Wonder Woman: Captain ‘Price’ America

Wonder Woman: Captain ‘Price’ America

Diana Prince: I am Diana, Princess of… | Steve Trevor: Price! Diana Price!

Setelah segala keterpurukan film-film adaptasi DC belakangan ini sejauh mana usaha mereka untuk kembali bangkit? Sample tahun lalu Suicide Squad dan Batman Vs Superman: Dawn of Justice gagal secara kualitas. Bandingkan keluaran Marvel yang sukses box office dan jauh dari hujatan kritikus macam Doctor Strange dan Civil War. Tahun ini DC mengeluarkan dua andalan utama, Wonder Woman dan Justice League untuk menantang gempuran pasukan Avengers.

Jumat mendung (9/6) kemarin pasca Taraweh yang tergesa, saya sempatkan seorang diri berjalan kaki ke CGV Blitz Festive Walk Karawang untuk menikmatinya. Banyak review yang sudah mencoba masuk ke otak, tapi saya abaikan. Bahkan tomat fresh pun sempat digulirkan sebelum rilis resmi. Hasilnya? Dari jam 20:20 sampai 22:50 saya terduduk lesu. Lelah. Durasi jadi complain pertama karena banyak scene yang bisa dipangkas tanpa mengurangi inti cerita. 

Kisahnya tentang DC girl paling imut dari latar belakang masa kecilnya sampai era sekarang. Cerita pembukanya di kota Paris, Diana Prince (dimainkan dengan seksi oleh Gal Gadot) menerima berkas berisi foto dirinya bersama empat pasukan di era Perang Dunia, kiriman dari Bruce Wayne itu bertuliskan keinginan mengetahui cerita di balik gambar. Dengan tersenyum, dan kisah langsung diseret jauh ke belakang. Di sebuah pulau terpencil bernama Themyscira tentang legenda Amazon, tersebutlah warga yang berpenghuni semua perempuan. Pulau yang dilindungi dari dunia luar. Diana kecil (dimainkan dengan imut Lilly Aspell – ulang tahunnya sama euy 30 April. Bisa aja DC casting pemain) sudah terlihat istimewa. Antuisme, aktif dan ceria. Kerumunan warga yang semuanya perempuan itu seakan tak dimakan era, semua yang ada di situ adalah gambaran masa jauh dari peradaban. Pakaian seksi, berlatih perang dengan senjata pedang, tombak, panah dengan lengan kiri tersampir tameng. Semua tersaji ala ala film Hercules versi feminim. Dari penuturan ibunya, Diana tahu tentang sejarah Tuhan. Bagaimana Ares, dewa perang turun ke bumi dan meluluhlantakkan sendi kehidupan dan dengan Pedang Pembunuh Dewa-lah ia bisa ditaklukkan.

Era berjalan dengan sekali kedip. Diana sudah dewasa, tampak sangat cantik. Nah, suatu ketika pembatas dunia luar itu tembus. Sebuah pesawat perang masuk ke area Themyscira. Pilotnya Steve Trevor (Chris Pine) yang terjatuh di laut, Diana langsung menyelam guna memberikan pertolongan. Sayangnya barikade udara itu menyeret pasukan Jerman yang mengejar Steve, tarung saru tersaji. pasukan Amazon dengan senjata tradisional dalam serang lingkup senjata api. Dengan Lasso kebenaran Steve bertutur bahwa ada penjahat perang yang mengancam kedamaian dunia, Jenderal Erich Ludendorff (dimainkan dengan menyakinkan oleh Danny Huston) dan kepala laboratorium Dr Isabel Maru (Elena Anaya) yang sedang mengembangkan senjata baru yang bisa melakukan pembunuhan massal. Dan tentu saja dipikiran kaum Amazon itulah perwujud dewa Ares era modern. Dengan alibi inilah, Diana harus dikirim ke dunia luar, harus mencegah kiamat. Saatnya menjadi pahlawan sesungguhnya. Dengan tameng, lasso, Pedang Pembunuh Dewa. Adegan pamitnya bak remaja pertama kali mau merantau yang diantar warga sekampung. Dibuat menyentuh. “Be careful in the world on men, Diana. They do not deserve you. You have been my greatest love. Today, you are my greatest sorrow.” Dan demi JL maka berdua berangkat mengarungi lautan berperahu menuju kerasnya kehidupan.

Sesampai di London (It’s hideous!), dikenalkan dengan sekretaris. “Well, where I am from that’s called slavery.”. Lalu kita dipertemukan dengan sang negosiator Inggris dengan pihak Jerman, Sir Patrick Morgan (lulusan Hogwart yang keren itu, David Thewlis). Awalnya kaku dan ditolak pemerintah misi itu, rencana tak disetujui mereka cari jalan lain. Dengan tekad pahlawan, Sir Patrick off record mengizinkan Steve membentuk tim. Dan Diana-pun diajak berkenalan dengan rekan seperjuangan. Pertama mata-mata aneh Sammer (Said Tagmaous), kedua si kurus layu Charlie (Ewen Bremner) dan berikutnya si penyelundup The Chief (Eugene Brave Rock). Tim siap berangkat! Bak sajian perang penuh bom, rentetan senjata dan pada akhirnya Diana bertatap sama Ludendoff adalah bagian terbaik, “You know nothing of the gods.”, dan sampai kejutan identitas Dewa Ares tentunya. Hiruk pikuk ledakan musim panas. Dan tentu saat foto jadul di Belgia itu dibingkai. Berhasilkah perang besar digagalkan? “I shall destroy you!”

Seperti biasa, saya adalah penikmat credit title. Saya tonton sampai layar benar-benar kosong. Bahkan sampai petugas kebersihan bioskop datang, ‘mengusir’ bilang bahwa scene after credit tidak ada. Yah, saya jawab ‘sudah tahu, saya menikmati tulisannya’. Lalu apa yang saya dapat dari 5 menitan tulisan berjalan ke atas bersama score menghentak Rupert Gregson-Williams itu? Termasuk permainan cello tema Wonder Woman jadul terdengar. Film ini didedikasikan untuk ayah sang sutradara: William T Jenkins yang seorang kapten pilot Air Force. Juga untuk para contributor bergenerasi sebelumnya yang berjasa atas franchise ini: William Moulton Matston, George Perez, Jim Lee, Chiff Chiang dan Lynda Carter yang pertama kali memerankan Diana secara live acton tahun 1975.

Bahwa sedari awal film, tak ada judulnya sama sekali dan tak ada pula yang memanggilnya Wonder Woman sepanjang film. Tulisan judul baru muncul saat usai. Ketika Diana mempresentasikan hidupnya demi keadilan, dan menyebut dirinya sebagai ‘Wonder Woman’.

Keunggulan utama film ini tentu saja segala aksi Gal Gadot, cast yang sempurna. Film superhero dengan leading role wanita pertama sejak Eletra, wew sudah lama sekali ya ternyata. Untungnya sukses, kekhawatiran kita akan cewek berbaju seksi, keluar dari pakem sehingga norak tak terwujud. Salut, Gal Gadot langsung naik pamor. Segala filmnya otomatis diburu, saya bahkan belum nonton Furious 7, apalagi film kelas B macam Keeping Up with the Joneses, Criminal, Triple 9 sampai Kicking Out Shoshana. Keculai franchise Fast and Furious, nyaris semua tak kutahu. Film yang akan dikenang selamanya, film yang mengubahnya menjadi aktris papan atas. Wonder woman 2, Flashpoint, Justice League Part Two secara otomatis juga ditunggu. Tahun ini kita dua kali dihadiahi sang Wonder dua kali. JL yang minggu lalu kutonton, jelas juaranya Gadot dan ini.

Sayangnya plot yang disajikan kurang bagus, biasa saja. Tema manusia jadul, super hero zaman old dari zaman Perang Dunia yang bertahan hidup sampai era millennial tampak tak asing di telinga. Sang Kapten and co dibekukan dan memimpin sekumpulan manusia super. Yah, DC terlambat lagi. Emang nasib.

Salah satu adegan favorit yang tampak biasa tapi sangat mengena, saat Diana pertama kali makan es cream dan berujar, “It’s wonderful. You should be very proud.” Yeah, Gal Gadot, kamu pasti sangat bangga!

Wonder Woman | Year 2017 | Directed by Patty Jenkins | Screenplay Allan Heinberg | Story Zack Snyder, Allan Heinberg, Jason Fuchs | original story Wonder Woman created by William Moulton Marston | Cast Gal Gadot, Chris Pine, Connie Nielsen, Robin Wright, Danny Huston, David Thewlis, Lily Aspell, Ewen Bremner | Skor: 3,5/5

Karawang, 1206-3011-17 – Sherina Munaf – Beranjak Dewasa

#HBDSherinaMunafKU

Draft tulisan ini sudah kubuat bulan Juni 2016 dan baru sempat saya edit dan pos hari ini.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s