengan Sang Pilot yang meminta gambar domba. “Yang membuat gurun pasir begitu Indah, ialah karena ia menyembunyikan suatu sumur entah di mana. Baik rumah, bintang-bintang, maupun gurun pasir, yang membuatnya Indah tidak tampak di mata.”

Ia tak pernah menjawab pertanyaan, tetapi kalau muka memerah, berarti iya bukan?

 “Orang mempunyai bintang yang berbeda-beda. Bagi mereka yang berlayar, adalah pemandu. Bagi yang lainnya, mereka hanya lampu-lampu kecil. Bagi ilmuwan, mereka adalah persoalan. Bagi pengusahaku, mereka adalah emas. Tapi semua bintang itu membisu. Kamu akan mempunyai bintang-bintang yang berbeda dengan bintang orang lain…”

Sungguh novel aneh sekaligus unik dan benar-benar tak lazim. Saya baca ketika malam Jumat saat berganti hari. Baca cepat sebab memang begitu tipis bersama HP Pink sederet Sherina dan temani secangkir kopi dan disedukan dengur merdu si May. Untunglah saya pilih buku ini, karena saat memutuskannya sempat tergoda dengan Frank Kafka – Metamorfosis, Haji Murat-nya Leo Tolstoy atau Therese Desqueyroux-nya Francois Mauriac yang paling hangat karena baru rilis terjemahannya bulan Oktober 2017. Yah, bisa saja sih ketiga yang lepas suatu hari nanti saya lahap jua, namun jelas The Little Prince yang legendaris tetapkah pilihan yang kece.

Bonus tiga halaman lucux Katebelece dari penerjemah. Bagaimana proses alih bahasa atas kerja sama Forum Jakarta-Paris yang mana realisasinya atas bantuan Kedutaan Besar Perancis di Indonesia. Sampai rujukan terbitan Balai Pustaka tahun 1979 hasil jerih payah penyunting Wing Kardjo bersama penerjemah empat mahasiswi Universitas Indonesia (UI): Hennywati, Ratti, Affandi, Tresnati, dan Lolita Dewi. Hasilnya? Bagiku, hasil alih bahasa terbaru Bahasa Indonesia ini memuaskan sekali. Tata bahasa renyah, diksi pilihannya mudah dimaknai, kover oke, tak ada typo, ilustrasi dari Pengarang yang keren dan tentu saja semua syarat buku fantasi Indah ada di sini. Rekomended!

Pangeran Cilik | by Antoine de Saint-Exupery | diterjemahkan dari Le Petit Prince, 2011 | copyright 1943 | 615189004 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Henry Chambert-Loir | desain sampul Marcel A.W. | cetakan kedelapan, Agustus 2017 | ISBN 978-602-032-341-1 | 120 hlm.; 20 cm | Skor: 5/5

Kepada Leon Werth, ketika masih kecil

Karawang, 101117 – Sherina Munaf – Bukan Cinta Segitiga

Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek

Sang Guru Piano – Elfriede JelineK

Cintakah binatang buas yang kini menjadi hewan sirkus itu pada pawangnya?

Novel yang padat sekali. Tak ada basa-basi, cerita langsung masuk ke pokok permasalahan. Tak ada daftar isi, tak ada pengantar (di depan), apalah mukadimah, tak ada pujian atau sekedar ucapan terima kasih nan persembahan. Benar-benar ditimpakan di depan kita, bruk! Nih silakan dinikmati! Dengan cerdas ‘kata pengatar’ dari penyunting, Ayu Utami ditaruh di belakang. Karena telaah seperti itu rawan mengandung spoiler, maka perempatan cara seperti ini kusuka.

Kisah tentang impian menjadi musisi / pianis termasyur yang kandas. Erika Kohut adalah anak tunggal yang terlahir terlambat dari pasangan ayah yang gila dan tersingkir ke rumah sakit jiwa dan ibu yang sangat posesif. Ibu-anak ini saling mengisi, saling menjaga dan (seakan) menyayangi. Tentu saja, karena jarang muncul di tempat umum, juga tak ada orang yang menawarkan banyak hal kepada mereka. Namun justru dari pembuka mereka berantem gara-gara Erika pulang larut dan membeli sampah. Erika malah membeli baju! Barang yang lebih gampang basi ketimbang segumpal mayones pada roti apit ikan. Cek-cok panas, Erika menginginkan gaya, sang ibu menginginkan tabungan untuk sebuah mimpi properti. Sebab seorang bocah tidak boleh menyimpan rahasia. Maka Erika sebandel apapun bersimpuh padanya. Percaya itu baik, tapi kontrol lebih bagus lagi. Sebuah prinsip orang tua menjaga anaknya. Kewajiban seorang ibu adalah membantu putrinya membuat keputusan-keputusan jitu, ia tak perlu membuka luka, sehingga tak ada yang harus ditutup agar sembuh.

Musik surgawi, daya agung yang tercipta dari langit. Nona Erika adalah guru piano di sebuah kampus terkemuka Wina konservatori, sepintas hidupnya terlihat nyaman dan hebat. Dihormati, cantik, dan menatap masa depan misterius. Tak semua, kini di usianya yang ke tiga puluh delapan, usia matang ia perlu peredam ego. Karena saat ia juga mengenang masa remajanya yang telah lewat. Ia menangis karena segala sesuatu selalu berlalu dan jarang ada yang datang lagi. Masa bagaimana Erika bisa seperti saat ini dituturkan kisah balik sedari kecil, sekolah, impian yang kandas. Hal yang dibencinya adalah segala usaha penyamarataan, standarisasi. Misalnya, dalam reformasi sistem sekolah yang tidak memedulikan kekhasan individu. Erika tidak bisa disamakan dengan oranglain, meskipun dengan orang-orang sependirian dengannya. Kalau itu terjadi, ia akan segera menunjukkan perbedaannya. Karena Erika adalah Erika. Ia seperti ia apa adanya, dan itu tak bisa diubah-ubah. Keistimewaan Erika, dia sudah membaca semua. Kepiluan Beethoven, Mozart, Schumann, Bruckner, Wagner. Pesawat adalah raksasa seni suara, raksasa puisi, yang terbalut penyamaran maha besar. Karya-karya Bach adalah komitmen terhadap manusia Nordik istimewa yang berjuang demi keagungan Tuhan.

Sayangnya ia terjatuh di saat momen tak tepat. Saat penentuan ia melakukan kesalahan, gugup di muka umum? Kelenceng dari tuts? Timing untuk jadi besar itu tak bisa dimaksimalkan. Setidaknya orang harus menjadi tiga besar, selebihnya hanyalah sampah. Sang ibu tetap memberi dukungan dan menganggap penilaian mereka mentah, kepekaan mereka tidak matang: hanya para pakar yang patut dipertimbangkan. Sang ibu juga menyergah: Jangan sekali-sekali melecehkan pujian dari orang biasa. Mereka mendengarkan musik dengan hati dan menikmatinya. Cuma kematian yang boleh menjadi alasan untuk tidak berkesenian. Alasan lain takkan termaafkan bagi pecinta profesional. Erika Kohut memang cemerlang.

Suatu malam istimewa Erika mengajak anak didiknya untuk menikmati konser sederhana di sebuah rumah musisi hebat. Benda-benda berharga itu hanya diturunkan untuk diteliti dan ditakjubi. Atau jika ada kebakaran. Umumnya mereka dipaksa oleh orangtua, samasekali tidak paham seni tapi hanya tahu bahwa seni itu ada. Anak-anak tak semua antusias. Yang mereka takutkan saat bermain piano dalam ujian memburu, yang akan membuat mereka menekan tuts yang salah. Para murid mengenakan pakaian Minggu mereka yang terbaik, atau yang terbaik menurut orangtua mereka. Yang lainnya sebetulnya lebih senang menonton televisi, main ping-pong, membaca buku, atau mengerjakan hal-hal bodoh lain.

Ada satu anak, pemuda tanggung yang mengejar sang guru. Jatuh hati, lebih tepatnya bernafsu padanya. Ia selalu mencoba mendekati Erika. Liburan di akademi musik tidak bersamaan dengan liburan di universitas. Tepatnya, tidak ada libur bagi seni; seni mengejarmu ke manapun, dan sang seniman tidak merasa tertanggu dengan itu. 

Tidak ada panganan dan suguhan selama resital. Dan dalam surat-surat jeda penuh khidmat tak boleh ada yang mengunyah. Tak ada remah roti, tak ada bercak minyak pada bantalan kuris, tak ada tetesan anggur merah pada tutup piano satu maupun tutup piano dua. Permen karet dilarang keras! Anak-anak diperiksa, kalau-kalau mereka membawa kotoran dari luar. Yang nakal dikarantina dan tak akan pernah memperoleh apa-apa dengan instrument mereka.

Saat pulang konser itu, sang pemuda mengantar pulang sampai ke stasiun. Ngoceh ga jelas di antara snag ibu yang kesal dan Erika. Pemuda itu sedang bicara tentang dirinya sendiri seperti yang selalu dia lakukan; apapun yang dia biacarakan, adalah dirinya yang ia maksudkan. Dia akan segera bisa meninggalkan titik mulai itu, dan seperti orang yang baru bisa menyetir mobil, ia membeli mobil bekas yang kecil dulu, lalu jika telah mahir, ia akan mengganti mobilnya dengan yang lebih besar dan bermodel lebih baru. Anda mengira penampilan adalah musuh dan musik adalah teman Anda. Nah, cobalah berkaca, lihat bayangan Anda, dan Anda takkan menemukan sahabat selain diri Anda sendiri. Bikinlah diri Anda sedikit lebih keren, Fraulein Kohut. Yaitu gaung yang didambakan, duka akibat kehilangan yang amat berarti: diri sendiri. Inilah fase di mana orang menyadari betapa berharganya diri sendiri sesaat sebelum ia ditinggalkan samasekali. Ia tak bertanya kenapa ia menunggu. Sementara itu si lekaki telah asyik melibatkan diri dengan perempuan lain dalam sebuah kehidupan yang lain.

Orang tak harus pergi terlalu jauh dari kota, dan orang tetap bisa mendapatkan lereng yang bagus, dengan sudut yang diinginkan. Asyik bukan? Ayo ikut kapan-kapan, Frau Profesor; anak muda seharusnya bersama anak muda. Ocehan satu arah itu berakhir saat kereta datang dan berangkat bersama kedua Kohut di dalamnya. Klemmer melambai, namun kedua wanita itu sibuk dengan dompet serta karcis masing-masing.

Dia adalah segalanya, kecuali cantik. Ia berbakat – terima kasih, kembali kasih, sayangnya tidak terkasih. Harapannya membutuhkan ketekunan. Sang ibu mencintai anak lebih daripada si anak mencintai sepatu.

Pada malam hari pun suaminya juga tidak hirau, sebab suami sibuk membaca Koran besok yang dibelinya dalam perjalanan pulang hari ini agar ia bisa selangkah lebih maju dalam mendapatkan informasi. Banyak hal tak boleh ia lakukan, dan yang boleh dilakukan pun tak dihargai. Apa yang ia lakukan selalu salah. Dia sudah terbiasa dengan itu, sejak bersama istrinya.

Yang cuma-cuma adalah kematian, karena harganya adalah kehidupan; segala sesuatu suatu saat pasti punya sebuah ujung, hanya sosis yang punya dua ujung. Tapi tak ada pawang yang paling nekat sekalipun yang bermimpi akan menyiapkan seekor leopard dengan kotak biola. Seekor beruang dengan sebuah sepeda adalah bayangan terjauh yang bisa dijangkau manusia.

Kesakitan semata akibat nafsu birahi, nafsu kehancuran, nafsu melenyapkan, dan dalam bentuknya yang paling utama, kesakitan adalh bentuk lain birahi. Erika ingin melintasi batas menuju pembunuhan dirinya sendiri. Kehidupan normal itu terjadi siang, malam harinya Erika, Ibu guru sejati, memasuki lokalisasi. Bukan, bukan untuk menjajakan namun justru menikmati seni semi-porno gaya sadomasokis yang sadis dan peeping-show.

Gaya bertuturnya istimewa. Tak ada kalimat langsung dengan tanda kutip dua. Sudah pernah saya membaca teknik seperti ini, No Country For Old Men, Midah, dan lainnya, namun untuk Sang Guru fase kesulitannya lebih tinggi lagi karena nyeni nan rumit, seperti menikmati keindahan permainan piano Erika sendiri. Apa yang membuat bunyi menjadi berarti? Sentuhan, pendekatan. Dari mulutnya menyembur uraian samar-samar, tak mudah dipahami, tentang bunyi, warna, dan cahaya. Seni dan ketertiban adalah dua saudara yang saling bermusuhan. Rupa mendahului Ada, kata Klemmer. Ya, realita mungkin adalah sebuah kekeliruan yang paling parah. Karenanya, kebohongan mendahului kebenaran. Yang tak nyata datang sebelum yang nyata. Di sinilah seni mendapatkan kualitas.

Berjalan-jalanlah di Wina dan tariklah nafas dalam-dalam. Setelah itu mainkanlah Schubert tapi kali ini dengan benar! Kita tetap bersama, ya kan Erika, kita tidak butuh siapapun. Benarkah?

Sang Guru Piano | by Elfriede Jelinek | diterjemahkan dari Die Klavierspielerin | copyright 1983 by Rowohlt Verlag GmbH, Reinbek bei Hamburg | Penerbit KGP (Kepustakaan Populer Grmedia) | penerjemah Arpani Harun | penyunting Ayu Utami | pentelaras Christina M. Udiani, Yul Hamiyati | perancang sampul Rully Susanto | penataletak Wendie Artswenda | iv + 293 hlm.; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 979-91-0041-0 | Skor: 5/5

Karawang, 091117 – Sherina Munaf – Sahabat Sepanjang Masa

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared – Jonas Jonasson

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared – Jonas Jonasson

“Balas dendam itu tidak baik. Balas dendam itu seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga buruk menjadi lebih buruk akan menjadi paling buruk.”

Kisahnya unik. Setting waktunya terbagi dua antara sekarang (2005) di mana sang kakek ulang tahun keabad, naik jendela lalu menghilang dan 100 tahun sebelumnya, merangkak waktu demi waktu sampai akhirnya ditemukan dalam satu ttitik. Bagus, sungguh cerdas.

Di rumah lansia di kota kecil Malmkoping segala cerita bermula. Saat ulang tahun ke 100 tahun, Alan Karlsson kabur. Rencana perayaan istimewa, sang walikota hadir. Juga wartawan surat kabar setempat. Orang-orang jompo lain, serta seluruh pegawai panti, dipimpin oleh Direktur Alice yang pemarah. Hanya yang berulang tahunlah yang tidak berniat datang ke pesta.

Alan, masa lalunya lalu kita ketahui. Hebat, pernah bertemu bahkan terlibat hal-hal penting sama orang-orang besar dari Albert Einstein, Jenderal Franco, Soong May Ling, Kim II Sung, Stalin, Winston Churchill, Robert Oppenheimer, Mao Tse-Tung, dan seterusnya. Bagi Pembaca Indonesia, ada bagian khusus yang snagat menarik karena Alan pernah tinggal, bahkan lama dan berpengaruh di Bali. Sekali lagi, hebat, luar biasa. Dia adalah pewujud mimpi petualangan sejati. “Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin.”

Nama Penulisnya unik: Jonas Jonasson. Bak urang Sunda yang mengulang nama per kata dan dibubuhi, macam Lia Amelia, Wawan Setiawan, Barna Subarna, Eman Sulaeman, Riska Riskania, Ika Kartika, Nana Karyana, Iwan Setiawan, Yanti Aryanti, Andi Sugandi, Ani Suryani, Amar Sumarna, Yuyun Yuningsih, Udin Safrudin, dst.

Saya harus akui terbitan Benatng sekali lagi berkelas. Bukti bahwa selain penerjemah yang handal kita butuh proof reader, penyunting, pemeriksa aksara dan orang-orang yang memastikan buku itu bisa memuaskan pembaca. Sekali lagi, Bentang menyusunnya dengan istimewa, seperti biasanya. 

Cerita yang benar-benar lucu, gila, dan absurb. Novel bagus karena menyangkut politik, bertemu orang-orang besar, dituturkan dengan jenaka lalu meledak bak dinamit. Rekomended!

“Never again.”

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared | by Jonas Jonasson | diterjemahkan dari The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared | judul asli Hundraaringen som klev ut genom fonstret och forsvan | terbitan Piratforlaget, Sweden, 2013 | cetakan kelima, Maret 2015 | penerjemah Marcalais Fransisca | penyunting Ade Kumalasari | perancang sampul Adipagi | ilustrasi isi Adipagi | pemeriksa aksara Fitriana, Intan, Intari Dyah P. | penata aksara Martin Buczer | Penerbit Bentang | viii + 508 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-018-3 | Skor: 5/5

“Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi.”

Karawang, 091117 – Sherina Munaf – 1000 Topeng

Anak-Anak Tengah Malam – Salman Rushdie

Midnight’s Children – Salman Rushdie

Buku yang sungguh berat. Bukan tidak untuk semua orang, bukan untuk Pembaca umum. Butuh perjuangan ekstra, butuh konsistensi dan dorongan kuat agar menuntaskan nyaris 700 halaman hikayat panjang sejarah India dari pra kemerdekaan, proses proklamasi yang dibuat megah saat tengah malam, sampai India dalam gejolak pasca berdiri sendiri. Memang bukan buku politik, hanya kisah keluarga istimewa yang diseret dengan keluwesan sastra. Tak mudah karena kejadian biasa dituturkan dengan penuh gaya, namun tak rumit juga sebab semua terang tak bertafsir ganda. Pengorbanan waktu-waktu demi sampai akhir itu tak rugi karena memang ini adalah buku yang sangat luar biasa, bervitamin, berbobot sungguh berat. Layak, memuaskan.

Tak ada yang bisa diingat ketika Tai masih muda. Sejak dulu ia berlayar dengan perahu yang sama, berdiri dengan posisi bongkok yang sama, melintasi Danau Dal dan Nageen… selamanya.

Orang datang ke Kashmir untuk menikmati hidup, atau mengakhirinya, atau keduanya.

Napasnya bau tapi hatinya wangi. Kau pikir aku ini siapa? Cuma anjing buduk ‘pendusta yang biasa’?

Hidung yang seperti itu, idiot kecil, adalah hadiah yang besar. Kuberi tahu: percayai ia. Ketika ia memperingatkanmu, waspadalah atau kau akan habis. Ikuti hidungmu dan engkau akan pergi jauh.

Jika seseorang tidak melakukan pekerjaan kelas satu untukku, kuenyahkan dia!

“Aku sudah hidup dua kali lebih panjang daripada usiaku seharusnya,” ia menyiulkan lagu lama Jerman ‘Tannenbaum’. 

“Dalam setiap peperangan, medan perang menderita kehancuran yang lebih buruk dibandingkan pasukan mana pun. Itu wajar.”

“Lupakanlah itu! Seni seharusnya meninggikan, seni seharusnya mengingatkan kita pada warisan sastra kita yang luhur!”

Legenda terkadang menjadi kenyataan, dan menjadi lebih berguna daripada fakta.

Dunia sudah tak waras, apakah kami adalah manusia di negeri ini? Atau binatang? Dan jika harus pergi, kapankah pisau itu akan datang untukku?

Karena ia punya sebuah bom untuk diledakkan: setelah dua tahun perkawinan, anak perempuannya masih perawan.

“Matahari terbit di tempat yang salah!”

Suami pantas mendapatkan kesetiaan tanpa tanya, tanpa syarat, cinta sepenuh hati.

Kalau begitu, di manakah letak optimis? Di dalam takdir atau dalam kekacauan?

Kehamilan ibuku, tampaknya sudah ditakdirkan, tetapi kelahiranku justru lebih disebabkan oleh kebetulan.

“Kunci, simpan, kemas. Itulah syarat-syarat saya. Sebuah keinginan, maukah Anda memperkenankan permainan kecil ini bagi seorang penjajah yang akan pergi?

Times of India edisi Bombay mengumumkan bahwa mereka akan memberi hadiah pada ibu mana pun di Bombay yang dapat mengatur waktu melahirkan seorang anak agar persis pada hari kelahiran negeri yang baru.

“Bukan intuisi Tuan Methwold. Ini adalah kenyataan yang dijamin.”

“Wee Willie Winkie adalah namaku; menyanyi untuk mendapat makan malam adalah ketenaranku!” Mantan pesulap dan tukang pertunjukan intip, penyanyi. Para penghibur akan mengorkestrasi hidupku.

Ada es masa depan, menunggu di bawah muka air. Ada sumpah: aku tidak akan sujud di hadapan Tuhan ataupun manusia.

Mungkin jika ingin tetap menjadi seorang individu di tengah sesak banyak orang, kita harus membuat diri kita fantastis.

Ia temukan: majalah-majalah Jerman lama; What Is To Be Done? Karya Lenin; tikar sembahyang terlipat.

Dua puluh menit berlalu, dengan aaah aaah dari Amina Sinai, yang muncul makin cepat dan nyaring menit demi menit, dan aah aaah lemah melelahkan dari Vanita di kamar sebelah.

Jawaharlal Nehru memulai: “… Bertahun-tahun yang lalu kita berjanji untuk bertemu dengan takdir; dan sekarang tiba waktunya ketika kita akan menebus janji kita – tidak sepenuhnya atau secara menyeluruh tetapi secara substansial… ini bukan saatnya bagi kritikan yang picik atau destruktif. Tidak ada waktu untuk sakit-sakit. Kita harus menegakkan bangunan mulia India uang merdeka, tempat semua anak dapat berdiam.” Sehelai bendera terkembang: jingga, putih, dan hijau. Sementara dunia tertidur, India terbangun menuju kehidupan dan kebebasan.

Dan ketika ia sendirian – dua bayi di tangannya, dua kehidupan dalam kuasanya – ia melakukan untuk Joseph, tindakan revolusionernya sendiri, dengan pemikiran dia tentu akan mencintainya karena ketika ia menukar label nama kedua bayi besar itu: memberi bayi yang miskin kehidupan istimewa dan menghukum anak keluarga kaya dengan akordion dan kemiskinan… “Cintai aku, Joseph!”

“Ibu, saya melihat bayi Anda hanya sekali dan jatuh hati. Apakah Anda memerlukan seorang pengasuh anak?”

Aku belajar: pelajaran pertama kehidupanku: tak ada seorang pun yang bisa menghadapi dunia dengan mata yang selalu terbuka.

“Kelahiran anak pertama akan membuat Anda menjadi nyata.”

“Istri apa yang kudapat ini! Mestinya aku membeli sendiri anak laki-laki dan menyewa perawat – apa bedanya?”

“Dulu ada tujuh pulau,” Dr Narlikar mengingatkannya. “Worli, Mahim, Salsette, Matunga, Colaba, Mazagaon, Bombay. Orang Inggris menggabungkannya. Laut, bung Ahmed, menjadi tanah. Tanah naik, dan tidak tenggelam di bawah air pasang!”

Anda yang memproduksi; aku yang mengusahakan kontraknya! Fifty-fifty; adil seadil-adilnya!

“Aku sudah muak, kalau tak seorang pun di rumah ini yang akan meluruskannya kembali, maka semuanya akan tergantung padaku!”

Untuk setiap tangga yang kaunaiki, ada seorang musuh yang menanti di tikungan; dan untuk setiap ular, ada tangga yang akan memberi kompensasi. Tetapi lebih dari itu, bukan sekedar bermain wortel-dan-tongkat.

Dan betapa itu adalah sebuah gagasan yang jauh lebih maju daripada apa pun yang ada dalam sinema kita sekarang.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, mohon maaf tetapi ada berita yang sangat buruk. Sore ini, di Birla House di Delhi, Mahatma yang kita cintai dibunuh. Seorang gila menembak perutnya, ibu-ibu dan bapak-bapak – Bapu kita telah tiada!”

Dari burung ia belajar cara menyanyi; dari kucing ia belajar sebentuk kemandirian yang berbahaya.

“Simpan rahasia dan mereka akan membusuk di dalam dirimu; jangan katakan sesuatu dan perutmu akan sakit dibuatnya.”

Di gunung Sinai, Nabi Musa mendengar perintah tanpa jasad; di Gunung Hira, Nabi Muhammad (juga dikenal dengan Mohammed, Mahomet, dan Nabi-Yang-Terkahir) berbicara dengan malaikat. (Gabriel atau Jibreel, sesuka Anda) Dan di atas panggung Cathedral and John Connon Boys’ High School, dijalankan ‘di bawah naungan’ Masyarakat Pendidikan Anglo-Skotlandia, temanku Cyrus-Yang-Hebat memainkan peran perempuan sebagaimana biasa, mendengar suara St Joan mengucapkan kalimat-kalimat Bernard Shaw.

“Aku mendengar suara-suara kemarin. Suara yang berbicara kepadaku di dalam kepalaku. Aku kira – Ammi, Abboo, aku benar-benar mengira – malaikatlah yang berbicara denganku.”

Realitas adalah masalah sudut pandang, semakin jauh Anda dari masa lalu, semakin konkret dan masuk akal kelihatanya – tapi ketika Anda mendekati saat ini, tak urung ia akan tampak semakin sulit dipercaya.

Panas, menggerigiti batasan pikiran manusia antara fantasi dan kenyataan, membuat apa pun tampak seperti mungkin; sengkarut setengah-terjaga dari istirahat sore mengaburkan otak manusia, dan udara dipenuhi rasa lengket yang merangsang gairah.

Telepati, kalau begitu: monolog batin dari apa yang disebut jutaan yang berkerumun, massa maupun kelas, berebut ruang di dalam kepalaku.

Bagi anak Sembilan tahun, kesulitan menyembunyikan pengetahuan hampir tak dapat tertanggungkan, tetapi untunglah orang-orang terdekat dan terkasihku tak kurang berhasrat untuk melupakan ceracauku sebagaimana aku ingin menyembunyikan kebenaran.

Aku telah belajar bahwa rahasia tidak senantiasa sesuatu yang buruk.

“Aku adalah kuburan di Bombay… saksikan aku meledak!”

“Aku bisa mengetahui apapun, tak ada sesuatu pun yang tak dapat kuketahui!”

Berbahaya kalau terlalu lama melihat kematian, nanti ada sedikit bagian darinya yang ikut masuk ke dalam dirimu, dan ada pengaruhnya.

Tidak ada bantahan, saat itu juga aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta. Kau bisa saja menyusun stretegimu sehati-hati mungkin, tetapi perempuan akan meruntuhkannya sekali pukul.

Saleem Sinai mencintai Evie Burns; Evie Burns mencintai Sonny Ibrahim; Sonny tergila-gila pada Monyet Kuningan; tetapi apa kata si Monyet? “Jangan bikin aku muak, ya Allah!”

Evelyn Lilith Burns tidak ingin banyak berurusan denganku setelah itu, aneh juga, aku tersembuhkan darinya. Perempuan selalu menjadi pengubah hidupku: Mary Pereira, Evie Burns, Jamila Biduanita, Parvati-si-penyihir yang harus menjawab siapa jati diriku, dan si Janda yang aku simpan untuk bagian akhir, dan setelah yang terakhir Padma, dewi kotoranku. Perempuan mengikatku, tetapi mereka tidak mengambil posisi sentral.

Anak-Anak Tengah Malam | by Salman Rushdie | diterjemahkan dari Midnight’s Children | copyright 1981, 2006 | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | penerjemah yuliani Liputo | penyunting Anton Kurnia | pemeriksa aksara Eldani | pewajah isi Siti Qomariyah | cetakan II, November 2009 | ISBN 978-979-024-145-9 | Skor: 5/5

Untuk Zafar Rushdie yang, di luar dugaan, dilahirkan pada sore hari

Ruang HRGA CIF NICI, Karawang, 081117 – Sherina Munaf – Sing Your Mind

Eragon – Christopher Paolini

Eragon – Christopher Paolini

“Kau seharusnya merasa bangga; hanya sedikit orang yang bisa meloloskan diri tanpa terluka sewaktu membantai Urgal pertama merak. Tapi caramu melakukannya sangat berbahaya. Kau bisa saja mengahncurkan dirimu sendiri dan seluruh desa.”

Kubaca saat Harry Potter mencapai puncak hype Reliku Kematian. Eksteptasi tinggi, tentang naga yang bisa berkomunikasi dengan tuannya, tentu saja sangat menarik.

Kisah penunggang naga yang terinpirasi dari berbagai fantasi. Alur dunia ajaib dengan dilengkapi peta laiknya The Lord of The Ring, balutan sihir dari era keemasan Harry Potter, sampai dunia berlapis bak dalam His Dark Materials. Perpaduan itu menghasilkan drama panjang Siklus Warisan, sampai empat buku yang semuanya tebal. Sedari awal rencana mau dalam bentuk trilogy: Eragon, Eldest, dan Brisingr. Tapi karena buku pamungkas itu ternyata jauh lebih rumit dan sungguh tebal maka jadilah penutupnya disampaikan dalam Inheritance. 

Kisahnya, tersebutlah di sebuah desa kecil Calvahall hidup remaja lima belas tahun bernama Eragon. Suatu hari dia menemukan sebuah benda bulat lojong berwarna biru di hutan sata berburu, benda yang semula dikira batu, namun batu yang rencananya dijual itu disimpannya dan ternyata sebuah telur. Telur naga! Dari tuturan si pendongeng tua Brom tentang sejarah naga, tentang sihir, dan ilmu seni bertarung dengan pedang, Eragon menamai naganya Saphira. Eragon adalah penerus klan penunggang naga, klan itu ditumpas oleh Raja Galbatorix. Dahulu kala klan penunggang naga adalah penjaga negeri Alagaesia. 

Makhluk-makhluk Ra’zac yang dikirim sang raja untuk mencari dan merebut kembali telur naga yang hilang, mengobrak-abrik dan membumihanguskan desa, yang untuk menambah seru konflik, mereka membunuh paman Garrow, dan penuh dendam Eragon bertekad memburu dan bersumpah akan kembali membangun klan. Negeri Alagaesia dipimpin dengan kejam, Raja Galbatotix mempunyai tiga telur naga yang dijaga dan dalam rencana nantinya diberikan kepada anak buahnya sebagai penunggang naga. Dan tahulah kita, ternyata telur yang ditemukan Eragon itu salah satunya. Bagaimana telur itu bisa di hutan dijelaskan bahwa lima belas tahun yang lalu putri Arya mencurinya dari Urubean.

Eragon, Brom, Saphira dalam misi besar demi Klan Penunggang Naga. Berhasilkah? Bisa kita tebak dengan mudah, salah satunya tak selamat. Selalu ada konflik rumit untuk sebuah buku besar. Eragon jelas harus memenuhinya.

Saya baru membaca satu seri, tiga lainnya dalam proses. Seperti Bartimaeus yang butuh kesabaran, laiknya His Dark Materials yang butuh perjuangan. Saga Eragon saya nikmati perlahan dan mengalir. Cerita fantasi petualangan yang sangat menarik. Imajinasi itu bisa dipetakan, dibentuk dalam aturan sihir. Naga dalam saga Paolini adalah makhluk supranatural yang bisa berkomunikasi dengan Panunggangnya. Menjadi lebih istimewa karena pengisi suaranya Rachel Weisz.

Adaptasi filmnya gagal total. John Malkovich yang tampak sangar, sangat digdaya sepanjang film, menggambarkan kekuatan besar yang dipegangnya, kekejaman nan tanpa ampun serta kehebatan menata Negara dengan gaya keras itu, di bagian pertempuran akhir tampak sangat mengecewakan. Anti klimak, apalagi adegan pertarungan di udara yang ditunggu-tunggu visualnya, duh terlampau cepat diakhiri. Sayang sekali, berkat pemetaan film yang salah, sekuelnya bernasib tak jelas hingga sedekade lebih. Seperti The Golden Compass yang tenggelam dan respon pasar yang buruk, adakah harapan Eldest dkk ke layar lebar?

“Bantu aku Saphira, aku terlalu lemah untuk melakukannya sendiri.”

Eragon | by Christopher Paolini | diterjemahkan dari Eragon | copyright 2003 | cover art by John Jude Palencer | ilutrations on page 2, 3 and 10 by Christopher Paolini | alih bahasa Sendra B. Tanuwidjaya | GM 322 04.001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan keenam, Januari 2006 | 568 hlm.; 23 cm | ISBN 979-22-0862-3 | Skor: 5/5

Karawang, 071117 – Tasya ft Duta Sheila On 7 – Jangan Takut Gelap