Pangeran Cilik – Antoine de Saint-Exupery

Pangeran Cilik – Antoine de Saint-Exupery

“Sekali peristiwa, ada Pangeran Cilik yang berdiam di sebuah planet yang hampir tidak lebih besar dari dirinya sendiri dan yang memerlukan kawan…”

Jadi buku terakhir yang kubeli sebelum daftar buku terbaik saya rilis. Beli di Kamis malam yang gerimis di Gramedia Karawang, awalnya slot satu buku sudah saya sediakan untuk Heart  of Darkness-nya Joseph Conrad yang terpajang di toko buku sepi. Sayang sekali setelah lama kutunda beli, toko buku Kharisma di KCP – Karawang Central Plaza Minggu ini tutup. Satu lagi, hari yang menyedihkan. Kebahagiaan berdirinya toko buku besar berefek langsung dengan tutupnya toko buku kecil. 

Ceritanya nyeleneh, untuk buku anak jelas kisah yang disampaikan tak lazim. Si Aku – jelas ini merujuk pada Penulis sewaktu usia enam tahun memutsukan berhenti memimpi menjadi pelukis karena hasil karyanya sebuah gambar gajah yang dimakan ular sanca, orang dewasa melihatnya adalah topi. Lalu gambar transparan ditunjukkan, ohhht.. absurb. 

Suatu ketika Pesawat terbang yang dikemudikan mogok di Gurun Sahara (merujuk inspirasi kejadian nyata Antoine yang pernah terdampar tiga hari di gurun Pasir Libya bulan Januari 1935). Dengan persediaan air minum yang minim untuk delapan hari ke depan, mencoba memperbaikinya. Nah, saat melewati malam pertama dalam keterasingan, ia mendengar suara, “Tolong… tolong gambarkan aku seekor domba.” Dan dilihatnya sesosok bocah luar biasa yang ternyata seorang Pangeran Cilik yang turun dari planet lain. Berikutnya kisah bagaimana ia terdampar di sana dituturkan dengan luar biasa Indah.

Dari Asteroid B 612, tempat segalanya bermula kita diajak berjalan-jalan sama Sang Pangeran Cilik ke Asteroid 325, 326, 327, 328, 329, 330. Dari raja yang tak ber-rakyat. “Mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul-betul bijaksana.” Yang meminta Pangeran menjadi hakim. 

Lalu di planet manusia sombong. “Mengampuni artinya mengakui bahwa aku orang yang paling tampan, berpakaian paling bagus, paling kaya, dan paling pandai di planet ini. Berbaik hatilah, kagumi aku juga.”

Lalu di planet sang pemabuk, “Minum sampai mabuk biar saya lupa. Lupa apa? Lupa karena minum.”

Lalu ke planet orang serius yang terus menghitung bintang. “Tentu saja. Jika kamu menemukan berlian yang bukan milik siapa-siapa, itu menjadi milikmu. Jika kamu menemukan pulau yang bukan milik siapa-siapa, itu berarti menjadi milikmu. Jika kamu yang pertama mempunyai suatu gagasan, kamu patenkan; kamulah yang memilikinya. Dan aku memiliki bintang-bintang, karena tidak seorang pun sebelum aku yang pernah berfikir akan memilikinya.”

“Aku memiliki sekuntum bunga yang kusirami setiap hari. Aku mempunyai tiga gunung berapi yang kubersihkan setiap minggu. Aku juga membersihkan yang sudah mati. Siapa tahu! Bagi bungaku dan bagi gunung-gunungku ada gunanya aku memilikinya. Tetapi kau tidak ada gunanya bagi bintang-bintangmu…”

Planet kelima dan terkecil kita bertemu dengan manusia yang menghidupkan dan mematikan lentera setiap menit karena rotasi perputaran planet setiap menit yang artinya malam-siang berganti dengan kecepatn gila. “Pekerjaanku sangat menyiksa.”

Lalu di planet berikutnya bersapa dengan filsuf yang menulis buku mahatebal. “Buku ilmu bumi adalah buku yang paling berharga dari segala buku. Buku ilmu bumi tidak pernah kedaluarsa. Gunung jarang sekali pindah. Samudra jarang sekali kekeringan. Kami menuliskan hal-hal yang abadi.”

Dan disinilah pada akhirnya, planet ketujuh adalah planet bumi. Bumi adalah planet yang paling aneh, planet yang tidak sembarangan karena terdapat seratus sebelas raja, tujuh ribu ahli ilmu bumi, Sembilan ratus ribu pengusaha, tujuh setengah juta pemabuk, tiga ratus sebelas juta orang sombong, dan yaitu kira-kira dua miliar orang dewasa!

Awalnya ia mencari manusia karena Pangeran Cilik turun di gurun. Berdialog dnegan ular, “Di mana manusia? Rasanya agak kesepian di gurun pasir…” | “Rasanya kesepian juga di tengah manusia.” Kata ular | “Kamu binatang aneh, kurus seperti jari…”

Bertemu bunga. “Manusia? Aku kira ada kira-kira enam atau tujuh orang. Aku pernah melihat mereka beberapa tahun lalu. Tapi tidak pernah jelas dapat dicari di mana. Mereka terbawa-bawa angin. Mereka tidak punya akar dan sangat susah karena itu.” Kata bunga.

Bertemu taman bunga yang meruntuhkan hatinya. “Aku selama ini menganggap diri kaya, dengan sekuntum bunga tunggal, padahal aku hanya memiliki sebuah mawar biasa. Bunga serta tiga gunung berapi yang setinggi lututku, apalagi yang satu barangkali sudah padam selama-lamanya, tidak menjadikan aku seorang pangeran yang begitu agung.” Dan, berbaring di rerumputan. Pangeran Cilik menangis. “Sama seperti bunga. Jika kamu mencintai setangkai bunga yang berada di sebuah bintang, terasa lembut memandang langit pada malam hari. Semua bintang berbunga.”

Berdebat dengan rubah. “Kita hanya mengenal apa yang kita jinakkan. Manusia tidak sempat mengenal apa-apa lagi. Mereka membeli apa-apa yang sudah jadi dari pedagang. Tapi karena tidak ada pedagang teman, manusia tidak mempunyai lagi teman. Kalau kamu ingin mempunyai teman, jinakkanlah aku…” Waktu yang kamu buang untuk mawarmu, itulah yang membuatmu penting.

Dan pada akhirnya bertegur sapa dengan Sang Pilot yang meminta gambar domba. “Yang membuat gurun pasir begitu Indah, ialah karena ia menyembunyikan suatu sumur entah di mana. Baik rumah, bintang-bintang, maupun gurun pasir, yang membuatnya Indah tidak tampak di mata.”

Ia tak pernah menjawab pertanyaan, tetapi kalau muka memerah, berarti iya bukan?

 “Orang mempunyai bintang yang berbeda-beda. Bagi mereka yang berlayar, adalah pemandu. Bagi yang lainnya, mereka hanya lampu-lampu kecil. Bagi ilmuwan, mereka adalah persoalan. Bagi pengusahaku, mereka adalah emas. Tapi semua bintang itu membisu. Kamu akan mempunyai bintang-bintang yang berbeda dengan bintang orang lain…”

Sungguh novel aneh sekaligus unik dan benar-benar tak lazim. Saya baca ketika malam Jumat saat berganti hari. Baca cepat sebab memang begitu tipis bersama HP Pink sederet Sherina dan temani secangkir kopi dan disedukan dengur merdu si May. Untunglah saya pilih buku ini, karena saat memutuskannya sempat tergoda dengan Frank Kafka – Metamorfosis, Haji Murat-nya Leo Tolstoy atau Therese Desqueyroux-nya Francois Mauriac yang paling hangat karena baru rilis terjemahannya bulan Oktober 2017. Yah, bisa saja sih ketiga yang lepas suatu hari nanti saya lahap jua, namun jelas The Little Prince yang legendaris tetapkah pilihan yang kece.

Bonus tiga halaman lucux Katebelece dari penerjemah. Bagaimana proses alih bahasa atas kerja sama Forum Jakarta-Paris yang mana realisasinya atas bantuan Kedutaan Besar Perancis di Indonesia. Sampai rujukan terbitan Balai Pustaka tahun 1979 hasil jerih payah penyunting Wing Kardjo bersama penerjemah empat mahasiswi Universitas Indonesia (UI): Hennywati, Ratti, Affandi, Tresnati, dan Lolita Dewi. Hasilnya? Bagiku, hasil alih bahasa terbaru Bahasa Indonesia ini memuaskan sekali. Tata bahasa renyah, diksi pilihannya mudah dimaknai, kover oke, tak ada typo, ilustrasi dari Pengarang yang keren dan tentu saja semua syarat buku fantasi Indah ada di sini. Rekomended!

Pangeran Cilik | by Antoine de Saint-Exupery | diterjemahkan dari Le Petit Prince, 2011 | copyright 1943 | 615189004 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Henry Chambert-Loir | desain sampul Marcel A.W. | cetakan kedelapan, Agustus 2017 | ISBN 978-602-032-341-1 | 120 hlm.; 20 cm | Skor: 5/5

Kepada Leon Werth, ketika masih kecil

Karawang, 101117 – Sherina Munaf – Bukan Cinta Segitiga

Iklan

3 thoughts on “Pangeran Cilik – Antoine de Saint-Exupery

  1. Ping balik: Best 100 Novels | Lazione Budy

  2. Wah buku ini sedang dibaca oleh istri saya saat ini pak dan sepertinya menarik. saya sendiri menunggu giliran bacanya setelah istri saya selesai. kalau lihat reviewnya sepertinya bagus. berisi kritik, satir dan oposisi biner. membungkus dunia dan kehidupan dewasa dalam bingkai perspektif anak kecil. Saya jadi teringat filasafat Strukturalisme dari Saussure dimana bahasa tidak merepresentasikan “realitas” namun sebaliknya realistas terdekonstruksi dalam bahasa. ada makna-makna tersirat yang tak mampu dibaca dalam bahasa sederhana dan umum, namun terkandung dan terbungkus rapi dalam bahasa tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s