Justice League: Underdog Surprises

Justice League: Underdog Surprises

Barry: What are you super powers again? | Bruce: I am rich

—- catatan ini mungkin mengandung spoiler —-

Review singkat: Bruce dan Diana mencari skuat terbaik manusia hebat untuk melawan Steppenwolf – Anda tak salah baca, sama dengan novel pemenang Nobel Sastra Hermann Hesse -, makhluk antah asistennya Darkseid yang masuk ke bumi mencari tiga ibu bok (mother boxes) di bumi. Skuat itu terdiri dari si A, si B, dst (lihat poster aja) berantem di penghujung film, selesai. Dan logikanya kalau para jagoan punya koalisi, maka penjahat harus punya juga dong. Si gundul pun membentuk oposisi dengan seringai, dan film ditutup.

Review agak panjang, baiklah saya sempatkan waktu luang hari ini (16/11) dan hari ini (17/11).

Ada peningkatan ketimbang yang sudah-sudah namun tak signifikan, karena tetap pada dasarnya tipe Snyder emang gini. Gelap-gelapan, mencoba mencairkan ketegangan dengan meminta tolong Joss Whedon (Weldon!) namun tetap saja, kendali penuh di Zack. Menyenangkan sekali tak tahu bocoran itu, saya baru tahu Whedon kasih andil pas di pembuka film muncul namanya. Kukira salah baca, ternyata enggak karena di credit title muncul lebih jelas dan lama. Sentuhan humornya ada, syukurlah tak muram-muram amat. Walau masih kalah telak sama saingan. Mencoba melucu seperti lomba lari, lumayan. ‘I am rich!’, hambar. Menggambar di muka pengantri, standar. Kenapa film mega hit yang ditunggu banyak fan masih saja ga maksimal? Seolah seperti teriakan Cyborg saat tim akhirnya bersatu, ‘Boo-ya…’ seperti itulah mayoritas tanggapan penonton. Yang suka deretan DC film ya itu-itu saja, yang benci deretan Marvel ya itu-itu saja. Yang bukan jemaahnya ya, ngalir saja. Saya sendiri tak memilah sungguh-sungguh, asal ada waktu dan duit ya ditonton, tak fanatik amat karena bukan pembaca komik. Fanatik untuk Lazio saja – Avanti!

Pembukanya, Superman (aka Clark Kent – Henry Cavill) diwawancarai dua bocah pakai kamera HP. Tentang aksi-aksinya, tentang apa hal yang paling menarik di bumi? Tersenyum… Kisahnya langsung nyambung sama ending dua instalement sebelumnya Wonder Woman (WW) dan Batman Vs. Superman (BVS): Dawn of Justice di mana judul utama dengan latar bendera ‘Justice League’ berkibar di tengah pemakaman Manusia Super. Rumah dijual, Bu Martha Kent (Diane Lane) pindah. Diiringi lagu sedih Everybody Knows-nya Sigrid yang begitu meyakinkan. Sayangnya sampai akhirnya film usai hanya lagu ini yang benar-benar bagus, yang nyantol di telinga beberapa hari. Come Together-nya Gary Clark Jr. sekedar nyaris bagus. Pun seluruh iringan score, kurang nendang. Danny Elfman tidak pas memainkan emosi saat The Story of Steppenwolf muncul. Sayang sekali… Hans Zimmer emang juara! Mustahil original score masuk nominasi Oscar, semustahil Snyder jadi Penulis naskah terbaik.

Superman is dead, selebaran koran terlihat sesaat di gelap malam. Pembuka sesungguhnya sama seperti BVS (nah kan pengulangan), di mana Batman (aka Bruce Wayne – Ben Affleck) menghajar penjahat kelas teri. Memberinya rasa takut dengan ancaman dijatuhkan di pinggir gedung, wajah takut itu hanya untuk menarik makhluk antah yang mengerikan. Monster bersayap yang coba ditelaah Manusia Kelelawar dan asistennya Alfred (Jeremy Irons). Pembuka yang lain, lebih cantik – ralat, lebih apa ya kita mengistilahkan saat melihat Sinna Sherina Munaf tiba-tiba tersenyum padaku dan saya balas senyum dengan hati berdebar? Yahh seperti itulah – nyenengkeh… Sang Wonder Woman (aka Diana Prince – dimainkan dengan luuuuuuuuuar biasaaaaaaaaaa oleh Gal Gadot) berdiri di lengan patung keadilan dengan pedang dan timbangan merentang, terlihat keren, anggun, dan tentu saja cantik sekali (Mira C siapa ya?). Cara menyorotnya juga dibuat dramatis dengan kamera perlahan mutar lalu close up wajah Gadot. Para penjahat masuk bank, seakan merampok dengan diserati pembunuhan. Namun tidak, ia membawa koper berisi bom guna menandai mulainya kiamat. Si Wonder turun tangan dan tentu saja menjalankan aksinya dengan mulus, semulus pahanya. Panjahat ditekuk, berondongan tembakan dihela pakai deker ajaib (Bambang Pamungkas pasti iri). ‘I don’t believe it. What are you?’ – A believer! Pembuka yang lain lebih macho, sang Aquaman (aka Arthur Curry – Jason Momoa) didatangi Bruce diminta gabung dalam sebuah Liga karena ada makhluk berbahaya mengancam keselamatan bumi. Menolak (dikiranya Liga Gojek Traveloka kali?), tertawa dan ralat ‘bukan bicara dengan ikan, tapi airnya!’. Pembuka yang lain, lebih seksi. Sekumpulan cewek-cewek cantik berbikini di dunia Amazon (Alexis what?) sedang mengamati benda kotak yang bergerak, kotak misterius ala Spongebob itu dilindungi ribuan tahun dan tak pernah tampak aneh. Hari itu, benda antik berkekuatan besar dicuri sang main villain Steppenwolf (disuarakan syahdu oleh Ciaran Hinds). Percobaan melawan, gagal. Justru saya suka sekali perlawanan di bagian ini. Panah ditembakkan, naik kuda dalam kejar lempar mantra, pecut ajaib, dan wuuuzzzh… pesan dikirim ke Diana. Tampak sangat memikat, dan saru.

Berikutnya tahulah kita, di dunia ini ada tiga kotak ibu serupa. Sang Steppenwolf mencoba menyatukannya untuk menguasai dunia (jiah klise banget ya), menghancurkan dunia seisinya, nah lebih tepat deh. “No protectors here. No Lanterns. No Kryptonian. This world will fall, like all the others.” Satu kotak di dunia Amazon – kita tahu berhasil diambil, satu kotak di dasar lautan Atlantis yang dijaga Tuan Aquaman dkk – kita juga tahu kotak itu terambil, satu kotak ditimbun di tanah dan tak ada yang tahu – ini nih potensi menyimpan twist, potensial membuat penonton terperajat seperti identitas pembunuh ayah Tony Stark. Sayangnya DC tak meramu dengan gegap gempita tak menyisipkan drama berkelas di dalamnya, kotak itu justru nantinya digunakan untuk mencipta ulang makhluk Krypton – “Dunia membutuhkanmu. Tapi apakah dunia membutuhkanku?” Misi mengamankan kotak, mengingatkanku pada Doctor Strange yang mencoba mencegah pasukan jahat Dormamu masuk ke dunia via lubang ke mana saja di kota yang berbeda, sekali lagi so sorry DC Anda telat lagi. “Dormamu saya ingin berunding… Dormamu kita ingin berunding… Dormamu ayo kita berunding…” Gitu aja terus sampai 2 jam, sampai berbusa. Mau muntah, muntah aja deh!

Batman coba membentuk liga keadilan, mencari orang-orang berkuatan ajaib. Ada Aqua yang awalnya menolak, akhirnya bergabung setelah kotak ajaibnya dicuri. Flash (aka Barry Allen – Ezra Miller) tanpa banyak cingcong langsung sepakat. “Stop right there. I am in”. Cyborg (aka Victor Stone – Ray Fisher), yang dilacak Diana lewat jaringan internet, tentu saja bergabung. Siapa lagi ya? Hhhm… harusnya kasih trivia dikitlah seorang dua orang coba digaet gagal macam Wolverine yang mabuk menolak ajakan Dinamic Duo X-Men. Mera kek, Green Lantern kek, hufh… Hal sederhana easter eggs seperti ini biasanya melonjakkan hati fan. Yasu dahlah… berati sudah lima sesuai yang di poster: Wonder Woman, Batman, Cyborg, Flash dan Aquaman. Skuat DC – Detective Comic tanpa Manusia Super tak akan lengkap. Maka diciptalah ia, kembali bangkit dari kematian. “I was just celebrating the return of God.” Sudah komplit? Belum sih he he…, show must go on! Maka saatnya beraksi. Berhasilkah Liga Keadilan ini mengalahkan Avengers, eh maksudnya mengalahkan Steppenwolf? See…

Ezra Miller mencoba men-Spiderman-kan diri. Lumayan doang, ga ada separuh jarak lemparan jaringnya. Kocak sih, tapi tak sampai terbahak-bahak. Momoa mencoba tampil jantan, ngomong berat, main air, shirtless – tapi sayang adegan best shirtless di film ini justru diambil oleh Cavill yang tanpa kostumnya jauh lebih tampak jantan. Yeah, bisalah tahun depan kita lihat bisa seberapa jauh aksi shirtless-nya. Pas poster awal muncul, saya tak tahu siapa ini karakter ‘Robocop?’ setelah lihat, yah Ray Fisher memerankan karakter yang jauh di bawah Ultron. Namun penuturan drama ayah-anaknya dapet banget. Bagaimana seorang ayah mencoba melakukan yang terbaik untuk putranya. Hiks, sedih. Ben Affleck ya gitulah. Tak wah, tak bisa disanding Bale yang terlalu keren. Affleck sepanjang film manyun wae, seperti di BVS. Ini orang harus nonton Spongebob biar bisa ketawa. Biar bisa memainkan peran superhero sesungguhnya – Mermaid Man and Barnicles Boy. Serius sekali, wibawa leader coba diemban. Gal Gadot juaranya, ya iyalah emang siapa yang bisa menolak pesonanya? Sedari adegan di lengan patung sampai akhirnya main keroyok itu, antek Marvel ring1-pun pasti bertekuk lutut.

Sayangnya script, sesuatu yang diagungkan penikmat sejati bioskop tak bisa menyelamatkan para jagoan. Seperti yang mayoritas sahabatku bilang di akhir nobar, cerita biasa saja. Invasi alien di tahun 2017? Plot macam gini sudah tempak usang karena Avengers pernah memainkan peran melawan Loki dan spesies antah-nya. Di era yang memungkinkan mencipta efek fantasis ini, uang 300 juta dengan cerita macam invasi alien terasa sangat disayangkan. Idenya sekedar pengulangan. Mengumpulkan para manusia super? Magneto dan Profesor X sudah pernah melakukan untuk Kelas Pertama. Efek spesialnya emang bagus, ralat deh bagus banget, saya nonton di 3D dan lumayan nampol. Salju dan debu yang beterbangan di sekitar kita, Superman melempar Batman ke arah penonton ‘Do you bleed?’, Flash mendorong ujung pedang diluar jangkauan wonder (ting…!) sampai petir-petir menyelimuti The Flash yang seakan berkilat keluar layar. Juara 3D? Ya pas Gadot close up memenuhi layar, puas kau!

Steppenwolf yang membuat jagoan ketakutan setengah mati sampai harus menghidupkan yang mati, awalnya tampak gahar, tampak superior yang sayangnya malah ketakutan sendiri. Melawan alien Krypton dan selesai sudah. Premature, sayang sekali, harusnya bisalah dibikin lebih hancur-hancuran macam di Man of Steel. Loki saja bisa bikin New York porak poranda, si Steppen di akhir sekedar buat mobil polisi geser sehingga alarm berbunyi. Oiya, saya tak tahu siapa villain film ini sebelum hari H jadi pas tahu namanya saya langsung teringat novel Hermann Hesse yang beberapa hari lalu kulahap. Novel bagus tentang orang penyendiri di kota yang muram. Boleh deh jadi referensi fan DC buat bacaan.

Terdapat dua scene after credit. Yang pertama tak lama setelah selesai, lampu bioskop belum sepenuhnya mati dan muncullah balap lari. Aneh, garing. Kedua benar-benar di ujung. Saya sendiri tak tahu kalau ada karena menanti detik akhir itu khas Marvel, pengunjung sudah sepi, teman-teman bahkan mungkin sudah foto-fotoan di luar, saya nikmati tulisan berjalannya. Justru yang terakhir ini yang bagus, setelah sepanjang film Lex Luthor tak muncul, wajah imut Jesse menyapa. Dan jadilah penutup bahwa para penjahat sedang menyusun koalisi oposisi. Menarik, sangat menarik.

Jadi kesimpulannya? Seperti yang dulu sudah saya bilang. Berat sekali beban manusia kelelawar pasca kesempurnaan Trilogy Batman-nya Bale. Affleck seakan menanggung sekuintal batu di tanduknya. Berat, sedih dan gagal. Alfred bahkan menggodanya, ‘I miss the days when one’s biggest concern is exploding wind-up penguins’. Untungnya sentuhan Whedon memberi sedikit keceriaan, ‘Ku beli bank-nya’, Jagoan menghilang dan tinggal Flash berdiri depan Gordon, ‘oh itu kasar’ Balap selamat Superman membawa gedung beserta isinya, dst… Ekspektasiku sudah rendah, serendah-rendahnya malah. Yah sedikitnya, sedikit saja terpenuhi. Underdog surprises!

Justice League | Year 2017 | Directed by Zack Snyder | Screenplay Chris Terrio, Joss Whedon | Story Zack Snyder | Cast Gal Gadot, Jason momoa, Amy Adams, Ben Affleck, Ezra Miller, Amber Heard, Henry Cavill, Diane Lane, J.K. Simmons, Ciaran Hinds, Jeremy Irons, Jesse Eisenberg, Ray, Fisher, Robin Wright | Skor: 3.5/5

Karawang, 16-171117 – Sherina Munaf – Simfoni Hitam

Bagaimana pendapat sahabat nobar?

RizkaNov: “Bagus filmnya” – 8/10

Ochi: “Aku (akan) nonton lagi.” – 8.5/10

Adhit: “Dasyatnya tidak bisa dibandingkan.” – 9/10

SekarAyu: “Biasa aja, tapi karena nontonnya di dekat Akbar jadi luar biasa. Wkwkwk – 7.5/10

AAGhofur: “Kalau AA bilang biasanya saja, ceritanya ga bagus tapi special efeknya bagus banget. – 8.5/10

Widy: “Seru seru sih seru. Tapi ya ceritanya biasa aja.” – 5/10

Akbar: “Biasa aja sih. Masih enakan Marvel, masih seruan Marvel. Kita lihat (seri) kedua.” – 6/10

Angga: “Gal Gadot manteb. Awesome. – 7/10

TH: “Berantemnya terlalu ini, terpotong-potong. 7/10

Fajar: “Wonder Womannya cantik banget. – 6.5/10

Dewi: “Amazing… kotak ibu bisa bikin Superman hidup.”

TB: “Adegan paling oke, Superman shirtless terbang. Cerita biasa saja, tapi efeknya keren. Dah! Thank You – 8/10

Calculating…..  (8+8.5+9+7.5+8.5+5+6+7+7+6.5+8+8)/12 ( 7.375/10 – tak buruk juga dibanding RT?


Iklan

4 thoughts on “Justice League: Underdog Surprises

  1. Well, Bruce di DCEU ini emang bukan blank slate lagi. Secara latarnya sekitar 20 tahunan setelah Year One, jadi kalo cemberut terus ya wajar soalnya udah cape haha. Bale di TDKR aja jarang senyum juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s