Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek

Sang Guru Piano – Elfriede JelineK

Cintakah binatang buas yang kini menjadi hewan sirkus itu pada pawangnya?

Novel yang padat sekali. Tak ada basa-basi, cerita langsung masuk ke pokok permasalahan. Tak ada daftar isi, tak ada pengantar (di depan), apalah mukadimah, tak ada pujian atau sekedar ucapan terima kasih nan persembahan. Benar-benar ditimpakan di depan kita, bruk! Nih silakan dinikmati! Dengan cerdas ‘kata pengatar’ dari penyunting, Ayu Utami ditaruh di belakang. Karena telaah seperti itu rawan mengandung spoiler, maka perempatan cara seperti ini kusuka.

Kisah tentang impian menjadi musisi / pianis termasyur yang kandas. Erika Kohut adalah anak tunggal yang terlahir terlambat dari pasangan ayah yang gila dan tersingkir ke rumah sakit jiwa dan ibu yang sangat posesif. Ibu-anak ini saling mengisi, saling menjaga dan (seakan) menyayangi. Tentu saja, karena jarang muncul di tempat umum, juga tak ada orang yang menawarkan banyak hal kepada mereka. Namun justru dari pembuka mereka berantem gara-gara Erika pulang larut dan membeli sampah. Erika malah membeli baju! Barang yang lebih gampang basi ketimbang segumpal mayones pada roti apit ikan. Cek-cok panas, Erika menginginkan gaya, sang ibu menginginkan tabungan untuk sebuah mimpi properti. Sebab seorang bocah tidak boleh menyimpan rahasia. Maka Erika sebandel apapun bersimpuh padanya. Percaya itu baik, tapi kontrol lebih bagus lagi. Sebuah prinsip orang tua menjaga anaknya. Kewajiban seorang ibu adalah membantu putrinya membuat keputusan-keputusan jitu, ia tak perlu membuka luka, sehingga tak ada yang harus ditutup agar sembuh.

Musik surgawi, daya agung yang tercipta dari langit. Nona Erika adalah guru piano di sebuah kampus terkemuka Wina konservatori, sepintas hidupnya terlihat nyaman dan hebat. Dihormati, cantik, dan menatap masa depan misterius. Tak semua, kini di usianya yang ke tiga puluh delapan, usia matang ia perlu peredam ego. Karena saat ia juga mengenang masa remajanya yang telah lewat. Ia menangis karena segala sesuatu selalu berlalu dan jarang ada yang datang lagi. Masa bagaimana Erika bisa seperti saat ini dituturkan kisah balik sedari kecil, sekolah, impian yang kandas. Hal yang dibencinya adalah segala usaha penyamarataan, standarisasi. Misalnya, dalam reformasi sistem sekolah yang tidak memedulikan kekhasan individu. Erika tidak bisa disamakan dengan oranglain, meskipun dengan orang-orang sependirian dengannya. Kalau itu terjadi, ia akan segera menunjukkan perbedaannya. Karena Erika adalah Erika. Ia seperti ia apa adanya, dan itu tak bisa diubah-ubah. Keistimewaan Erika, dia sudah membaca semua. Kepiluan Beethoven, Mozart, Schumann, Bruckner, Wagner. Pesawat adalah raksasa seni suara, raksasa puisi, yang terbalut penyamaran maha besar. Karya-karya Bach adalah komitmen terhadap manusia Nordik istimewa yang berjuang demi keagungan Tuhan.

Sayangnya ia terjatuh di saat momen tak tepat. Saat penentuan ia melakukan kesalahan, gugup di muka umum? Kelenceng dari tuts? Timing untuk jadi besar itu tak bisa dimaksimalkan. Setidaknya orang harus menjadi tiga besar, selebihnya hanyalah sampah. Sang ibu tetap memberi dukungan dan menganggap penilaian mereka mentah, kepekaan mereka tidak matang: hanya para pakar yang patut dipertimbangkan. Sang ibu juga menyergah: Jangan sekali-sekali melecehkan pujian dari orang biasa. Mereka mendengarkan musik dengan hati dan menikmatinya. Cuma kematian yang boleh menjadi alasan untuk tidak berkesenian. Alasan lain takkan termaafkan bagi pecinta profesional. Erika Kohut memang cemerlang.

Suatu malam istimewa Erika mengajak anak didiknya untuk menikmati konser sederhana di sebuah rumah musisi hebat. Benda-benda berharga itu hanya diturunkan untuk diteliti dan ditakjubi. Atau jika ada kebakaran. Umumnya mereka dipaksa oleh orangtua, samasekali tidak paham seni tapi hanya tahu bahwa seni itu ada. Anak-anak tak semua antusias. Yang mereka takutkan saat bermain piano dalam ujian memburu, yang akan membuat mereka menekan tuts yang salah. Para murid mengenakan pakaian Minggu mereka yang terbaik, atau yang terbaik menurut orangtua mereka. Yang lainnya sebetulnya lebih senang menonton televisi, main ping-pong, membaca buku, atau mengerjakan hal-hal bodoh lain.

Ada satu anak, pemuda tanggung yang mengejar sang guru. Jatuh hati, lebih tepatnya bernafsu padanya. Ia selalu mencoba mendekati Erika. Liburan di akademi musik tidak bersamaan dengan liburan di universitas. Tepatnya, tidak ada libur bagi seni; seni mengejarmu ke manapun, dan sang seniman tidak merasa tertanggu dengan itu. 

Tidak ada panganan dan suguhan selama resital. Dan dalam surat-surat jeda penuh khidmat tak boleh ada yang mengunyah. Tak ada remah roti, tak ada bercak minyak pada bantalan kuris, tak ada tetesan anggur merah pada tutup piano satu maupun tutup piano dua. Permen karet dilarang keras! Anak-anak diperiksa, kalau-kalau mereka membawa kotoran dari luar. Yang nakal dikarantina dan tak akan pernah memperoleh apa-apa dengan instrument mereka.

Saat pulang konser itu, sang pemuda mengantar pulang sampai ke stasiun. Ngoceh ga jelas di antara snag ibu yang kesal dan Erika. Pemuda itu sedang bicara tentang dirinya sendiri seperti yang selalu dia lakukan; apapun yang dia biacarakan, adalah dirinya yang ia maksudkan. Dia akan segera bisa meninggalkan titik mulai itu, dan seperti orang yang baru bisa menyetir mobil, ia membeli mobil bekas yang kecil dulu, lalu jika telah mahir, ia akan mengganti mobilnya dengan yang lebih besar dan bermodel lebih baru. Anda mengira penampilan adalah musuh dan musik adalah teman Anda. Nah, cobalah berkaca, lihat bayangan Anda, dan Anda takkan menemukan sahabat selain diri Anda sendiri. Bikinlah diri Anda sedikit lebih keren, Fraulein Kohut. Yaitu gaung yang didambakan, duka akibat kehilangan yang amat berarti: diri sendiri. Inilah fase di mana orang menyadari betapa berharganya diri sendiri sesaat sebelum ia ditinggalkan samasekali. Ia tak bertanya kenapa ia menunggu. Sementara itu si lekaki telah asyik melibatkan diri dengan perempuan lain dalam sebuah kehidupan yang lain.

Orang tak harus pergi terlalu jauh dari kota, dan orang tetap bisa mendapatkan lereng yang bagus, dengan sudut yang diinginkan. Asyik bukan? Ayo ikut kapan-kapan, Frau Profesor; anak muda seharusnya bersama anak muda. Ocehan satu arah itu berakhir saat kereta datang dan berangkat bersama kedua Kohut di dalamnya. Klemmer melambai, namun kedua wanita itu sibuk dengan dompet serta karcis masing-masing.

Dia adalah segalanya, kecuali cantik. Ia berbakat – terima kasih, kembali kasih, sayangnya tidak terkasih. Harapannya membutuhkan ketekunan. Sang ibu mencintai anak lebih daripada si anak mencintai sepatu.

Pada malam hari pun suaminya juga tidak hirau, sebab suami sibuk membaca Koran besok yang dibelinya dalam perjalanan pulang hari ini agar ia bisa selangkah lebih maju dalam mendapatkan informasi. Banyak hal tak boleh ia lakukan, dan yang boleh dilakukan pun tak dihargai. Apa yang ia lakukan selalu salah. Dia sudah terbiasa dengan itu, sejak bersama istrinya.

Yang cuma-cuma adalah kematian, karena harganya adalah kehidupan; segala sesuatu suatu saat pasti punya sebuah ujung, hanya sosis yang punya dua ujung. Tapi tak ada pawang yang paling nekat sekalipun yang bermimpi akan menyiapkan seekor leopard dengan kotak biola. Seekor beruang dengan sebuah sepeda adalah bayangan terjauh yang bisa dijangkau manusia.

Kesakitan semata akibat nafsu birahi, nafsu kehancuran, nafsu melenyapkan, dan dalam bentuknya yang paling utama, kesakitan adalh bentuk lain birahi. Erika ingin melintasi batas menuju pembunuhan dirinya sendiri. Kehidupan normal itu terjadi siang, malam harinya Erika, Ibu guru sejati, memasuki lokalisasi. Bukan, bukan untuk menjajakan namun justru menikmati seni semi-porno gaya sadomasokis yang sadis dan peeping-show.

Gaya bertuturnya istimewa. Tak ada kalimat langsung dengan tanda kutip dua. Sudah pernah saya membaca teknik seperti ini, No Country For Old Men, Midah, dan lainnya, namun untuk Sang Guru fase kesulitannya lebih tinggi lagi karena nyeni nan rumit, seperti menikmati keindahan permainan piano Erika sendiri. Apa yang membuat bunyi menjadi berarti? Sentuhan, pendekatan. Dari mulutnya menyembur uraian samar-samar, tak mudah dipahami, tentang bunyi, warna, dan cahaya. Seni dan ketertiban adalah dua saudara yang saling bermusuhan. Rupa mendahului Ada, kata Klemmer. Ya, realita mungkin adalah sebuah kekeliruan yang paling parah. Karenanya, kebohongan mendahului kebenaran. Yang tak nyata datang sebelum yang nyata. Di sinilah seni mendapatkan kualitas.

Berjalan-jalanlah di Wina dan tariklah nafas dalam-dalam. Setelah itu mainkanlah Schubert tapi kali ini dengan benar! Kita tetap bersama, ya kan Erika, kita tidak butuh siapapun. Benarkah?

Sang Guru Piano | by Elfriede Jelinek | diterjemahkan dari Die Klavierspielerin | copyright 1983 by Rowohlt Verlag GmbH, Reinbek bei Hamburg | Penerbit KGP (Kepustakaan Populer Grmedia) | penerjemah Arpani Harun | penyunting Ayu Utami | pentelaras Christina M. Udiani, Yul Hamiyati | perancang sampul Rully Susanto | penataletak Wendie Artswenda | iv + 293 hlm.; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 979-91-0041-0 | Skor: 5/5

Karawang, 091117 – Sherina Munaf – Sahabat Sepanjang Masa

One thought on “Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s